N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

KRI Teluk Bitung 520

Kapal Landing Ship Tank (LST) produksi PT DRU, Lampung, merupakan kapal angkut tank pertama terbesar buatan Indonesia - Indonesia Teknologi

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Krait

Kapal patroli 40 m berbahan almunium alloy produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

Panser Canon 90mm

Kendaraan militer dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

PT44 Gudel

Kendaraan taktis militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Minggu, 07 Februari 2016

Proyek Pembangunan 3540 Kapal Ikan KKP

Butuh Pengawasan EkstraPembangunan 3540 unit kapal ikan yang merupakan program pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), butuh diawasi dan dikawal secara ekstra ketat. Pasalnya, program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan Nelayan tesebut menggunakan anggaran negara yang cukup besar.

Menurut Sekjen Asosiasi Pemuda Maritim Indonesia (APMI) Ahlan Zulfakhri kepada Jurnal Maritim beberapa waktu lalu, Proyek pengadaan ribuan kapal ikan ini cukup diminati banyak kalangan, termasuk mereka yang minim informasi dan kemampuan. Ahlan mengingatkan bahwa perlu upaya sejak awal untuk meminimalisir potensi penyelewengan semaksimal mungkin.

Itu tentu harus melibatkan seluruh stakeholder yang akan terlibat, jangan sampai ada yang dirugikan akibat tindakan beberapa pihak,” ujar Ahlan.

Selain itu, tambahnya, pihak KKP dan Kementerian terkait perlu menjalankan program tersebut dengan rasa tangung jawab dan semangat kemaritiman yang tinggi, bukan malah menungganginya untuk kepentingan sesaat.

isu maritim adalah momentum untuk membangun Indonesia, jangan dijadikan kesempatan untuk mengeruk keuntungan yang tidak pantas, jangan bermain api dalam pembangunan 3540 kapal,” tandas Ahlan.

Sarjana Perkapalan lulusan Universitas Diponegoro (Undip) itu meminta agar pemerintah melakukan verifikasi terhadap galangan kapal dan tenaga ahlinya.

Menteri KKP harus memberikan pengawasan ekstra ketat, baik secara kementerian ataupun mereka yang akan terlibat dalam pembangunan. Verifikasi terhadap galangan, penyedia mesin dan perlengkapan kapal tentunya harus memenuhi standar dan pastinya terdata dengan jelas,” ujar Ahkan.

Sambung Ahlan, asosiasi menaungi galangan kapal seperti Iperindo, Aibindo, dan lain-lain harus mau membantu KKP dalam proses verifikasi terhadap galangan kapal.

Semangat membangun Indonesia melalui maritim harus mampu digelorakan oleh seluruh kalangan. Ini adalah momentum kebangkitan, mengambil keuntungan dari momentum hal yang wajar, namun jangan sampai merugikan pihak lain. Ini yang seharusnya ditegaskan oleh Menteri KKP dalam mengawal pembangunan 3540 kapal,” pungkasnya. [AN]
 

  JMOL  

Sabtu, 06 Februari 2016

Sekilas Bersama KN 4801 Bakamla

Operasi Bakamla di Perairan Batam[Dhani Irawan/detikcom]r

Kapal Negara (KN) 4801 Bintang Laut milik Badan Keamanan Laut (Bakamla) melancarkan operasi di perairan Batam. Penyisiran pun dilakukan di sekitar Selat Singapura hingga perairan Tanjung Balai Karimun yang sering digunakan sebagai jalur perlintasan.

Kapal Bakamla yang dengan arahan komandan Letnan Kolonel Maritim Faruq Dedy Subiantoro itu memulai operasi sejak pagi pukul 05.30 WIB dari Batam. Kapal diarahkan menyusuri Selat Singapura yang merupakan perlintasan kapal-kapal barang atau kargo.

"Ini perairan internasional. Jadi banyak kapal-kapal yang melintas di sini," kata Faruq saat berbincang dengan detikcom saat melakukan operasi, Kamis (4/2/2016).

Kapal pertama yang dicegat oleh Bakamla yaitu Mitra Bahari di Selat Singapura. Kapal tersebut sempat tidak berhenti ketika diberi peringatan angin gauk.

Muatan kapal yang ditutup terpal kemudian dibuka untuk dilihat isinya serta untuk dicek apakah ada barang-barang yang mencurigakan. Selain itu, pengecekan muatan dengan surat-surat kapal pun dilakukan.

Saat pemeriksaan, seluruh anak buah kapal diminta untuk berkumpul di haluan sementara nahkoda akan diinterogasi mengenai kelengkapan kapal. Hal tersebut untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan ketika petugas melakukan pemeriksaan muatan kapal.

Setelah dipastikan kelengkapan surat dan muatan tidak bermasalah, kapal tersebut diizinkan untuk kembali melintas. Kemudian KN 4801 kembali menyisir perairan hingga ke Selat Durian.

"Biasanya di lokasi ini juga cukup ramai. Banyak kapal-kapal yang melintas," kata Faruq.

KN 4801 pun kembali memeriksa sebuah kapal bermuatan barang-barang campur. Kapal itu juga sempat tidak berhenti walaupun telah diberi peringatan angin gauk. Namun setelah dicek seluruh kelengkapannya, kapal tersebut tidak bermasalah.

"Prosedurnya seperti itu, bisa misal kita merapat ke kapal lain atau kapal itu kita minta merapat. Pemeriksaan pengecekan semua dilakukan. Kalau misal tidak ditemukan pelanggaran kita lepas. Kalau memang ada dugaan pelanggaran, kita bisa bawa ke pangkalan terdekat," ucap Faruq. (dhn/Hbb)

 Bakamla Rutin Latihan Menembak di Laut untuk Antisipasi Situasi Berbahaya

Bakamla Rutin Latihan Menembak di Laut untuk Antisipasi Situasi BerbahayaMenjaga keamanan laut Indonesia menjadi salah satu tugas berat yang diemban Badan Keamanan Laut (Bakamla). Dalam menjalankan tugasnya, personel Bakamla pun sangat mungkin menghadapi situasi berbahaya sehingga diperlukan keahlian tertentu.

Salah satunya yaitu keahlian menembak yang harus dimiliki para personel. Ketika detikcom ikut serta dalam operasi rutin Kapal Negara (KN) 4801 Bintang Laut, latihan rutin menembak juga dilakukan di sela-sela operasi.

