blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Kamis, 11 Februari 2010

ISRA Radar Pengawas Pantai Buatan LIPI

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meluncurkan prototipe I dari Radar Pengawas Pantai yang diberi nama Indonesian Scientific Journal Database (ISRA) sebagai radar pantai pertama buatan Indonesia.

Kepala LIPI Prof. Umar Anggara Jenie dalam acara peluncuran yang dilakukan di Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna (B2PTTG) LIPI Subang, Jawa Barat (Jabar) mengatakan terciptanya radar pertama Indonesia ini merupakan bukti bahwa peneliti Indonesia mampu membuat alat berteknologi tinggi. Acara tersebut digelar dalam rangkaian ulang tahun ke-42 LIPI.

"Daripada kita harus membeli peralatan teknologi ke luar negeri dengan harga mahal, lebih baik mendorong peneliti bangsa untuk membangun kemandirian bangsa," kata Umar hari ini.
Peneliti pada Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI Mashury Wahab menjelaskan penelitian ini dilakukan selama 3 tahun. "Kami memiliki tim peneliti sebanyak 20 orang untuk penelitian dan pengembangan ISRA ini," ungkap Mashury.

Sebelumnya, katanya, para peneliti tersebut diberi bantuan oleh Pemerintah Belanda untuk pendidikan dasar. "Setelah mendapatkan dasar pendidikan kemudian kami aplikasikan dan kembangkan," lanjutnya.
Radar pengawas pantai ISRA ini, kata Mashury, menggunakan teknologi Frequency-Modulated Continuous Wave (FM-CW) sehingga konsumsi daya dan ukuran radar menjadi lebih kecil. "Mekipun dalam ukuran yang kecil tetapi tidak mengurangi keunggulan-keunggulan yang dimiliki radar ini," ujarnya.
Salah satu fungsi radar pengawas pantai ini, katanya, adalah mendeteksi keberadaan kapal di laut yang sedang mendekat. "Radar ini akan mendeteksi kapal yang berada dalam jangkauan kerja radar ini yang kemudian akan ditampilkan di monitor," katanya.

Dia menambahkan bahwa radar tersebut mampu mendeteksi hingga jarak 64 km. Sebetulnya, kata Mashury, teknologi radar pengawas pantai ini akan terus dikembangkan hingga radar jenis tiga. "Kami masih terus mengembangkan beberapa jenis radar semacam ISRA yaitu satu jenis direncanakan selesai pada 2010 dan satu jenis lagi selesai pada 2011," katanya.
Seluruh radar akan bekerja secara berhubungan. "Kelak ketiga radar ini akan bekerja secara berhubungan sehingga kita tidak perlu memantau langsung ke lokasi penempatan radar karena telah terhubung melalui monitor," jelasnya.
Beberapa komponen dalam radar itu, katanya, masih harus diimpor. "Terdapat 60 persen komponen radar ISRA yang diimpor dari luar negeri," ujarnya.
Untuk penelitian dan pengembangan radar tersebut Mashury menjelaskan bahwa pihaknya telah mengeluarkan dana hingga Rp3 miliar. "Dana ini terbilang efisien dibandingkan dengan biaya radar yang harus dibeli dari Polandia dengan harga mencapai Rp9 miliar," tutur Mashury.(yn)

SPESIFIKASI

Memiliki garis pantai sepanjang 81.000 kilometer tidak mudah bagi Indonesia mengawasi aksi ilegal dan terjadinya kecelakaan serta pencemaran laut. Dengan mengoperasikan radar, petugas patroli dan pengawas pantai dapat mengamati dan kemudian mengatasi masalah tersebut dengan cepat.

Keberadaan sistem radar dalam memantau kondisi lalu lintas laut dan udara memang sangat penting untuk menekan kasus kecelakaan di sektor transportasi. Kecelakaan di laut berpotensi menimbulkan pencemaran akibat tumpahan minyak dari kapal. Apalagi, jika kecelakaan menimpa kapal tanker seperti yang pernah terjadi di Selat Malaka dan Pelabuhan Cilacap beberapa tahun lalu.

Sayangnya, radar yang digunakan untuk pemantauan lalu lintas pelayaran saat ini telah ketinggalan zaman. Selain itu, jumlah dan kemampuannya juga amat terbatas. Maka, untuk memantau wilayah Indonesia yang berbatasan dengan negara tetangga, misalnya Singapura, pihak Indonesia mengandalkan sarana pemantau milik negara tetangga ini.

Saat ini dengan meningkatnya arus lalu lintas kapal laut di wilayah jalur pelayaran yang padat di Indonesia, dukungan sistem pengawas dan pemantau lalu lintas tidak hanya perlu ditingkatkan jumlahnya, tetapi juga kemampuannya.

