blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Sabtu, 09 Agustus 2014

Manakah Posisi Tidur yang Paling Sehat?

Ilustrasi

Mendapat tidur yang berkualitas setiap hari penting untuk kesehatan, terutama keseimbangan fisik dan psikis, khususnya karena kita menghabiskan hampir sepertiga waktu kehidupan untuk tidur. Walau para ahli telah merekomendasikan pentingnya tidur minimal 7 jam setiap malam, tapi keluhan sulit tidur kini memang semakin banyak dialami.

Kesulitan tidur terjadi karena banyak faktor, dari mulai pola makan, minum, bahkan posisi tidur yang salah. Dr Hooman Melamed, ahli bedah ortopedi di DISC Sports & Spine Center di Los Angeles, California mengatakan, 80 persen populasi mungkin akan mengalami nyeri punggung beberapa kali dalam hidupnya yang disebabkan posisi tidur yang salah.

"Posisi tidur dapat menyebabkan nyeri pada punggung dan leher, gangguan perut, bahkan penuaan dini," ujarnya.

Karena itu, ketahuilah posisi tidur yang tepat untuk tidur Anda dan posisi apa saja yang perlu dihindari.

1. Telentang
Tidur dengan posisi ini membuat kepala, leher, dan tulang punggung dalam posisi yang netral. Tidak ada tekanan tambahan pada bagian-bagian tubuh tertentu. Menurut Melamed, inilah posisi yang terbaik untuk membuat tulang punggung dalam posisi yang alami sepanjang malam.

2. Bintang laut
Posisi bintang laut mirip dengan posisi telentang namun dengan tangan yang diangkat ke atas. Posisi ini juga baik untuk tulang punggung, serta mencegah keriput pada wajah. Menurut pakar saraf dari Norwood Clinic di Birmingham, tidur dalam posisi ini juga dapat melawan refluks atau naiknya asam lambung ke tenggorokan.

3. Menyamping
Tidur menyamping baik untuk penderita gangguan henti napas saat tidur atau sleep apnea. Pasalnya kondisi mendengkur yang umumnya menjadi gejala utama dari kondisi ini bisa berkurang. Namun dengan tidur menyamping, penuaan kulit lebih cepat terjadi pada bagian yang lebih sering menempel pada bantal.

Tidur menyamping juga dapat mempengaruhi kesehatan. Tidur menyamping ke arah kanan akan memperburuk heartburn atau rasa terbakar di dada karena terjadinya refluks. Sementara tidur menyamping ke arah kiri akan menekan organ seperti hati, paru-paru, dan lambung, namun akan mengurangi refluks.

4. Tengkurap
Tidur tengkurap tidak pernah disarankan karena tidak memberikan posisi yang alami bagi tulang punggung sehingga lebih mudah menyebabkan nyeri punggung. Tekanan pada sendi dan otot dapat memicu nyeri, hilang rasa, dan kesemutan.

5. Menyamping dengan kaki yang diangkat ke dada
Posisi ini akan membuat nyaman sementara waktu, namun lama-lama akan membuat nyeri punggung, keriput, dan dada kendur. Ini karena posisi ini akan memberikan tekanan pada punggung dan sendi.



  Kompas  

Jumat, 08 Agustus 2014

Menristek Setuju Bila Kementeriannya Digabung dengan Kemendikbud

Jakarta  Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta setuju bila kementeriannya digabungkan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penggabungan ini akan mengefektifkan aplikasi ilmu pendidikan di bidang riset dan teknologi.

"Nggak ada masalah yang penting itu pengefektifan dana. Itu kan supaya lebih tersatukan saja hasilnya. Selama ini kan masih terpisah-pisah," ujar Gusti usai mengadakan konferensi pers di Gedung BPPT, Jl MH Thamrin, Jakpus, Jumat (8/8/2014).

Kemenristek saat ini masih mengembangkan penyempurnaan roket pertahanan yang dipiroritaskan sebagai bagian menjaga pertahanan nasional.

"Roket pertahanan kita tingkatkan daya jangkauannya dan kita pertahankan daya ledaknya. (Pengembangan ini) jalan terus tapi kita diam-diam saja (tidak pernah diekspos)," tutup Gusti.

Sebelumnya Deputi IV Bidang Pendidikan dan Agama Menko Kesra Agus Sartono mengusulkan penggabungan antara Ditjen Pendidikan Tinggi dan Riset dan Teknologi.

"Perlu kajian guna menata Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi menjadi satu kementerian. Dan ini tugas kabinet mendatang," ujar Agus Sartono pada 11 Maret 2014.

Agus memaparkan Global Competitiveness Index (GCI) Indonesia menunjukkan 4 kelemahan yakni infrastruktur, inovasi, ketersediaan teknologi serta pendidikan tinggi dan riset.

Untuk masalah infrastruktur, imbuh Agus, sudah dicarikan jalan keluarnya sejak 2 tahun lalu dengan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) dan Master Plan Peningkatan dan Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Indonesia (MP3KI) dan sudah mulai terlihat hasilnya.

Nah, untuk 3 kelemahan lainnya yakni inovasi, ketersediaan teknologi serta pendidikan tinggi dan riset perlu dicarikan solusi.

