N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Krait

Kapal patroli 40 m berbahan almunium alloy produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

Gambar Photoshop KRI Trimaran

Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

Panser Canon 90mm

Kendaraan militer dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

PT44 Gudel

Kendaraan taktis militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Senin, 21 April 2014

Mobil Listrik RI Baru Diproduksi Massal 2025

Kemenperin memperkirakan baru bisa memasuki fase industrialisasi pada tahun 2025 http://images.detik.com/content/2014/04/21/1036/091554_selow.jpgJakarta Indonesia sudah bisa mengembangkan purwarupa mobil listrik berbagai varian. Kapan kira-kira mobil listrik nasional ini bisa diproduksi secara massal?

Prosesnya masih cukup panjang. Saat ini mobil listrik ini masih dalam tahap sertifikasi. Untuk menuju produksi mobil listrik secara massal, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkirakan hal ini baru bisa memasuki fase industrialisasi pada tahun 2025.

“Kalau program mobil listrik baru di 2025,” kata Direktur Industri Alat Transportasi Darat, Soerjono kepada detikFinance di Jakarta seperti dikutip Senin (21/4/2014).

Soejono menilai membangun industrialisasi tidak sekedar menyiapkan purwarupa semata. Harus ada persiapan di segala lini seperti regulasi, produksi alat komponen, penyediaan stasiun pengisian hingga pengelolaan limbah mobil listrik yang terencana dengan baik.

“Siapin infrastruktur dulu. Penanganan baterainya bagaimana. Kita pakai listrik, mau green. Ada baterai lithium. Siap tangani limbah baterai?” sebutnya.

Industrialisasi harus disipkan secara matang sehingga mobil listrik karya Indonesia bisa bersaing dengan produk buatan luar negeri.

“Mobil listrik kalau sudah proven baru bisa dipakai. Mobil listrik disarankan siap infrastruktur dulu. Jangan asal ngomong,” jelasnya.

Soejono juga menjelaskan terkait penilaian lambatnya izin atau minimnya dukungan terhadap mobil listrik daripada pengembangan mobil murah. Mobil murah memang dipercepat pengembangannya karena ingin mempersiapkan diri menghadapi pasa bebas ASEAN tahun 2015. Hal tersebut bisa juga diterapkan pada mobil listrik nasional jika telah siap.

“Roadmap LCGC 2015. Tapi karena ada ancaman AEC tahun 2015. Maka kita genjot agar muncul. Kalau mobil listirk siap, kita majuin,” jelasnya.

Seperti diketahui ahli-ahli Indonesia seperti pandawa putra petir hingga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mampu menghasilkan berbagai purwarupa mobil listrik seperti jenis mobil sedan sport, mobil listrik MPV, hingga bus listrik. Namun purwarupa tersebut masih tertahan pada tingkat sertifikasi di Kementerian Perhubungan.(feb/ang)

Kita Bakal Ulangi Sejarah Lama http://images.detik.com/content/2014/04/21/1036/210509_mobilistrikin.jpgPemerintah memiliki rencana atau roadmap produksi mobil listrik nasional. Mobil listrik buatan Indonesia baru bisa diproduksi massal mulai 2025, meskipun putra-putri bangsa saat ini telah mampu memproduksi purwarupa atau prototype.

Apa respons Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan? Dahlan yang mendukung penuh pembiayaan dan pengembangan mobil listrik sejak awal menyebutkan, jika mulai diproduksi 2025 maka justru mobil listrik buatan pabrikan otomotif dunia telah merajai pasar Indonesia.

Indonesia akan mengulangi sejarah mobil berbahan bakar fosil. Akibat terlambat mengembangkan mobil nasional, industri mobil dan jalanan Indonesia dikuasai produk asing.

"Ya sudah, terserah saja. Pada 2025 itu mobil listrik negara-negara lain sudah merajai Indonesia. Berarti kita mengulangi sejarah lama bahwa kita baru memikirkan mobil ketika orang lain sudah menguasai Indonesia," tegas Dahlan kepada detikFinance, Senin (21/4/2014).

Dengan konsep industrialisasi mobil listrik pada 2025, Dahlan mengistilahkan ini seperti membiarkan mobil listrik impor pelan tapi pasti membanjiri pasar Indonesia.

"Roadmap itu sama dengan kita mempersilahkan mobil luar negeri masuk Indonesia lebih dahulu, baru Indonesia memiliki mobil listrik yang kalah bersaing," kata mantan bos PLN ini.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebutkan mobil listrik baru bisa memasuki fase industrialisasi pada 2025. Direktur Industri Alat Transportasi Darat Kemenperin Soerjono menilai industrialisasi tidak sekedar menyiapkan purwarupa. Harus ada persiapan di segala lini seperti regulasi, produksi alat komponen, penyediaan stasiun pengisian, hingga pengelolaan limbah yang terencana dengan baik.

“Siapkan infrastruktur dulu. Penanganan baterainya bagaimana? Kita pakai listrik, mau green, tapi ada baterai litium. Siap tangani limbah baterai?” sebutnya.

Industrialisasi harus disipkan secara matang sehingga mobil listrik karya Indonesia bisa bersaing dengan produk buatan luar negeri. “Mobil listrik kalau sudah proven baru bisa dipakai. Mobil listrik disarankan siap infrastruktur dulu, jangan asal ngomong,” tukasnya.

Soerjono juga menjelaskan terkait penilaian lambatnya izin atau minimnya dukungan terhadap mobil listrik daripada pengembangan mobil murah. Mobil murah atau low cost green car (LCGC) memang dipercepat pengembangannya karena persiapan menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN 2015.

Hal tersebut sebenarnya bisa juga diterapkan pada mobil listrik nasional jika telah siap. “Kalau mobil listrik siap, kita majukan,” ujarnya.

Seperti diketahui ahli-ahli Indonesia seperti Pandawa Putra Petir hingga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mampu menghasilkan berbagai purwarupa mobil listrik. Namun purwarupa tersebut masih tertahan di tingkat sertifikasi di Kementerian Perhubungan.

  detik  

Pertamina dapat dua tanker baru

Pertamina juga telah menandatangani kontrak baru pembangunan kapal tanker minyak ukuran 17.500 LTDW sebanyak tujuh unit dengan galangan kapal dalam negeri http://media.viva.co.id/thumbs2/2012/04/26/152483_mt-kasim--kapal-tanker-pt-pertamina_663_382.jpgSurabaya PT Pertamina (Persero) bersiap mendapatkan tambahan armada dua kapal tanker minyak. Keduanya diproduksi sesama BUMN, yakni galangan kapal PT Penataran Angkatan Laut (PAL) Indonesia.

Juru bicara Pertamina Ali Mundakir mengatakan konstruksi kedua kapal itu mendekati tahap akhir. "Dalam waktu dekat akan dilakukan serah terima kapal baru tersebut," ungkapnya dalam keterangan pers, Minggu (20/4).

