blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Jumat, 01 Maret 2013

Australia Diminta Kubur "Arogansi Lama" Terhadap RI

 Masih ada pola pikir lama bahwa "Indonesia lebih butuh Australia"

Jakarta | Pemerintah Australia belakangan ini menyatakan Indonesia sebagai mitra strategis yang sejajar. Namun, baik warga Indonesia dan Australia sendiri menyadari masih adanya stigma bahwa Negeri Kanguru itu terkesan arogan, yang disertai pola pikir "Indonesia lebih butuh Australia." Sikap itulah yang perlu dihapus.

"Hubungan antar pemerintah dan antarwarga Indonesia dan Australia beberapa tahun terakhir kian dekat. Namun saya melihat masih ada kesan di kalangan Australia, 'Indonesia kan butuh kami,'" kata Wieke Gur, seorang warga Indonesia dalam perbincangan dengan VIVAnews usai suatu diskusi dengan kalangan pengusaha, kaum muda, dan pejabat Australia di Kota Perth hari ini.

Sempat bekerja di sebuah majalah berita di Jakarta, Wieke berdomisili di Australia sejak 12 tahun lalu. "Kesan sombong itu yang saya tangkap saat beberapa kali berbincang dengan orang Australia. 'Negara Anda kan lebih butuh kami, lalu mengapa terkadang tidak mau dengarkan apa yang kami mau?' Lalu saya selalu jawab, 'Indonesia sudah lebih baik kok, kalian kan juga butuh kami. Indonesia pun bisa berbisnis dengan negara-negara lain kalau Anda tidak mau,'" tutur Wieke, yang berprofesi sebagai konsultan bidang brand marketing dan digital strategy di Kota Perth.

Pola pikir itu, ungkap Wieke, lebih banyak dilontarkan oleh kaum tua Australia. Maka dia senang bahwa beberapa tahun belakangan program pertukaran pemuda dan mahasiswa serta saling kunjung pebisnis Indonesia dan Australia kian intensif.

"Persepsi negatif itu tidak saya temukan pada diri mereka, yang sudah bersikap terbuka. Mudahan-mudahan ini bisa perlahan-lahan mengubur pola pikir lama yang sempit itu," kata Wieke.

Sebelumnya, seorang warga Australia bernama Simon Johnson mengakui bahwa memang masih ada pandangan lama mengenai Indonesia. "Begitu pula stigma dari Indonesia yang menganggap Australia itu arogan. Saya menilai stigma-stigma itu bisa dihapus dengan selalu menatap ke depan bahwa kedua negara dan bangsa kini saling butuh," kata Johnson.

"Di kalangan pebisnis dan kaum muda Australia, pola pikir lama sudah jauh-jauh hari dihapus. Indonesia menjadi pasar dan mitra besar kami. Memang ada beberapa kendala, tapi itu normal dan bisa diselesaikan bersama," kata Johnson, yang juga merupakan Direktur Pengembangan Dagang dari Departemen Pertanian dan Pangan di Pemerintah Negara Bagian Australia Barat. (eh)


  ● Vivanews  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzuKXZz7DA9Y-b0_1ZIg4l1-Si_QQOgNYEZH6g1x2uUjLSYPRt8WhqPUehlrD35o36iIFpujKTIMiMwqRlUzHCfKT-a87fzfu77qvEv_EILRZACrgrNglyzx3QGI1aLE9B5cVrP9SoNdw/s35/cinta-indonesia.jpg

Pertamina bersiap olah sampah Bantargebang jadi listrik

Jakarta | PT Pertamina bekerja sama dengan pengelola tempat pembuangan sampah Bantargebang, Bekasi untuk mengolah gunungan sampah menjadi listrik. Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTS) ini melibatkan pula PT PLN, serta dua perusahaan asing yaitu General Electric dan Solena Energi yang menyediakan teknologi mengubah biomasa menjadi listrik.