"Untuk meningkatkan profesionalisme ABK kita rutin melaksanakan bermacam-macam latihan. Nah salah satunya bagaimana menembak kualifikasi. Kita laksanakan baik pada saat itu di pangkalan, itu kita ada sasaran tembak di pangkalan atau dekat dermaga kita," kata komandan KN 4801 Letnan Kolonel Maritim Faruq Dedy Subiantoro usai latihan menembak dari atas kapal di Selat Durian, Pulau Bintan, Kamis (4/1/2016).

"Kemudian pada saat kita berlayar pun kita upayakan untuk kita melaksanakan latihan penembakan juga dengan sasaran yang kita lemparkan ke laut," ucap Faruq menambahkan.

Faruq mengatakan latihan menembak diperlukan agar para anak buah kapal (ABK) selalu siaga dalam menghadapi kondisi apapun. Pasalnya, ketika melakukan pemeriksaan kapal-kapal di perairan Indonesia bisa saja muncul perlawanan.

"Seyogyanya seluruh ABK mempunyai kemampuan di dalam membidik terhadap sasaran untuk mengantisipasi daripada hal-hal yang tidak diinginkan pada saat kita melaksanakan pemeriksaan terhadap kapal yang akan diperiksa. Karena tidak menutup kemungkinan mereka melakukan perlawanan pada saat kita melakukan pemeriksaan," jelas Faruq.

Namun Faruq menekankan bahwa kemampuan menembak tersebut tidak asal digunakan. Menembak hanya dilakukan pada situasi yang sangat genting serta atas analisis dan perintah dari komandan. (dhn/Hbb)

 Situasi Ini Memungkinkan Bakamla Kontak Senjata Saat Jaga Keamanan Laut

Kemampuan menggunakan senjata tidak sembarangan bisa dimiliki. Namun di saat-saat tertentu penggunaan senjata diperlukan untuk perlindungan diri.

Seperti yang rutin dilakukan Badan Keamanan Laut (Bakamla) dengan menggelar latihan menembak. Situasi ketika melakukan penjagaan dan pemeriksaan kapal-kapal di laut sangat memungkinkan para anggota mendapatkan perlawanan.

"Jadi tidak sembarangan untuk menggunakan senjata, kita harus melaksanakan itu sesuai dengan prosedur. Artinya apabila kemungkinan-kemungkinan yang membahayakan terhadap kapal kita atau personel kita baru kita bisa melaksanakan penembakan," kata komandan KN 4801 Letnan Kolonel Maritim Faruq Dedy Subiantoro usai latihan menembak dari atas kapal di Selat Durian, Pulau Bintan, Kamis (4/1/2016).

Faruq memberi contoh penggunaan senjata ketika melakukan pemeriksaan kapal-kapal di laut. Situasi yang mungkin saja terjadi seperti ketika adanya perlawanan dari kapal lain saat pemeriksaan.

"Jika salah satu contohnya, mereka membawa senjata api, sudah jelas-jelas membawa senjata api dan mengarahkan senjata api pada saat kita memeriksa, kita bisa melakukan tembakan peringatan terlebih dahulu," ucapnya.

Apabila kapal yang diperiksa tersebut tak juga mengindahkan tembakan peringatan dan malah semakin menjadi-jadi, maka Bakamla dapat mengarahkan tembakan ke kapal. Namun jika tetap melawan, maka anggota dapat langsung melumpuhkan awak kapal.

"Jika mereka melaksanakan penembakan, maka kita bisa melakukan penembakan pertama yaitu terhadap bagian-bagian yang tidak membahayakan personel seperti di buritan kapal atau di haluan kapal, dengan harapan mereka menghentikan kegiatan mereka. Demikian. Kecuali mereka kalau memang sangat urgent sekali dan mereka terus melakukan perlawanan kita dengan terpaksa melumpuhkan mereka dengan senjata," kata Faruq.

Untuk menghadapi situasi seperti itu, KN 4801 pun dilengkapi 2 jenis senjata. Senjata pertama dengan kaliber besar yaitu jenis mitraliur 12,7 mm. Sedangkan untuk senjata ringan yang bersifat personal yaitu senjata yang terkenal dengan 'kebandelannya' AK-47 kaliber 7,62 mm. (dhn/jor)
 

  detik  

RI Punya Cadangan 'Harta Karun' Nuklir

Ramah Lingkungan http://dmc.kemhan.go.id/images/uploads/989822kapal-angkut-tank-3.jpgSelain uranium, ada jenis nuklir lain yang dapat dijadikan sumber energi, yaitu thorium. Limbah radio aktif yang dihasilkan oleh thorium lebih rendah dibandingkan uranium. Di Indonesia, diperkirakan terdapat cadangan thorium hingga 280.000 ton.

"Potensi thorium di Indonesia, kalau uranium 70.000 ton, thorium 3-4 kali lipatnya, 210.000-280.000 ton. Itu kisaran, belum sampai kita dalami," kata Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto, dalam konferensi pers di Kantor BATAN, Jakarta, Kamis (4/2/2016).

Cadangan thorium sebanyak 280.000 ton tersebut tersebar di Pulau Bangka, Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Sulawesi Barat (Sulbar). "Thorium ada di daerah dimana ditemukan unsur tanah jarang, ada di pasir monasit, biasanya ada di Vietnam, Semenanjung Malaysia, Bangka, Kalbar, Kalteng, dan di Mamuju Sulbar," ujar Djarot.

Namun cadangan ini masih belum dapat dihitung menjadi energi listrik. "Sulit untuk diukur berapa jika dikonversi menjadi listrik," dia menambahkan.

Saat ini belum ada satu pun negara di seluruh dunia yang sudah menggunakan thorium untuk pembangkit listrik, teknologinya masih dalam tahap penelitian. Thorium juga tak bisa berdiri sendiri sebagai bahan bakar, harus dicampur dengan uranium.

"Belum ada yang menerapkan PLTT (Pembangkit Listrik Tenaga Thorium) secara full. Thorium tidak bisa berdiri sendiri tanpa uranium. Dia butuh uranium sebagai inisiator. Tapi ini sudah diteliti dan masih diteliti banyak negara. Tantangannya bagaimana membuatnya siap menjadi bahan bakar," paparnya.

