N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Krait

Kapal patroli 40 m berbahan almunium alloy produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

Gambar Photoshop KRI Trimaran

Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

Panser Canon 90mm

Kendaraan militer dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

PT44 Gudel

Kendaraan taktis militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Rabu, 23 April 2014

Kompetisi Antar-Peretas Digelar di Surabaya

Peretas asal Indonesia lebih sering membobol situs jaringan ketimbang membuat satu sistem pertahanan yang kuat Kompetisi Antar-Peretas Digelar di Surabaya   Surabaya Asosiasi Open Source Indonesia (AOSI) menggelar cyber defense competition di Surabaya. Ketua Umum AOSI Betty Alisyahbana mengatakan kompetisi ini diikuti 18 tim dari perguruan tinggi di Jawa Timur dalam rangkaian workshop Indonesia Creative Open Source Software.

Menurut dia, peretas asal Indonesia lebih sering membobol situs jaringan ketimbang membuat satu sistem pertahanan yang kuat. "Kami ingin meningkatkan awareness sistem pertahanan IT. Selama ini, kebanyakan hacker mudah membobol situs jaringan. Tapi hacker sebetulnya sulit membuat sistem pertahanan," kata Betty di sela-sela workshop ICrOSS di Surabaya, Rabu, 23 April 2014.

Kompetisi berlangsung selama dua hari. Setiap tim diisi lima orang yang bertugas membangun pertahanan sistem jaringan. Adapun panitia bertindak sebagai peretas yang berusaha membobol keamanan jaringan setiap tim peserta. "Anak Indonesia pintar-pintar. Kegiatan ini hanya ingin mengarahkan kepintaran itu untuk hal yang positif," ujarnya.

Selain kompetisi antar-peretas, rangkaian ICrOSS kedua ini juga menggelar seminar tentang global perspective open source, e-gove, komunitas open source, pengembangan software pada ponsel pintar, dan kemajuan IT lainnya.

Ihwal masa depan open source, Betty mengakui open source belum mampu mengalahkan Windows. Namun seiring perkembangan teknologi, kata Betty, penjualan desktop mengalami penurunan drastis. Fenomena ini menjadi peluang produk ponsel pintar, seperti iPhone dan Android, menggantikan posisi desktop.

"Android merupakan produk open source. Aplikasi masa kini dan mendatang adalah aplikasi yang dapat digunakan di ponsel pintar dengan pemrograman berbasis SDK, seperti Java dan C++, serta aplikasi berbasis web atau HTML," tuturnya.

  ★ Tempo  

PT LEN melengkapi Pesawat TNI AL dengan sistem pengintaian

Tes berhasil sukses dan sekarang beroperasi penuh[​IMG]BUMN PT Len bidang elektronik pertahanan telah berhasil melengkapi pesawat patroli maritim (MPA) dengan sistem pengawasan dan pengintaian Retimax 2000.

Sistem ini terdiri dari konsol misi, konsol display kokpit dan gimbal dengan tiga sensor yang berbeda, dipasang pada pesawat NC-212 MPA TNI AL pada bulan Desember. Ia telah menjalani beberapa tes yang sukses dan sekarang beroperasi penuh, PT LEN mengatakannya kepada IHS Jane di DSA 2014 pameran pada tanggal 16 April.

"This is the first MPA equipped as a trial to fulfill the TNI-AL's requirement for a high-definition real-time surveillance system," kata Yudiansyah Lubis, Insinyur sistem kontrol perusahaan.



  Janes  

Dosen Petra ciptakan beton dari lumpur Lapindo

Penelitian yang dilakukannya itu bertujuan menjawab pemanasan global dan perlunya penghematan bahan baku beton dari semen Surabaya ★ Dosen Universitas Kristen Petra Surabaya Prof Djwantoro Hardjito PhD menciptakan beton dengan bahan baku dari lumpur Lapindo yang meluap sejak 29 Mei 2006 dengan luapan lumpur saat ini sudah seluas 640 hektare dan setinggi hingga 12 meter.

"Sejak tahun 2011, saya meneliti kemungkinan lumpur Lapindo dijadikan bahan baku untuk beton dan akhirnya saya menemukan dua kemungkinan yakni bahan campuran semen dan bahan dengan larutan alkali," katanya di Surabaya, Selasa.

Didampingi Dekan FTSP UK Petra Surabaya Timoticin Kwanda BSc MRP PhD, Guru Besar FTSP UK Petra Surabaya yang dikukuhkan pada 25 April 2014 itu menjelaskan penggunaan lumpur Lapindo untuk beton itu mengurangi pemanasan global dan menghemat penggunaan semen ke depan.

"Beton itu dibuat dari semen dengan teknik pembakaran hingga 1.400 derajat celsius, tapi kalau dicampur lumpur Lapindo cukup hanya dengan pembakaran 600 derajat celsius, sehingga mengurangi karbodioksida (CO2) atau polusi yang mendorong pemanasan global," katanya.

Menurut Wakil Rektor I (Akademik) UK Petra Surabaya itu, penelitian yang dilakukannya itu bertujuan menjawab pemanasan global dan perlunya penghematan bahan baku beton dari semen, sebab semen merupakan bahan yang tak terbarukan.

"Terkait pemanasan global itu, perkebunan sawit dan industri semen merupakan dua sumber gas C02 yang besar dan gas itu merupakan biang dari pemanasan global, karena itu kedua sumber itu diharapkan melakukan perubahan," katanya.

Selama ini, industri semen sudah memproduksi PPC (portland pozzola cement) untuk mengurangi gas CO2, namun pihaknya menemukan alternatif lain dari bahan yang selama ini dianggap sebagai "masalah" yakni lumpur Lapindo.

"Inovasi untuk membuat lumpur Lapindo sebagai batu bata dan genteng selama ini sudah ada tapi gagal karena mudah retak dan tidak kuat, karena itu saya meneliti komposisi oksida di dalamnya dan akhirnya ditemukan bahwa 85 persen adalah S1 O2, AI2 O3, dan Fe2 O3," katanya.