Kapal pengangkut minyak itu diberi nama MT Pagerungan dan Pangkalan Brandan. Keduanya jadi armada tanker Pertamina pertama yang sepenuhnya buatan Indonesia. Setiap kapal berbobot mati 17.500 LTDW.

Ali menambahkan, untuk jenis selain tanker, Pertamina sudah pernah memesan pada PAL. Langkah itu dijalankan pertama kali pada 2005, saat BUMN migas ini memesan 11 kapal dengan ukuran 3.500 dead weight tonnage (DWT) dan 6.500 DWT.

"Pembangunan kapal ini merupakan bagian dari pemberdayaan industri dalam negeri dan sinergi BUMN," kata Ali.

Pada tahun 2013-2014, Pertamina juga telah menandatangani kontrak baru pembangunan kapal tanker minyak ukuran 17.500 LTDW sebanyak tujuh unit dengan galangan kapal dalam negeri.

Pertamina sejak lama terlalu bergantung pada penyewaan kapal swasta untuk distribusi bahan bakar di Tanah Air. Total, perusahaan pelat merah itu mengoperasikan 187 kapal untuk kepentingan distribusi.

Alhasil, dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2012-2016, perusahaan pelat merah ini menggelontorkan dana hingga USD 2,4 miliar buat pengadaan kapal angkut BBM, gas, maupun avtur.(mdk/ard)

  ★ Merdeka  

UNY Kembangkan Mobil Formula 'Hybrid'

Debu Vulkanik Hentikan Kegiatan Lanud AU IswajudiJogyaakarta  Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yang tergabung dalam Garuda UNY Racing Team mengembangkan teknologi "hybrid" pada mobil balap formula yang akan digunakan pada International Student Green Car Competition 2014 di Korea Selatan, Mei 2014.

"Teknologi hybrid merupakan rekayasa teknologi yang memadukan daya listrik dan tenaga yang dihasilkan oleh bahan bakar pada sistem penggerak sebuah kendaraan," kata Ketua Garuda UNY Racing Team Bondan Prakoso di Yogyakarta, Sabtu (19/4).

Menurut dia, konsep mobil "hybrid" memang menjadi tren beberapa tahun terakhir bahkan seolah-olah menjadi primadona pada sistem kendaraan.

"Di negara-negara maju seperti Korea Selatan, Jepang, dan Jerman kendaraan dengan teknologi hybrid sudah banyak dikembangkan," katanya.

Ia mengatakan selain ramah lingkungan, penggunaan teknologi "hybrid" itu juga dapat menghemat penggunaan bahan bakar minyak sebagai sumber energi tidak terbarukan.

"Pada mobil hybrid, satu liter bahan bakar minyak mampu mencapai jarak hingga 35 kilometer," katanya.

Menurut dia, gagasan pembuatan mobil formula "hybrid" itu mendapat dukungan penuh dari Rektor UNY Rochmat Wahab.

Pembuatan mobil formula "hybrid" itu diambil setelah milihat pengalaman tahun lalu, yang sebenarnya selain dapat berjaya pada kategori mobil listrik, UNY juga mempunyai kesempatan besar dalam kategori mobil hybrid.

"Pada 2014 ada 15 kompetitor untuk kategori mobil hybrid dan 45 kompetitor untuk kategori mobil listrik pada International Student Green Car Competition (ISGCC) 2014," katanya.

Ia mengatakan para peserta kompetisi internasional tersebut berasal dari tim mobil beberapa perguruan tinggi yang tersebar di Asia.

"Mobil balap formula berteknologi hybrid itu merupakan salah satu karya dari mahasiswa UNY yang akan mewakili Indonesia untuk berlaga di kompetisi dunia tersebut," katanya.



  Republika  

Sumatra, Batubara dan Tentara

Bunga Pena dari Seberang, Sebuah Intermezo Ilustrasi. Batu Bara di Sawah Lunto. image id.indonesia.travel

Kamis pagi, 17 April 2014. Kuala Lumpur masih terbaring dalam lelap yang dingin, setelah sepanjang malam hujan mengguyur dengan lebat. Suara adzan Subuh sayup-sayup terdengar menyelinap diantara lorong-lorong yang gelap dan dinding-dinding rumah yang tertutup rapat. Enam tahun yang lalu, ketika untuk pertama kalinya saya tinggal di tengah kota yang menjadi salah satu landmark keuangan terbesar di Asia, saya merasakan bahwa suara adzan adalah sesuatu yang langka dan terkesan mahal. Meskipun Malaysia adalah salah satu negara Islam di dunia, tetapi untuk mendengar suara adzan dan mencari mesjid untuk bersembahyang, tidak bisa serta-merta dengan mudah kita temukan. Hal ini sangat berbeda dengan di Indonesia yang notabene adalah negara skuler, tetapi kita bisa mendengarkan adzan dan menemukan mesjid dimanapun kita berada dengan begitu mudah. Hehehe..! Suatu kondisi yang patut kita syukuri dan tidak salah jika kita banggakan.

Secara yuridis formal, konstitusi kita jelas bukanlah Al Quran yang menjadi satu-satunya pijakan konstitusi di negara-negara muslim. Indonesia adalah suatu Republik yang berideologikan Pancasila yang berkonstitusikan pada UUD 1945. Namun dengan bilangan penduduk yang mayoritas muslim, menjadikan bangsa Indonesia bertingkah laku dan menjalankan hidup berdasarkan syariat Islam. Bahkan di suatu daerah, hukum Islam ditegakkan secara legal di bawah naungan Pancasila dan UUD 1945. Tetapi bukan soal konstitusi dan bentuk kedaulatan negara kita yang akan saya bicarakan disini. Saya ingin mengajak semua untuk menelaah sebuah dokumen tebal yang tergeletak di meja saya.

Dokumen itu baru saya terima kemarin petang, dari kantor pusat saya di Tokyo, Jepang. Tetapi apabila dilihat dari stempel yang ada di sudut atas amplop itu, jelas sekali bahwa dokumen itu tidak dikirim langsung dari Tokyo, melainkan dari London, Inggris. Artinya, my Big Boss was in London event when the document sent to me. Besides that, I’m so sure that it will be talking about the South East Asia, what is my business area. Itulah sebabnya mengapa dokumen itu berada di ruangan saya. Yups..! Benar, dokumen itu bukan hanya menyangkut Asia Tenggara, melainkan lebih spesifik lagi menyangkut Indonesia, tanah air, bangsa dan negara tercinta saya..!