Thorium masih membutuhkan penelitian yang panjang, belum dapat segera digunakan. Tetapi thorium memang sumber energi yang prospektif untuk masa depan. Biaya listrik yang dihasilkannya diperkirakan hanya US$ 6-8 sen/kWh. Karena itu Indonesia harus mulai mengembangkannya.

"Listriknya kira-kira US$ 6-8 sen per kWh. Relatif lebih murah dibanding batubara. Ini sangat menjanjikan untuk masa depan. Indonesia harus melakukan penelitiannya dan itu tugas BATAN," tutupnya.
Apa Kelebihannya Dibanding Uranium? Indonesia memiliki cadangan nuklir jenis thorium hingga 280.000 ton. Dibandingkan uranium, thorium memiliki beberapa kelebihan, terutama dari sisi dampak lingkungannya.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot Sulistio Wisnubroto, mengungkapkan bahwa 90% bahan bakar thorium akan bereaksi menghasilkan listrik, sedangkan uranium hanya 3%-5%, sehingga limbah radio aktif yang dihasilkan thorium jauh lebih kecil.

"Limbahnya lebih sedikit dari uranium, tapi memang punya radio aktif. PLTN 1000 MW itu menghasilkan 300 meter kubik limbah radio aktif per tahun, 5% limbahnya usianya panjang. Kalau thorium yang limbahnya usianya panjang lebih rendah, kurang dari 5%, di bawah 300 meter kubik juga," kata Djarot dalam konferensi pers di Kantor BATAN, Jakarta, Kamis (4/2/2016).

Thorium juga tidak menghasilkan plutonium pada proses reaksi nuklirnya sehingga tidak dapat disalahgunakan untuk tujuan persenjataan. "Ini tidak bisa dimanfaatkan sebagai senjata. Lebih aman," ujarnya.

Selain itu, listrik yang dihasilkan thorium relatif murah, kurang lebih US$ 6-8 sen/kWh, sama dengan listrik dari PLTN berbahan bakar uranium. "US$ 6-8 sen per kWh. Relatif lebih murah dibanding batubara. Ini sangat menjanjikan untuk masa depan," tukas dia.

Pakar thorium dari International Atomic Energy Agency (IAEA), Matt Krauser, menambahkan bahwa cadangan thorium jauh lebih besar dibandingkan uranium, kurang lebih 3-4 kali lipat cadangan uranium di seluruh dunia. "Ketersediaannya lebih besar dari uranium, 3-4 kali lipat," ucapnya.

Thorium juga lebih stabil dibanding uranium, hanya saja penggunaannya lebih sulit. "Dari sisi sifat fisiknya jauh lebih bagus dari uranium. Titik leburnya lebih tinggi, memang lebih rumit pengolahannya, tapi lebih stabil sifatnya. Thorium bisa dimanfaatkan dalam waktu lebih panjang," tukas dia.

Biaya untuk pengembangan dan penggunaan thorium kurang lebih sama dengan uranium, tergantung pada teknologi yang digunakan. "Biayanya hampir sama dengan uranium, sekarang tergantung teknologi yang akan dipilih," tutupnya.
RI Punya 280.000 Ton Thorium http://images.detik.com/visual/2016/01/04/7e68fc70-172c-4f41-842d-d7532220f888_169.jpg?w=500&q=90gIndonesia kaya akan cadangan nuklir. Selain memiliki cadangan 70.000 ton uranium, Indonesia juga memiliki 210.000-280.000 ton thorium. Thorium yang tergolong nuklir ramah lingkungan merupakan salah satu sumber energi alternatif yang sedang dilirik Indonesia. Namun, ada sejumlah tantangan dalam mengembangkan thorium.

Pertama, thorium tidak dapat berdiri sendiri sebagai bahan bakar. Thorium membutuhkan uranium 235 agar dapat dikonversi menjadi uranium 232 dan siap digunakan sebagai sumber energi. Maka pengembangan thorium mau tak mau harus lebih dulu dimulai dengan pengembangan uranium.

"Dalam road map BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional), yang pertama kita gunakan uranium baru setelah itu thorium. Thorium itu tidak bisa langsung dibakar. Thorium harus dibakar dengan uranium 235, kemudian thorium berubah menjadi uranium 232. Jadi thorium itu harus dijadikan uranium dulu," papar Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, dalam konferensi pers di Kantor BATAN, Jakarta, Kamis (4/2/2016).

Kedua, pemanfaatan thorium untuk energi masih membutuhkan waktu yang lama. Penelitian sudah dilakukan di berbagai negara, namun belum pernah ada negara yang secara penuh mengaplikasikan secara komersial.

"Masih butuh beberapa dekade sampai PLTN berbasis thorium dapat terwujud. "Butuh waktu untuk pengembangan thorium. Kita prioritaskan uranium, baru setelah itu thorium," ujar Djarot.

Ketiga, adalah kurangnya dana untuk penelitian dan pengembangan thorium. Untuk pendataan potensi thorium saja dibutuhkan Rp 3 miliar per tahun. Lalu untuk penelitiannya dari awal hingga akhir diperkirakan dibutuhkan dana US$ 299 juta atau Rp 3,9 triliun.

Meski begitu, penelitian dan pengembangan harus terus dilakukan karena thorium merupakan sumber energi masa depan yang sangat menjanjikan, hanya saja butuh waktu, komitmen, dan upaya keras.

"Indonesia harus melakukan penelitiannya dan itu tugas BATAN. Kendalanya adalah dana. Kita fokus mendata ada dimana saja thorium di Indonesia, butuh Rp 3 miliar per tahun untuk cari potensinya. Kemudian untuk penelitian sampai jadi biayanya mungkin US$ 299 juta," tutupnya.
Pengembangan Thorium Butuh Rp 3,9 T Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) memperkirakan ada sekitar 210.000-280.000 ton thorium yang tersimpan di perut bumi Indonesia. Thorium merupakan salah satu jenis nuklir di samping uranium, namun limbah radio aktif yang dihasilkannya jauh lebih rendah dibanding uranium.

Tetapi thorium belum dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik dalam waktu dekat, masih butuh penelitian panjang untuk mengembangkannya hingga siap untuk digunakan.

