blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Jumat, 27 April 2012

Bioetanol Generasi Kedua


Kalau bioetanol generasi pertama berbahan baku bahan pangan mengandung zat pati dan gula, bioetanol generasi kedua berbahan baku limbah hasil perkebunan, kehutanan, dan pertanian. Bioetanol generasi kedua siap menggantikan bensin yang merupakan sumber energi tidak terbarukan.

”Teknologinya menggunakan pemurnian selulosa. Selanjutnya menggunakan enzim untuk proses fermentasi yang menghasilkan bioetanol. Hasilnya diproses hingga memiliki tingkat kemurnian 99,5 persen untuk siap digunakan sebagai bahan bakar mesin,” ujar Agus Haryono, Koordinator Proyek Kerja Sama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan Korea International Cooperation Agency (Koica) dalam pengembangan pabrik bioetanol generasi kedua, Kamis (26/4) di Jakarta.

Koica membantu dana setara Rp 30 miliar. Dana itu digunakan untuk membangun pabrik bioetanol di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong, Tangerang Selatan.

Selain itu, dana untuk membiayai tenaga ahli, baik dari Korea yang didatangkan ke Indonesia maupun tenaga ahli dari Indonesia, untuk studi banding ke Korea. ”Pabrik bioetanol di Puspiptek akan diresmikan 1 Mei 2012,” kata Agus.

Uji coba produksi pertama kali sudah dilakukan. Agus memanfaatkan tandan kosong kelapa sawit dari perkebunan sawit di Malingping, Banten.

”Sebanyak 600 kilogram biomassa limbah sawit itu menghasilkan 27 liter bioetanol dengan kadar 99,9 persen,” kata Agus.

Efisiensi ditingkatkan

Biaya produksi bioetanol generasi kedua, menurut Agus, belum mampu bersaing meski harga bensin tidak disubsidi. Namun masih ada peluang untuk meningkatkan efisiensinya. ”Setelah pemurnian selulosa, efisiensi pada proses fermentasi dengan enzim berpeluang ditingkatkan untuk menghemat biaya produksi,” ujar Agus.

Proses fermentasi menghasilkan bioetanol dengan kadar enam persen. Artinya, kadar air pada bioetanol masih 94 persen.

Proses destilasi, yakni pemisahan air dan bioetanol, memakan banyak energi sehingga memerlukan modal besar. Efisiensi kinerja enzim perlu ditingkatkan sehingga kadar bioetanol dapat ditingkatkan jauh di atas enam persen.

Bahan bakar nabati terbagi antara biodiesel dan bioetanol. Biaya produksi keduanya saat ini belum mampu bersaing dengan harga bahan bakar konvensional dari fosil. Produksi biodiesel dari limbah kelapa sawit diperkirakan Rp 8.000 sampai Rp 10.000 per liter. Biaya produksi bioetanol di atas biaya produksi biodiesel.

Agus mengatakan, produksi bioetanol harus dipersiapkan untuk jangka panjang. Pada suatu saat nanti, harga bahan bakar fosil akan makin mahal akibat ketersediaan makin tipis.

Di sisi lain, kelimpahan biomassa di Indonesia sebagai bahan baku sumber energi terbarukan di antaranya diolah menjadi bioetanol sangat tinggi. Data menunjukkan, potensi biomassa mampu membangkitkan energi listrik hingga 49.810 megawatt.

Saat ini diperkirakan pemanfaatan biomassa baru mampu memproduksi listrik 445 megawatt, kurang satu persen dari potensinya.

Tekanan dan penyerapan

Proses destilasi untuk memisahkan kandungan air pada bioetanol tidak mampu meningkatkan kadar bioetanol sampai 99,5 persen sesuai syarat menjadi bahan bakar nabati. Diperlukan pemberian tekanan dan penyerapan (pressure swing absorption/PSA) untuk meningkatkan kadar bioetanol secara optimal.

”Bioetanol banyak dihasilkan masyarakat hanya melalui proses destilasi, tidak sampai dengan PSA,” kata Agus.

Kadar air bioetanol memengaruhi proses pembakaran pada mesin. Kadar air di atas 0,5 persen bersifat korosif dan bisa mempercepat keausan mesin.

