blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Minggu, 25 Desember 2016

Catatan Tutup Tahun Kemaritiman Kita

Ilustrasi Bakamla [GM]

Tahun 2016 hanya tinggal beberapa hari saja. Saatnya jeda sejenak, melihat ke belakang, dan bertanya: bagaimanakah dunia kemaritiman nasional menapaki 365 hari sepanjang tahun ini?

Lumayan terkejut. Itulah barangkali catatan yang bisa dituliskan untuk kemaritiman nasional kita. Kita tentu terkejut dengan kasus yang terjadi di Badan Keamanan Laut (Bakamla).

Bak menyiramkan bensin ke kobaran api, kasus operasi tangkap tangan (OTT) yang terjadi di Bakamla menjadi peneguhan bahwa laut merupakan lahan yang amat basah untuk korupsi dan tindak kejahatan lainnya.

Dalam OTT kemaritiman sebelumnya jumlah uang yang berhasil digerebek terhitung kecil, berkisar puluhan juta saja, namun kasus Bakamla jumlahnya terbilang fantastis, menyundul Rp 2 miliar.

Tak hanya itu. Karena Bakamla merupakan salah satu elemen dari Satgas 115 pemberantasan "illegal, unreported and unregulated (IUU) fishing", apa yang terjadi di kantor pusatnya jelas-jelas merupakan tamparan keras.

Ia yang seharusnya menjadi sapu untuk bersih-bersih sampah atau kotoran, alih-alih menjadi sampahnya. Singkat cerita, korupsi Bakamla boleh dibilang kasus kejahatan maritim besar, jika tidak mau disebut terbesar, di era Poros Maritim Dunia saat ini.

Desakan agar lembaga tersebut dibubarkan akhirnya muncul ke permukaan. Ada yang disuarakan oleh legislator, ada pula yang dikemukakan oleh kalangan pengamat dengan segala argumentasinya.

Tentu ada pula pihak yang ingin Bakamla dipertahankan. Mereka beranggapan praktik korupsi dijalankan oleh oknum, bukan merupakan kebijakan kelembagaan. Mencermati pemberitaan media terkait korupsi Bakamla, keberadaan dua kubu ini dapat terlihat cukup jelas.

Bagaimanakah kasus korupsi Bakamla harus dimaknai? Di manakah akar persoalannya, apakah ia lebih merupakan aksi individual atau ada celah institusional yang memungkinkan praktik pelanggaran itu terjadi?

 Perjalanan Bakamla

Badan Keamanan Laut (Bakamla) merupakan kelanjutan dari Badan Koordinasi Keamanan Laut alias Bakorkamla. Bakamla lahir sejurus diundangkannya Undang-Undang No. 32/2014 tentang Kelautan yang disahkan oleh DPR RI periode 2009-2014 menjelang mereka purna tugas.

Undang-undang tersebut merupakan inisiatif dari pihak DPR RI, bekerja sama dengan DPD RI yang menyiapkan draft atau rancangannya.

UU itu sebenarnya mengatur hal-hal yang sudah diatur oleh UU yang lain, sehingga akhirnya tak terhindarkan bahwa ia hanya membahas isu-isu non-teknis seperti nilai, direktif/arahan atau yang lain.

Tiba-tiba, munculah pasal-pasal tentang Bakamla. Mereka sepertinya hanya menyempil dan nampaknya dimasukkan pada detik-detik terakhir proses drafting. Memang seperti itulah kenyataannya.

Bakamla menemplok di UU Kelautan, sebab sebelumnya sudah kecewa terhadap Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) "Coast Guard" yang diajukan oleh Kemhub, menindaklanjuti amanat UU No. 17/2008 tentang Pelayaran.

Menurut penjelasan UU Pelayaran 2008, pendirian "coast guard" atau penjagaan laut dan pantai adalah dengan memberdayakan Bakorkamla dan menguatkan Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), sebuah unit Kemhub yang membidangi keselamatan dan keamanan di laut.

Informasi yang ada mengungkapkan, RPP Coast Guard versi terakhir -- ada tiga versi sebelumnya -- sudah tidak lagi melibatkan Bakorkamla sebagai salah satu elemen pendiri penjaga laut dan pantai Indonesia.

Patah arang, Bakorkamla merapat ke Senayan yang saat itu tengah membahas RUU Kelautan. Publik tahu bagaimana akhirnya cerita perjuangan Bakorkamla itu.

Setelah RUU Kelautan diundangkan, eksistensi Bakamla hanya diatur oleh Peraturan Presiden (Perpres) No. 178/2014, dan tidak ada Peraturan Pemerintah atau PP yang berstatus lebih tinggi dan kuat dibanding Perpres.

