blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Minggu, 07 Maret 2021

Kemenhan Tunjuk PT Len Industri sebagai Pemimpin DEFEND ID

Bentuk Holding BUMN Pertahanan [BUMN] ★

Indonesia merupakan salah satu negara yang berada di garis khatulistiwa.

Sebagai negara yang berada di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam (SDA) yang sangat melimpah.

Selain itu, Indonesia juga adalah negara terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Sebagai negara yang memiliki kekayaan SDA yang berlimpah sekaligus sebagai negara terbesar di kawasan Asia Tenggara, Indonesia dituntut untuk memiliki sistem pertahanan yang baik.

Hal ini lantaran untuk mencegah negara lain mencuri kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia.

Namun, saat ini sejumlah sistem pertahanan di Tanah Air masih bergantung dari luar negeri.

Pemerintah pun mulai mencanangkan program kemandirian sistem pertahanan, salah satunya dengan pembentukan holding BUMN Pertahanan.

Terbaru, Pemerintah mengungkapkan bahwa pembentukan holding BUMN Pertahanan akan menciptakan kemandirian alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Wakil Menteri Pertahanan Muhammad Herindra mengatakan pemerintah memerlukan keteguhan visi dan misi industri pertahanan untuk menghadapi tantangan kontemporer.

Pemerintah, menurutnya telah menyiapkan payung hukum sebagai landasan perkembangan industri pertahanan untuk mencapai kemandirian.

Selain itu juga Kementerian Pertahanan, Bappenas dan Kementerian Keuangan telah meningkatkan anggaran belanja alutsista melalui skema pembiayaan pinjaman dalam dan luar negeri.

"Dengan harapan transformasi spending to investment akan tercapai lebih cepat," kata Herindra saat memimpin rapat kerja seperti dikutip oleh Pikiran-Rakyat.com dari Anadolu Agency.

Rencana pembentukan holding BUMN industri pertahanan telah digulirkan sejak 2020 lalu.

Setidaknya, terdapat lima BUMN yang akan digabung yakni PT Dirgantara Indonesia, PT Len Industri, PT Pindad, PT PAL dan PT Dahana.

Holding BUMN ini akan dinamakan DEFEND ID dan PT LEN ditunjuk sebagai pemimpin.

Adapun Grand Design dari pembentukan Holding BUMN ini untuk masuk dalam 50 besar Industri Pertahanan dunia.

Rapat kerja itu juga membahas mengenai masterplan BUMN Industri Pertahanan, roadmap pembentukan holding, dan model operasi setelah holding terbentuk.​​​​​​***

  ★ Pikiran Rakyat  

Kamis, 04 Maret 2021

LPEI Biayai Ekspor Pesawat PTDI

Untuk memasok kebutuhan industri pesawat terbangCN235 MPA Senegal [PTDI] ☆

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) memberikan pembiayaan kepada PT Dirgantara Indonesia (PTDI) untuk ekspor pesawat CN-235 ke Nepal dan Senegal, kawasan Asia Selatan dan Afrika senilai Rp 354 miliar.

Pembiayaan kepada PT Dirgantara Indonesia (PTDI) itu dilakukan dengan skema Penugasan Khusus Ekspor (PKE) dari pemerintah, sebagai bentuk komitmen mendukung peningkatan ekspor produk unggulan.

Bagi PTDI, ekspor ke Senegal ini merupakan yang ke-dua setelah ke Nepal pada 2019.

Sekretaris Lembaga LPEI Agus Windiarto menyampaikan, dukungan LPEI tersebut penting untuk meningkatkan nilai ekspor, baik dari sisi volume maupun tujuan.

Perluasan pasar ekspor ke negara-negara non-tradisional, seperti Afrika dan Asia Selatan sangat terbuka.

Namun kawasan-kawasan tertentu memiliki risiko yang sering dihindari, baik oleh pelaku industri maupun perbankan nasional.

Pemerintah memastikan akan menyediakan semua fasilitas untuk menembus pasar tersebut.