"Sayangnya saya amati ketiga (kelemahan) ini belum diatasi secara sistematis. Banyak pandangan riset hanya dilakukan untuk naik pangkat dan level. Kita punya Kemenristek tapi dia tidak punya grand design. Jadi blue print riset ke depannya seperti apa tidak punya. Padahal indikator kemajuan riset itu paling tidak disiapkan 10 tahun sebelumnya," kata Agus.



  detik  

Gara-gara Monyet Selfie, Dua Pihak Bersitegang

Pengambilan Foto di Indonesia Gara-gara Monyet Selfie, Dua Pihak BersitegangFoto monyet ini membuat David Slater dan Wikimedia bersitegang (Mirror)

GLOUCESTERSHIRE Sebuah foto seekor monyet selfie membuat Wikimedia dan seorang fotografer asal Gloucestershire bersitegang. Fotografer itu meminta Wikimedia untuk menghapus foto tersebut dari websitenya karena belum membayar royalti yang mendapat penolakan dari Wikimedia.

Melansir Mirror, sang fotografer, David Slater mengatakan, dia mengalami kerugian sekitar 10 ribu Pounds akibat Wikimedia. Situs berbagi informasi itu menyatakan Slater tidak memiliki hak cipta atas foto tersebut, karena foto yang diambil oleh sang monyet dan bukan oleh Slater.

“Mereka (Wikimedia) telah menolak permintaan saya agar mereka menarik foto tersebut dari situs mereka. Wikimedia menolak, karena menurut mereka foto itu diambil oleh seekor monyet, sehingga saya tidak memiliki hak cipta,” ucap Slater.

"Itu membuat saya sangat marah. Saya seorang fotografer profesional, ini mata pencaharian saya. Anda mengambil 20 ribu gambar untuk mencari gambar semacam ini, gambar yang bisa menjadi sumber pendapatan saya,” Slater menambahkan.

Walaupun demkian Slater masih tetap merasa bahagia, karena foto tersebut membawa senyuman kepada setiap orang yang melihatnya. Slater menyatakan, gambar tersebut diambil pada tahun 2011 lalu, saat dirinya sedang melakukan perjalanan ke Indonesia untuk memotret kehidupan monyet jambul hitam.(esn)

  sindo  

Kamis, 07 Agustus 2014

Pindad Pede Jadi Produsen Amunisi Terbesar di ASEAN

http://images.detik.com/content/2014/08/07/1036/moupindad.jpgPT Pindad (Persero) membangun pabrik amunisi di Malang (Jawa Timur) dengan menggandeng Rheinmetall Denel Munition (RDM), perusahaan asal Afrika Selatan. Ini akan menggenjot sektor bisnis Pindad di divisi amunisi.

Direktur Utama Pindad Sudirman Said mengatakan, dengan pembangunan pabrik ini perseroan akan memiliki akses untuk masuk ke pasar amunisi dengan skala internasional dimulai dari Asia Tenggara, sehingga Pindad bisa menggenjot bisnis perusahaan di sektor produksi amunisi.

"Di Pindad ada dua lini industri. Pertama persenjataan dan peralatan tempur., kedua industri amunisi. Sampai saat ini divisi amunisi telah menyumbang lebih dari 50% ke profit kami. Jadi memang sebagian besar dari amunisi," papar Sudirman usai penandatangan tersebut di Hotel Shangrilla, Jakarta, Kamis (7/8/2014).

Hingga akhir 2013, Pindad mencatat laba sebesar Rp 97 miliar. Artinya pada periode tersebut, bisnis amunisi telah menyumbang lebih dari Rp 49 miliar terhadap total laba perusahaan.

"Bukan angka yang besar, tapi yang penting itu trennya. Kita lihat trennya ini mengalami kenaikan. Dalam tiga tahun ini rata-rata pertumbuhannya 24% per tahun, itu yang ingin kita tingkatkan. Kami harapkan dengan kerja sama ini, peningkatannya akan lebih agresif bagi perusahaan," sebut dia.

Sudirman optimistis langkah strategis ini dapat menggenjot kinerja perusahaan secara keseluruhan. Karena menurutnya di Asia Tenggara belum banyak industri amunisi. Pabrik ini akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

"Tidak banyak negara di Asia Tenggara yang bisa memproduksi amunisi seperti kita (Pindad). Kerja sama ini akan menjadikan fasilitas produksi amunisi ini sebagai yang tebesar di Asia Tenggara," sebut dia.

Terkait dengan pabrik amunisi yang akan dibangun bersama RDM, ia menyebut pembangunan akan dilengkapi dengan area uji coba peledakan.

"Kita sudah ada bangunan, sudah jadi lokasinya di Malang. Selain gedung, ada lahan terbuka juga. Luas total 168 hektar. Ada tempat peledakan percobaan. Jarak dari malang 20 km. Jauh dari pemukiman sehingga cocok untuk tempat pengembangan industri ledakan," terang Sudirman.

Investasi yang sudah digelontorkan untuk bangunan tersebut adalah sekitar Rp 20 miliar. "Bukan angka yang signifikan, karena bangunan saja itu belum apa-apa. Kita masih harus mendatangkan mesin, peralatan dan lain-lain," lanjut dia.

Selain itu, Pindad dan RDM bersepakat untuk membangun akademi atau lembaga pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia.

"Untuk mengoperasikan gedung ini tentu kita butuh tenaga ahli. Di Malang kita sudah ada 1.000 orang tenaga ahli. Tapi kalau kita mau masuk level berikutnya karena kita ingin menjangkau pasar Asia, berarti kita butuh tenaga ahli lebih banyak lagi. Kita belum tahu berapa, tapi semua sedang kita persiapkan," paparnya.

