N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

KRI Teluk Bitung 520

Kapal Landing Ship Tank (LST) produksi PT DRU, Lampung, merupakan kapal angkut tank pertama terbesar buatan Indonesia - Indonesia Teknologi

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Krait

Kapal patroli 40 m berbahan almunium alloy produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

Panser Canon 90mm

Kendaraan militer dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

PT44 Gudel

Kendaraan taktis militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Senin, 25 Juli 2016

Dari Bengkel Peralatan Militer Menjadi Pabrik Senjata Incaran Dunia

PT Pindad https://kenaapa.id/filez/styles/node/public/img/indonesianindustry/2016/07/24/2135050-5167028.jpg?itok=aY86TKl8Alutsista PT PINDAD [siregar]

PT Pindad (Persero) semakin menunjukkan eksistensinya dalam memproduksi berbagai alutsista seperti senjata, amunisi dan kendaraan tempur baik untuk kebutuhan TNI maupun pasar global.

Khusus pasar global, adalah Negara Mali , Arab Saudi , India ,Oman , Malaysia , Nepal , Myanmar , Kamboja , Filipina yang hingga kini menjadi pangsa pasar bagi PT Pindad.

Berdiri pada 1808, awalnya Pindad adalah bengkel peralatan militer milik Belanda di Surabaya. Bengkel tersebut lalu berubah menjadi pabrik dan dipindah ke Bandung dengan nama Pabrik Senjata Munisi (PSM).

Pada tahun 1950 terjadi nasionalisasi , PSM berubah nama menjadi pabrik senjata dan mesiu serta bernaung di bawah TNI. Pada 1983 pabrik senjata itu berubah status menjadi BUMN dengan nama PT Pindad dan bernaung dibawah Badan Pengelola Industri Strategis.

Guna menjaga kualitas dalam setiap produksinya, hingga kini tenaga ahli di Pindad melakukan Pemeriksaan berlapis pada setiap proses manufaktur mulai dari penerimaan material sampai proses akhir pembuatan produk. Seluruh produknya diuji dan memenuhi standar internasional. Maka tak heran bila banyak negara mengincar produksi hasil karya Pindad.

Dalam eksistensinya sebagai pemasok alutsista baik untuk TNI maupun pasar global, baru-baru ini PT Pindad meluncurkan empat senjata varian senapan serbu yang memiliki kualitas unggulan.

Ke-empat senjata tersebut ialah Senapan serbu SS3 yang merupakan pengembangan dari produk seri SS1 dan SS2. Senjata ini memiliki kaliber amunisi 7,62 mm dengan jarak tembak efektif 400 meter dan 800 meter.

Senjata khusus ini didesain sebagai designated marksman rifle dalam pasukan yang membutuhkan akurasi tinggi. Dengan kapasitas magasin 20 butir, senapan ini memiliki panjang terlentang 1.080-1.150 mm, dengan terlipat 836 mm dan laras 500 mm.

Senjata berikutnya ialah senapan serbu SS2 subsonic yang merupakan jenis baru dari pengembangan senapan serbu SS2 laras panjang. Senjata ini dirancang khusus dengan peredam (silencer) dan munisi subsonic (di bawah kecepatan suara) 5.56 mm untuk di gunakan dalam operasi senyap.

Senjata ini memiliki kapasitas magasin 30 butir dengan jarak tembak mencapai 150-200 meter serta memiliki panjang terlentang 713 mm, panjang terlipat 975 mm dan laras 200 mm.

Ketiga, senapan Sub Machine Gun PM3 yang dirancang khusus untuk mendukung pertempuran jarak dekat. Senapan ini menggunakan munisi kaliber 9 mm dengan bidikan akurat hingga 75 meter dan memiliki kecepatan tembak 750-850 butir per menit, dengan Panjang 720 mm, terlipat 494 mm dan laras 210 mm.

Dan terakhir ialah senapan berjenis Pistol G2 Premium yang merupakan senapan genggam dari pengembangan G2 Combat dan Elit. G2 Premium lebih diperuntukkan untuk olahraga tembak karena memiliki amunisi kaliber 9 mm dengan jarak tembak efektif 25 meter.

Dengan bobot 1,05 kg dan kapasitas magasin 15 butir amunisi. Senjata ini memiliki panjang 222 mm dan tinggi 147 mm.

