blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Senin, 25 Februari 2013

Indonesia-Korsel Bisa Saling Melengkapi

Wapres Boediono. FOTO: ANTARA/HO/Setpres-HaryantoSEOUL | Wakil Presiden Boediono menilai Indonesia dan Korea Selatan bisa saling melengkapi dalam upaya untuk meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara yang selama ini telah berjalan baik, sehingga kondisi ini harus dipertahankan bahkan akan ditingkatkan.

"Kerja sama kedua negara bukan hanya basa-basi dan kedua negara bisa saling melengkapi satu sama lain di berbagai bidang," kata Wapres Boediono kepada pers di Seoul, Korea Selatan, Senin (25/2).

Hal tersebut disampaikan Wapres usai melakukan pertemuan dengan CEO LG International Ha Young-bong, Kepala Posco Chung Joon-yang, serta Presiden dan CEO Kepco Cho Hwan-eik.

Menurut Wapres, sejumlah badan usaha Korsel sangat berminat dan memberikan perjhatian serius dalam investasi di Indonesia yang menurut mereka memiliki iklim yang bagus sehingga tetap komitmen untuk menjalankan usahanya.

Dari hasil pembicaraan tersebut, Boediono mengatakan, para pengusaha menilai prospek berusaha di Indonesia sangat bagus karena Indonesia memiliki energi yang Korsel tidak punya, sementara Korsel memiliki teknologi yang Indonesia tidak punya.

"Di situ kedua negara bisa saling melengkapi dan ini bukan basa-basi," kata Boediono.

Kepada para petinggi tiga perusahaan besar Korsel tersebut, Wapres mengatakan agar mereka meneruskan usaha di Indonesia atas dasar saling menguntungkandan jika mmang ada yang bisa ditingkatkan tentunya pemerintah akan memberikan dukungan penuh.

Menurut Wapres, keinginan Indonesia untuk terus menjaga hubungan kedua negara yang telah berjalan baik akan disampaikan dalam pertemuan dengan Presiden Korsel Park Geun-hye, Selasa (26/2).

"Besok saya akan bertemu dengan Presiden Park. tentu intinya adalah akan membicarakan peluang apa saja yang bisa ditingkatkan agar hubungan kedua negara bisa lebih baik lagi," kata Boediono.

Kedatangan Wapres Boediono yang disertai Ibu Herawati Boediono adalah untuk menghadiri pelantikan Park Geun-hye sebagai Presiden baru Korsel, pada Senin (25/2).(*/hrb)


  ● Investor 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzuKXZz7DA9Y-b0_1ZIg4l1-Si_QQOgNYEZH6g1x2uUjLSYPRt8WhqPUehlrD35o36iIFpujKTIMiMwqRlUzHCfKT-a87fzfu77qvEv_EILRZACrgrNglyzx3QGI1aLE9B5cVrP9SoNdw/s35/cinta-indonesia.jpg

Pertamina belum berhasil akuisisi blok minyak di Irak

Jakarta | Sejak tahun lalu, Pertamina sudah berambisi mengakuisisi blok minyak yang berada di Irak. Namun, hingga saat ini pihak Irak belum memberi lampu hijau atas rencana tersebut.

"Irak kan memang dari dulu, itu kan goverment to goverment (g to g) dan kami harapkan bekerja sama dengan pihak perusahaan nasional Irak (NOC) tetapi juga tidak menutup kemungkinan kerja sama dengan Total di sana," ujar Direktur Utama Pertamina Galaila Karen Agustiawan kepada wartawan di Gedung SKK Migas, Jakarta Senin (25/2).

Meski belum berhasil, Karen mengklaim pemerintah Irak memprioritaskan Pertamina untuk mengakuisisi lapangan minyaknya. Besaran share yang akan diakuisisi Pertamina berkisar 10-25 persen.

"Deputi Perdana Menteri Irak dateng ke sini bahwa siapapun yang divestasi, Pertamina mendapatkan prioritas pertama. Besarannya sekitar 10-25 persen," tegas dia.

Sebelumnya, Menteri BUMN Dahlan Iskan mengungkapkan PT Pertamina Persero berencana mengambil alih salah satu perusahaan minyak di Irak pada akhir tahun ini. "Kita bisa ambil porsi 10-20 persen. Kalau 10 persen itu saja sudah berarti 120.000 barel yang kita peroleh," kata Dahlan.

Menurut Dahlan, rencana akuisisi ini dilakukan karena pemerintah Irak tidak ingin memberikan ladang minyak kepada Pertamina dengan begitu saja. Oleh sebab itu, Pertamina akan terjun langsung ke Irak dengan menggarap lapangan-lapangan minyak yang ada.(mdk/noe)


  ● Merdeka 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcANOoO3Gf4bR-C9aZcah9qr7NeZ5gSvuyzfWE8H0ZRiaA_L-gwvJvjkroAvJsArmiM44i0_IoqcIsncx35ClXGWNgABWXz3yjaqrVkIyoSwH5JxRC8DucQSB6MSOf1HU6_PFAAwpzqc8/s35/RI295.jpg

Minggu, 24 Februari 2013

Indonesia Segera Miliki Pusat Hati Pertama

Indonesia Segera Miliki Pusat Hati Pertama  Jakarta | Mengingat banyaknya kasus penyakit hati di Indonesia dan belum adanya penanganan terpadu, maka tercetuslah ide untuk membuat Pusat Hati Pertama. "Rencananya di bulan April, kami sudah buka center of liver," ujar Direktur Operasional Rumah Sakit Petramedika Sentul City, Kamelia Faisal yang ditemui di Hotel Indonesia, sabtu, 23 Februari 2013.Tapi operasional pusat layanan hati baru aktif total mulai September 2013.