Kantor Pusat jelas sangat gundah, sejak Indonesia mulai menerapkan UU Minerba. Tidak dipungkiri begitu banyak negara-negara industri di dunia yang melayangkan protes terhadap tindakan yang diambil oleh pemerintah dan parlemen Indonesia. Mereka sangat merasakan dampak negatif dari penerapan UU tersebut. Komoditi menjadi langka, harga melambung tinggi, biaya produksi membengkak, harga jual produk tidak lagi kompetitif, omset menurun drastis, produksi menipis, margin perusahaan tidak terkendali, dan akhirnya sang investor pun lari..! Mulai saat ini kita akan sering mendengar berita kematian satu per satu industri di dunia. Indonesia telah dipandang sebagai negara penebar maut yang mengancam kelangsungan hidup industri negara-negara maju. Ironisnya, tindakan Indonesia ini juga mendapat dukungan dari negara-negara pemilik SDA lainnya, selain tentu saja lahir di tengah kesadaran dunia akan semakin langkanya komoditi bahan tambang dan kesadaran dunia akan pentingnya menjaga kelangsungan ekosistem. Semoga segala hujatan dan ancaman dari kubu lawan tidak menyeret langkah kita untuk surut ke belakang dan memaksa kita kembali ke masa lalu.

Memang benar, Indonesia bukanlah negara yang satu-satunya memiliki sumber daya mineral yang diperlukan oleh para pelaku industri dunia. Tapi bisa jadi, kitalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki keanekaragaman potensi sumber daya alam yang sangat berharga bagi industri dunia.

Mari kita lihat apa yang ada dalam dokumen itu. Hahaha..! Ternyata hanya soal batubara Sumatera..! Bagi negara seperti Indonesia, batubara bukanlah sebuah barang langka, bahkan kita telah berhasil menjadi negara yang paling depan dalam jumlah ekspor barang tambang ini. Tentu saja, selain itu kita juga menjadi negara pengekspor CPO terbesar di dunia, setelah berhasil menggeser negara yang menjadi sumber rujukan dalam pengembangan industri sawit dunia, yakni Malaysia..! Tetapi perlu diketahui, untuk industri olahan sawit, Malaysia masih bertengger sebagai eksportir terbesar di dunia. Sebuah tantangan yang wajib kita sambut dengan sikap positif; berpikir keras, bekerja keras dan berusaha keras..! Begitupun dengan batu bara kita. Bukankah batubara kita dikenal sebagai batubara berkualitas rendah yang hanya cocok untuk sumber pembangkit listrik? Yups..! Benar sekali..! Secara umum batubara kita memang dikategorikan sebagai batubara berkualitas rendah, karena kandungan kalorinya yang masih rendah serta jumlah sulphur dan phospornya juga terbilang tinggi.

Kualitas batubara kita masih kalah jauh dengan kualitas batubara dari Australia maupun dari Afrika. Kita baru unggul dalam kuantitas. Kita hampir bisa memasok berapapun jumlah batu bara yang dibutuhkan oleh dunia, karena regulasi pertambangan komoditas ini, di Indonesia belum seketat di negara-negara lain. Indonesia terkesan jor-joran. Dari mulai penambang yang legal sampai yang liar, semuanya ada..! Hehehe..! Untuk yang satu ini, jujur agak sedikit mengganggu kemaluan. Uppss..! Maaf, maksud saya sedikit agak memalukan..! Gak perlu menghujat, tapi marilah kita bersama-sama untuk menahan diri agar tidak turut serta menjadi penambang liar baru. Itu sudah lebih dari cukup, andil anda akan lebih dihargai. Soal penambang liar yang sudah ada, biarlah itu menjadi urusan pihak yang berwajib..!

Kembali ke dokumen..! Dokumen ini tidak bicara tentang batubara Indonesia, melainkan hanya bicara tentang batubara Sumatera, khususnya batubara dari Bengkulu. Saya yakin, diantara kita mungkin banyak yang tidak tahu jika Bengkulu juga merupakan daerah penghasil batubara, selain tentu saja daerah Kalimatan yang sudah sering kita baca dalam berita. Membaca kata Bengkulu, pikiran dan ingatan saya melayang-layang di atas daratan Sumatera. Mulai dari Lampung, Sumsel, kampung halaman teman saya di Pagaralam yang berbatasan antara Sumsel dan Bengkulu, kemudian ke Sumbar, Jambi, Riau, Sumut dan Aceh. Ah, betapa luasnya daratan Sumatera..! Secara pribadi, saya lebih mengenal Bengkulu sebagai daerah yang menyimpan potensi kandungan emas terbesar di Sumatera. Mulai mengenal adanya potensi batubara di sana, bermula ketika saya ditugaskan di Batam.

Untuk keperluan rumah baru saya, saya memesan perabotan kayu dari salah satu perusahaan kerajinan kayu yang dikelola oleh seorang wanita Yogyakarta dan bersuamikan seorang lelaki Bengkulu. Keramahtamahan, adalah alasan kuat mengapa kami masih memelihara tali silaturahmi itu hingga ke hari ini. Suatu ketika dulu, sahabat saya dari Jerman datang menemui saya. Dia sedang memerlukan bantuan saya untuk mendapatkan 60.000 ton batubara dengan spesifikasi dan kualifikasi tertentu. Saya menyanggupinya, karena saya beranggapan bahwa tidak mungkin jika dari semua tumpukan batu bara yang ada di Indonesia tidak ada satu pun yang mampu memenuhi kriteria. Saya putuskan untuk hunting ke Kalimantan. Semua teman dan bapaknya teman saya yang saya kenal dan saya ketahui memiliki usaha tambang batubara, saya datangi. Hasilnya? Sangat mengecewakan..! Dari 60.000 ton yang saya cari, saya hanya berhasil mendapatkan kurang lebih 10.000 ton saja. Saya coba menyodorkan permintaan saya pada teman-teman di Australia, Afrika, Brazil, Argentina, Venezuela dan Rusia serta China, semuanya angkat tangan. Jawaban mereka seragam, ‘no stock.’

Saya kembali ke Batam. Terduduk putus asa di atas kursi, sambil melihat urat-urat kayu yang ada pada pintu dan dinding kayu, membuat saya teringat pada pemilik perusahaan tempat perabotan kayu itu saya pesan. Karena sudah malam dan sedang kepepet, saya nekad menghubunginya melalui sms. Dimulai dengan menanyakan kabar, perkembangan usaha kerajinan kayunya dan terakhir menanyakan bisnis tambang batubara yang digeluti sang suami. Setelah itu, barulah saya menanyakan tentang kemungkinan ketersediaan batubara dengan spesifikasi yang saya miliki. Sampai disitu, contact sms kami terhenti. Saya berpikir, mungkin dia sudah tertidur. Kira-kira jam 01.00 dinihari, telepon saya berdering. Suara lelaki terdengar mengucapkan salam dan bertanya kabar. Dia, suami bu Dewi, pengelola perusahaan kayu di Batam, meminta saya untuk bertemu di Jakarta esok pagi. Setelah menerima telepon, saya paksakan untuk tidur, supaya besok pagi bisa segera bangun dan bergegas ke bandara Hang Nadim. Beruntung, di Bandara saya masih bisa mendapatkan tiket Garuda yang masih menyisakan beberapa tempat duduk untuk penerbangan ke Jakarta pada waktu yang tidak terlalu siang.