Ditambahkan Sudirman, dari kerjasama ini nantinya juga akan dibentuk sebuah perusahaan patungan atau joint venture (JV) yang akan menjadi perusahaan pelaksana atas rencana pengembangan industri amunisi ini.

Sudirman mengatakan, sebagai langkah awal realisasi rencana tersebut pihaknya bersama RDM akan melakukan pembicaraan rutin untuk menentukan strategi detil pengembangan usaha atau detail plan.

"Kita harapkan sampai akhir tahun ini sudah ada detail plan-nya. Jadi dalam 3-4 bulan ini kita harapkan sudah didapat perencanaan dasarnya seperti apa," kata Sudirman.

Setelah rencana detil diperoleh, lanjut Sudirman, maka akan langsung dibahas perencanaan teknisnya termasuk pembagian porsi investasi masing-masing pihak atas perusahaan patungan ini.

"Yang saya ingin, secara keahlian kita punya banyak ahli, investasi tergantung kemampuan kita, tapi kalau bisa kita juga taruh uang (investasi finansial). Jadi kita bukan hanya sebagai mitra lokal yang hanya urus perizinan. Tapi true partner, benar-benar sebagai partner yang mengembangkan industri," kata Sudirman.
Spesifikasi Amunisi Senjata Buatan Pindad di Pabrik Malang PT Pindad (Persero) bakal membangun pabrik amunisi dengan perusahaan senjata asal Afrika Selatan Rheinmetall Denel Munition (RDM). Pabrik itu akan memproduksi amunisi berukuran besar yakni 60mm hingga 155mm.

"Rekan kami memiliki pengalaman yang sangat panjang di bidang amunisi jadi mungkin banyak hal yang bisa dikerjakan. Tetapi pertama kami akan kembangkan untuk amunisi ukuran besar," kata Direktur Utama Pindad, Sudirman Said di Hotel Shangrilla, Jakarta, Kamis (7/8/2014).

Untuk kawasan Asia Tenggara, pemenuhan Amunisi ukuran ini separuhnya masih dipasok dari negara-negara di luar kawasan ini. RDM merupakan salah satu pemasok amunisi ukuran tersebut.

Sudirman mengatakan, RDM sebagai mitranya punya banyak pengalaman memproduksi dan memasok amunisi ke Asia Tenggara. Selama ini, semua amunisi diproduksi di Afrika Selatan dan diekspor ke Asia Tenggara.

Dengan dibangunnya pabrik yang berlokasi di Malang, Jatim ini, diharapkan proses distribusi dan pasokan amunisi ke kawasan Asia Tenggara akan lebih lancar.

"Bagian terpenting dari barang explosif (peledak) itu kan ada di transportasinya. Kalau bisa bangun di Indonesia, maka akan ada efisiensi dari segi transportasi jadi lebih mudah menjangkau pasar Malaysia, Singapura dan negara Asia Tenggara lainnya," kata dia.

Dalam kesempatan yang sama, Chief Executive Offixer RDM Nobert Shulze mengungkapkan, dalam industri amunisi, akses memegang peran yang sangat penting.

"Bisa membangun pusat industri amunisi di Indonesia merupakan strategi yang sudah disiapkan 1 tahun lalu bukan hanya untuk memproduksi amunisi di kawasan Asia Tenggara. Tetapi juga membuat kemungkinan baru untuk membangun industri amunisi yang kualitasnya sama dengan yang sudah kami kembangkan di seluruh dunia," kata Nobert.

Amunisi yang bakal diproduksi Pindad dan RDM itu berkaliber 155 mm dan memiliki spesifikasi yang sangat mendukung pertempuran jarak jauh. Berbobot 47 kg, amunisi berbentuk runcing ini memiliki daya tembak hingga 39 Km.

Fisik amunisi raksasa ini terbagi menjadi dua. Bagian pertama adalah bagian tabung yang berisi mesiu. Bagian kedua adalah sumbu (fuse) yang terletak di bagian ujung yang runcing.

Biasanya, amunisi ini digunakan sebagai kelengkapan senjata pada kendaran tempur seperti Leopard. Amunisi jenis ini juga biasa digunakan sebagai peluru meriam Cesar 155 berdaya tembak 39 KM yang biasanya diangkut dengan kendaraan besar seperti truk.

Perusahaan asal Afrika Selatan itu memiliki protofolio produk amunisi yang sangat beragam dan telah berpengalaman di lebih dari 84 negara di seluruh dunia.

Adapun portofolio amunisi yang diproduksi perusahaan ini adalah:

1. Artillery ammunition (105mm dan 155mm)
2. Mortar ammunition (60,81mm dan 120mm)
3. Bomb pesawat udara
4. Amunisi untuk kendaran tempur naval
5. Amunisi senjata infantri kaliber 40mm
6. Serta berbagai amunisi dan komponen lainnya.


  detik  

Kerjasama Bikin Amunisi di Malang

Pindad dan Rheinmetall Denel Munition Rintis Kerjasama http://images.detik.com/content/2014/08/07/1036/moupindad.jpgSatu lagi rintisan kerjasama untuk kebangkitan Industri pertahanan dirintis. Kali ini PT. Pindad berupaya menjalin kerjasama dengan Rheinmetall Denel Munition (RDM) untuk memproduksi Amunisi Kaliber Khusus dan Kaliber Besar. Penandatangan MoU kerjasama ini dilakukan di Hotel Shangri-La Jakarta, Kamis siang. Penandatanganan dilakukan langsung oleh Dirut PT. Pindad, Sudirman Said dengan CEO RDM, Robert Schulze.