Menurut Syahrul Aiman, Deputi Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, kebutuhan radar di Indonesia mulai dari 800 hingga 900 buah, tetapi jumlah yang terpasang saat ini masih di bawah angka 30 dan semuanya buatan asing. Di antaranya adalah delapan radar buatan AS yang dipasang di sepanjang Selat Malaka. Harganya per unit 8 miliar dollar AS.

Karena fungsi radar sangat penting untuk transportasi laut dan udara, tambah Syahrul, perlu dilakukan pengembangan kemampuan dalam negeri Indonesia sendiri untuk penyediaan radar secara mandiri.

Selama ini ia melihat prosedur pembelian radar dari luar negeri sulit karena bersifat strategis, selain harganya yang mahal. Hal ini menjadi hambatan bagi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan peralatan radar. Hal inilah yang mendorong LIPI mengembangkan prototipe radar sendiri untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Radar modern

Melakukan penelitian, rancang bangun sejak tahun 2006, Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI berhasil menciptakan radar pengawas pantai.

Radar ini menggunakan teknologi modern, yaitu frequency- modulated continuous wave (FM-CW) sehingga konsumsi daya dan ukuran radar menjadi lebih kecil dibandingkan dengan tipe yang konvensional, tanpa mengurangi kinerja standarnya.

Mashury Wahab, Koordinator Peneliti Radar LIPI, menjelaskan, radar yang dapat memantau hingga radius 64 kilometer ini hanya menggunakan daya 2 watt, sedangkan sistem yang lama yang menggunakan tabung magnetron memerlukan daya hingga 10 megawatt.

Pembuatan radar ini melibatkan pihak TU Delf Belanda dalam desain dan teknisnya, tetapi peranti lunaknya dikembangkan sendiri oleh peneliti LIPI. Sistem karya LIPI ini memiliki kandungan lokal 40 persen. Dengan memanfaatkan potensi lokal, harga radar yang bisa mencapai lebih dari 8 miliar rupiah itu dapat direduksi hingga 40 persen, jelas Mashury, doktor bidang pemroses sinyal dari Curtin University of Technology Australia.

Prototipe tersebut, yang dikembangkan sejak tahun 2006, awal Mei ini mulai diuji coba di Bandung dan di Pelabuhan Merak Banten untuk memantau lalu lintas kapal. Ketika itu hasilnya menunjukkan bahwa alat tersebut masih memerlukan penyempurnaan dalam hal tampilan dan peranti lunaknya. Setelah mendapat perbaikan pada uji coba di Pantai Anyer pada Desember 2009, hasilnya baik.

Radar pantai buatan LIPI tersebut memiliki daya jangkau hingga 60 kilometer. Namun karena faktor kelengkungan horizon, radar itu hanya dapat melihat kawasan sejauh 30 kilometer, tambah Hiskia Sirait, Kepala Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI.

Jejaring radar

Pengembangan sistem radar di dalam negeri, lanjut Syahrul, memungkinkan pengembangan jejaring radar di Indonesia dapat ”berkomunikasi” karena menggunakan sistem yang sama. Hingga tahun 2014, LIPI akan mengembangkan jejaring radar pengamat pantai dengan sistem tersebut.

Untuk fabrikasi karya inovasi ini, telah ada beberapa industri nasional yang berminat. Selain itu, saat ini juga telah ada permintaan nonformal dari pihak terkait, seperti TNI AL, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Koordinasi Keamanan Laut, serta Kementerian Perhubungan.

Selain LIPI, sesungguhnya ada Divisi Radio & Communications System (RCS) dari PT Solusi 247 yang melibatkan peneliti lulusan ITB dan Universitas di Belanda yang juga berhasil mengembangkan radar navigasi kapal. Untuk ini, RCS juga menerapkan FM-CW pada radar tersebut. Pembuatan radar ini juga melibatkan peneliti LIPI dalam pengukuran dan pembangunan konstruksinya.

Indotech, KOMPAS

Rabu, 10 Februari 2010

Pindad Siap Produksi Pistol Serbu Secara Massal

Jakarta (ANTARA News) - PT Pindad siap memproduksi massal pistol serbu kaliber 5,56x21 mm hasil rancangan Dinas Litbang TNI AD yang telah disertifikasi sejak awal 2008.

"Pistol ini siap diproduksi massal tergantung dari permintaan," kata Peneliti di Dinas Litbang TNI AD, Darmaji, kepada Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati yang mengunjungi anjungan dinas itu pada Pameran Ritech Expo 2008 di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, kebutuhan TNI akan pistol serbu mencapai ribuan, karena itu jika pistol serbu bisa diproduksi di dalam negeri, maka TNI yang tak memiliki banyak anggaran tak perlu mengimpor.

Pistol serbu tersebut memiliki panjang 315 mm, tinggi 165 mm dan tebal 41 mm, berat kosong 1,045 kg, dengan kapasitas magazen sebanyak 20 butir serta jarak tembak efektif 150 meter.

Sri Mulyani sempat mengacungkan pistol tersebut ke sasaran di dinding anjungan, namun tidak bersedia mencoba lebih jauh ketika ditawarkan untuk menembakkannya di tempat khusus yang akan disediakan.

