N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

KRI Teluk Bitung 520

Kapal Landing Ship Tank (LST) produksi PT DRU, Lampung, merupakan kapal angkut tank pertama terbesar buatan Indonesia - Indonesia Teknologi

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Krait

Kapal patroli 40 m berbahan almunium alloy produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

Panser Canon 90mm

Kendaraan militer dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

PT44 Gudel

Kendaraan taktis militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Kamis, 25 Agustus 2016

Kapal Patroli Akan Dilengkapi Alat Pemetaan Potensi Migas

Menggandeng TNI dalam kerja sama melakukan pemetaan potensi minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia Ilustrasi kapal patroli TNI AL

Pelaksana Tugas Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan berencana untuk menggandeng TNI dalam kerja sama melakukan pemetaan potensi minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia.

"Tujuannya supaya ada basis data. Daripada Kementerian ESDM mengeluarkan kapal khusus, sekalian saja kapal TNI sambil patroli," ucap Luhut di Nusa Dua, Bali, Rabu (24/8/2016) malam.

Nantinya, kata Luhut, kapal patroli TNI akan dilengkapi dengan peralatan dari Kementerian ESDM untuk memotret potensi migas dari wilayah yang dilalui kapal patroli tersebut.

"Nah, TNI mau kerja sama dengan ESDM. Sambil kapal lewat, nanti dilengkapi alat. Sehingga kapal TNI sambil berlayar bisa juga memotret potensi migas di perairan Indonesia," tutur Luhut.

Dia mengatakan, ide ini berasal dari Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM IGN Wiratmaja Puja. Pihaknya akan mengalokasikan anggaran untuk pemetaan potensi migas ini dalam APBN tahun anggaran 2017.

Selain untuk pemetaan potensi migas, mantan Menko Polhukam itu juga berencana agar kapal patroli TNI sekaligus mendata pulau-pulau yang dilalui.

"Sekaligus menamai 4.000 pulau yang sekarang belum ada nama," kata Luhut.

  ♞ Kompas  

Inovasi Teknologi Kapal Perang Nasional

Tim Perekayasa Kapal Perang BPPT Kunjungi STTAL Ilutrasi kapal PKR 10514 produksi PT PAL [pandu]

Untuk mencari masukan yang berharga dalam pengembangan teknologi kapal perang jenis patroli, Tim Perekayasa Kapal Perang dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang diketuai oleh Dr. Samudro, mengunjungi Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL).

Kedatangannya disambut oleh Komandan STTAL Laksamana Pertama TNI Siswo H.S di Gedung Pascasarjana, STTAL, Bumimoro, Surabaya, Rabu (24/8).

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan kerja sama antara BPPT dengan TNI AL pada tahun 2015 lalu. Kerja sama tersebut berkaitan dengan kegiatan Inovasi Teknologi Kapal Perang Nasional khususnya dalam pemenuhan kebutuhan kapal patroli TNI AL untuk pengamanan wilayah perbatasan laut Indonesia seperti Samudera Hindia, Laut China Selatan, Laut Sulawesi, Laut Aru dan perairan utara Papua.

Menurut Samudero, untuk inovasi teknologi kapal perang ini, BPPT telah mengunjungi beberapa instansi TNI AL baik yang berada di Wilayah Barat maupun di Wilayah Timur.

"Semoga dengan kunjungan ini, tim perekayasa mendapat masukan yang berharga dalam pengembangan teknologi kapal perang TNI AL jenis patroli,” ujarnya.

Sementara itu, Komandan STTAL mengaku sangat terhormat dan bangga karena Tim Perekayasa kapal perang BPPT telah memilih STTAL sebagai lokasi kunjungan kerja dalam rangka memperoleh bahan masukan untuk penyusunan konsep rancangan kapal patroli pengamanan wilayah perbatasan laut Indonesia.

Kami berharap pertemuan ini menjadi wahana yang sangat penting dan strategis bagi STTAL dan BPPT untuk saling bertukar pikiran dalam upaya penyusunan konsep rancangan kapal patroli pengamanan wilayah perbatasan laut Indonesia," ujar Komandan STTAL.

Selain itu, Komandan STTAL juga berharap agar kunjungan kerja ini, dapat semakin mempererat ikatan kerja sama antara STTAL dan BPPT yang lebih baik untuk kemajuan bersama ke depan.

