Rabu, 03 Juni 2015

RI-Rusia Tandatangani Kerjasama Pengembangan Nuklir

Laporan dari Moskow Perwakilan Indonesia, yakni dari Badan Atom Nasional (BATAN) dan BUMN Rusia yang membidangi nuklir ROSATOM menandatangani MoU.

Bertempat di Atom Expo, Moskow, Selasa (2/6/2015) sore, dari pihak Indonesia diwakili Kepala BATAN Djarot Wisnusubroto dan dari pihak ROSATOM diwakili The First Deputy CEO Kirill Komarov.

"Kami mendukung penuh komitmen BATAN untuk mengembangkan teknologi nuklir di Indonesia," kata Komarov.

Sesuai MoU itu, BATAN dan ROSATOM secara intensif akan bekerjasama dan menerapkan teknologi nuklir Rusia di Indonesia.

Sedang menurut Kepala BATAN Djarot Wisnusubroto, MoU ini menawarkan pengembangan infrastruktur, peningkatan SDM, dan kajian listrik untuk nuklir.

"Kami harap ROSATOM mensuport kami," tutup Djarot.

ROSATOM melalui anak usahanya telah memenangkan proyek desain untuk reaktor riset nuklir. Pengembangan reaktor itu dilakukan di Serpong, Tangerang. (ndr/ang)
RI Siap Bangun PLTN, Hanya Menunggu Izin Pemerintah Kebutuhan akan pasokan listrik membuat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menjadi kebutuhan. Apalagi sumber daya minyak, batu bara, dan gas bumi semakin berkurang.

PLTN menjadi kunci. Sumber daya manusia dan sumber daya uranium yang dimiliki Indonesia menjadi modal.

"Indonesia siap untuk PLTN, hanya tinggal menunggu izin pemerintah dan kemudian sosialisasi ke publik," kata Ketua Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia, Arnold Soetrisnanto dalam diskusi di Atom Expo, Moskow, Rusia, Selasa (2/6/2015).

Menurut Arnold, setelah insiden Fukushima saat ini berkembang generasi keempat di mana pengelolaan reaktor dilakukan dengan sistem yang lebih aman, termasuk pengelolaan limbahnya.

Untuk dana pembangunan bisa dilakukan dengan sepenuhnya dana dari pemerintah, atau swasta dengan pemberian kredit‎, atau patungan.

"Indonesia memiliki daerah di Kalimantan yang menghasilkan uranium dan di Bangka yang menghasilkan torium," tegas dia.

Pemerintah daerah baik di Bangka dan juga Kalimantan sudah siap untuk PLTN. Dalam perhitungan Arnold, bila sesuai rencana, pada 2025 Indonesia bisa memiliki reaktor nuklir untuk listrik.

"Kebutuhan listrik nasional terpenuhi, sekarang ini saja ada daerah di Kalimantan yang impor listrik dari Sarawak," tutup dia. (ndr/rrd)

  ✈️ detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More