N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Krait

Kapal patroli 40 m berbahan almunium alloy produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

Gambar Photoshop KRI Trimaran

Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

Panser Canon 90mm

Kendaraan militer dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

PT44 Gudel

Kendaraan taktis militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Jumat, 19 September 2014

PAL INDONESIA Siap Fokus Proyek ALUTSISTA

PKR, KCR & ToT
KRI Tombak 629 - KCR 60 kedua

P
enyelesaian produksi Alat Utama Sistem Persenjataan (ALUTSISTA) menjadi perhatian PT PAL INDONESIA (Persero). Setelah menyerahkan 3 KCR 60 Meter Bacth Pertama dan pemotongan plat pertama Kapal PKR 10514 kedua, PAL INDONESIA terus memberikan segala upayanya untuk menyelesaikan proyek. Selain itu juga Pembekalan ToT/OJT kapal Selam terhadap 250 orang yang dipimpin langsung Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro, Wakil Kepala Staff TNI AL Laksdya TNI Didit Herdiawan, Pelaksana KKIP, Direksi Damen Schelde Naval Shipbuilding, Perwakilan DSME dan juga Direksi PT PAL INDONESIA (Persero) bertempat di Divisi Kapal Perang, Rabu pagi (17/09).

Dalam pemotongan kapal PKR 10514 kedua, menteri Pertahanan mendapatkan cinderamata dari CEO DSNS, Hein van Ameiden. Kapal PKR ini bukan kapal perang terbesar pertama yang dibangun PAL INDONESIA, namun menjadi Kapal perang dengan teknologi canggih pertama yang dibangun kerjasama dengan galangan kapal di Belanda. Sebagai Kapal Frigate jenis SIGMA, kapal ini mampu mengarungi jarak hingga 5.000 nM dengan panjang 105 Meter dan lebar 14 Meter. Kapal yang mampu menampung 122 awak, 1 helikopter dan beban yang mampu dibawa 2.365 ton.

Sementara itu pada proses pembekalan produksi Kapal Selam, Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro memberikan amanah terhadap 250 orang yang akan melaksanakan Transfer of Technology / On Job Training ( ToT/OJT). MENHAN menuturkan persiapan harus sematang mungkin dalam melaksanakan program ini, karena ini merupakan proyek kebanggan bangsa. “Ini akan menjadi beban berat bagi anda semua, tapi ini akan menjadi sejarah pertama dan yang bisa melakukan adalah anda semua yang hadir disini” tegasnya purnomo. Kita semua akan menjadi saksi kebangkitan kejayaan bangsa dengan terproduksinya kapal Selam ketiga dan seterusnya.

Selanjutnya MENHAN meresmikan produk anak bangsa, yakni Kapal Cepat Rudal 60 meter ketiga. 3 kapal Bacth pertama yang telah diserah terimakan PT PAL INDONESIA (Persero), ini inovasi Fast Patrol Boat 57 Meter yang hingga kini masih digunakan sebagai patrol oleh Angkatan Laut. Peresmian 3 kapal perang KCR masuk menjadi Armada Perang Angkatan laut ini dipimpin langsung oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Kapal ketiga “KRI Halasan 630” menjadi kapal ketiga dari total 16 kapal dengan jenis yang sama yang dibutuhkan Angkatan Laut dalam menjaga batas wilayah perairan Indonesia. Peningkatan semangat dan fokus dalam memberikan hasil karya terbaiknya selalu menjadi perhatian utama PAL INDONESIA dalam terus berproduksi untuk kebanggan Bangsa dan Negara.

  ★ PAL  

★ PT DI Kembali Produksi CN-235 Pesanan Kemenhan

Spesifikasi pesawat intai TNI AU berbeda dengan milik TNI AL TNI AU membutuhkan tiga pesawat CN-235MPA untuk membentuk skuadron baru pesawat intai taktis. Spesifikasi pesawat intai TNI AU berbeda dengan milik TNI AL (photos : IAe, Alert5)

Penyerahan pesawat udara CN 235 ke Puspenerbal yang berlangsung hari ini di Apron Base Opps Lanudal Juanda, Selasa (17/9/2014), menjadi pelunasan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dari pesanan Kementerian Pertahanan RI.

PT DI tuntas menyelesaikan pembuatan dan menyerahkan tiga CN 235 220 Patroli Maritim (Patmar) yang digunakan penunjang kinerja TNI AL.

Direktur PT DI Budi Santoso mengatakan, pemesanan pesawat udara oleh Kementerian Pertahanan ini jadi titik awal kontrak kedirgantaraan dalam jumlah besar. Setelah pemenuhan pesanan tahap ini, PT DI kini telah memiliki kotrak untuk menyelesaikan tiga pesawat udara CN 235 lagi oleh Kementerian Pertahanan (Kemenhan).