Pertemuan yang berlangsung dalam suasana kekeluargaan tersebut, diawali dengan sambutan Komandan STTAl. Kemudian paparan dari Ketua Tim Perekayasa BPPT Samudero dan dilanjutkan dengan diskusi serta tukar menukar cindera mata.

Berbagai masukan akan kami tampung, tentunya akan sangat berharga dan membantu tim dalam mengadakan inovasi-inovasi terhadap kapal perang nasional,” ujar Ketua Tim Perekayasa BPPT di akhir pertemuan.(fri/jpnn)

  ♞ JPNN  

TNI AD Kembangkan Cat Antiradar

Dari Ban Bekas https://img.okezone.com/content/2016/08/24/337/1472066/tni-ad-kembangkan-cat-antiradar-dari-ban-bekas-bINq1fIkbU.jpgKasie Ops. Korem 044 Palembang Letkol Wahyu saat tunjukkan cat antiradar. (okezone)

Barang bekas sering kali dianggap sebagai benda tak berharga. Namun, pandangan tersebut berubah sejak Kolonel Punto bertugas di Korem 044 Palembang, Sumatera Selatan, pada Mei 2016.

Dengan sebuah teknik khusus, ia menyulap ban bekas menjadi bahan cat antiradar. Meski masih dalam tahap uji coba, saat ini penemuan tersebut bakal terus dikembangkan.

Ide dari Komandan Korem Kolonel Punto. Diambil dari ban bekas, dibuang kawat-kawatnya. Lalu kita proses,” ujar Letkol Wahyu, kasi ops Korem 044 Palembang, saat memaparkan penemuan itu di Rakornis TMMD, di Balai Samudera, Jakarta Utara, Rabu (24/8/2016).

Wahyu memaparkan, karena dari ban bekas, serbuk cat antiradar itu pun berwarna hitam. Ia optimis jika sebuah bangunan atau kapal diolesi benda tersebut, maka radar musuh tidak akan bisa mendeteksi.

Bangunan kita cat pakai (serbuk) itu tidak terdeteksi. Kapal juga,” imbuhnya.

Sebelum diperkenalkan ke KSAD yang membuka Rakornis TMMD hari ini, Wahyu mengaku telah menguji temuan cat anti radar tersebut. Kala itu sebuah bangunan diolesi dan dicoba dideteksi dengan sebuah sinyal sonar. Namun, reaksinya justru menolak sinyal.

Ini menolak sinyal. Baru kita uji pakai sinyal kita, pakai radar sonar,” tandasnya.

  Okezone  

Rabu, 24 Agustus 2016

Mahasiswa Ubaya Rancang Kapal ELMAN

Bertenaga Surya Mahasiswa Ubaya sedang mengujicoba kapal bertenaga surya buatan mereka di kolam di kompleks kampus setempat, Selasa (23/8) (Humas Ubaya)

Empat mahasiswa Jurusan Teknik Manufaktur dan Teknik Elektro Fakultas Teknik (FT) Universitas Surabaya (Ubaya) merancang kapal bertenaga surya yang diberi nama "Elman" dengan bahan body yang sama dengan kapal sungai pada umumnya.

"Ide awal membuat kapal ini karena kami merencanakan untuk mengikuti lomba Marine Icon 2016 yang bertema Eco Solar Boat," kata anggota tim mahasiswa Ubaya, Avid Christa Nugraha, di kampus setempat, Rabu.

Selain Avid Christa Nugraha, ada pula Chandra Tantono yang berasal dari jurusan yang sama dengan Avid yakni Jurusan Teknik Manufaktur angkatan 2013. Dua lainnya, Reynaldi Johan dan Ariel Valentino mahasiswa Jurusan Teknik Elektro angkatan 2013.

"Melihat dari tema lomba Marine Icon 2016 itu, kami ingin membuat kapal yang ringan, tetapi tetap dapat bekerja dengan baik. Dengan menciptakan kapal yang menggunakan cahaya matahari sebagai bahan bakarnya akan jadi solusi bagi kelangkaan BBM di Indonesia," katanya.

Meskipun menggunakan konsep baru yaitu dengan adanya penggunaan solar cell (panel surya) sebagai supply boat, Tim Ubaya tidak mendapatkan kesulitan dengan penggunaan solar cell tersebut. Hal itu karena mereka telah mempelajari konsep serta perhitungan dalam mengaplikasikan solar cell, karena itu pula mereka dapat meraih posisi ketiga dalam kompetisi Marine Icon 2016 hanya dengan waktu pembuatan selama satu bulan.

