N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Krait

Kapal patroli 40 m berbahan almunium alloy produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

Panser Canon 90mm

Kendaraan militer dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

PT44 Gudel

Kendaraan taktis militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Jumat, 31 Oktober 2014

Bangladesh Navy has ordered 18 High Speed Patrol Boat from Indonesia

This is the First Time Bangladesh is buying military items from Indonesia. These Ships may be used for Coast guard

These 18 Boats will cost $6 Million altogether. There is a possibility to get Technology Transfer. X12 High Speed ​​Patrol Boat :

Length : 11.7 meters
Beam : 3.54 meters
Speed : 35 knots

After the Navy ordered ships in the form of advanced fast ship missiles Trimaran, this time turn the Bangladesh Navy ordered 18 coast guard as a complementary tool to the security of the country one of the shipbuilding industry in Banyuwangi, namely PT Lundin Industry Invest.

This was revealed by Commodore Syed Yahya, Deputy Director General of Bangladesh Coast Guard, during a visit in Banyuwangi, on Tuesday (10/28/2014). He explained that the ship industry in Banyuwangi chosen because it is considered to have advanced technology that is not owned by many similar industries in other countries.

"Here, ships are manufactured using the fiber is strong and corrosion resistant. The producing boats using fiber so far only in Europe," said Syed.

He explained that such cooperation is also used as the transfer of technology between Bangladesh and Indonesia in the field of shipping, that the company staff involved six ships of Bangladesh in the shipbuilding process.

"We also have seen a company profile, and believe that the company will be the best in the world," said Syed.

Meanwhile, Lizza Lundin, Director of PT Lundin Industry Invest, say, ordering 18 patrol boats of Bangladesh is valued at USD 75 billion. Process of ships is done by parallel systems until all orders will be completed within one year, as targeted.

"This is our new product that we originally Include in maritime exhibition in Jakarta. Apparently, his speech was very good, and Bangladesh became the first foreign country that ordered the ship of this type," says Lizza.

Meanwhile, 18 vessels were ordered by the Navy Bangladesh is a type of X12 High Speed ​​Patrol Boat monohold (single hull), with an overall length of 11.70 meters specs, bow length 9.60 meters long, 3.54 meters beam, the hull is submerged in water of 0.84 meters, a maximum speed of 35 knots, fuel capacity of 2 x 675 liters, and has two main engines.

"Before being sent to Bangladesh, will these ships going through the test tanks in Indonesia, Australia, and New Zealand," says Lizza.

He explains, it has been a lot of fulfilling orders ship from various countries, such as America, Russia, Australia, Malaysia, Brunei, Thailand, Sweden, Hong Kong, and the Middle East.


  ★
defencebd  

Kemenhan Gandeng Turki Bikin Medium Tank

Ilustrasi tank medium

Kementerian Pertahananan (Kemenhan) telah menyelesaikan draft kerjasama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Turki terkait pengembangan sejumlah teknologi alat utama sistem senjata (alutsista). Project Agreement (PA) antara kedua pemerintah itu pun akan segera ditandatangani oleh perwakilan kedua negara.

Dirjen Potensi Pertahanan Kemenhan, Timbul Siahaan, mengungkapkan, tiga pekan lalu delegasi Indonesia telah berangkat ke Turki untuk menyelesaikan draft project agreement (PA), khususnya dalam hal pembuatan dan design medium tank.

PA itu tinggal ditandangani pada pekan depan, bertepatan dengan gelaran Indo Defense 2014. "Nantinya Project Aggrement itu akan ditandatangani di sela-sela event Indo Defense 2014 pada tanggal 7 November yang akan datang," kata Timbul di kantornya, Jumat (31/10).

Sedangkan untuk pelaksana proyek tersebut, lanjut Timbul, pemerintah akan mendorong proyel ini untuk dikerjakan oleh PT Pindad. Kemudian PT Pindad akan menjalin kerjasama dengan FNSS, salah satu perusahaan bergerak secara khusus di bidang design, manufaktur, dan penyuplai kendaraan-kendaraan tempur.

Tidak hanya itu, Kemenhan juga sebelumnya telah menjalin kerjasama dengan pemerintah Turki menyangkut alat komunikasi di perbatasan. Sebagai pelaksana teknis, PT Len (Persero) telah berkerjasama dengan salah satu perusahaan asal Turki, ASELSAN.

