blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Kamis, 31 Juli 2025

PT Republik Roketsan Indonesia Akan Produksi Rudal Jelajah Çakir

  💥 Menandatangani perjanjian ToT produksi bersama Rudal jelajah Çakir bisa digunakan dari udara dan darat. (Roketsan)

Roketsan dan PT Republik Roketsan Indonesia (RRI) menandatangani perjanjian strategis untuk memproduksi sistem rudal canggih Çakir secara lokal di Indonesia.

Melalui alih teknologi dan pembangunan lini produksi dalam negeri, kerja sama ini memperkuat kemandirian pertahanan sekaligus mempercepat pertumbuhan industri manufaktur berteknologi tinggi di Indonesia.

Prototipe kapal rudal siluman rancangan Republik Palindo direncanakan akan dipersenjatai rudal jelajah Çakir (Okezone)
Kerja sama ini akan melibatkan transfer keahlian, penciptaan lapangan kerja bagi insinyur dan teknisi lokal, serta mendorong keterlibatan industri nasional dalam rantai pasok global.

Sebuah langkah besar menuju Indonesia yang mandiri, inovatif, dan siap bersaing di industri pertahanan regional maupun internasional.

  🚀 
Republikorp  

ITS Rancang Kapal Perang Multifungsi 'Terbesar' untuk TNI AD

⚓ 🎥 👷Kapal LCU ADRI LIII hasil rancang desain ITS (X)

Akademisi Departemen Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (DTSP ITS) merancang kapal jenis Landing Craft Utility 2.500 DWT bernama ADRI LIII. Bahkan menjadi kapal perang multifungsi terbesar yang dimiliki TNI Angkatan Darat (AD).

Kapal ADRI LIII memiliki panjang 102 meter, lebar 18 meter, dan dirancang mampu mengangkut berbagai jenis alat utama sistem persenjataan (alutsista) hingga kapasitas 2.500 Deadweight Tonnage (DWT).

Desainer utama ADRI LIII sekaligus Kepala Prodi Pascasarjana DTSP ITS Prof Dr Ir Agoes Santoso MSc MPhil CEng FIMarEST MRINA mengatakan, proses mendesain kapal tersebut mulai tahun 2023 hingga 2025.

DTSP ITS mengerjakan rancangan desain kapal bersama dosen, mahasiswa, alumni, hingga Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS).

"Tim DTSP ITS telah mengembangkan spreadsheet dan database khusus yang memungkinkan secara teknis konsisten untuk diterapkan pada berbagai jenis desain kapal. Meskipun demikian, prosesnya memerlukan kejelian untuk mengimplementasikan regulasi kelas dan standar dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI," kata Agoes, Selasa (29/7/2025).

Guru Besar Teknik Sistem Perkapalan ITS ini menjelaskan, ada tahapan krusial dalam perancangan kapal. Yakni terletak pada pembuatan key-plan drawings yang harus memenuhi standar menjamin kekuatan, kenyamanan, keselamatan, dan umur operasional kapal.

"Semua tim DTSP ITS mengerjakan seluruh proses desain, mulai dari eksterior, konstruksi, outfitting, permesinan, kelistrikan, hingga interior kapal tersebut. ITS pun juga dilibatkan untuk mendampingi dan mengevaluasi pembangunan fisiknya sampai uji fungsi kapal," jelasnya.

Setelah proses desain dan pembangunan fisik kapal selesai, dilanjutkan serangkaian uji untuk memastikan seluruh sistem dan fasilitas berjalan sesuai rencana.

Pada tahapan ini, seluruh alutsista yang dirancang untuk dibawa kapal, mulai dari kendaraan taktis, mobil, tank hingga perlengkapan tempur lainnya harus berhasil dimasukkan dan ditata sesuai kapasitas.

"Selain itu, juga menguji performa kapal agar menjamin kenyamanan manusia di dalamnya," ujar Kepala Pusat Desain Kapal Perang Science Techno Park (STP) Maritim ITS ini.