Di Jakarta, saya dijemput oleh lima orang lelaki berperawakan tegap, dan mengiring saya menuju ke mobil yang telah terparkir. Melihat dua mobil yang terparkir, saya agak kaget. Seseorang melambaikan tangan dari balik jendela yang tiba-tiba terbuka. Ya, itu suami bu Dewi..! Pangling, dipundaknya tersemat sebuah bintang. Sekarang saya tahu dengan siapa saya berhadapan. Sesampainya di kantor, saya diberikan penjelasan dan gambaran detail tentang perusahaan yang dia geluti, serta kualifikasi batu bara yang dia miliki. Sangat mengejutkan, ternyata dia memiliki stock simpanan pasokan hingga mencapai 150.000 ton, dengan spesifikasai melebihi dari apa yang saya kehendaki, bahkan jauh lebih tinggi dari kualifikasi yang dimiliki oleh kebanyakan batu bara Australia dan Afrika. Beberapa minggu kemudian, setelah dokumen eksport selesai dan sahabat saya mengirimkan kapalnya ke Indonesia, disepakati bahwa pengiriman batu bara dengan kualitas terbaik dari Indonesia, jumlahnya menjadi 190.000 ton, dari semula hanya meminta 60.000 ton. Teman saya berujar bahwa saya adalah orang yang paling beruntung karena menjadi warga sebuah negara yang sangat kaya raya dan memiliki segala-galanya. Tidak semua negara bisa memiliki apa yang kamu miliki..! Saya tersentak, penuh bangga..!

Kembali ke dokumen yang beratnya hampir 2 kg, yang tergeletak di atas meja saya. Dokumen ini sangat jelas menginginkan saya untuk bisa menggolkan keinginan perusahaan induk saya di Jepang. Mengakuisisi perusahaan atau memonopoli output produksi. Dua buah pilihan yang tidak mudah. Saya sadar, zamannya sudah berubah. Meskipun bangsa kita masih dikenal sebagai bangsa yang korup, tetapi bukan berarti semuanya tidak perduli dengan korupsi. Sekarang bukan lagi zaman Orba, dimana uang bisa bicara, dan sesudah itu bebas berkelana. Sekarang mungkin saja uang masih bisa bicara, tetapi sesudah itu akan ada pintu penjara yang menanti kita. Hahaha..!

Di Jepang, berlaku suatu prinsip, dimana suatu industri yang turut menopang kelangsungan industri strategis, maka industri itu akan digolongkan dalam kelompok industri strategis juga. Industri nikel dan feronikel adalah salah satu industri strategis Jepang, karena itu, industri pengolahan bijih nikel dan industri pertambangan batu barahigh calory dan ultra high calory, dengan sendirinya akan menempati singgasana status industri strategis Jepang. Dalam sistem kebijakan Jepang, industri strategis tidak sekedar menyangkut industri pertahanan, tetapi lebih dari itu, industri strategis diartikan sebagai industri hulu yang menjamin keberlangsungan industri yang menjadi mainstream perekonomian nasional mereka. Jika demikian adanya, maka bisa disimpulkan bahwa produk batu bara dari Sumatera pada umumnya, dan Bengkulu khususnya, bukanlah produk batu bara sembarangan yang bisa dijualbelikan dengan harga murahan.

Pertanyaannya, sudahkah pemerintah kita menyadari sepenuhnya akan segala potensi dan nilai-nilai strategis yang dimiliki oleh setiap komoditi yang kita hasilkan? Pertanyaan ini sejatinya dialamatkan pada pak Pramono, SE. Mantan atase perekonomian KBRI Kuala Lumpur, yang sudah saya anggap sebagai ayah kandung sendiri. Alhamdulillah, beliau bilang, dalam tubuh pemerintahan sekarang, sudah banyak perubahan yang cukup signifikan. Para pengambil kebijakan di kementerian-kementerian terkait, seperti Kemendag, Kemenperin dan Kemenkeu, bukan sekedar orang Indonesia, akan tetapi juga seorang Indonesianis muda yang pinter, nasionalis, pro rakyat, tidak rakus jabatan dan amanah. Sebuah jawaban yang melegakan.

Melihat betapa vitalnya nilai bahan-bahan mineral yang kita miliki, tidak sedikit pihak atau negara yang menawarkan opsi untuk memindahkan industrinya ke Indonesia. UU Minerba yang dari awal peluncurannya sudah disambut dengan berbagai sanggahan dan pembangkangan, jika tetap kokoh berdiri dipertahankan, bisa menjadi penunjuk jalan ke arah mana industri kita akan berkembang. Industri smelter tentu hanya sekedar jalan tengah bagi mengelola dua kepentingan yang berbeda. Tetapi tujuan utamanya adalah bagaimana industrialisasi bisa bertelur, menetas dan beranak pinak di bumi Indonesia. Sehingga program transformasi ekonomi yang kita pikul, bisa sukses hingga mencapai garis dan titik destinasi. Jika semua ini terwujud, kemudian seluruh TNI dipersenjatai demi menjaga stabilitas, akankah kita masih berkata nyinyir, bahwa TNI digaji hanya untuk menjaga asset asing?

Saya teringat ucapan pak Jusuf Kalla, ketika sumber energi menjadi mahal, maka cara yang paling masuk akal adalah memindahkan industri ke tempat dimana sumber energi itu bisa didapat. Oleh karena itu marilah kita menyongsong era industrialisasi dalam perekonomian Indonesia. Persiapkan diri dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan. Jangan berkecil hati bagi yang merasa sudah terlampau tua, karena masa depan yang gemilang masih mungkin kita wariskan pada anak cucu kita kelak. Setidaknya mereka akan bangga dan berterima kasih karena memiliki eyang yang gigih berjuang menyiapkan masa depan mereka. Ingat, industrialisasi jangan diartikan anti tani, tapi industrialisasi harus bisa bermakna sebagai usaha modernisasi tani. Hehehe..!

Selamat berjuang, Bung..!

(by; yayan@indocuisine/Kuala Lumpur, 18 April 2014)

  ★ JKGR  

Minggu, 20 April 2014

★ Mahasiswa Pembuat Peluru Frangible Pertama di Asia

Peluru frangible lebih membahayakan daripada peluru biasa, tapi lebih amanvicko di indonesiaproud wordpress comVicko Gentantyo Anugraha, mahasiswa Jurusan Teknik Material dan Metalurgi ITS yang memberanikan diri mengikutsertakan hasil riset tugas akhirnya berupa peluru frangible berhasil menjadi juara dalam lomba karya tulis bertemakan pertahanan nasional yang diadakan oleh TNI AD.