Di setiap anjungan, Menteri selalu bertanya pada penjaganya apakah peralatan yang dipamerkan itu benar-benar buatan sendiri ataukah hanya barang impor, serta bertanya keberadaan inovasinya.

Di anjungan Dislitbang TNI AD itu digelar juga model senjata anti-tank, pistol mitraliur kaliber 9mm, dan prototipe amunisi meriam kaliber 76mm dan 57mm yang merupakan rancangan Dislitbang AD.

Menteri juga berpesan ke setiap anjungan di Ritech Expo 2008 itu agar terus melakukan inovasi dan jangan selalu bersandar pada barang-barang impor.

Sri Mulyani juga berkunjung ke Litbang Dephan, Dislitbang AL, Dislitbang AU, stand LAPAN, dan PT Dirgantara Indonesia.

Di Ritech Expo digelar juga pameran Balai Mesin Perkakas Teknik Produksi dan Otomasi BPPT, Pusat Penelitian Fisika LIPI, Deptan, hasil riset ITB, ITS, PT Inca, Dinas Litbang Provinsi, Riset Unggulan Strategis Nasional dan belasan lainnya. (*)

Antara

Selasa, 09 Februari 2010

Desain & Teknologi

Len Industri konsisten kembangkan desain & teknologi

BANDUNG: PT Len Industri (Persero), badan usaha milik negara di bidang teknologi elektronika, akan terus konsisten mengembangkan desain inti dan teknologi baru, meskipun tingkat serapan di dalam negeri relatif masih rendah. Salah satu teknologi yang terus dikembangkan perusahaan ini adalah peralatan komunikasi tempur, di samping teknologi transmisi penyiaran.
"Kami sudah menggarap bidang usaha ini sejak lama dengan biaya investasi yang tidak sedikit. Pengembangan akan terus kami lakukan sekalipun serapan pasarnya belum optimal. Bagi Len, kedaulatan teknologi adalah di atas segalanya," ujar Direktur Utama PT Len Industri Wahyuddin Bagenda, kepada Bisnis akhir pekan lalu.

Dengan teknologi yang dikembangkannya itu, PT Len Industri tercatat menjadi satu-satunya BUMN yang memperoleh penghargaan Anugerah Rintisan Teknologi Industri 2009 dari Pemerintah.

Wahyuddin menjelaskan penghargaan tersebut diberikan atas inovasi produknya, Manpack Alkom FISCOR-100, yakni peralatan telekomunikasi untuk keperluan tempur.

"Penghargaan ini kami raih setelah melewati proses penilaian yang panjang, sejak Agustus 2009. Kami adalah satu-satunya BUMN yang meraih penghargaan tersebut karena tiga pemenang lainnya adalah perusahaan swasta," katanya.

Menurut dia, penghargaan yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut, didasarkan pada empat kriteria utama yakni inovasi, proses produksi, komersialisasi, dan tingkat kandungan lokal.

"Pemerintah tidak hanya melihat kompleksitas, utilitas, kandungan lokal, dan kapasitas produksi, tetapi juga mempertimbangkan pangsa pasar serta dampaknya terhadap perekonomian nasional," ujarnya.

Dia memaparkan Manpack Alkom FISCOR-100 beroperasi pada rentang frekuensi 2 Mhz hingga 30 Mhz dengan 256 channel dengan kebutuhan pasokan tenaga 12 Vdc-24 Vdc. Peralatan ini bisa digunakan untuk komunikasi pada level pleton hingga batalion.

Kapasitas produksi Len untuk pesawat komunikasi jenis ini mencapai 1.000-1.500 unit per tahun. "Dengan perawatan yang telaten, usia penggunaan produk ini bisa mencapai puluhan tahun."

Teknologi produk tersebut pada awalnya dikembangkan bersama Pemerintah Australia, tetapi selanjutnya mitra kerja sama itu dialihkan kepada Thales, perusahaan elektronik terbesar di Prancis.

Wahyuddin menambahkan Len Industri memperoleh penghargaan Rintisan Teknologi Industri 2009 karena desain inti produk Manpack Alkom FISCOR-100 dikembangkan oleh teknisi lokal dari BUMN yang semula fokus di bidang transmisi penyiaran itu.

"Kerja sama yang ada [dengan perusahaan luar] hanya meliputi matrikulasi frekuensi radio yang belum bisa diimplementasikan di Indonesia serta tidak menyangkut kerahasiaan data telekomunikasi dari pesawat komunikasi tersebut," katanya.

Hal ini mengingat alat komunikasi pertahanan merupakan produk yang sepenuhnya dibuat secara rahasia oleh sebuah negara. "Ini demi menghindari tindakan jamming oleh musuh."