"Jadi, saya dari Teknik Elektro memiliki peran pada rangkaian elektronik dan sistem kontrol dari kapal, sedangkan teman dari Teknik Manufaktur berperan dalam mendesain kapal yang stabil, ringan, dan dengan pergerakan lincah," katanya.

Akhirnya, kapal yang diberi nama ELMAN itu mampu meraih best design dan juara 3 untuk kategori Solar Boat dalam kompetisi Marine Icon 2016 dengan menghabiskan biaya pembuatan sebesar Rp 4 juta.

"Kapal yang memiliki ukuran 75 cm x 25 cm dan terdiri dari beberapa komponen, seperti hole/lambung kapal, propeler, ruder, motor, panel surya, dan komponen kelistrikan itu menggunakan lapisan fiber untuk body agar lebih kuat saat terjadi benturan dan mengurangi kemungkinan terjadinya kebocoran," katanya.

Ia menjelaskan kapal ini didesain seringan mungkin agar tidak membebani kinerja motor dan dapat bermanuver dengan baik saat di air.

"Kapal ini di desain dengan bentuk depannya dibuat runcing dan di bagian lambungnya di beri garis-garis timbul agar dapat membantu memecah air saat melaju kencang sehingga tenaga dari mesin tidak terbuang sia-sia," katanya.

Ia menambahkan desain yang dibuat pun berbeda dari kapal solar cell lainnya. "Yang membuat kapal ini berbeda dari kapal tenaga surya lainnya adalah kami menggunakan 28 buah panel surya berukuran 5x5 cm sehingga dapat banyak menyerap energi matahari," katanya.

Selain itu, bahan body kapal dan desainnya kami buat sesuai seperti kapal yang digunakan di sungai pada umumnya. "Kami memilih menggunakan desain seperti bentuk aslinya karena kami ingin kedepannya perahu ini dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat," ujarnya.

Cara kerja kapal ini adalah sinar matahari diubah menjadi energi listrik, lalu energi itu disimpan dalam batere khusus dan akhirnya digunakan menggerakkan propeller pada kapal.

Panel surya akan mengubah panas matahari menjadi tenaga listrik, lalu energi tersebut disimpan dalam baterai berkapasitas 7 kilowatt. Tenaga listrik itulah yang digunakan sebagai bahan bakar mesin untuk menggerakkan propeller atau baling-baling perahu.

"Kapal dengan tenaga surya ini bisa dibilang hemat dan cukup efisien. Kapal itu membutuhkan energi yang sangat sedikit. Hanya dengan 7 volt mampu melaju dengan kecepatan 1.474 knot atau sama dengan 2,73 km/jam," katanya.

Secara terpisah, dosen pembimbing tim itu, Elieser Tarigan, PhD, berharap agar produk ini dapat direalisasikan di masyarakat, karena mengandalkan sumber daya alam menjadi sebuah energi terbarukan.

"Yang membuat kapal ini berbeda dari yang lain adalah kapal ini dapat dibilang tangguh karena kami menggunakan banyak solar panel yang sekaligus kami desain sebagai atap kapal, sehingga dengan desain seperti itu akan banyak energi matahari yang dapat diserap dan membuat kapal melaju lebih lama," katanya.

 Robot Bawah Laut 

Sebelumnya (23/8), dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) Teguh Herlambang meneliti robot kapal selam jenis Autonomus Underwater Vehicle (AUV) guna mengeksplorasi potensi bawah laut Indonesia, yang membuatnya dapat meraih gelar doktor dari Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Teguh mengakui riset tentang kapal selam tanpa awak memang sedang menarik minat banyak peneliti beberapa tahun belakangan. Banyaknya masalah dan kendala dalam melakukan survei bawah laut adalah salah satu faktor kuat yang mendorongnya.

"Padahal monitoring bawah laut perlu dilakukan secara berkala dan teratur untuk memperoleh data yang akurat," kata alumni Jurusan Matematika ITS saat memaparkan desain dan analisa sistem gerak yang dirancangnya untuk mengendalikan AUV.

Dengan sistem itu, katanya, AUV dapat berlaku sebagai kapal selam tanpa awak yang dapat bergerak secara otomatis. Dengan AUV pula, banyak pekerjaan yang semula sukar menjadi lebih mudah. Misalnya dalam hal memantau korosi pada bagian bawah kapal atau pencarian korban kecelakaan pesawat yang jatuh ke laut.