Selain senjata terbaru tersebut, Pindad juga memproduksi jenis senjata andalan lainnya. Berikut adalah produksi senjata Pindad dari tahun ke tahun ; Senjata SS1, senjata ini merupakan senapan serbu yang mendapatkan lisensi dari FN FNC asal Belgia dan diproduksi sejak 1988.

Senapan ini memiliki enam varian, yaitu SS1-V1, SS1-V2, SS1-V4, SS1-V5, SS1-RM, dan SS1-M1. Lalu Senapan serbu SS3, SS2 Subsonic 5,66 mm. Kemudian Pistol jenis G2 Premium, Sub Machine Gun PM3. Jenis lainnya ialah Senapan Anti Teror PM2-V1 dan PM2-V2.

Pindad juga memproduksi Senapan Sniper dengan nama SPR-1, SPR-2, dan SPR-3. Lalu senapan mesin SM2-V1, SM2-V2, dan SM-3. Pindad juga mampu memproduksi Meriam dengan jarak tembak hingga jarak 10,5 kilometer. Meriam ini bernama ME-105 mm Howitzer.

  ★ indonesiaindustri  

Hawk 200 TT 0214 Kembali ke Pekanbaru

Hawk 200 TT 0214 TNI AU selesai perbaikan

Hari ini, jika cuaca mendukung, pesawat Hawk 200 dengan nomor TT 0214 dari Lanud Rusmin Nuryadin (Rsn) Pekanbaru, akan kembali dari Lanud Abdulrachman Saleh, Pakis, Malang menuju skadron 12, Lanud Rsn, Pekanbaru.

Berdasarkan rilis yang diterima MVoice beberapa menit lalu, pesawat ini telah menjalani tes flight hari terakhir, Kamis (21/7).

Pesawat dari Lanud Rsn ini mengalami perbaikan di Lanud Abdulrachman Saleh, selama sepuluh bulan.

Hawk 200 telah menjalani tes flight sebanyak tiga kali dan dinyatakan berhasil, dengan ketinggian mencapai 15 ribu feet dan kecepatan rata rata 1.000 hingga 2.000 km per jam.

Pesawat ini telah menjalani major servicing dua yang merupakan perawatan tingkat berat setelah berada diangka 2.000 jam terbang.

Komandan Depohar 30 Lanud Abdulrachman Saleh, Kolonel (Tek) M Yani Rudiansyah, ST SIP menjelaskan, pesawat Hawk 200 dengan nomer pesawat TT-0214 telah berada di Depohar 30 sathar 32 sejak tanggal 13 Oktober 2015 sampai 21 Juli 2016.

Menurut rencana hari ini kalau tidak ada kendala cuasa akan kembali ke Pekanbaru Skadron 12 Pekanbaru,” jelasnya.

Sementara itu, Dansathar 32 Letkol (Tek) Dody Kurniadi perawatan pesawat ini meliputi major servicing dua yang notabene membongkar bagian-bagian penting dari pesawat.

Sehingga memakan waktu pengerjaan yang cukup panjang,” jelasnya.

   malangvoice  

Minggu, 24 Juli 2016

[Video] KRI Cakalang 852

Kapal Tempur Karya Putra BangsaKRI Cakalang 852 [indomiliter]

KRI Cakalang 852 yang memiliki panjang (Loa) 44,40 meter, lebar 7,40 meter dan tinggi tengah kapal 3,40 meter. KRI Cakalang 852 memiliki mesin utama 3 x 1800 Hp dengan putaran mesin 2300 rpm, dan kecepatan maksimum mencapai 24 knot. Kapal ini juga memiliki kecepatan jelajah sampai 17 knot dengan daya jangkau 1632 nautical mile (setara 3.022 km). Kapal berbobot 230 ton ini mampu memuat tanki bahan bakar hingga 56.000 liter.
 



  Garuda Militer  

Sabtu, 23 Juli 2016

Uji Coba Litbang Target Torpedo Berhasil

Uji coba Riset dan Pengembangan (R & D) Mini Mobile Target Torpedo di Labinlek Surabaya, Dermaga Madura Koarmatim Ujung, Surabaya. Kamis (21/07/2016) (dispenarmatim) ★

K
epala Staf Komando Armada RI Kawasan Timur (Kasarmatim) Laksamana Pertama TNI Mintoro Yulianto, menyaksikan uji coba Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Mini Mobile Target Torpedo Labinlek Surabaya.