Oleh Muhammad Sufyan
Bisnis Indonesia

LEN

Senin, 08 Februari 2010

Turbin Angin

Turbin Angin Hembuskan Nafas untuk Industri Lokal


Jakarta - Sebuah perusahaan asal Indonesia mengembangkan turbin listrik tenaga angin yang nyaris sepenuhnya memanfaatkan komponen lokal. Teknologi turbin tersebut pun dinilai bisa menghembuskan nafas ekonomi di daerah tertinggal.

Turbin listrik tenaga angin sumbu vertikal itu dikembangkan oleh PT Quasar Mandiri. Dengan kemudahan merakitnya dari komponen lokal, Quasar berharap teknologi bernama Aerostellar ini bisa diadopsi di daerah-daerah tertinggal.

"Turbin angin milik kita perangkatnya 100 persen lokal. Hanya bagian magnet saja yang impor. Sisanya bahannya ada di pasaran," papar Yana S Rahardja, Managing Director PT Quasar Mandiri, saat berbincang dengan detikINET, Rabu (13/1/2010).

Pipa, besi dan aluminiumnya menurut Yana bisa didapatkan di pasaran. "Kami hanya membuat sayap, generator dan power controlnya saja. Sisanya bisa dibuat sendiri oleh siapapun," tuturnya.


Yana berharap dengan mudahnya merakit Aerostaller ini bisa menjadi solusi sumber energi aternatif yang murah dan mudah diimplementasikan oleh masyarakat. Karena, menurut Yana, dengan adanya listrik roda perekonomian bisa berjalan. "Dan kalau dilihat, daerah yang belum tersentuh listrik adalah daerah yang miskin. Seperti pesisir pantai, ini yang ingin kita dukung," ia menambahkan.



Yana mengklaim desain Aerostellar sangat cocok dengan karakteristik angin di Indonesia yang sering berubah-ubah arah serta rata-rata kecepatan angin di Indonesia yang relatif rendah. "Kecepatan 7 meter per detik itu sudah cukup untuk memutar turbin. Indikatornya bendera bisa berkibar. Itu cukup," katanya.

Masuknya Quasar ke bidang pembangkit listrik menurut Yana bukan berarti pihaknya meninggalkan basis di industri manufaktur. "Kita mau memajukan bangsa ini dengan teknologi. Tapi ngga ada listrik? Ya, kita harus masuk ke sana. Bukan sebagai mainstream tapi supporting product," ia menandaskan.( afz / wsh )

detikINET

Minggu, 07 Februari 2010

IPTEK TTG : BAHAN BAKAR BIOGAS


Dalam sepuluh tahun terakhir ini, kita diharubirukan dengan kelangkaan demi kelangkaan bahan bakar minyak dan listrik. Minyak tanah menghilang, sekarang mulai diganti dengan gas elpiji dan kini Jakarta pun tidak luput dari pemadaman listrik secara bergilir, yang sebelumnya menjadi monopoli daerah-daerah, khususnya di luar Jawa. Ongkos yang harus dibayar dari pemadaman bergilir sungguh mahal, karena listrik menjadi urat nadi industri kecil hingga besar. Daging yang busuk karena pendingin mati berjam-jam. Pengrajin es balon yang mendadak kehilangan penghasilan suatu hari karena hal yang sama, hanyalah sebagian kecil ilustrasi ongkos pemadaman tersebut.

Berbagai analisis dan solusi diusulkan baik oleh para pejabat maupun pakar. Mulai dari yang nadanya pembelaan diri hingga usulan penggunaan pembangkit listrik tenaga surya. Sementara, di salah satu sudut kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Tim Biogas dari Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi (PTPSE) BPPT tengah mengotak-atik reaktor biogas mungil dan pembangkit listrik yang tak kalah mungil, cuma 700 watt.(ay).

Dr. Ir. M. Arif Yudiarto, M.Eng, Peneliti Utama di Pusat TPSE BPPT mengungkapkan, disaat kita kehilangan kesederhanaan berfikir, sehingga melupakan hal-hal yang kecil, muncul solusi memecahkan masalah kelangkaan listrik yang sudah demikian menggurita. Contohnya, ketika kita bicara pengadaan listrik 40.000 MW, yang ada di kepala kita hampir pasti 4 pembangkit x 10.000 MW. Kita hanya memikirkan pulau Jawa dan melupakan ada belasan ribu pulau lainnya yang memerlukan pembangkit listrik dengan daya jauh lebih kecil. Pembangkit kecil PLN sebenarnya sudah banyak tetapi tidak memadai lagi dengan pertumbuhan ekonomi dan penduduk. Bahan bakar minyak yang mahal karena harus menempuh perjalanan jauh untuk sampai ke lokasi dan tarif harga listrik yang berlaku secara nasional merupakan hambatan tersendiri dalam investasi pembangkit tambahan.