Vicko mengenalkan peluru frangible yang belum pernah diproduksi di Asia. Tak disangka, Vicko berhasil menyabet juara pertama dari 134 peserta yang berasal dari berbagai kalangan.

Bermula dari ajakan senior tiga tahun lalu untuk mengikuti Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM), Vicko dikenalkan tentang peluru frangible yang memiliki berbagai keunggulan. Ia mengangkat riset tersebut dalam tugas akhirnya.

Di tengah Vicko melakukan riset, salah seorang temannya memberitahukan lomba yang diadakan TNI AD. “Kebetulan sekali saya sedang melakukan riset mengenai itu. Temanya pun mengenai sistem pertahanan nasional,” ujar Vicko.

Dalam pengerjaan peluru frangible, ia mengaku banyak dibantu oleh teman dalam tim riset tugas akhirnya, Paiman Joni. “Kami banyak berdiskusi dan terkadang mengerjakan bersama,” ujar Vicko. Selain itu, Vicko mendapat arahan dari dosen pembimbing risetnya, Dr Widyastuti SSi MSi yang telah terlebih dulu menekuni sistem pertahanan.

Vicko menjelaskan berbagai keunggulan peluru frangible, salah satunya adalah komposisi penyusun serbuk peluru. Jika biasanya timbal yang menjadi penyusunnya, Vicko menggantinya dengan tembaga. Pasalnya, timbal merupakan zat berbahaya jika sampai kontak langsung dengan manusia.

Menurut Vicko, peluru frangible lebih membahayakan daripada peluru biasa, tapi lebih aman. ”Sebab, peluru biasa akan menimbulkan back-splash ketika membentur benda keras dan membahayakan orang sekitar,” ujar Vicko.

Peluru biasa akan mempunyai 2 kemungkinan, kalau tidak back-splash, maka akan menembus tubuh. Sedangkan peluru frangible mampu hancur ketika mengenai permukaan keras atau mengenai tubuh, sehingga disinyalir akan lebih merusak ketika mengenai tubuh sasaran.

”Pelurunya akan nancep dan akan pecah dalam tubuh,” tambahnya. Karenanya, peluru frangible ini akan diaplikasikan dalam ruangan tertutup, misalnya evakuasi terorisme.

Dalam perlombaan itu sendiri, awalnya, Vicko tak mengetahui bahwa dirinya lolos menjadi 12 besar dari 134 peserta dengan kategori umum. Melalui info dari salah seorang temannya seminggu sebelum pengumpulan terakhir, ia baru mengetahuinya sehingga harus membuat produk jadi sesuai persyaratan lomba dalam waktu yang sebentar.

Merasa tidak sanggup, Vicko pun menghubungi pihak TNI AD bahwa Ia tidak siap mengikuti tahap selanjutnya. “Saya sudah pasrah kala itu. Hingga H-3 saya dihubungi pihak TNI AD bahwa saya harus mengikuti tahap selanjutnya di Jakarta 3 hari lagi,” ujar Vicko.

Tak ayal, dalam waktu yang singkat, Vicko hanya mampu membuat pellet peluru saja. Tak hanya itu, ketika akan melakukan presentasi, Vicko terjebak macet parah di Jakarta.

“Ketika saya datang, semua juri sudah bergegas pulang. Yang semula saya adalah kontestan pertama yang maju presentasi, akhirnya saya menjadi kontestan terakhir yang presentasi ketika itu,” kenang Vicko.

Namun, usahanya pun membuahkan hasil, Vicko menyabet juara pertama dalam ajang tersebut. Ia mengalahkan para kontestan lain yang lebih ahli. Para kontestan itu diantaranya mahasiswa S2, dosen, dan para ahli dalam bidang persenjataan.

Vicko pun berharap pemerintah dapat mengapresiasi karya-karya pemuda di Indonesia yang ia yakini sangat hebat. “Sayang sekali kalau tidak diapresiasi oleh negara sendiri. Kalau negara lain mengetahui kemampuan pemuda kita, pasti ditarik ke luar negeri,” ujar Vicko.

Diminati Pindad

Usai menjadi juara pertama dalam ajang yang berkaitan pertahanan dan keamanan nasional, hasil riset Vicko dilirik oleh perusahaan persenjataan milik Indonesia, PT Pindad (persero).

Menurut Pindad, peluru yang sangat langka di Indonesia tersebut akan menjadi sesuatu yang baru dan unik dalam industri pertahanan dan keamanan di Indonesia. Perusahaan ini menjanjikan untuk mengadakan uji tembak dalam waktu dekat.

Usai uji tembak, PT Pindad mencanangkan untuk produksi masal, tetapi hanya untuk case yang spesial. “Masih ada bimbingan lanjutan dari TNI AD. Jika terjalin kontrak kerjasama, akan dilakukan dengan persetujuan dari TNI AD dahulu,” ujar Vicko.




  ITS | Indonesiaproud  

★ Bakorkamla Tambah Enam Armada Kapal Patroli

Pengadaan enam armada kapal patroli buatan dalam negeri itu dijadwalkan selesai tahun depan Surabaya Badan Koordinasi Keamanan Laut berencana menambah enam armada kapal patroli cepat untuk mendukung tugas operasional pengamanan perairan di beberapa wilayah di Indonesia.

Kepala Pelaksana Harian Badan Koordinasi Keamanan Laut (Bakorkamla) Laksamana Muda TNI D Albert Mamahit kepada wartawan di Surabaya, Selasa, mengatakan pengadaan enam armada kapal patroli buatan dalam negeri itu dijadwalkan selesai tahun depan.

"Saat ini Bakorkamla baru memiliki tiga armada kapal patroli, sehingga ke depan akan ada sembilan kapal patroli yang siap dioperasionalkan," katanya usai membuka kegiatan "Penyegaran Komandan/Nahkoda Kapal Patroli dan Pengawak Satgas Operasi Bersama".

Mamahit menjelaskan enam kapal patroli baru tersebut, masing-masing berukuran 40 meter sebanyak tiga unit dan 80 meter juga tiga unit.

"Kapal ukuran 80 meter itu diproyeksikan untuk kegiatan patroli hingga wilayah terjauh sampai batas ZEE (zona ekonomi eksklusif)," tambahnya tanpa menyebut jumlah anggaran untuk pengadaan kapal tersebut.

Sedangkan tiga kapal patroli yang kini dimiliki Bakorkamla adalah Kapal Motor Bintang Laut, KM Singa Laut dan KM Kuda Laut.

Mamahit mengakui sarana dan prasarana menjadi salah satu kendala untuk mendukung kegiatan operasional pengamanan wilayah perairan Indonesia yang sangat luas.

Namun, pihaknya fokus pada 15 titik strategis yang dianggap rawan terhadap munculnya tindak pelanggaran, terutama di wilayah perbatasan dengan negara tetangga.