"Kerjasama itu sudah berjalan dan kini kita tinggal mengawasi pola kerjasama antara kedua perusahaan tersebut," kata doktor lulusan Universitas Brawijaya itu.


  ★ republika  

Turnkey Not Smorgasbord

In the competition for the most futuristic looking vessel at the Euronaval show being held this week in Paris I would put the clear front runner as the Fast Attack Craft (FAC) on the Saab stand. Designed for naval patrol, anti-piracy and surveillance missions in peace time the ship would be a missile ship to launch Saab's RBS15 Mk3 anti-ship missiles in war time. And for added interest the vessel has a fascinating design history.

Maket Trimaran Lundin [photo: Christina Mackenzie]

The FAC is not entirely new. Based on a design by New Zealand's LOMOcean, the KRI Klewang for the Indonesian Navy was launched on Aug. 31, 2012. And was then completely destroyed by fire four weeks later on Sept. 29.

KRI Klewang had been entirely built at the North Sea Boats shipyard at Banyuwangi, East Java. North Sea Boats is the trading name for PT. Lundin founded by John and Lizza Lundin in Indonesia 2003; John Lundin is the son of the late Allan Lundin who founded the Swedeship company that operated the Gotland and Djupvik shipyards, amongst others, in Sweden.

The idea for the KRI Klewang came to John Lundin after seeing LOMOcean's Earthrace, a 24m wave-piercing trimaran originally created to break the world record for circumnavigating the globe. He thought a militarized version could be of interest to the Indonesian government for littoral missions as the wavepiercing prow is perfectly suited to the short, high wave pattern typical of the Indonesian archipelago. The vessel became a Black Ops project equipped with a Chinese combat system.

Some time after the fire, Lundin was having lunch with Saab and talk turned to combat systems. He apparently learnt more about them in an hour than he had from the Chinese in over a year. This convinced him that the next version of the vessel should be equipped with a Swedish combat system.

So Saab, LOMOcean and North Sea Boats worked together to redesign the top part of the vessel (everything above the trimaran hulls) around Saab's 9-LV combat system.

However, building has already begun on the replacement ship using the same specifications as the first one. “But everyone from the Indonesian navy down agrees that the top part needs to be a new design,” Stefan Hedenstedt , head of naval sales at C2S Saab told Ares. And there are now four such ships in the offing. So construction will stop just above the hulls while discussions about a contract continue.

The 245-ton, 63m (207 ft) long, ship is entirely made of carbon fibre foam sandwich using fire retardant vinyl ester resin (lessons have been learnt!). The four diesel-engined ship has a beam of 16m (52 ft) but a draught of only 1.2m (4 ft) making it ideal for Indonesia's shallow littoral waters. It has a top speed of 28 knots (51 km/h) and a cruising speed of 16 knots (29.6km/h) that gives it a range of 2,000 nautical miles (3,704km). It has been designed to have an endurance of 10 days at sea.

The FAC is equipped not only with anti-ship missiles but also the BAe Systems Bofors 40Mk4 naval gun.

It has a crew of 23 with accommodation for an additional seven special forces.

The “right signals” are apparently being issued from Indonesia regarding the newly designed topside for the FAC so perhaps a contract will be signed at next week's Indo Defence Show in Jakarta.

Oh, and last but not least, Saab has gone counter to almost every other shipbuilder in proposing this vessel as a turnkey solution rather than allowing the customer to pick and choose what they want. “Its turnkey not smorgasbord,” is how one Saab manager put it.

  aviationweek  

Kamis, 30 Oktober 2014

Kerjasama Militer Indonesia dan Turki

Kerjasama yang berbeda pada umumnya Pemerintah Turki dalam perayaan kemerdekaan di Jakarta paparkan kerjasama militer dengan Indonesia. | (Sindonews / Victor Maulana)

Pemerintah Turki menyatakan, kerjasama militer antara Indonesia dengan Turki tidak biasa. Kerjasama militer kedua negara ini bukan dalam bentuk jual beli senjata dan latihan perang.

Menurut Duta Besar Turki untuk Indonesia, Zekeriya Ekcam, Indonesia dan Turki sejak awal lebih fokus melakukan kerjasama militer dalam bidang pengembangkan teknologi.