“Ada pesanan lagi, satu untuk TNI AU dan dua untuk TNI AL, ini dari kontrak baru, cuman yang satu belum efektif berjalan,” ungkap Budi usai acara penyerahan CN 235 ke Puspenerbal.

Secara teknis Budi menyebut pesawat CN 235 secara keseluruhan telah memenuhi kebutuhan dan teknologi yang digunakan juga sudah terbaik. Kalaupun ada pengembangan lagi bisa dilakukan di mission systemnya saja.

“Pesawatnya sudah cukup cangih, wing juga desain baru, cuman untuk pesanan berikutnya yang kini dikerjakan kemungkinan bisa memiliki kemampuan terbang 11-12 jam, sementara mission systemnya disesuaikan dengan permintaan penggunannya,” kata Budi.

Berikut Foto IAe Alert5 dari Defense Studies:

  Suryaonline  

★ KRI Teluk Bintuni Sudah 95 Persen Siap Meluncur

KRI Teluk Bintuni Sudah 95 Persen Siap MeluncurKRI Teluk Bintuni 520 di dermaga PT DRU Lampung | Saryah M Sitopu/ Saibumi.com

Kapal perang jenis Landing Shift Tank (LST) KRI Teluk Bintuni yang dibangun digalangan kapal milik PT Daya Radar Utama (DRU) Lampung sudah 95 persen selesai. Kondisi terbaru dari kapal yang khusus mengangkut tank jenis Leopard tersebut disampaikan oleh General Manager Production PT DRU Lampung Edy Wiyono (50) kepada Saibumi.com melalui telepon selulernya Kamis, 18 September 2014.

“Kapal sudah 95 persen clear progresnya. Kemudian sistem navigasi dan komunikasi sudah 75 persen terpasang. Kemarin itu untuk diesel generator sudah selesai pembebanan (low test). Hasilnya sesuai dengan yang kami harapkan,” kata Edy tentang perkembangan terbaru dari kapal yang sedang sandar di dermaga PT DRU yang ada di Panjang tersebut.

Lebih lanjut Edy menyampaikan bahwa selanjutnya akan diadakan percobaan mesin utama. “Besok kami akan adakan persiapan commissioning main engine (percobaan mesin utama) dan persiapan finishing kamar -kamar. Lalu, masih ada proses finishing interior secara keseluruhan. Jadi masih sangat banyak hal yang harus dibereskan,” paparnya.

Jadwal sea trial (uji coba kapal berlayar), Edy menyebutkan masih belum ada perubahan dari jadwal. “Masih sesuai jadwal tanggal 21 September 2014 kapalnya akan menjalani proses sea trial. Mudah-mudahan tidak ada halangan. Kami rencanakan meninggalkan dermaga PT DRU Lampung pada siang hari,” katanya lagi.(*)
Melihat Setiap Ruangan KRI Teluk Bintuni 520 Melihat Setiap Ruangan KRI Teluk Bintuni 520Senin, 15 September 2014 lalu adalah terakhir kali Saibumi.com melihat langsung kondisi kapal milik Departemen Pertahanan tersebut. Bersandar di dermaga yang disesaki berbagai perlengkapan finishing kapal yang akan menjadi maskot kapal perang produksi asli bangsa Indonesia sendiri. Dari luar sudah terlihat makin jelas identitas sebagai kapal perang dengan penampilan gagah. Kapal ini sudah dijadwalkan akan mengikuti parade alutsista dihadapan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono saat HUT TNI di Surabaya.

Disisi lain dermaga tempat KRI Teluk Bintuni bersandar, ada juga tug boat Dayaru 1 Jakarta bersama satu kapal tongkang. Mendapat izin masuk kedalam kapal, Saibumi.com mendapat gambaran lebih jelas kondisi perut kapal yang mampu memuat 10 tank jenis leopard tersebut.

Bau khas logam bercampur dengan aroma cat dan lem langsung terhirup begitu memasuki lambung kapal. Aneka warna selang berbagai ukuran ada dilantai, dinding maupun langit-langit. “Warnanya beda karena fungsinya beda. Ada yang buat nge-las, ada yang buat alirkan gas, ada yang buat alirkan listrik, macam-macamlah,” kata salah satu pekerja kepada Saibumi.com.
Paling atas adalah tempat radar utama yang terletak di lantai kapal paling tinggi.

“Radarnya belum dipasang. Mungkin beberapa hari lagi,” kata Dwi. Dari lantai atas terlihat langsung kondisi dari helipad.

KRI Teluk Bintuni juga bisa membawa dua helikopter dan terdapat tempat khusus parkirnya.
Depan ruang komando terlihat dudukan senjata meriam berbagai ukuran. “Senjatanya paling akhir dipasang. Namanya juga senjata, ada perlakuan khusus saat pemasangannya. Kami jadikan tahap akhir nanti,” jelas GM Production Edy Wiyono.