“Peran Pemerintah melalui LPEI untuk memberikan pembiayaan ekspor khususnya ke negara non-tradisional dapat menstimulus industri strategis dalam melakukan perdagangan (ekspor) ke negara-negara tersebut,” ucap Agus Windiarto, dalam acara Ferry Flight Pesawat CN 235 PT Dirgantara Indonesia ke Senegal, beberapa waktu lalu.

Sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan, LPEI terbukti mampu menjembatani PTDI sebagai salah satu industri strategis nasional untuk menembus pasar non tradisional.

Perluasan pasar itu diyakini bisa berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Ekspor pesawat terbang ke Senegal memiliki nilai strategis bagi industri nasional karena supply record-export order dan kepuasan pelanggan luar negeri menjadi salah satu syarat utama dalam evaluasi pada tender-tender internasional.

Proyek ini merupakan salah satu langkah strategis untuk memasuki pasar negara Asia Selatan dan Kawasan Afrika.

Manfaat pembiayaan LPEI kepada PTDI turut memengaruhi puluhan industri dalam negeri yang memasok kebutuhan industri pesawat terbang, antara lain bidang usaha machining for landing gear, tube forming, polyurethane, heat treatment, thermo forming of acrylic, tool and jig dan puluhan industri lainnya.
 

  ☠
JPNN  

Sabtu, 27 Februari 2021

Dosen ITB Kembangkan Mesin Turbojet untuk Rudal

Rintis Mesin Misil Turbojet Sebagai Langkah Kemandirian Teknologi MiliterMesin Turbojet 500 N karya Dr Firman Hartono [JawaPos, ITB] ✪

Perkembangan teknologi bidang militer di Indonesia saat ini belum setara dengan negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Rusia. Namun bukan berarti Indonesia tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan peralatan untuk keperluan militer atau alat tempur sendiri. Penelitian yang dilakukan Dr. Firman Hartono, S.T, M.T., salah satu dosen Teknik Penerbangan Institut Teknologi Bandung, telah membuktikan bahwa Indonesia juga mampu mengembangkan teknologi di bidang kemiliteran, yaitu teknologi mesin turbojet untuk misil jenis cruise.

Berbeda dengan misil balistik yang langsung diluncurkan dengan proyektil parabola dan jarak yang terbatas, misil jenis cruise adalah misil yang mampu terbang dengan jarak tempuh yang cukup jauh untuk mengejar target dan dengan ketinggian hanya kurang lebih dua puluh meter di atas permukaan laut. Kemampuan ini membuat misil jenis cruise mampu menghindar dari radar dan menjadikannya sebagai misil yang efektif. Misil ini terdiri atas bagian navigasi yang terkomputerisasi, bagian bahan bakar, dan bagian mesin penggerak misil. Mesin yang menggerakkan misil tersebut adalah mesin turbojet.

Mesin turbojet yang dikembangkan Dr. Firman Hartono dinamai Mesin Turbojet 500 N. Mesin ini merupakan hasil kerjasama dengan rekan-rekan lain di berbagai bidang, seperti: aerodinamika, termodinamika, perpindahan panas, teknik produksi, dan material. Kerjasama ini dilakukan karena mesin turbojet misil adalah aplikasi dari banyak fokus keilmuan. Dr. Firman Hartono juga menjelaskan bahwa alasan beliau memilih untuk melakukan penelitian terhadap mesin misil turbojet adalah karena kriteria pembuatan misil sendiri tergolong relatif tidak berat. "Pengoperasian mesin misil yang biasanya hanya selama satu hingga dua jam membuat material dasar mesin mudah dicari di dalam negeri tanpa perlu impor dari luar. Kebetulan di Indonesia juga belum dikembangkan," ujar Dr. Firman Hartono.

Layaknya semua perjalanan yang sukses, penelitian ini juga menghadapi kendala dalam keberjalannya. Riset dan pembuatan mesin membutuhkan waktu yang cukup lama sedangkan pembiayaan riset dari pemerintah terbatasi oleh waktu. Bergantinya periode pemerintahan membuat birokrasi-birokrasi baru dalam pendanaan riset menjadi sedikit berbeda dan lebih sulit.