Salah satu kendala yang dihadapi BATAN untuk penelitian dan pengembangannya adalah ketiadaan dana. Untuk pemetaan potensi thorium saja BATAN butuh Rp 3 miliar per tahun. Penelitian thorium hingga siap digunakan membutuhkan dana hingga US$ 299 juta atau Rp 3,9 triliun.

"Kita fokus mendata ada dimana saja thorium di Indonesia, butuh Rp 3 miliar per tahun untuk cari potensinya. Kemudian untuk penelitian sampai jadi biayanya mungkin US$ 299 juta," kata Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, dalam konferensi pers di Kantor BATAN, Jakarta, Kamis (4/2/2016).

Saat ini, Djarot mencoba mencari pinjaman lunak melalui kerjasama antar pemerintah (Government to Government/G to G) untuk membiayai penelitian dan pengembangan thorium. Salah satu negara yang berminat membiayainya Rusia. "Yang bisa kita lakukan G to G, yang tertarik Rusia, pakai soft loan," ucapnya.

Dia menambahkan, pemanfaatan thorium untuk energi masih membutuhkan waktu yang lama hingga beberapa dekade ke depan. Penelitian sudah dilakukan di berbagai negara, namun belum pernah ada negara yang secara penuh mengaplikasikan secara komersial.

"Masih butuh beberapa dekade sampai PLTN berbasis thorium dapat terwujud. "Butuh waktu untuk pengembangan thorium. Kita prioritaskan uranium, baru setelah itu thorium," tutupnya.
Belum Punya Teknologinya Indonesia kaya akan cadangan nuklir. Selain memiliki cadangan 70.000 ton uranium, Indonesia juga memiliki 210.000-280.000 ton thorium. Thorium yang tergolong 'nuklir ramah lingkungan' merupakan salah satu sumber energi alternatif yang sedang dilirik Indonesia.

Namun, pengembangan thorium terkendala beberapa hal, salah satunya adalah ketiadaan teknologi. Mengubah teori pemanfaatan thorium untuk energi menjadi sebuah kenyataan masih membutuhkan waktu yang lama. Belum ada satu pun negara yang berhasil secara penuh mengaplikasikan Pembangkit Listrik Tenaga Thorium (PLTT) secara komersial.

"Masih butuh beberapa dekade sampai PLTN berbasis thorium dapat terwujud. Butuh waktu untuk pengembangan thorium," kata Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, dalam konferensi pers di Kantor BATAN, Jakarta, Kamis (4/2/2016).

Djarot menuturkan, Amerika Serikat (AS) sebenarnya sudah mulai mengembangkan thorium pada 1965, namun program pengembangan thorium dihentikan. Pasalnya, AS lebih memilih uranium karena reaksi fisi uranium dapat menghasilkan plutonium yang dibutuhkan untuk pengembangan persenjataan berbahan baku nuklir.

Kemudian pada 1967 Jerman berinisiatif mengembangkan thorium dengan teknologi yang sama, diikuti oleh India. Belakangan China dan Jepang juga ikut mengembangkan thorium. Tapi sampai sekarang penelitian terhadap thorium masih berlangsung di berbagai negara, belum selesai.

"Yang harus dibangun adalah infrastruktur pendukung, termasuk bagaimana melakukan fabrikasi serta siklus daur bahan bakarnya. Tugas BATAN adalah meneliti, dan mengkaji kegiatan tersebut," paparnya.

Meski banyak tantangan, penelitian dan pengembangan harus terus dilakukan karena thorium merupakan sumber energi masa depan yang sangat menjanjikan, hanya saja butuh waktu, komitmen, dan upaya keras. "Indonesia harus melakukan penelitiannya dan itu tugas BATAN," pungkas Djarot.
Rusia Tertarik Kembangkan Thorium di RI Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) memperkirakan ada sekitar 210.000-280.000 ton thorium yang tersimpan di perut bumi Indonesia. Thorium merupakan salah satu jenis nuklir di samping uranium, namun limbah radio aktif yang dihasilkannya jauh lebih rendah dibanding uranium.

Salah satu tantangan yang dihadapi BATAN untuk penelitian dan pengembangannya adalah ketiadaan dana. Untuk pemetaan potensi thorium saja BATAN butuh Rp 3 miliar per tahun. Penelitian thorium hingga siap digunakan membutuhkan dana hingga US$ 299 juta atau Rp 3,9 triliun.

Namun, Rusia rupanya tertarik untuk membiayai dan mengembangkan thorium di Indonesia melalui kerjasama antar pemerintah atau government to government (G to G).

"Yang bisa kita lakukan G to G, yang tertarik Rusia, pakai soft loan," ujar Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, dalam konferensi pers di Kantor BATAN, Jakarta, Kamis (4/2/2016).

Dia menambahkan, pemanfaatan thorium untuk energi masih butuh waktu hingga beberapa dekade ke depan. Penelitian sudah dilakukan di berbagai negara, namun belum pernah ada negara yang secara penuh mengaplikasikan secara komersial.

"Masih butuh beberapa dekade sampai PLTN berbasis thorium dapat terwujud. "Butuh waktu untuk pengembangan thorium. Kita prioritaskan uranium, baru setelah itu thorium," tutupnya.
Berbeda dengan Uranium, Thorium Tak Dapat Dikembangkan untuk Senjata Nuklir http://dmc.kemhan.go.id/images/uploads/989822kapal-angkut-tank-3.jpgSelain uranium, sebenarnya ada jenis nuklir lain yang dapat dijadikan sumber energi, yaitu thorium. Berbeda dengan uranium, thorium tidak menghasilkan plutonium pada proses reaksi nuklirnya.

Alhasil, thorium tak dapat disalahgunakan untuk tujuan persenjataan, dan juga aman sebagai sumber energi.

"Ini tidak bisa dimanfaatkan sebagai senjata. Lebih aman," ujar Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto, dalam konferensi pers di Kantor BATAN, Jakarta, Kamis (4/2/2016).

Meski demikian, thorium tidak dapat berdiri sendiri sebagai bahan bakar. Thorium membutuhkan uranium 235 agar dapat dikonversi menjadi uranium 232 dan siap digunakan sebagai sumber energi. Maka pengembangan thorium mau tak mau harus lebih dulu dimulai dengan pengembangan uranium.

"Dalam roadmap BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional), yang pertama kita gunakan uranium baru setelah itu thorium. Thorium itu tidak bisa langsung dibakar. Thorium harus dibakar dengan uranium 235, kemudian thorium berubah menjadi uranium 232. Jadi thorium itu harus dijadikan uranium dulu," jelas Djarot.