Masih kata dia, untuk ruang komando sedang dalam proses pemasangan sistem navigasi. Tiga kursi yakni Kursi Komandan, Kursi Wakil Komandan dan kursi juru mudi sudah terpasang pada posisi tertentu. Perlengkapan navigasi kapal juga sudah terpasang dan beragam tombol dengan bentuk dan warna menunjukkan fungsi yang berbeda.
Ruangan yang paling menarik perhatian adalah ruangan sangat luas dibagian lambung kapal. “Disinilah nanti tanknya parkir saat dibawa. Selain tank, bisa juga bawa truk. Nanti keluarnya lewat pintu hidrolik. Tapi sistem hidroliknya belum terpasang sehingga pintunya masih belum bisa dibuka,” tutur Dwi selaku satpam PT DRU Lampung. Berdampingan dengan ruang parkir tank tersebut adalah ruangan mesin. Aroma logam makin kuat tercium dan udara juga terasa makin panas.

Puas Saibumi.com berkeliling, tampak tiap ruangan sudah menunjukkan fungsinya. “Ini tinggal memasukkan barang-barang buat isi ruangannya. Dibereskan sedikit lagi jadi baguslah,” kata seorang pekerja yang sedang menata perabot dalam sebuah ruangan tidur berukuran besar.

Pengakuan jujur dari GM Production PT DRU Edy Wiyono, “Seumur-umur mengerjakan kapal, biasanya ada selang waktu tiga / empat bulan untuk finishing sebelum mengadakan penyerahan kepada pemiliknya. Baru kapal ini yang selang waktu antara launching dan pelayaran perdana dalam bulan yang sama. Berat memang tapi jadi tantangan yang seru. Pengalaman pertama mengerjakan kapal perang, jadi semua hal dinikmati. Malah terimakasih dikasih kepercayaan membuat kapal seperti ini. Rasanya campur aduk yah. Nambah ilmu, pengalaman dan bangga pastinya.”(*)

Laporan wartawan Saibumi.com Saryah M Sitopu


  Saibumi  

Kamis, 18 September 2014

Dinding Raksasa Garuda

Pembangunan Dinding Raksasa Garuda di Jakarta Dimulai 1 Tahun Lagi //images.detik.com/content/2014/09/18/4/071106_giantseawall.jpgDesain Dinding Raksasa Garuda

Pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall melalui program National Capital Integrated Costal Development (NCICD) mulai dicanangkan tahun ini. Namun untuk tahap konstruksi, proyek ini baru akan dimulai setelah proses design engineering selesai atau paling lambat 1 tahun lagi.

Hal ini dikatakan Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Budi Karya Sumadi. Jakpro menjadi koordinator bagi para pengembang yang ingin membangun tanggul laut raksasa tersebut.

"Saya pikir design engineering butuh waktu paling tidak 1 tahun, jadi konstruksi awal sudah bisa dilakukan akhir 2015," kata Budi kepada detikFinance, Rabu (17/09/2014).

Saat ini walaupun basic design sudah ada, namun perlu ada proses lebih lanjut. Oleh karena itu beberapa perwakilan ahli dari Pemprov DKI Jakarta bersama Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) sedang dikirim ke Belanda untuk membuat masterplan design pembangunan giant sea wall sesuai NCICD.

"Sekarang ini sudah ada kerjasama dengan Pemda DKI dan Bappenas untuk membuat suatu desain NCICD. Sekarang sudah schematic design masterplan sudah ada dibuat Belanda dan sekarang ini teman-teman sedang di Belanda untuk menindaklanjuti proyek ini," paparnya.

Dipilihnya Belanda selain karena alasan joint venture dengan pemerintah Indonesia terkait proyek NCICD, Belanda juga dinilai sukses membangun infrastruktur di atas air.

"Sekarang kita selesaikan design itu mesti ada design engineering lebih detil dan bagaimana persiapan-persiapan setelah itu yang kita lakukan," cetusnya.(wij/ang)
Belum Dibangun, Dinding Raksasa Garuda Sudah Dilirik Pengembang Asing Pembangunan tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall berbentuk burung garuda di utara Jakarta baru akan dimulai setahun lagi. Namun, sudah banyak pengembang domestik dan asing yang berebut mendapatkan proyek konstruksi yang bernilai miliaran dolar Amerika Serikat (AS) ini.

"Pasti sudah banyak yang mau. Ini proyek besar," tegas Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Budi Karya Sumadi kepada detikFinance, Rabu (17/09/2014).

Selain para pengembang lokal, banyak juga pengembang asing yang ingin merapat membangun konstruksi. Umumnya pola bisnis yang mereka lakukan adalah dalam bentuk konsorsium.

"Negara yang punya berpengalaman seperti itu Belanda, Tiongkok, Korea Selatan, Inggris, dan Prancis," imbuhnya.