"AUV memanfaatkan citra khusus untuk menganalisa objek yang diamati. AUV dapat membantu dalam membuat pemetaan dasar laut, mengoleksi sampel geologi hingga pemantauan oseanografi. AUV juga akan banyak berguna untuk menjaga kelestarian lingkungan, misalnya dengan inspeksi struktur bawah air," katanya.

Dalam industri minyak dan gas, AUV dapat membantu survei laut dan penilaian sumber daya, sedangkan dalam ranah militer, kapal selam tanpa awak ini dapat digunakan sebagai peralatan sistem pertahanan bawah laut.

Belum merasa puas dengan pencapaiannya, Teguh berencana mengombinasikan penelitian ini dengan penelitiannya saat menempuh program Magister. "Saya berharap kapal selam tanpa awak ini dapat dikombinasikan dengan pesawat tanpa awak yang telah saya teliti sebelumnya, sehingga akan menghasilkan dua sistem canggih yang terbungkus dalam satu alat saja," katanya. (*)

  antaraa  

Robot Kapal Selam Bantu Pemetaan Dasar Laut

Inovasi Teknologi AUV (autonomous underwater vehicle) (Mer et Marine)

Dalam rangka mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), robot kapal selam jenis Autonomus Underwater Vehicle (AUV) dapat membantu dalam membuat pemetaan dasar laut.

Dengan AUV para peneliti sangat terbantu dalam mengoleksi sampel geologi hingga pemantauan oseanografi. “Robot kapal selam ini dapat membantu dalam membuat pemetaan dasar laut,” kata peneliti Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Teguh Herlambang saat memaparkan disertasi untuk meraih gelar doktor dari Fakultas Teknologi Kelautan, di Kampus ITS, Sukolilo, Surabaya, Selasa (23/8).

Berkat penelitannya tentang AUV, Teguh berhasil meraih gelar doktor. AUV dirancang untuk mengeksplorasi potensi bawah laut Indonesia, yang dinilai memerlukan perhatian khusus baik dalam hal ekplorasi maupun penjagaan. Menurut Teguh, AUV juga akan banyak berguna untuk menjaga kelestarian lingkungan, misalnya dengan inspeksi struktur bawah air.

Selain itu, dalam industri minyak dan gas, AUV dapat membantu survei laut dan penilaian sumber daya. Sedangkan dalam ranah militer, kapal selam tanpa awak ini dapat digunakan sebagai peralatan sistem pertahanan bawah laut. “Riset tentang kapal selam tanpa awak memang tengah menarik minat banyak peneliti beberapa tahun belakangan.

Banyaknya masalah dan kendala dalam melakukan survei bawah laut adalah salah satu faktor kuat yang mendorongnya, padahal monitoring bawah laut perlu dilakukan secara berkala dan teratur untuk memperoleh data yang akurat,
” terang alumni Jurusan Matematika ITS ini.

 Jadi Mudah 

Teguh memaparkan, dengan desain dan analisa sistem gerak untuk mengendalikan AUV, banyak pekerjaan di bawah laut yang semula sukar menjadi lebih mudah. AUV bekerja dengan memanfaatkan citra khusus untuk menganalisa objek yang diamati.

Dengan sistem ini, tambah Teguh, AUV tidak hanya sebagai kapal selam tanpa awak tapi dapat juga bergerak secara otomatis, seperti robot. Dapat digunakan untuk memantau korosi pada bagian bawah kapal, atau pencarian korban kecelakaan pesawat yang jatuh ke laut.

Pengajar di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) ini berencana mengombinasikan penelitian ini dengan penelitiannya saat menempuh program magister. “Saya berharap kapal selam tanpa awak ini dapat dikombinasikan dengan pesawat tanpa awak yang telah saya teliti sebelumnya. Dengan begitu, akan menghasilkan dua sistem canggih yang terbungkus dalam satu alat saja. [SB/N-3]

