blog-indonesia.com

Kamis, 29 Januari 2026

Tiga Kartu Indonesia di Industri Semikonduktor

  Indonesia punya tiga kartu. Namun, kartu tidak akan menang dengan sendirinya tanpa punya tangan yang memainkannya secara disiplin. (Kompas)

Namanya USS John Finn, kapal perusak milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Dua hari lepas, kapal kelas Arleigh-Burke berusia satu dasawarsa ini melenggang tenang di Selat Taiwan. Manuver Angkatan Laut Amerika Serikat yang membuat armada Teater Timur China mendadak bersiaga penuh tersebut mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat masih setia pada komitmen untuk mempertahankan kedaulatan Taiwan.

Taiwan telah lama menjadi kawasan sengketa. Akan tetapi, semenjak seperempat abad terakhir, negara pulau ini beranjak menjadi sedemikian penting bagi dunia, atau bahkan terlampau penting, karena satu alasan.

Rujukan industri menyebutkan, 92 persen kapasitas manufaktur semikonduktor paling maju berada di Taiwan, dengan porsi besar pada cip logika yang berukuran di bawah 12 nanometer. Artinya sederhana: banyak produk yang kita gunakan sehari-hari, dari ponsel hingga server AI, dari kulkas sampai mobil, dari panel surya hingga alat medis, pada akhir hari harus ”menunggu” Taiwan. Dunia punya ribuan pusat manufaktur elektronik, tetapi jika suplai semikonduktor tersendat, seluruhnya akan terhenti. Kasus ini hanyalah satu anekdot dari kenyataan betapa terfragmentasinya value-chain industri semikonduktor.

Dalam kehidupan modern, semikonduktor menduduki posisi sama pentingnya dengan air, listrik, dan gas. Wabah pandemi Covid-19 menjadi genta yang membangunkan dunia ihwal masalah ini. Gangguan pada rantai pasok semikonduktor pada periode pandemi telah menyebabkan 169 sektor industri macet dan gangguan ekonomi global. Sesuatu yang belakangan terlambat disadari oleh banyak negara.

Semikonduktor buatan Nexperia
Perkara geopolitik bukan lagi melulu soal guns and steel. Pada dekade ini, geopolitik juga mewujud dalam bentuk semikonduktor, dalam bentuk wafer silikon, mesin litografi, kekayaan intelektual desain IC, hingga kapasitas manufaktur foundries. Dinamika ini membuka mata negara-negara di dunia, membuat para pemimpin dunia bergerak cepat, bahkan setengah panik, untuk berlomba-lomba mengamankan posisi di rantai pasok semikonduktor.

Dan lahirlah satu pertanyaan yang mengganggu: ketika dunia bergulat ke dalam chip race, apakah Indonesia siap berkompetisi di era baru ini?

Dalam pandangan saya, posisi Indonesia terasa paradoksal. Secara jujur, Indonesia jauh tertinggal. Beberapa negara tetangga mengawali pembangunan industri semikonduktor semenjak dasawarsa 1980-an, atau bahkan 1970-an. Kita baru mulai bicara serius kala dunia sudah masuk babak ”cip sebagai senjata ekonomi dan geopolitik”.

Akan tetapi, keterlambatan ini justru membuka peluang, bersambut dengan kekacauan industri baru-baru ini, yang dapat dimanfaatkan Indonesia. Chaos is always a ladder. Keterlambatan memberikan satu keuntungan bagi Indonesia: peta jalan sudah separuh terbuka dan kita tinggal memilih lewat lintasan yang mana, tanpa harus mengulangi seluruh tahapan yang mahal dan makan waktu seperti yang telah dijalani oleh negara-negara pendahulu kita.

Dengan satu catatan besar: Indonesia tidak punya waktu untuk memilih jalan yang salah.

Saya melihat ada tiga kartu yang dapat dimainkan Indonesia di pertempuran ini, untuk bersaing dengan negara-negara di kawasan Pasifik.

Pertama, ketersediaan mineral dan bahan baku (sektor hulu+1). Semikonduktor bukan sebatas silikon. Industri ini berhulu dari rantai material yang lebar, selain silika, terdapat pula komposisi germanium, galium, paladium, mineral jarang (REE), hingga timah. Kandungan mineral-mineral strategis di bumi Indonesia mampu menopang industri elektronika dan semikonduktor. Dengan kata lain, Indonesia punya kartu untuk mengikat investasi semikonduktor sebagai perpanjangan dari industrialisasi sektor-sektor yang baru tumbuh, seperti mobil listrik (EV) dan panel surya (PV), bukan sebagai industri yang berdiri sendirian.