CEO RDM menyatakan, memilih PT. Pindad lantaran sudah memiliki kapabilitas produksi amunisi terutama kaliber kecil. Yang terpenting Pindad memiliki keahlian dasar produksi amunisi. "Memang banyak mesin Pindad yang sudah tua, tapi nanti ini akan diperbaiki melalui kerjasama ini", jelas Robert Schulze kepada ARC.

Dalam keterangan pers-nya, Dirut Pindad menyatakan, penandatanganan MoU ini baru tahap awal dari kerjasama. Seusai tandatangan ini, nantinya akan dibentuk gugus tugas untk mendetailkan kerjasama. Targetnya, akhir tahun ini sudah disepakati apa saja yang akan dilakukan, termasuk jenis munisi yang akan dibuat. "Amunisi yang akan dibuat mulai 30mm hingga 105mm", tandas Sudirman. Lalu pada tahun depan, perusahaan patungan Pindad dan RDM ini diharapkan sudah berdiri. Dalam kerangka kerjasama ini, RDM akan membangun lembaga pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM dari PT.Pindad. Selain memproduksi amunisi kaliber besar, Pindad juga akan pusat produksi dan penjualan untuk kawasan asia pasifik. Hal ini tentu merupakan kesempatan baik bagi Pindad untuk menambah keuntungan.
Bikin Pabrik Amunisi di Malang PT Pindad (Persero) sebagai produsen produk pertahanan plat merah menjalin kerjasama dengan produsen senjata asal Afrika Selatan Rheinmetall Denel Munition (RDM). Kedua perusahaan ini akan membangun fasilitas produksi amunisi ukuran besar di Malang, Jawa Timur.

Direktur Utama Pindad Said Sudirman mengatakan, tahap awal kedua belah pihak akan melakukan perencanaan detil. Kerjasama ini ditandai dengan Memorandum of Understanding (MoU) kedua belah pihak.

"MoU ini sebagai dasar bagi kami berdua untuk melakukan detail plan (perencanaan detil) terkait pengembangan industri amunisi," kata Sudirman usai penandatanganan MoU di Hotel Shangri-La, Jakarta, kamis (7/8/2014).

Penandantanganan MoU ini dilakukan oleh Sudirman Said dan Chief Executive Offixer RDM Nobert Shulze.

Sudirman mengatakan, kerjasama ini akan menjadi babak baru perkembangan industri amunisi tanah air yang sudah dikembangkan Pindad selama ini. Kerjasama ini juga menurutnya berpeluang terus dikembangkan untuk memproduksi berbagai jenis amunisi.

Namun untuk langkah awal, jenis amunisi yang akan dikembangkan adalah khusus yang berukuran besar.

"Rekan kami memiliki pengalaman yang sangat panjang di bidang amunisi jadi mungkin banyak hal yang bisa dikerjakan. Tetapi pertama kami akan kembangkan untuk amunisi ukuran besar," sebutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Nobert mengatakan, pihaknya menggandeng Pindad karena telah melihat rekam jejak Pindad yang dianggap sejalan dengan lini bisnis RDM.

"Selain itu, Indonesia juga kami anggap sebagai kawasan yang paling strategis untuk menjangkau pasar Asia Tenggara," sambungnya.(zul/hds)

  ARC | detik  

Koharmatau Sempurnakan Console TMC

Foto: Suharso Rahman

Console Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) seri pertama buatan Koharmatau disempurnakan lagi pada seri kedua, sehingga cara pakainya makin memudahkan operator. Alat penabur garam hujan buatan ini menjadi yang pertama di dunia, sekaligus bukti keunggulan rekayasa teknologi dalam negeri.

Tak perlu jauh-jauh mencari produk ke luar negeri. Serahkan saja kepada instansi di dalam negeri yang mempunyai kemampuan melakukan rekayasa teknologi seperti Divisi Engineering Komando Pemeliharaan Materiil Angkatan Udara (Koharmatau) di Bandung. Bekerja sama dengan Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT), Koharmatau mampu mendesain alat penabur garam hujan buatan yang disebut Console TMC.

Produk Console TMC Seri I berhasil dibuat Koharmatau hanya dalam tempo tiga bulan dan diluncurkan pada Januari 2014. Alat ini berhasil memecahkan persoalan membuat hujan buatan yang dihadapi selama 20 tahun dimana proses penaburan bubuk garam NaCl atau CaCl2 dari pesawat dilakukan dengan metode konvensional “lempar karung” melalui pintu samping pesawat. Akibat-akibat buruk dari proses ini, pesawat mengalami korosi akut karena turbulensi bubuk garam yang disemai berbalik ke dalam kabin.

Cara kedua, kabin pesawat ditutupi dengan kain terpal untuk mencegah menyelipnya bubuk-buku garam berukuran mikron (super fine powder) ke bagian kabin. Garam dituangkan secara manual dari karung yang dirobek melalui corong ke pintu samping pesawat. Hal ini pun ternyata tidak efektif. Bubuk garam masih beterbangan di dalam kabin selain juga dibutuhkan upaya yang keras dengan mengerahkan banyak personel mulai dari proses loading garam ke pesawat hingga pembersihan pesawat setelah itu. Hal ini sangat membutuhkan waktu lama mengingat garam yang diangkut jumlahnya hitungan ton. Hasil evaluasi menyatakan, untuk satu kali proses hujan buatan saja komponen pesawat terancam korosi walau sudah dibersihkan.