Menurut Budi, proyek Giant Sea Wall terbagi menjadi 2 tahap yaitu tahap A dan B. Tahap A merupakan penggabungan pulau-pulau sebanyak 17 pulau. Sedangkan tahap B adalah pembangunan proyek Giant Sea Wall itu sendiri. Diharapkan para pengembang ini dapat mempercepat pembangunan Giant Sea Wall karena hubungannya business to business.

"Belum menetapkan model bisnisnya. Makanya kita sedang mengkaji lagi model bisnis seperti apa karena akan mempengaruhi tahapan pembangunan," jelasnya.(wij/hds)
17 Pulau Buatan di Tembok Raksasa Garuda Bakal Jadi Kota Mandiri //images.detik.com/content/2014/09/18/4/garudagsw.jpgTanggul laut raksasa (Giant Sea Wall) berbentuk burung garuda pada dasarnya berfungsi untuk melindungi Jakarta dari banjir. Namun pulau-pulau buatan yang membentuk sang garuda dirancang untuk menjadi kota mandiri.

Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) Budi Karya Sumadi mengatakan sebanyak 17 pulau buatan baru yang akan dibangun nanti bakal menjadi kota mandiri baru.

"Sebanyak 17 pulau itu nanti menjadi sebuah kota baru. Diupayakan kawasan itu bisa mandiri di daerah sendiri," ungkap Budi kepada detikFinance, Rabu (17/09/2014).

Menurut Budi kawasan 'Garuda' dirancang untuk 57% sebagai perumahan (apartemen), 31% sebagai pusat perkantoran, 7% untuk bisnis ritel, dan 6% untuk industri. Konsep yang disebut juga sebagai water front city sudah dikenal di berbagai kota di dunia seperti Dubai yang punya Palm Island.

Kawasan 'Garuda' juga akan dilengkapi beberapa infrastruktur dasar seperti pelabuhan, bandara, jalan layang di atas laut dari Bekasi-Tangerang yang melintasi pulau buatan, hingga pengolahan limbah dan air limbah di teluk Jakarta.

"Ada porsi untuk tempat tinggal, sekolah, rumah sakit, mall, dan sebagainya supaya tumbuh berkembang dan tidak membebani DKI Jakarta. Ada juga kawasan industri khusus high tech, bukan industri berat," paparnya.

Ratusan ribu orang, terutama yang berada di Jakarta, bisa dipindahkan ke lokasi ini. "Mungkin paling tidak kawasan ini bisa menampung 400.000 orang," sebutnya.(wij/hds)
Tembok Laut 'Garuda Raksasa' Dibuat Agar Jakarta Tak Tenggelam di 2050 Wilayah DKI Jakarta khususnya Jakarta Utara telah mengalami penurunan muka tanah pada laju yang mengejutkan, rata-rata 7,5 cm per tahun. Di beberapa tempat laju penurunan muka tanah ini dapat mencapai hingga 17 cm per tahun, hingga berada di bawah permukaan air laut.

Demikian disebutkan dokumen masterplan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD)/Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN) yang dikutip, Kamis (18/9/2014).

Jika ini terus dibiarkan maka pada tahun 2050 sebagian wilayah Jakarta khususnya Jakarta Utara bakal tenggelam. Berdasarkan dokumen tersebut disebutkan tinggi permukaan laut akan mencapai 5 meter di atas permukaan jalan Jakarta pada 35 tahun mendatang.

"Akibat penurunan muka tanah yang parah, muka air laut akan berada di antara 3-5 meter di atas paras jalan pada tahun 2050," jelas dokumen tersebut.

Untuk itu, dalam masterplan ini muncul rencana pembangunan Giant Sea Wall sebagai tanggul laut 'raksasa' di Teluk Jakarta. Tanggul ini didesain sangat unik yaitu sebuah bentuk burung 'Garuda Megah' lengkap dengan bentangan sayap yang merupakan hamparan kumpulan pulau-pulau buatan hasil reklamasi sebagai daratan baru.

Program ini untuk mencegah banjir yang disebabkan dari laut ketika tanggul laut, dan tanggul sungai di daerah pesisir, tidak cukup tinggi atau cukup kuat. Ketika laut berada di muka air tertinggi, tanggul-tanggul ini terlimpasi, dan air laut membanjiri kota ini seperti yang terjadi pada 2007.

"Banjir ini sangat mungkin terjadi karena pertahanan banjir Jakarta sudah tidak mencukupi lagi. Survei pendahuluan dari 2013 memperlihatkan bahwa saat ini lebih 40% pertahanan banjir di daerah pantai tidak mampu menahan muka air laut tertinggi," jelas dokumen tersebut.

Menurut dokumen tersebut, akibat penurunan muka tanah yang sedang berlangsung di wilayah pesisir Jakarta, risiko banjir menjadi meningkat. Penanganan masalah ini menjadi semakin sulit.

Masterplan proyek Pembangunan Terpadu Pesisir Ibukota Negara adalah suatu proyek bersama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda.