Menurut Agus, memproduksi bioetanol dipengaruhi jenis bahan bakunya. Bahan baku bioetanol generasi kedua yang paling bagus adalah ampas tebu.

Ampas tebu memiliki selulose tinggi dan masih memiliki kadar glukosa yang mempercepat proses fermentasi menghasilkan bioetanol.

Pilihan limbah industri kelapa sawit paling memungkinkan untuk berkelanjutan mengingat produksi kelapa sawit kian hari kian meningkat.

Bioetanol generasi kedua paling berpeluang diproduksi untuk mengurangi beban ketergantungan pada bahan bakar fosil. Meskipun belum mampu bersaing, bioetanol makin memiliki prospek seiring dengan menipisnya cadangan minyak bumi. (Kompas, 27 April 2012/ humasristek)

Mahasiswa ITB Rancang Pendeteksi Gempa Berbasis 'Cloud'

Skema Sistem Deteksi Bencana dengan Memanfaatkan Komputasi Awan

BANDUNG, KOMPAS.com - Bencana alam, seperti gempa terjadi tanpa terduga dan tak pernah bisa ditolak. Namun bencana alam tersebut dapat diantisipasi jika dapat diprediksi sebelumnya.

Sebagai negara yang sering diguncang gempa dan banjir, Indonesia dipandang perlu untuk memiliki alat pendeteksi bencana alam.

Pendeteksi bencana alam memang tetap tak akan bisa menunjukkan kapan bencana tersebut akan betul-betul terjadi. Namun, gejala-gejala yang terdeteksi bisa membuat manusia bisa lebih waspada dan bersiap ketika bencana alam akhirnya terjadi.

Hal inilah yang melatarbelakangi mahasiswa Kelompok Keahlian Teknologi Informasi STEI ITB membuat sistem monitoring keadaan lingkungan dan deteksi dini bencana alam menggunakan komputasi awan (cloud computing).

Prototipe sistem ini diperkenalkan di acara International Conference on Cloud Computing and Social Networking 2012, yang merupakan bagian dari e-Indonesia Initiative (eII) Forum ke-8. Acara yang digelar di Hotel Preanger, Bandung, ini diadakan selama dua hari, yakni 26 dan 27 April 2012.

"Selama ini, BMKG mungkin telah memiliki sistem pendeteksi bencana alam yang serupa. Alat-alat yang digunakan pun tidak jauh berbeda, namun, disini kami menawarkan sistem baru, yakni memanfaatkan komputasi awan," ungkap Sinung Suakanto, salah satu tim yang membangun sistem ini.

Sistem monitoring keadaan lingkungan dan deteksi dini bencana memiliki tiga peralatan utama, yakni :

1. Sensor
Sensor berfungsi mendeteksi kondisi udara seperti kandungan CO2, LPG, Carbon Monoxide, dan menjadi pengontrol kualitas udara. Selain itu, sensor ini juga bisa digunakan untuk mendeteksi kualitas air seperti kadar pH, oksigen, hingga menentukan tinggi-rendahnya gelombang air.

2. Remote Terminal Unit (RTU)
RTU akan menyimpan data analog maupun digital yang tertangkap oleh sensor dan diteruskan ke server komputasi awan. Alat ini akan selalu berdampingan dengan alat sensor dan bertugas meneruskan informasi sampai ke server.

3. Server komputasi awan
Data yang dikirim oleh RTU akan disimpan di server komputasi awan.

"Selama ini, sistem pendeteksi bencana belum mengadopsi komputasi awan sehingga masing-masing wilayah harus memiliki server sendiri. Setelah adopsi komputasi awan, maka server yang diperlukan hanya berpusat di satu tempat, meski alat sensor dan RTU berada di seluruh wilayah Indonesia," jelas Sinung saat ditemui Kompas.com.

Sistem yang dibangun oleh tim yang terdiri atas tiga orang ini, dibimbing oleh Suhono H. Supangkat (ketua forum eII) dan Suhardi.

Sedangkan anggota tim terdiri dari Sinung Sukanto (mengurusi aplikasi), Tunggul Arief Nugoroho (mengurusi hardware), dan I Gusti Bagus Baskara Nugraha (mengurusi jaringan).