Cara ketiga, inilah pemecahan masalah yang terbukti jitu. Koharmatau melalui Divisi Engineering merancang dan membuat Console TMC (cara pembuatan lihat Angkasa edisi Juni 2014: Console TMC Buatan Koharmatau Senjata Pamungkas Hujan Buatan). Console TMC Seri I yang telah dibuat Koharmatau telah terbukti ampuh digunakan selam 250 jam per Juli lalu dan saat ini masih digunakan di Pekanbaru.

 Beberapa penyempurnaan 

Sukses dengan konsol pertama, Koharmatau tak mau berdiam diri. Proses penyempurnaan dilakukan untuk konsol kedua. “Kebetulan permintaan alatnya ada, dan BPPT mau mencarikan anggarannya. Akhirnya kami buat Console TMC Seri II dalam waktu hanya dua minggu. BPPT dan BNPB memang masih memerlukan tambahan Console TMC untuk melengkapi konsol yang pertama agar proses pencegahan kebakaran hutan bisa dilaksanakan lebih luas,” ujar Komandan Koharmatau Marsda TNI Sumarno.

Awal Juli lalu proses uji statis dan uji dinamis Console TMC II dilaksanakan selama dua hari oleh Koharmatau dan BPPT di Depohar 10 Bandung menggunakan C-130 Hercules nomor A-1321 dari Skadron Udara 31. Uji penyemaian garam dilaksanakan di wilayah udara Cianjur pada ketinggian 10.000 kaki dengan kecepatan 180 knot.(Roni Sontani)

  ★ Angkasa  

Rabu, 06 Agustus 2014

Lockheed Martin Mengumumkan Inisiatif Industri Radar Indonesia

Pemasok sistem pertahanan internasional ini bekerjasama dengan mitra-mitra lokal untuk membantu Angkatan Udara Indonesia di dalam Modernisasi Radar http://dev.defense-update.com/wp-content/uploads/2012/02/AN-TPS-77.jpgIlustrasi Lockheed Martin Radar

Lockheed Martin (NYSE: LMT) telah meluncurkan inisiatif industri radar Indonesia sebagai bagian dari usaha perusahaan asal AS ini dalam mendukung agenda Indonesia untuk memordenisasikan dan memperluas jangkauan pengawasan udara Republik Indonesia.

Inisiatif ini mencakup transfer teknologi guna membantu pembangunan industri radar Indonesia, serta kerjasama dengan sejumlah universitas lokal guna mengembangkan sumber daya manusia untuk mendukung inisiatif ini. Meningkatkan kemampuan Indonesia untuk membuat beragam komponen radar yang fundamental akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pemasok asing, sekaligus membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia.

Lockheed Martin berkomitmen untuk mendukung Indonesia dan rencana revitalisasi industri pertahanannya," ungkap Robert Laing, Eksekutif Nasional, Lockheed Martin, Indonesia. "Tujuan kami adalah untuk menciptakan sebuah sektor teknologi dan lapangan pekerjaan yang baru demi menjamin industri yang berkesinambungan di Indonesia."

Lockheed Martin telah bekerjasama dengan Institut Teknologi bandung (ITB) untuk membuat kurikulum engineering teknologi radar. Selain itu, terdapat sejumlah program lainnya, ditambah dengan berbagai seminar teknis dan peluang pendidikan yang tengah berlangsung, seperti pelatihan pemimpin masa depan untuk pengembangan teknologi radar. Perusahaan ini juga telah mengintegrasikan kapabilitas manufaktur dengan sejumlah mitra lokal Indonesia, yang telah memulai memproduksi komponen-komponen radar.

Lockheed Martin juga kini tengah bersaing memperebutkan program radar Ground Control Intercept (GCI) Indonesia. Jika perusahaan ini berhasil memenangkan program tersebut, maka akan terbuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi mitra-mitra lokal, yang diperkirakan hingga dua juta jam kerja selama masa aktif radar-radar tersebut. Para mitra lokal akan mampu memproduksi komponen radar senilai hampir 100 juta dolar tiap tahun.

Pengalaman ekstensif radar pengawasan udara yang dimiliki Lockheed Martin dapat membantu Indonesia menjadmin keamanan dan keselamatan ruang udara baik bagi lalu lintas udara sipil maupun kedaulatan udara nasional untuk waktu yang sangat lama. Lockheed Martin telah memproduksi dan mengoperasikan lebih dari 200 radar pengawasan udara di 30 negara. Beroperasi di seluruh dunia selama 24 jam, radar-radar Lockheed Martin beroperasi sepenuhnya tanpa awak dan sebagian besar telah puluhan tahun di dalam kondisi lingkungan terpencil yang keras. Tidak ada satupun radar-radar tersebut yang pernah mengalami kerusakan, dan bahkan sebagian besar telah beroperasi dengan baik melampui masa garansi 20 tahun. Kehandalan dan umur yang panjang dari radar-radar tersebut adalah hasil dari investasi berkelanjutan Lockheed Martin di dalam teknologi canggih dan komitmen terhadap misi dan kebutuhan para konsumen.

Berpusat di Bethesda, Maryland, Lockheed Martin adalah perusahaan keamanan dan kedirgantaraan global yang memiliki sekitar 113.000 karyawan di seluruh dunia dan secara khusus terlibat di dalam riset, desain, pengembangan, manufaktur, integrasi, dan pemeliharaan beragam sistem, produk, dan layanan teknologi canggih. Penjualan bersih korporasi untuk tahun 2013 mencapai 45,4 miliar dolar.