Selain bekerjasama dengan berbagai bidang lain, penelitian mesin turbojet ini juga bekerjasama dengan Kementrian Pertahanan dan Keamanan (KEMHAN) dalam hal pendanaan. Sayangnya KEMHAN baru bisa mengusahakan bantuan dana internal untuk riset ini pada tahun 2016. Akan tetapi, kendala ini tidak serta merta membuat riset terhenti.

Dr. Firman menjelaskan bahwa masih ada komponen-komponen lain dari mesin turbojet tersebut yang bisa dijadikan bahan penelitian dan dikaji lebih dalam terlebih dahulu seperti efisiensi bahan bakar atau kompresor mesin. "Kalau pendanaan lagi macet seperti ini kita melakukan penelitian berbasis perhitungan dan komputasi, soalnya tidak perlu biaya besar," tambah beliau.

Mesin turbojet 500 N yang dikembangkan Dr. Firman Hartono ini sebenarnya adalah mesin turbojet yang sederhana. Namun dengan modifikasi dan riset-riset lanjutan, akan terus dilakukan perbaikan-perbaikan pada mesin turbojet tersebut. Pembuatan mesin turbojet yang berkualitas dengan biaya produksi yang rendah menjadi tantangan tersendiri di masa yang akan datang. Dari mesin turbojet misil ini, diharapkan dapat lahir karya cipta teknologi lain yang lebih besar dari anak bangsa. "Kita harus memakai produk anak bangsa, yang dimulai dari keinginan untuk menciptakan karya dalam negeri seperti ini," tutup Dr. Firman Hartono.

  ➶ ITB  

Kamis, 25 Februari 2021

Pengujian Rudal RN01-SS di Terowongan Angin Subsonik

➶ Melalui program reverse engineering Reverse Engineering sistem rudal merupakan kerjasama Kemhan

Dalam rangka meningkatkan kemampuan pertahanan negara, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan (Kemhan) melaksanakan pengembangan Industri dan teknologi pertahanan guna mendorong dan memajukan pertumbuhan Industri Pertahanan. Salah satu metode yang digunakan adalah melalui program reverse engineering/merekayasa balik beberapa alutsista yang telah kita gunakan dalam rangka mengejar kemandirian nasional khususnya dibidang pertahanan.

Untuk itu KKIP sebagai “perpanjangan tangan” pemerintah untuk mengoordinasikan kebijakan nasional dalam perencanaan, perumusan, pelaksanaan, pengendalian, sinkronisasi, dan evaluasi industri pertahanan, telah menyusun 7 program prioritas industri pertahanan diantaranya roket, propelan, medium tank, kapal selam, pesawat tempur, rudal dan radar. Namun, karena berbagai kendala dua program terakhir harus kita akui progres perkembangannya agak terlambat dibandingkan dengan 5 program lainnya.

Pengujian rudal RN01-SS di terowongan angin subsonik.

Mengutip dari postingan facebook Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (Keris), Kamis (18/02/2021), mengunggah dokumentasi terkait pengujian model rudal (lebih tepatnya calon) RN01–SS di Terowongan Angin Subsonik Pustekbang Lapan. Terkait rudal RN01-SS merupakan peluru kendali yang dapat digunakan untuk melibas target di darat dan perairan yang diinisiasi oleh Kementerian Pertahanan dan konsorsium beberapa perusahaan yang bergerak dibidang pertahanan.

Secara sekilas desain dari rudal RN-001 sangat familiar mengingatkan kita pada rudal anti kapal buatan China (C-705) yang telah digunakan oleh TNI Angkatan Laut dibeberapa KRI. Penulis sendiri kurang mengetahui terkait kemiripan design keduanya, apakah ini merupakan bagian dari ToT (Transfer of Technology) rudal tersebut yang beberapa tahun sebelumnya sempat heboh ditanah air atau murni peneliti/engineer kita yang mengambil “inspirasi” dari rudal China tersebut.