Studi tentang sistem ini masih akan dikembangkan, namun prototipe yang ada, sudah mulai diperkenalkan ke berbagai pihak yang terkait penanggulangan bencana.


• KOMPAS.com

Robot UGM menang karena lebih stabil

Jakarta (ANTARA News) - Tim robot dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, yang membawa tujuh robot ke ajang Robogames 2012 di San Mateo, California, Amerika Serikat, telah berhasil meraih medali pada tiga kategori.

Menurut anggota delegasi, Ridwan Widoyoko, tim UGM berhasil memperoleh medali dari kategori "Fire Fighting", "Stand Balancing", dan "Walker Challenge".

Satu medali emas diraih robot Iron Fire, yakni robot yang memadamkan lilin pada kategori `Fire Fighting`. Medali emas berikutnya diperoleh robot Isorobot, yakni robot kesetimbangan dua roda pada kategori "Stand Balancing".

Sementara satu medali perak dipersembahkan oleh robot I-Kinematic berkaki untuk kategori "Walker Challenge".

Ridwan mengatakan, keberhasilan yang diraih tim robot UGM disebabkan robot-robot UGM bersifat lebih stabil dan handal jika dibanding robot dari negara lainnya. Dalam beberapa kali uji coba dan dipertandingkan jarang menemui "error".

"Meskipun sering dimainkan, tingkat `error`-nya kecil, sedangkan robot lainnya sering mengalami 'error'. Selain itu, robot kami juga unggul dalam kecepatan mencapai tujuan," katanya.

Ia mengatakan, robot-robot yang dipertandingkan dalam Robogames 2012 tersebut seluruhnya dibuat dari bahan atau komponen dalam negeri. Hampir keseluruhan bagian dirakit sendiri, kecuali pada bagian sensor.

"Dana yang dikeluarkan untuk pembuatan robot bervariasi antara Rp500 ribu hingga Rp40 juta. Sebenarnya tidak keluar banyak dana untuk membuat robot-robot ini, karena sebagian robot kami buat dari komponen yang sudah ada, kami daur ulang untuk dipakai kembali," katanya.

Menurut dia, selain UGM, tim robotika Unikom Bandung, juga berhasil memperoleh medali emas. Unikom berhasil mendapatkan tiga medali emas dalam kompetisi Robogames 2012.

"Robogames 2012 yang berlangsung 20-22 April 2012 diikuti sebanyak 238 tim, 682 robot, dan 1.039 `engineers` dari Argentina, Denmark, India, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat," katanya.(ANTARA)



• ANTARA News

Indonesia-Belanda Kembangkan Biogas di Bali

Jurnas.com | PEMERINTAH Indonesia bekerja sama dengan Belanda merintis pengembangan biogas rumah atau BIRU, dengan sasaran untuk membangun 500 unit hingga akhir 2012 di berbagai daerah di Provinsi Bali. "Proyek percontohan energi terbarukan yang ramah lingkungan itu sudah dibangun 39 unit, dan mendapat apresiasi positif masyarakat untuk membangun hal yang sama dalam memenuhi kebutuhan enegeri listrik," kata Koordinator pengembangan BIRU Bali I Gede Suarja di Denpasar, Jumat (27/4).

Ia mengatakan apresiasi dari masyarakat dan instansi terkait di Bali antara lain Bidang Pertambangan dan Sumberdaya Mineral Bali, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Bali, DLH Badung, DLH Gianyar, KLH Bali, dan Kementerian ESDM Jakarta hingga kini berhasil membangun 230 unit.

Keseluruh biogas skala rumah tangga tersebut sudah berfungsi, mampu menghasilkan energi untuk kepentingan memasak sehari-hari maupun untuk lampu penerangan pada malam hari.

Program biogas rumah tersebut diimplementasikan dengan jalinan kerja sama antara Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE) sebagai perwakilan dari pihak Indonesia. Sedangkan Hivos Regional Office Southeast Asia (ROSEA) sebagai perwakilan dari pihak Belanda dengan dukungan tehnis dari SNV (Belanda) sebagai penasehat teknisnya.

