blog-indonesia.com

Minggu, 23 Agustus 2026

Transfer Teknologi Pertahanan dari Tiongkok Dimulai 2027

 ⚓️ 🚀 Bersama Pindad  Kapal perang TNI AL, KRI Sampari 628 tembakkan rudal C-705 dalam Operasi TNI Terintegrasi 2026 (Dispenal)

Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Tiongkok akan mencakup transfer teknologi untuk mendukung pengembangan industri pertahanan di dalam negeri.

Pelaksanaan kerja sama tersebut ditargetkan mulai berjalan paling lambat pada 2027.

Hal itu disampaikan Sjafrie setelah mengikuti Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan atau 2+2 RI-Tiongkok bersama Menteri Luar Negeri RI Sugiono, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, dan Menteri Pertahanan Tiongkok Dong Jun di Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.

Sjafrie menjelaskan kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Tiongkok merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah dilakukan kedua negara.

"Kerja sama kita dengan Tiongkok dalam industri pertahanan adalah melanjutkan apa yang sudah kita lakukan dan apa yang akan kita kerjakan," kata Sjafrie saat ditemui awak media setelah pertemuan.

Menurut Sjafrie, kerja sama tersebut mencakup pengembangan fasilitas produksi amunisi, misil, roket, dan sejumlah kebutuhan industri pertahanan lainnya.

Untuk sejumlah teknologi yang belum dikembangkan di Indonesia, Tiongkok akan memberikan dukungan melalui transfer teknologi. Langkah tersebut ditujukan agar Indonesia dapat membangun kemampuan produksi dan fasilitas industri pertahanan secara bersama-sama di dalam negeri.

"Yang belum kita buat, dia bantu dan dia akan kirim transfer teknologi agar supaya kita bisa membangun pabrik bersama-sama di Indonesia. Ini yang kita lakukan industri pertahanan," ujarnya.

 Paling Lambat 2027

Sjafrie menekankan transfer teknologi menjadi salah satu hal yang diangkat Indonesia dalam kerja sama industri pertahanan dengan Tiongkok. Indonesia, kata dia, ingin mengembangkan teknologi militer yang serupa dengan teknologi yang telah dikembangkan Tiongkok.

"Jadi yang saya angkat adalah mengenai bagaimana RRT bisa melakukan transfer teknologi terhadap Indonesia yang juga ingin mengembangkan teknologi militer yang serupa dengan apa yang sudah dilaksanakan oleh Tiongkok," kata Sjafrie.

Ketika ditanya mengenai waktu dimulainya pembangunan teknologi misil dan fasilitas terkait di Indonesia, Sjafrie menyebut pelaksanaannya ditargetkan paling lambat 2027.

"Ini paling lambat 2027 sudah jalan," tegasnya.

Dalam kerja sama tersebut, PT Pindad akan menjadi pihak Indonesia yang terlibat. Hal itu ditegaskan Sjafrie ketika ditanya apakah pembangunan tersebut akan melibatkan Pindad.

"Ya, Pindad. Pasti Pindad," jawabnya.

Adapun, kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Tiongkok sebelumnya telah mencakup PT Pindad dan perusahaan pertahanan Tiongkok.

Berdasarkan informasi Kementerian Pertahanan RI, PT Pindad telah menandatangani nota kesepahaman dengan dua perusahaan pertahanan asal Tiongkok, Norinco dan Sany Group, pada Mei 2025. Kerja sama tersebut mencakup pengembangan bersama, produksi bersama, serta penjajakan kandungan lokal di Indonesia. (Fajar Nugraha)

  👷  Metro TV  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More