Ide memiliki pusat layanan hati, Kamelia menjelaskan, adalah dengan melihat jumlah populasi penderita hati di Indonesia. Ia tidak bisa mengingat angka tepatnya, tapi berdasar data dari Kementerian Kesehatan penyaki ini menempati diderita 15 persen penduduk Indonesia. "Tiga persennya, hepatitis (B & C), tumor dan Sirosis (pengerasan) hati." Dari pengalaman Kamelia sendiri pun, di keluarganya ada dua orang yang menderita gangguan hati.

Sementara penderita terus bertambah, layanan terpadunya tidak ada. Kamalia menuturkan, penderita hati sering mendapatkan salah deteksi dari awal. Jadi mereka digiring ke dokter penyakit dalam (internis). Ketika ternyata dirawat tidak sembuh, baru ketahuan ada gangguan hati yang tentunya stadiumnya sudah bertambah buruk. Akibatnya perawatannya pun jadi lebih mahal dan berat.

Dengan adanya pusat layanan hati ini, diharapkan bisa deteksi dini sehingga bisa diselamatkan dari awal. Saat ini, di RS Pertamedika sudah tersedia 10 dokter yang khusus menangani di pusat layanan hati, para dokter itu pun secara bertahap akan mendapat pelatihan dengan pusat Hati dari Kobe Jepang. Pengampunya adalah Presiden Yayasan Kobe International Medical Alliance, Koichi Tanaka. "Saya juga menangani proyek serupa di Abu Dhabi dan Mesir," ujar dia dalam kesempatan yang sama.

"Selain dokter Indonesia yang dilatih di Jepang, nanti ada dokter Jepang yang secara berkala ke Indonesia," Ia menambahkan. Rumah Sakit di Sentul, Tanaka menguraikan, akan dibuat menjadi Rumah Sakit Rujukan Hati. Tapi untuk bisa melakukan transplantasi, kemungkinan dimulai pada awal 2015. Saat ini, tahapannya adalah masih mengembangkan kapasitas tempat tidur, sumber daya manusia dan fasilitas rumah sakit. "Sentul juga cocok untuk Rumah Sakit Hati, karena lingkungannya masih baik," ujar pria yang sudah mentransplantasi 2 ribu kasus ini.

Kamelia mengatakan, alasan Jepang dipilih adalah selain faktor budaya juga faktor jarak. "Lebih enak sesama Asia, lagipula mereka kemampuan tinggi dengan kasus hati yang juga banyak," ujar dia. Jepang juga dinilai memiliki penanganan kasus kanker yang bagus. Dengan segala rekam jejak dan tawaran yang ada, maka dibukalah kerjasama untuk pusat layanan hati pertama.


  ● Tempo  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcANOoO3Gf4bR-C9aZcah9qr7NeZ5gSvuyzfWE8H0ZRiaA_L-gwvJvjkroAvJsArmiM44i0_IoqcIsncx35ClXGWNgABWXz3yjaqrVkIyoSwH5JxRC8DucQSB6MSOf1HU6_PFAAwpzqc8/s35/RI295.jpg

Mapala UI Ke Puncak Trikora

 Mapala UI Buka Jalur Baru ke Puncak Trikora   

Mapala UI Buka Jalur Baru ke Puncak Trikora, Papua  
Ilustrasi
Jakarta | Di tengah euforia masyarakat awam mendaki gunung, jauh dari ingar-bingar pemberitaan, sebuah catatan manis dibuat Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI). Tepat pada 27 Januari 2013, tim Mapala UI berhasil menuntaskan ekspedisi Puncak Trikora, Papua. Mereka berhasil membuat jalur baru ke Puncak Trikora melalui jalur panjat (direct climbing).

Ekspedisi ke Puncak Trikora yang berketinggian 4.750 meter di atas permukaan laut itu dilakukan enam anggota Mapala UI. Mereka adalah Fandhi Achmad (Mapala senior), Agung Rudiarto (Fakultas Hukum angkatan 2010), M. Rinanda (Fakultas MIPA, 2010), Satrya Alfandi (Fakultas Kesehatan Masyarakat, 2010), Ridwan Hakim (Fakultas MIPA, 2010), dan Ina Diana (program ekstensi UI, 2011).

"Pendakian ke Puncak Trikora dengan cara panjat ini adalah yang pertama kali dilakukan orang. Sebelumnya, pendaki mencapai Puncak Trikora menggunakan jalur normal," kata Agi, sapaan Fandhi, yang bertindak sebagai ketua tim ekspedisi, Selasa, 12 Februari 2013, di Sekretariat Mapala UI, gedung Pusgiwa, Depok, Jawa Barat.

Dalam upaya mencapai Puncak Trikora, tim menggunakan teknik memanjat Himalaya. "Cara ini dilakukan dengan alasan lebih aman dan lebih menjamin keberhasilan," kata Agi, yang sudah dua kali ke Puncak Trikora dan enam kali ke Puncak Carstensz Pyramid.

Dalam teknik Himalaya, pemanjatan dilakukan secara bertahap, yang bisa memakan waktu beberapa hari. Begitu tim meraih ketinggian tertentu, mereka akan kembali ke kamp untuk istirahat dan dilanjutkan keesokan harinya. Ini berbeda dengan teknik Alpen, di mana pemanjat tidak kembali ke kamp, tapi menggantung di tali.