Direktur Utama Pertamina Galaila Karen Agustiawan menyatakan proyek ini penting bagi mereka lantaran fokus perusahaan pelat merah itu ingin fokus menjadi penyedia energi, tidak lagi hanya menjual minyak. Selain itu, mengolah sampah menjadi energi biomasa dapat membantu persoalan nasional, khususnya DKI Jakarta.

"Sampah ini problem nasional, sekalian mengurangi masalah sampah sekaligus mengurai kebutuhan energi terbarukan nasional. Ini perwujudan visi kita dari oil and gas company menjadi energy based," ujarnya dalam penandatanganan Joint Agreement di Kuningan, Jakarta, Jumat (1/3).

Karena masih berupa rencana kerja sama, perhitungan teknis dan bisnis dari operasionalisasi pengolahan sampah ini belum selesai dilakukan. Pertamina dan PLN sampai beberapa bulan ke depan akan menghitung berapa biaya produksi dan harga jual nantinya jika proyek ini terlaksana.

Karen hanya bersedia mengungkap butuh kira-kita USD 285 juta untuk merampungkan instalasi PLTS tersebut. Dia pun menargetkan tiga tahun lagi, proyek Bantargebang ini sukses menghasilkan listrik.

"Pembahasan kontrak dengan PLN diharapkan 8 sampai 12 bulan, paling lambat 2014 sudah ada joint venture. Nanti baru bisa disampaikan berapa listrik PLTS ini dijual (ke publik). Kalau 2014 konstruksi, 2016 sudah mulai aktif listrik," ungkapnya.

Jika sukses, PLTS Bantargebang ini bakal mengolah 2.000 ton sampah di lokasi pembuangan akhir yang melayani Jakarta itu. Pertamina telah menggandeng PT Godang Jaya selaku pengelola TPS terpadu itu untuk memasok sampah secara berkala buat kebutuhan pembangkit ini. Dari pengolahan memakai sistem uap, bisa dihasilkan listrik bertenaga 138 MegaWatt (MW).

"Sebetulnya yang diproduksi 138 MW, tapi rencananya yang dijual 120 MW, 18 yang sisa non-used," kata Karen.

Ke depan, Pertamina berencana mengincar proyek pengelolaan sampah serupa. Namun lokasi persis dan mitranya belum dapat diungkap.

"Untuk sampah (diubah jadi listrik) ada target berikutnya di Sulawesi tapi kita lihat dulu hasilnya Bantargebang ini nanti 2016," cetus Karen.(mdk/rin)

Pertamina dan Godang Tua Jaya Sepakat Olah Sampah Jakarta 

PT Pertamina dan PT Godang Tua Jaya menetapkan Solena Fuels Corporation sebagai mitra penyedia teknologi dalam proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSA) di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, dengan kapasitas sekitar 138 Megawatt.

Kesepakatan itu ditandai dengan penandatanganan Joint Development Agreement (JDA) antara Direktur Gas Pertamina Hari Karyuliarto, Executive Vice President Solena Yves Bannel, dan Direktur Utama PT Godang Tua Jaya Rekson Sitorus, yang disaksikan oleh Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan.

Direktur Utama PT Godang Tua Jaya, Rekson Sitorus mengatakan, penandatanganan JDA merupakan tindak lanjut dari kesepakatan awal antara Pertamina dan Godang Tua Jaya pada 8 Oktober 2012. Dia menjelaskan bahwa PT Godang dipercaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mengelola TPST Bantargebang dengan sampah sekitar 5.500 hingga 6.000 ton per hari dari lima wilayah Jakarta. Sementara fasilitas teknologi yang dikembangkan saat ini hanya mampu mengolah sebanyak 2.000 ton sampah yang menghasilkan listrik 10 megawatt, pupuk organik, serta bijih plastik. Sehingga, masih ada sekitar 3.500 ton sampah yang belum diolah.