Inilah salah satu sebab mengapa seluruh pejabat eselon satu masih berstatus Plt -- pelaksana tugas. Hingga hari ini, tidak terdengar KKP selaku "leading agency" UU Kelautan membahas PP yang diamanatkannya.

Kendati badan baru, Bakamla menyerap hampir seluruh nilai kelembagaan (corporate values) yang melekat pada pendahulunya, seperti perilaku militeristik misalnya.

Adapun nilai ini diserap dari instansi kepada mana Bakamla menginduk, yaitu Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan. Di sini berkumpul para tentara dan polisi, sehingga atmosfer yang terhirup pun "rasa tentara". Belum berkembang nilai-nilai yang khas Bakamla.

 Ambisi Besar

Bakamla juga meneruskan saja program yang dirancang Bakorkamla. Proyek surveillance yang akhirnya membelit Deputi Informasi, Hukum dan Kerja sama Bakamla, ESH, merupakan kelanjutan dari program monitoring pendahulunya yang sudah membangun beberapa stasiun pemantau di beberapa provinsi. Bakamla juga sudah, tengah, dan akan membangun armada kapal patroli.

Di sisi lain, proyek merupakan hal yang lazim, sehingga tidak ada masalah dengan proyek-proyek Bakamla. Hanya saja, kedua proyek tersebut tergolong ambisius karena APBN yang ada sangat ketat.

Di samping itu, proyek-proyek itu sepertinya tidak berkoordinasi dengan pihak yang bisa terlibat dalam perencanaan proyek nasional seperti Bappenas, Kemenkeu dan Banggar DPR RI.

Ketiadaan koordinasi itu terasa sedikit mengganggu karena yang diadakan Bakamla (satelit dan kapal patroli) sudah dimiliki oleh instansi bahkan dengan spesifikasinya yang lebih tinggi.

Lebih dari itu, untuk apa Bakorkamla/Bakamla yang memiliki tugas mengkoordinasi harus memiliki aset? Bukankah mereka bisa memanfaatkan fasilitas yang dimiliki oleh instansi yang ada dalam lingkup koordinasi mereka?

Ada kemubaziran di sini. Rasanya korupsi di Bakamla yang terjadi di penghujung tahun 2016 ini bukan semata-mata soal kerakusan personal. Ada masalah tata kelola yang tidak tepat yang membuat pegawainya lincah memanfaatkan kesempatan.

Dari sana pulalah barangkali upaya membenahi Bakamla bisa dimulai. Dimulai dari pembenahan kelembagaan.

Alangkah lebih baiknya Bakamla menjadi lembaga koordinasi yang menyinergikan berbagai instansi yang sudah ada lebih dahulu di laut.

Ia tidak perlu aset untuk itu, tetapi cukup berkomunikasi yang intensif dengan mitranya. Sejak menjadi Bakamla, lembaga ini menjadi sangat aktif melakukan patroli; sepertinya "berlomba" dengan instansi dalam lingkup koordinasinya.

Pilihan kedua ini jelas akan menimbulkan kemarahan dari pegawai Bakamla dan akan dianggap tidak mendukung Poros Maritim Dunia mengingat Bakamla dianggap sebagai wujud dari visi poros dimaksud.

Pilihan itu adalah Bakamla dibubarkan dan pemerintah dapat mendirikan "coast guard" sebagai gantinya.

*Penulis, Direktur The National Maritime Institute (Namarin) (A015/S025)
 

  Antara  

Sabtu, 24 Desember 2016

Sejumlah Proyek 2017 Di Batam

BP Batam Akan Membangun Light Rail Transit atau LRTBatam Nightlife

Ada sejumlah proyek infrastruktur akan dikembangkan BP Batam pada 2017.

Beberapa di antaranya, pembangunan awal Light Rail Transit, pelabuhan Kabil, perluasan Rumah Sakit BP Batam dan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di kawasan Bengkong.

Jika dihitung-hitung, anggaran untuk pengerjaan infrastruktur itu memang tidak sedikit. Setidaknya membutuhkan anggaran lebih kurang Rp 600 miliar. Dari semua itu, pembangunan awal LRT yang paling menyerap biaya besar.

"Pagu anggarannya itu sekitar Rp 100 miliar," kata Direktur Humas dan Promosi BP Batam, Purnomo Andiantono, Kamis (22/12).

Dana itu digunakan untuk melakukan studi awal kelayakan transportasi publik berjenis LRT tersebut di Batam. Rencana lelangnya dijadwalkan Desember 2016 ini.

Untuk Pelabuhan Kabil, BP Batam menganggarkan biaya sekitar Rp 130 miliar untuk membangun dermaga curah. Pengembangan dermaga seluas lebih kurang 10 hektare itu dimaksudkan untuk melayani lalu lintas dan bongkar muat CPO. Kedepan diharapkan proses bongkar muat lebih efisien dalam hal waktu.