Arif dan Tim peneliti Teknologi Biogas Pusat TPSE menjelaskan Biogas merupakan salah satu bahan bakar gas yang dihasilkan dari proses fermentasi kotoran hewan. Biogas dapat digunakan di rumah tangga (untuk memasak), bahkan bisa juga digunakan untuk menyalakan generator listrik. Proses produksi biogas dari limbah pertanian dan peternakan ini dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam memproduksi listrik. Menurut Wid, harganya murah karena bahan bakunya berasal dari limbah. ”Kwlitasnya juga tidak kalah dengan BBM atau elpiji,” kata Nesha. Untuk penggunaan kompor di rumah tangga juga hemat dan dapat memasak dengan suhu hingga 700ºC, atau dengan 2 rice cooker. Layaknya elpiji, pembakaran gas methan menghasilkan api biru dan tidak mengeluarkan asap. ”Gas methane yang dihasilkan dari 40 kilogram kotoran sapi dapat digunakan untuk memanaskan kompor selama 6 jam,” tegas Kiki. Proses mikrobiologis di dalam reaktor akan menghasilkan gas methan dan kompos. Gas yang dihasilkan dialirkan melalui selang ke penampung dari plastik berkapasitas 2.000 liter dan disalurkan ke kompor. Proses ini akan berlangsung terus-menerus sepanjang terdapat pasokan kotoran sapi.

Arif menambahkan, dengan inovasi teknologi, produktifitas biogas dari kotoran sapi rata-rata hanya 0,2-0,3 m3/m3 volume reaktor/hari. Artinya hanya mampu menghasilkan listrik 0,25-0,4 kwh/m3 volume reaktor/hari. Dengan investasi Rp 1,5 juta per-m3 reaktor dan anggaplah 1 kwh dibeli PLN Rp 650/kwh, maka diperlukan waktu belasan tahun untuk kembali modal. Untuk mendapatkan pasokan gas sebanyak itu, kotoran sapi harus dicampur dengan air dengan perbandingan satu banding satu dan diaduk rata dalam tangki pengumpan dari tong besi yang dipotong. Kemudian, hasilnya dimasukkan ke dalam reaktor plastik berkapasitas 5.000 liter yang di dalamnya telah dihuni berjuta-juta bakteri Methanogenesis yang berkembang biak dari 25 liter bakteri starter yang telah dimasukkan.

Bukan hal baru lagi, kata Arif, tetapi mengulangi usulan yang sama oleh orang-orang yang beda, seringkali diperlukan. Pemerintah dan PLN sebaiknya bersikap realisitik dengan melibatkan masyarakat untuk ikut memproduksi listrik tanpa birokrasi yang berbelit-belit. ”Di Jepang, rumahtangga dapat menyumbang listrik tenaga surya meski hanya beberapa watt melalui sebuah inverter. Di Thailand, pembangkit-pembangkit listrik gasifikasi skala kecil menggunakan biomassa ranting-ranting kayu yang dipangkas secara periodik dapat disalurkan ke listrik negara dengan sistem bagi hasil. Tetapi yang terjadi di Indonesia, biogas dari pengolahan limbah dengan mekanisme pendanaan CDM harus diflaring (dibakar) di udara karena tidak yakin kalau dibuat listrik akan dibeli PLN. ”Jika dibandingkan, PLN memproduksi listrik dengan ongkos Rp 1100/kwh. Listrik dari biogas dan gas sintesis jauh lebih murah. Tetapi biogas tidak dibeli hanya karena dirasa masih kurang murah lagi harganya”, ungkap Arif.

Ke depan, kata Arif, BPPT sedang mengupayakan inovasi dari dua arah, yaitu meningkatkan produktifitas biogas menjadi 1 m3 biogas/m3 volume reaktor/hari dengan penambahan limbah pati dan protein yang tinggi produktifitasnnya dan menekan biaya investasi reaktor di bawah Rp 1 juta/m3 dengan bahan dan teknik konstruksi reaktor yang lebih murah. Dengan ini, secara tekno-ekonomi akan dapat lebih diandalkan. Yang jelas, biogas selama ini telah dibuktikan di banyak negara sebagai bahan bakar yang murah karena berasal dari bahan baku limbah pertanian, perkebunan dan agroindustri.(gs.dw-adpkipt).

Ristek

Sabtu, 06 Februari 2010

Telpon Anti Sadap Buatan LIPI

Koran Jakarta, 1 Februari 2010

Pada awal era reformasi, pernah terjadi kasus penyadapan percakapan melalui telepon yang sempat menghebohkan di negeri ini. Ketika itu, beredar rekaman pembicaraan antara BJ Habibie yang saat itu menjabat sebagai Presiden Indonesia dan Jaksa Agung Andi M Ghalib. Isi percakapan seputar pemeriksaan dugaan korupsi yang dilakukan mantan Presiden Soeharto.

Adanya kebocoran tersebut menunjukkan bahwa tingkat pengamanan pembicaraan melalui telepon di level presiden pun dapat dibobol dengan mudah oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Setelah peristiwa itu, Pusat Penelitian Informatika, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendapatkan tantangan dari Dinas Penelitian dan Pengembangan (Dislitbang) Angkatan Laut dan Lembaga Sandi Negara untuk membuat telepon antisadap.