Dari komposisi oksida itulah, peneliti dengan 60 artikel ilmiah (1994-2013) yang menempuh studi pascasarjana di Malaysia itu pun menyiasati cara mengolah lumpur Lapindo itu untuk bahan beton sesuai karakter dari komposisi zat yang ada itu.

"Saya menyimpulkan dua cara mengolah yakni lumpur sebagai substitusi untuk semen dengan perbandingan campuran yakni lumpur berkisar 40-60 persen dan sisanya semen. Kalau lebih dari 60 persen tidak akan kuat," katanya.

Cara kedua adalah 100 persen lumpur tapi dicampur dengan larutan Alkali sebagai larutan untuk mengaktifkan zat kimia hingga mengental seperti pasta tapi warnanya berkilau. "Perbandingannya 2 lumpur dengan 1 larutan Alkali," katanya.

Cara kedua itu justru lebih "green" (ramah lingkungan), karena pemanasan yang diperlukan untuk membentuk beton hanya dengan pembakaran 60 derajat celsius. "Jadi, pemanasannya cuma hangat, lain halnya kalau dicampur semen memerlukan pembakaran 600 derajat celsius," katanya.

Dalam kesempatan itu, ia menunjukkan bahan baku beton yang bukan dari lumpur Lapindo, melainkan dengan abu bata bara dari Paiton, Probolinggo. "Kalau dengan abu batu bara justru tanpa pembakaran sama sekali," kata pemilik hak paten untuk kerikil buatan dari lumpur Lapindo itu. (*)

  ★ Antara  

Engineer PT.DI Lulus Sekbang A-85 diproyeksikan menjadi pilot KFX/IFX

Bukan penerbang biasa yang menjadi pilot pesawat jet tempur Pria yang sering di sapa Iqbal itu bukan penerbang biasa. Iqbal nanti akan menjadi pilot pesawat jet tempur.

Nanti, setelah menempuh 1000 jam terbang, dirinya akan diproyeksikan pesawat sahil kerja sama Pemerintah Korea dan Indonesia, KFX/IFX (Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment), yang berkelas diatas F-16 Amerika Serikat.

"Saya sungguh tidak menyangka akan menempuh pendidikan di Sekbang A-85 ini," ujar Iqbal, di sela-sela penutupan pendidikan Sekbang A-85, di gedung Wisma Adi, Lanud Adisutjipto, senin.

Iqbal lulus dari dari pendidikan setelah menamatkan 180 jam terbang. Rincianya masing-masing 60 jam terbang untuk pesawat jenis Bravo, dan 120 jam terbang untuk pesawat jenis Charlie.

Adapun perjalanan Iqbal menempuh pendidikan Sekbang dimulai ketika dirinya berkarier sebagai teknisi (Engineer) di PT.Dirgantara Indonesia (PT DI) di Bandung, Jabar. kala itu muncul rencana kerja sama Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan untuk membuat jet tempur.

Kemudian PT DI mengusulkan agar ketika pesawat tersebut terealisasi, test pilotnya bukan hanya berasal dari militer namun juga dari kalangan teknisi perusahaan, sebagai upaya pengembangan teknologi.

"Saya dipersiapkan sebagai pilot sipil dari PT DI, yang nantinya akan menjajal KFX/IFX. Sedangkan empat pilot lainya berasal dari militer. hal itu merupakan langkah pengembangan teknologi dari perusahaan Dirgantara Indonesia." ucap Iqbal, yang juga pernah mengenyam pendidikan Aeronautika ITB.

Lalu, oleh kantornya, didaftarkanlah bapak satu anak ini di Sekbang A-85. Selama menempuh pendidikan, berbagai tantangan dan cobaan dirasakan oleh Iqbal. tantangan terbesar ialah rasa rindu kepada istri dan anak perempuanya, Fatimah Aruni, yang baru berusia dua tahun.


  Tribun | Kaskus  

Selasa, 22 April 2014

LFX, Pengembangan Pesawat Tempur Indonesia yang Tertunda

Sejumlah penerbang turun dari pesawat tempur T-50i Golden Eagle setelah melakukan demontrasi akrobatik di Lanud Halim P.K. Pesawat tempur ini dilengkapi Radar Warning Receivers (RWR) sehingga mampu mendeteksi keberadaan musuh dari segala arah

Jakarta ☆ Dalam menjaga kedaulatan Indonesia, kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) sangat dibutuhkan dan penting. Pemerintah Indonesia saat ini mulai gencar membangun alutsista dalam negeri, salah satunya program pengembangan pesawat tempur KFX/IFX bersama Korea Selatan.

Ternyata, selain program KFX/IFX, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) juga sudah melakukan penelitian pesawat tempur supersonik yang disebut Lapan Fighter Experiment (LFX). Peneliti Utama LFX, Sulistyo Atmadi mengatakan, penelitiannya melalui program riset Peningkatan Kemampuan Peneliti dan Perekayasa (PKPP) Kemenristek ini untuk mendukung kemandirian pesawat tempur maupun project KFX/IFX.

"Dulunya kita kan diundang Kemenhan membicarakan tentang program KFX/IFX. Tapi kan kita belum terlibat (dalam program KFX/IFX) waktu itu karena Pustekbang Lapan itu baru terbentuk 2011. Kemudian kita mengajukan riset itu melalui PKPP Program peningkatan pendidikan perekayasa lalu kita melakukan riset semacam konfigurasi awal untuk pesawat tempur," ucap Sulistyo saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta Senin 21 April 2014.

LFX sendiri memiliki konsep sebagai pesawat latih-lanjut generasi ke 5, dan dengan kemampuan multi-misi dan dirancang agar bisa sesuai dengan kondisi geografis Indonesia. Sulistyo menambahkan, meski dengan anggaran yang sedikit, ia bersama beberapa teman sesama penelitinya sudah berhasil membuat konsep LFX kecepatan supersonik.