Proyek ini dibiayai oleh Pemerintah Belanda sementara pelaksananya adalah Kementerian Koordinator Perekonomian, Indonesia.(hen/hds)
Bila Jakarta Tenggelam di 2050, Kerugian Bisa Capai Rp 1.000 Triliun //images.detik.com/content/2014/09/18/4/110540_jakartabanjir.jpgWilayah Jakarta, khususnya di bagian utara, terus mengalami penurunan permukaan tanah 7-17 cm per tahun. Bahkan ada yang sudah di bawah permukaan laut.

Bila masalah ini tak ditangani dengan proyek tanggul raksasa, maka pada 2050 sebagian wilayah Jakarta tenggelam. Dampaknya, akan ada kerugian meteri sangat besar.

Demikian dokumen masterplan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD)/Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN) yang dikutip, Kamis (18/9/2014).

Dokumen itu menjelaskan, sejalan penurunan permukaan tanah di utara Jakarta, maka sungai-sungai dan kanal-kanal ikut mengalami penurunan bersama dengan penurunan muka tanah. Sehingga sungai-sungai dan kanal-kanal ini akan semakin sulit mengalirkan airnya secara gravitasi ke laut. Dampaknya akan terjadi banjir besar seperti yang pernah terjadi di 2007.

Saat ini, memang sudah Jakarta telah memanfaatkan pompa-pompa berkapasitas besar. Pompa-pompa di sekitar danau Jakarta seluas ribuan hektar, akan diperlukan, untuk mengalirkan air dari semua sungai yang ada, termasuk Banjir Kanal.

"Jika upaya-upaya tidak diambil, sebagian besar wilayah pesisir terancam genangan permanen," jelas dokumen itu.

Bila terjadi genangan air laut permanen di utara Jakarta, maka banyak dampak sosial yang terjadi, karena jutaan orang akan terkena imbasnya. Selain itu, kerugian materi dari lahan yang tenggelam dan bangunan yang rusak bisa mencapai triliunan rupiah.

"Nasib 4,5 juta orang sedang dipertaruhkan. Kerusakan materi akibat genangan permanen ini dihitung telah berjumlah US$ 103 miliar (sekitar Rp 1.000 triliun), akibat kehilangan lahan dan bangunan saja, kerusakan ekonomi bahkan akan lebih besar," jelas dokumen NCICD.

Dampak lainnya ketika banjir sering terjadi, dapat menyebabkan kemerosotan reputasi Jakarta sebagai ibu kota Indonesia, kehilangan kegiatan ekonomi, dan kenaikan premi asuransi.

Seperti diketahui, dokumen ini merupakan Masterplan untuk Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN), Jakarta. Masterplan ini dimaksudkan tidak hanya memberikan suatu solusi untuk perlindungan jangka panjang atas wilayah Jakarta dan sekitarnya terhadap banjir yang berasal dari laut.

Untuk itu, dalam masterplan ini muncul rencana pembangunan Giant Sea Wall, sebagai tanggul laut 'raksasa' di Teluk Jakarta. Tanggul ini didesain sangat unik yaitu sebuah bentuk burung 'Garuda Megah', lengkap dengan bentangan sayap yang merupakan hamparan kumpulan pulau-pulau buatan hasil reklamasi sebagai daratan baru.
Jakarta Sudah Punya Tanggul Laut, Tapi Kini Nyaris Tenggelam //images.detik.com/content/2014/09/18/4/120149_tenggelam2320.jpgWilayah pesisir Jakarta Utara telah memiliki tanggul-tanggul laut untuk menahan melubernya air laut ke daratan. Namun akibat penurunan permukaan tanah, terutama di utara Jakarta, tanggul-tanggul itu kini nyaris tenggelam.

Demikian dokumen masterplan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD)/Pengembangan Terpadu Pesisir Ibukota Negara (PTPIN) yang dikutip, Kamis (18/9/2014).

Saat ini, kondisi tanggul di pesisir Jakarta Utara sudah hampir tenggelam permukaan laut. Di 2007 lalu, tembok pesisir yang tingginya sedikit di atas tinggi orang dewasa (sekitar 2 meter) itu, posisinya hanya tenggelam 50%. Pada Oktober tahun lalu, puncak tanggul laut itu sudah beberapa cm dari permukaan laut.

"Pada 2008, tanggul laut telah diperkuat, tetapi akibat terjadinya penurunan muka tanah, tanggul laut ini telah mencapai tingkat rendah yang kritis. Limpasan pada pasang tinggi diperkirakan akan terjadi pada tahun-tahun mendatang," jelas dokumen itu.

Dalam masterplan ini, muncul rencana pembangunan Giant Sea Wall sebagai tanggul laut 'raksasa' di Teluk Jakarta. Tanggul ini didesain sangat unik, yaitu sebuah bentuk burung 'Garuda Megah', lengkap dengan bentangan sayap, yang merupakan hamparan kumpulan pulau-pulau buatan hasil reklamasi sebagai daratan baru.