Kegiatan yang berlangsung di dermaga Madura Koarmatim Ujung, Surabaya. Kamis, (21/7), dipimpin langsung oleh Kepala Laboratorium Induk Elektronika (Kalabinlek) Kolonel Laut (E) Irfan Akhsan. Kalabinlek merupakan Unsur Pembantu Tugas (UPT) Markas Besar Angkatan Laut yang berada di Surabaya.

Kepala Staf Komando Armada RI Kawasan Timur (Kasarmatim) Laksamana Pertama TNI Mintoro Yulianto, menyaksikan uji coba Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Mini Mobile Target Torpedo Labinlek Surabaya. FOTO: Dispen KoarmatimKepala Staf Komando Armada RI Kawasan Timur (Kasarmatim) Laksamana Pertama TNI Mintoro Yulianto, menyaksikan uji coba Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Mini Mobile Target Torpedo Labinlek Surabaya. [Dispen Koarmatim]

Kadis Penerangan Koarmatim Letkol Laut (KH) Maman Sulaeman mengatakan atas kerja keras dengan peralatan yang memadai dan didukung personel yang profesional, uji coba Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Mini Mobile Target Torpedo kali ini dinyatakan berhasil dengan baik.

Pada uji coba ini, hadir para pejabat utama Koarmatim yang terkait. (fri/jpnn)

  JPNN  

[Foto] Melihat Aktifitas di PT PAL

Ada PKR 10514 kedua, SSV pesanan kedua Filipina dan Modernisasi KRI 361 Penampakan foto persembahan Indonesia Military Fans (IMF), Zero Vesper dan Alfin2112, terkait kapal perang produksi PT PAL dan upgrade kapal perang TNI AL di Ujung Surabaya.

IMG-20160719-WA0008.jpg[​IMG]
[​IMG][​IMG]

Ketika PKR pertama sedang bermain air atau biasa disebut sea trial, PKR kedua terlihat kemajuannya dalam produksi. Kapal perang PKR 10514 kedua produksi bersama dengan DAMEN ini merupakan kapal light frigate termodern di jajaran TNI AL, rencananya akan diserahkan secara resmi pada bulan Oktober 2017 kepada TNI AL. Melihat rincian alutsista baru, kedepannya PT PAL akan membangun satu unit lagi setelah PKR kedua selesai dibangun. [IMF/Zero Vesper]
[​IMG]
[​IMG]
IMG-20160719-WA0011.jpg

Foto diatas perkembangan terkini kapal amfibi pesanan Filipina yang kedua di Surabaya. SSV (Strategic Sealift Vessel) ini rencananya akan diserahkan pada tahun depan. Menurut berita terdahulu, Indonesia juga akan memesan lagi kapal LPD sejenis Makasar Class. [IMF]
13723987_644676335687231_4102938666095778709_o.jpg

Penampakan modernisasi kapal perang TNI AL, KRI Fatahillah 361. Terlihat radar kapal jenis korvet ini berbeda dengan sebelumnya. Radar pengintai yang dipasangkan di KRI Fatahillah yakni jenis Terma SCANTER 4100. Radar intai ini punya kemampuan untuk mengendus obyek di permukaan dan udara secara simultan. [Alfin2112]
  Garuda Militer  

Jumat, 22 Juli 2016

BRIsat Sudah Sampai di Orbit

BRISat

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berhasil meluncurkan satelit miliknya bernama BRIsat ke angkasa dari Guiana Space Center, Kourou, Guiana, Amerika Selatan pada Minggu pagi (19/6) waktu Indonesia.

Dengan adanya satelit ini diharapkan dapat mempermudah transaksi perbankan di berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Direktur Utama BRI Asmawi Syam, BRIsat telah mencapai orbit di slot 150,5 E, dengan lokasi 36.000 km di atas ekuator.

"Sudah di orbit, sejak 10 hari lalu ontime, kita kan prediksinya 10-12 hari ternyata 10 hari," ujar Asmawi, di Gedung BRI, Jakarta, Jumat (22/7/2016).

http://katadata.co.id/public/media/images/temp/2016/06/15/2016_06_15-18_45_15_4ba246a1ed52df6860f755171bb623db.jpgSatelit Milik Indonesia [katadata]

Saat ini satelit tersebut sedang dalam masa pengetesan orbit. Orbit ini akan di tes satu persatu apakah sudah mulai berfungsi atau belum.

