Rabu, 24 Agustus 2016

Robot Kapal Selam Bantu Pemetaan Dasar Laut

Inovasi Teknologi AUV (autonomous underwater vehicle) (Mer et Marine)

Dalam rangka mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), robot kapal selam jenis Autonomus Underwater Vehicle (AUV) dapat membantu dalam membuat pemetaan dasar laut.

Dengan AUV para peneliti sangat terbantu dalam mengoleksi sampel geologi hingga pemantauan oseanografi. “Robot kapal selam ini dapat membantu dalam membuat pemetaan dasar laut,” kata peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Teguh Herlambang saat memaparkan disertasi untuk meraih gelar doktor dari Fakultas Teknologi Kelautan, di Kampus ITS, Sukolilo, Surabaya, Selasa (23/8).

Berkat penelitannya tentang AUV, Teguh berhasil meraih gelar doktor. AUV dirancang untuk mengeksplorasi potensi bawah laut Indonesia, yang dinilai memerlukan perhatian khusus baik dalam hal ekplorasi maupun penjagaan. Menurut Teguh, AUV juga akan banyak berguna untuk menjaga kelestarian lingkungan, misalnya dengan inspeksi struktur bawah air.

Selain itu, dalam industri minyak dan gas, AUV dapat membantu survei laut dan penilaian sumber daya. Sedangkan dalam ranah militer, kapal selam tanpa awak ini dapat digunakan sebagai peralatan sistem pertahanan bawah laut. “Riset tentang kapal selam tanpa awak memang tengah menarik minat banyak peneliti beberapa tahun belakangan.

Banyaknya masalah dan kendala dalam melakukan survei bawah laut adalah salah satu faktor kuat yang mendorongnya, padahal monitoring bawah laut perlu dilakukan secara berkala dan teratur untuk memperoleh data yang akurat,
” terang alumni Jurusan Matematika ITS ini.

 Jadi Mudah 

Teguh memaparkan, dengan desain dan analisa sistem gerak untuk mengendalikan AUV, banyak pekerjaan di bawah laut yang semula sukar menjadi lebih mudah. AUV bekerja dengan memanfaatkan citra khusus untuk menganalisa objek yang diamati.

Dengan sistem ini, tambah Teguh, AUV tidak hanya sebagai kapal selam tanpa awak tapi dapat juga bergerak secara otomatis, seperti robot. Dapat digunakan untuk memantau korosi pada bagian bawah kapal, atau pencarian korban kecelakaan pesawat yang jatuh ke laut.

Pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) ini berencana mengombinasikan penelitian ini dengan penelitiannya saat menempuh program magister. “Saya berharap kapal selam tanpa awak ini dapat dikombinasikan dengan pesawat tanpa awak yang telah saya teliti sebelumnya. Dengan begitu, akan menghasilkan dua sistem canggih yang terbungkus dalam satu alat saja. [SB/N-3]

  Koran Jakarta  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More