Pengembangan thorium untuk bahan bakar pembangkit listrik sebenarnya sudah dimulai di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1965. AS memanfaatkan thorium dalam bentuk cair yang disebut Molten Salt Reactor (MSR). MSR telah beroperasi selama 20.000 jam (4 tahun) tanpa ada masalah.

Namun, program tersebut dihentikan oleh AS yang lebih memilih uranium karena reaksi fissinya dapat menghasilkan plutonium, yang dibutuhkan untuk pengembangan persenjataan berbahan baku nuklir.

Pemanfaatan thorium untuk energi masih membutuhkan waktu yang lama hingga beberapa dekade ke depan. Penelitian sudah dilakukan di berbagai negara, namun belum pernah ada negara yang secara penuh mengaplikasikan secara komersial.

"Masih butuh beberapa dekade sampai PLTN berbasis thorium dapat terwujud. Butuh waktu untuk pengembangan thorium. Kita prioritaskan uranium, baru setelah itu thorium," pungkasnya. (hns/hns)

  detik  

Jumat, 05 Februari 2016

Kepala Bappenas Minta Para 'Haters' Kereta Cepat Lihat TMII

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Sofyan Djajil meminta para pengkritik atau 'haters' kereta cepat Jakarta-Bandung untuk belajar dari sejarah pendirian Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur. Kenapa?

Saat mulai dibangun pada era Presiden Soeharto, Sofyan menyebut banyak pihak melayangkan penolakan keras namun kehadirannya, kemudian dipuji dan dinilai bermanfaat bagi masyarakat setelah pembangunan fisik tuntas dilaksanakan.

"Bahwa infrastruktur jangan mikir hari ini, kontroversi wajar. Coba kalau dulu nggak ada inisiasi Taman Mini, nggak bakal ada sekarang, orang sekarang apresiasi Taman Mini. Itu inisiasi dulu Bu Tien," katanya ditemui di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (5/2/2016).

Sofyan melanjutkan, masih banyak proyek-proyek yang sebelumnya mendapat penolakan keras namun manfaatnya baru terasa setelah puluhan tahun dibangun.

"Coba lihat jalan layang Kuningan oleh Ali Sadikin. Orang pada ribut dulu, kalau nggak ada jalan Kuningan, kayak bagaimana macetnya. Saya hanya bicara prospek ke depan, jangan sampai hidup di negara yang chaotic (semrawut)," tutupnya.

 Kita Harus Lihat ke Depan

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Sofyan Djajil meminta polemik pembangunan kereta cepat diakhiri. Ia mengungkapkan, alasan utama dibutuhkannya pembangunan kereta cepat rute Jakarta-Bandung sepanjang 142 kilometer (km).

Kereta cepat dibangun untuk mempersiapkan transportasi masa mendatang karena ke depan, transportasi massal yang cepat sangat diperlukan untuk mendukung pergerakan penumpang.

"Bayangkan 30 tahun yang akan datang, 50 tahun yang akan datang, Jawa ini akan menjadi kota pulau, Jakarta dan Bandung dalam perspektif ini kita harus lihat ke depan," katanya ditemui di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (5/2/2016).

Sofyan menilai, dirinya masih menerima alasan masyarakat yang kontra terhadap kereta cepat jika melihatnya dari aspek keselamatan, namun, bukan memperdebatkan urgensi kereta cepat untuk masa sekarang.

"Kalau orang memperdebatkan aspek keselamatan itu memang perlu, tapi bahwa bangsa kita ini memang membutuhkan, jangankan Jakarta-Bandung, tapi Jakarta-Surabaya juga diperlukan," tandasnya.

Jika hanya berorientasi untuk jangka pendek, Sofyan menilai ribut-ribut kereta cepat tak akan selesai.

"Bayangkan Jawa ini akan jadi kota pulau pada 2030. Semua kota itu akan tersambung menjadi satu, nah saat itu kita memerlukan kereta cepat bukan hanya satu, mungkin 2, mungkin 3 dalam perspektif seperti itu. Tapi sekarang orang melihat kan hari ini, maka terjadi perdebatan, itu saya pikir begitu," tutupnya. (feb/feb)
 

  detik  

PTDI Ekspor Badan Helikopter ke Airbus Prancis

PT Dirgantara Indonesia (Persero) (PTDI) hari ini kembali mengekspor fuselage (badan) terasembeli yang kelima, untuk komponen upper dan lower fuselage helikopter H225/H225M (Military) yang telah terintegrasi ke Airbus Helicopters, Prancis.

Pengiriman badan helikopter H225/H225M merupakan pengiriman ke kelima dari total sebanyak 125 fuselage yang harus dikirimkan oleh PTDI hingga akhir kontrak di 2025.

Sejak tahun 2008 lalu, Eurocopter yang saat ini dikenal dengan Airbus Helicopters telah mempercayakan PTDI sebagai mitra pengembangan produksi untuk upper dan lower fuselage serta tailboom (ekor). Sesuai dengan rencana, PTDI akan memasok 125 fuselage dan 125 tailboom untuk helikopter H225/H225M dalam jangka waktu antara 10-16 tahun.

"Helikopter H225/H225M yang sebelumnya dikenal dengan nama EC225/EC725, merupakan helikopter generasi baru dari helikopter NAS332 Super Puma," Kata Manager Program MK II Airbus Helicopters, Yulianto Soekarno dalam siaran pers, Jumat (5/2/2016).

Sebelum mampu menyerahkan badan helikopter H225/H225M secara terasembli, PTDI sudah menyerahkan 45 unit tailboom, 10 unit upper fuselage dan 4 unit fuselage.
PTDI telah sanggup mengerjakan pesanan fuselage terintegrasi dalam jangka waktu 6 minggu sehingga dalam jangka waktu 1,5 bulan, PTDI mampu mengirimkan 1 fuselage terintegrasi ke Prancis.

"PTDI mampu bukan hanya merakit saja karena PTDI mampu membuat dari raw material sampai barang jadi," tambahnya.

Proses awal dimulai dari Kawasan Produksi (KP) II di PTDI ketika raw material dibentuk menjadi single part di Divisi Detail Part Manufacture Direktorat Produksi. Masih di kawasan yang sama juga, dibuat komponen oleh bagian machining yang kedua. Proses tersebut akan di-assembly di hanggar final assembly helikopter H225/H225M Kawasan Produksi (KP) IV PTDI.