Ekspedisi yang dimulai pada Sabtu, 19 Januari 2013, ini akhirnya berbuah manis. Pada Minggu, 27 Januari 2013, sekitar pukul 13.30 waktu setempat, tim akhirnya sukses menuntaskan ekspedisi. Agi, Agung, dan Rinanda sampai ke pucuk Trikora dan kembali ke kamp lewat jalur normal. Sedangkan tiga lainnya bertugas sebagai tim cleansing yang membersihkan jalur pemanjatan dari tali-tali dan peralatan panjat lainnya. "Meskipun sempat dihantam badai salju berhari-hari, kami bersyukur tim ini berhasil menuntaskan tugasnya," kata Agi.

 Di Puncak Trikora, Mapala UI Dihantam Badai Es   

Di Puncak Trikora, Mapala UI Dihantam Badai Es
Puncak Jaya
Kuku-kuku jari kaki Satrya Alfandi menghitam. Mulai dari jempol hingga jari kelingking semuanya berwarna gelap. Seperti semacam darah yang membeku. Tapi bukan itu yang bikin anggota Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia (Mapala UI) ini pusing. "Rasanya nyeri sekali," kata Satrya pada Tempo, Selasa, 12 Februari 2013, di Sekretariat Mapala UI, Depok, Jawa Barat.

Tapi untunglah kondisi yang dialami mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat angkatan 2010 ini menunjukkan tanda-tanda perbaikan. "Untungnya bukan frosbite, baru gejala-gejalanya saja," kata Satrya, lalu merintih. Frostbite adalah membekunya sebagian organ tubuh yang terpapar oleh suhu dingin yang berlebihan.

Satrya terkena gejala tersebut saat dirinya berada di Puncak Trikora, Papua, pada Januari lalu. Dia adalah salah satu dari enam anggota Mapala UI yang tergabung dalam ekspedisi Mapala UI ke Puncak Trikora. Selain Satrya, tim ini terdiri dari Fandhi Achmad (Mapala senior), Agung Rudiarto (Fakultas Hukum angkatan 2010), M. Rinanda (Fakultas MIPA, 2010), Ridwan Hakim (Fakultas MIPA, 2010), dan Ina Diana (program ekstensi UI, 2011). Mereka berhasil mencapai puncak berketinggian 4.750 meter di atas permukaan laut itu dengan cara memanjat (direct climbing).

Suhu yang teramat dingin di ketinggian adalah penyebab utama frosbite. "Apalagi saat kami memanjat, sering terjadi hujan es," kata Satrya. Kalau saja dia sampai terkena frosbite, mau tak mau jari-jarinya harus diamputasi. "Bila tidak, saraf-saraf yang membusuk akan menyebar ke bagian tubuh lain. Dan itu lebih membahayakan," kata Fandhi, ketua tim ekspedisi.

Sebenarnya, hujan es di Puncak Trikora jarang terjadi. "Berbeda dengan Carstensz Pyramid, yang selalu diliputi salju, Puncak Trikora ini jarang diliputi es," kata Agi, sapaan Fandhi. Agi sudah pernah ke dua puncak tersebut sebelumnya. Dia enam kali ke Carstensz Pyramid dan dua kali ke Puncak Trikora. "Saat pertama kali ke Trikora dulu, saya enggak nemu es. Enggak tahu kenapa sekarang nemu," kata pria 30 tahun itu.

Upaya tim Mapala UI membuka jalur baru baru melalui panjat memang tidak mudah. Selain hujan es saat pemanjatan, beberapa kali mereka juga dihantam badai es. Puncaknya adalah Selasa dinihari, 26 Januari 2013, saat badai meluluhlantakkan kemah-kemah mereka. Namun, berbekal semangat pantang menyerah, mereka terus melanjutkan ekspedisi.

Ternyata, bukan cuma Satrya yang merasakan sakit khas pegunungan, Agi pun mendapatkannya. Tepat saat dia berhasil meraih Puncak Trikora keesokan harinya, pria 30 tahun ini mengalami snow blind alias buta salju. Ternyata dia lupa pakai kacamata. Tak pelak, angin yang bertiup kencang, yang mengandung salju, di puncak sana membuat matanya perih luar biasa. "Dibuka perih, ditutup perih, enggak bisa melihat apa-apa. Hampir seharian mata saya kedip-kedip," Agi menceritakan.

 Begini Persiapan Mapala UI Memanjat Puncak Trikora   

Begini Persiapan Mapala UI Memanjat Puncak Trikora
Ilustrasi
Melakukan ekspedisi ke Puncak Trikora, Papua, bukan perkara gampang. Selain sebagai puncak tertinggi kedua di Indonesia setelah Carstensz Pyramid, metode memanjat (direct climbing) yang dipilih tim ekspedisi Puncak Trikora Mapala UI sudah pasti harus dipersiapkan secara matang. Tak heran jika ekspedisi ini dipersiapkan berbulan-bulan.

Menurut ketua tim ekspedisi, Fandhi Ahmad, persiapan ke puncak berketinggian 4.750 meter di atas permukaan laut itu dilakukan sejak Oktober 2012. Di antara sejumlah persiapan lainnya, persiapan personel tim ekspedisi yang akan berangkat juga cukup penting. Kesiapan fisik dan kemampuan panjat tebing adalah syarat utama untuk bergabung dalam tim.