  ★ Antara  

Sabtu, 19 April 2014

★ Terbang Perdana NC-212-400 Buatan PT.DI

Produksi C-212-400 memang telah dialihkan ke Bandung Bandung Tanpa banyak publikasi, PT. Dirgantara Indonesia ternyata telah mencetak lagi sebuah prestasi. Pabrik pesawat asal kota Bandung ini ternyata menyelesaikan sebuah pesawat NC-212-400, pesanan pemerintah Thailand. Pesawat yang masih bercat dasar ini kini tengah menjalani uji terbang.

Terbang perdana pesawat jenis angkut ringan ini berlangsung pada pertengahan april lalu. Bertugas sebagai pilot uji adalah crew Airbus Military yang sebelumnya membawa C295 ferry flight dari Madrid. Mereka yaitu Pilot Capt. Alejandro Grande dan Capt.Rafaelde Diego Coppen, serta Flight Test Engineer Eduardo Mayo Avila. Pesawat Take off pada pukul 10:05 dan kemudian mendarat dengan selamat pada pukul 13:05 wib. Selama 3 jam pesawat dibawa terbang ke Pelabuhan Ratu serta area Bandung sekitarnya.

PT DI sendiri secara resmi sekarang hanya punya 1 pilot tes karyawan tetap yaitu Esther Gayatri Saleh. Pilot uji perempuan ini tidak ikut karena belum punya lisensi C212-400. Namun saat ini Esther dan FTE PT DI sedang menjalani pelatihan di Bandung oleh instruktur Airbus Military untuk mendapatkan lisensi. Untuk penerbangan selanjutnya, dan setelah pemasangan lavatory, sistem avionik baru serta optional lain desain PT DI, uji terbang akan dilakukan oleh pilot & FTE PT DI.

NC212-400 dapat dijadikan pilot project untuk program N219 karena konfigurasinya hampir sama. Perbedaan terdapat hanya pada ramp door, flaperon, horizontal fin lebih tinggi, pilot door seperti Cessna Grand Caravan & sistem avionik terbaru atau mungkin powerful engine. Produksi C-212-400 sendiri kini memang telah dialihkan ke Bandung, sementara Airbus sendiri lebih berkonsentrasi pada produksi pesawat yang lebih besar.



  ★ ARC  

Dosen UGM Berhasil Kembangkan Benih Jagung Hibrida

Merupakan silangan antara varietas Guluk-guluk dan Srikandi Kuning 1http://static.republika.co.id/uploads/images/kanal_sub/jagung-_120729151503-831.jpgYogyakarta ★ Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Diah Rachmawati menghasilkan benih jagung hibrida yang diberi nama Gama GS dan Gama SG yang merupakan silangan antara varietas Guluk-guluk dan Srikandi Kuning 1.

"Setelah beberapa kali melakukan kawin silang, akhirnya didapatkan hasil yang diinginkan. Benih jagung Gama GS menunjukkan betinanya adalah Guluk-guluk dan jantannya Srikandi Kuning 1, sedangkan Gama SG betinanya Srikandi Kuning 1 dan jantannya Guluk-guluk," kata Diah di Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, keunggulan Gama GS dan Gama SG terletak pada umur panen yang relatif lebih pendek, sekitar 75-80 hari, dengan produksi mencapai 6-7 ton per hektare. Data tersebut didapat dari beberapa uji lokasi yang bekerja sama dengan Balitsereal.

"Empat lokasi yang digunakan untuk uji lokasi adalah Klaten, Jawa Tengah, Pamekasan Madura, Jawa Timur, Maros, Sulawesi Selatan, dan Kebun Pendidikan, Penelitian, dan Pengembangan Pertanian (KP4) Universitas Gadjah Mada (UGM)," katanya.

Ia mengatakan yang membedakan keempat lokasi itu adalah jenis tanahnya, ada yang berupa lahan sawah, ladang, tanah kering, dan berpasir. Uji coba dilakukan pada musim kemarau untuk mengetahui seberapa kuat varietas jagung tersebut menghadapi minimnya kadar air tanah.

"Dari sisi produksi, Gama GS dan Gama SG memang masih kalah dibandingkan dengan jagung hibrida Pioneer yang sudah dikenal luas oleh kalangan petani. Namun, jagung Pioneer memiliki umur masa panen sekitar 100 hari, sedangkan Gama GS dan Gama SG dapat dipanen dalam tempo 75 hari," katanya.

Menurut dia, jika Pioneer bisa panen 10 ton per hektare, tetapi dari segi ketahanan virus dan umur, Gama GS dan Gama SG lebih unggul.

"Dari hasil uji coba di lapangan, jagung hibrida dari persilangan varietas Guluk-guluk dan Srikandi Kuning 1 menghasilkan produksi jagung kering 6,5 ton per hektare dengan waktu panen 75 hari," katanya.

Selain unggul dari segi masa panen, Gama GS dan Gama SG juga memiliki ukuran tongkol yang lebih panjang, yakni 15-18 cm. Padahal, panjang tongkol Guluk-guluk hanya 10-13 cm.

"Gama GS dan Gama SG juga memiliki ketahanan terhadap virus Cucumber Mosaic Virus (CMV) dan kandungan protein yang lebih tinggi. Jagung itu juga tahan terhadap kondisi air yang minim," katanya.

Ia mengatakan tujuan penanaman jagung Gama GS dan Gama SG tidak hanya untuk meningkatkan produksi jagung nasional tetapi diharapkan dapat menjadi unggulan varietas lokal.

"Dengan teknologi diharapkan keunggulannya dapat lebih ditingkatkan. Kami ingin melindungi varietas lokal," katanya.



  Republika  

Jumat, 18 April 2014

Kala Satelit Memantau Letusan Kelud

Mata satelit menjadi saksi ketika Gunung Kelud meletus. Melalui kanal inframerah yang dimiliki satelit, sebaran debu vulkanik Kelud pun berhasil dideteksi pada kegelapan malam.

Indonesia sudah terlelap dalam tidurnya pada Kamis 13 Februari 2013 malam, namun perut Gunung Kelud (Jawa Timur) justru menggelegak dan kian bergemuruh. Segera Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memutuskan untuk menaikkan status gunung berapi ini ke tingkat “Awas” (Level IV) pukul 21:15 WIB. Siapa sangka hanya dalam waktu 95 menit setelah menyandang status “Awas”, Gunung Kelud akhirnya benar-benar meletus.

Gemuruh letusannya terdengar hingga pelosok Jawa Tengah yang ratusan kilometer jauhnya. Debu vulkanik pekatnya pun bergulung-gulung membumbung tinggi ke langit bersamaan dengan kilat yang menyambar-nyambar akibat pemuatan listrik statis seiring pergesekan antarpartikel debu vulkanik yang miskin air. Gelapnya malam membuat semburan debu vulkanik Kelud tidak dapat diamati dengan leluasa. Padahal kemana dan bagaimana debu vulkanik Kelud menyebar penting untuk secepatnya diketahui, khususnya bagi lalu lintas udara yang memiliki sifat alamiah cukup sensitif akan paparan debu vulkanik.