Agoes menyebut, TNI AD merespon positif kapal ADRI LIII. Bahkan diyakini bakal lebih memprioritaskan ITS untuk pekerjaan desain kapal lainnya.

"Fasilitas yang dibangun oleh Kemhan dapat dimanfaatkan secara maksimal berkat dukungan keahlian dari ITS yang kompeten dalam perencanaan kapal," tegasnya.

Keberhasilan ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-9, yakni Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Hal itu menunjukkan komitmen nyata ITS dalam mendukung inovasi dan infrastruktur industri pertahanan nasional.

"Semoga hal ini dapat membuka lebih banyak peluang pengembangan kapal militer di Indonesia dan mengembangkan keilmuan di ITS," pungkasnya. (dpe/abq)

  📹  Berikut video ujifungsi kapal dari Youtube : 


  🎥  detik  

Rabu, 30 Juli 2025

Elang Hitam Akhirnya Uji Terbang Perdana dari Bandara Kertajati

🛩  Ambisi kuat Indonesia kuasai drone MALE Drone Elang Hitam sukses terbang perdana (PTDI)

Sebuah drone tempur buatan dalam negeri akhirnya mengudara.

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) resmi melaksanakan uji terbang pesawat tanpa awak jenis Medium Altitude Long Endurance (PTTA MALE) bernama Elang Hitam di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Senin, 28 Juli 2025.

Uji coba ini bukan sekadar manuver teknis, melainkan penanda ambisi Indonesia untuk mandiri dalam teknologi strategis pertahanan udara.

Uji terbang dilakukan dengan pengawalan pesawat Kodiak milik PTDI yang bertindak sebagai chaser aircraft, guna memantau kinerja dan menjamin aspek keselamatan. Bagi PTDI, ini adalah fase penting dari proses panjang menuju sertifikasi resmi dan pengakuan sistem udara nirawak nasional.

Proyek Elang Hitam bukan kerja satu badan. Ia dibangun lewat skema konsorsium nasional yang melibatkan sejumlah institusi strategis seperti Kementerian Pertahanan RI, TNI AU, PT Len Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB), serta BRIN yang membawahi eks-BPPT dan LAPAN.

PTDI sendiri bertindak sebagai lead integrator—pengendali utama yang memimpin seluruh tahapan mulai dari desain konseptual, prototyping, hingga pengujian.

Ini bukan sekadar uji terbang, tapi pembuktian penguasaan teknologi kunci, termasuk sistem kendali otomatis dan komunikasi jarak jauh yang jadi syarat utama PTTA kelas MALE,” ujar Moh Arif Faisal, Direktur Niaga, Teknologi & Pengembangan PTDI di kutip Selasa (29/7/2025).

Konsep ini akan menjadi fondasi pengembangan drone strategis ke depan.” imbuhnya.

Sebagai drone MALE pertama buatan Indonesia dengan bobot lebih dari satu ton, Elang Hitam dirancang mampu mengudara selama 24 jam pada ketinggian 20.000 kaki.

Arsitektur sistemnya modular dan terbuka, memungkinkan adaptasi misi, baik militer seperti pengintaian dan pengawasan perbatasan, maupun sipil seperti mitigasi bencana dan patroli maritim.

Dengan teknologi yang dikembangkan secara independen, Elang Hitam tak sekadar menjadi produk, tetapi simbol transisi Indonesia dari pengguna teknologi ke negara perancang. Dalam kancah global, hanya segelintir negara—seperti Amerika Serikat, Turki, dan India—yang mampu merancang dan memproduksi drone MALE sendiri.

Langkah ini juga menindaklanjuti arahan Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang menekankan pentingnya membangun ekosistem pertahanan nasional berbasis kolaborasi antarlembaga.

Elang Hitam, dengan segala kerumitannya, menjadi cerminan potensi ekosistem tersebut jika dikelola secara berkelanjutan.