Pada tahap awal, anggota Mapala UI yang berlatih mencapai sekitar 20 orang. "Namun, karena pertimbangan anggaran dan kesiapan personel, akhirnya tim yang diberangkatkan enam orang," kata Agi, sapaan Fandhi, Selasa, 12 Februari 2013, di Sekretariat Mapala UI, gedung Pusgiwa, Depok, Jawa barat.

Selain Agi, tim ekspedisi terdiri dari Agung Rudiarto (Fakultas Hukum angkatan 2010), M. Rinanda (Fakultas MIPA, 2010), Ridwan Hakim (Fakultas MIPA, 2010), dan Ina Diana (program ekstensi UI, 2011). Persyaratan ketat dilalui keenam orang tersebut.

Latihan fisik dimulai dari menguji ketahanan (endurance) dan kekuatan (power). Dengan latihan yang terukur dan teratur, mereka jogging, pull up, sit up, dan latihan-latihan fisik lainnya. Salah satu parameter yang digunakan dalam penentuan personel tim adalah VO2 Max minimal. "Untuk laki-laki, VO2 Max minimalnya adalah 52, sementara untuk perempuan minimal 48," kata Agi.

VO2 Max merujuk kepada banyaknya jumlah oksigen selama eksersi (aktivitas fisik) maksimum. Semakin tinggi VO2 Max seseorang, semakin lama orang tersebut merasa kelelahan ketika beraktivitas.

Selain kesiapan fisik, kemampuan panjat tebing juga dipersiapkan. "Karena ekspedisi ini dilakukan dengan cara panjat, grade kemampuan panjat tim minimal 5.10," kata Agi. Grade ini mengukur kemampuan panjat seseorang pada tingkat kesukaran tebing.

Mereka pun berlatih pada sejumlah tebing di Jawa Barat. "Di antaranya tebing di Ciampea dan Citatah," Agung menambahkan.

Dengan persiapan-persiapan yang matang, mereka pun bertolak dari Jakarta ke Papua pada 19 Januari 2013. Tepat pada 27 Januari sekitar pukul 13.30 waktu setempat, mereka berhasil mencapai Puncak Trikora dengan memanjat. "Mencapai Puncak Trikora dengan memanjat ini adalah yang pertama dilakukan di dunia," kata Agi.


  ● Tempo  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcANOoO3Gf4bR-C9aZcah9qr7NeZ5gSvuyzfWE8H0ZRiaA_L-gwvJvjkroAvJsArmiM44i0_IoqcIsncx35ClXGWNgABWXz3yjaqrVkIyoSwH5JxRC8DucQSB6MSOf1HU6_PFAAwpzqc8/s35/RI295.jpg

Sabtu, 23 Februari 2013

Indonesia Kurang Pas untuk Listrik Tenaga Angin

Jakarta | DIREKTUR Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Rida Mulyana menilai, pengembangan pembangkit listrik tenaga angin di Tanah Air tak prospektif. Pasalnya, kondisi geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa membuat embusan angin berubah-ubah.

"Pembangkit listrik angin ini paling susah pengembangannya karena anginnya tidak konstan, tergantung tekanan dan panas sehingga sulit diprediksi," kata Rida, di Jakarta, Sabtu (23/2).

Namun demikian, pemerintah tetap menyusun aturan tarif untuk listrik bertenaga angin agar pengembangannya tetap menarik secara keekonomian. Besaran harga listrik dari pembangkit bertenaga angin belum selesai di susun Kementerian ESDM melalui Ditjen EBTKE.

Sejauh ini dibandingkan listrik bertenaga angin, imbuh Rida, pemerintah tetap condong mengembangkan listrik dari panas bumi. Pasalnya, sulit menentukan wilayah di Indonesia yang memiliki kapasitas angin memadai untuk mengoperasikan pembangkit listrik.

"Saya tetap prioritaskan pembangkit listrik tenaga panas bumi dulu. Karena sekali bangun dayanya bisa langsung besar, bisa puluhan dan ratusan megawatt," ujar Rida. ESDM menetapkan sistem harga khusus listrik panas bumi dari pengembang swasta ke PLN. Revisi tarif itu ada dalam Peraturan Menteri No 22 tahun 2012.


  ● Jurnas  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcANOoO3Gf4bR-C9aZcah9qr7NeZ5gSvuyzfWE8H0ZRiaA_L-gwvJvjkroAvJsArmiM44i0_IoqcIsncx35ClXGWNgABWXz3yjaqrVkIyoSwH5JxRC8DucQSB6MSOf1HU6_PFAAwpzqc8/s35/RI295.jpg

Telkom Ikut Tender 10 Negara

JAKARTA | PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) berencana lebih gencar mengembangkan sayap bisnisnya di luar negeri. Setelah berhasil masuk ke beberapa negara, Telkom berkomitmen akan mengikuti tender pengelolaan telekomunikasi di 10 negara tahun ini, antara lain Myanmar, Taiwan, Korea Selatan, Saudi Arabia, Macau dan lima lainnya masih dirahasiakan.

"Sekarang kita lagi mau fokus pada proses seleksi pengelola jaringan internet (broadband) di Myanmar yang masih berlangsung sampai saat ini. Prosesnya masih berjalan, tanggal 8 Februari lalu kita sudah mengembalikan formulir Expression of Interest (EoI) dari panitia seleksi tender di Myanmar," ujar Direktur Enterprise And Wholesale Telkom, Muhammad Awaluddin, Jumat (22/2).