"Dari fasilitas produksi KP II, mulai dari pengerjaan, ada komponen dari sheet metal dan ada komponen dari machining. Kedua komponen tersebut masuk di KP IV untuk dirakit menjadi fuselage dan tailboom kemudian masuk proses pengepakan", imbuh Yulianto.

Fuselage dikirimkan ke pabrik Airbus Helicopters di Perancis melalui proses shipping dengan waktu pengiriman selama 5 minggu. Proses persiapan pengiriman dilakukan dengan cara membungkus bagian fuselage helikopter dengan menggunakan aluminium foil yang telah direkatkan menggunakan sealer yang kemudian dimasukan ke dalam kontainer. Hal ini dilakukan untuk mencegah korosi air laut selama proses pengiriman.

Sedangkan, karyawan PTDI yang menangani pengerjaan komponen H225/H225M ini terdiri dari 220 orang dengan latar pendidikan S1, D3 dan SMK. Dari total pekerja yang terlibat, sebanyak 80% adalah tenaga-tenaga muda.
Pihak Airbus Helicopters juga telah menempatkan personelnya di PTDI, Bandung sejak program pengembangan ini dimulai. Nilai kontrak dari Airbus Helicopters yang sudah dipegang oleh PTDI untuk komponen-komponen H225/H225M adalah US$ 45 juta.

PTDI merupakan salah satu pemasok komponen H225/H225M, disamping beberapa perusahaan dari Spanyol dan Timur Tengah. Komponen dari PTDI memang sudah sangat ditunggu oleh Airbus Helicopters sehingga PTDI harus mampu menjadi pemasok komponen kelas dunia.

"PTDI adalah salah satu pemasok industri raksasa di dunia seperti Airbus commercial, Airbus Defence & Space dan Airbus Helicopters yang pesawat-pesawatnya sudah terbang di berbagai Negara di dunia (pemasok global)," ujar Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo.

Fuselage yang nantinya akan tiba di Perancis selanjutnya diintegrasikan serta dilengkapi dengan engine dan sistem terbang. Rencananya, helikopter tersebut akan dikirimkan untuk customer di Eropa.

"PTDI berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas produk demi kepuasan konsumen di pasar global," tambahnya. (feb/feb)

  detik  

PTDI Ekspor 40 Unit Pesawat

Terlaris CN235Produksi pesawat di PT DI

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) tercatat telah mengekspor 40 unit pesawat baling-baling tipe CN235 dan NC212 ke beberapa negara, hingga akhir 2015 lalu.

Dari data ekspor PTDI, tercatat pesawat jenis CN235 sebagai produk yang paling laris. PTDI telah mengekspor sebanyak 35 unit pesawat CN235 kepada pemesannya di luar negeri, sisanya adalah NC212.

Negara yang menjadi pelanggan produk PTDI adalah seperti Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Pakistan, Filipina, hingga Uni Emirat Arab.

"Ada Korea, Malaysia, Thailand, Pakistan dan Filipina," kata Direktur Produksi PTDI, Arie Wibowo kepada detikFinance, seperti dikutip Jumat (5/2/2016).

Selama menjual pesawat ke luar negeri, Arie mengaku, para konsumen puas terhadap produk yang dikembangkan dan dirakit di PTDI, Bandung.

"Tidak ada yang pernah komplain mengenai reliability dan performance pesawat terbang kami. Namun kami memang perlu mengoptimalkan support services kami," sebutnya.

Untuk pengembangan pesawat tersebut, PTDI menggandeng pihak Airbus Group. Meski demikian, PTDI tetap andil dalam pembuatan komponen hingga sertifikasi sehingga BUMN pesawat ini tidak sekedar merakit pesawat.

"Khususnya CN235 dan NC212 itu kita membuat komponen airframe (struktur) keseluruhannya sampai perakitan dan melakukan integrasi sistem ke dalam pesawat kemudian melakukan ground and flight testing, sertifikasi kemudian dilakukan acceptance oleh customer," ujarnya.

Dari catatan PTDI, total pengiriman pesawat PTDI untuk pasar lokal dan internasional mencapai 134 unit, sedangkan helikopter PTDI telah mengirimkan 219 unit kepada pemesannya. (feb/wdl)

 Korsel Pengguna Terbanyak Pesawat Buatan PTDI
Korsel Pengguna Terbanyak Pesawat Buatan PTDIKorea Selatan tercatat sebagai pengguna terbesar produk pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk pasar luar negeri. Negeri K-Pop telah memakai 12 unit pesawat jenis CN235.

Konsumen terbesar berikutnya adalah Malaysia, dengan penggunaan 8 unit CN235, dan disusul Thailand 7 unit (CN235 dan NC212), Uni Emirat Arab 7 unit CN235, Pakistan 5 unit CN235, dan Brunei Darussalam 1 unit CN235.

Direktur Produksi PTDI, Arie wibowo menyebut, produk NC 212 dan CN 235 sebagai pesawat buatan PTDI yang paling laku di pasar internasional.

Keunggulan yang ditawarkan membuat militer beberapa negara menjatuhkan pilihan untuk membeli CN235 hingga NC212.

Salah satu keunggulannya ialah mempunyai ramp door di belakang untuk memudahkan loading dan unloading barang/cargo. Selain itu, pesawat PTDI bisa dipakai untuk berbagai misi atau fungsi (multiplatform).

"Bisa landing di berbagai tipe runway kemudian reliable apabila di maintain dengan benar dan tepat waktu, serta ekonomis untuk operational cost-nya," kata Arie kepada detikFinance, Jumat (5/1/2016). (feb/wdl)
 

  detik  

Metro Kapsul

♙Transportasi Massal Masa Depan Made in Subang http://data.tribunnews.com/foto/bank/images/Fotona-Heli-Apache.jpgMetro Kapsul (dok. PT Trekka)

PT Teknik Rekayasa Kereta Kapsul (Trekka), pada Mei 2016 akan memperkenalkan moda transportasi massal berbasis kereta bernama Metro Kapsul. Metro Kapsul sendiri sebetulnya pernah dipresentasikan kepada Joko Widodo, saat masih menjabat Gubernur DKI Jakarta pada 2014 silam.