”Bentuk kerjama militer antara Indonesia dan turki bukan berbentuk latihan (perang) bersama atau sejenisnya, melainkan kerjasama dalam memproduksi barang-barang elektronik militer,” ujar diplomat Turki itu, Kamis (30/10/2014).

Dia menambahkan, bahwa Turki hanya memproduksi alat-alat yang tidak bisa membunuh. Contohnya, radio komunikasi. "Kami hanya memproduksi sesuatu yang berfungsi untuk perdamaian, bukan memproduksi senjata,” lanjut dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ekcam telah menegaskan bahwa bentuk kerjamasa Indonesia dan Turki lebih fokus kepada pengembangkan teknologi, seperti alat pembuatan komunikasi dan elektronik, bukan jual beli senjata perang.
Turki Ingin Bantu Kembangkan Teknologi Indonesia Duta Besar Turki untuk Indonesia, Zekeriya Ekcam, mengatakan, Indonesia sudah jadi mitra Turki dalam waktu yang sangat lama. Namun, kerjasama yang diusung kedua negara bukan kerjasama seperti pada umumnya.

”Bentuk kerjasama kami dengan Indonesia, bukan berbentuk jual beli barang, tapi bentuk kerjasama yang kami lakukan adalah kerjasama di bidang teknologi,” ucap Akcam.

Saat ditemui Sindonews.com dalam perayaan Hari Nasional Turki, di salah satu hotel di Jakarta pada Kamis (29/10/2014), Ekcam menyatakan, bahwa Turki bukan hanya ingin bekerjasama, tapi juga ingin membantu mengembangkan teknologi di Indonesia.

”Contohnya seperti mengembangkan teknologi militer, kami juga memiliki kerjasama dengan perusahaan elektronik, sehingga kami juga bisa turut mengembang industri di Indonesia,” imbuh dia.

Dalam perayaan Hari Kemerdekaan ke-31 Turki itu, turut hadir oleh beberapa duta besar negara sahabat dan beberapa pejabat tinggi Indonesia. Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti juga tampak hadir.(mas)

  ★ sindo  

Mahasiswa Yogya Ciptakan Game untuk Pembelajaran Berlalu Lintas

Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menciptakan permainan atau game berbasis sistem operasi Android. Game yang diberi nama Broom-broom itu dibuat untuk pengenalan dan pembelajaran berlalu lintas.

Game itu dikembangkan empat mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi UNY, yakni Muhammad Irfan Luthfi, Anisah Novi Karunia, Imas Nur, dan Anisa Nurhadiyati. Mereka bekerja sama dalam AIM Studio.

Game dua dimensi itu dikembangkan secara khusus bagi siswa SMA sederajat untuk pengenalan lalu lintas. Pembuatan model game dalam pembelajaran lalu lintas itu diharapkan mampu menarik minat siswa dan memudahkan dalam mempelajari materi.

Lagi pula game itu dikembangkan dalam bentuk simulasi, apa yang didesain dan dimunculkan di game merupakan bentuk simulasi nyata dari kondisi lalu lintas di Indonesia.

“Game ini memiliki tiga level. Di awal permainan, pengguna bisa memilih akan simulasi menggunakan mobil atau motor. Saat memilih mobil, interaksi menjadi tilt control, yaitu perangkat android digerakkan melingkar seperti setir mobil. Saat pakai motor, interaksi menjadi tap pada layar,” kata Muhammad Irfan Luthfi, programmer game Broom-broom, Kamis, 30 Oktober 2014.

Ia menjelaskan, pada level satu, game berupa pengenalan terhadap rambu-rambu lalu lintas. Di level kedua, ada pengenalan marka jalan, dan di level terakhir akan lebih kompleks. Bahkan, ada sesi seru juga di level terakhir, karena ada polisi juga yang akan muncul mengejar pengguna yang tidak mematuhi aturan lalu lintas.

Game Broom-Broom sudah diujicobakan kepada ahli media dan dinyatakan layak dengan skor rata-rata 3.42, ahli materi dengan kategori sangat layak dengan skor rata-rata 4,85. Sedangkan berdasarkan penilaian dari siswa, media ini dinyatakan baik untuk dikembangkan lebih lanjut dengan skor rata-rata 3.80.