Selain Myanmar, empat negara lain yang menjadi incaran Telkom adalah Taiwan, Korea Selatan, Saudi Arabia, dan Macau. Bukan hanya itu, Telkom juga akan masuk ke lima negara lain yang masih dirahasiakan karena masih dalam tahap kajian. Namun dia yakin semuanya bisa berjalan lancar, "Target tahun ini 10 negara, ini sebagai bagian dari program perseroan," tuturnya.

Dia mengaku belum bisa memastikan Telkom bakal menjadi pemenang tender di Myanmar. Tahapan selanjutnya masih terus dipantau karena negara yang dikuasai junta militer itu belum mengumumkan proses lelang berikutnya. Namun pihaknya berharap bisa lolos ke tahap selanjutnya, "Proses (Myanmar) sama seperti lelang kanal broadband yang ada di Tanah Air," katanya

Dia mengaku persaingan dalam tender di Myanmar cukup ketat karena pesertanya perusahaan-perusahaan kelas atas. Selain Telkom, empat perusahaan telekomunikasi multinasional dari beberapa negara ikut andil dalam pelelanggan jaringan internet tersebut. Saingan terberat Telkom dalam seleksi di Myanmar adalah Singapore Telecom (Singtel), "Yang saya inget Singtel ikut juga, itu sepertinya saingan terberat," tukasnya

Namun begitu, Telkom menilai selama proses tender dilakukan secara fair, maka peluang untuk menjadi pemenang cukup besar. Pasalnya Telkom memiliki rekam jejak bagus di industri seluler, terutama melalui anak perusahaan Telkomsel yang handal mengelola ratusan ribu pelanggan seluler, "Kita punya Telkomsel yang terbukti bisa meng-handle ratusan ribu pelanggan," sebutnya

Telkom juga menyerahkan portofolio lain dalam proses pelelangan tersebut seperti ekspansi bisnis hingga ke luar negeri, antara lain di Timor Leste, Malaysia, Singapura, Australia, dan Hong Kong, "Di Timor Leste, PT Telkom menjadi operator mulai Maret mendatang, Hong Kong untuk Mobile Virtual Network Operator (MVNO), dan Australia untuk Contact Center. Sedangkan di Singapura sebagai Business Solution, Malaysia untuk data centre," jelasnya.(wir)


  ● JPNN   
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzuKXZz7DA9Y-b0_1ZIg4l1-Si_QQOgNYEZH6g1x2uUjLSYPRt8WhqPUehlrD35o36iIFpujKTIMiMwqRlUzHCfKT-a87fzfu77qvEv_EILRZACrgrNglyzx3QGI1aLE9B5cVrP9SoNdw/s35/cinta-indonesia.jpg

Mahasiswa UGM Menang Kompetisi Energi Terbarukan

Mahasiswa UGM Menang Kompetisi Energi TerbarukanYogyakarta | Tim Avante, gabungan enam mahasiswa Jurusan Jurusan Teknik Fisika, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada memenangi kompetisi pemanfaatan teknologi energi terbarukan yang digelar Perusahaan Minyak asal Prancis, Total.

Dalam kompetisi yang mengadu konsep pemanfaatan teknologi energi terbarukan bagi kawasan terpencil itu, tim UGM meraih juara pertama untuk kategori 'Sky Grant' yang berupa konsep aplikasi energi sel surya di kepulauan Karimun Jawa. "Hadiahnya berupa hibah untuk pembiayaan proyek di Karimun Jawa sebanyak 5000 euro," kata Rifki Dwi Prabowo, koordinator tim itu di kampusnya pada Jumat, 22 Februari 2013.

Menurut Rifki, kompetisi yang penentuan pemenangnya pada pertengahan Februari 2013 lalu itu diikuti tim mahasiswa dari berbagai negara Asia, Afrika dan Eropa. "Dari Asia hanya UGM dan tim mahasiswa India," ujar dia.

Kompetisi ini, kata dia memiliki tiga kategori yakni, aplikasi teknologi energi terbarukan berbasis potensi langit, tanah, laut. Kategori terakhir, pengembangan isu ini di berbagai sektor bisnis, kemanusiaan, seni dan olah raga. Untuk kategori Sky Grant, dua tim dari Asia, UGM dan tim dari India masing-masing sama-sama meraih juara pertama. "Untuk kategori pemanfaatan solar cell ini, juara kedua dari Afrika. Tapi, di kategori lain, semua juara dari Eropa," ujar Rifki.

Konsep pemanfaatan energi matahari bagi komunitas terpencil yang ditawarkan tim Avante sebenarnya merupakan pengalaman mereka saat mengerjakan hal serupa di kawasan Panggang, Gunungkidul. "Intinya memakai teknologi sel surya untuk penggerak mesin penyedot air di kawasan terpencil," ujar mahasiswa angkatan 2009 ini.

Anastsya Putri, anggota tim ini, menjelaskan konsep yang pemanfaatan energi sel surya yang akan di terapkan di Kepulauan Karimu Jawa memakai model pembinaan warga. Kata dia ini berbeda dengan proyek sel surya di Karimu Jawa selama ini, yang tidak memberikan pemahaman pada warga di sekitar lokasi perangkat sel surya, tentang cara memperbaiki perangkat pembangkit listrik jika mengalami kerusakan.

Rencananya, kata Putri, timnya akan mulai bekerja mengaplikasikan konsep tadi di Karimun Jawa pada Juni 2013. Periode ini dipilih karena bersamaan dengan pelaksanaan program KKN sehingga tenaga sosialisasi ke warga bisa lebih banyak.