"Rencana kerja sama dengan Pertamina untuk mengolah sampah sekitar 2.000 ton. Kami masih cari investor lain untuk olah sisa sampah sekitar 1.500-2.000 ton," kata Godang di Jakarta, Jumat (1/3).

Dirut Pertamina Karen mengatakan bahwa pihaknya secara bertahap mengembangkan sumber daya energi baru dan terbarukan seperti halnya pembangunan yang telah dilakukan di sektor panas bumi dan pengembangan bio-energi berbasis sampah kota. Hal ini sejalan dengan target pemerintah mengenai porsi pemanfaatan energi baru dan terbarukan, di mana pada 2025 diharapkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan akan meningkat porsinya menjadi 25 persen.

Karen menjelaskan, fokus dari kerja sama ini adalah membuat detil studi kelayakan untuk pemanfaatan sampah kota menjadi energi dengan teknologi terbaru berupa plasma gasifikasi yang diyakini mampu membangkitkan listrik setara 138 MW dengan input sampah 2000 ton per hari. Kapasitas listrik sebesar 120 MW akan dijual kepada PLN, dan 18 MW sisanya digunakan untuk kepentingan sendiri (on use).

"Hal ini akan menjadi salah satu terobosan teknologi yang bisa memecahkan permasalahan sampah dan sekaligus sebagai jawaban atas krisis energi yang terjadi belakangan ini," ujarnya.

Pembangkit listrik tenaga sampah ini, lanjut Karen akan memerlukan investasi sekitar US$ 300 juta dan mulai memproduksi listrik pada 2015.

Proyek ini akan menggunakan teknologi pengolahan "biomass municipal solid waste to power" yang modern, efisien, dan ramah lingkungan. Solena Fuels Corporation merupakan penyedia tekonologi yang sudah terbukti dan memenuhi karakteristik sampah yang ada di Bantargebang dengan tingkat pemanfaatan sampah secara maksimal hingga mencapai "zero waste".


  ● Merdeka | Berita Satu  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzuKXZz7DA9Y-b0_1ZIg4l1-Si_QQOgNYEZH6g1x2uUjLSYPRt8WhqPUehlrD35o36iIFpujKTIMiMwqRlUzHCfKT-a87fzfu77qvEv_EILRZACrgrNglyzx3QGI1aLE9B5cVrP9SoNdw/s35/cinta-indonesia.jpg

PT PAL Akan Buat Kapal Perang di Tanggamus

Lampung | PT PAL Persero berencana membuat kapal perang di Tanggamus melalui industri maritim.

Hal itu diungkapkan Firmansyah, Direktur Utama PT PAL yang meninjau demaga Kota Agung serta lokasi kawasan industri maritim. Dan selama ini BUMN tersebut cenderung memproduksi kapal untuk kepentingan militer.

"Bisa nanti di sini kami buat kapal perang karena PT PAL merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi kapal," kata Firmansyah, Kamis (28/2/2013).

Ia mengaku jika PT PAL memang memperluas tempat produksi dan Tanggamus jadi lokasi utama pengembangan perusahaan. (Tri Yulianto)

  ● Tribunnews  

★ First Steel Cutting Pembangunan LST Ketiga TNI AL

Jakarta | Wakil Asisten Logistik (Waaslog) Kasal Laksamana Pertama (Laksma) TNI Ir. Sayid Anwar membuka First Steel Cutting pembangunan Kapal Angkut Tank-3 TNI Angkatan Laut di salah satu galangan kapal mitra TNI Angkatan Laut Srengsem Panjang Lampung, Kamis (28/3).

Kegiatan tersebut, dihadiri Kadismatal Laksma TNI Ir. Bambang Nariyono, M.M., Kadisadal Laksma TNI Mulyadi, S.I.P, M.A.P, Kadislaikmatal Laksma TNI Hary Pratomo, Pusada Baranahan Kemhan yang diwakili oleh Kabid Matra Laut Kolonel Laut (T) Sriyanto, Danlanal Lampung Kolonel Laut (E) Ir. Fery Sidjaja, Danbrigif 3 Marinir Kolonel (Mar) Hardimo dan Dirut PT. Daya Radar Utama (DRU) Amir Gunawan.