Sebelumnya, pada bulan Februari 2020 Kemhan yang diwakili oleh Dirjen Pothan dan Konsorsium Industri Pertahanan yang diwakili oleh PT Dirgantara Indonesia sebagai Lead Integrator telah bersama-sama menandatangani kontrak Program Reverse Engineering Sistem Rudal TA. 2020.

Adapun konsorsium Industri Pertahanan yang terlibat dalam proyek rudal ini meliputi, PT. Dirgantara Indonesia (Persero), PT. Pindad (Persero), PT. Dahana (Persero), PT. Len Industri (Persero), dan PT. TRESS.

Walaupun saat ini kita sedang dilanda pandemi yang diakibatkan oleh Covid-19, semoga tidak menjadi penghalang untuk merealisasikan program tersebut. Mari kita tunggu bersama!

  ➶ Nusantara Defence  

Senin, 22 Februari 2021

Pesawat N219 Diproduksi Mulai Tahun Ini

🛩  Penuhi pesanan pemprov Aceh N219 [PTDI]

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin mengatakan PT Dirgantara Indonesia (DI) siap memproduksi pesawat N219 Nurtanio mulai 2021.

"Pesawat N219 yang sudah mendapat Type Certificate siap diproduksi oleh PT DI. Tahun ini mulai memenuhi pesanan Pemerintah Provinsi Aceh," kata Thomas saat dihubungi ANTARA, Jakarta, Sabtu 20 Februari 2021. Pemerintah Aceh memesan lima pesawat N219.

Pesawat yang diberi nama Nurtanio oleh Presiden RI Joko Widodo pada 10 November 2017 itu merupakan pesawat karya anak bangsa hasil kerja sama antara Lapan dan PT DI.

Pesawat N219 dapat difungsikan untuk mengangkut penumpang sipil, angkutan militer, angkutan barang atau kargo, evakuasi medis, hingga bantuan saat bencana alam. Pesawat N219 mendapatkan Type Certificate untuk kelaikan udara setelah melakukan penerbangan selama 340 jam.

Pesawat N219 bisa terbang dengan kecepatan maksimum 210 knot, dan kecepatan terendah hingga 59 knot. Dengan kemampuan itu, Pesawat N219 dapat bergerak dengan fleksibel saat melalui wilayah tebing dan pegunungan karena dapat terbang dengan kecepatan cukup rendah tapi terkendali.

Pesawat N219 didesain sesuai kebutuhan masyarakat terutama di wilayah perintis sehingga memiliki kemampuan short take of landing dan mudah dioperasikan di daerah terpencil, bisa self starting tanpa bantuan ground.

Pesawat N219 memiliki nose landing gear dan main landing gear atau tidak dapat dimasukkan ke dalam pesawat saat terbang sehingga akan memudahkan pesawat melakukan pendaratan di landasan yang tidak beraspal bahkan bebatuan.

  🛩 Tempo  

Kamis, 11 Februari 2021

LEN Industri Kembangkan Logistic Management System (LMS) dan Poskodahanud

Sinkronisasi Kebutuhan Pussen Arhanud TNI AD Direktur Bisnis dan Kerjasama PT Len Industri Wahyu Sofiadi menyambut kunjungan industri Danpussenarhanud Mayjen TNI, Nisan Setiadi, beserta jajaran di kantor PT Len Industri, Bandung (2/2/2021).

Kunjungan ini dimaksudkan untuk mensinkronkan kebutuhan Pusat Kesenjataan Artileri Pertahanan Udara (Pussen Arhanud) TNI AD dengan produk maupun sistem yang dikembangkan oleh Len Industri agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan di lapangan.

Mayjen TNI Nisan Setiadi sangat mengapresiasi sistem Logistic Management System (LMS) dan Poskodahanud yang dikembangkan oleh Len Industri. Ia juga menyampaikan pentingnya sistem pertahanan udara baik jarak pendek (short range), menengah (medium range), maupun jauh (long range) yang harus dimiliki dalam mengamankan wilayah NKRI.