Menurut Elli A Gojali, peneliti bidang komputer LIPI, pihaknya kemudian mengembangkan telepon antisadap, mulai dari sistem analog hingga digital. Alat komunikasi yang dinamakan telepon scrambler itu menerapkan sistem semi digital (antara analog dan digital). Telepon scrambler tersebut terdiri dari pesawat telepon, saluran PSTN (Telkom), dan perangkat keras (hard ware) yang berfungsi mengacak sinyal. “Telepon scrambler ini sekarang digunakan di LIPI maupun di Angkatan Laut,” ujar Elli.

Berdasarkan cara kerjanya, telepon scrambler dengan sistem semidigital itu dapat mengacak sinyal telepon sebelum sinyal tersebut ditransmisikan melalui saluran telepon. Tujuannya, agar sinyal tidak dapat dimengerti apabila terjadi penyadapan selama dalam perjalanan di jaringan telekomunikasi. Sementara itu, di sisi penerima terdapat descrambler yang dapat menyusun kembali sinyal yang teracak sehingga wujud sinyal pun sama seperti semula.

Sayangnya, telepon scrambler dengan sistem semidigital masih memiliki kelemahan. Perangkat tersebut masih menggunakan komponen dari luar sehingga peluang produsen untuk menyadap telepon scrambler dengan pengembangan alat komunikasi serupa tetap ada. Selain itu, komunikasi antara kedua belah pihak yang melakukan percakapan sedikit mengalami gangguan suara (noise). “Untuk itu kami sekarang ini mengembangkan perangkat digital yang bisa menutupi kelemahan telepon scrambler semidigital,” ujar Elli.

Perangkat yang dikembangkan itu menerapakan embedded system, yaitu penggabungan antara perangkat keras dan perangkat lunak dalam satu kesatuan sistem. Semua komponen yang digunakan untuk sistem pengamanan dibuat dalam bentuk digital. Penyusunan pola algoritma pengacakan dilakukan secara mandiri oleh peneliti LIPI. Hal itu berbeda dengan sistem semidigital yang pola susunan algoritmanya sudah tersedia dan kemudian diprogram ulang oleh peneliti.

Perangkat antisadap itu tidak hanya dapat diaplikasikan di telepon tetap (fixed phone) tetapi juga di telepon seluler (ponsel) dan radio komunikasi. Elli menjelaskan untuk mengamankan ponsel dengan alat antisadap itu perlu hand free dalam melakukan komunikasi. Di jalur kabel yang menghubungkan hand free dengan telepon disambungkan alat antisadap. Begitu juga ponsel lawan bicara harus menggunakan hand free plus alat antisadap.

Mekanisme kerja alat sadap itu sama seperti halnya telepon scrambler, namun kualitas suara yang dihasilkan lebih bersih. Lebih penting dari itu, peluang disadapnya pembicaraan sangat kecil karena semua komponen bentuknya digital. “Rencananya alat antisadap itu akan diluncurkan akhir tahun ini,” tukas Elli. awm/L-2

KoranJakarta

Kamis, 04 Februari 2010

Robot Penjinak Bom Buatan ITS

Robot Penjinak Bom Buatan ITS Siap Produksi Massal


Mengamati robot pengintai yang dipakai Tim Polisi Anti Teror untuk masuk ke dalam rumah Muh. Djahri di Dusun Beji, Desa Kedu Kecamatan Beji, Temanggung, sangat mirip dengan punya Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) ITS. Hanya saja, robot itu masih berupa protoype.

Ketua Tim Peneliti Dr Ir Endra Pitowarno M Eng mengatakan, robot karyanya memang mirip dengan yang digunakan Densus 88. Hanya saja, ”Robot yang dipakai Densus 88 itu robot impor, ”katanya. Biasanya robot-robot itu didatangkan dari Inggris atau Norwegia.

Dia menjelaskan, pihaknya memang meneliti dan membuat robot penjinak bom. Penelitian itu berawal dari 2007 lalu, dimana ia bekerjasama dengan empat mitra. Yakni Gegana, LIPI, Ristek, dan PT Pindad untuk mengembangkan robot tersebut. ”Penelitian ini selama tiga tahun,”kata Endra. Endra lantas berjalan menunjukkan robotnya.

Di laboratorium manufaktur PENS ITS, Endra menunjukkan robotnya. ”Robot saya masih ada disini,”kata Endra lantas menarik gerobak beroda. Di atas gerobak itu, tampak plastik putih menyelimuti sebuah benda. Endra lantas mengambil plastik itu dan barulah tampak robot karya dosen PENS ITS itu.

Di lengan kiri robot tertulis GP Mobot 092 yang artinya General Pupose robot 092. 09 adalah tahun, dan angka 2 adalah penelitian kedua. Endra sempat membuat karya pertama di tahun 1994. “Itu penelitian sendiri,”ujar kaprodi Teknik Mekatronika PENS ITS itu.