Gde Suarja menjelaskan, program BIRU bertujuan untuk menyebarluaskan biogas sebagai sumber energi baru yang ramah lingkungan, terbarukan dan berkelanjutan sebagai dasar pengembangan sektor komersial yang berorientasi pasar, di sejumlah provinsi di Indonesia.

Program tersebut berupaya membantu masyarakat dalam mengolah limbah kotoran hewan (kohe) menjadi gas yang ramah lingkungan melalui reaktor biogas rumah dengan model kubah beton (fixed dome model).

Kegiatan program BIRU yang mendapat didukung dari Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE) Kementerian ESDM, dikembangkan pada wilayah-wilayah yang potensial dalam pengembangan ternak di Indonesia.

Khusus di Bali menekankan pada pemanfaatan limbah ternak sapi, ternak babi dan ternak ayam dan potensi yang ada lainnya. Rintisan program tersebut di Bali sejak Agustus 2010 hingga kini telah menjangkau ke delapan kabupaten dan satu kota di daerah ini.

Pelaksanaan program BIRU Hivos Bali bekerja sama dengan lima mitra kerja pembangun meliputi BOA, IDEP, Manikaya Kauci, Sunari dan CV MUM.

Perkembangan program biogas rumah secara bertahap mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, terutama peternak sapi maupun peternak babi. Upaya tersebut didukung kesadaran masyarakat untuk mengelola lingkungan secara lebih baik melalui pengolahan limbah ternak menjadi biogas.

"Instansi terkait juga memberikan apresiasi yang positif, karena upaya tersebut mampu mendukung program Bali bersih dan hijau (Clean and Green Province) yang dicanangkan Gubernur Bali Made Mangku Pastika," kata Gde Suarja. Antara


• Jurnas.com

Kamis, 26 April 2012

Mahasiswa dari 20 Negara Belajar Membatik

Ilustrasi
MALANG, KOMPAS.com - Puluhan mahasiswa asing dari 20 negara yang sedang kuliah di berbagai perguruan tinggi (PT) di Jawa Timur, mengikuti pelatihan membatik yang diadakan oleh Politeknik Negeri Malang (Polinema), Kamis (26/4/2012).

Mereka terlihat serius belajar membatik. Para mahasiswa asing itu saat ini menjalani pendidikan antara lain di Universitas Airlangga, IKIP Budi Utomo, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Negeri Malang, dan Universitas Muhammadiyah Surabaya.

Menurut Ali Imron, kordinator pelatihan membatik, Kamis (26/4/2012), dengan pelatihan itu diharapkan para mahasiswa bisa menularkan ilmu membatik itu di negara masing-masing.

"Mereka berasal dari berbagai negara. Ada yang dari Thailand, Perancis, Vietnam, Uganda, Azerbaijan, Filipina, Hongaria, Jepang, Kenya dan Jerman," papar Sekretaris Jurusan (Sekjur) Bahasa Indonesia di Polinema itu, saat ditemui Kompas.com di sela-sela kegiatan.

Selain untuk lebih mengenalkan batik di level dunia internasional, juga agar budaya asli Indonesia itu tetap terjaga dan tetap dilestarikan oleh warga Indonesia sendiri.

"Warga asing saja ingin belajar membatik apalagi warga Indonesia sendiri. harus malu dong," katanya.

Dalam budaya membatik itu jelas Ali, juga terdapat nilai-nilai budaya khas Indonesia yang sangat kental. "Membatik itu warisan budaya yang harus dilestarikan oleh gerasi selanjutnya. Karena lemah warga Indonesia itu lupa akan budayanya sendiri," ujarnya.

Salah seorang peserta asal Filipina, Johana, mengaku sangat senang bisa mengikuti pelatihan itu. "Saya bangga bisa diberi kesempatan belajar membatik. Karena membatik merupakan seni yang cukup bernilai," akunya.

Pelajaran membatik itu diawali dengan pembuatan sket, penulisan dengan canting, hingga mengatur pewarnaan yang serasi dan menarik."Untuk pembuatan sket, saya menggambar peta Filipina yang saya buat dalam gambar dengan ciri khas batik. Lumayan hasilnya juga menarik, walaupun belum sempurna," kata Johana.