"Dermaga yang ada saat ini, kami nilai sudah tidak mampu lagi melayani bongkar muat yang semakin hari semakin meningkat," ujarnya.

BP Batam juga berkomitmen meningkatkan kualitas layanannya untuk rumah sakit. Itu dibuktikan dengan akan dibangunnya gedung baru di RSBP Batam di Sekupang. Peruntukannya sebagai pusat pengobatan jantung.

"Posisinya itu di belakang rumah sakit yang ada saat ini. Jadi kalau ada pasien sakit jantung, kita tidak perlu lagi keluar mencari rumah sakit. Cukup di Batam saja," kata Andi.

Pembangunan rumah sakit untuk pusat pengobatan jantung itu, diperkirakan memakan biaya sekitar Rp 53,67 miliar. Di sisi lain, BP Batam juga tengah melakukan studi untuk pembangunan IPAL berkapasitas 250 liter per detik.

Dengan begitu, air limbah yang dihasilkan rumah tangga akan diolah lagi menjadi air bersih. Air itu dapat digunakan untuk keperluan industri, cuci kendaraan, menyiram tanaman dan beberapa lainnya. Namun tidak untuk dikonsumsi sebagai air minum.

"Hasil recycle nya bisa untuk industri, cuci-mencuci dan untuk tanaman. Kalau konsumsi belum bisa," ujarnya.

Untuk proyek ini, BP Batam menganggarkan biaya sekitar Rp 319 miliar. Keseluruhan biaya itu bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lewat Kementerian Keuangan. Selain itu juga ada yang berasal dari tarif layanan BP Batam. (*)
 

  Tribunnews  

Jumat, 23 Desember 2016

Kapal Listrik Buatan PT PAL dan Karpowership

Untuk Sejumlah DaerahKapal pembangkit listrik

PT. Karpowership menjalin kerja sama dengan PT. PAL Indoensia untuk membangun kapal listrik agar bisa dikirim ke sejumlah daerah di Indonesia yang membutuhkan listrik.

"Saat ini kami sedang kerja sama dengan PT. PAL untuk membangun kapal listrik di Indonesia, sehingga nantinya jika ingin diperpanjang pemakaian kapalnya tidak perlu harus dipesan dari Turki," kata Direktur Eksekutif Asia Pasifik Karpowership Ufuk Berg kepada wartawan di Kupang, Kamis (22/12/2016).

Hal itu disampaikannya ketika ditanya terkait masa kontrak pemakaian kapal tersebut di NTT yang dijadwalkan hanya boleh dipakai selama lima tahun.

Ia mengatakan, dengan adanya kerja sama tersebut nantinya PT. Kar Powership akan mentransferkan teknologi pembuatan kapal listrik sehingga nanti selain berproduksi untuk wilayah Indonesia tetapi juga untuk seluruh wilayah Asia.

Transfer teknologi yang akan dilakukan dalam beberapa bidang mulai dari bidang desain, pengadaan alat, konstruksi, transportasi, instalasi, pengawasan atau pengujian dan pemeliharaan Kapal Pembangkit dengan total sebesar 5,000 MW selama tujuh tahun ke depan.

"Semua ini telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa dalam mendukung rencana pengadaan energi induk sebesar 35.000 MW," ujarnya.

Ia menambahkan dengan kerja sama tersebut maka akan mempermudah penempatan kapal-kapal listrik di Indonesia.

"Kalau memang sudah memungkinkan produksi kapalnya di Indonesia, dan Indonesia sudah memiliki kapal listrik maka nantinya PT. PAL Indonesia yang akan mengirimkan kapal-kapal listrik ke luar negeri, khususnya negara-negara di Asia," tambahnya.

Lebih lanjut ia menambahkan, sejak 2010, sebanyak tiga belas Kapal Pembangkit telah selesai dibuat dengan total kapasitas yang terpasang melebihi 2,700 MW. Kapal Pembangkit tambahan kapasitas 5,000 MW sedang dalam proses pembuatan ataupun sedang dalam proses menunggu.

Kapal Pembangkit telah memasok 15 persen untuk Irak Selatan, 27 persen wilayah Lebanon, 22 persen wilayah Ghana, 16 persen untuk Zambia, 31 persen wilayah Sulawesi Utara, Indonesia dan saat ini untuk wilayah Nusa Tenggara Timur sebesar 120 MW.

Jaringan total listrik di Indonesia dengan tiga Kapal Pembangkit yang dijadwalkan untuk disebarkan di seluruh kepulauan Indonesia pada kuartal pertama tahun 2017.
 

  Netralnews  

PT PAL Produksi Kapal Tunda Ketiga untuk TNI AL

⚓️  TNI AL Juga Memesan LPD, KCR & Negosiasi 2 Kapal Latih PerangKapal tunda produksi PT PAL Indonesia [Hobbymiliter]

PT PAL Indonesia, Kamis (22/12/2016) melakukan serah terima satu unit kapal tunda yang diproduksinya ke TNI Angkatan Laut (AL) RI.