"PKPP itu cuma Rp 250 juta, itu untuk penelitian 5 peneliti untuk satu tahun. Rp 250 juta itu untuk honor penelitinya, pembuatan modelnya, dan sebagainya. Itu dikelola Kemenristek, setiap PKPP itu dijatah Rp 50 juta untuk setiap peneliti. Tapi kita sudah di tahap conceptual design, kita sudah merancang bentuk luarnya dan kita uji dengan terowongan angin dan simulasi CFD," imbuhnya.

Project LFX sudah dilakukan sejak tahun 2012, namun sayangnya program ini tidak berlanjut karena masalah anggaran. Selain itu, hampir seluruh tim Pustekbang Lapan sedang mengembangkan pesawat sipil N-219 bersama PT Dirgantara Indonesia.

"Cuma tahun 2012 saja, sebetulnya tahun 2013 ada penelitian intern untuk membuat model terbangnya, tapi ternyata dananya nggak ada. Selain itu tahun ini PKPP tahun ini sudah tidak ada lagi. Tahun ini sudah tidak ada lagi penelitiannya (LFX), karena hampir semua SDM terlibat di N-219 karena itu kan butuh banyak tenaga dan ini (LFX) juga belum prioritas," urai Sulistyo.

Untuk kelanjutan Program LFX, pria yang telah puluhan tahun berpengalaman di teknologi penerbangan ini menyerahkan sepenuhnya kepada Pemerintah. Karena ini merupakan program jangka panjang yang membutuhkan anggaran dan penelitian yang lama.

"Tergantung pimpinan nasional kita, bagaimana? Apakah mau meneruskan IFX kalau KFX-nya nggak jadi. Tapi waktu kita mendisain itu ada narasumber dari dokter ITB yang juga terlibat dalam program bersama Korea dan juga Pak Agung Nugroho, beliau juga terlibat dalam KFX. Jadi sebetulnya walaupun konsepnya beda, tapi hampir miriplah dengan program IFX gitu," tambahnya.

Jika diteruskan, ia berharap pemerintah membantu transfer of technology dengan negara lain agar program LFX bisa berjalan dengan cepat. Selain itu, perlu dibangun konsorsium pesawat tempur nasional.

"Pesawatnya nggak terlalu masalah, tapi instrumentasinya kalau kita mau membuat kelas generasi 5 itu sudah siluman. Kalau siluman itu Korea saja teknologinya belum dikasih sama Amerika. Jadi diberi saja tapi ilmunya tidak dikasih. Tapi kita tetap berusaha, karena kan pesawat terbang itu kan tidak hanya dalam jangka waktu 1-5 tahun. Tapi sampai jangka 15 tahun. Siapa tahu pada saat kita harus membuat, entah itu ada pengetahuan atau sudah ada negara lain yang mampu bekerjasama dengan kita," katanya.

"Kalau untuk sampai tingkat prototipe, tentu diperlukan konsorsium, karena Lapan tidak mampu sendiri. Seperti PT DI untuk industrinya, lalu BPPT karena mereka punya laboratorium, ITB dan sebagainnya. Kalau kita tugasnya sebagai perisetnya aja," jelas dia.

Sementara, dihubungi terpisah, juru bicara Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Silmi Karim menilai program LFX ini bisa dimaksimalkan agar membantu kemandirian dalam negeri. Ia berharap tim peneliti LFX bisa membantu program KFX/IFX, agar kemandirian pesawat tempur dalam negeri bisa segera terlaksana.

"Kita harus melakukan satu sinergi, baik itu penelitian atau pengembangan riset dan teknologi. Sehingga energinya itu bisa dimaksimalkan di satu tujuan. Kalau Kemenhan punya kebijakan KFX/IFX dengan Korea, terus kemudian ada Lapan dengan LFX. Nah ini kan ada 2 Energi, yang kalau dimaksimalkan lebih bagus. Intinya kita perlu memaksimalkan potensi bangsa," ungkap Silmi. (Tanti Yulianingsih)


   Liputan 6  

Juragan Seragam Militer

Bermodalkan ratusan ribu hingga mencapai omzet ratusan juta Jakarta  Pernah membayangkan uang ratusan ribu bisa dibiakkan hingga mencapai angka ratusan juta? Rasanya mustahil dan hanya ada dalam khayalan.

Kenyataannya memang ada orang yang bisa mewujudkan hal tersebut. Ari Setiayudha (24) adalah anak muda yang berhasil mengembangkan bisnis menjadi skala besar meskipun modal awalnya terhitung pas-pasan.

Pria asal Yogya ini mendapatkan ide bisnis dari hobinya bermain game perang seperti Counter Strike dan Point Blank. Game-game tersebut menginspirasi Ari untuk membuat seragam tentara untuk para pecintanya, baik dari kalangan militer maupun warga sipil pehobi. Pada 2009, mahasiswa Ilmu Komunikasi, UGM ini memulai usaha kecilnya dengan modal Rp 280 ribu.

“Waktu itu modal saya hanya Rp 280 ribu saya membeli 4 meter kain lalu dijahit dan menghasilkan 1 seragam militer. Itu pun ongkos jahitnya ngutang dulu,” Ucap Ari sumringah, Kamis (17/4/2014).

Dengan modal serba terbatas ketika memulai bisnis, Ari tak mungkin menyewa toko sendiri. Ia pun hanya memanfaatkan akun Facebook untuk berjualan dengan sistem pre-order dan semua dilakukan di rumahnya di daerah Yogya Utara.

Nama Molay Military Uniform Division ia gunakan, sebagai brand miliknya. Nama Molay hanyalah nickname Ari di beberapa game perang online dan menurutnya tak ada makna khusus. Namun ternyata baju rancangannya langsung mendapat respon positif.