Skema yang akan dikerjakan timnya, kata Putri, ialah membangun perangkat pembangkit listrik tenaga surya di satu-satunya puskesmas yang dimiliki kawasan Karimun Jawa. Lalu, energinya akan dipakai untuk penggerak pompa air khusus yang memenuhi kebutuhan air puskesmas. "Mesin pompa kami pilih yang summersible agar bisa aktif dengan daya seminimal mungkin yang dihasilkan sel surya," ujar dia.

Panel surya berkekuatan 50 watt peak akan dipasang sebanyak enam unit. Perangkat ini dilengkapi dengan alat maximum power point trakker untuk penguat daya dan memiliki sensor cahaya. "Jadi kalau ada sinar, pompa aktif untuk memenuhi dua tangki air di Puskesmas," kata Putri.

Meski sederhana, kata Putri, proyek ini akan memulai mendorong warga Karimun Jawa menngetahui cara memenuhi kebutuhan suplai energi listrik dari sel surya. Selama ini, warga Karimun lebih banyak bergantung pada suplai listrik tenaga diesel yang bisa menghabiskan 900 liter solar untuk kebutuhan energi seluruh kawasan itu.

Sementara, bantuan panel surya dari pemerintah ke penduduk kepulauan indah ini selalu hanya bertahan satu tahun saja. "Kalau rusak mereka tak tahu cara memperbaikinya, makanya penting membuat mereka paham sistem kerja sel surya," ujar dia.


  ● Tempo  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzuKXZz7DA9Y-b0_1ZIg4l1-Si_QQOgNYEZH6g1x2uUjLSYPRt8WhqPUehlrD35o36iIFpujKTIMiMwqRlUzHCfKT-a87fzfu77qvEv_EILRZACrgrNglyzx3QGI1aLE9B5cVrP9SoNdw/s35/cinta-indonesia.jpg

Bahan Bakar Hidrogen Mudah dan Murah Dibuat

Bahan Bakar Hidrogen Mudah dan Murah DibuatJakarta | Hidrogen adalah unsur yang paling berlimpah di Bumi dan berpotensi menjadi bahan bakar yang bisa merevolusi pasar energi. Soalnya, hidrogen tidak menghasilkan emisi. Sayangnya, hidrogen berbentuk gas ringan dan kerap naik ke atmosfer. Artinya, jarang yang ditemukan dalam bentuk murni karena membuatnya akan menghasilkan emisi.

Erik Koepf, seorang mahasiswa postdoctoral teknik mesin di Universitas Delaware telah menemukan cara membuat bahan bakar hidrogen murah. Ia menggunakan sinar matahari, seng oksida dan air.

Erik Koepf membangun sebuah perangkat yang memiliki cermin dan ruang yang menahan seng oksida. Cermin berkonsentrasi dengan sinar matahari untuk memenuhi ruangan yang menahan seng oksida tadi. Lampu terkonsentrasi begitu kuat sehingga menghasilkan suhu sampai 3500 derajat Fahrenheit. Ketika panas terjadi, oksida seng akan memisahkan diri menjadi seng dan oksigen. Seng tersebut akan menjadi uap.

Dalam fasilitas yang lebih besar, uap seng akan ditambahkan ke dalam air. Mereka akan bereaksi dan berubah menjadi oksida seng lagi dengan melepas hidrogen. Perangkat Koepf tidak melakukan proses yang kedua ini yang sebetulnya sangat mudah. "Proses pertama sangat menantang karena memerlukan suhu yang sangat tinggi," kata Ajay Prasad, profesor teknik mesin di Universitas Delaware dan penasehat penelitian Koepf.

Produk outputnya adalah seng oksida, bahan yang sama seperti saat reaksi pertama dimulai. Maka dapat digunakan berulang-ulang. Limbah yang dihasilkan hanyalah oksigen. Sumber daya sinar matahari dapat menggantikan sejumlah besar listrik untuk menghasilkan reaksi hidrogen, seperti pada proses mengelektrolisis air.

Perangkat Koepf sedang diuji di Institut Federal Swiss. Sejauh ini jumlah hidrogen dan seng yang telah diproduksi sangatlah kecil. Ruang reaksi Koepf dirancang hanya untuk melakukan proses pertama hingga membuat uap seng. Tahap berikutnya akan disiapkan rekasi air dan seng untuk lebih efisien memproduksi hidrogen.

Koepf juga akan menguji sebuah reflektor yang dirancang untuk fokus terhadap sinar matahari. Awalnya ia menggunakan cermin tetapi tes uji berikutnya ia akan menggunakan desain versi water-cooled untuk mencapai suhu yang diperlukan dalam reaksi itu.


  ● Tempo  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzuKXZz7DA9Y-b0_1ZIg4l1-Si_QQOgNYEZH6g1x2uUjLSYPRt8WhqPUehlrD35o36iIFpujKTIMiMwqRlUzHCfKT-a87fzfu77qvEv_EILRZACrgrNglyzx3QGI1aLE9B5cVrP9SoNdw/s35/cinta-indonesia.jpg

Sekilas Mengenai Freeport (2)

 Bikin sewot masyarakat adat  

Konflik antara PT Freeport Indonesia dengan masyarakat adat setempat meletup tujuh tahun setelah penambangan dimulai. Masyarakat empat wilayah adat Suku Amungme (Waa/Banti, Tsinga, Arwanop dan Kwamki), Lemasa, Lemasko, merasa terganggu karena lahan ulayat mereka digarap oleh perusahaan asal Amerika Serikat itu.