  Koran Jakarta  

Selasa, 23 Agustus 2016

[Foto] Mahasiswa ITB Buat Sejumlah Prototipe Mobil Listrik

Inovasi Anak Bangsa

Mahasiswa ITB Buat Sejumlah Prototipe Mobil Listrik

Pengunjung melihat prototipe kendaraan listrik yang ditampilkan di kawasan ITB pada acara ITB CEO Summit on Innovation, di Bandung, Jawa Barat, 22 Agustus 2016. Sejumlah protipe mobil listrik diciptakan mahasiswa ITB seperti mobil perkotaan listrik, angkutan perkotaan listrik, kendaraan konversi angkutan pedesaan dan trike untuk mengurangi kebutuhan BBM dan pencemaran lingkungan di dalam negeri. [TEMPO/Prima Mulia]
Mahasiswa ITB Buat Sejumlah Prototipe Mobil Listrik

Prototipe angkutan perkotaan yang ditampilkan di kawasan ITB pada acara ITB CEO Summit on Innovation, di Bandung, Jawa Barat, 22 Agustus 2016. Mobil ini dibuat oleh mahasiswa ITB dengan menggandeng Pindad, LEN, Pudak Scienti, Nipress, Telehouse Engineering, Boneo Daya Utama, dan Grain EV. [TEMPO/Prima Mulia]
Mahasiswa ITB Buat Sejumlah Prototipe Mobil Listrik

Mahasiswi duduk di dalam prototip kendaraan listrik untuk angkutan perkotaan yang ditampilkan di kawasan ITB pada acara ITB CEO Summit on Innovation, di Bandung, Jawa Barat, 22 Agustus 2016. [TEMPO/Prima Mulia]
Mahasiswa ITB Buat Sejumlah Prototipe Mobil Listrik

Prototipe Mobil listrik ditampilkan di kawasan ITB pada acara ITB CEO Summit on Innovation, di Bandung, Jawa Barat, 22 Agustus 2016. [ANTARA FOTO/Agus Bebeng]
  Tempo  

Senin, 22 Agustus 2016

Menristek Dikti Kunjungi Bengkel Kapal Pelat Datar

Inovasi Anak Bangsa Menristek Dikti Kunjungi Bengkel Kapal Pelat Datar [Fida detikcom]

Dalam rangka mendukung inovasi anak negeri, Menteri Ristek, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhammad Nasir mengadakan kunjungan ke tempat pembuatan kapal pelat datar. Kunjungan ini dimaksudkan untuk menguji coba kapal yang baru saja dibuat. Kapal ini juga memiliki keunggulan sehingga layak didukung.

"Kalau dari segi argonomis, tadi ukup argonomis ya. Kedua adalah saya tes dari segi kecepatan. Tes pada manuvernya. Tadi manuvernya cukup bagus," ujar Menristekdikti Muhammad Nasir di Pakuhaji, Tangerang, Banten, Sabtu (20/8/2016).

Nasir mengungkapkan bahwa perlu adanya dukungan yang berkelanjutan untuk inovasi dari mahasiswa. Dengan bantuan penuh dari pemerintah diharapkan dapat tercipta industri berbasis teknologi yang unggul dan dapat bersaing secara global.

Menristekdikti sempat mencoba selama beberapa jam untuk mengetahui keunggulan dan kekurangan kapal ini. Bersama tim, mereka mengelilingi rute...

Kapal pelat datar tersebut diinisiasi oleh dua alumni Universitas Indonesia Adi Lingson dan Sanlaruska Fathernas serta mendapat bimbingan dari dosen UI Hadi Tresno Wibowo pada tahun 2012. Inovasi yang mereka tawarkan adalah dengan membuat kapal ini menggunakan plat baja yang mempunyai keunggulan dari kapal-kapal lainnya.

Menristek Dikti Kunjungi Bengkel Kapal Pelat Datar Inovasi Anak Bangsa [Fida detikcom]

Bahan pelat baja tersebut dapat menghemat hingga 25% dari kapal yang terbuat dari kayu ataupun fiberglass. Tingkat ekonomisnya yang tinggi juga dikuti dengan program pemerintah dalam rangka mengurangi penebangan hutan. Karena produk dari baja ini dapat dengan mudah didaur ulang kembali.

Keunggulan lain dari kapal ini adalah desain datar pada bodi kapal. Sehingga kapal dapat dibuat dengan cepat dan mudah. "Kalau orang mendesain kapal se-streamline mungkin. Ini tidak, kita patahkan itu. Jadi platnya datar semua tidak melalui proses bending sehingga membuatnya lebih singkat, potong, tempel, jadi," ujar Pembimbing Juragan Kapal Hadi Tresno Wibowo.

