Sabtu, 18 Maret 2017

Pos Perbatasan Nanga Badau

Diresmikan Jokowi imageDok. Kementerian PUPR ★

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Nanga Badau di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Barat telah dibangun ulang.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang ingin PLBN ini dan seluruh PLBN lain di Indonesia diubah wajahnya menjadi lebih cantik.

Sebelum mendapat penanganan, PLBN Nanga Badau ini tampak lusuh, serta struktur bangunan mulai rusak dan cat memudar.

Kondisi membuat masyarakat Indonesia di perbatasan 'minder' karena penampakan PLBN Indonesia berbanding terbalik dengan Pos Perbatasan Lubok Antu milik Negara Bagian Sarawak, Malaysia yang tampak lebih modern.

Namun demikian, saat ini kondisinya sudah jauh berbeda. PLBN yang pembangunannya sudah rampung 100% itu, kini semakin megah. Bangunannya yang dulu lusuh berganti bangunan cantik yang serba modern.

"Semuanya sudah kita bangun total. Pos lintas batas kita, sekarang membanggakan kita dan tidak kalah dengan yang di sebelah," tegas Jokowi saat meresmikan PLBN Nanga Badau kemarin, Kamis (16/3/2017).

PLBN yang diresmikan merupakan pembangunan tahap I yakni zona inti PLBN, di atas lahan seluas 8,8 Ha dengan total luas bangunan 7.619 m2 dan biaya pembangunan sebesar Rp 153 miliar.

Bangunan yang berada pada zona inti meliputi Bangunan Utama PLBN, Pos Lintas Kendaraan Pemeriksaan, Bangunan Pemeriksaan Kargo, Bangunan Utilitas, Monumen, Gerbang Kedatangan dan Keberangkatan, serta Hardscape dan Landscape Kawasan yang diharapkan dapat melayani hingga 360 pelintas per hari sampai dengan tahun 2025.

Pembangunan Gedung PLBN Badau ini mengusung budaya lokal Kalimantan dengan mengadaptasi bentuk bangunan khas Rumah Panjang, penggunaan ornamen lokal, serta penerapan prinsip-prinsip bangunan hijau (green building).

 Butuh Rp 153 Miliar Rombak Pos Perbatasan Nanga Badau Jadi Megah 
Butuh Rp 153 Miliar Rombak Pos Perbatasan Nanga Badau Jadi MegahPresiden Joko Widodo (Jokowi) tak ingin pembangunan infrastruktur dilakukan setengah-setengah. Salah satunya terlihat dari pembangunan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Nanga Badau di Kalimantan Barat.

Jokowi memerintahkan bangunan lama yang lusuh dan usang dibongkar total dan dibangun lagi dengan bangunan baru yang lebih megah lengkap dengan fasilitas pelayanan lintas batas negara yang modern.

Berkat perbaikan yang telah dilakukan, PLBN Nanga Badau di sisi Indonesia kini bisa menyetarakan diri bahkan lebih baik dari PLBN milik negara tetangga, baik dari sisi tampilan maupun fasilitas dan pelayanannya.

Bangunan lamanya telah dibongkar dan konstruksi bangunan barunya sudah berdiri.

Data Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menunjukkan alokasi dana yang disiapkan untuk melakukan pembangunan adalah sebesar Rp 153,85 miliar. Pelaksana konstruksinya adalah PT Jaya Konstruksi MP.

Lingkup pekerjaan sendiri meliputi banyak hal, dari pembangunan ulang bangunan utama, pembuatan bangunan pemeriksaan terpadu kedatangan, hingga bangunan pemeriksaan terpadu keberangkatan yang memungkinkan proses pemeriksaan para pelintas batas negara dilakukan sekali jalan.

Total luas lahan PLBN Nanga Badau mencapai 8,8 hektar dengan luas bangunan yang berdiri di atasnya mencapai 7.619 meter2.

Bangunan yang berada pada zona inti meliputi Bangunan Utama PLBN, Pos Lintas Kendaraan Pemeriksaan, Bangunan Pemeriksaan Kargo, Bangunan Utilitas, Monumen, Gerbang Kedatangan dan Keberangkatan, serta Hardscape dan Landscape Kawasan yang diharapkan dapat melayani hingga 360 pelintas per hari sampai dengan tahun 2025.

