Pelajari Teknologi dan Cari Opsi Modernisasi
KSAL Laksamana Muhammad Ali menerima paparan mengenai ranpur amfibi Rabdan 8x8 produksi Edge Group saat kunjungan kerja ke UEA. (dispenal)
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali berupaya mencari opsi modernisasi kemampuan tempur TNI AL, salah satunya meninjau teknologi alutsista dari negara Uni Emirat Arab (UEA).
Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Tunggul saat menanggapi unggahan akun Instagram resmi @republikorp, Selasa (5/8) tentang lawatan Ali ke UEA.
Dalam unggahan tersebut, Ali bersama Panglima Angkatan Laut UEA Mayjen Humaid Mohammed Alremeithi tengah menyimak paparan dari perusahaan pertahanan Edge Group, mengenai spesifikasi kendaraan tempur (ranpur) amfibi Rabdan 8×8.
“KSAL mengunjungi Edge Group untuk menyaksikan demonstrasi mobilitas dan kemampuan ranpur amfibi Rabdan 8×8 yang merupakan salah satu andalan angkatan bersenjata UEA,” ungkap Tunggul kepada Indonesia Defense Magazine, Jakarta, Rabu (6/8).
Disinggung soal rencana pembelian ranpur Rabdan untuk memperkuat kemampuan tempur TNI AL, khususnya Korps Marinir, Tunggul mengatakan modernisasi alutsista menjadi suatu keharusan bagi militer Indonesia.
Ranpur Rabdan 8x8 dengan kanon 2A70 kaliber 100 mm (EDGE)
“Meninjau alutsista produksi negara-negara sahabat sudah tentu bertujuan untuk mempelajari teknologi terkini, menjalin kerjasama pertahanan, dan mencari opsi terbaik untuk modernisasi alutsista TNI AL,” kata Tunggul.
Dalam mendukung Indonesia Emas 2045, TNI AL dalam postur pembangunan kekuatan sampai 2044 mengangkat visi untuk menjadi angkatan laut yang modern, menggentarkan di kawasan (regionally-deterrent), dan berproyeksi global (globally-projected).
Visi itu mengakui ke depan TNI AL bakal menghadapi ragam tantangan dan risiko yang berkembang pesat, yang kompleks, dan tak dapat diprediksi baik dalam lingkup global, regional, maupun nasional. Oleh karena itu, TNI AL dituntut untuk tangkas, adaptif, dan punya resiliensi yang baik.
Gambaran lingkungan strategis saat ini yang dinamis dan kompleks, seperti konflik di Rusia-Ukraina, Israel-Hamas, krisis di Laut Merah, atau pun di tingkat kawasan seperti ketegangan di Selat Taiwan dan Laut Cina Selatan, kemudian di dalam negeri ada masalah keamanan di Papua.
Kompleksitas juga ditemukan pada kemajuan teknologi pertahanan yang saat ini terlihat dari penggunaan teknologi berbasis siber, kecerdasan buatan (AI), dan alutsista nirawak (unmanned system).
Faktor-faktor itu turut mempengaruhi perencanaan pembangunan kekuatan TNI AL baik dalam dokumen renstra-nya maupun postur pembangunan kekuatannya untuk jangka panjang.
♘ IDM
RI Panen Kerja Sama Pertahanan hingga Ekonomi di 2025
-
*PAL Indonesia akan membangun dua unit kapal selam Scorpene Evolved di
Surabaya, merupakan hasil kerjasama dengan Perancis. (Naval Group) *
*P*emerintah In...
2 jam yang lalu
0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.