Pada 1974, akhirnya warga empat wilayah adat itu menuntut ganti rugi atas pembabatan hutan di atas lahan ulayat mereka. Di tahun sama, dibuatlah perjanjian disebut January Agreement 1974. Sayang, sejak perjanjian dibuat hingga 2000-an, konflik rupanya belum reda. Gangguan keamanan masih terjadi.

Ketua Ketua Komite Penyelamat Kekayaan Negara Marwan Batubara dalam buku berjudul Menggugat Pengelolaan Sumber Daya Alam Menuju Negara Berdaulat menyebut pada Februari 1978 terjadi penembakan terhadap seorang polisi. "Insiden ini disebabkan tak dipenuhinya seluruh janji Freeport tertuang dalam January Agreement."

Berikutnya pada Agustus 2002, terjadi penyerangan terhadap sejumlah karyawan pertambangan Freeport di Timika, Tembagapura, di jalur Mil 62-63. Peristiwa ini menewaskan dua warga Amerika, Ted Bargon dan Ricky Saipar, serta satu warga Indonesia bernama S.S. Bambang Riwanto.

Tahun itu juga Freeport akhirnya berunding dengan warga empat wilayah adat ditengahi oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Warga tetap menuntut ganti rugi atas pembukaan hutan di atas lahan ulayat. Konflik antara warga dan Freeport hingga kini belum selesai.

Ketua Koordinasi Nasional Papua Solidarity (NAPAS) Martaen Goo, beberapa waktu lalu mengatakan akar konflik Papua adalah kehadiran PT Freeport. Aparat keamanan diduga memanfaatkan Freeport untuk menarik uang keamanan, sedangkan warga Papua tidak mendapat kesejahteraan apa-apa. "Freeport juga membuat tanah Papua kotor. Alam rusak," kata dia.

Hubungan antara Freeport dengan pemerintah Indonesia juga meriang. Pemerintah menuntut renegosiasi kontrak karya penambangan. Namun Freeport McMoran sempat menolak renegosiasi. Bahkan mereka sempat mengancam membawa kasus ini ke Pengadilan Arbitrase Internasional.

Belakangan, perusahaan tambang terbesar di dunia itu melunak. Freeport mengaku siap melakukan renegosiasi dengan pemerintah. Namun mereka masih mencari formula cocok agar tercipta kesepakatan yang baik. "Perusahaan juga memahami itu dan mendukung," kata Direktur Utama Freeport Rozik Soetjipto.

Komisaris Independen PT Freeport Indonesia Marzuki Darusman mengatakan renegosiasi berjalan baik. Freeport juga masih mempelajari tuntutan pemerintah soal royalti sepuluh persen. "Pajak badan yang diwajibkan, ini semua dalam proses perundingan. Angka beredar harus dirundingkan, enggak ada target spesifik."

Menurut Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Rudi Rubiandini, besaran itu berdasarkan permintaan Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa. Dia mengakui angka itu terlalu tinggi. "Namanya juga usaha. tawar menawar. Tetapi tidak hanya untuk Freeport, ini berlaku buat semua," ujarnya.(mdk/fas)

 Talak buat Freeport congkak  

Sejak 1967 hingga kini PT Freeport Indonesia (PTFI) masih menggangsir bumi Papua, menambang emas, perak, dan tembaga. Selama hampir setengah abad itu telah muncul pelbagai masalah, terutama menyangkut jatah penerimaan negara karena kurang optimal. Masalah lain ihwal minimnya peran negara, terutama Badan Usaha Milik Negara, untuk ikut mengelola tambang dikuasai Freeport McMoran di daerah Mimika, Papua, itu.

Rupa-rupa persoalan itu mengakibatkan desakan terhadap pemerintah melakukan renegosiasi kontrak karya agar lebih menguntungkan negara dan rakyat Papua. Menurut Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (Iress) Marwan Batubara, Freeport merasa dirinya digdaya karena di bawah bendera Amerika Serikat. "Karena merasa adidaya tidak mau mengubah kontrak," kata Marwan ketika dihubungi merdeka.com lewat telepon seluler, Kamis pekan lalu.

Dia menjelaskan setelah Freeport McMoran menikmati keuntungan besar, mereka seperti emoh membagi keuntungan lebih banyak dengan pemerintah. Kontrak karya itu pertama kali ditandatangani pada 1967 berdasarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pertambangan. Berikutnya pada 1991 kontrak karya kedua kembali diteken dan berlaku 30 tahun mendatang, dengan opsi perpanjangan dua kali, masing-masing 10 tahun.

Pemerintah meminta renegosiasi kontrak karya itu. Sebab beleid baru tentang pertambangan sudah lahir, yakni Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 tentan Minerba. Namun Freeport tidak mau mengubah kontrak sesuai akta itu. "Mereka mengancam bakal memperkarakan ke pengadilan arbitrase internasional. Jadi persoalannya lebih pada arogansi kekuasaan. Di sisi lain, pemimpin kita pengecut," Marwan menegaskan.

Padahal dampak penambangan terhadap lingkungan juga signifikan. Misal, rusaknya bentang alam pegunungan Grasberg dan Erstberg. Kerusakan lingkungan akibat pertambangan telah mengubah bentang alam seluas 166 kilometer persegi di daerah aliran sungai Ajkwa. Freeport telah membuang tailing dengan kategori limbah B3 (Bahan Beracun Berbahaya) melalui sungai itu. Limbah ini telah mencapai pesisir laut Arafura.