Berawal dari seorang kolektor yang memesan sebuah seragam, kemudian pesanan-pesanan lain datang hingga mencapai puluhan orang.

Dari seorang pemesan, seragam desain Ari yang dibanderol Rp 560.000- 2,3 juta itu sekarang sudah memiliki banyak penggemar.

Harga yang dipatok Ari memang cukup tinggi, karena bahan baku seragam militer buatannya memang berkualitas bagus. Ia menggunakan bahan Pencott yang berasal dari Inggris.

Ari mendapatkan jalur pembelian kain Pencott ini juga dari konsumennya yang ada di Inggris "Visi Molay memang ingin melindungi pengguna. Jadi produk kami harus aman dan nyaman saat dipakai,” kata Ari.

Soal penjualan, Molay memang layak diacungi jempol. Pelanggannya bukan hanya orang Indonesia, tapi juga dari berbagai penjuru dunia seperti Amerika, Inggris, Kanada, Jerman, Arab dan banyak negara lagi. Ketika ia memulai usaha, ia tak pernah menyangka produk buatannya bisa menarik perhatian banyak kalangan termasuk dari luar negeri.

Sekarang ini rata-rata Molay memproduksi ratusan unit seragam per bulan. Ari mengatakan bahwa pelanggan utamanya masih anggota/ lembaga kepolisian dan militer di Indonesia. Tapi pelanggan individu di dalam dan luar negeri jumlahnya juga lumayan banyak.

Bagaimana dengan omzetnya?

Ari tak menjawab pasti berapa omzet per bulannya. Dia hanya mengatakan bahwa omzet penjualan Molay sekarang ini sudah ada di atas Rp 100 juta per bulan. Pencapaiannya yang luar biasa ini membuat Ari mendapatkan penghargaan Juara I Youth Entrepreneur Festival, Yogyakarta dan Finalis Wirausaha Muda Mandiri 2011.

Yang menarik dari usaha Ari adalah dia tidak pernah berutang kepada pihak lain dalam mengembangkan bisnisnya. Ia menggunakan cara konvensional yaitu menggunakan keuntungannya untuk memperbesar kapasitas produksinya. Meskipun perkembangan bisnisnya tidak melesat cepat, perlahan tapi pasti usahanya membesar seperti sekarang dan dia tidak punya beban membayar utang kepada pihak lain.

Yang layak mendapat acungan jempol bukan sekedar omzetnya yang menjulang. Ari mengaku sekarang ini sedang mempersiapkan tempat untuk memperbesar usahanya. Dia juga bersiap melebarkan sayap dengan membuka usaha baru yaitu divisi sablon. Tempat baru ini akan menjadi pusat produksi Molay.

  ★ detik  

Senin, 21 April 2014

Mobil Listrik RI Baru Diproduksi Massal 2025

Kemenperin memperkirakan baru bisa memasuki fase industrialisasi pada tahun 2025 http://images.detik.com/content/2014/04/21/1036/091554_selow.jpgJakarta Indonesia sudah bisa mengembangkan purwarupa mobil listrik berbagai varian. Kapan kira-kira mobil listrik nasional ini bisa diproduksi secara massal?

Prosesnya masih cukup panjang. Saat ini mobil listrik ini masih dalam tahap sertifikasi. Untuk menuju produksi mobil listrik secara massal, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkirakan hal ini baru bisa memasuki fase industrialisasi pada tahun 2025.

“Kalau program mobil listrik baru di 2025,” kata Direktur Industri Alat Transportasi Darat, Soerjono kepada detikFinance di Jakarta seperti dikutip Senin (21/4/2014).

Soejono menilai membangun industrialisasi tidak sekedar menyiapkan purwarupa semata. Harus ada persiapan di segala lini seperti regulasi, produksi alat komponen, penyediaan stasiun pengisian hingga pengelolaan limbah mobil listrik yang terencana dengan baik.

“Siapin infrastruktur dulu. Penanganan baterainya bagaimana. Kita pakai listrik, mau green. Ada baterai lithium. Siap tangani limbah baterai?” sebutnya.

Industrialisasi harus disipkan secara matang sehingga mobil listrik karya Indonesia bisa bersaing dengan produk buatan luar negeri.

“Mobil listrik kalau sudah proven baru bisa dipakai. Mobil listrik disarankan siap infrastruktur dulu. Jangan asal ngomong,” jelasnya.

Soejono juga menjelaskan terkait penilaian lambatnya izin atau minimnya dukungan terhadap mobil listrik daripada pengembangan mobil murah. Mobil murah memang dipercepat pengembangannya karena ingin mempersiapkan diri menghadapi pasa bebas ASEAN tahun 2015. Hal tersebut bisa juga diterapkan pada mobil listrik nasional jika telah siap.

“Roadmap LCGC 2015. Tapi karena ada ancaman AEC tahun 2015. Maka kita genjot agar muncul. Kalau mobil listirk siap, kita majuin,” jelasnya.

Seperti diketahui ahli-ahli Indonesia seperti pandawa putra petir hingga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mampu menghasilkan berbagai purwarupa mobil listrik seperti jenis mobil sedan sport, mobil listrik MPV, hingga bus listrik. Namun purwarupa tersebut masih tertahan pada tingkat sertifikasi di Kementerian Perhubungan.(feb/ang)

Kita Bakal Ulangi Sejarah Lama http://images.detik.com/content/2014/04/21/1036/210509_mobilistrikin.jpgPemerintah memiliki rencana atau roadmap produksi mobil listrik nasional. Mobil listrik buatan Indonesia baru bisa diproduksi massal mulai 2025, meskipun putra-putri bangsa saat ini telah mampu memproduksi purwarupa atau prototype.

Apa respons Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan? Dahlan yang mendukung penuh pembiayaan dan pengembangan mobil listrik sejak awal menyebutkan, jika mulai diproduksi 2025 maka justru mobil listrik buatan pabrikan otomotif dunia telah merajai pasar Indonesia.