Kapal tunda itu merupakan kapal ketiga. Kapal pertama dan kedua sudah diselesaikan dan diserahkan ke TNI AL.

Direktur Pengembangan Kapal PT PAL Indonesia Turitan Indaryo, mengatakan kapal tunda ini mampu bermanuver atau berputar 360 derajat, dan mampu manarik kapal seberat 30 ton.

"Dari tiga kapal tunda pesanan TNI AL, kapal ini berbeda karena ada teknologi Z-Peller, yakni mampu bermanuver 360 derajat, berbeda dengan kapal tunda pada umumnya," jelas Turitan, usai kegiatan serah terima kapal tunda di Dermaga Divisi Kapal Perang PT PAL Indonesia.

Selain itu, kapal yang telah secara resmi diberinama "TD Malabar" dengan nomor lambung M000296 itu juga mempunyai 2.400 Horse Power (HP) atau tenaga kuda.

Kapal ini juga telah melalui serangkaian proses pengujian sebagai persyaratan serah terima, seperti harbour test, sea trial, bollard pull test, dan tahap akhir adalah commodore inspection yang telah dilaksanakan pada 2 Desember 2016 oleh beberapa perwira tinggi TNI AL.

Turitan menyebutkan, proses pembangunan hingga penyelesaian setiap kapal dilakukan selama 16 bulan, dan secara resmi PAL Indonesia telah mampu menyelesaikan kontrak dua kapal serupa yang sebelumnya telah dierahterimakan kepada TNI AL.

TNI AL dalam kontrak awal memesan tiga kapal tunda, dan TD Malabar ini merupakan yang terakhir.

Turitan berharap ditunjuknya PT PAL Indonesia sebagai `lead integrator' dalam pemenuhan kebutuhan alutsista matra laut dapat meningkatkan kerja sama yang telah terjalin, baik untuk pembangunan kapal baru, maupun perbaikan dan pemeliharaan kapal.

Aslog Kasal Laksda TNI Mulyadi yang mewakili jajaran TNI AL dalam kegiatan serah terima tersebut mengatakan, kapal yang baru saja diselesaikan pengerjaannya oleh PT PAL Indonesia akan ditempatkan di Lantamal III Jakarta, karena kebutuhan kapal tunda di sana sangat tinggi.

"Kapal baru ini akan memperkuat Lantamal III Jakarta, karena kebutuhan di sana cukup besar, sehingga di sana kini memiliki dua kapal tunda," katanya.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjb3Geb0bOQisfE0UOqyBHLKiiYDIhTXW-7PhXQWh5Rc9p8FziyByLIRFeXDIQIAStIxDIPDbpm1tXym_6aE3W7RLvrZou-qYWO1BUO2cp5tHS8IVCqZVZFnrAhvDHiO7fWi3Hey_KJDAXM/s1600/PT+PAL+KCR-60M+-+KRI+Tombak+%2528629%2529.+sinarharapan.jpegSementara itu, berdasarkan data PT PAL Indonesia kapal perang bantu ini memiliki keunggulan seperti Kapal TD Galunggung dan TD Anjasmoro yang berfungsi sebagai kapal pelabuhan dan kapal pemadam.

Untuk tahun depan, TNI AL telah memesan satu kapal jenis landing platform dock (LPD) dan kapal cepat rudal (KCR) pada PT PAL Indonesia.

"Kami sudah diskusikan dengan PT PAL. Dan, rencana pembuatan kapal pesanan itu bakal dimulai pada tahun depan," imbuh Jenderal berbintang dua itu.

Turitan menambahkan, untuk kapal jenis LPD nilai investasi yang dibutuhkan adalah sekitar Rp 700 miliar.

Sedangkan untuk kapal jenis KCR nilai investasi yang harus dikeluarkan diprediksi mencapai Rp 200 miliar. Ia mengaku, pesanan dari pihak TNI AL jelas bakal meningkatkan pendapatan perseroan.

"Untuk tahun depan saja, total investasi TNI AL di PT PAL sudah mencapai Rp 900 miliar. Itu belum termasuk rencana pemesanan dua kapal latih perang yang saat ini masih dalam tahap negosiasi. Jika terealisasi, total nilai investasi TNI AL tahun depan akan lebih dari Rp 1 triliun," tandasnya.

  ⚓️ Tribunnews  

Kamis, 22 Desember 2016

TNI AL Akan Akuisisi NC212i MPA

Sebanyak 2 Unit MPANC212 MPA TNI AL

TNI AL diberitakan dari situs IHS Janes sedang melakukan pembicaraan dengan produsen pesawat PT Dirgantara Indonesia (PTDI) terkait akuisisi dua unit NC-212-200.