Kunjungan diakhiri dengan tinjauan tamu rombongan ke Ruang C4ISR (Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance) yang merupakan gedung display produk khusus elektronika pertahanan milik PT Len Industri yang telah diaplikasikan mendukung kekuatan militer Indonesia.
 

  ✪
LEN Industri  

Jumat, 29 Januari 2021

Pesawat N219 Versi Amfibi Bakal Dibuat Tahun 2021 ini

🛩  ✈ Infografis N219 Amfibi [detik]

Pesawat N219 hasil inovasi anak bangsa rencananya akan dibuat dalam versi amfibi pada tahun ini.

Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan pesawat jenis amfibi ini dapat digunakan untuk penanganan bencana di Indonesia.

"Pada 2021 ini juga rencananya N219 akan dibuat varian amfibi, N219 yang bisa mendarat di perairan di pantai khususnya," ujar Bambang dalam Review Kinerja dan Outlook Kemenristek/BRIN di Graha Widya Bhakti Puspiptek, Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (27/1/2021).

Selain untuk kebutuhan tanggap darurat, Bambang mengatakan pesawat N219 jenis amfibi ini dapat dimanfaatkan kebutuhan pariwisata Indonesia.

Pesawat jenis ini dapat menjangkau pulau yang terpencil, namun memiliki potensi sebagai destinasi wisata.

"Bisa mendukung pengembangan pariwisata, terutama pariwisata untuk pulau-pulau yang saat ini masih sulit untuk dijangkau karena letaknya dan karena kurangnya infrastruktur yang terkait perhubungan udara," tutur Bambang.

Seperti diketahui, pesawat N219 telah menyelesaikan proses sertifikasi dari otoritas penerbangan.

Pesawat N219 menyelesaikan rangkaian pengujian sertifikasi dari Otoritas Kelaikudaraan Sipil Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan RI.

  ✈ Tribunnews  

Rabu, 27 Januari 2021

[Video] Profil Passive Radar Prototyping by ITB-Balitbang Kemhan RI

Diposkan ThePanasdalaMovie Radar Pasif kerjasama LAPI ITB & Balitbang Kemhan [indomiliter]  ✯

Passive Radar adalah sistem perangkat pendeteksi target layaknya radar konvensional namun tanpa mentransmisikan sinyal ke target yang dimaksud.

Sebagai bagian dari Electronic Warfare, Passive Radar berperan penting dalam melakukan fungsi deteksi target menggunakan sinyal referensi atau sumber sinyal tertentu termasuk mengetahui lokasi sumber sinyal serta melakukan tracking.

Pada tahun 2018, telah dilakukan pengembangan Radar Pasif tahun ke II sebagai kerjasama antara ITB dengan Balitbang Kemhan RI Bidang Matraudara sebagai kelanjutan kegiatan pengembangan tahun sebelumnya.


Tampilan monitor dari teknologi Radar Pasif yang dikembangkan oleh ITB. (Adi Permana/Humas ITB)  ✯

Sistem Passive Radar ITB-Kemhan memiliki tiga fungsi utama yaitu Passive Coherent Location (PCL), Passive Emitter Tracking (PET) dan IFF/ADS-B receiver.

PCL adalah fungsi deteksi target menggunakan sinyal referensi dari stasiun radio FM, stasiun TV dan BTS GSM.

PET adalah fungsi untuk mengetahui lokasi sumber sinyal musuh dan target serta melakukan tracking posisi sumber sinyal musuh dan target.

Sedangkan IFF/ADS-B receiver berfungsi menerima sinyal IFF/ADS-B untuk kemudian dilakukan decoding dan penjejakan target.

Hasil deteksi yang diperoleh dari tiga fungsi utama tersebut selanjutnya diproses dan digabungkan menjadi informasi yang ditampilkan oleh konsol dan display.