Pesawat ini bukan akhir, tapi awal dari lompatan teknologi kita. Elang Hitam adalah fondasi industri drone strategis Indonesia,” tegas Arif Faisal.

Jika sukses melewati semua tahapan sertifikasi, Indonesia akan resmi bergabung ke dalam barisan elite negara produsen drone MALE.

Tantangannya kini bukan lagi membangun, melainkan memastikan keberlanjutan: dari lini produksi, pembiayaan, hingga keberpihakan kebijakan negara.***

 Berikut video dari Youtube : 


  🛩 Bandung Oke  

Selasa, 29 Juli 2025

KSAD Terbang ke Turki

 🤝  Perkuat alih teknologi dan kerjasama strategis KSAD Kunjungi pameran alutsista IDEF 2025 (Dispenad)

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak melakukan kunjungan kerja ke Turki, sejak Jumat (25/7).

Kunjungan ini untuk mempererat hubungan bilateral dan memperkuat kerja sama militer antara TNI Angkatan Darat dengan Angkatan Bersenjata Turki, khususnya dalam bidang alih teknologi dan pengembangan industri pertahanan.

Hari pertama, Maruli meninjau langsung International Defence Industry Fair ke-17 (17th IDEF) tahun 2025, sebuah pameran industri pertahanan berskala internasional yang berlangsung di Istanbul pada 22–27 Juli 2025. IDEF menjadi ajang penting dalam memperluas wawasan strategis dan memperkuat sinergi pertahanan global.

Selain menghadiri IDEF, Maruli juga melaksanakan pertemuan kehormatan (courtesy call) dengan sejumlah pejabat tinggi Republik Turki, yakni Menteri Pertahanan H.E. Yaşar Güler, Kepala Staf Umum Angkatan Bersenjata Turki Jenderal Metin Gürak, dan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Selcuk Bayraktaroglu.

Dalam pertemuan tersebut, Maruli menyampaikan apresiasi atas kebijakan Turki dalam membangun kemandirian industri pertahanan nasional, yang juga sejalan dengan visi pertahanan Indonesia, khususnya dalam upaya mengurangi ketergantungan pada impor alutsista.

Kementerian Pertahanan Turki telah menjadi mitra penting dalam transformasi pertahanan Indonesia, termasuk melalui kerja sama industri pertahanan dan alih teknologi,” ujar Kasad.

Maruli juga menegaskan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto dan Menteri Pertahanan RI memiliki keinginan kuat untuk memperkuat joint venture dan joint production alutsista, namun juga menekankan pentingnya kerja sama langsung antar Angkatan Darat kedua negara.

 Buka peluang kerjasama pengembangan dan ToT UCAV Baykar 
TNI AD buka peluang pengembangan dan alih teknologi Unmanned Combat Aerial Vehicle (UCAV) atau pesawat tempur nirawak dengan Baykar, perusahaan pengembang alutsista modern Turki.

Hal ini dipastikan saat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengunjungi pabrik Baykar, Jumat (25/7).

Kunjungan ini menjadi langkah awal untuk menjajaki peluang kerja sama pengembangan dan alih teknologi UCAV guna mendukung kesiapan operasional dan profesionalisme prajurit TNI AD,” bunyi keterangan dari Dispenad dikutip Senin (28/7).

Dijelaskan pula, kunjungan ini juga mencerminkan komitmen TNI AD dalam memperkuat diplomasi militer yang adaptif terhadap tantangan global, serta mendukung kebijakan pertahanan negara yang berpijak pada kemandirian teknologi dan penguatan postur pertahanan.

Baykar saat ini memproduksi sistem UAV/bersenjata taktis bernama Bayraktar TB2 yang memiliki kemampuan Medium Altitude Long Endurance (MALE).