Pesawat yang dimaksud merupakan konfigurasi maritime patrol aircraft (MPA), yang akan ditempatkan di Skuadron 800 TNI AL, pangkalan udara Juanda, Surabaya.

Pesawat NC-212-200 produksi PT DI ini mampu take-off dan landing pada landasan yang pendek (STOL). Akusisi pesawat ini untuk melengkapi armada TNI-AL yang lebih besar yaitu CN-235-200 MPA.

Pembiayaan pengadaan pesawat ini menggunakan dana yang dialokasikan Departemen Pertahanan Indonesia untuk akuisisi MPA pada periode fiskal 2015-2019. [IHS Jane]

  ☠ Garuda Militer  

Rabu, 21 Desember 2016

Afrika, Prioritas Penjualan Produk Industri Strategis 2017

CN235 MPA TNI AU [Hindawan H]

Pemerintah dan dunia usaha menilai negara-negara di kawasan Afrika memiliki potensi sebagai prioritas penjualan produk industri strategis nasional pada tahun depan.

Pelaksana harian (Plh) Direktur Afrika Ditjen Aspasaf Kementerian Luar Negeri Irwan Iding mengatakan pemerintah dan dunia usaha nasional perlu terus memperkuat konsolidasi dan sinergi dalam menggarap peluang kerja sama dengan Afrika.

Pada 15-16 Desember telah diselenggarakan Forum Koordinasi Penguatan Diplomasi RI ke Afrika di Tangerang Selatan. Forum yang dihadiri sekitar 40 peserta dari kalangan pemerintah dan pengusaha nasional tersebut membahas rencana kegiatan 2017 ke Afrika dan permasalahan yang dihadapi bersama.

Dalam forum tersebut dibahas produk industri strategis Indonesia yang memiliki potensi untuk dipromosikan ke Afrika dan menetapkan negara-negara Afrika sebagai prioritas penjualan produk industri strategis.

Misalnya, saat ini akan diserahterimakan sebuah pesawat CN-235 untuk Senegal dan sebuah pesawat lagi dalam tahap pembuatan yang dipesan Pemerintah Ghana. Sementara pemesanan pesawat dalam tahap perundingan akhir adalah dari Pemerintah Nigeria. Demikian juga dengan produk dari PT Pindad yang masih dalam perundingan dengan Pemerintah Madagascar, Mozambik, dan Nigeria.

Forum menyepakati kerja sama di bidang pertanian, khususnya pelatihan, merupakan program kerja sama yang berhasil dikembangkan di Afrika,” tulis laman Kementerian Luar Negeri, Selasa, 20 Desember 2016.

Adapun dua Pusat Pertanian Pedesaan dibangun di Tanzania dan Gambia. Sebanyak 286 orang yang diberikan pelatihan oleh Pemerintah Indonesia di samping 50 bantuan hibah traktor ke negara-negara Afrika.

Pemberian bantuan traktor tersebut sekaligus memperkenalkan produk Indonesia kepada petani Afrika. Pada tahun depan, Kementerian Pertanian menempatkan prioritas kerja sama pertanian dengan negara-negara Afrika.

Sementara di bidang perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menawarkan fasilitas Center of Excellence Penangkaran Ikan di Indonesia untuk kerja sama pelatihan.

 Fluktuasi Mata Uang 

Di bidang ekonomi, forum mengangkat isu-isu permasalahan perdagangan, seperti fluktuasi mata uang lokal dan kredibilitas mitra lokal. Hal ini dapat ditangani dengan mengajukan asuransi gagal bayar dan meneliti mitra dengan lebih cermat yang dapat dibantu KBRI dan ITPC di negara akreditasi.

Ketua Komite Tetap Kadin Mintardjo Halim mengusulkan perlunya pendirian zona ekonomi khusus Indonesia di Djibouti untuk mempermudah akses masuk produk Indonesia ke Afrika Timur.

Pendirian zona ekonomi khusus tersebut diharapkan dapat memotong biaya logistik ke Afrika dan menjadi hub distribusi barang-barang Indonesia ke negara-negara sekitar, seperti Etiopia, Sudan, dan lain-lain,” katanya.

Adapun Afrika merupakan salah satu pasar non-tradisional Indonesia dengan nilai perdagangan antara RI-Afrika pada 2015 mencapai US$ 8,2 miliar. Beberapa produk Indonesia, seperti mi, kertas, sabun, dan minyak goreng, telah mudah ditemui di berbagai negara di Afrika.

