👷 🤝 Target rampung 2032
Ilustrasi kapal selam Scorpene (Naval Group)
PT PAL Indonesia mulai membangun kapal selam Scorpene Evolved pertama untuk Indonesia setelah melakukan pemotongan baja perdana (first steel cutting) di galangan Surabaya pada 7 Agustus 2026.
Seperti dikutip Armyrecognition, pembangunan tersebut menjadi bagian dari program Scorpene Republik Indonesia (SRI) yang dijalankan PT PAL bersama perusahaan pertahanan asal Prancis, Naval Group. Kontrak mencakup dua unit kapal selam Scorpene Evolved dengan sistem baterai lithium-ion penuh (Full LiB).
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Muhammad Ali, mengatakan progres keseluruhan program telah mencapai 20,5%. Setiap kapal memiliki siklus pembangunan sekitar 96 bulan.
Kapal selam pertama ditargetkan menjalani pengujian dan uji laut pada 2030-2032 sebelum diserahkan kepada Indonesia pada 2032. Kapal kedua mulai dibangun pada 2027 dan ditargetkan menjalani pengujian hingga 2033 sebelum diserahkan pada tahun yang sama.
PT PAL Bangun Kapal Selam di Dalam Negeri
Program SRI memberikan tanggung jawab lebih besar kepada PT PAL dalam proses pembangunan kapal selam. Perusahaan mengerjakan konstruksi lambung tekan, pemasangan peralatan, integrasi sistem, pengujian, perakitan akhir hingga penyerahan kapal.
Sebelum memulai pembangunan kapal operasional, PT PAL telah menyelesaikan pembuatan bagian kualifikasi baja pada Desember 2025. Proses tersebut menjadi tahap pengujian kemampuan tenaga kerja Indonesia dalam pemotongan material, pengelasan, pengendalian dimensi dan inspeksi.
Sejumlah teknisi dan tenaga pengelas Indonesia sebelumnya menjalani pelatihan di fasilitas Naval Group di Cherbourg, Prancis. Naval Group juga mengirimkan tenaga ahli ke Indonesia untuk mendukung proses transfer teknologi dan pembangunan kapal.
Meski konstruksi berlangsung di Surabaya, sejumlah komponen utama masih berasal dari Prancis. Naval Group tetap berperan dalam desain, dukungan rekayasa, transfer proses produksi dan pendampingan teknis.
Kapal Selam Bawa Baterai Lithium-ion
Scorpene Evolved untuk Indonesia memiliki panjang sekitar 72 meter dengan bobot saat menyelam sekitar 1.600-2.000 ton. Kapal tersebut dapat melaju lebih dari 20 knot di bawah air dan menyelam hingga lebih dari 300 meter.
Sistem baterai lithium-ion menjadi salah satu peningkatan utama dibandingkan konfigurasi Scorpene sebelumnya. Sistem tersebut meningkatkan kapasitas energi, mempercepat pengisian dan memperpanjang waktu operasi kapal di laut.
Kapal selam ini memiliki jangkauan lebih dari 8.000 mil laut atau sekitar 14.800 kilometer serta daya tahan operasi hingga sekitar 78 hari. Kapal juga dirancang membawa 31 awak.
Untuk persenjataan, Scorpene Evolved memiliki enam tabung torpedo berukuran 533 milimeter dengan kapasitas hingga 18 senjata. Sistem tempur SUBTICS mengintegrasikan sensor, sonar, pengendalian tembakan dan sistem persenjataan.
Pembangunan dua Scorpene Evolved menjadi langkah penting bagi pengembangan kemampuan industri kapal selam Indonesia. PT PAL sebelumnya memiliki pengalaman merakit kapal selam kelas Nagapasa dengan bantuan Korea Selatan.
Melalui program SRI, Indonesia memperluas peran dari perakitan menuju konstruksi, integrasi dan pengujian kapal selam di dalam negeri. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan mempertahankan kompetensi industri pertahanan nasional.
PT PAL diperkirakan dapat menangani pembangunan atau pemeliharaan hingga empat kapal selam Scorpene secara bersamaan. Namun, kontrak saat ini baru mencakup dua unit.
Keberlanjutan produksi akan menjadi faktor penting untuk mempertahankan tenaga ahli, pemasok dan kompetensi yang dibangun melalui program tersebut. Jika Indonesia menambah pesanan, fasilitas produksi di Surabaya berpotensi berkembang menjadi basis pembangunan kapal selam berkelanjutan.