Robot itu terlihat kokoh dengan warna hijau dongker khas TNI. Bentuknya mirip sebuah tank dengan menggunakan sabuk beroda. Masing-masing tapak sabuk roda yang terbuat dari karet itu bertuliskan PENS.

Kelebihan dari robot itu, robot itu bisa menaiki tangga yang tercuram sekalipun. ”Robot bisa merangkak menaiki setiap anak tangga,”katanya.

Untuk mengoperasikannya, robot itu menggunakan remote control. Di bagian depan, sebuah camera berfungsi sebagai pengintai. Operator bisa melihat apa yang didepan robot itu dari jarak jauh.

Untuk menggerakkan robot, ada tujuh aki kering yang berada dib adan robot. Empat untuk motor, dua untuk menggerakkan tangan robot. Dan satu aki untuk kamera.

Dipunggung robot itu, nampak lempengan putih kotak. Itu adalah tempat untuk Disrupter atau alat penjinak bom. ”Kami hanya buat robotnya Disrupter-nya kami tidak bisa,”katanya.

Robot itu memiliki tangan yang bisa digerak-gerakkan. Keatas, kebawah, hingga mengapit benda. ”Tujuannya untuk mengambil sesuatu benda. Misalnya bom,” ucapnya.

Jika robot itu sudah dilengkapi disrupter, lanjut Endra, robot itu bisa menjalankan tugasnya sebagai robot penjinak bom. Cara kerjanya, robot mengambil bom itu dengan tangannya. Lalu, robot berjalan ke tempat aman yang tidak membahayakan nyawa orang lain. “Jika sudah di tempat aman, bom diletakkan,” terangnya.

Lalu, robot membalikkan badan. ”Disinilah disrupter bekerja,”katanya. Disrupter bisa berupa tekanan angin yang kuat atau air yang dimampatkan. Lalu air itu disemprotkan ke bom tersebut. ”Tujuannya untuk menon-aktifkan detonator (pemicu ledakan, red),”katanya.

Saat ini, robot itu sudah rampung. ”Masih dalam tahap pengujian. Jika tidak ada permasalahan, robot itu akan direpro oleh PT Pindad untuk diproduksi masal,” katanya.

Biaya penelitian itu sebesar Rp 300 juta. Hal itu tidak sebanding dengan harga robot impor. ”Bisa mencapai Rp 1 miliar,” katanya.

Saat ini, pihaknya juga meriset varian baru robot penjinak bom. Namun sayang, Endra enggan untuk memberikan keterangan terkait robot terbarunya. ”Jangan. Bentuknya sudah paten. Yang jelas, fungsinya sama. Hanya saja tidak mengeluarkan suara,” katanya. Penelitian itu harus selesai November nanti dengan total dana Rp 350 juta. (alb/jpnn)

Batampos

TEKNOLOGI IRIDOLOGI INDONESIA

Sebuah karya anak bangsa yang telah bergelut selama 10 tahun dibidang Pemrograman Delphi dan Analisa Data berhasil membuat sebuah produk TEKNOLOGI IRIDOLOGI tidak kalah canggih dibandingkan dengan teknologi import yang beredar. Bahkan bisa dikatakan hasil yang di dapat dari teknlogi anak bangsa ini lebih jernih dan lebih jelas. Selalu melakukan update dalam kemampuan alat tersebut. Sampai saat ini sudah mengalami perbaikan hingga sampailah ke Versi 3-nya. Alat ini didukung dengan kemampuan menganalisa penyakit melalui mata pasien dan sekaligus dapat menentukan obat yang dibutuhkan pasien. Model, Penampilan, dan Fasilitanya dapat diatur sesuai yang anda inginkan. Serahkan pada Ahlinya. Produk ini sudah banyak diterapkan oleh para Terapis, Herbalis dan praktisi-praktisi penyelenggara pelayanan kesehatan di masyarakat. Bahkan sudah diekspor ke Malaysia. Maka sudah waktunyya anda memanfaatkan teknologi ini untuk praktek pelayanan kesehatan yang anda jalani. Anda bisa menggunakannya sebagai perorangan atau di suatu lembaga menengah dan besar sekalipun. Sudah waktunya untuk lebih maju. Program Teknologi Iridologi ini adalah program yang memudahkan para terapis dalam menganalisa IRIS MATA pasien. Pada Versi 3 sistem ini sudah bisa ingklut dengan kamera, sehingga sangat memudahkan penggunaannya.