Direktur Operasi Trekka, Leonnardo Feneri, mengungkapkan, pihaknya saat ini tengah menyelesaikan tahap produksi Metro Kapsul sekaligus treknya sebelum ditawarkan pada pemerintah pusat, dan sejumlah kepala daerah sebagai moda transportasi publik masa depan.

"Saat Pak Jokowi berkunjung ke pabrik kita di Subang pada April 2014 saat masih Gubernur Jakarta itu masih mock up (tampilan). Sekarang kita kebut pengerjaan untuk 2 kapsul sebagai pengujian sekaligus track-nya," kata Leonnardo ditemui di Restoran Ramen Sanpachi, Jakarta Selatan, Kamis (4/2/2016).

Menurutnya, pihaknya saat ini telah menggelontorkan investasi Rp 20 miliar demi keberhasilan pengembangan transportasi massal tersebut.

"Kita jual teknologi dan konsepnya, saat kita presentasikan ke Jokowi dulu kan masih prototype, tapi pemerintah nggak mau beli barang yang belum terjamin dengan pakai uang rakyat. Kita ingin yakinkan bahwa kita anak bangsa sendiri bisa membuat transportasi publik sendiri," jelas Leonnardo.

Dia mengungkapkan, semua pengembangan dikerjakan oleh insinyur dalam negeri dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Selain itu, konten lokal pada Metro Kapsul sudah mencapai 90%.

"Semua hampir pakai konten lokal, hanya motor dan line listrik saja yang masih harus dibuat di luar negeri," ujar Leonnardo.

Pihaknya terus mengebut pengerjaan rel dan kapsulnya. Purwarupa track beton yang sudah dibangun saat ini di Subang memiliki panjang 290 meter dengan 2 unit kapsul.

Lebih jauh, Metro Kapsul merupakan transportasi publik berbentuk kapsul yang berjalan di atas track khusus dari beton dengan roda ban karet, namun digerakkan dengan tenaga listrik seperti halnya kereta commuter.

Track khusus tersebut umumnya dibuat melayang (elevated) dengan ketinggian 6 meter di atas tanah atau lebih tinggi yang disesuaikan.

Track dibuat untuk 2 arah dengan masing-masing lebar track 2,2 meter, sementara diameter tiang berdiameter 1 meter di setiap jarak 25 meter.

Dengan lebar kapsul 2,2 meter dan panjang 9 meter, kereta made in Subang ini sendiri bisa mengangkut 50 penumpang sekali jalan. Dalam sekali perjalanan, satu setidaknya ada 4-5 metro kapsul yang berjalan beriringan sehingga bisa mengangkut setidaknya 200-250 penumpang.

"Itu bisa disesuaikan jumlah kapsulnya. Bisa 10 kapsul sekali perjalanan. Kapsul-kapsul tersebut berjalan terpisah tanpa menyambung," tutup Leonnardo. (feb/feb)

Wujud Metro Kapsul Made in Subang

Pengembang transportasi publik Metro Kapsul, PT Teknik Rekayasa Kereta Kapsul (Trekka), menargetkan bisa merampungkan pembangunan 2 unit kapsul dan treknya, sebelum ditawarkan ke pemerintah pusat dan pemerintah daerah (Pemda) pada Mei mendatang.

Direktur Operasi Trekka, Leonnardo Feneri mengungkapkan, Metro Kapsul seperti bus dengan 8 roda namun digerakkan dengan listrik dengan trek khusus di atas beton layang (elevated) di ketinggian 6 meter. Sementara tenaga penggeraknya adalah listrik seperti halnya kereta commuter.

Track dibuat untuk 2 arah dengan masing-masing lebar track 2,2 meter, sementara tiang berdiameter 1 meter dibangun setiap jarak 25 meter. Di kedua track, dipisahkan jarak selebar 80 cm.

Dengan lebar kapsul 2,2 meter dan panjang 9 meter, satu kapsul made in Subang ini sendiri bisa mengangkut 50 penumpang sekali jalan. Dalam sekali perjalanan, satu setidaknya ada 4-5 Metro Kapsul yang berjalan beriringan sehingga bisa mengangkut setidaknya 200-250 penumpang.

"Metro Kapsul dibuat sebagai angkutan terintegrasi dengan busway, MRT, LRT, dan sebagainya. Jadi ini bisa jadi pelengkap transportasi yang sudah ada. Bisa saja satu rangkaian 10 kapsul sehingga penumpang terangkut lebih banyak," kata Leonnardo ditemui di Restoran Ramen Sanpachi, Jakarta Selatan, Kamis (4/2/2016).

Dia mengungkapkan, Metro Kapsul dikembangkan para insinyur dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dari pabrik di Subang, Jawa Barat.

"Hampir semua bagian dari program pengujian ini dibuat dari komponen lokal hingga 90%. Hanya motor listrik, kompresor, dan sensor saja yang harus dibuat di luar. Dikembangkan sejak 2007," jelasnya.

Lebih jauh, menurut Leonnardo, Metro Kapsul berjalan dengan kecepatan normal 40 km per jam dengan kecepatan maksimum hingga 80 km per jam. Metro Kapsul ini direncanakan berhenti pada setiap halte dengan jarak antar halte sejauh 1 km.

Diklaim Lebih Unggul Dibandingkan MRT dan LRT

Setelah lama 'menghilang' pasca diperkenalkan pertama kali pada April 2014, tepatnya saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih menjabat Gubernur DKI Jakarta, Metro Kapsul ditargetkan akan uji prototipe pada Mei mendatang. Direktur Operasi PT Teknik Rekayasa Kereta Kapsul (Trekka), Leonnardo Feneri mengungkapkan, Metro Kapsul memiliki sejumlah keunggulan dibanding transportasi publik lainnya seperti Light Rail Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT), hingga bus Trans Jakarta.

"Pertama biaya pembangunannya lebih murah dibanding transportasi massal lainnya. Hal ini karena Metro Kapsul lebih ringan dengan berat hanya 5 ton per kapsul, sehingga hanya butuh tiang penyangga dengan diameter 1 meter," terang Leonnardo ditemui di Restoran Ramen Sanpachi, Jakarta Selatan, Kamis (4/2/2016).