“Kami sempat mengujicobakan game ini kepada siswa di SMA 1 Kasihan, dan di sana tanggapan sangat baik. Banyak masukan untuk pengembangan. Harapannya, game ini bisa semakin berkembang, dan segera dipublikasikan di Playstore (pasar aplikasi Android) agar bisa diakses banyak orang,” ujar Irfan.



  ★ Vivanews  

Cerita Tegangnya Rapat dengan Menteri Susi

Dan Emosi Sindir Malaysia//images.detik.com/content/2014/10/30/4/susidalam.jpgSetelah sejak Senin awal pekan ini dilantik menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti langsung ngebut kerja. Wanita berlatar belakang pengusaha ini bersikap tegas dalam setiap rapat di kementeriannya.

Kemarin, sejumlah kegiatan rapat yang dilakukan Susi bersama pimpinan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berlangsung menarik. Susi tidak segan mencecar soal bisnis di sektor kelautan dan perikanan.

Wanita ini juga terlihat lincah dan melakukan sejumlah aktivitas di kementeriannya. Mari kita ikuti hal menarik saat rapat Susi di kementeriannya kemarin, seperti dirangkum, Kamis (30/10/2014).
1. Ketegasan Susi Bikin Rapat Menegangkan
//images.detik.com/content/2014/10/30/4/105448_susilagi.jpgSusi mempertanyakan pendapatan kapal 30 gross ton (GT) di Indonesia yang hanya Rp 300 miliar/tahun. Kapal ukuran 30 GT di Indonesia jumlahnya hampir mencapai 5.000 unit, sehingga jika dirata-ratakan, pendapatan hanya Rp 60 juta/tahun.

Susi yang rapat dengan Dirjen Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Gellwyn Yusuf dan Sekjen KKP Syarief Widjaja menilai angka Rp 300 miliar sangat minim. Dengan nada sedikit tinggi, Susi banyak mengeluarkan komentar bernada sindiran.

"Kalau hanya dapat Rp 300 miliar dari sektor perikanan untuk kapal di atas 30 GT, kita minta dinaikkan pendapatannya," ungkap Susi.

Ungkapan Susi lantas membuat rapat saat itu menjadi tegang. Semua peserta rapat hanya duduk diam mendengar Susi berargumentasi.

Susi melanjutkan, kapal 30 GT masih diberikan hak untuk menggunakan solar subsidi. Menurut Susi, dengan penggunaan solar subsidi 1,5-2 ton per hari, sedangkan pendapatan hanya Rp 300 miliar per tahun, negara bisa dibilang rugi.

"Ini orang ambil harta karun kita. Bagaimana tanggung jawab ke anak cucu kita? Luar biasa," tegasnya.

Susi menilai penggunaan solar subsidi kapal 30 GT sebesar 1,5-2 ton per hari boros. Apalagi jumlah tangkapan ikan per kapal hanya Rp 60 juta per tahun. Di sini Susi mengatakan perlunya pola pikir seperti pengusaha.

"Semua harus dihitung ke business case. Kalau tidak masuk (tidak menguntungkan), cari ke bisnis lain," tuturnya.

Ia meminta khusus kepada Dirjen Perikanan Tangkap Gellwyn Yusuf bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya. Ia ingin pendapatan hasil tangkap ikan dari kapal 30 GT dinaikan hingga Rp 6 triliun per tahun.

"Kita minta Rp 5-6 triliun. Wajar tidak? Kok diam? Setuju tidak?" tegas Susi.

"Setuju!" balas para peserta rapat.
2. Sindir Malaysia Klaim Ikan Indonesia
//images.detik.com/content/2014/10/30/4/105529_susirapat.jpgDalam rapat dengan sejumlah pejabat Kementerian Kelautan dan Perikanan kemarin, Susi meluapkan emosinya soal klaim Malaysia terhadap ikan Indonesia. Rapat ini juga diikuti puluhan Pegawai Negeri Sipil (PNS) Ditjen Perikanan Tangkap KKP.

Emosi Susi meletup saat mengungkapkan spesies ikan mahal di Uni Eropa yang diklaim sebagai milik Malaysia. Padahal ikan tersebut hidup di perairan Indonesia.