Untuk jangka pendek, masterplan NCICD merekomendasikan agar pertahanan laut dan sungai saat ini diperkuat, dan dipertinggi sedikitnya 1,5 meter. Agar bisa memberi kelonggaran waktu, sebelum tanggul laut raksasa dibangun di Teluk Jakarta.

"Penurunan muka tanah akan secara perlahan menurunkan permukaan tanggul. Upaya ini akan menyediakan perlindungan terhadap banjir hingga tahun 2022, yang memberi kesempatan untuk mengembangkan solusi-solusi yang tangguh," jelas dokumen NCICD.

Penguatan tanggul laut paling mendesak di dekat Pluit, Pantai Mutiara, dan di sepanjang Ancol. Pada ketiga tempat ini, tingkat ketinggian tanggul sudah sangat kritis.

"Pelaksanaan penguatan tanggul akan dimulai pada tahun 2014. Di banyak tempat, ruang yang tersedia untuk peningkatan tanggul ini sangat terbatas," jelas dokumen tersebut.

Saat ini, di seluruh wilayah pesisir Jakarta penurunan muka tanah ini sudah parah. Di bagian tengah dan bagian barat Teluk Jakarta, laju penurunan muka tanah rata-rata 7,5 cm per tahun. Ke arah timur wilayah pesisir, laju penurunan muka tanahnya sekitar 3 cm per tahun.

Namun, penguatan tanggul laut dan peningkatan kapasitas pompa drainase, tidak dapat lagi memberikan perlindungan yang cukup untuk jangka panjang. Apalagi, lahan di Jakarta sangat terbatas untuk menciptakan waduk tampung yang berkapasitas besar.

"Solusi lepas-pantai (tanggul laut raksasa di Teluk Jakarta) untuk perlindungan banjir tidak terelakkan lagi, untuk mencegah terjadinya banjir di wilayah pesisir kota akibat air laut dan sungai," kata dokumen NCICD.

  ★ detik  

Alat Bor Minyak Produk Indonesia

RI Baru Bisa Bikin Alat Bor Minyak, Vietnam Sudah 15 Tahun Lalu //images.detik.com/content/2014/09/18/1034/rigbatam.jpgPT Citra Tubindo Engineering bekerjasama dengan PT Pertamina Drilling Service Indonesia, sukses membuat alat bor minyak dengan kekuatan 1.500 hours power dan daya bor hingga 5.000 meter.

Indonesia ketinggalan jauh dari negara tetangga Vietnam, yang sudah mampu lebih dahulu menciptakan alat serupa 15 tahun lalu.

"Vietnam 15 tahun lalu sudah bisa bikin sendiri, kita belum. Tetapi akhirnya kan kita bisa," ungkap Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) Muhamad Husen, ditemui di Kantor Pusat PT Citra Tubindo Engineering, Batam, Kamis (18/9/2014).

Menurut rencana, satu buah alat bor atau drilling rig DS 10 dengan nama PDSI#43.3/AB1500-E akan digunakan Pertamina pada kegiatan pengeboran di Aljalzair. Menurut Husen, alat bor dinilai penting, terutama untuk mendapatkan dan meningkatkan produksi minyak mentah.

"Kami Pertamina mulai Desember tahun lalu mulai mengebor di Aljalzair, dengan produksi 23.000 barel per hari," imbuhnya.

Sementara itu di tempat yang sama, Direktur Utama PT Citra Tubindo Enginering Kris Illuwan menjelaskan, drilling rig DS 10 mulai masuk masa konstruksi 26 Februari 2014. Saat ini konstruksi sudah mencapai 90% dan ditargetkan selesai Oktober 2014.

"Sekarang ini banyak kebutuhan rig di dalam negeri yang diimpor dari luar negeri. Rig ini harganya 10% di bawah kompetitor, tender dimenangkan PT Citra Tubindo Engineering. Sertifikasi internasional QPI, ISO, dan SMK3," paparnya.

Sebelum DS 10, Citra Tubindo telah memproduksi drilling rig DS 8 dan DS 9. Keduanya telah digunakan ExxonMobil mengeruk minyak mentah dari Blok Cepu.

"Rig ini bisa menghemat 400 hari dan menghemat biaya produksi. Kami yakin industri dalam negeri bisa membuat rig dan menggurangi ketergantungan impor alat pengeboran perminyakan," jelasnya.(wij/dnl)
Pertamina Mulai Gunakan Alat Bor Made in RI Seharga Rp 260 Miliar PT Pertamina (Persero) mulai tahun ini secara berkala menggunakan alat bor minyak atau rig produksi dalam negeri. Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengungkapkan, langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan penggunaan alat bor produksi luar negeri.