"Nah sekarang kita namanya tes orbit, kita udah masuk ke tes orbit, kita tes satu-satu item apa yang sudah mulai berfungsi dan itu dilakukan paralel di pabriknya di SSL, San Fransisco paralel dengan stasiun bumi kita di Indonesia," lanjut Asmawi.

Tes orbit ini diharapkan selesai pada akhir bulan ini. Setelah proses tes orbit selesai dilaksanakan, selanjutnya satelit ini akan dialihkan pengoperasian sepenuhnya oleh BRI.

"Tes orbitnya diharapkan harusnya pertengahan Agustus tapi kita usahakan bisa dipercepat akhir bulan ini. Kalau kita lihat progresnya saya tanya kemarin, ya mereka sih bilang kita usahakan lebih cepat dari jadwal, mereka mau coba di akhir bulan ini kira-kira 29-30 Juli, kita lihat apakah ini sudah sempurna kalau sudah sempurna dia handover ke kita jadi setelah orbit tes sudah bisa dikendalikan," tutup Asmawi. (feb/feb)

  detik  

Kontribusi Pindad ke TNI Baru 10 Persen

Kendaraan militer produksi PT Pindad

PT Pindad (Persero) baru berkontribusi sebesar lima hingga sepuluh persen untuk alat utama sistem persenjataan Tentara Nasional Indonesia. Persentase itu dihitung dari total alokasi keuangan pemerintah untuk sektor pertahanan.

"Dibandingkan dengan anggaran pertahanan, sudah sekitar lima sampai sepuluh persen. Itu bisa ditingkatkan lagi, tapi ada pekerjaan rumah bahwa industri pertahanan harus direvitalisasi dan direstrukturisasi," ujar Direktur Utama PT Pindad, Silmy Karim, di Kantor Presiden, Jakarta, kemarin.

Silmy menuturkan data tersebut usai rapat terbatas dengan sejumlah menteri dan petinggi perusahaan penyedia senjata dalam negeri. Rapat itu dipimpin langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Dalam rapat, Jokowi berkata, pembangunan kekuatan pertahanan harus beriringan dengan rencana pengembangan industri pertahanan.

Menurut Silmy, pernyataan Jokowi itu pesan penting untuk merealisasikan kemandirian penyediaan alusista oleh perusahaan dalam negeri.

Silmy mengatakan, pada tahun 2015 perusahaannya meningkatkan kontrak kerja sama penjualan senjata hingga 79 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun itu pula, kata dia, produktivitas PT Pindad naik hingga 122 persen.

Saat ini, Silmy mengklaim PT Pindad sudah mampu memproduksi seluruh komponen yang dibutuhkan perusahaannya untuk merakit senjata. Namun, menurutnya hal itu tidak berarti industri pertahanan Indonesia telah benar-benar mandiri.

"Tidak sampai di situ saja. Ada pengembangan teknologi yang masih dalam proses penguasaan. Presiden tadi bilang, pilih sektor mana yang yang perlu dibangkitkan lagi," ucapnya.

PT Pindad merupakan perusahaan pelat merah. BUMN ini mencanangkan tahun 2023 sebagai tenggat waktu mereka menjadi produsen peralatan pertahanan dan keamanan terkemuka di Asia.

Kini PT Pindad sedang bersiap mengakusisi sebuah perusahaan industri pertahanan luar negeri. Namun Silmy masih enggan mengemukakan korporasi tersebut. (rel)

  CNN  

Ratusan Karya Terbaik Anak Bangsa Akan Dipamerkan

Pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional Simulator N219 [detik]

Dua dari ratusan karya terbaik anak bangsa, yakni kendaraan perintis lapis baja (buatan PT Pindad) dan simulator pesawat N219 (buatan PTDI) siap ditampilkan dalam pameran terbuka memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) di Solo, 7-10 Agustus. Acara itu menurut rencana dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan para menteri. Acara ini juga mengagendakan sidang tahunan ilmuwan dan para ahli, ritech expo, malam penghargaan inovasi nasional, dan kegiatan lainnya.