Indonesia akan mengulangi sejarah mobil berbahan bakar fosil. Akibat terlambat mengembangkan mobil nasional, industri mobil dan jalanan Indonesia dikuasai produk asing.

"Ya sudah, terserah saja. Pada 2025 itu mobil listrik negara-negara lain sudah merajai Indonesia. Berarti kita mengulangi sejarah lama bahwa kita baru memikirkan mobil ketika orang lain sudah menguasai Indonesia," tegas Dahlan kepada detikFinance, Senin (21/4/2014).

Dengan konsep industrialisasi mobil listrik pada 2025, Dahlan mengistilahkan ini seperti membiarkan mobil listrik impor pelan tapi pasti membanjiri pasar Indonesia.

"Roadmap itu sama dengan kita mempersilahkan mobil luar negeri masuk Indonesia lebih dahulu, baru Indonesia memiliki mobil listrik yang kalah bersaing," kata mantan bos PLN ini.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebutkan mobil listrik baru bisa memasuki fase industrialisasi pada 2025. Direktur Industri Alat Transportasi Darat Kemenperin Soerjono menilai industrialisasi tidak sekedar menyiapkan purwarupa. Harus ada persiapan di segala lini seperti regulasi, produksi alat komponen, penyediaan stasiun pengisian, hingga pengelolaan limbah yang terencana dengan baik.

“Siapkan infrastruktur dulu. Penanganan baterainya bagaimana? Kita pakai listrik, mau green, tapi ada baterai litium. Siap tangani limbah baterai?” sebutnya.

Industrialisasi harus disipkan secara matang sehingga mobil listrik karya Indonesia bisa bersaing dengan produk buatan luar negeri. “Mobil listrik kalau sudah proven baru bisa dipakai. Mobil listrik disarankan siap infrastruktur dulu, jangan asal ngomong,” tukasnya.

Soerjono juga menjelaskan terkait penilaian lambatnya izin atau minimnya dukungan terhadap mobil listrik daripada pengembangan mobil murah. Mobil murah atau low cost green car (LCGC) memang dipercepat pengembangannya karena persiapan menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN 2015.

Hal tersebut sebenarnya bisa juga diterapkan pada mobil listrik nasional jika telah siap. “Kalau mobil listrik siap, kita majukan,” ujarnya.

Seperti diketahui ahli-ahli Indonesia seperti Pandawa Putra Petir hingga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mampu menghasilkan berbagai purwarupa mobil listrik. Namun purwarupa tersebut masih tertahan di tingkat sertifikasi di Kementerian Perhubungan.

  detik  

Pertamina dapat dua tanker baru

Pertamina juga telah menandatangani kontrak baru pembangunan kapal tanker minyak ukuran 17.500 LTDW sebanyak tujuh unit dengan galangan kapal dalam negeri http://media.viva.co.id/thumbs2/2012/04/26/152483_mt-kasim--kapal-tanker-pt-pertamina_663_382.jpgSurabaya PT Pertamina (Persero) bersiap mendapatkan tambahan armada dua kapal tanker minyak. Keduanya diproduksi sesama BUMN, yakni galangan kapal PT Penataran Angkatan Laut (PAL) Indonesia.

Juru bicara Pertamina Ali Mundakir mengatakan konstruksi kedua kapal itu mendekati tahap akhir. "Dalam waktu dekat akan dilakukan serah terima kapal baru tersebut," ungkapnya dalam keterangan pers, Minggu (20/4).

Kapal pengangkut minyak itu diberi nama MT Pagerungan dan Pangkalan Brandan. Keduanya jadi armada tanker Pertamina pertama yang sepenuhnya buatan Indonesia. Setiap kapal berbobot mati 17.500 LTDW.

Ali menambahkan, untuk jenis selain tanker, Pertamina sudah pernah memesan pada PAL. Langkah itu dijalankan pertama kali pada 2005, saat BUMN migas ini memesan 11 kapal dengan ukuran 3.500 dead weight tonnage (DWT) dan 6.500 DWT.

"Pembangunan kapal ini merupakan bagian dari pemberdayaan industri dalam negeri dan sinergi BUMN," kata Ali.

Pada tahun 2013-2014, Pertamina juga telah menandatangani kontrak baru pembangunan kapal tanker minyak ukuran 17.500 LTDW sebanyak tujuh unit dengan galangan kapal dalam negeri.

Pertamina sejak lama terlalu bergantung pada penyewaan kapal swasta untuk distribusi bahan bakar di Tanah Air. Total, perusahaan pelat merah itu mengoperasikan 187 kapal untuk kepentingan distribusi.

Alhasil, dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2012-2016, perusahaan pelat merah ini menggelontorkan dana hingga USD 2,4 miliar buat pengadaan kapal angkut BBM, gas, maupun avtur.(mdk/ard)

  ★ Merdeka  

UNY Kembangkan Mobil Formula 'Hybrid'

Debu Vulkanik Hentikan Kegiatan Lanud AU IswajudiJogyaakarta  Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yang tergabung dalam Garuda UNY Racing Team mengembangkan teknologi "hybrid" pada mobil balap formula yang akan digunakan pada International Student Green Car Competition 2014 di Korea Selatan, Mei 2014.

"Teknologi hybrid merupakan rekayasa teknologi yang memadukan daya listrik dan tenaga yang dihasilkan oleh bahan bakar pada sistem penggerak sebuah kendaraan," kata Ketua Garuda UNY Racing Team Bondan Prakoso di Yogyakarta, Sabtu (19/4).

Menurut dia, konsep mobil "hybrid" memang menjadi tren beberapa tahun terakhir bahkan seolah-olah menjadi primadona pada sistem kendaraan.

"Di negara-negara maju seperti Korea Selatan, Jepang, dan Jerman kendaraan dengan teknologi hybrid sudah banyak dikembangkan," katanya.