Menurutnya, sesuai perhitungan biaya konstruksi dan desain awal, biaya pembangunan Metro Kapsul maksimal diperkirakan Rp 200 miliar per kilometer. Selain lintasan melayang (elevated) dari beton, investasi tersebut sudah mencakup 5 unit Metro Kapsul sekaligus halte pemberhentiannya yang memang dibangun setiap 1 kilometer.

"Untuk setiap 1 kilometer, biaya pembangunan MRT sebesar Rp 900 miliar, LRT menelan biaya 500 miliar, sementara Metro Kapsul Rp 200 miliar," ungkap Leonnardo.

Biaya konstruksi yang lebih murah ini karena Metro Kapsul yang lebih ringan, sehingga hanya perlu tiang diameter 1 meter untuk dua lintasan dua arah selebar masing-masing 2,2 meter.

"Kalau diameter LRT saja tiangnya 2x2 meter dengan beton tanpa rongga. Kita satu meter dengan rongga. Sehingga ini membuat lahan yang dipakai sangat efisien, bisa ditempatkan di trotoar atau tengah jalan. Jarak antar tiang 25 meter," paparnya.

Selain efisien dari sisi konsumsi lahan dan biaya konstruksi, daya tampung penumpang yang bisa diangkut bisa mencapai 19.000 orang per jam. Sementara pesaing terdekatnya, LRT, menampung 16.000 orang per jam.

"Itu asumsi jika dibandingkan dengan LRT, dengan jumlah kapsul 10 unit. Satu unit menampung 50 penumpang, dan head way 1,5 menit," tutur Leonnardo.

Saat ini pihaknya baru menyelesaikan 2 unit kapsul dan jalurnya sebagai prototipe sebelum ditawarkan pada pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk transportasi massalnya.

"Kita jual teknologi dan konsepnya, saat kita presentasikan ke Jokowi dulu kan masih prototipe, pemerintah nggak mau beli barang yang belum terjamin dengan pakai uang rakyat. Kita ingin yakinkan bahwa kita anak bangsa sendiri bisa membuat transportasi publik sendiri," jelas Leonnardo. (hns/hns)

Dilirik 5 Daerah

Pengembang transportasi publik Metro Kapsul, PT Teknik Rekayasa Kereta Kapsul (Trekka), menargetkan bisa merampungkan pembangunan 2 unit kapsul dan treknya, sebelum ditawarkan ke pemerintah pusat dan pemerintah daerah (Pemda) pada Mei mendatang.

Direktur Operasi Trekka, Leonnardo Feneri mengungkapkan, produk rancangannya sudah mulai dilirik oleh 5 pemerintah daerah (Pemda).

"Kita sudah presentasikan pada Pemda Jakarta, Makassar, Surabaya, Bandung, dan Badan Otorita Batam. Dan masing-masing sudah menyatakan tertarik untuk dipakai sebagai moda transportasi publiknya," jelas Leonnardo ditemui di Restoran Ramen Sanpachi, Jakarta Selatan, Kamis (4/2/2016).

Lebih jauh, lanjut Leonnardo, menyebut pihaknya sudah menggelontorkan Rp 20 miliar untuk pengembangan Metro Kapsul. Pihaknya menargetkan 2 Metro Kapsul beserta treknya di Pabriknya, di Subang, bisa selesai pada Mei mendatang. Setelah itu, baru pihaknya akan memproduksi secara massal kapsul Metro Kapsul.

"Kita jual teknologi dan konsepnya, saat kita presentasikan ke Jokowi dulu kan masih prototipe, pemerintah nggak mau beli barang yang belum terjamin dengan pakai uang rakyat. Kita ingin yakinkan bahwa kita anak bangsa sendiri bisa membuat transportasi publik sendiri," jelasnya.

Menurut Leonnardo, untuk Jakarta, pihaknya menawarkan pembangunan trase Metro Kapsul untuk angkutan di jalan-jalan besar yang saat ini belum dilayani oleh Bus Trans Jakarta.

"Ini bisa diintegrasikan, ini hanya memakan lahan satu meter saja untuk bangun tiang, tanpa macet karena punya jalur layang khusus. Kalau disetujui, Kita ingin koridor seperti dari Cawang, Tebet, Karet, Mampang, Pejompongan, hingga tembus ke Grogol. Itu kan belum terlayani Bus Trans Jakarta," ujarnya.

Dioperasikan Tanpa Masinis

Transportasi publik masa depan, Metro Kapsul, siap diperkenalkan pada Mei 2016 oleh pengembangnya, PT Teknik Rekayasa Kereta Kapsul (Trekka) di Subang, Jawa Barat. Ini dilakukan setelah perusahaan merampungkan 2 unit Metro Kapsul beserta treknya.Direktur Operasi Trekka, Leonnardo Feneri mengungkapkan, Metro Kapsul dikembangkan sebagai transportasi seperti bus, namun berjalan beriringan seperti rangkaian kereta hingga maksimal 10 kapsul, dengan setiap kapsul mampu mengangkut 50 penumpang.

Namun, Metro Kapsul memiliki teknologi yang bisa berjalan tanpa masinis karena dikendalikan dari pusat kontrol.

"Metro Kapsul dibuat tanpa masinis, jadi dikendalikan oleh pusat kontrol. Semuanya dibuat otomatis, termasuk pengaturan kecepatan, hingga head way," kata Leonnardo ditemui di Restoran Ramen Sanpachi, Jakarta Selatan, Kamis (4/2/2016).

Dia menjelaskan, meski berjalan dalam rangkaian, Metro Kapsul ini tidak saling tersambung antar kapsul. Setiap unit kapsul dilengkapi dengan 3 sensor sehingga bisa menjaga jarak untuk menghindari tabrakan, baik saat berjalan maupun saat berhenti di halte.

"Saat berjalan sensor tersebut akan menjaga jarak antar kapsul 30-40 meter saat berjalan beriringan, sementara saat berhenti di halte jarak antar kapsul menjadi 10 centimeter (cm). Sementara kereta kapsul saat beroperasi bisa melesat hingga 80 kilometer per jam," ujar Leonnardo.

Dia menuturkan, sebenarnya angkutan publik dengan konsep Metro Kapsul dengan roda ban karet yang berjalan di atas trek beton yang digerakkan listrik sudah ada di beberapa negara, seperti Malaysia, Perancis, Singapura. (feb/feb)


  ♙ detik  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More