Jauh hari sebelum Gunung Kelud meletus, dunia penerbangan telah belajar bagaimana debu vulkanik mampu menyebabkan insiden pada pesawat yang sedang mengudara. Gunung Galunggung (Jawa Barat) yang unjuk gigi di tahun 1982 hingga 1983 sempat membuat kacau tiga pesawat yang melintas di area sebaran abu vulkanik. Insiden pertama dialami oleh pesawat DC-9 Garuda rute Jakarta-Denpasar pada 5 April 1982. Sementara insiden berikutnya dialami dua jumbo jet Boeing-747 milik British Airways pada 24 Juni 1982 dan Singapore Airlines pada 13 Juli 1982.

Seperti halnya Galunggung, letusan Gunung Kelud pun terjadi kala malam. Bedanya kini telah tersedia satelit cuaca dan observasi Bumi dengan kemampuan tinggi sehingga mampu melacak pergerakan awan debu vulkanik Kelud dari waktu ke waktu walau di malam hari sekalipun. Empat di antaranya adalah satelit MTSAT-2, Suomi NPP, CALIPSO, dan Aqua.

Satelit MTSAT-2 (Multifunctional Transport Satellite-2) atau Himawari-7 merupakan satelit cuaca dan komunikasi milik Jepang yang berbobot 4.650 kg dan menempati orbit geostasioner pada garis bujur 145° BT. MTSAT-2 membawa lima instrumen yang bekerja pada kanal visual dan inframerah, masing-masing pada resolusi spasial 1,25 km dan 5 km. Sedangkan Suomi NPP (National Polar-orbiting Partnership) adalah satelit cuaca milik AS yang menghuni orbit polar setinggi 824 km dpl ( di atas permukaan laut) pada inklinasi 98,78° sehingga memiliki sudut pencahayaan Matahari yang relatif sama dari waktu ke waktu. Suomi NPP berbobot 2.540 kg dan mengangkut lima instrumen yang bekerja pada kanal visual, inframerah dan gelombang mikro.

Sementara satelit CALIPSO (Cloud-Aerosol Lidar dan Infrared Pathfinder Satellite Observation) merupakan satelit observasi Bumi hasil kerjasama AS dan Perancis yang juga menempati orbit polar pada ketinggian 676 x 687 km dpl dan inklinasi 98,2°. Satelit berbobot 560 kg ini bertumpu pada teknologi lidar (laser imaging detection and ranging).

Satelit terakhir, Aqua, adalah satelit riset hasil kerjasama AS, Jepang, dan Brazil yang menempati orbit polar setinggi 691 x 708 km dpl dengan inklinasi 98,14°. Satelit seberat 3.117 kg ini mengangkut enam instrumen yang ditujukan untuk mengukur tingkat penguapan, curah hujan dan siklus air. Salah satu instrumennya yang bernama MODIS (moderate resolution imaging spectroradiometer) inilah yang mampu melacak distribusi aerosol sulfat sehingga bisa menjejak sebaran debu vulkanik di atmosfer.

Setinggi 26 km

Dengan posisi istimewanya di orbit geostasioner MTSAT-2 memperoleh kesempatan pertama mengamati awan debu vulkanik Kelud, yang mulai terdeteksi pada pukul 23:09 WIB dalam kanal inframerah lewat moda rapid scan setiap 10 menit. Awan debu ini semula berukuran kecil dan bergeometri sferis, namun lama-kelamaan terus membesar dan mulai melonjong.

Penampilan ini berbeda dengan letusan Gunung Merapi di tahun 2010 silam, yang lebih berupa kepulan asap dan debu tipis meski sedang berada di puncak letusannya. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh bedanya volume magma yang diletuskan oleh kedua gunung berapi tersebut dalam setiap detiknya, dimana untuk Kelud jauh lebih besar. Tetapi secara akumulatif volume magma letusan Gunung Kelud kali ini hampir sama dengan Gunung Merapi pada 2010. Hal ini karena durasi letusan Kelud jauh lebih singkat yakni hanya dalam beberapa jam saja seiring kecilnya ukuran kantung magma.

Analisis Cooperative Institute for Meteorological Satellite Studies (CIMMS) Universitas Wisconsin, AS menunjukkan saat mencapai puncaknya awan debu ini memiliki suhu sekitar -60° Celcius dan bagian tepi sekitar -75 hingga -80° Celcius. Muncul indikasi puncak awan debu Kelud telah menembus jauh ke dalam lapisan stratosfer.

Pencitraan visual yang hanya bisa dilakukan dalam enam jam sejak letusan dimulai menunjukkan awan debu Kelud telah memasuki ketinggian 18 hingga 20 km dpl dalam jumlah cukup signifikan. Kombinasi observasi satelit Suomi NPP dan CALIPSO yang kebetulan melintas di atas Indonesia tak lama setelah letusan bahkan menunjukkan, puncak awan debu vulkanik Kelud membumbung hingga setinggi 26 km dpl. Inilah pertanda bahwa letusan Gunung Kelud kali ini memiliki tipe plinian, yakni jenis letusan besar yang dikendalikan oleh gas-gas vulkanik bertekanan sangat tinggi.

Letusan plinian membawa implikasi luas bagi lingkungan sekitar gunung berapi sebab debu vulkaniknya akan tersebar pada area yang cukup luas dan jauh dari gunung tersebut. Observasi MTSAT-2 pada kanal inframerah hingga beberapa jam kemudian menunjukkan awan debu Kelud menyebar ke arah barat hingga barat daya mengikuti angin timuran. Hal tersebut juga diperkuat oleh observasi satelit Aqua yang memperlihatkan aerosol letusan Gunung Kelud menyebar hingga lebih dari 1.000 km terhadap sumbernya.