Ia mengatakan selain ramah lingkungan, penggunaan teknologi "hybrid" itu juga dapat menghemat penggunaan bahan bakar minyak sebagai sumber energi tidak terbarukan.

"Pada mobil hybrid, satu liter bahan bakar minyak mampu mencapai jarak hingga 35 kilometer," katanya.

Menurut dia, gagasan pembuatan mobil formula "hybrid" itu mendapat dukungan penuh dari Rektor UNY Rochmat Wahab.

Pembuatan mobil formula "hybrid" itu diambil setelah milihat pengalaman tahun lalu, yang sebenarnya selain dapat berjaya pada kategori mobil listrik, UNY juga mempunyai kesempatan besar dalam kategori mobil hybrid.

"Pada 2014 ada 15 kompetitor untuk kategori mobil hybrid dan 45 kompetitor untuk kategori mobil listrik pada International Student Green Car Competition (ISGCC) 2014," katanya.

Ia mengatakan para peserta kompetisi internasional tersebut berasal dari tim mobil beberapa perguruan tinggi yang tersebar di Asia.

"Mobil balap formula berteknologi hybrid itu merupakan salah satu karya dari mahasiswa UNY yang akan mewakili Indonesia untuk berlaga di kompetisi dunia tersebut," katanya.



  Republika  

Sumatra, Batubara dan Tentara

Bunga Pena dari Seberang, Sebuah Intermezo Ilustrasi. Batu Bara di Sawah Lunto. image id.indonesia.travel

Kamis pagi, 17 April 2014. Kuala Lumpur masih terbaring dalam lelap yang dingin, setelah sepanjang malam hujan mengguyur dengan lebat. Suara adzan Subuh sayup-sayup terdengar menyelinap diantara lorong-lorong yang gelap dan dinding-dinding rumah yang tertutup rapat. Enam tahun yang lalu, ketika untuk pertama kalinya saya tinggal di tengah kota yang menjadi salah satu landmark keuangan terbesar di Asia, saya merasakan bahwa suara adzan adalah sesuatu yang langka dan terkesan mahal. Meskipun Malaysia adalah salah satu negara Islam di dunia, tetapi untuk mendengar suara adzan dan mencari mesjid untuk bersembahyang, tidak bisa serta-merta dengan mudah kita temukan. Hal ini sangat berbeda dengan di Indonesia yang notabene adalah negara skuler, tetapi kita bisa mendengarkan adzan dan menemukan mesjid dimanapun kita berada dengan begitu mudah. Hehehe..! Suatu kondisi yang patut kita syukuri dan tidak salah jika kita banggakan.

Secara yuridis formal, konstitusi kita jelas bukanlah Al Quran yang menjadi satu-satunya pijakan konstitusi di negara-negara muslim. Indonesia adalah suatu Republik yang berideologikan Pancasila yang berkonstitusikan pada UUD 1945. Namun dengan bilangan penduduk yang mayoritas muslim, menjadikan bangsa Indonesia bertingkah laku dan menjalankan hidup berdasarkan syariat Islam. Bahkan di suatu daerah, hukum Islam ditegakkan secara legal di bawah naungan Pancasila dan UUD 1945. Tetapi bukan soal konstitusi dan bentuk kedaulatan negara kita yang akan saya bicarakan disini. Saya ingin mengajak semua untuk menelaah sebuah dokumen tebal yang tergeletak di meja saya.

Dokumen itu baru saya terima kemarin petang, dari kantor pusat saya di Tokyo, Jepang. Tetapi apabila dilihat dari stempel yang ada di sudut atas amplop itu, jelas sekali bahwa dokumen itu tidak dikirim langsung dari Tokyo, melainkan dari London, Inggris. Artinya, my Big Boss was in London event when the document sent to me. Besides that, I’m so sure that it will be talking about the South East Asia, what is my business area. Itulah sebabnya mengapa dokumen itu berada di ruangan saya. Yups..! Benar, dokumen itu bukan hanya menyangkut Asia Tenggara, melainkan lebih spesifik lagi menyangkut Indonesia, tanah air, bangsa dan negara tercinta saya..!

Kantor Pusat jelas sangat gundah, sejak Indonesia mulai menerapkan UU Minerba. Tidak dipungkiri begitu banyak negara-negara industri di dunia yang melayangkan protes terhadap tindakan yang diambil oleh pemerintah dan parlemen Indonesia. Mereka sangat merasakan dampak negatif dari penerapan UU tersebut. Komoditi menjadi langka, harga melambung tinggi, biaya produksi membengkak, harga jual produk tidak lagi kompetitif, omset menurun drastis, produksi menipis, margin perusahaan tidak terkendali, dan akhirnya sang investor pun lari..! Mulai saat ini kita akan sering mendengar berita kematian satu per satu industri di dunia. Indonesia telah dipandang sebagai negara penebar maut yang mengancam kelangsungan hidup industri negara-negara maju. Ironisnya, tindakan Indonesia ini juga mendapat dukungan dari negara-negara pemilik SDA lainnya, selain tentu saja lahir di tengah kesadaran dunia akan semakin langkanya komoditi bahan tambang dan kesadaran dunia akan pentingnya menjaga kelangsungan ekosistem. Semoga segala hujatan dan ancaman dari kubu lawan tidak menyeret langkah kita untuk surut ke belakang dan memaksa kita kembali ke masa lalu.

Memang benar, Indonesia bukanlah negara yang satu-satunya memiliki sumber daya mineral yang diperlukan oleh para pelaku industri dunia. Tapi bisa jadi, kitalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki keanekaragaman potensi sumber daya alam yang sangat berharga bagi industri dunia.

