Kamis, 20 Juli 2017

Misi Mengejar Perdagangan Indonesia dan Afrika

https://4.bp.blogspot.com/-D0WcrOTKV8E/Vpy17RArq_I/AAAAAAAAFcg/qe3inJhBtWM/s1600/Strategic%2BSealift%2BVessel%2B%2528SSV%2529%2BPT%2BPAL.jpgSSV, salah satu produk PT PAL Indonesia yang akan dipesan negara Afrika

Indonesia kian giat meningkatkan kerja sama perdagangan dengan Afrika. Lewat Misi Dagang ke Afrika Selatan dan Nigeria pada 20-26 Juli 2017 mendatang, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita berharap dapat mempercepat terbentuknya Preferential Trade Agreement (PTA) agar dapat mendorong perdagangan yang seimbang dengan negara-negara di Afrika.

Bapak Presiden menekankan bahwa untuk membangun bersama Afrika harus dilakukan tanpa merusak Afrika. Oleh karena itu, Kemendag mendorong kerja sama bilateral yang seimbang dengan Afrika sehingga akses arus barang ekspor Indonesia ke pasar negara-negara di Afrika juga akan lebih lancar,” ujar Enggar di Jakarta seperti dilansir laman resmi Kemendag.

Menurutnya negara-negara di dunia telah mempraktikkan perdagangan bebas, namun tetap melindungi produk dalam negeri mereka dengan membatasi masuknya produk asing. “Kemendag telah melakukan kajian komprehensif sehingga bisa menetapkan hal-hal yang masuk dalam daftar penawaran dan daftar permintaan yang dituangkan dalam PTA,” jelasnya.

Dengan populasi penduduk mencapai lebih dari 60 juta, pasar Afrika dinilai begitu menjanjikan. Selain itu, baik Afrika Selatan maupun Nigeria adalah pintu gerbang untuk mengakses pasar Afrika. Afrika Selatan dengan Southern African Customs Union (SACU), sementara Nigeria dengan Economic Community of West African States (Ecowas).

Selain menjajaki kerja sama bilateral, Misi Dagang Afrika juga memboyong 21 perusahaan Indonesia, di antaranya dari sektor produk agrikultur, otomotif, kopi, minyak mentah, konstruksi, pengolahan makanan, furnitur, produk minyak sawit, kertas, bumbu/rembah, sepatu, tekstil, bahan bangunan, produk ternak, dan keuangan. Para pelaku usaha Indonesia bakal menjajaki pasar Afrika lewat forum bisnis dan one-on-one business matching, studi banding dan kunjungan pasar, sehingga lebih fokus dan terarah dalam mencari mitra dagang atau peluang bisnis.

Guna mendorong terjadinya realisasi ekspor antara peserta misi dagang dengan pelaku usaha di negara tujuan misi dagang, Pemerintah juga akan memanfaatkan skema imbal dagang (counter trade) bagi produk-produk tertentu yang pengelolaannya masih melibatkan peran antarpemerintah, misalnya produk energi (minyak dan gas) dari Afrika yang dapat dibarter dengan produk alutsista, transportasi, dan kelapa sawit Indonesia.

Afrika bukan lagi termasuk kawasan yang bisa dipandang sebelah mata. Pertumbuhan ekonomi di Afrika tinggi dan diiringi tingkat inflasi yang tinggi. Para pelaku usaha perlu datang dan melihat langsung bagaimana prospek bisnis di Afrika. Selain penjajakan PTA, pemerintah juga membantu dari segi government to government lewat skema imbal dagang, serta melalui perwakilan di luar negeri, baik ITPC maupun Atdag,” tandas Mendag.

Sekilas Perdagangan Indonesia-Afrika Selatan & Indonesia-Nigeria Afrika Selatan merupakan negara tujuan ekspor Indonesia ke-32, dan menjadi negara tujuan ekspor pertama di negara Afrika. Total perdagangan kedua negara mencapai lebih dari USD 1 miliar di tahun 2016, dengan nilai ekspor Indonesia mencapai USD 727,8 juta dan impor senilai USD 290,8 juta.

Hal ini memberikan surplus bagi Indonesia senilai USD437 juta. Pasar Afrika Selatan merupakan salah satu target dan tujuan utama ekspor Indonesia yang diharapkan meningkat ke depannya. Produk ekspor Indonesia ke Afrika Selatan antara lain kelapa sawit, karet, otomotif produk, bahan kimia, sepatu, dan kakao. Sementara produk impor Indonesia dari Afrika Selatan adalah bubuk kayu, alumunium, buah-buahan, dan tembaga.

Indonesia merupakan negara pemasok ke-18 ke Nigeria atau urutan ke-2 dari ASEAN, setelah Malaysia. Nigeria adalah salah satu mitra dagang penting bagi Indonesia di Afrika. Pada 2016, total perdagangan antara kedua negara mencapai USD1,6 miliar, dengan nilai ekspor mencapai USD310,8 juta dan nilai impor USD 1,28 miliar.

Defisit bagi Indonesia sebagian besar Berasal dari impor minyak dan gas. Meskipun demikian, Indonesia mengalami surplus USD 302,72 juta pada perdagangan nonmigas. Produk ekspor nonmigas Indonesia ke Nigeria antara lain kertas, kelapa sawit,dan turunannya seperti halnya ekspor utama negara-negara Asia Tenggara ke Afrika yaitu antara lain obat-obatan dan bumbu-bumbu. (akr)

  sindonews  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More