"Ada ikan jenis black tiger yang saya beli di supermarket Eropa, ternyata disebut itu dari Malaysia. Di sana terpampang fifty seven zone (zona 57). Memangnya Malaysia punya zona pulau?" tegas Susi.

Susi yang ahli navigasi koordinat kewilayahan ini mengungkapkan, zona 57 adalah Samudera Hindia, artinya ada di wilayah Indonesia.

"Dia (Malaysia) itu declare dan di-packaging. Ikannya besar tetapi produk Malaysia. Wong gendeng (orang gila), itu pulau jadi-jadian. Ini maling tetapi berani terang-terangan. Ini saya temukan di supermarket Eropa. Zone 57 itu Indian Ocean (Samudra Hindia)," papar Susi.

Lebih lanjut Susi menjelaskan, harga ikan tersebut cukup mahal dan Malaysia yang mendapatkan nilai tambah. Dia juga mengungkapkan kasus serupa terjadi antara Indonesia dengan Thailand.

"Laut kita luasnya 15 kali luas laut Thailand, tetapi hasil lautnya hanya 1/5 Thailand. Itu gila," kata Susi dengan nada marah.
3. Sidak 5 Menit yang Bikin Panik
Kemarin sore, Susi Pudjiastuti menggelar inspeksi mendadak (sidak). Inspeksi dilakukan Susi di Gedung Mina Bahari II, tempat operasional Ditjen Perikanan Tangkap.

Sidak cukup cepat, hanya 5 menit. Susi melihat-lihat ruang kerja Ditjen Perikanan Tangkap.

"Saya tidak masalah kerja sampai malam, biasanya saya kerja sampai jam 11 malam," kata Susi.

Ditemani Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Syarief Widjaja dan Dirjen Perikanan Tangkap Gellwyn Yusuf, sidak Susi sempat membuat panik petugas keamanan gedung KKP.

"Tolong koordinasi lapangan, Bu Menteri sidak," kata salah satu petugas sambil berlari.

Puluhan PNS di Gedung Mina Bahari II juga kaget melihat aksi gesit sang menteri. Mereka bahkan melihat langsung aktivitas Susi yang mengecek seluruh ruang kerja Ditjen Perikanan Tangkap.

"Pak Dirjen (Gellwyn Yusuf) dapat predikat kepatuhan tetapi pendapatannya harus diperbesar ya," kata Susi.

Di tempat ini, Susi juga mempunyai permintaan khusus kepada Gellwyn Yusuf. "Saya minta data hari Senin, kapal milik siapa dan berapa izinnya," sebut Susi.
Di Depan Seratusan Pengusaha, Ini Pernyataan Susi Soal Nelayan
//images.detik.com/content/2014/10/30/4/susikadin.jpgPagi ini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melakukan pertemuan dengan seratusan pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Pertemuan yang berlangsung di kantor Kadin pukul 09.45 WIB. Pengusaha anggota Kadin yang hadir dipimpin oleh Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan Yugi Prayanto dan Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto.

Dari pantauan detikFinance di Menara Kadin, Jalan Rasuna Said, Kamis (30/10/2014), ruangan pertemuan penuh dengan seratusan anggota Kadin.

Susi pada pertemuan tersebut mengungkapkan soal rencananya mengubah pola pikir kementerian yang dipimpinnya.

"Saya menghargai pertemuan pagi ini. Satu hal saya ingin mengubah mindset (pola pikir) dari Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai pembuat kebijakan dan regulator, tidak hanya membuat program membantu nelayan, tapi membuat kebijakan yang mengandung sense of business," tutur Susi.

Pertemuan tersebut masih berlangsung sampai saat ini. Memang pertemuan ini khusus membahas rencana-rencana Susi di sektor kelautan dan perikanan.(dnl/ang)


  ★ detik  

Rusia Tawarkan Kapal ke Presiden Jokowi

Indonesia mendapat tawaran kerjasama maritim dari Rusia. (Antara/Suryanto)

Rusia tertarik dengan konsep kemaritiman yang menjadi program andalan Presiden Joko Widodo. Dalam kunjungannya ke Jakarta, Kamis (29/10), Wakil Menteri Perkembangan Ekonomi Federasi Rusia Alexei Likhachev menawarkan kerjasama bidang maritim dengan Indonesia.