  Tempo  

Selasa, 20 Desember 2016

Indonesia Jajaki Pengadaan Kapal Selam Dengan Swedia

Kapal selam Swedia [foxtrotalpha.jalopnik]

Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan Kementerian Pertahanan Swedia menjajaki kemungkinan memperluas kerja sama mereka di bidang alutsista. Dari yang awalnya hanya kerja sama dalam hal pengadaan meriam dan amunisi, kali ini keduanya mempertimbangkan kerja sama pengadaan kapal salam.

Hal itu terungkap setelah penandatangan MOU antara Indonesia dan Swedia. “Kapal selam (Swedia) ditawarkan selain pesawat tempur,” ujar Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu setelah penandatangan nota kesepahaman di kantornya, Selasa, 20 Desember 2016.

Sebelumnya, Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) menyampaikan bahwa ada tujuh program prioritas dalam road map peningkatan industri pertahanan nasional. Ketujuh program prioritas itu di antaranya adalah produksi propelan, rudal, medium tank, radar, pesawat tempur, dan kapal selam.

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/originals/1c/98/df/1c98df46ce6e9a7602024d10994908f9.jpgHMS Gotland (pinterest)

Kapal selam Swedia disebut-sebut salah satu yang terbaik di dunia. Salah satunya adalah HMS Gotland yang dalam uji coba di Amerika tahun 2005 disebut mampu mengalahkan kapal-kapal selam Amerika dan bahkan menembus zona berbahaya.

Ryamizard menyampaikan bahwa belum ada keputusan apa pun terkait pengadaan kapal selam tersebut. Ryamizard berkata dia diundang oleh Kemnterian Pertahanan Swedia untuk mengecek langsung teknologi kapal selam di militer mereka.

Kalau nanti kami membeli, imbal dagang dan offset pasti akan ada juga,” ujar Ryamizard mengakhiri.

  ⚓️ Tempo  

Indonesia - Swedia Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan

⚓️ Menandatangani nota kesepahaman dari kedua pihak Gripen Family [Gripen news]

Pemerintah Indonesia dan Swedia meningkatkan kerja sama bidang pertahanan melalui penandatanganan nota kesepahaman dari kedua pihak.

Penandatanganan kerja sama itu dilakukan Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, dan Menteri Pertahanan Swedia, Carl Anders Peter Hultqvist, di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Selasa.

Kami sudah ada kerja sama. Ke depan juga begitu, jadi ditingkatkan kembali,” kata Ryacudu.

Salah satu hal yang disasar dalam kerja sama itu adalah pengembangan industri pertahanan seperti melalui transfer teknologi, penelitian serta produksi bersama alat pertahanan dan keamanan untuk penguatan sektor pertahanan dan keamanan.

Ruang lingkup kerja sama itu mencakup enam pokok, yakni :

☮ Pertama, pertukaran informasi dan pengalaman isu-isu yang menjadi kepentingan bersama termasuk aspek politik dan militer serta isu keamanan maritim internasional.

☮ Kedua, pertukaran informasi dana praktik terbaik serta memajukan kerja sama antar instansi masing-masing pihak di bidang penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta lembaga terkait lain.

☮ Ketiga, pengembangan kerja sama dan pertukaran pengalaman di bidang dukungan logistik dan pemeliharaan.

☮ Keempat, pendukungan dan pengembangan kerja sama dalam bidang industri pertahanan yang dapat mencukupi transfer teknologi, penelitian bersama, produksi bersama, pemasaran bersama dan juga jaminan kualitas.

☮ Kelima, pengembangan dan peningkatan pelatihan dan pendidikan di bidang Pertahanan dan militer pada semua tingkatan termasuk personel sipil pada Kementerian Pertahanan.

☮ Keenam, pengembangan kegiatan yng mengarah pada Kerja sama dalam kedokteran militer dan pelayanan kesehatan militer.

Sementara itu, Hultqvist menyambut baik penandatanganan kerja sama pertahanan itu.

Kerja sama Swedia dan Indonesia sudah berlangsung cukup lama dan penandatanganan nota kesepahaman ini merupakan langkah ke depan untuk memperdalam hubungan kerja sama pertahanan kedua negara,” ujar dia.

Dia mengatakan beberapa hal yang tertuang di dalam nota kesepahaman itu termasuk di dalamnya adalah pertukaran informasi, transfer teknologi, pelatihan dan pendidikan serta kerja sama pertukaran atau saling berkunjung antara kedua pejabat.

  ⚓️ Antara  

Pemerintah Wajibkan Skema Imbal-Beli

✈️ Dorong Ekspor Pesawat Su-35 Angkatan Udara Rusia [Global review]

Skema imbal beli atau pola yang diterapkan oleh pemerintah dengan mewajibkan eksportir negara mitra dagang untuk membeli produk dalam negeri, dinilai mampu untuk meningkatkan ekspor serta membuka pasar-pasar baru tujuan ekspor.