  Antara  

Di Balik Pembuatan R-Nav 1

Prosedur R-Nav 1 dibuat oleh putra bangsa. Produk hasil kerja keras beberapa orang pengontrol trafik udara di Bandara Soekarno-Hatta dan pilot Garuda Indonesia.

Rasa kesal dan marah menjadi pemicu saya untuk membuat prosedur baru, yang alhamdulillah sekarang sudah digunakan sebagai prosedur bagi pesawat yang akan berangkat dan datang dari dan ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng. Saya bersyukur, kemarahan itu membuahkan hasil yang luar biasa. Hasil itu bukan saja dirasakan insan dunia penerbangan, seperti Air Traffic Controllers (ATC), pilot, dan maskapai, tapi juga masyarakat pengguna jasa moda transportasi udara di Jakarta dan sekitarnya, tanpa kita sadari bahkan dunia.

Kenapa saya marah dan kemudian bisa membuat Prosedur R-NAV 1? Sebagai warga negara Indonesia, saya merasa sedih dan malu karena ada beberapa maskapai asing yang untuk mengecek seorang penerbangnya menjadi captain pilot dan boleh terbang ke Eropa, harus terbang ke Soekarno-Hatta dulu. Apabila mereka masuk Soekarno-Hatta dengan mulus, mereka bisa menjadi captain pilot atau boleh terbang ke Eropa. Betapa rendahnya kita di mata mereka karena tidak punya prosedur yang bagus. Padahal ATC Soekarno-Hatta adalah barometer ATC-er di Indonesia. Sungguh sangat merendahkan kita sebagai bangsa.

Begitulah! Saya sebagai anak bangsa merasa tersinggung dan marah. Kemarahan ini memotivasi saya untuk mendesain Prosedur R-NAV 1, prosedur yang pertama kali digunakan di Indonesia, sehingga mereka tidak lagi bisa meremehkan kita.

 Proses pembuatan 

Kita harus punya suatu prosedur bagus yang memenuhi standar internasional dengan kriteria safety, keteraturan, kepastian, dan nyaman. Setiap dinas malam ketika trafik relatif berkurang, saya gunakan untuk mendesain Standard Arrival (STARR) atau membuat jalur-jalur yang sudah ditentukan, baik dari sisi ketinggian maupun kecepatan, untuk pesawat yang akan datang ke Soekarno-Hatta. Dengan demikian, antar-pesawat tak saling menyusul.

Kenapa saya harus membuat desain STARR atau prosedur kedatangan lebih dulu? Alasannya, Standard Instrument Departure (SID) atau prosedur keberangkatan untuk pesawat yang akan berangkat tidak bisa dibuat tanpa ada STARR. Dalam waktu sekitar satu tahun, setiap pulang dinas, saya buka dan kaji lagi prosedurnya.

Setelah desain rampung, saya membutuhkan flight simulator dan pesawat untuk membuktikan, apakah desain yang saya buat cocok dan bagus digunakan? Soalnya, desain itu pada titik-titik koordinat tertentu meliputi kecepatan dan ketinggian pesawat.

Sebagai ATC-er, saya juga menjadi pengurus organisasi profesi ATC atau IATCA (Indonesia Air Traffic Controllers Association) di tingkat cabang (DPC) Jakarta. Saya manfaatkan keberadaan saya di IATCA untuk berkolaborasi dengan Garuda Indonesia. Untunglah, kolaborasi yang saya ajukan mendapat tanggapan positif, sehingga dibentuklah tim kerja GA-IATCA, yang masih terbentuk sampai sekarang. Tim GA-IATCA terdiri dari beberapa pilot senior Garuda serta beberapa petugas ATC Jakarta yang mewakili sektor Area Control Center (ACC), Approach/Arrival, dan Tower, juga bagian standar dan manajemen Garuda.

Awalnya desain itu dicoba di flight simulator. Hasilnya luar biasa; sangat ramah lingkungan (go-green). Selanjutnya kami mencoba live. Kami berkoordinasi, sewaktu saya atau tim dari ATC dinas malam dan pilot Garuda yang masuk dalam tim terbang malam menuju Soekarno-Hatta, prosedur STARR R-NAV 1 diujicoba. Hasilnya ternyata sama dengan flight simulator; luar biasa! Hal ini membuat tim bersemangat.(Gatot Prianggodho)




  ★ Angkasa  

Senin, 04 Agustus 2014

Seberapa Efektif Pembatasan Solar Bersubsidi

Mulai hari ini, solar bersubsidi dibatasi di sejumlah wilayah. SPBU 31.103.03 Cikini, Jakarta Pusat, tidak lagi menjual solar bersubsidi.

B
adan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengeluarkan kebijakan pengendalian penjualan solar bersubsidi di Jakarta Pusat mulai Jumat pekan lalu. Penggunaan solar bersubsidi di beberapa daerah juga mulai dibatasi mulai hari ini, Senin 4 Agustus 2014.

Pembatasan ini memicu protes keras dari para pengusaha angkutan umum yang tidak bisa lagi mengisi bahan bakar solar bersubsidi di Jakarta Pusat.