Guna menghindari insiden yang menimpa British Airways Flight 8 puluhan tahun lalu maka delapan bandara di pulau Jawa terpaksa ditutup sementara. Akibatnya ratusan penerbangan domestik dan internasional pun terpaksa dibatalkan. Angka kerugian mencapai milyaran rupiah. Namun itu pilihan yang resikonya lebih kecil ketimbang harus berhadapan memaksa pesawat berhadapan dengan debu vulkanik yang bisa menciptakan insiden atau bahkan kecelakaan.(Muh. Ma’rufin Sudibyo)



  Angkasa  

Kamis, 17 April 2014

Pengembangan pembuatan pesawat aeromodelling dengan metode terbaru dan berbiaya murah

Modal Rp 1 Juta Buat Sukhoi, Kembangkan Jadi Pesawat Intai http://www.sumeks.co.id/images/resized/images/stories/upload/yon-arh_200_200.jpgBatalyon Artileri Pertahanan Udara Sedang 10/Agni Buana Cakti (Yon Arhanudse 10) Kodam Jaya memiliki program yang membanggakan. Yakni, pengembangan pembuatan pesawat aeromodelling dengan metode terbaru dan berbiaya murah. Program itu akan menjadi contoh sekaligus akan diterapkan di seluruh kesatuan TNI AD di Tanah Air.
---------
DANI TRI WAHYUDI - Jakarta
-----------    
Setidaknya puluhan personel Yonarhanudse 10 atau terkenal dengan Yonarhanudse Gagak sudah dicetak menjadi ahli pembuat pesawat aeromodelling sejak tahun lalu. Tidak hanya itu, banyak anggota TNI AD dari batalyon lain di Indonesia belajar membuat pesawat remote control itu di Yonarhanudse Gagak, Bintaro, Jakarta Selatan.       

Guna menguji kepiawaian pembuatnya, Komandan Yonarhanudse-10, Letkol (Arh) Riksawan Ardhianto, mengadakan dua kali lomba antar baterai (satuan setingkat kompi) di jajarannya. Seperti lomba pesawat aeromodelling yang baru saja berlangsung di Stadion Gagak Hitam, Bintaro.   

Lomba tersebut tidak asal-asalan. Antar tim peserta lomba all out menampilkan karya terbaiknya. Alhasil mereka mampu menghadirkan pesawat-pesawat tempur cantik berbagai model seukuran 1x1 meter. Antara lain model F 22 Raptor, beberapa tipe pesawat tempur Sukhoi, dan beberapa model pesawat Aero Fighter. Para penggemar aeromodelling tentu gemas melihatnya.  

Lomba tersebut dinilai dari kemampuan merakit, keunggulan aerodinamika pesawat, dan cara menerbangkannya. Menariknya, beberapa pesawat tidak memerlukan landasan pacu untuk take off melainkan cukup dilempar lalu bisa terbang. Setelah pesawat terbang peserta menunjukkan kemampuan pesawat dalam berbabagai gerakan manuver.  

Di sana  juri juga langsung bisa menilai kemampuan aerodinamik masing-masing pesawat tersebut. “Dengan adanya lomba tersebut diharapkan akan semakin banyak lagi personel yang mengembangkan skill sebagai salah satu inovasi latihan dalam meningkatkan kemampuan prajurit di bidang fungsi teknik kecabangan,” ungkap Riksawan juga.   

Menurut Riksawan lagi, pesawat-pesawat aeromodelling itu menunjang kemampuan prajurit dalam mempertahankan wilayah dari serangan udara musuh. Sebab pesawat itu dijadikan latihan pembidikan sasaran tembak di udara. Menurutnya, pengembagan pesawat aeromodelling tidak saja sebagai sarana latihan pembidikan saja.  

Tetapi pihaknya mengembangkannya sebagai pesawat pengintai yang dilengkapi dengan kamera khusus. “Sudah kita buat dan terus kita kembangkan satu pesawat intai dengan kamera video yang bisa live dan kita monitor dengan frekwensi televisi,” ungkapnya.    

Sementara itu Komandan Baterai Q Yonarhanudse-15, Kapten (Arh) Helmi yang mendampingi Letkol (Arh) Riksawan, mengatakan para peserta yang ikut lomba ibaratnya mereka yang sudah mahir membuat pesawat aeromodelling. Mereka sudah mengembangkan kemampuan setelah mengikuti diklat di Yonarhanudse-10 selama sepekan.    

“Membuat model pesawat tempur tentu lebih susah. Kalau saat diklat dasar mereka diajari dari membuat model pesawat glider,” papar juga Kapten (Arh) Helmi yang juga Koordinator Aeromodelling Gagak Hitam tersebut. Menurut Helmi juga, pihaknya mengembangkan metode terbaru pembuatan pesawat aeromodelling bertenaga listrik dan berbodi gabus/foam depron yang mudah dibentuk.  

“Foam depron ini lebih tipis dan lebih padat dibandingkan sterofoam,” ungkapanya. Metode terbaru ini dinialainya berbiaya lebih murah dan mudah dikembangkan dibandingkan dengan metode lama. Yaitu, model pesawat yang menggunakan mesin berbahan bakar minyak, berat minimal 3 kilogram, biaya malah, dan bersuara keras dan bodi dari kayu balsa, fiber glass, plastik yang relatif lebih susah dibentuk.  

“Biaya satu pesawat dengan metode baru ini sekitar Rp 1 juta, tapi belum termasuk remote control. Kalau pesawat metode lama biayanya berkali-kali lipatnya,” pungkasnya. Karena biaya murah, maka dengan metode terbaru tersebut cocok dipakai latihan menembak. Metode ini juga akan dikembangkan di seluruh Arhanud TNI AD di Indonesia. Menurutnya pihaknya sudah mencoba menembak pesawat aeromodelling tersebut sebagai latihan menembak.   

“Menembaknya pakai meriam. Menembak sasaran pesawat aeromodelling ini lebih susah, karena ukurannya lebih kecil dan gerakannya lebih lincah dari pesawat beneran,” tegasnya. Dikatakan, pembuatan pesawat tersebut dimulai dari persiapan bahan gabus depron dengan ketebalan 6mm untuk bodi, gambar desain pesawat yang akan dibuat, lem gabus, pisau cutter, penggaris besi, batang fiber carbon atau dapat menggunakan bambu, plester/lakban dan solder.  

Pertama, gambar desain pesawat digambarkan pada gabus depron. “Gambar desain ini dapat diperoleh dari desain pesawat yang tersedia di internet atau dirancang sendiri sesuai kaidah aerodinamika pesawat udara,” paparnya lagi. Potong depron sesuai desain bagian-bagian pesawat dengan menggunakan pisau cutter. Rangkai dan rekatkan bagian-bagian tersebut dengan lem gabus sehingga membentuk pesawat.    

Pesawat yang diluncurkan dengan cara dilempar atau hand-launched umumnya tidak memakai roda, sedangkan pesawat yang menggunakan landasan untuk take off dapat dipasang roda berbahan karet lunak berdiameter 3-7 inci sesuai ukuran pesawat. “Sedangkan jenis pesawat amfibi tidak menggunakan roda, namun dapat meluncur dari tanah, landasan atau dari permukaan air yang tenang,” pungkasnya.  

Setelah bentuk konstruksi pesawat lengkap dipasang perangkat elektronik berupa motor listrik dan propeller (baling-baling), servo-servo dan ESC (electronic speed control) serta perangkat elektronik tambahan sesuai fungsi pesawat. Helmi mengaku belajar mengembangkan pesawat aeromodelling ini dari banyak sumber.(*/ce1)



  Sumeks  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More