“Kami menganggap program pemerintah baru RI di bidang kemaritiman sangat cocok dengan posisi Indonesia di tengah lautan. Rusia harus punya kebijakan khusus terhadap Indonesia di bidang kemaritiman,” ujar Alexei.

Oleh sebab itu Rusia hendak membuka beberapa kerjasama dengan pemerintah Indonesia, misalnya untuk memperkuat sistem transportasi laut dengan menawarkan kapal laut pabrikan Rusia.

“Kami menawarkan pasokan berbagai jenis kapal laut. Bukan saja pasokan, tetapi juga pendirian pusat layanan dan mungkin produksi beberapa komponen untuk kapal itu,” kata Alexei.

Untuk membicarakan proyek dan prospek kerjasama tersebut, Direktur Utama United Ship Building Corporation selaku perusahaan galangan kapal terbesar di Rusia akan datang pekan depan ke Jakarta untuk bertemu Presiden Jokowi dan Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo.

“Ketua kami bersedia menawarkan peralatan model untuk pengawasan kawasan perairan dan pengawasan kapal laut dengan menggunakan sistem blonas dan sistem radar jarak jauh,” ujarnya.

Rusia juga tertarik dengan produksi hasil laut yang berlimpah di Indonesia. Alexei mendorong produsen ikan di Indonesia untuk menggenjot ekspor ikan ke Rusia.

“Kami mengajak produsen ikan dan hasil perikanan, ikan beku atau ikan kaleng misalnya, untuk datang ke Rusia dan membawa produk mereka. Karena kebutuhan di sana sangat banyak dan pasar di Rusia tersedia untuk produk itu,” kata Alexei.

Salah satu program ambisius Jokowi adalah membangun Indonesia menjadi poros maritim dunia. Untuk itu ia membentuk Menteri Koordinator Kemaritiman dalam nomenklatur Kabinet Kerja. Dalam pidato pertamanya sebagai presiden di hadapan sidang paripurna MPR, Jokowi juga mengajak rakyat bersama-sama mengembalikan kejayaan Indonesia di laut.(agk)


  CNN  

70 persen masyarakat Indonesia setuju nuklir untuk perdamaian

"Survei dilakukan lembaga independen dan tidak memiliki kepentingan, sehingga kedepannya nuklir di negara ini akan dikelola untuk perdamaian dan pembangunan negara bukan untuk kebutuhan perang." http://www.batan.go.id/patir/2012/p_images/logo%20batan_Transp.pngBadan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) menyampaikan 70 persen masyarakat di Indonesia sepakat potenasi tenaga nuklir yang dimiliki negara ini digunakan untuk perdamaian dan pembangunan bangsa diberbagai bidang.

"BATAN telah melakukan survei dan hasilnya 70 persen masyarakat di negara ini menghendaki kandungan nuklir yang dimiliki negara ini digunakan untuk perdamaian dunia dan pembangunan negara," kata Kepala BATAN Prof Dr Djarot Sulistio Wisnubroto, di Hotel Maleo Mamuju, Kamis.

Ia mengatakan, hanya 30 persen masyarakat Indonesia tidak menyetujui nuklir karena khawatir terhadap dampak yang ditimbulkan.

"Survei dilakukan lembaga independen dan tidak memiliki kepentingan, sehingga kedepannya nuklir di negara ini akan dikelola untuk perdamaian dan pembangunan negara bukan untuk kebutuhan perang," katanya.

Ia juga menyampaikan BATAN saat ini telah melakukan langkah sinkronisasi untuk upaya pengelolaan nuklir dan untuk membangun negara dengan pemerintah di 34 Provinsi di Indonesia.

"Nuklir akan dimanfaatkan untuk membangun berbagai bidang seperti pertanian, peternakan, perikanan, agar produksi dan kualitasnya meningkat yang tentu akan bermanfaat bagi seluruh masyarakat negara ini," katanya.

Menurut dia, sumber daya manusia yang dimiliki BATAN untuk pemanfaatan dan pengelolaan nuklir telah disiapkan di Selolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) di Kota Yogyakarta.