Produksi kapal tersebut masih dalam tahap produksi terbatas. Kekurangan sumber daya manusia dan pendanaan menyebabkan produksi kapal belum bisa dimaksimalkan untuk komoditas industri.

Padahal, dibanding kapal tradisional lainnya. Kapal ini memiliki harga yang cukup terjangkau dengan perawatan yang murah. Sehingga dapat membantu nelayan pada sisi ekonomis.

"Juragan kapal ini masih Senin-Kamis. Mereka hanya sebagai bagaimana inovasi sebagai barang nyata. Belum sampai ke arah komersial. Buat satu kapal masih susah," ujar Hadi.

Sedangkan Menteri Ristek Dikti menjanjikan akan lebih mensoasialisaikan kapal ini. Dirinya juga akan bekerja sama dengan kementrian lain untuk mendukung menuju dunia industri. (rvk/rvk)

 Uji Coba Kapal Baja Pelat Datar Made in Tangerang 
Menristek Nasir Uji Coba Kapal Baja Pelat Datar Made in TangerangMenristek Dikti M Nasir menguji coba kapal baja pelat datar di Tangerang, Sabtu 20 Agustus 2016 (Dok Kemristek Dikti)

Kunjungan ini dimaksudkan untuk menguji coba kapal yang dibuat Juragan Kapal, perusahaan desain dan produksi kapal baja.

"Cukup ergonomis. Kedua adalah saya tes dari segi kecepatan. Tadi manuvernya cukup bagus," ujar Nasir di Pakuhaji, Tangerang, Banten, Sabtu (20/8/2016).

Nasir mengungkapkan perlu adanya dukungan yang berkelanjutan untuk inovasi mahasiswa. Dengan bantuan penuh dari pemerintah diharapkan dapat tercipta industri berbasis teknologi yang unggul dan dapat bersaing secara global.

Nasir sempat mencoba selama beberapa jam untuk mengetahui keunggulan dan kekurangan kapal ini.

[Kemristek Dikti]

Keunggulan lain dari kapal ini adalah desain datar pada bodi kapal. Sehingga kapal dapat dibuat dengan cepat dan mudah.

"Ini tidak, kita patahkan. Jadi pelatnya datar semua tidak melalui proses bending sehingga membuatnya lebih singkat, potong, tempel, jadi," ujar pembimbing Juragan Kapal, Hadi Tresno Wibowo.

Produksi kapal tersebut masih dalam tahap produksi terbatas. Kekurangan sumber daya manusia dan pendanaan menyebabkan produksi kapal belum bisa dimaksimalkan untuk komoditas industri.

Dibanding kapal tradisional lainnya, kapal ini memiliki harga yang cukup terjangkau. Perawatannya juga murah.

"Juragan kapal ini belum sampai ke arah komersial. Buat satu kapal masih susah," ujar Hadi.

Nasir menjanjikan akan lebih menyoasialisaikan kapal ini. Dia juga akan bekerja sama dengan kementerian lain untuk mendukung menuju dunia industri. (try/try)

  ★ detik  

Minggu, 21 Agustus 2016

Pemindahan PT DI ke Kertajati Masih Wacana

Perlu Kajian Mendalam Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai kepindahan PT Dirgantara Indonesia (DI) kekawasan Bandar Udara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka masih merupakan wacana. Ia mengatakan, perlu ada kajian yang lebih mendalam terkait kepindahan dan dampaknya ke depan.

"Ini kan, masih wacana. Belum ada keputusannya," ujarnya seusai memberikan orasi ilmiah di Aula Barat Kampus ITB Jalan Ganeca, Sabtu 20 Agustus 2016.

Menurut Airlangga, pihaknya akan mencermati rencana perusahaan terkait kepindahan tersebut. Dikatakannya, kalau memang jadi pindah, akan ada revitalisasi peralatannya. Ia juga menyebutkan masih banyak tahapan yang harus dilalui sebelum pindah.

Sebelumnya, dikatakan Direktur PT DI Budi Santoso, kepindahan itu atas permintaan Presiden Joko Widodo yang menilai lokasi di Bandung sudah tidak layak. Pemindahan itu direncanakan dilakukan setelah Bandara Kertajati yang bertaraf internasional selesai dibangun.

Sementara kantor PT DI di Bandung akan dikembalikan pada negara. Namun bisa jadi gedung tersebut akan digunakan untuk penyimpanan alat utama sistem pertahanan (alutsista) karena pihaknya berencana membuat pesawat tempur.