sariherbal

Selasa, 02 Februari 2010

Indonesia Punyai Potensi Besar Kembangkan Nuklir

13 Desember 2007
Indonesia Punyai Potensi Besar Kembangkan Nuklir

Indonesia mempunyai potensi besar mengembangkan nuklir sebagai sumber pengobatan maupun energi karena memiliki simpanan bahan baku uranium yang besar, yakni di Kalimantan, Sumatera, dan Papua.
Meski tak mengetahui secara persis jumlah kandungan uraniumnya, Kepala Bidang Operasi Reaktor Serpong Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) Alim Tarigan menyatakan saat ini pengembangan nuklir di Pusat Reaktor Serpong menggunakan uranium dalam negeri. Batan memproduksi sendiri bahan bakunya jenis 0308SI. Namun, untuk mengoperasikan reaktor penelitian lebih rumit ketimbang reaktor pembangkit listrik. Sebab, reaktor pembangkit yang cukup diisi bahan baku sekali itu akan beroperasi sendiri secara otomatis selama setahun. Semua sistemnya otomatis, sedangkan reaktor penelitian harus dimatikan dan dihidupkan kembali,” jelasnya, seperti dikutip dari Sindo, 12/12.

Secara konsep, pemanfaatan nuklir memang kelihatan lebih sederhana jika dibandingkan pembangkitan lainnya. Reaktor nuklir adalah tempat atau wadah berlangsungnya reaksi fisi yang terkendali dengan bahan bakarnya uranium. Prosesnya, netron ditembakkan pada uranium sehingga menghasilkan dua atau tiga neutron yang kemudian menghasilkan energi panas dan radiasi.
Penggunaan hasil reaktor ini bergantung pemanfaatannya. Jika digunakan untuk pembangkitan listrik, energi panasnya yang diambil guna menggerakkan turbin generator sehingga menghasilkan energi listrik. Menurut Alim, pembangkit tipe pressurizer water reactor (PWR) merupakan yang paling banyak digunakan di dunia. Bahkan, kini sedang dikembangkan uranium yang kekuatannya setara 400 megawatt thermal atau 1.300 megawatt electric.
Itu bukan hal yang tak mungkin karena Indonesia sudah puluhan tahun memiliki tiga reaktor,di Bandung, Yogyakarta, dan Serpong. Jumlah ahli nuklir untuk laboratorium Serpong sudah mencapai ratusan orang, belum ditambah di dua tempat lain.

Uranium memiliki kelebihan karena punya potensi kekuatan besar. Untuk pembangkitan listrik, bahan baku cukup diisi satu kali untuk setahun tanpa mengganti bahan bakar. Tentu jika dibandingkan dengan bahan bakar minyak yang digunakan untuk pembangkit listrik, nuklir sangat hemat.
Pengaktifan uranium untuk menghasilkan neutron pun cukup hanya satu kali ketika proses pertama dilakukan, yakni penembakan neutron ke uranium dengan pemicu amnesium barelium yang dicampur dan menghasilkan neutron. Untuk selanjutnya, uranium akan mengeluarkan neutron dengan sendirinya.
Memang jumlah neutron yang dihasilkan sungguh besar, yakni berdasarkan estimasi sekitar 10 x 1014. Sementara itu, untuk mengendalikan produksi neutron tersebut menggunakan batang kendali yang diatur secara otomatis sesuai kebutuhan.** (Ardan)

technologyindonesia

Senin, 01 Februari 2010

Hovercfraft Versi Militer

PT DI Produksi Hovercfraft Versi Militer


PT Dirgantara Indonesia (PT DI), Bandung, kini melakukan diversivikasi produknya, dengan memproduksi alat angkut perairan, hovercraft versi militer.

"Saat ini tengah menyelesaikan dua hovercraft versi militer pesanan Departemen Pertahanan. Ini produksi pertama PT DI dan akan dikembangkan untuk pesanan pihak lain dengan berbagai versi," kata juru bicara PT DI Rokhendi di Bandung, Senin (1/2).

Ia mengatakan, alat angkut perairan hovercraft itu untuk menyambung pengangkutan barang, logistik dan alat berat dari kapal laut ke pantai, karena kapal besar tidak dapat merapat ke pantai.

Selain itu, alat itu juga dapat dioperasikan di daerah yang berawa-rawa serta perairan sungai besar. "Hovercraft cocok untuk mengangkut akomodasi dari kapal besar ke pantai, juga bisa mengangkut alat berat dan ke daratan tempur untuk mendarat," kata Rokhendi.

Hovercraft berbeda dengan kapal laut, karena berbentuk seperti perahu karet ukuran besar dan menggunakan dua unit baling-baling yang digerakkan di bagian buritan.

Alat angkut itu meluncur di permukaan air, maupun darat dengan permukaan datar. Sedangkan kapal laut digerakan dengan baling-baling di dalam air. "Hovercraft cocok untuk melengkapi alat transportasi di kawasan perairan dan rawa-rawa. Alat ini tak membutuhkan permukaan air, karena bergerak di atas permukaan air," kata Rokhendi.

Ia menyebutkan, PT DI siap menerima pesanan perangkat alat utama sistem pertahanan (alutsista), di mana pemerintah akan menggunakan produk-produk lokal.

Gatra

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More