Dengan penyusunan paket yang tepat, investor dapat melihat Indonesia bukan sebatas penyedia kawasan pabrik ATP yang reliabel, seperti Malaysia, tetapi juga sebagai suatu ekosistem permintaan (demand) dan pasokan (supply) yang saling mengunci.

Kedua, kedekatan geografis Batam dan Singapura. Hal ini terdengar klise sampai kita menyadari bagaimana industri semikonduktor bekerja di lapangan. Untuk fasilitas ATP (assembly, testing, and packaging), misalnya, kecepatan logistik, akses terhadap vendor, kedekatan pusat bisnis, dan kepastian rantai pasok sangat menentukan kepantasan suatu kawasan ATP.

Posisi Batam (bersama Rempang dan Galang) yang menempel Singapura menjadi nilai lebih dibandingkan sentra-sentra ATP lain Asia Tenggara. Batam mampu mengawali langkah di industri semikonduktor dengan cara memosisikan diri sebagai satelit Singapura dengan biaya terjangkau, didukung tenaga terampil, dan ruang ekspansi yang jauh lebih longgar.

Infografik Laba Industri Semikonduktor 2021
Ketiga, demand-pull dan kekuatan market-making (hilir). Banyak negara, seperti Malaysia dan Filipina, menawarkan tax holiday, tetapi hanya sedikit yang sanggup menciptakan pasar domestik yang mampu mengunci volume. Indonesia saat ini sedang membangun cepat (ramp-up) industri-industri yang dapat menjadi demand generator industri semikonduktor. Sebut saja proyek mobil nasional, pabrik-pabrik mobil listrik di Subang dan Karawang, pabrik panel surya di Batang dan Kendal, hingga pabrik elektronik di Batam dan Cikarang.

Industri-industri itu mampu menjadi offtaker apabila diarahkan secara strategis, terutama untuk mengunci investasi tahap awal industri semikonduktor Indonesia yang realistis, yaitu ATP (sektor hilir-1). Investor semikonduktor cenderung alergi terhadap ketidakpastian, demand yang terencana mampu menjadi magnet yang tidak tergantikan.

Tiga kartu ini apabila dimainkan dengan benar akan merangkai satu kesatuan value-chain yang jelas bagi Indonesia. Andaikata bekas CEO AMD Jerry Sanders pernah mengatakan bahwa pria sejati harus punya foundries (real men have fabs), saya cenderung melihat itu sebagai kompetisi yang tidak seharusnya menyeret Indonesia. Indonesia tidak perlu terobsesi untuk membangun advanced-node foundries pada tahap ini, karena itu sama nekatnya dengan merencanakan misi ke Mars tanpa pernah punya pengalaman industri antariksa.

Sebaliknya, Indonesia perlu masuk secara cepat-bertahap: hilirisasi mineral terutama polisilika (hulu+1), prioritas di investasi ATP (hilir-1), persiapan sumber daya manusia, pembentukan ekosistem desain IC, dan kemudian memuncakinya di industri manufaktur mature-node untuk melengkapi seluruh peta jalan.

Komitmen ini butuh pemantapan pola pikir. Pertama, bahwa semikonduktor adalah isu kedaulatan dan bukan sebatas proyek industri. Kedua, bahwa kita harus memilih jalan yang mengoptimalkan kekuatan yang dimiliki republik ini dan bukan melangkah buta masuk ke pertempuran global. Ketiga, bahwa kita harus bergerak sekarang. Karena jendela kesempatan sedang terbuka dan tidak untuk waktu lama, ketika negara-negara dan perusahaan-perusahaan sedang menata ulang peta produksi, berjuang mereduksi ketergantungan geopolitik, dan mencari kawasan industri alternatif.

Indonesia punya tiga kartu. Namun, kartu tidak akan menang dengan sendirinya tanpa punya tangan yang memainkannya secara disiplin.

Apabila kita kehilangan momentum ini, barangkali republik ini tidak akan pernah bersua kesempatan yang sama lagi untuk selama-lamanya. Dan sewaktu kapal-kapal perang berikutnya melintas di Selat Taiwan, kita hanya akan menjadi penonton yang cemas tanpa posisi tawar di percaturan semikonduktor global.

  💥 
Kompas  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More