Pembangunan bandara Kertajati hingga kini masih berlangsung. Bandara tersebut ditargetkan beroperasi tahun 2017.***

  Pikiran Rakyat  

Sabtu, 20 Agustus 2016

BAE Systems Buka Peluang Transfer Teknologi Lebih Besar di Indonesia

Mock up Eurofighter Typhoon. [Peter Byrne/PA] 

Perusahaan bidang pertahanan, keamanan, dan ruang angkasa asal Inggris, BAE Systems, membuka peluang sebesar-besarnya bagi upaya kerja sama dan transfer teknologi dengan Indonesia. BAE Systems siap membantu Pemerintah Indonesia meningkatkan kemampuan industri pertahanan stastegis dalam negeri dan berbagai sektor terkait lainnya.

Kepala Komunikasi BAE Systems Asia, Simon Astley, mengatakan hal tersebut saat berkunjung ke kantor redaksi Angkasa di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat siang (19/06/2016). Dalam kunjungan itu ia didampingi Diektur Regional BAE Systems Indonesia Michael Salkeld dan Pengembangan Bisnis Yunita Kresnawati.

Simon menjabarkan, sebagai sebuah negara yang besar dengan berbagai potensi yang dimiliki, Indonesia dapat meningkatkan kemampuan industri pertahanan strategisnya. Produk-produk alutsista untuk TNI nantinya dapat dibuat di dalam negeri dan Indonesia tidak harus membelinya lagi dari luar. “Tentu untuk tahap awal harus ada kerja sama terlebih dahulu dimana di dalamnya ada proses transfer teknologi dari negara pembuat alutsista,” jelas Simon Astley.

Kerja sama industri strategis yang menumbuhkan industri lokal, lanjutnya, mampu meningkatkan pendapatan negara dengan nilai yang cukup besar. Ia mencontohkan, kemitraan BAE Systems dengan Arab Saudi memberikan kontribusi 9,3 miliar riyal pada tahun 2014. “Setiap 10 pekerjaan baru yang dibuat oleh BAE Systems bersama partner di Arab Saudi, mendukung 46 pekerjaan lainnya,” jabar Astley.

Indonesia sendiri, di mata Bagi BAE Systems, bukanlah teman baru. Kerja sama pihak pabrikan dengan Indonesia sudah terjalin sejak lama, misalnya sejak TNI Angkatan Udara menggunakan pesawat tempur Hawk Mk.53 maupun Hawk 100/200 era 1980 dan 1990-an. Kemudian TNI Angkatan Laut sejak 2014 mengoperasikan tiga kapal fregat ringan multiperan (MRLF) KRI Bung Tomo -class buatan BAE System Maritime – Naval Ships.

Helmet mounted display (HMD) Striker II (BAE Systems)

Michael Salked memaparkan, dengan PT Dirgantara Indonesia BAE Systems terlibat dalam beberapa proyek sebagai subkontraktor perusahaan Airbus. “Kami tidak mengerjakan pembuatan rangka pesawat, tapi lebih kepada bidang avionika maupun sistem pendukung pesawat,” ujarnya. Reputasi BAE Systems di dunia terbilang bagus dan terpercaya, oleh karenanya perusahaan ini juga memenangkan tender peningkatan kemampuan (upgrade) pesawat tempur F-16 Fighting Falcon buatan Lockheed Martin di sejumlah negara pemakai.

Dalam hal kaitan dengan pesawat tempur Eurofighter Typhoon yang ditawarkan kepada Indonesia, BAE Systems terlibat misalnya dalam pembuatan helmet mounted display (HMD) Striker II. Helm digital ini sangat medukung kerja pilot mulai dari sisi kenyamanan pemakaian hingga fungsi penggunaannya dalam pertempuran. “Kami termasuk menawarkan transfer teknologi HMD ini kepada Indonesia bila Indonesia membeli Typhoon,” ungkapnya.

Proyek lain yang dikerjakan oleh BAE Systems di Indonesia meliputi kerja sama dengan PT Pindad dalam hal pembuatan perangkat lunak dan perangkat keras untuk Divisi Keamanan Siber (Cyber Security Division). Demikian juga kerja sama lain dengan PT LEN, PT PAL, dan lainnya.