"Saat ini peneliti BATAN mencapai 2.800 orang, sudah berkurang dibandingkan masa pemerintahan Presiden BJ Habibie mencapai 4.000 orang. Mereka sudah banyak yang tua sehingga generasi peneliti sudah disiapkan di STTN Yogyakarta," katanya.(*)
.


  antara  

Kisah Tim UNDIP Ikuti Kontes Roboboat AUVSI di Virginia Amerika Serikat

Roboboat Tim UNDIP yang dilombakan dalam RoboBoat Competition di Virginia, 8-13 Juli 2014. (Foto: Ahlan Zulfakri)

Tim Roboboat Universitas Diponegoro Semarang (UNDIP) tahun ini mengikuti RoboBoat Competition di Virginia. Acara kompetisi tersebut diselenggarakan Assosiation for Unmanneed Vehicle System International (AUVSI) Foundation and ONR's 7th International RoboBoat Competition.

Kompetisi Roboboat merupakan ajang perlombaan bagi mahasiswa dalam menunjukkan kemampuannya menciptakan robot yang bisa dijalankan secara otomatis di atas permukaan air dengan tingkat kesulitan tinggi. Kondisi perairan yang sulit tidak menjadi kendala bagi Roboboat untuk dilalui.

Kegiatan AUVSI diikuti 15 tim dari seluruh dunia, antara lain University of Rhode Island, University of Central Florida, Virginia Tech, University of Michigan, dan Nasional Cheng Kung University. UNDIP adalah satu-satunya peserta dari Indonesia beserta Universitas Cheng Kung sebagai dua perwakilan dari Asia.

“Awal mula keinginan kami mengikuti kompetisi Roboboat ini diawali dari sebuah niat dan tekad yang kuat dari tim guna melanjutkan tongkat estafet perjuangan bangsa,” ujar Ketua Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) Ahlan Zulfakri, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, ajang kompetisi Roboboat yang berlangsung 8-13 Juli 2014, UNDIP menyiapkan Roboboat ciptaannya dari segi teknis dan non-teknisnya dengan sangat matang.

Persiapan diawali dari pencarian personel yang konsisten, memiliki tanggung jawab, dan rela berkorban waktu, tenaga, dan pikiran.

“Karena pada tahun 2013 kami kekurangan personel untuk ikut kompetisi ini,” ungkap Ahlan.

Akhirnya, tim yang terdiri dari Dandy Kurniawan (Teknik Perkapalan), Bagus Prasetyo (Teknik Perkapalan) Sidik Setiawan (Teknik Perkapalan), Ikhsan Adi Prasetyo (Teknik Perkapalan), Wahyu Dwi Yunanto (Teknik Perkapalan), Bayu Wisnu Sasongko (Teknik Perkapalan), RG Alam Nusantara (Teknik Elektro), Budi Cahyo Suryo (Teknik Sistem Komputer), Nugroho Budi (Teknik Sistem Komputer), dapat terbentuk dalam Tim Roboboat 2014 dengan personel dan semangat baru.

Setelah memiliki personel cukup dan persiapan matang, pada 4 Juli 2014, tim berangkat ke Jakarta. Ternyata berkendala. Maskapai tidak menerima kapal untuk diangkut dalam penerbangan menuju Jakarta, dengan alasan membahayakan keselamatan.

“Setelah melakukan negoisasi yang cukup sulit akhirnya kami dipersilakan untuk menaiki pesawat dengan catatan, boks kapal yang kami bawa diberikan pengamanan. Pukul 07.00 kami akhirnya tiba di Bandara Soekarno Hatta,” kata Ahlan mengenang.

Setibanya di Bandara Soekarno Hatta, sambungnya, tim langsung check in ke penerbangan internasional, dan ternyata berkendala sama. Boks robot yang sangat besar tidak dapat masuk ke dalam bagasi pesawat. Namun, kendala dapat diselesaikan dengan cara yang sama.

“Setelah selesai, kami berangkat dari Jakarta menuju Tokyo Jepang untuk melakukan transit. Waktu yang cukup lama, akhirnya kami tiba di Amerika. Di sana, kami langsung mempersiapkan diri untuk lomba yang akan kami hadapi untuk lusanya,” tuturnya.

Setelah siap untuk menghadapi kompetisi dan tim membongkar kapal yang dimasukkan di dalam boks, ternyata ada kendala lagi. Mungkin karena pengepakan bagasi pesawat yang sangat padat membuat boks pecah dan menimpa kapal mereka bawa.