Marwan pernah melaporkan kerusakan lingkungan ini semasa dia menjabat Ketua Komite Penyelamat Kekayaan Negara. Laporan itu dibukukan dan diberi judul Menggugat Pengelolaan Sumber Daya Alam Menuju Negara Berdaulat. Menurut dia, Freeport mengelola tambang terbesar di dunia di berbagai negara, didalamnya termasuk 50 persen cadangan emas di kepulauan Indonesia.

Namun, dari hasil eksploitasi itu, hanya sebagian kecil pendapatan masuk ke kas negara dibanding keuntungan diperoleh perusahaan. Kehadiran Freeport pun tidak mampu menyejahterakan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan. Apalagi sejak 1967 hingga 1994 Freeport hanya melapor sebagai penambang tembaga. Baru pada 1995 mereka mengaku menambang emas di Papua.

Celakanya, volume emas ditambang selama 21 tahun itu tidak pernah diketahui publik, bahkan oleh orang Papua sendiri. Panitia kerja Freeport dan beberapa anggota DPR Komisi VII bidang Pertambangan sempat mencurigai telah terjadi manipulasi dana atas potensi produksi emas Freeport. Dewan curiga jumlah emas diperkirakan 2,16-2,5 miliar ton.

DPR juga tidak percaya data kandungan konsentrat diinformasikan sepihak oleh Freeport. Dewan berkesimpulan negara telah dirugikan lebih dari 30 tahun akibat tidak adanya pengawasan serius. Lalu bagaimana sekarang? "Pemerintah didukung DPR mestinya punya sikap tegas, berani memberikan sanksi. Misalnya, kalau Freport tidak mau renegosiasi, sanksinya mohon maaf, anda (Freeport) silakan pergi dulu."

Dampak sanksi pengusiran terhadap Freeport pasti akan besar. Misalnya, akan ada ratusan bahkan ribuan orang kehilangan pekerjaan, kemudian pendapatan negara berkurang. Tetapi tidak apa-apa kalau memang negara mau berdaulat. Sebagai pilihan terakhir, sanksi tegas memang harus diberikan. Namun sebelum memberikan sanksi pemerintah harus membuat langkah antisipatif lebih dulu.

"Sebelum sanksi pengusiran, masih ada negosiasi intensif. Masalahnya sekarang yang didorong hanya dirjen, kenapa tidak menteri atau presiden. Soalnya Freeport ini Amerika, butuh presiden langsung bernegosiasi, kita butuh pemimpin tegas," kata Marwan, yang juga mantan Anggota DPR periode 2004-2009.(mdk/fas)


  ● Merdeka  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzuKXZz7DA9Y-b0_1ZIg4l1-Si_QQOgNYEZH6g1x2uUjLSYPRt8WhqPUehlrD35o36iIFpujKTIMiMwqRlUzHCfKT-a87fzfu77qvEv_EILRZACrgrNglyzx3QGI1aLE9B5cVrP9SoNdw/s35/cinta-indonesia.jpg

Jumat, 22 Februari 2013

Dari Pulau Buatan, Jakarta Punya Pelabuhan Baru

Jakarta | Pemerintah Provisi DKI Jakarta akan membangun pelabuhan New Tanjung Priok di 17 pulau reklamasi. Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama mengatakan pelabuhan tersebut akan lebih besar dibanding pelabuhan yang sekarang. Ditemui di Balai Kota Jakarta, Kamis, 21 Februari 2013, pria yang kerap disapa Ahok ini menuturkan, biaya pembangunan akan dibebankan kepada pihak kontraktor.

Diprediksi, tiga pulau reklamasi akan digunakan sebagai kawasan ekonomi khusus, salah satunya megaproyek New Tanjung Priok ini. Lahan seluas 1.500 hektare akan disinergikan agar Ibu Kota memiliki manajemen logistik yang baik. "Kami akan reklamasi tiga pulau untuk kawasan ekonomi khusus," kata mantan Bupati Belitung Timur ini menjelaskan.

Ihwal perizinan dan proses kerja sama pembangunan pelabuhan tersebut, Ahok--sapaan basuki--tengah menunggu konsep dari PT Pelindo minggu depan. "Kami akan coba lihat seperti apa kerja samanya," kata Basuki.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Pelindo II R.J. Lino mengatakan pihaknya ingin mensinergikan kawasan industri dan logistik dengan pulau-pulau reklamasi.

Menurut Lino, terminal yang sekarang ada akan penuh pada 2022. "Sembilan tahun dari sekarang, kalau tidak ada persiapan, mau kemana lagi?" ujarnya di Balai Kota. Ia mengatakan, dalam tiga tahun terakhir, peningkatan angka penumpang naik sekitar 25 persen.

Lino mengatakan, Tanjung Priok sangat vital untuk Indonesia. Sekitar 65-70 persen proses ekspor dan impor di Indonesia melewati pelabuhan tersebut. Dia senang karena pemerintah DKI mengapresiasi upaya pengadaan New Tanjung Priok.


  ● Tempo  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgcANOoO3Gf4bR-C9aZcah9qr7NeZ5gSvuyzfWE8H0ZRiaA_L-gwvJvjkroAvJsArmiM44i0_IoqcIsncx35ClXGWNgABWXz3yjaqrVkIyoSwH5JxRC8DucQSB6MSOf1HU6_PFAAwpzqc8/s35/RI295.jpg

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More