BAE Systems di seluruh dunia memiliki karyawan sebanyak 83.400 orang. Pasar utama BAE Systems (International) Limited yang merupakan gabungan perusahaan-perusahaan besar terdahulu, saat ini tedapat di Inggris, Amerika, Australia, India, dan Arab Saudi. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara menjadi target pasar terkininya. BAE Systems Asia berkantor pusat di Kuala Lumpur, Malaysia dengan ditopang oleh 350 staf.

Kami akan hadir nanti dalam penyelenggaraan Indo Defence 2016 bulan November di Jakarta. BAE Systems terbuka untuk melakukan kerja sama. Kami juga akan tampilkan produk-produk yang kami tawarkan,” tutup Astley.
 

  Angkasa  

Jumat, 19 Agustus 2016

Pesawat N219 Akan Terbang Perdana November

✈ N219 [PTDI]

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengatakan jadwal penerbangan perdana pesawat N219 produksi terbaru perusahaannya bersama Lapan direncanakan November 2016. “Sekarang sedang menguji strukturnya,” kata dia di Bandung, Kamis, 18 Agustus 2016.

Budi mengatakan tes penerbangan pertama pesawat itu baru bisa dilakukan setelah tes struktur selesai. Tes tersebut dijadwalkan rampung November ini. “Tes ini agak memerlukan waktu, juga untuk mencocokkan perhitungan kita,” kata dia.

Menurut Budi, proses pengujian itu dilakukan bersamaan dengan proses sertifikasi seluruh komponen pesawat. “Semua komponen itu harus diketahui untuk proses sertifikasinya. Beda dengan bikin mobil dulu, terus sertifikasi. Ini pasang baut, bautnya juga harus disertifikasi. Dan itu memang administrasinya panjang. Tapi harus dikerjakan,” kata dia.

Budi mengakui, jadwal terbang perdana molor karena proses sertifikasi itu. “Sertifikasinya ini kita punya banyak problem di administrasi. Barang tidak bisa dipasang sebelum administrasinya beres,” kata dia.

Menurut Budi, proses kontrak produksi pesawat ini pun akan ditandatangani setelah pesawat itu dinyatakan laik terbang. Dari letter of intent yang sudah diteken sejumlah maskapai yang berminat membeli pesawat N219 itu, proses produksi untuk memenuhi permintaan memakan waktu tiga tahun.

Selain pesawat N219 itu, PT DI juga tengah mempersiapkan pengiriman karyawannya ke Korea Selatan untuk memulai pengerjaan desain pesawat tempur produksi bersama dengan Indonesia yang memiki kode KFX.

Budi mengatakan, pesawat tempur KFX dijadwalkan desainnya akan selesai tahun 2018. “Prototipe tahun 2019, baru setelah itu mulai tes-tes dan operasionalnya diharapkan 2024,” kata dia.

Sebelumnya, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan, uji terbang pertama pesawat perintis N219 buatan bersama lembaganya dengan PT Dirgantara Indonesia dipastikan mundur dari jadwal semula yang dijadwalkan Mei ini.

Thomas mengatakan, kendati jadwal uji terbang pertama molor, target produksi tetap tidak berubah. “Tahun 2017 harus sudah mulai produksi N219,” kata dia.

Pesawat N219 dirancang mengungguli pesawat pesaing terdekatnya, yakni Twin Otter, yang dominan digunakan melayani penerbangan perintis di Indonesia. Salah satu kelebihan pesawat N219 itu dirancang mampu mengangkat beban kargo lebih banyak dari pesaingnya. Twin Otter misalnya maksimal punya kemampuan angkut kargo 1.800 kilogram, tapi N219 dirancang mampu mengangkut beban kargo hingga 2.300 kilogram.

Kelebihan lainnya, kecepatan maksimal pesawat N219 bisa menembus 210 knott sementara Twin Otter hanya 170 knott. N219 juga dirancang tetap bisa take off dan landing tanpa mengurangi muatannya pada landasan dengan ketinggian 5 ribu feet, lokasi bandara tertinggi di Indonesia.

Pesawat N219 dirancang dapat mengangkut 19 penumpang dalam dua baris. Bagian kanan 14 tempat duduk (2x7) dan bagian kiri 5 tempat duduk (1x5). Tinggi kabin 1,7 meter, lebih lega dibanding Twin Otter yang tinggi kabin dalamnya hanya 1,5 meter. Pesawat itu juga dirancang mampu terbang di landasan pendek 500 meter.

  Tempo  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More