“Tanpa pikir panjang, dengan waktu yang tersedia kami bersegera melakukan perbaikan untuk kapal yang kami bawa dari mulai konstruksi hingga ke elektrikal dan sistem pada kapal. Syukur semua masih dapat berfungsi sebagaimana fungsinya,” papar Ahlan.

 Belum Menang 

Hari Uji Coba Roboboat pun tiba. Kapal kembali mengalami kendala. Kapal dapat bekerja, hanya saja di saat melakukan pengolahan gambar, kapal kehabisan daya, sehingga harus dibawa kembali ke dock yang disediakan panitia.

Hari selanjutnya, tim mempresentasikan Roboboat kepada panitia untuk menjelaskan secara spesifik apa saja yang ada di kapal robot andalan mereka.

“Setelah melakukan presentasi, panitia sangat mengapresiasi kapal kami, karena mungkin dari segi bentuk yang sangat unik,” ujar Ahlan bangga.

Keesokan harinya, kapal dicoba kembali untuk percobaan terakhir, sebelum diadakan lomba yang sesungguhnya. Kapal mengalami masalah lebih besar, seperti masalah sensor hingga jaringan yang terputus di saat kapal sedang membaca misi yang disediakan panitia.

Keesokan harinya, waktu untuk pengujian dilaksanakan penilaian dari segi misi yang dijalankan hingga waktu yang ditentukan. Namun, Dewi Fortuna belum berpihak kepada tim UNDIP. Kapal kembali mengalami kendala. Terjadi keretakan, sehingga kapal pun bocor.

Dapal proses penilaian, ada dua gate di mana tim mendapatkan misi di Gate 1. Kapal berjalan lebih baik dan sensor berfungsi sebagaimana mestinya. Namun, perubahan terjadi pada Roboboat dengan mengalami kemunduran waktu. Mungkin, karena teknologi yang memang terbatas dan tidak lebih baik dari peserta lain.

Waktu yang ada pun sangat tidak cukup untuk menambahkan poin yang ada dalam penilaian. Setelah diamati, tim UNDIP yang hanya menggunakan propeler kalah cepat dengan kapal peserta lain yang banyak menggunakan water jet.

“Untuk itu, kami masih pulang dengan tangan hampa dan memang kami harus mengakui teknologi yang mereka kembangkan sangat berbeda dengan tahun sebelumnya, dan memang penilaian yang cukup ketat membuat kami kewalahan untuk tahun ini,” kata Ahlan.

Kontes RoboBoat AUVSI 2014 akhirnya dimenangkan banyak universitas dari Amerika. Belajar dari pengalaman, semangat tim UNDIP tidak pupus dan mati. Mereka tetap bersemangat untuk kejayaan negeri dan kebanggaan bangsa.

“Diharapkan, Roboboat juga bisa terus menginspirasi seluruh mahasiswa, terutama mahasiswa UNDIP, untuk terus berkreasi, sehingga menghasilkan inovasi spektakuler dan mengagumkan serta bermanfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya.


  JMOL  

★ Menhan Targetkan Indonesia Produksi Pesawat Pengintai

Kerjasama dengan Korea Selatan
UAV Lapan

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) melakukan alih teknologi. Upaya itu bertujuan meningkatkan kemandirian Indonesia untuk memproduksi alat utama sisstem senjata (alutsista).

Dalam jangka waktu lima tahun, kata Menteri Pertahanan Jenderal TNI (purn) Ryamizard Ricudu di Jakarta, Rabu (29/10/2014), Indonesia akan memproduksi sendiri pesawat pengintai. Indonesia menggandeng Korea Selatan dalam produksi tersebut.

Menurut mantan Kepala Staf TNI AD (KSAD) itu, alih teknologi di bidang pertahanan perlu untuk memenuhi kebutuhan pengamanan Indonesia. Tujuannya yaitu menjaga kedaulatan NKRI.

Namun ia belum dapat memastikan keinginan Presiden Joko Widodo untuk membeli pesawat tanpa awak. Untuk saat ini, akunya, pengawasan pertahanan Indonesia masih mengandalkan kamera satelit.[RRN]

  metrotvnews  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More