Mari kita lihat apa yang ada dalam dokumen itu. Hahaha..! Ternyata hanya soal batubara Sumatera..! Bagi negara seperti Indonesia, batubara bukanlah sebuah barang langka, bahkan kita telah berhasil menjadi negara yang paling depan dalam jumlah ekspor barang tambang ini. Tentu saja, selain itu kita juga menjadi negara pengekspor CPO terbesar di dunia, setelah berhasil menggeser negara yang menjadi sumber rujukan dalam pengembangan industri sawit dunia, yakni Malaysia..! Tetapi perlu diketahui, untuk industri olahan sawit, Malaysia masih bertengger sebagai eksportir terbesar di dunia. Sebuah tantangan yang wajib kita sambut dengan sikap positif; berpikir keras, bekerja keras dan berusaha keras..! Begitupun dengan batu bara kita. Bukankah batubara kita dikenal sebagai batubara berkualitas rendah yang hanya cocok untuk sumber pembangkit listrik? Yups..! Benar sekali..! Secara umum batubara kita memang dikategorikan sebagai batubara berkualitas rendah, karena kandungan kalorinya yang masih rendah serta jumlah sulphur dan phospornya juga terbilang tinggi.

Kualitas batubara kita masih kalah jauh dengan kualitas batubara dari Australia maupun dari Afrika. Kita baru unggul dalam kuantitas. Kita hampir bisa memasok berapapun jumlah batu bara yang dibutuhkan oleh dunia, karena regulasi pertambangan komoditas ini, di Indonesia belum seketat di negara-negara lain. Indonesia terkesan jor-joran. Dari mulai penambang yang legal sampai yang liar, semuanya ada..! Hehehe..! Untuk yang satu ini, jujur agak sedikit mengganggu kemaluan. Uppss..! Maaf, maksud saya sedikit agak memalukan..! Gak perlu menghujat, tapi marilah kita bersama-sama untuk menahan diri agar tidak turut serta menjadi penambang liar baru. Itu sudah lebih dari cukup, andil anda akan lebih dihargai. Soal penambang liar yang sudah ada, biarlah itu menjadi urusan pihak yang berwajib..!

Kembali ke dokumen..! Dokumen ini tidak bicara tentang batubara Indonesia, melainkan hanya bicara tentang batubara Sumatera, khususnya batubara dari Bengkulu. Saya yakin, diantara kita mungkin banyak yang tidak tahu jika Bengkulu juga merupakan daerah penghasil batubara, selain tentu saja daerah Kalimatan yang sudah sering kita baca dalam berita. Membaca kata Bengkulu, pikiran dan ingatan saya melayang-layang di atas daratan Sumatera. Mulai dari Lampung, Sumsel, kampung halaman teman saya di Pagaralam yang berbatasan antara Sumsel dan Bengkulu, kemudian ke Sumbar, Jambi, Riau, Sumut dan Aceh. Ah, betapa luasnya daratan Sumatera..! Secara pribadi, saya lebih mengenal Bengkulu sebagai daerah yang menyimpan potensi kandungan emas terbesar di Sumatera. Mulai mengenal adanya potensi batubara di sana, bermula ketika saya ditugaskan di Batam.

Untuk keperluan rumah baru saya, saya memesan perabotan kayu dari salah satu perusahaan kerajinan kayu yang dikelola oleh seorang wanita Yogyakarta dan bersuamikan seorang lelaki Bengkulu. Keramahtamahan, adalah alasan kuat mengapa kami masih memelihara tali silaturahmi itu hingga ke hari ini. Suatu ketika dulu, sahabat saya dari Jerman datang menemui saya. Dia sedang memerlukan bantuan saya untuk mendapatkan 60.000 ton batubara dengan spesifikasi dan kualifikasi tertentu. Saya menyanggupinya, karena saya beranggapan bahwa tidak mungkin jika dari semua tumpukan batu bara yang ada di Indonesia tidak ada satu pun yang mampu memenuhi kriteria. Saya putuskan untuk hunting ke Kalimantan. Semua teman dan bapaknya teman saya yang saya kenal dan saya ketahui memiliki usaha tambang batubara, saya datangi. Hasilnya? Sangat mengecewakan..! Dari 60.000 ton yang saya cari, saya hanya berhasil mendapatkan kurang lebih 10.000 ton saja. Saya coba menyodorkan permintaan saya pada teman-teman di Australia, Afrika, Brazil, Argentina, Venezuela dan Rusia serta China, semuanya angkat tangan. Jawaban mereka seragam, ‘no stock.’

Saya kembali ke Batam. Terduduk putus asa di atas kursi, sambil melihat urat-urat kayu yang ada pada pintu dan dinding kayu, membuat saya teringat pada pemilik perusahaan tempat perabotan kayu itu saya pesan. Karena sudah malam dan sedang kepepet, saya nekad menghubunginya melalui sms. Dimulai dengan menanyakan kabar, perkembangan usaha kerajinan kayunya dan terakhir menanyakan bisnis tambang batubara yang digeluti sang suami. Setelah itu, barulah saya menanyakan tentang kemungkinan ketersediaan batubara dengan spesifikasi yang saya miliki. Sampai disitu, contact sms kami terhenti. Saya berpikir, mungkin dia sudah tertidur. Kira-kira jam 01.00 dinihari, telepon saya berdering. Suara lelaki terdengar mengucapkan salam dan bertanya kabar. Dia, suami bu Dewi, pengelola perusahaan kayu di Batam, meminta saya untuk bertemu di Jakarta esok pagi. Setelah menerima telepon, saya paksakan untuk tidur, supaya besok pagi bisa segera bangun dan bergegas ke bandara Hang Nadim. Beruntung, di Bandara saya masih bisa mendapatkan tiket Garuda yang masih menyisakan beberapa tempat duduk untuk penerbangan ke Jakarta pada waktu yang tidak terlalu siang.