  ✪ Youtube  

Selasa, 26 Januari 2021

KKIP Tinjau Kesiapan Program Medium Tank dan Munisi Pindad

KKIP Meninjau Medium Tank Harimau [Pindad] ★

D
irektur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad (Persero), Ade Bagdja didampingi oleh Direktur Bisnis Hankam, Wijil Jadmiko beserta para GM menerima kunjungan Kepala Bidang Perencanaan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (Kabidren KKIP), Laksda TNI (Purn.) Darwanto beserta jajaran pejabat KKIP pada Jumat, 22 Januari 2021 di Kantor Pusat Pindad, Bandung.

Ade Bagdja menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas kunjungan Kabidren KKIP beserta jajaran. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan paparan mengenai produk Pindad yang dijelaskan oleh Direktur Bisnis Hankam, Wijil Jadmiko.

Kabidren KKIP, Laksda TNI Darwanto menyampaikan, kunjungan KKIP kali ini dalam rangka untuk mempelajari kegiatan terkait dengan program nasional, yang dalam hal ini adalah mengenai Medium Tank dan produk Munisi yang kemudian nantinya akan dijadikan acuan dalam membuat kebijakan atau keputusan untuk perkembangan industri pertahanan kedepannya.


Meninjau kubah meriam [Pindad] ★

Dalam kunjungan hari ini KKIP juga ingin mengetahui sudah sejauh mana perkembangan industri pertahanan itu sendiri dan bagaimana kebijakan yang ada dilaksanakan. Laksda TNI Darwanto berharap dari pertemuan ini KKIP mendapatkan pemahaman yang jelas dan komprehensif guna pengembangan kemajuan industri pertahanan kedepannya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan melakukan kunjungan ke fasilitas produksi serta mencoba produk Pindad dengan menembak.

  ♞ Pindad  

Senin, 25 Januari 2021

Sekilas Rantis Koopssus TNI

Inkas Sentry APC Foto viral kendaraan taktis Koopssus TNI show of force di depan markas FPI di Petamburan [Screenshot video viral]

S
empat viral tahun lalu di medsos, kendaraan taktis lapis baja Komando Operasi Khusus (Koopssus) TNI melintas di Jl KS Tubun, Petamburan, Jakarta Pusat, yaitu Sentry APC buatan dari Inkas.

Pada kendaraan taktis tersebut tertulis 'Koopssus TNI'. Merupakan pasukan elite dari tiga matra di TNI, yakni Den-81 Kopassus, Den-Jaka Marinir, dan Sat-Bravo Paskhas.

Inkas Armoured Vehicle Manufacturing juga ahli mengubah segala jenis mobil sipil menjadi kendaraan lapis baja yang aman.Dan spesialis pembuat kendaraan lapis baja khusus untuk berbagai keperluan bukan hanya militer, termasuk sebagai kendaraan pengantar uang dan barang berharga.

Mengutip detik, Sentry APC, merupakan kendaraan taktis dengan model Sentry APC (RHD), body style Special Purpose, Armor Level BR6, bertransmisi 6 speed automatic yang dikawinkan dengan mesin 6.7 liter Diesel V8 hasilnya mobil ini bakal mampu menyemburkan 362 tenaga kuda di 4.750 RPM, dengan penggerak roda 4WD.

Soal dimensi mobil ini memiliki panjang 5.969 mm, lebar 2.514 mm dan tinggi mencapai 2.489 mm, bersama dengan wheel base 3.576 mm.

Rantis Koopssus TNI buatan Inkas Kanada [Istimewa]

Sentry APC memiliki kapasitas penumpang 8 penumpang, dengan memiliki fuel capacity mencapai 151 liter.

Sebagai kendaraan dengan kemampuan offroad, dibekali winch yang punya kapasitas 8 ton.

Rantis ini mengadopsi kemudi di kanan dan dibangun dari sasis Ford. Beberapa fitur yang ada di rantis tersebut mencakup advanced door locking systems, gun ports, escape hatches, dan roof mounted turret.

Kendaraan ini dipasangi televisi pemantau serta sejumlah peralatan teknologi informasi lainnya. Selain versi militer, Inkas juga memproduksi Sentry dalam varian sipil.

  ★
Garuda Militer  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More