Ketua Harian Panitia Nasional Hakteknas, Ophirtus Sumule, dalam jumpa pers di ruang rapat Wali Kota Surakarta menerangkan, Presiden bersama sejumlah menteri dijadwalkan hadir pada acara puncak 10 Agustus di halaman parkir kompleks Stadion Manahan.

Pada kesempatan itu Presiden akan memberikan pengarahan kepada jajaran kementerian, para ahli, ilmuwan dan lainnya serta ribuan mahasiswa tentang pembangunan teknologi masa datang. ”Presiden dijadwalkan naik simulator pesawat N219 menyaksikan tes landing gear (roda pendarat) dan swing (sayap). Bila pengecekan terakhir ini sukses dan dilolosakan Lapan, bisa dipastikan Indonesia bisa memproduksi pesawat terbaru ini,” katanya didampingi Agus Puji Prasetyono, staf ahli Kemen Ristek Dikti, Kepala Balitbang Jateng, Tegoeh Wynarno Haroeno, serta Plt Sekda Surkarta, Rakhmat Sutomo, Kamis (21/7).

 Pameran 

Ophirtus menambahkan, masyarakat bisa menyaksikan hasil inovasi putra terbaik Indonesia, yakni kendaraan taktis lapis baja di jalanan Kota Bengawan. Dijadwalkan pada pelaksanaan CFD 7 Agustus, kendaraan taktis panser Anoa/Komodo, dan panser Amphibi akan keluar diikuti rombongan robot. ”Panitia juga mengerahkan motor bersahabat,” imbuh Direktur Sistem Inovasi Kemen Ristek Dikti ini. Staf ahli Kemen Ristek Dikti, Agus Puji Prasetyono menceritakan sejarah Hakteknas.

Menurutnya, Hakteknas merupakan tonggak sejarah kebangkitan teknologi Indonesia, yang ditandai dengan penerbangan perdana pesawat terbang N-250 Gatotkaca pada 10 Agustus 1995 di Bandung. ”Lewat pameran di Hakteknas nantinya masyarakat Solo akan menyaksikan karya pemuda pemudi terbaik Indonesia agar bisa membangkitkan rasa nasionalisme,” terangnya.

Kepala Balitbang Jateng, Tegoeh Wynarno Haroeno dan Plt Sekda, serta Pelaksana Tugas (Plt) Sekda Surakrata, Rakhmat Sutomo mendukung penuh acara tersebut. ”Balitbang Jateng juga akan memeriahkan dengan menampilkan 137 kreasi dan inovasi dari warga Jateng,” kata Tegoeh.

Adapun Rakhmat Sutomo menyatakan, Pemkot Surakarta akan memfasilitasi kegiatan Hakteknas dengan meliburkan aktivitas sunday market di kompleks Stasion Manahan. ”Stadion Manahan steril selama Hakteknas. CFD Jalan Slamet Riyadi juga digunakan untuk aktivitas pameran, dan warga Solo memakluminya,” kata Rakhmat. (J5-26)

  suara merdeka  

Indonesia Akan Memborong Senjata Baru

https://lh3.googleusercontent.com/-atIxM-UKuIw/UNAttboBCGI/AAAAAAAAh1U/rmCeQkvKPMA/s0/Iver%2520Huitfeldt.jpgIlustrasi Iver Huitfeldt Class Frigate [googleusercontent]

Dunia militer dan pertahanan Indonesia bakal agresif berbelanja senjata maupun peralatan pertahanan baru senilai miliaran dollar AS. Maklum, senjata dan sistem pertahanan milik militer Indonesia terbilang sudah uzur dan perlu diganti.

Presiden Joko Widodo menargetkan, tahun 2024 Indonesia bisa memenuhi postur kekuatan pokok pertahanan minimum bagi TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Udara, dan TNI Angkatan Laut.

"Ini sesuai dengan rencana strategis tahun 2024, itu segera buat," kata Presiden, usai Rapat Terbatas yang membahas modernisasi senjata dan sistem pertahanan Indonesia, kemarin (20/7).

Nah, berdasarkan data yang diperoleh KONTAN, total nilai anggaran belanja senjata mencapai sekitar US$ 7,74 miliar. Anggaran tersebut merupakan rencana belanja persenjataan sampai tahun 2019.

Setiap angkatan mendapatkan alokasi anggaran belanjaannya sampai dengan tahun 2019.