Kapal selam pertama ditargetkan masuk tahap pengujian pada 2030 dan diserahkan pada 2032, sedangkan kapal kedua dijadwalkan beroperasi pada 2033. (DH)
PT PAL Indonesia mulai membangun kapal selam Scorpene Evolved pertama untuk Indonesia setelah melakukan pemotongan baja perdana (first steel cutting) di galangan Surabaya pada 7 Agustus 2026.
Seperti dikutip Armyrecognition, pembangunan tersebut menjadi bagian dari program Scorpene Republik Indonesia (SRI) yang dijalankan PT PAL bersama perusahaan pertahanan asal Prancis, Naval Group. Kontrak mencakup dua unit kapal selam Scorpene Evolved dengan sistem baterai lithium-ion penuh (Full LiB).
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana Muhammad Ali, mengatakan progres keseluruhan program telah mencapai 20,5%. Setiap kapal memiliki siklus pembangunan sekitar 96 bulan.
Kapal selam pertama ditargetkan menjalani pengujian dan uji laut pada 2030-2032 sebelum diserahkan kepada Indonesia pada 2032. Kapal kedua mulai dibangun pada 2027 dan ditargetkan menjalani pengujian hingga 2033 sebelum diserahkan pada tahun yang sama.
PT PAL Bangun Kapal Selam di Dalam Negeri
Program SRI memberikan tanggung jawab lebih besar kepada PT PAL dalam proses pembangunan kapal selam. Perusahaan mengerjakan konstruksi lambung tekan, pemasangan peralatan, integrasi sistem, pengujian, perakitan akhir hingga penyerahan kapal.
Sebelum memulai pembangunan kapal operasional, PT PAL telah menyelesaikan pembuatan bagian kualifikasi baja pada Desember 2025. Proses tersebut menjadi tahap pengujian kemampuan tenaga kerja Indonesia dalam pemotongan material, pengelasan, pengendalian dimensi dan inspeksi.
Sejumlah teknisi dan tenaga pengelas Indonesia sebelumnya menjalani pelatihan di fasilitas Naval Group di Cherbourg, Prancis. Naval Group juga mengirimkan tenaga ahli ke Indonesia untuk mendukung proses transfer teknologi dan pembangunan kapal.
Meski konstruksi berlangsung di Surabaya, sejumlah komponen utama masih berasal dari Prancis. Naval Group tetap berperan dalam desain, dukungan rekayasa, transfer proses produksi dan pendampingan teknis.
Kapal Selam Bawa Baterai Lithium-ion
Scorpene Evolved untuk Indonesia memiliki panjang sekitar 72 meter dengan bobot saat menyelam sekitar 1.600-2.000 ton. Kapal tersebut dapat melaju lebih dari 20 knot di bawah air dan menyelam hingga lebih dari 300 meter.
Sistem baterai lithium-ion menjadi salah satu peningkatan utama dibandingkan konfigurasi Scorpene sebelumnya. Sistem tersebut meningkatkan kapasitas energi, mempercepat pengisian dan memperpanjang waktu operasi kapal di laut.
Kapal selam ini memiliki jangkauan lebih dari 8.000 mil laut atau sekitar 14.800 kilometer serta daya tahan operasi hingga sekitar 78 hari. Kapal juga dirancang membawa 31 awak.
Untuk persenjataan, Scorpene Evolved memiliki enam tabung torpedo berukuran 533 milimeter dengan kapasitas hingga 18 senjata. Sistem tempur SUBTICS mengintegrasikan sensor, sonar, pengendalian tembakan dan sistem persenjataan.
Pembangunan dua Scorpene Evolved menjadi langkah penting bagi pengembangan kemampuan industri kapal selam Indonesia. PT PAL sebelumnya memiliki pengalaman merakit kapal selam kelas Nagapasa dengan bantuan Korea Selatan.
Melalui program SRI, Indonesia memperluas peran dari perakitan menuju konstruksi, integrasi dan pengujian kapal selam di dalam negeri. Program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dan mempertahankan kompetensi industri pertahanan nasional.
PT PAL diperkirakan dapat menangani pembangunan atau pemeliharaan hingga empat kapal selam Scorpene secara bersamaan. Namun, kontrak saat ini baru mencakup dua unit.
Keberlanjutan produksi akan menjadi faktor penting untuk mempertahankan tenaga ahli, pemasok dan kompetensi yang dibangun melalui program tersebut. Jika Indonesia menambah pesanan, fasilitas produksi di Surabaya berpotensi berkembang menjadi basis pembangunan kapal selam berkelanjutan.
Kapal selam pertama ditargetkan masuk tahap pengujian pada 2030 dan diserahkan pada 2032, sedangkan kapal kedua dijadwalkan beroperasi pada 2033. (DH)
👷 IDN
0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.