Pelaksanaan Steel Cutting Kapal Angkut Tank-3 TNI Angkatan Laut ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Waaslog Kasal didampingi Dirut PT. Daya Radar Utama (DRU) dan Pusada Baranahan Kemhan.

Dalam sambutannya Waaslog Kasal Laksma TNI Ir. Sayid Anwar mengatakan, dengan adanya pembangunan Kapal Angkut Tank TNI Angkatan Laut diharapkan dapat memajukan industri pertahanan dalam negeri sehingga dapat mengurangi ketergantungan dari luar negeri. Pelaksanaan pembangunan ini sebagai wujud pembinaan dari pemerintah dalam hal ini Kemhan/TNI, dengan harapan PT. Daya Radar Utama tetap memberikan Technical Support di luar masa Warrantinya sehingga kapal ini dapat berfungsi sesuai usia.

Melalui pelaksanaan Steel Cutting Kapal Angkut Tank-3 TNI Angkatan Laut tersebut, membuktikan bahwa PT. Daya Radar Utama berkomitmen dan siap menjadi lead integrator pembangunan produk Alat Utama Sistem Senjata (Alut Sista) bidang kemaritiman.


  ● Koarmabar  

TNI AL Bantu Pengembangan Potensi Maritim Sabang

TNI AL Perkuat Jaga Kepulauan SabangJakarta | TNI Angkatan Laut akan membantu pengembangan potensi maritim di kawasan Sabang dan pengoperasian "Hyperbaric Chamber" di Rumah Sakit AL J Lilipory Sabang, Provinsi Aceh.

Rencana itu terungkap ketika Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Marsetio dan Gubernur Aceh Zaini Abdullah yang juga selaku Ketua Dewan Kawasan Sabang (DKS) melakukan penandatangan Piagam Kesepakatan Bersama di Mabes TNI AL, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (28/2) dikutip dari Antara.


KSAL Laksamana TNI Marsetio mengatakan kerja sama antara TNI AL dan DKS itu berupa layanan kesehatan dan pemgembangan maritim di kawasan Sabang.


Menurut dia, kawasan Sabang yang memiliki keindahan laut cukup menawan membuat para wisatawan asing datang ke Sabang untuk melakukan penyelaman (diving), namun bila terjadi kecelakaan laut akibat penyelaman belum ada sarana untuk melakukan pemulihan.


"DKS memiliki sarana peralatan "Multiplace Hyperbaric Chamber", sementara TNI AL memiliki dokter-dokter berkualitas di RSAL di Sabang. Karena itu, ini kami kerja samakan. Alat kesehatan itu untuk memulihkan kesehatan penyelam," kata Marsetio.


TNI AL, kata dia, akan concern terhadap pengembangan potensi maritim di kawasan Sabang, pasalnya Sabang memiliki potensi yang cukup bagus untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.


"Kita miliki Lantamal I di Sabang. Mereka bisa membantu pengembangan maritim di Sabang," katanya.


Marsetio menambahkan, Sabang merupakan pintu masuk bagi kapal-kapal internasional yang akan masuk ke Selat Malaka, namun TNI AL bisa melakukan pemantauan di wilayah itu melalui radar yang dimilikinya.


"Kita punya 12 radar di perlintasan Selat Malaka. Kita bisa lihat bila ada kapal yang melintas di Selat Malaka," katanya.


Gubernur Aceh Zaini Abdullah, mengatakan, dalam pengelolaan kawasan Sabang perlu kerja keras dan kerja sama dengan semua pemangku kepentingan, salah satunya TNI Angkatan Laut karena kawasan Sabang memiliki nilai strategis seperti aspek geografis dimana letak Sabang yang berbatasan langsung dengan dunia internasional yang miliki potens besar.


