Pesawat KF-21 (CNBC)Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Korea Selatan semakin kokoh di sektor pertahanan. Dalam pertemuan bilateral di Blue House, Seoul (1/4), Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan komitmen untuk menuntaskan proyek bersama pesawat tempur KF-21.
Meski tidak ada kesepakatan pertahanan baru yang diumumkan secara resmi dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin mengonfirmasi bahwa proyek pengembangan jet tempur homegrown Korea Selatan ini berjalan sesuai rencana (on track).
Target penyelesaian pengembangan ditetapkan pada Juni 2026 mendatang.
Menuju Fase IF-21
Proyek yang telah berjalan lebih dari satu dekade ini akan memasuki babak baru. Selain KF-21, kedua negara juga berkomitmen untuk bekerja sama dalam proyek tindak lanjut yang disebut sebagai IF-21.
Beberapa poin krusial dalam dinamika proyek ini antara lain:
Pertama: Komitmen Pembayaran: Pemerintah Korea Selatan menyatakan ekspektasinya agar Indonesia dapat menyelesaikan kewajiban pembayaran terkait program pengembangan bersama ini pada akhir tahun 2025 atau sebelum tenggat penyelesaian proyek.
Kedua; Rencana Akuisisi: Korea Aerospace Industries (KAI) mengungkapkan tengah menjajaki potensi penjualan unit KF-21 ke Indonesia. Kabar yang beredar menyebut Jakarta mempertimbangkan untuk memboyong batch awal sebanyak 16 unit pesawat tempur tersebut.
Ketiga; Kerjasama Alutsista Lain: Selain jet tempur, kemitraan akan diperluas pada pengadaan pesawat latih, sistem rudal pandu anti-tank, hingga amunisi.
Presiden Prabowo Subianto, yang juga mantan jenderal, menekankan bahwa kapabilitas pertahanan yang kuat adalah syarat mutlak bagi terciptanya perdamaian. "Perdamaian dan stabilitas membutuhkan keamanan dan pertahanan yang kokoh," ujar Prabowo.
Prabowo menilai Korea Selatan sebagai mitra strategis yang memiliki keunggulan teknologi dan industri yang mampu melengkapi kebutuhan Indonesia. Sebaliknya, Seoul memandang Indonesia sebagai mitra penting karena kelimpahan sumber daya alam dan potensi pasar yang besar.
Sinergi Energi dan Pertahanan
Selain urusan jet tempur, pertemuan ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai penopang ketahanan energi Korea Selatan.
Di tengah ketidakpastian konflik di Timur Tengah, Seoul sangat mengandalkan pasokan LNG dan batu bara dari Indonesia untuk menjaga stabilitas rantai pasok domestik mereka.
Data menunjukkan pada tahun 2025, Korea Selatan mengimpor 2,1 juta ton gas alam cair atau LNG dari Indonesia.
Sebagai imbal balik strategis, kedua negara juga menyepakati kerja sama di bidang baru seperti pusat data (data center), energi terbarukan, hingga teknologi kecerdasan buatan (AI).
✈ Kontan
0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.