"Selama ini rig yang kita gunakan banyak buatan Amerika (Texas). Tetapi kita sudah rintis rig buatan dalam negeri," kata Ali saat berdiskusi dengan wartawan di Turi Beach Resort, Batam, Kamis (18/9/2014).

Rig buatan dalam negeri diproduksi oleh salah satu perusahaan lokal yang bermarkas di Batam, yaitu PT Citra Tubindo Enginering. Perusahaan ini bekerja sama dengan anak perusahaan Pertamina yaitu PT Pertamina Drolling Service Indonesia (PDSI).

"Citra Tubindo Enginering yang membuat. Engineer Pertamina juga ikut men-develop rig itu, lalu dibeli oleh PDSI," imbuhnya.

Saat ini, setidaknya Citra Tubindo Enginering telah memproduksi tiga rig dengan kapasitas bor 1.500 horsepower dengan jangkauan hingga 5.000 meter. Harga satu rig adalah US$ 26 juta (Rp 260 miliar). Sebanyak dua dari tiga rig telah digunakan Exxon Mobil untuk kegiatan pengeboran di Blok Cepu.

"Dari segi harga jauh lebih kompetitif dan yang penting kita bangun kapasitas nasional. Pengembangan sudah dilakukan sejak 2011. Satu rig lagi kita akan bawa ke Aljalzair, kita jadi operator di sana," papar Ali.(wij/hds)

  ★ detik  

Alasan Jokowi Bentuk Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset Teknologi

Supaya Tereakisasi dan Dirasakan Manfaatnya Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla memberikan keterangan pada wartawan terkait porsi kabinetnya, di Rumah Transisi Jokowi-JK, Jakarta, Senin (15/9/2014). Rencananya Kabinet Jokowi-JK akan diperkuat 34 kementerian yang terdiri dari 18 orang profesional dan 16 orang dari partai politik.

Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla akan memecah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi dua kementerian terpisah. Pertama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dan kedua, Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset Teknologi.

Jokowi mengatakan, ada alasan yang mendasari mengapa ia menginginkan ada kementerian khusus yang fokus membawahi pendidikan tinggi dan riset. Apa alasannya?

“Baru kemarin saya umumkan jumlah kabinet, tapi yang berhubungan dengan Bapak, Ibu, ada Kementerian Pendidikan Tinggi dan Ristek dijadikan satu kementerian. Kenapa? Karena kita ingin ke depan, riset baik yang berhubungan dengan teknologi, riset sosial, pertanian, kemaritiman, itu betul-betul bisa diaplikasikan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, petani, nelayan, dan usaha mikro,” kata Jokowi di depan sekitar seratus orang peneliti dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Gedung LIPI, Jakarta, Selasa (16/9/2014) sore.

Jokowi mengatakan, selama ini, riset belum benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Kegiatan riset dilakukan sendiri-sendiri oleh setiap lembaga dan kementerian sehingga tidak satu padu.

“Pertanian, BPPT, Batan, Lapan, di semua kementerian ada semuanya, fokus mau ke mana ini? Jadi tidak jelas. Keluarannya apa, dipakai untuk apa, siapa yang memanfaatkan ini, tidak ditindaklanjuti dengan baik,” ujar Jokowi.

Jokowi berharap Kementerian Pendidikan Tinggi dan Riset ini dapat menjadi pusat bagi riset nasional. Dengan demikian, riset akan mendatangkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Secara riil, riset dilihat masyarakat sebagai suatu kegiatan yang bermanfaat. Kita ingin ada tahapan dalam riset baik yang basic, apply maupun innovation yang bisa betul-betul bermanfaat,” ujarnya.

  ★ Kompas  

Parade HUT TNI ke 69

Merupakan Parade Militer Terbesar Era Milenium imagePada tanggal 7 Oktober 2014 di Surabaya, Jawa Timur akan dicetak sejarah parade militer terbesar Indonesia. Bayangkan saja, TNI AU akan menerbangkan 139 pesawat fix wing maupun rotary. Mungkin ini menjadi sejarah fly pass terbesar yang pernah dilakukan Indonesia. 139 pesawat TNI AU akan melintas bersamaan dengan formasi di atas langit Surabaya.

Alutsista itu belum termasuk pesawat udara TNI AD sebanyak 43 unit, serta milik TNI AL 23 unit. Tentu ini menjadi pemandangan yang mencengangkan, karena mereka akan fly pass bersamaan. Fly Pass ini membutuhkan kordinasi yang cermat, termasuk urusan take off dan landing.

HUT TNI ke 69 pada 7 Oktober nanti akan melibatkan 526 alutsista. Selain fly pass, akan didemonstrasikan peperangan tiga matra, sehingga lokasinya dipilih di Armatim Surabaya.