• KOMPAS.com

Pemerintah Janjikan Internet Kencang Akhir Tahun Ini

BANDUNG, KOMPAS.com — Tak lama lagi, masyarakat Indonesia dapat merasakan kecepatan internet yang mumpuni.

Ini dapat dirasakan saat Nusantara Internet Exchange (NIX) telah menjangkau 33 provinsi di Indonesia yang diperkirakan akan selesai pada akhir 2012 ini.

Hingga saat ini, NIX yang sudah siap dioperasikan sudah berjumlah 8 unit dan pembangunannya terus dilanjutkan hingga akhir tahun.

Nantinya, saat proyek NIX ini selesai,  kecepatan internet Indonesia akan meningkat. Terutama untuk akses konten yang berada di jaringan dalam negeri.

Hal ini disampaikan oleh Woro Indah, mewakili Dirjen Penyelenggara Pos dan Informatika (Dirjen Postel) dalam e-Indonesia Initiatives Forum (eII Forum) ke-8.

"Setiap NIX akan terdiri dari 15 server di mana masing-masing server akan memiliki bandwidth 15 terabyte. Setiap server akan terdiri dari 200 rak," ungkap Woro di Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat, Rabu (25/4/2012).

Pernyataan ini menjawab pertanyaan mengenai dukungan pemerintah terhadap perkembangan komputasi awan di Indonesia. Menurut Woro, NIX merupakan Infrastructure as a Service (IaaS) dalam adopsi komputasi awan di Indonesia.

Dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 21/PER/M.KOMINFO/12/2010, NIX adalah Internet Exchange Point (IEP) yang dibiayai melalui dana kontribusi Kewajiban Pelayanan Universal Telekomunikasi. IEP tersebut merupakan titik di mana routing trafik internet berkumpul untuk saling berinterkoneksi.

Tujuan dibangunnya adalah untuk:
  • Mendistribusikan trafik internet di wilayah pelayanan universal telekomunikasi, trafik nasional, dan internasional.
  • Mengurangi latency, meningkatkan kecepatan layanan internet.
  • Mengefisiensikan routing trafik internet.
  • Mengurangi biaya pengiriman trafik nasional dan  internasional.
Pengguna NIX untuk trafik nasional adalah penyelenggara jasa akses internet (internet service provider), penyelenggara jasa interkoneksi internet (network access point), dan atau penyelenggara sistem elektronik yang memiliki AS Number.

Adapun pengguna NIX untuk trafik internasional adalah penyelenggara jasa akses internet (internet service provider) dan penyelenggara jasa interkoneksi internet (network access point).

Tender NIX yang dilakukan tahun 2011 terdiri dari 13 paket. Kepanitiaannya ditangani langsung oleh  Balai Penyedia, Pengelola, Pendanaan Telekomunikasi dan Informatika (BP3TI), yaitu suatu unit pelaksana teknis di Kementerian Kominfo yang mengelola keuangan secara  Pola Pengelolaan Keuangan (PPK),  Badan Layanan Umum (BLU), berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.


• KOMPAS.com

Ini Daftar Gaji Pekerja TI di Indonesia

JAKARTA, KOMPAS.com — Situs teknologi ZDNet kawasan Asia melakukan survei online sejak Maret 2011 hingga Maret 2012 kepada para profesional teknologi informasi terkait gaji yang mereka terima selama satu tahun.

Indonesia menjadi salah satu dari tujuh negara Asia yang disurvei ZDNet.

Survei ini melibatkan 945 responden dari berbagai jenis fungsi pekerjaan dan keterampilan teknologi informasi (TI).

Indonesia menyumbang 78 responden dalam survei ini. Dari jumlah tersebut, 37 responden memiliki pengalaman kurang dari 5 tahun di bidang TI, 30 responden memiliki pengalaman 5 sampai 10 tahun, dan 11 orang sudah berpengalaman di bidang TI lebih dari 10 tahun.

Dalam hal gaji, profesional TI di Indonesia yang bekerja di perusahaan sektor hukum dan keuangan negara menjadi profesional TI yang mendapat gaji tahunan paling tinggi dengan rata-rata Rp 250 juta.

Jumlah ini mengalahkan rekan-rekan mereka yang bekerja di perusahaan sektor TI, web, dan telekomunikasi, yang mendapat gaji Rp 215 juta per tahun.