Di Jakarta, saya dijemput oleh lima orang lelaki berperawakan tegap, dan mengiring saya menuju ke mobil yang telah terparkir. Melihat dua mobil yang terparkir, saya agak kaget. Seseorang melambaikan tangan dari balik jendela yang tiba-tiba terbuka. Ya, itu suami bu Dewi..! Pangling, dipundaknya tersemat sebuah bintang. Sekarang saya tahu dengan siapa saya berhadapan. Sesampainya di kantor, saya diberikan penjelasan dan gambaran detail tentang perusahaan yang dia geluti, serta kualifikasi batu bara yang dia miliki. Sangat mengejutkan, ternyata dia memiliki stock simpanan pasokan hingga mencapai 150.000 ton, dengan spesifikasai melebihi dari apa yang saya kehendaki, bahkan jauh lebih tinggi dari kualifikasi yang dimiliki oleh kebanyakan batu bara Australia dan Afrika. Beberapa minggu kemudian, setelah dokumen eksport selesai dan sahabat saya mengirimkan kapalnya ke Indonesia, disepakati bahwa pengiriman batu bara dengan kualitas terbaik dari Indonesia, jumlahnya menjadi 190.000 ton, dari semula hanya meminta 60.000 ton. Teman saya berujar bahwa saya adalah orang yang paling beruntung karena menjadi warga sebuah negara yang sangat kaya raya dan memiliki segala-galanya. Tidak semua negara bisa memiliki apa yang kamu miliki..! Saya tersentak, penuh bangga..!

Kembali ke dokumen yang beratnya hampir 2 kg, yang tergeletak di atas meja saya. Dokumen ini sangat jelas menginginkan saya untuk bisa menggolkan keinginan perusahaan induk saya di Jepang. Mengakuisisi perusahaan atau memonopoli output produksi. Dua buah pilihan yang tidak mudah. Saya sadar, zamannya sudah berubah. Meskipun bangsa kita masih dikenal sebagai bangsa yang korup, tetapi bukan berarti semuanya tidak perduli dengan korupsi. Sekarang bukan lagi zaman Orba, dimana uang bisa bicara, dan sesudah itu bebas berkelana. Sekarang mungkin saja uang masih bisa bicara, tetapi sesudah itu akan ada pintu penjara yang menanti kita. Hahaha..!

Di Jepang, berlaku suatu prinsip, dimana suatu industri yang turut menopang kelangsungan industri strategis, maka industri itu akan digolongkan dalam kelompok industri strategis juga. Industri nikel dan feronikel adalah salah satu industri strategis Jepang, karena itu, industri pengolahan bijih nikel dan industri pertambangan batu barahigh calory dan ultra high calory, dengan sendirinya akan menempati singgasana status industri strategis Jepang. Dalam sistem kebijakan Jepang, industri strategis tidak sekedar menyangkut industri pertahanan, tetapi lebih dari itu, industri strategis diartikan sebagai industri hulu yang menjamin keberlangsungan industri yang menjadi mainstream perekonomian nasional mereka. Jika demikian adanya, maka bisa disimpulkan bahwa produk batu bara dari Sumatera pada umumnya, dan Bengkulu khususnya, bukanlah produk batu bara sembarangan yang bisa dijualbelikan dengan harga murahan.

Pertanyaannya, sudahkah pemerintah kita menyadari sepenuhnya akan segala potensi dan nilai-nilai strategis yang dimiliki oleh setiap komoditi yang kita hasilkan? Pertanyaan ini sejatinya dialamatkan pada pak Pramono, SE. Mantan atase perekonomian KBRI Kuala Lumpur, yang sudah saya anggap sebagai ayah kandung sendiri. Alhamdulillah, beliau bilang, dalam tubuh pemerintahan sekarang, sudah banyak perubahan yang cukup signifikan. Para pengambil kebijakan di kementerian-kementerian terkait, seperti Kemendag, Kemenperin dan Kemenkeu, bukan sekedar orang Indonesia, akan tetapi juga seorang Indonesianis muda yang pinter, nasionalis, pro rakyat, tidak rakus jabatan dan amanah. Sebuah jawaban yang melegakan.

Melihat betapa vitalnya nilai bahan-bahan mineral yang kita miliki, tidak sedikit pihak atau negara yang menawarkan opsi untuk memindahkan industrinya ke Indonesia. UU Minerba yang dari awal peluncurannya sudah disambut dengan berbagai sanggahan dan pembangkangan, jika tetap kokoh berdiri dipertahankan, bisa menjadi penunjuk jalan ke arah mana industri kita akan berkembang. Industri smelter tentu hanya sekedar jalan tengah bagi mengelola dua kepentingan yang berbeda. Tetapi tujuan utamanya adalah bagaimana industrialisasi bisa bertelur, menetas dan beranak pinak di bumi Indonesia. Sehingga program transformasi ekonomi yang kita pikul, bisa sukses hingga mencapai garis dan titik destinasi. Jika semua ini terwujud, kemudian seluruh TNI dipersenjatai demi menjaga stabilitas, akankah kita masih berkata nyinyir, bahwa TNI digaji hanya untuk menjaga asset asing?

Saya teringat ucapan pak Jusuf Kalla, ketika sumber energi menjadi mahal, maka cara yang paling masuk akal adalah memindahkan industri ke tempat dimana sumber energi itu bisa didapat. Oleh karena itu marilah kita menyongsong era industrialisasi dalam perekonomian Indonesia. Persiapkan diri dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan. Jangan berkecil hati bagi yang merasa sudah terlampau tua, karena masa depan yang gemilang masih mungkin kita wariskan pada anak cucu kita kelak. Setidaknya mereka akan bangga dan berterima kasih karena memiliki eyang yang gigih berjuang menyiapkan masa depan mereka. Ingat, industrialisasi jangan diartikan anti tani, tapi industrialisasi harus bisa bermakna sebagai usaha modernisasi tani. Hehehe..!

Selamat berjuang, Bung..!

(by; yayan@indocuisine/Kuala Lumpur, 18 April 2014)

  ★ JKGR  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More