Dari aspek pertahanan negara, posisi Sabang berdekatan dengan Internasional, dimana ada pulau terluar yang dimiliki Indonesia, yakni Pulau Rondo.


Kerja sama yang dilakukan oleh TNI AL, kata Ketua DKS ini, agar potensi maritim di kawasan Sabang bisa dikelola dengan baik. Tak hanya itu, kerja sama yang dilakukannya dalam terapi oksigen, di mana TNI AL memiliki rumah sakit yang memadai di Sabang.


"Kami memiliki alatnya dan TNI AL memiliki rumah sakit yang memadai. Terapi oksigen ini diperlukan untuk pemulihan bagi wisatawan yang suka menyelam," katanya.


Ia mengatakan kerja sama berlangsung selama lima tahun.(*/hrb)


  ● Investor   

Ratusan Dokter Australia Berminat Tularkan Ilmu ke Indonesia

Lewat Internet, mereka bisa bantu membahas diagnosa penyakit di RI

Jakarta | Para dokter dan pakar medis di Australia antusias untuk meningkatkan kerjasama dengan para dokter di Indonesia. Mereka tidak harus pergi ke Indonesia, namun bisa saling kontak dan konsultasi medis melalui Internet.

Demikian ungkap Profesor Michael Handerson, seorang pakar manajemen dan pelatihan kesehatan. "Australia memiliki dokter-dokter dengan perlengkapan riset yang memadai. Saya juga tahu banyak dokter di Indonesia yang berkualitas di wilayah-wilayah terpencil.

Mereka bisa bekerjasama secara rutin untuk menghasilkan mutu layanan medis yang lebih baik," kata Henderson dalam percakapan dengan VIVAnews di Universitas Western Australia di Kota Perth.

Profesor Henderson memimpin lembaga International Skills and Training Institute in Health (Istih). Ini merupakan institusi nirlaba yang memberikan bantuan kepada para pekerja dan lembaga kesehatan berupa pelatihan medis, perawatan, dan penyuluhan kesehatan lokal.

Melalui lembaga yang dia pimpin, Henderson tengah merintis proyek pelatihan kepada para dokter atau tenaga medis di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah terpencil.

"Kami ingin para pakar medis Australia bisa berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para dokter Indonesia di wilayah-wilayah terisolir. Salah satu program yang dirintis Istih adalah membuka komunikasi lewat Internet," kata Henderson.

Komunikasi lewat Internet ini, bagi dia merupakan cara yang efektif dan murah. "Teknologi Informasi kian cepat dan murah. Ada YouTube dan Skype. Dokter di Indonesia pun bisa berkomunikasi intensif dengan ahli penyakit dalam di Australia, misalnya. Bahkan, tidak saja belajar, mereka pun bisa berkonsultasi bersama secara langsung dalam mendiagnosa suatu kasus penyakit," kata Henderson.

Dia mengungkapkan sudah ada animo yang besar dari para pakar medis Australia untuk terlibat dalam program ini. "Sudah lebih dari 300 spesialis yang berminat untuk saling kontak dengan para kolega mereka di Indonesia.

Bahkan, menurut Henderson, salah satunya adalah Barry Marshall. "Beliau adalah peraih Penghargaan Nobel 2005 bidang Medis," kata Henderson. Marshall mendapat Nobel berkat penelitiannya dalam riset keterkaitan infeksi Heliobacter pylori dan kanker perut.

Para dokter di Australa pun, melalui komunikasi visual jarak jauh lewat Internet  bisa juga belajar dari Indonesia bagaimana menindak suatu kasus dengan kondisi terbatas.

"Karena, dalam situasi darurat, kita tidak bisa selalu mengandalkan peralatan canggih. Perlu intuisi dan kemampuan individu dari dokter yang bersangkutan. Itulah yang saya lihat dari dokter-dokter yang saya temui di wilayah terpencil," kata Henderson.