TNI AL juga akan melakukan sailing pass yang melibatkan 35 kapal perang, plus menampilkan rudal maut Yakhont. Untuk armada bawah laut, tidak usah berpikir macam-macam, karena kapal selam yang ditampilkan adalah KRI Nanggala 209. KRI ini memang sedang giat dengan misi “sosialisasi” dengan masyarakat. Kapal selam Indonesia, dibagi menjadi dua kategori, sama halnya dengan pesawat tempur: yakni, kapal selam latih dan kapal selam tempur.

Angkatan Darat juga akan mengeluarkan alutsista mautnya, yakni 22 MBT Leopard 2, 22 IFV Marder, 13 Panser Tarantula, 6 pucuk meriam keras berat, Caesar 155mm, 9 pucuk Roket Multi Laras Astros 2, 18 pucuk meriam KH 179, 155mm dan banyak lagi. Tentu tidak semua alutsista dipamerkan di sini.

imageimage
image
image
image
image

  ★ JKGR  

★ Proyek PKR Kedua Mulai Dibangun

Pemotongan Baja Pertama Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kanan), bersama Wakil KSAL Laksdya TNI Didit Herdiawan (kedua kiri), Dirut PT PAL Indonesia (Persero) M Firmansyah Arifin (kedua kanan) dan perwakilan galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda (kiri), menunjukkan potongan plat baja berbentuk kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 di Divisi Kapal Perang PT PAL Indonesia (Persero) Surabaya, Rabu (17/9). Pemotongan plat baja pertama (fist steel cutting) proyek kapal PKR yang bekerjasama dengan galangan kapal DSNS Belanda tersebut, untuk menyeimbangkan teknologi terkini pada industri perkapalan, demi memenuhi Armada TNI AL. (ANTARA FOTO/Eric Ireng)Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro (kedua kanan), bersama Wakil KSAL Laksdya TNI Didit Herdiawan (kedua kiri), Dirut PT PAL Indonesia (Persero) M Firmansyah Arifin (tengah) dan perwakilan galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda (kiri), menyaksikan proses pemotongan plat baja pertama kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 di Divisi Kapal Perang PT PAL Indonesia (Persero) Surabaya, Rabu (17/9). Pemotongan plat baja pertama (fist steel cutting) proyek kapal PKR yang bekerjasama dengan galangan kapal DSNS Belanda tersebut, untuk menyeimbangkan teknologi terkini pada industri perkapalan, demi memenuhi Armada TNI AL. (ANTARA FOTO/Eric Ireng) http://3.bp.blogspot.com/-emyXcCxV2xI/U1ZvuOOnalI/AAAAAAAAd40/fQrT_3_-jEc/s1600/Ind_FFG_PKR_10514.pngBUMN galangan kapal PT PAL Indonesia (Persero) mulai menggarap proyek kapal Perusak Kawal Rudal (PKR) 10514 yang kedua setelah sebelumnya memulai konstruksi pembuatan PKR pertama.

Direktur Utama PAL INDONESIA M. Firmansyah Arifin mengatakan proyek PKR tersebut digarap melalui kerjasama dengan galangan kapal Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) Belanda.

"Kerjasama dengan galangan luar negeri ini turut menyeimbangkan teknologi terkini pada industri perkapalan. Perkembangan kebutuhan kapal dan teknologinya selalu meningkat setiap tahunnya, dan ini sebagai pemenuhan Armada TNI Angkatan Laut," ujarnya dalam siaran rilis penyelesaian proyek KCR 60 dan pemotongan plat baja pertama (First Steel Cutting) kapal PKR 10514 kedua, Rabu (17/9/2014).

Dia mengatakan dalam mencapai target sebagai lead integrator sesuai amanah Undang-Undang No.16 Tahun 2012, PAL Indonesia sebagai BUMN diharuskan mampu memproduksi kebutuhan alutsista TNI yang menjadi motor tumbuhnya industri galangan kapal.

"Dengan merampungkan pesanan TNI AL, kami akan terus berkarya untuk peningkatan kebutuhan armada laut menjadi world class navy," imbuhnya.

Adapun PAL Indonesia telah menyerahkan Kapal Cepat Rudal 60 Meter (KCR 60) dengan total 3 unit dari bacth pertama ini. KCR 60 meter merupakan jenis pengembangan dari Kapal Patroli Cepat (FPB-57) yang telah dibangun oleh perseroan sebelumnya. KCR 60 M ketiga yang sudah diserahterimakan rencananya akan diresmikan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro untuk menjadi kapal perang Indonesia dengan nama KRI HALASAN 630.

PAL Indonesia juga berencana segera mengirimkan sekitar 250 tenaga pembuatan kapal untuk melaksanakan Transfer of Technology (ToT) proyek Kapal Selam. Proyek tersebut bakal menjadi sejarah pertama di Indonesia dalam pembangunan kapal Selam.
Penampakan Foto Modul PKR 10514 Pertama diposkan ambalat :



  antara | Bisnis  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More