Tahun ini, Kementerian PUPR melanjutkan pembangunan PLBN Tahap II yakni zona sub inti dan pendukung dengan kotrak multiyears 2017-2018 sebesar Rp 167 miliar.

Kegiatan ini berupa pembangunan perumahan petugas kepabeanan, keimigrasian, karantina, dan pengamanan, rumah ibadah, tempat makan, Wisma Indonesia, gedung serbaguna, kantor pengelola, serta pekerjaan pendukung lainnya.

 Sebelum dan Sesudah Dirombak 
PLBN Nanga Badau sebelum dirombakPos Lintas Batas Negara (PLBN) Nanga Badau di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Barat telah dibangun ulang.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memang ingin PLBN ini dan seluruh PLBN lain di Indonesia diubah wajahnya menjadi lebih cantik.

Sebelum mendapat penanganan, PLBN Nanga Badau ini tampak lusuh, serta struktur bangunan mulai rusak dan cat memudar.

Pola pelayanannya pun tak teratur. Pelayanan keimigrasiaan tidak sealur dengan pelayanan bea dan cukai sehingga kalau ingin melakukan perjalanan antar negara harus melalui proses terpisah yang memakan waktu dan merepotkan.

Kondisi ini membuat masyarakat Indonesia di perbatasan 'minder' karena penampakan PLBN Indonesia berbanding terbalik dengan Pos Perbatasan Lubok Antu milik Negara Bagian Sarawak, Malaysia yang tampak lebih modern.

Namun demikian, saat ini kondisinya sudah jauh berbeda. PLBN yang pembangunannya sudah rampung 100% itu, kini semakin megah. Bangunannya yang dulu lusuh berganti bangunan cantik yang serba modern.

PLBN yang diresmikan merupakan pembangunan tahap I yakni zona inti PLBN, diatas lahan seluas 8,8 Ha dengan total luas bangunan 7.619 m2 dan biaya pembangunan sebesar Rp 153 miliar.

Bangunan yang berada pada zona inti meliputi Bangunan Utama PLBN, Pos Lintas Kendaraan Pemeriksaan, Bangunan Pemeriksaan Kargo, Bangunan Utilitas, Monumen, Gerbang Kedatangan dan Keberangkatan, serta Hardscape dan Landscape Kawasan yang diharapkan dapat melayani hingga 360 pelintas per hari sampai dengan tahun 2025.

Pembangunan Gedung PLBN Badau ini mengusung budaya lokal Kalimantan dengan mengadaptasi bentuk bangunan khas Rumah Panjang, penggunaan ornamen lokal, serta penerapan prinsip-prinsip bangunan hijau (green building).

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Nanga Badau di Kalimantan Barat kini sudah rampung pekerjaannya dan diresmikan langsung pengoperasiannya oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dalam sambutannya, Jokowi mengatakan, pembangunan infrastruktur di perbatasan ini diharapkan tidak hanya cantik secara fisik namun juga mendatangkan manfaat secara ekonomi.

"Saya minta tidak hanya pos lintas batas saja tetapi juga dibangun pasar modern agar masyarakat juga menikmati," kata dia saat meresmikan PLBN Nanga Badau kemarin, Kamis (16/3/2017).

Permintaan Jokowi cukup beralasan. Kawasan perbatasan yang semakin cantik, dan fasilitas lintas batas yang lebih baik membuat perjalanan lintas negara antara Indonesia-Malaysia menjadi lebih mudah secara administrasi.

Bila tidak dibangun pusat ekonomi di sisi Indonesia, dikhawatirkan manfaat ekonomi dari dibangunnya PLBN Nanga Badau ini justru akan dinikmati negara tetangga.

Untuk itu, tahun ini, Kementerian PUPR melanjutkan pembangunan PLBN Tahap II yakni zona sub inti dan pendukung dengan kotrak multiyears 2017-2018 sebesar Rp 167 miliar.

Salah satu infrastruktur tambahan yang dibangun adalah pasar modern yang akan menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat di perbatasan RI-Malaysia tersebut.

"Tahun ini mulai dibangun dan tahun depan ditargetkan selesai," tandas Jokowi. (dna/ang)

  detik  

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More