Senin, 22 Agustus 2016

Menristek Dikti Kunjungi Bengkel Kapal Pelat Datar

Inovasi Anak Bangsa Menristek Dikti Kunjungi Bengkel Kapal Pelat Datar [Fida detikcom]

Dalam rangka mendukung inovasi anak negeri, Menteri Ristek, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhammad Nasir mengadakan kunjungan ke tempat pembuatan kapal pelat datar. Kunjungan ini dimaksudkan untuk menguji coba kapal yang baru saja dibuat. Kapal ini juga memiliki keunggulan sehingga layak didukung.

"Kalau dari segi argonomis, tadi ukup argonomis ya. Kedua adalah saya tes dari segi kecepatan. Tes pada manuvernya. Tadi manuvernya cukup bagus," ujar Menristekdikti Muhammad Nasir di Pakuhaji, Tangerang, Banten, Sabtu (20/8/2016).

Nasir mengungkapkan bahwa perlu adanya dukungan yang berkelanjutan untuk inovasi dari mahasiswa. Dengan bantuan penuh dari pemerintah diharapkan dapat tercipta industri berbasis teknologi yang unggul dan dapat bersaing secara global.

Menristekdikti sempat mencoba selama beberapa jam untuk mengetahui keunggulan dan kekurangan kapal ini. Bersama tim, mereka mengelilingi rute...

Kapal pelat datar tersebut diinisiasi oleh dua alumni Universitas Indonesia Adi Lingson dan Sanlaruska Fathernas serta mendapat bimbingan dari dosen UI Hadi Tresno Wibowo pada tahun 2012. Inovasi yang mereka tawarkan adalah dengan membuat kapal ini menggunakan plat baja yang mempunyai keunggulan dari kapal-kapal lainnya.

Menristek Dikti Kunjungi Bengkel Kapal Pelat Datar Inovasi Anak Bangsa [Fida detikcom]

Bahan pelat baja tersebut dapat menghemat hingga 25% dari kapal yang terbuat dari kayu ataupun fiberglass. Tingkat ekonomisnya yang tinggi juga dikuti dengan program pemerintah dalam rangka mengurangi penebangan hutan. Karena produk dari baja ini dapat dengan mudah didaur ulang kembali.

Keunggulan lain dari kapal ini adalah desain datar pada bodi kapal. Sehingga kapal dapat dibuat dengan cepat dan mudah. "Kalau orang mendesain kapal se-streamline mungkin. Ini tidak, kita patahkan itu. Jadi platnya datar semua tidak melalui proses bending sehingga membuatnya lebih singkat, potong, tempel, jadi," ujar Pembimbing Juragan Kapal Hadi Tresno Wibowo.

Produksi kapal tersebut masih dalam tahap produksi terbatas. Kekurangan sumber daya manusia dan pendanaan menyebabkan produksi kapal belum bisa dimaksimalkan untuk komoditas industri.

Padahal, dibanding kapal tradisional lainnya. Kapal ini memiliki harga yang cukup terjangkau dengan perawatan yang murah. Sehingga dapat membantu nelayan pada sisi ekonomis.

"Juragan kapal ini masih Senin-Kamis. Mereka hanya sebagai bagaimana inovasi sebagai barang nyata. Belum sampai ke arah komersial. Buat satu kapal masih susah," ujar Hadi.

Sedangkan Menteri Ristek Dikti menjanjikan akan lebih mensoasialisaikan kapal ini. Dirinya juga akan bekerja sama dengan kementrian lain untuk mendukung menuju dunia industri. (rvk/rvk)

 Uji Coba Kapal Baja Pelat Datar Made in Tangerang 
Menristek Nasir Uji Coba Kapal Baja Pelat Datar Made in TangerangMenristek Dikti M Nasir menguji coba kapal baja pelat datar di Tangerang, Sabtu 20 Agustus 2016 (Dok Kemristek Dikti)

Kunjungan ini dimaksudkan untuk menguji coba kapal yang dibuat Juragan Kapal, perusahaan desain dan produksi kapal baja.

"Cukup ergonomis. Kedua adalah saya tes dari segi kecepatan. Tadi manuvernya cukup bagus," ujar Nasir di Pakuhaji, Tangerang, Banten, Sabtu (20/8/2016).

Nasir mengungkapkan perlu adanya dukungan yang berkelanjutan untuk inovasi mahasiswa. Dengan bantuan penuh dari pemerintah diharapkan dapat tercipta industri berbasis teknologi yang unggul dan dapat bersaing secara global.

Nasir sempat mencoba selama beberapa jam untuk mengetahui keunggulan dan kekurangan kapal ini.

[Kemristek Dikti]

Keunggulan lain dari kapal ini adalah desain datar pada bodi kapal. Sehingga kapal dapat dibuat dengan cepat dan mudah.

"Ini tidak, kita patahkan. Jadi pelatnya datar semua tidak melalui proses bending sehingga membuatnya lebih singkat, potong, tempel, jadi," ujar pembimbing Juragan Kapal, Hadi Tresno Wibowo.

Produksi kapal tersebut masih dalam tahap produksi terbatas. Kekurangan sumber daya manusia dan pendanaan menyebabkan produksi kapal belum bisa dimaksimalkan untuk komoditas industri.

Dibanding kapal tradisional lainnya, kapal ini memiliki harga yang cukup terjangkau. Perawatannya juga murah.

"Juragan kapal ini belum sampai ke arah komersial. Buat satu kapal masih susah," ujar Hadi.

Nasir menjanjikan akan lebih menyoasialisaikan kapal ini. Dia juga akan bekerja sama dengan kementerian lain untuk mendukung menuju dunia industri. (try/try)

  ★ detik  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More