Pertama, TNI Angkatan Darat (AD) harus memiliki persenjataan berat seperti tank, helikopter jenis serbu dan persenjataan infanteri khusus. Total anggaran belanjaan TNI AD mencapai senilai US$ 1,51 miliar.

[​IMG]Rincian anggaran alutsista

Kedua, persenjataan TNI Angkatan Laut (AL) juga diperkuat untuk menjaga wilayah perairan Tanah Air. Oleh karena itu, TNI AL akan membeli persenjataan laut, seperti kapal selam, kapal perang, persenjataan sistem pengintaian maritim untuk pengamanan lokasi-lokasi yang berpotensi konflik, dan persenjataan lain. Anggaran belanja senjata bagi TNI AL sekitar US$ 3,27 miliar.

Ketiga, TNI Angkatan Udara (AU) juga akan berbelanja pesawat jet tempur, pesawat angkutan berat dan sistem pertahanan rudal dan sistem radar. Total nilai anggarannya mencapai US$ 2,85 miliar.

Presiden Jokowi mewanti-wanti agar proses pengadaan sistem persenjataan tersebut dilakukan secara terbuka karena melibatkan dana besar. "Pengadaan harus berdasarkan kebutuhan, bukan keinginan," tandas Presiden.

Selain itu pengadaan persenjataan harus mengedepankan proses transfer teknologi bagi industri pertahanan dalam negeri. Itu sebabnya, Presiden Jokowi berharap pengadaan ini idealnya dilakukan lewat kerjasama pemerintah dengan pemerintah untuk menekan biaya.

Ryamizard Ryacudu, Menteri Pertahanan, berjanji menghitung semua kebutuhan minimal mencapai pertahanan ideal. Dia juga berjanji akan mengaudit kesiapan industri pertahanan dalam negeri sebagai persiapan pengadaan persenjataan militer dan pertahanan dalam negeri.

Sebagai langkah awal proses audit, Ryamizard membentuk tim audit. Selain dirinya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno menjabat Wakil Ketua Harian Tim Audit.

 ♖ Kontan  

Kamis, 21 Juli 2016

Audit Industri Alutsista

Wujudkan MEF 2019 https://cdn.sindonews.net/dyn/960/photos/2015/01/12/10782/38628_highres.jpgKendaraan militer produksi PT Pindad [def.pk]

Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) berusaha meneruskan modernisasi di tubuh Tentara Nasional Indonesia (TNI), terutama terkait alat persenjataan. Untuk itu, diinstruksikan sejumlah penekanan menyangkut terwujudnya Minimum Essential Force (MEF/kekuatan pokok minimum) hingga tahun 2019.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengungkapkan dalam Rapat terbatas (Ratas) mengenai pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista), Presiden Jokowi menekankan beberapa hal terkait modernisasi TNI.

Pertama, dalam sidang Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) dengan Ketua hariannya Menteri Pertahanan, Presiden Jokowi meminta agar ada terobosan perubahan yang mendasar dan strategis. Terutama, strategi yang akan dilakukan dalam waktu 5-10 tahun ke depan.

Kedua, bagaimana mencapai rencana tersebut.

Ketiga, seberapa banyak dana yang dibutuhkan untuk mewujudkannya.

"Presiden memberikan penegasan apabila alutsista atau produk-produk pertahanan yang bisa diadakan diproduksi di dalam negeri, seperti di Pindad, PTDI, PT Len, PT PAL, PT Dahana dan seterusnya maka diwajibkan untuk menggunakan produk dalam negeri," ungkap Pramono di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (20/7).

Untuk itu, Pramono mengatakan perlu adanya peta jalan mengenai produk-produk dalam negeri yang direncanakan untuk jangka panjang. Mengingat, banyak produk persenjataan Tanah Air yang mendapat penghargaan di luar negeri, seperti di negara-negara Timur Tengah.

Tak hanya itu, Pramono mengatakan bahwa Presiden Jokowi menegaskan ke depannya usulan pembelian alutsista harus dari bawah. Sehingga, lebih optimal dalam penggunaannya.

"Terakhir presiden meminta dalam waktu tiga sampai dengan lima bulan dilakukan audit terhadap industri-industri strategis pertahanan agar kita tahu peralatan apa yang sudah dibeli yang ternyata tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal dan juga peralatan apa yang dibutuhkan ke depan untuk memenuhi kekurangan tersebut," ungkapnya.