  ● Vivanews  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzuKXZz7DA9Y-b0_1ZIg4l1-Si_QQOgNYEZH6g1x2uUjLSYPRt8WhqPUehlrD35o36iIFpujKTIMiMwqRlUzHCfKT-a87fzfu77qvEv_EILRZACrgrNglyzx3QGI1aLE9B5cVrP9SoNdw/s35/cinta-indonesia.jpg

Mahasiswa IPB inovasi biji karet jadi keripik

Bogor | Mahasiswa Institut Pertanian Bogor yang tergabung dalam kelompok Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian (PKMP) berhasil menginovasi biji karet sebagai kudapan sehat dan bergizi.

Biji karet dapat dijadikan keripik. Selain mengandung protein yang cukup tinggi, biji karet juga menandung asam amino esensial yang berguna untuk tubuh," kata Ketua PKMP IPB Ahmad Mupahir di Bogor, Jawa Barat, Jumat.

Bersama teman satu tim, yakni Dede Permana, Ratih Kemala Dewi, Jun Harbi, dan Pipin Urip Kurniasih, mereka meneliti kandungan protein yang terdapat dalam biji karet cukup besar, yakni 23 persen.

menurut Ahmad Mupahir, keripik merupakan makanan ringan khas Indonesia, di mana semua masyarakat menyukai kudapan itu.

Namun, kata dia, selama ini keripik hanya dikenal menggunakan bahan baku singkong atau pisang.

"Kami memilih biji karet sebagai terobosan baru dan dalam rangka memanfaatkan hasil alam yang dianggap limbah," katanya.

Ia menjelaskan, proses pembuatan keripik biji karet tidak terlalu sulit, yaitu biji karet yang putih dibersihkan agar getahnya hilang.

Kemudian, bahan tersebut direndam agar racunnya hilang.

Selanjutnya selama 30 menit direbus supaya steril, lalu dihancurkan dengan mesin penggiling.

Tahapan selanjutnya, adonan diberi bumbu, dipipihkan dalam bentuk lembaran, dan dipotong dalam bentuk keripik.

Proses selanjutnya, yakni digoreng menggunakan minyak goreng dan diberi penyedap rasa serta dikemas, hingga keripik siap dipasarkan.

"Kami berharap inovasi ini bisa diaplikasikan warga untuk membantu masalah kemiskinan dan gizi buruk," katanya.

Ia menambahkan, biji karet, adalah salah satu bahan pangan yang belum dimanfaatkan maksimal.

Selama ini, katanya, biji karet hanya dijadikan alat permainan anak-anak.

Ada pula, kata dia, warga desa memanfaatkan biji karet sebagai bahan baku dasar pembuatan tempe.

Dengan inovasi yang dilakukan timnya, ia berharap ada pengayaan baru terhadap bahan yang selama ini belum banyak dimanfaatkan, namun punya nilai protein yang baik.(ANT)


  ● Antara  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzuKXZz7DA9Y-b0_1ZIg4l1-Si_QQOgNYEZH6g1x2uUjLSYPRt8WhqPUehlrD35o36iIFpujKTIMiMwqRlUzHCfKT-a87fzfu77qvEv_EILRZACrgrNglyzx3QGI1aLE9B5cVrP9SoNdw/s35/cinta-indonesia.jpg

Penjualan Mobil Nasional Diprediksi 270 Ribu Unit

Jakarta | KETUA Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Sudirman Maman Rusdi, memerkirakan, kuartal I/2013, total penjualan mobil nasional antara 250 ribu hingga 270 ribu unit. Adapun, sepanjang Januari 2013 lalu, penjualan mobil secara keseluruhan sudah mencapai 97 ribu unit. Namun, untuk bulan Februari, Sudirman mengaku belum mendapatkan data resmi.