Direktur Fasilitasi Ekspor dan Impor Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Nusa Eka, mengatakan bahwa skema imbal beli tersebut wajib untuk pengadaan barang pemerintah yang berasal dari impor dengan nilai tertentu dan atau berdasarkan peraturan perundangan.

"Saat ini kita melihat ada perlambatan ekspor, dan imbal beli ini bisa kita pergunakan sebagai salah satu instrumen untuk penetrasi produk ekspor. Selain itu juga salah satu instrumen untuk mengatasi hambatan dan kendala ekspor," kata Nusa Eka, di Jakarta.

Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 44/M-DAG/PER/6/2016 tentang Ketentuan Imbal Beli Untuk Pengadaan Barang Pemerintah Asal Impor sebagai landasan hukum untuk instrumen tersebut.

Skema imbal beli merupakan suatu cara pembayaran barang yang mewajibkan pemasok luar negeri untuk membeli dan atau memasarkan barang tertentu dari Indonesia sebagai pembayaran atas seluruh atau nilai sebagian barang dari pemasok luar negeri.

Selain imbal beli, instrumen lain yang bisa dipergunakan oleh pemerintah antara lain adalah barter atau pertukaran barang dengan barang lain, pembelian kembali dan offset atau pembelian barang dimana pemasok luar negeri menyetujui untuk melakukan investasi kerja sama produksi dan alih teknologi.

 Imbal Beli Pesawat Su-35 

Skema imbal beli tersebut wajib dilaksanakan pada program pengadaan barang asal impor, seperti oleh Kementerian Lembaga, Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Lembaga Pemerintah Non Departemen, yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Salah satu contoh rencana pengadaan barang oleh pemerintah dengan menerapkan skema imbal beli dan offset adalah pengadaan delapan unit pesawat tempur Sukhoi Su-35 senilai 1,14 miliar dolar AS. Dalam kesepakatan tersebut, skema imbal beli yang wajib dilakukan oleh pihak Rusia senilai 570 juta dolar AS.

Dalam konteks imbal beli, Indonesia sudah menawarkan sebanyak 35 produk ekspor kepada pihak Rusia. Sejauh ini pihak Rusia sudah menyampaikan keinginan mereka untuk membeli karet alam produksi dalam negeri, namun tidak menutup kemungkinan untuk membeli produk lainnya.

Rata-rata impor Rusia dari dunia untuk karet alam pada 2011-2015 tercatat sebesar 11,5 juta dolar AS per tahun. Namun, dari rata-rata nilai impor tersebut, Indonesia sama sekali belum menjadi negara pemasok kebutuhan Negeri Beruang Merah tersebut.

Produk yang ditawarkan dalam skema imbal beli antara lain adalah produk manufaktur seperti produk kayu, produk kimia, peralatan konveksi, elektronik dan lainnya. Sementara untuk produk industri primer adalah logam mulia, kopi olahan, ikan olahan dan lain-lain, serta komoditi primer seperti udang, rumput laut, batu bara dan karet alam.

"Mereka sudah menyampaikan keinginan untuk membeli karet alam kita, tapi tidak menutup kemungkinan untuk produk lain," kata Nusa Eka.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada November 2016 tercatat ada peningkatan impor senjata dan amunisi sebesar 51,3 juta dolar AS. Secara kumulatif, pada periode Januari-November 2016 nilai impor Indonesia secara keseluruhan mencapai 122,86 miliar dolar AS.

Sementara untuk ekspor, pada periode yang sama mencapai 130,65 miliar dolar AS atau menurun 5,63 persen dibanding periode yang sama tahun 2015. Dengan demikian, hingga November 2016, neraca perdagangan masih mengantongi surplus sebesar 7,79 miliar dolar AS.

  ✈️ Industry  

✰ Ilmuwan Indonesia Bikin Satelit Radar Mikro

Pertama di Dunia https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgmfLTNZ10NOFyWAD-ffEk8GVwa7zdW3ElXdt0NHKBz5qqN1OjOH_qnZaZX4V31KwRyOzpVfvr1YLi58qS0I5ZR1AE4jMATGO7UgVbTzazGMxMZX18RcdkzzO1Pu3ZsQjlUZAFzsX7yIRG_/s1600/Satelit+mikro+berbobot+150+kilogram+dengan+muatan+Circularly+Polarized-Synthetic+Aperture+Radar+%2528CP-SAR%2529%252C+Kamis+%252816122016%2529%252C+di+Josaphat+Microwave+Remote+Sensing+Laboratory+%2528JMRSL%2529%252C+Universitas+Chiba%252C+Jepang.+Ini+satelit+mikro+pertama+yang+membawa+sens.jpgSatelit mikro berbobot 150 kilogram dengan muatan Circularly Polarized-Synthetic Aperture Radar (CP-SAR), Kamis (16/12/2016), di Josaphat Mic✰rowave Remote Sensing Laboratory (JMRSL), Universitas Chiba, Jepang. Ini satelit mikro pertama yang membawa sensor radar. 🌟

I
ndonesia rupanya punya banyak orang pintar dan berprestasi. Salah satunya adalah Josaphat Tetuko Sri Sumantyo. Josaphat adalah ilmuwan asal Indonesia yang menjadi orang pertama yang membuat satelit radar mikro pertama di dunia.