Secara terpisah, Menteri Pertahanan (Menhan) sekaligus Ketua Harian KKIP, Ryamizard Ryacudu mengatakan ke depannya kebutuhan akan persenjataan harus mendekati MEF.

Oleh karena itu, Ryamizard mengaku telah mengkaji kebutuhan alutsista dan industri persenjataan yang bisa dikembangkan di dalam negeri.

Hanya saja, dia mengaku belum ada angka pasti untuk memperbaiki atau memodernisasi persenjataan TNI. Sebab, masih harus dikumpulkan semua matra guna mengsingkronkan kebutuhan. Meskipun, diungkapkan untuk lima tahun ke depan, alutsista yang dibutuhkan adalah kapal selam.

"(Pembelian alutsista) ada segala macam saya kurang mengerti itu, tetapi jelas itu ada (dari Pindad). Kita dapat uang dari pemerintah, itu yang akan kita belanjakan dan sesuai dengan kebutuhan. Kita tidak akan beli, beli tapi tidak bisa dipakai," tegas Ryamizard.

 Siapkan Rp 150 Triliun 

https://4.bp.blogspot.com/-L-wBnKgiP8Y/V1FpZR88BXI/AAAAAAAAIig/Y8IXS9NaDsAQRLDSCFWdZGpziMm2hfQTwCKgB/s1600/2016-06-03_13.02.26%2540muhalfian.jpgKepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Sofyan Djalil menambahkan bahwa dana yang dianggarkan untuk mewujudkan MEF mencapai sebesar Rp 150 triliun.

"Per lima tahun ada desain awal untuk mencapai MEF, kira-kira lima tahun butuh 150 triliun tapi DPR minta ditingkatkan," papar Sofyan.

Sementara itu ditemui secara terpisah, Direktur Utama (Dirut) PT Pindad, Silmy Karim mengatakan bahwa perusahaannya siap mendukung kebutuhan persenjataan nasional.

Apalagi, diungkapkannya, Presiden Jokowi sangat berkomitmen dalam mendukung majunya industri persenjataan dalam negeri. Sehingga, tidak perlu impor dengan biaya yang pasti lebih tinggi. Ditambah lagi, kemungkinan adanya broker atau perantara yang membuat harga lebih tinggi.

"Beliau (Jokowi) pingin mengembangkan dan juga go internasional. Kemudian juga beliau percaya bahwa produk (persenjataan) kita baik. Tinggal bagaimana kita bisa wujudkan kemandirian. Beliau ingin simple, clear, jelas target-targetnya. Satu, butuhnya apa yang mau didukung oleh presiden, butuh uang berapa. Kemudian juga apa yang mau dicapai selama lima tahun ke depan tetapi harus jelas dulu," kata Silmy.

Hanya saja, Silmy mengungkapkan belum ada angka pasti yang siap disediakan oleh Pindad, sebab belum ada angka pasti permintaan dari pemerintah.

"Belum ada (angka pasti) tetapi yang jelas beliau ingin seperti senjata, ya Pindad. Kemudian panser, tank ringan, peluru untuk ada rencana yang bisa beliau dukung. Kemudian juga ada kepastian pesanan karena industri inikan jangka panjang," paparnya.

Lebih lanjut, Silmy mengatakan bahwa Presiden Jokowi mengingatkan agar industri pertahanan harus bertumbuh sesuai dengan kebutuhan alutsista nasional maupun dunia.

"Secara umum dan hubungan dengan industri pertahanan, bagaimana membangun industri pertahanan baik itu dengan lokal maupun dengan penjualan luar neger. Terus kebutuhan industri pertahanan supaya lebih bangkit lagi supaya bisa menjawab cita-cita kemandirian," ungkapnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi memberikan instruksi agar pengadaan alat pertahanan sesuai postur kekuatan pokok minimum 2024.

Kemudian, Presiden Jokowi menekankan perlunya modernisasi TNI pada tahun 2019 sesuai rencara strategis tahun 2024.

Pertama, TNI Angkatan Darat (AD) harus memiliki alutsista berat, seperti tank, helikopter jenis serbu dan persenjataan infanteri khusus.

Kedua, TNI Angkatan Laut (AL) harus diperkuat alutsista dengan karakter kemampuan angkatan laut, seperti kapal selam, kapal perang, persenjataan sistem pengintaian maritim untuk pengamanan lokasi-lokasi yang mempunyai potensi konflik.