Inilah daftar lengkap gaji para pekerja TI di Indonesia berdasarkan hasil survei ZDNet:

Gaji rata-rata tahunan berdasarkan keterampilan TI dan masa pengalaman kerja (dalam rupiah)

1. Gaji rata-rata tahunan berdasarkan keterampilan TI dan pengalaman kerja (dalam Rupiah)
Gaji rata-rata tahunan (terdapat data berdasarkan gaji bulanan) berdasarkan fungsi pekerjaan dan pengalaman kerja (dalam rupiah)

2. Gaji rata-rata tahunan berdasarkan fungsi pekerjaan dan pengalaman kerja (dalam Rupiah)
Gaji rata-rata tahunan 10 keterampilan TI paling diminati (dalam rupiah)

3. Gaji rata-rata tahunan 10 keterampilan TI paling diminati (dalam Rupiah)
Gaji rata-rata tahunan (terdapat data berdasarkan gaji bulanan) berdasarkan fungsi pekerjaan dan sektor industri (dalam rupiah)
4. Gaji rata-rata tahunan berdasarkan fungsi pekerjaan dan sektor industri (dalam Rupiah)
Sumber ZDNet


• KOMPAS.com

Berkat "Klepon", Developer Indonesia Magang di Markas Angry Birds

Nokianesia - Tampilan Klepon Stack, aplikasi yang menjadi juara Nokia Asha Apps Challenge
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengembang aplikasi Indonesia berkesempatan sowan ke kantor Rovio, di Finlandia, perusahaan yang membuat game Angry Birds.

Tak hanya belajar mengembangkan aplikasi, ia juga akan mempelajari strategi bisnis menjual aplikasi.

Dia adalah Affath Firdausi, developer yang membuat aplikasi game Klepon Stack untuk ponsel Nokia.

Affath akan berkunjung dan magang di kantor Rovio selama sepekan, karena game buatannya, Klepon Stack keluar sebagai juara di antara 10 aplikasi yang menjadi finalis "Nokia Asha Apps Challenge" yang diselenggarakan Nokia Indonesia.

Dalam membuat aplikasi ini, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia angkatan 2008 ini terinspirasi dari kelepon, makanan favoritnya.

Dalam game ini, pemain harus menumpuk kelepon yang berbentuk bulat, wajik bentuk kotak dan sukun berbentuk segitiga. Tak sekadar menumpuk, pemain harus menjaga keseimbangan agar makanan itu tidak jatuh.

Menurut Narenda Wicaksono, Developer Manager Nokia South East Asia, aplikasi Klepon Stack berpotensi menjadi game "The Next Angry Birds" asal Indonesia. "Game ini menggunakan engine fisika, di mana ada prinsip ilmu fisika di sana, seperti gravitasi," ujar Narenda di sela-sela acara Nokia Developer Program Jakarta, Kamis (26/4/2012).

Naren sendiri akan menemani Affath ke Rovio. Menurut perjanjian kerjasama antara Nokia Indonesia dengan Rovio, Affath akan diajarkan membuat game yang baik sekelas Angry Birds dan cara bagaimana menjual dan mempromosikan sebuah aplikasi.

Saat ini Klepon Stack masih menyediakan 9 level. Pria kelahiran 3 Februari 1990 ini berjanji akan mengembangkan game ini agar jumlah levelnya bertambah.


• KOMPAS.com

Pemerintah Abaikan Penelitian Dasar

Ilustrasi
JAKARTA--MICOM: Pemerintah dan masyarakat awam tidak sadar bahwa penelitian dasar, seperti identifikasi spesies baru, memiliki fungsi penting di masa datang. Lantaran itu, pemerintah enggan mengucurkan anggaran penelitian dasar.

"Pemerintah maunya membiayai yang langsung jadi (aplikatif). Padahal penelitian dasar itu penting karena ke depannya bisa dikembangkan untuk keperluan manusia," kata Prof. Lukman Hakim, Ph.D di sela Workshop dan Diseminasi "Hasil Kerjasama LIPI di Bidang Lingkungan dan Energi" di Jakarta, Rabu(25/4).