Kebijakan ini diambil setelah DPR mengunci kuota BBM bersubsidi sebanyak 46 juta kiloliter pada 2014. Kuota ini turun dari yang sebelumnya 48 juta kiloliter. Pemerintah dan DPR sepakat kuota tersebut tak boleh jebol hingga akhir tahun ini. Kalau lebih dari kuota, tak ada pembayaran subsidi BBM.

Ketentuan baru ini mencantumkan pembatasan penjualan solar bersubsidi di beberapa wilayah tertentu. Aturan ini ditujukan kepada badan usaha pelaksana, penyedia, dan pendistribusian bahan bakar minyak (bersubsidi), seperti PT Pertamina, untuk tidak menjual solar bersubsidi di SPBU.

Bila ada badan usaha yang menjual solar atau premium melebihi dari 46 juta kiloliter, subsidinya tidak akan dibayarkan pemerintah.

Pembatasan penjualan solar bersubsidi juga akan dilakukan di wilayah rawan penyalahgunaan BBM bersubsidi seperti di daerah industri, perkebunan, dan pertambangan. Waktunya pun dibatasi, yaitu mulai pukul 18.00-06.00 WIB.

"Pengendalian ini akan berlaku mulai 4 Agustus 2014," kata Komite BPH Migas, Ibrahim Hasyim, Jumat, 1 Agustus 2014.

Surat edaran soal ketentuan ini telah disampaikan kepada badan usaha dan instansi terkait dan telah melalui pembahasan intensif dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Keuangan, dan Pertamina.

Meski demikian, ada sejumlah wilayah yang menjadi pengecualian kebijakan BPH Migas terkait pembatasan penjualan solar bersubsidi, yakni di daerah yang menjadi jalur distribusi logistik.

“Yang dikecualikan adalah SPBU di jalur utama logistik, yaitu lintas Sumatera dan Pantura Jawa. Sebab khawatir mengganggu perekonomian dan suplai sembako bagi masyarakat,” kata Vice President Corporate Communication Pertamina, Ali Mundakir.

Untuk wilayah-wilayah yang sudah menerapkan pembatasan ataupun pengaturan waktu seperti Batam, Bangka Belitung, serta sebagian besar Kalimantan, aturan akan diterapkan sesuai ketentuan Pemerintah Daerah setempat.

Tak hanya solar di sektor transportasi, mulai 4 Agustus 2014, alokasi solar bersubsidi untuk Lembaga Penyalur Nelayan (SPBB/SPBN/SPDN/APMS) juga akan dipotong sebesar 20 persen dan penyalurannya mengutamakan kapal nelayan di bawah 30 GT.

Selanjutnya, terhitung mulai 6 Agustus 2014, seluruh SPBU yang berlokasi di jalan tol tidak akan menjual premium bersubsidi, hanya Pertamax series. Saat ini, total jumlah SPBU di jalan tol mencapai 29 unit. Dari jumlah tersebut, 27 unit SPBU ada di wilayah Marketing Operation Region III (Jawa Barat) dan 2 unit SPBU di wilayah Marketing Operation Region V (Jawa Timur).

Hasyim menjelaskan, pengendalian penjualan solar bersubsidi di Jakarta Pusat, mulai Jumat lalu, diambil setelah melakukan riset terlebih dahulu. Menurut dia, Jakarta Pusat dipilih karena di wilayah ini penjualan solarnya lebih kecil dibanding wilayah lain.

Per hari, lanjut dia, penjualan solar hanya 3-4 ton. "Sebelum ditentukan, kami sudah melakukan peneropongan. Di Jakarta Pusat, omzet solarnya satu per sepuluh dari SPBU di luarnya," katanya.

Kecilnya jumlah penjualan solar di daerah itu dipengaruhi oleh larangan angkutan besar masuk ke Jakarta Pusat. Kebanyakan yang membeli bahan bakar di daerah tersebut adalah angkutan kota berbahan bakar premium.

Menurut pengelola SPBU Cikini, Rahmad Novizar, pihaknya telah menerima surat edaran dari BPH Migas sebelum Lebaran.

Kemudian, terhitung 4 Agustus 2014, penjualan solar bersubsidi hanya bisa dilakukan di luar Jakarta Pusat pada pukul 08.00 hingga 18.00 WIB. Penjualan di luar jam operasional tersebut tetap dilayani, namun BPH Migas tidak menghitungnya sebagai BBM bersubsidi.

Dengan subsidi, harga solar adalah Rp5.500. Namun, dengan pencabutan subsidi, harga solar melonjak hingga Rp12.800. Untuk pelarangan solar di Jakpus masih belum signifikan pengaruhnya karena masih dalam suasana libur Lebaran.

Rahmad menganjurkan, untuk mendapatkan solar subsidi, pengguna kendaraan bisa membelinya di Jakarta Barat, Timur, Utara atau Selatan. "Tapi, pembelian solar bersubsidi juga dibatasi dari jam 08.00 sampai 18.00 WIB," kata dia.

 Protes Organda 
Menanggapi larangan menjual solar di Jakarta Pusat, pengusaha angkutan menolaknya. Menurut Ketua DPD Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta, Shafruhan Sinungan, kebijakan itu bisa mengganggu operasional bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan angkutan barang. Kondisi tersebut juga akan berpengaruh kepada pelayanan dan akan ada pembebanan biaya kepada masyarakat.

Shafruhan juga menilai kebijakan BPH Migas dan Pertamina tak masuk akal. Dia meminta agar kebijakan ini ditinjau ulang. Ketentuan yang akan diterapkan akan berdampak besar secara nasional terhadap pelayanan kepada masyarakat.