"Kalau Februari belum ada angkanya. Tapi, perkiraannya hampir sama, sekitar 95 ribu. Dan, perkiraan saya, untuk kuartal I/2013 sekitar 250 ribu hingga 270 ribu unit. Makanya, pattern (target penjualan mobil secara nasional tahun 2013) yang 1,1 juta unit, masih masuk," kata Sudirman di Jakarta, Kamis (28/2).

Proyeksi penjualan selama kuartal I/2013 tersebut, menurut Sudirman, juga sudah memperhitungkan dampak penaikan uang muka minimum kredit syariah kendaraan bermotor. Meski demikian, Sudirman tidak mengetahui dampak penerapan ketentuan baru tersebut.

"Iya, proyeksi pertumbuhan penjualan mobil nasional itu sudah termasuk memperhitungkan dampak syariah. Tapi, peraturan itu kan baru berlaku 1 April nanti. Jadi, imbasnya baru terlihat sekitar kuartal II/2013. Kami juga melihat, walaupun penjualannya terlihat tumbuh, tapi karena dampak syariah dll, maka kami anggap pertumbuhannya masih tetap sama seperti tahun lalu, sekitar 1,1 juta," ujar dia.

Seperti diberitakan, penaikan uang muka minimum kredit syariah kendaraan bermotor akan kembali memukul pasar otomotif, khususnya sepeda motor yang anjlok akibat penaikan uang muka kredit konvensional. Bank Indonesia (BI) menetapkan uang muka kredit kendaraan roda tiga dan roda dua minimal 25 persen, sementara untuk roda empat yang masuk dalam pembiayaan nonproduktif dikenakan DP minimal 30 persen.

Adapun, uang muka minimal 20 persen berlaku bagi pembiayaan kendaraan beroda empat yang masuk dalam pembiayaan produktif, seperti pembelian kendaraan niaga untuk keperluan usaha.


  ● Jurnas  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzuKXZz7DA9Y-b0_1ZIg4l1-Si_QQOgNYEZH6g1x2uUjLSYPRt8WhqPUehlrD35o36iIFpujKTIMiMwqRlUzHCfKT-a87fzfu77qvEv_EILRZACrgrNglyzx3QGI1aLE9B5cVrP9SoNdw/s35/cinta-indonesia.jpg

RI Bakal Menjadi Prioritas Investasi Setelah Cina dan India

Poros perekonomian dunia sedang berpusat ke Asia. Dalam beberapa tahun ke depan Asia akan menjadi pusat investasi dari negara barat yang menanamkan modalnya.

Hal ini tercermin dalam survey Asia Business Outlook Survey (ABOS) yang menyimpulkan perusahaan-perusahaan di barat mengharapkan Asia dapat mengkontribusikan 32 persen dari total pendapatan global mereka. Indonesia merupakan prioritas investasi peringkat ketiga setelah China dan India.

Ekonom Senior Economist Corporate Network Ross O' Brien, mengatakan Indonesia akan terus menarik perhatian investor asing pada 2013 meskipun terdapat sikap proteksionis pemerintah yang terus meningkat.

"Negara menerapkan peraturan ketat demi melindungi kepentingan domestik. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara-negara Asia lain termasuk indonesia dan ini adalah tindakan yang wajar," kata Ross di Jakarta, Kamis (28/2/2013).

Baiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia juga didukung oleh optimisme konsumen bahwa iklim ekonomi Indonesia untuk enam bulan mendatang akan semakin kuat, sebagaimana tercermin oleh Consumer Expectation Index (CEI) yang dirilis oleh Bank Indonesia pada Januari 2013 silam.

CEI yang terus meningkat sebesar 1,5 didukung oleh ekspektasi bahwa aktivitas bisnis dapat tumbuh 2,5 poin dan ketersediaan pekerjaan naik 2,1 poin. Berdasarkan laporan tersebut, meningkatnya minat untuk berwirausaha dan tumbuhnya aksesibilitas dalam memperoleh fasilitas kredit perbankan juga berkontribusi pada tingginya CEI.