Wakil Ketua LIPI Prof. Dr. Endang Sukara menambahkan kesadaran bersama tentang hal ini harus ditumbuhkan. Ia mencontohkan tentang penelitian mikroba yang menjadi bahan dasar antibiotik.

"Antibiotik yang ada saat ini, 90% nya dibuat dari jenis mikroba ini. Sedangkan sudah banyak sekali penyakit yang resisten terutama TBC. Kita harus menemukan jenis mikroba baru untuk sumber antibiotik lainnya," jelasnya.

Dengan anggaran yang hanya 0,03%, sulit bagi LIPI untuk meneliti secara mandiri. Maka LIPI banyak bekerja sama dengan negara lain. Lukman tak menampik bahwa kerja sama ini mendatangkan banyak keuntungan untuk Indonesia meskipun perlu ekstra hati-hati.

"Pemotongan anggaran untuk LIPI sebesar 10% sangat berdampak terhadap perkembangan penelitian. Ada pos-pos yang anggarannya tak mungkin dipotong. Akibatnya, untuk penelitian biologi saja jadi berkurang sekitar 80%," ujarnya.

Kerja sama dengan asing pun tetap membutuhkan dana besar. karena LIPI dianggap mitra sejajar. Beda dengan 30 tahun lalu, dimana Indonesia masih kategori negara underdevelop, dana hibah dari asing biasanya diberikan sangat besar.

Terlepas dari keterbatasan anggaran ini, Lukman tetap mengupayakan pembangunan museum culture biodiversity yang akan didirikan di Cibinong.

"Ini akan jadi tempat penyimpanan dan perawatan sampel biodiversity kita. Jadi tidak perlu menitip di negara lain," tandasnya. Lukman menambahkan jika menitip sampel di Singapura, biaya per tahunnya mencapai US$600 dolar.

Selain itu, museum itu akan memudahkan para peneliti Indonesia untuk mengidentifikasi hasil temuan mereka. Selama ini, untuk mengidentifikasi spesimen tertentu harus para peneliti harus keliling museum-museum di luar negeri. Sampel hasil penelitian Indonesia saat ini banyak terpencar di luar negeri karena Indonesia tidak mampu menyimpannya. (*/X-13)

• MediaIndonesia

Rakuten Indonesia Dukung Lokal Merchants

detail berita


JAKARTA - Rakuten, situs belanja online ini terus menikmati kesuksesan dengan pertumbuhan hingga 40 persen setiap bulannya. Untuk kehadirannya di Indonesia, Rakuten mengungkapkan beberapa targetnya diantara lain memperkuat lokal merchant.

Dukungan terhadap lokal merchant di Indonesia ini diungkapkan oleh Presiden Direktur dan CEO PT Rakuten MNC, Ryota Inaba. "Kami di sini untuk mendukung lokal merchant, karena seperti diketahui saat ini Indonesia sedang berkembang," ujar Ryota di MNC Tower, Kamis (26/4/2012).

"Kami tentunya akan empower (memperkuat) mitra kami dengan menyediakan platform. Terbukti, sampai saat ini Rakuten Grup telah melakukan ekspansi ke banyak negara, seperti di Asia ada di Taiwan, China dan Indonesia," tambahnya.

Untuk Indonesia, kata Ryota, Rakuten akan memperkuat dalam tiga hal yaitu lokal merchant, end user dan ekonomi. Beberapa major brand atau mitra kunci dari Rakuten diantaranya berasal dari Indonesia, seperti RCTI, Erafone, Mustika Ratu dan Marta Tilaar.

"Setiap bulannya kami selalu growth, dengan gadget yang paling banyak berkontribusi dalam transaksi," ungkap Ryota. Senada dengan Ryota, Direktur Rakuten, Reino R. Barack juga menungkapkan bahwa gadget masih memberikan kontribusi terbesar dalam penjualan Rakuten.

"Gadget itu tinggi transaksinya, bisa mencapai 60 persen. Yang paling mudah dijual itu gadget dan buku," kata Reino.

Diluncurkan secara resmi di Indonesia pada Juni 2011, diungkapkan Reino, Rakuten ingin menjadi global market dan menambah aksesnya dengan target ekspansi ke 17 negara baru dalam dua tahun ini. (fmh)


• Okezone

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More