Josaphat merupakan profesor radar di Chiba University, Jepang. Dia telah merampungkan pembuatan satelit mikro serta sensor circurlarly polarized synthetic aperture radar (CP-SAR). Satelit dan sensor ini dirancang dan dibangun di Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL), Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University. Rencananya, satelit ini akan diluncurkan di Indonesia pada 2019 mendatang.

Meski disebut mikro, tapi satelit ini memiliki berat 150 kilogram dan menjadi satelit berbobot ringan pertama di dunia yang membawa sensor radar. Selama ini, satelit radar memiliki berat lebih dari 1 ton. "Bertahun-tahun saya kembangkan teknologi mutakhir lain untuk memperkecil dan mengurangi beratnya hingga sepersepuluh lebih," ujar Josaphat kepada Tempo melalui pesan singkat, Jumat, 16 Desember 2016.

Keunggalan satelit ini ada pada teknologi polarisasi melingkar yang bisa mengurangi getaran wahana pembawa radar dan pengaruh rotasi Faraday di ionosfer. Dengan cara ini, citra yang didapat lebih akurat ketimbang radar konvensional. Teknologi itu adalah temuan Josaphat sendiri dan telah dipatenkan.

Josaphat menjelaskan, CP-SAR merupakan sensor radar yang bekerja di gelombang L band atau 1,270 gigahertz (GHz). Gelombangnya memiliki panjang 23 sentimeter. Itulah yang membuat radar ini dapat menembus awan, kabut, asap, hutan, dan bisa penetrasi ke dalam tanah.

Selain L band, sensor juga dapat menangkap frekuensi C band (5,3 GHz), X band (9,4 GHz), dan Ku band (13,2 GHz), sesuai dengan target yang akan diamati. Semakin tinggi frekuensi, makin detail citra yang akan diperoleh.

"Dapat menembakkan gelombang mikro (microwave) dan menerimanya kembali untuk diolah menjadi citra radar. Bisa dipakai pada siang dan malam hari," tutur pria kelahiran Bandung, 25 Juni 1970, ini. Ketimbang citra kamera biasa, kata dia, radar ini menghasilkan informasi soal intensitas, fase, dan polarisasi suatu objek, sehingga dapat diperoleh informasi lebih detail.

Karena itu, menurut Josaphat, satelit dan sensor ini tepat sekali untuk pengamanan lalu lintas laut (sea surveillance), penjagaan lintas batas negara, penjagaan nelayan ilegal, pemantauan kebakaran hutan, gunung meletus, pemeliharaan infrastruktur. "Sampai prediksi pergeseran tanah akibat gempa dan tanah longsor," kata Josaphat, yang pernah menjadi peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) selama 10 tahun.

Josaphat mengembangkan sensor satelit mikro CP-SAR ini sejak 2007 untuk berbagai keperluan pengamatan permukaan bumi, bulan, hingga planet Mars dan Venus. Selain di satelit mikro, ujarnya, sensor ini juga dapat dipasang di pesawat nirawak, pesawat, dan satelit besar. Serta kendaraan biasa untuk keperluan pengamatan permukaan tanah dan perubahannya.

Selama ini, Josaphat dan tim laboratoriumnya telah menggunakan sensor CP-SAR untuk beberapa penelitian. Di antaranya, penurunan tanah di kota Jakarta, tanah longsor, kebakaran lahan gambut, dan pengaruh sedimentasi terhadap reklamasi di Teluk Jakarta. Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory selama ini telah bekerja sama dengan berbagai badan ruang angkasa di dunia, seperti NASA dan Seoul University untuk pengambangan radar pengamatan bulan, Mars, dan Venus. Juga dengan Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk membuat sensor SAR berfrekuensi tinggi. Serta, LAPAN dan JAXA (Badan Antariksa dan Penerbangan Jepang) untuk membuat satelit mikro SAR.

Dia berencana memberi nama satelit ini sebutan "Tanah Air". "Harapannya satelit ini dapat bermanfaat bagi Indonesia, khususnya dalam mengamati sumber daya alam dan melindungi warganya dari bencana alam," ujarnya. "Satelit ini pun mewujudkan mimpi saya waktu umur lima tahun. Saat itu, saya berjanji kepada Ayah yang juga anggota Angkatan Udara dan pelatih di Komando Pasukan Khas, untuk membuatkan satelit pengamatan."

  🌟 Tempo  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More