Berbagai analis dan pelaku pasar juga percaya pada pertumbuhan makro ekonomi Indonesia di tahun-tahun mendatang. Hal ini tercermin dari kualitas investasi yang semakin meningkat.

Naiknya investasi mencerminkan tidak adanya keraguan Indonesia menjadi negara yang paling menarik di Asia Tenggara untuk investor. Apalagi, Indonesia berhasil mendapat investasi langsung luar negeri (FDI) senilai 22,8 miliar dolar AS di 2012 atau naik 22,9 persen ketimbang di 2011.


  ● Tribunnews  
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzuKXZz7DA9Y-b0_1ZIg4l1-Si_QQOgNYEZH6g1x2uUjLSYPRt8WhqPUehlrD35o36iIFpujKTIMiMwqRlUzHCfKT-a87fzfu77qvEv_EILRZACrgrNglyzx3QGI1aLE9B5cVrP9SoNdw/s35/cinta-indonesia.jpg

RI-Korea Tunda Kerjasama Industri Pesawat Tempur Canggih Sampai 1.5 Tahun

Jakarta | Pemerintah Korea Selatan (Korsel) menunda kerjasama industri pesawat tempur bersama Indonesia yang diberi nama Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX). Alasannya pemerintah Korsel masih dalam tahap transisi kekuasaan terkait pergantian presiden baru Korsel.

"Ditunda setahun setengah karena ada perubahan pemimpin Korea yang baru dilantik kemarin kan presidennya, jadi dia Ingin meyakinkan pemerintah supaya lebih ada data, dasarnya menghadapi parlemen," kata Dirjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Pos Hutabarat di acara Seminar Pembangunan Industri Pertahanan Yang Terintegrasi Melalui Penguasaan Teknologi, Guna Kemandirian Bangsa di Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (28/2/2013).

Pos menuturkan penundaan kerjasama ini terhitung mulai Januari 2013 hingga satu tahun setengah. Sehingga pada Juni 2014 kerjasama ini bisa realisasi kembali. "Tapi realisasinya dalam hal engineering ya," katanya.

Ia menjelaskan dalam proyek ini pemerintah Indonesia berkontribusi hanya 20% selebihnya oleh pemerintah dan BUMN strategis Korsel. Rencananya dari proyek ini akan diproduksi pesawat tempur KFX/IFX atau F-33 yang merupakan pesawat tempur generasi 4,5 masih di bawah generasi F-35 buatan AS yang sudah mencapai generasi 5. Namun kemampuan KFX/IFX ini sudah di atas pesawat tempur F-16.

Pesawat KFX/IFX akan dibuat 250 unit, dari jumlah itu Indonesia akan mendapat 50 unit di 2020. Harga satu pesawat tempur ini sekitar US$ 70-80 juta per unit.

"Tapi kita yang ini mungkin bisa dapat US$ 50-60 juta, karena kita ikut membangun, dari APBN kita," katanya.

Sebelumnya PT Dirgantara Indonesia (PT DI) akan terlibat dalam pengembangan dan produksi pesawat jet tempur buatan Indonesia. Pesawat itu dikembangkan atas kerja sama Kementerian Pertahanan Korea Selatan dan Indonesia, pesawat tempur KFX/IFX.

Direktur Utama Dirgantara Indonesia Budi Santoso menuturkan, untuk mengembangan pesawat yang lebih canggih dari F-16 dan di bawah F-35 ini, PT DI telah mengirimkan sebanyak 30 orang tenaga insinyur ke Korsel untuk terlibat dalam pengembangan proyek pesawat temput versi Indonesia dan Korsel.

"Baru pulang Desember (2012) 30 orang. Kami mengirim atas nama Kemenhan. Jadi 1,5 tahun tim kita ada di Korea. Kita 1,5 tahun sama-sama mendesain. Kita ada yang belajar dari Korea, dan Korea ada yang belajar dari kita (PT DI)," tutur Budi.

  ● Detik  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More