Ketiga, TNI Angkatan Udara (AU) harus diperkuat oleh alutsista strategis berupa pesawat jet tempur, pesawat angkutan berat dan sistem pertahanan rudal dan sistem radar.

Tetapi, dalam pengadaannya, Presiden Jokowi menggarisbawahi agar dilakukan secara terbuka dan mempertimbangkan semua masukan terkait pengadaan alutsista.

"Ingin saya sampaikan bahwa semuanya ini agar ada transparansi yang betul-betul terbuka. Masukan-masukan dari seluruh matra, baik AL, AD, AU, dari Panglima TNI, Menteri Pertahanan, semuanya sehingga betul-betul yang kita beli, yang kita rencanakan ini adalah memang sebuah kebutuhan, bukan keinginan," tegas Presiden Jokowi di kantor Presiden, Jakarta, Rabu (20/7).

Selanjutnya, Presiden Jokowi juga menekankan dalam pengadaan alutsista tersebut harus mengedepankan kemandirian dalam pemenuhannya.

"Dalam setiap pengadaan alutsista Undang-Undang industri pertahanan wajib diberlakukan. Pembelian harus disertai transfer teknologi kepada industri pertahanan nasional kita. Dahulukan arahnya ke sana, sehingga pengembangan industri pertahanan nasional betul-betul pada kemandirian, pemenuhan kebutuhan alat pertahanan dan keamanan kita," pesan Jokowi.

 Prioritaskan Produksi Dalam Negeri 
https://2.bp.blogspot.com/-iszkJYxGnvU/V5BP2ofTIMI/AAAAAAAAIpI/SSPZFmndoQQ9EarFfTDtVxmXlKoTlhpVQCLcB/s1600/kal-mapor-5Rws%2B12%252C7%2Bmm%2Bdesigned%2Bby%2BPT%2BAIU%252C%2Bright%2Bnow%2Bbecome%2Barm%2Bof%2Bchoice%2Bfor%2BPc%2B28%2Bpatrol%2Bboat.jpgRWS lokal produksi PT AIU pada kapal patroli 28 m TNI AL [def.pk]

Presiden Joko Widodo meminta kepada Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) untuk melakukan terobosan perubahan mendasar dan strategis.

Sekretaris Kabinet Pramono Anung menjelaskan,

Pertama, yang harus dilakukan adalah menentukan strategi yang harus ditempuh dalam lima sampai 10 tahun ke depan. Mesti dipikirkan juga bagaimana mencapainya dan seberapa banyak dana yang dibutuhkan.

Untuk itu, Presiden memberikan penegasan apabila alutsista atau produk-produk pertahanan yang bisa diadakan, diproduksi di dalam negeri seperti di Pindad, PT DI, PT LEN INTI, PT PAL, PT Dahana, dan seterusnya, maka diwajibkan untuk menggunakan produk dalam negeri,” kata Pramono usai Rapat Terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (20/7/2016) malam.

Kedua, lanjut Pramono, KKIP juga diminta untuk membuat roadmap atau perencanaan yang lebih jelas untuk produk-produk dalam negeri yang direncanakan untuk jangka panjang.

Menurut Seskab, banyak produk-produk alutsista Indonesia yang dipakai di Timur Tengah, Arab, Thailand, Filipina, Malaysia dan beberapa negara lainnya di Uni Eropa. Mereka menggunakan produk-produk dari Pindad, PT DI, dan sebagainya.

Sehingga dengan demikian ini yang diminta untuk dilakukan adalah pada pembelian alutsista atau alat-alat strategis pertahanan harus bersifat bottom up, dari bawah usulan sampai dengan ke atas. Tidak kemudian alat itu dibeli ternyata tidak bisa digunakan secara optimal, maksimal di lapangan sesuai dengan kebutuhan atau planning rencana pertahanan kita,” ucap Pramono.

Pramono menambahkan, Presiden meminta dalam waktu tiga hingga lima bulan dilakukan audit terhadap industri-industri strategis pertahanan agar diketahui peralatan apa yang sudah dibeli yang ternyata tidak bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Selain itu dapat diketahui juga peralatan apa yang dibutuhkan ke depan untuk memenuhi kekurangan tersebut.

 ♖ Berita Satu | Kompas  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More