"Kami meminta agar SPBU di wilayah Jakarta Pusat tetap melayani penjualan BBM bersubsidi untuk mem-back up operasional angkutan kota yang beroperasi di wilayah itu," kata dia.

Rencananya, hari ini para sopir bus angkutan umum berencana melakukan demonstrasi menentang ketiadaan solar bersubsidi di Jakarta Pusat. "Nanti mau demo hari Senin tanggal 4 Agustus 2014. Semua sopir bus angkutan umum sudah tahu semua," ujar kondektur bus angkutan umum Kopaja 19 jurusan Blok M-Ragunan-Tanah Abang, Hengki, Sabtu, 2 Agustus 2014.

Menurut Hengki, pembelian solar non-subsidi di Jakarta Pusat akan memangkas pendapatan mereka. Kemungkinan, tarif juga akan dinaikkan Rp1.000, angka ini masih belum menutupi pembelian solar 12 ribuan rupiah per liter.

Kondektur bus angkutan, Baskoro, berpendapat bahwa pemerintah tidak berpihak pada angkutan umum. "Harusnya pemerintah berpihak pada angkutan umum. Jangan disamakan dengan mobil pribadi," katanya.

 Tak Ada yang Rugi 

Kepala BPH Migas, Andy Noorsaman Sommeng, mengatakan, sebenarnya tidak ada yang dirugikan dengan pengendalian solar bersubsidi di Jakpus. Menurut dia, angkutan umum bisa mengisinya di tempat lain di wilayah Jakarta lainnya.

"Tidak ada yang dirugikan, kok. Mereka kan bisa mengisi solar di tempat lain," katanya.

Andy mengatakan bahwa pengaturan SPBU Jakarta Pusat tak boleh menjual solar bersubsidi masih dicoba sampai akhir tahun. "Kami akan mencoba sampai akhir tahun. Itu saja dulu. Itu juga banyak yang protes, terutama Organda," kata Andy.

"Kalau nanti mereka akan minta penjelasan, ya, kami akan menjelaskan. Yang penting, mereka kan bisa dilayani di SPBU lain. Kecuali, kalau tidak dilayani di SPBU lain, itu baru. Begitu saja, kok repot," lanjut Andy. (art)

  Vivanews  

Sabtu, 02 Agustus 2014

Mahasiswa FT-UB Ciptakan Prototipe Mobil Berbahan Bakar Batu Kapur

http://ristek.go.id/file/gallery/2014/07/edit_1.jpgMahasiswa Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya kembali berinovasi. Setelah mobil listrik, kali ini mahasiswa FT berhasil membuat prototipe mobil dengan bahan bakar batu kapur.

Mobil berbahan bakar batu kapur ini dibuat oleh Dobita A Feliciana, Rizka Dwi Octaria, Dwi C Pujayanti, Afida Khofsoh, mahasiswa Teknik Kimia angkatan 2011 dan Sidiq Darmawan dari Teknik Mesin angakatan 2011, Universitas Brawijaya. Prototipe mobil yang diberi nama EXOTRIC ini telah diikutkan dalam kompetisi mobil tingkat internasional pada ajang 3rd Chem-E-Car Indonesia Competition 2014 di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (11-12/4) dengan bimbingan Ir. Bambang Poerwadi, MS.

Prinsip kerja mobil ini memangfaatkan reaksi antara batu kapur dengan Hcl yang akan menghasilkan reaksi eksotermis. "Panas reaksi ini akan diubah menjadi energi listrik menggunakan susunan bahan semikonduktor tipe-p dan tipe-n yang disusun sedemikian rupa. Energi listrik yang dihasilkan digunakan untuk menggerakan motor DC dan akan ditransmisikan ke roda mobil", ujar Sidiq.

Chem-E-Car adalah kompetisi untuk menciptakan prototipe mobil berbahan bakar energi alternatif. Kompetisi ini merupakan ke tiga kali diselenggarakan di Indonesia. Sidiq menambahkan, pada kompetisi ini tim FT-UB bersaing dengan 12 tim dari luar dan dalam negeri, antara lain. ITB, ITS, UB, UGM, UI, UNS, UPN, Politeknik Negeri Bandung dan Universiti Teknologi Petronas (Malaysia).

"Pada kompetisi ini UB, UNS dan UPN Jatim adalah pendatang baru. Kami dari FT memulai semuanya dari 0 dengan autodidak. Sistem perlombaan ini adalah semua tim akan ditantang untuk membuat mobil berjalan sejauh 19m dengan diberi beban tambahan 10% dari berat mobil. Jarak 19 meter dan beban 10% ini ditentukan satu jam sebelum Race, jadi kami harus membuat komposisi bahan bakar yang tepat agar mobil dapat berjalan sejauh 19m. Tim FT-UB pada 1st race mencapai jarak 17,26m dan 2nd race mencapai 17,68m", jelasnya.

Dobita Amanda selaku ketua tim mengaku bangga karena mobil EXOTRIC adalah mobil menempati urutan ke tiga yang menempuh jarak yang paling mendekati jarak 19m setelah Universiti Teknologi Petronas dan ITS. "Bahkan kami bisa menglahakan beberapa Universitas Besar lainnya saat Race," ungkapnya. "Ini kompetisi kami yang pertama, meskipun belum mendapatkan juara, tim EXOTRIC akan terus berupaya memperbaiki mobil kami", pungkasnya.(prasetya.ub.ac.id/ humasristek)

  ★ ristek  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More