UAV ini dikatakan mampu menjalankan misi Intelijen, Pengawasan, dan Pengintaian (ISR) serta serangan bersenjata. Dilengkapi dengan sistem avionik triple redundant, Bayraktar TB2 memungkinkan pendaratan, lepas landas, pendaratan, dan jelajah yang sepenuhnya otonom.

TB2 telah membuktikan keampuhannya dengan lebih dari 1.000.000 jam terbang operasional. Sejak 2014, Bayraktar TB2 terus menjalankan misi dengan sukses di Angkatan Bersenjata Turki, Gendarmerie, dan Kepolisian Nasional Turki. Saat ini, 257 platform Bayraktar beroperasi di Turki, Qatar, Ukraina, dan Azerbaijan.

Bayraktar TB2 memegang rekor dalam sejarah penerbangan Turki untuk kemampuan daya tahan (dengan 27 jam 3 menit) dan untuk ketinggian (dengan 25.030 kaki). Bayraktar TB2 juga merupakan pesawat pertama dalam kategorinya yang diekspor ke luar negeri. (rr)

  IDM  

Senin, 28 Juli 2025

UAV DID 3.11 BLOS Sukses Terbang

✈ Mengusung teknologi Beyond Line of Sight (BLOS) UAV DID 3.11 BLOS sukses terbang (LEN)

Dengan bangga kami persembahkan UAV DID 3.11 BLOS, pesawat tanpa awak karya anak bangsa, hadir sebagai wujud nyata inovasi teknologi pertahanan dalam negeri.

Mengusung teknologi Beyond Line of Sight (BLOS) berbasis satelit, UAV ini dirancang untuk menjangkau wilayah terpencil dan menjalankan berbagai misi strategis, mulai dari pengawasan wilayah, pertanian presisi, logistik udara, hingga penanggulangan bencana alam.

Kehadiran UAV ini juga mempresentasikan kuatnya kolaborasi, semangat kemandirian, dan upaya memperkuat ekosistem industri UAV dalam negeri menuju daya saing global.

 
LEN  

Minggu, 27 Juli 2025

PTDI dan Havelsan Sepakati Kerjasama Pengembangan Pesawat MPA, AEW&C, dan Simulator CN235

https://blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,f_auto,q_auto:best,w_640/v1634025439/01k12t2mchtc1c28qsb1nwqhjf.jpgPT Dirgantara Indonesia (PTDI) meneken kerja sama dengan industri pertahanan Turki Havelsan, kembangkan pesawat AEW&C (Airborne Early Warning & Control) di acara International Defence Industry Fair (IDEF) 2025, Jumat (25/7/2025). (Dok. PTDI)
D
i ajang IDEF 2025 yang berlangsung di Istanbul, Turkiye (22-27 Juli) PT Dirgantara Indonesia (PTDI) telah menyepakati sejumlah perjanjian kerja sama strategis dengan perusahaan Havelsan dari Turkiye.

Kerja sama tersebut khususnya dalam program pengembangan Maritime Patrol Aircraft (MPA) dan Maritime Surveillance Aircraft (MSA) menggunakan platform CN235.

Termasuk juga pekerjaan untuk modernisasi, perakitan dan manufaktur bagi calon pelanggan, baik untuk kebutuhan Indonesia, Turkiye, maupun kebutuhan mancanegara.

Di samping itu, PTDI dan Havelsan juga menekankan kembali kolaborasi dalam pengembangan simulator pesawat CN235-220 untuk memenuhi kebutuhan pasar global.

Dukungan Havelsan sebagai pemain utama dalam teknologi simulasi dan sistem pertahanan akan menjadi katalis penting bagi peningkatan daya saing PTDI.

Ke depan, PTDI dan Havelsan juga akan mengembangkan program pesawat AEW&C (Airborne Early Warning & Control) untuk kebutuhan kedua negara.

Selain dengan Havelsan, di IDEF 2025 PTDI juga menjalin kesepakatan kerja sama dengan perusahaan Turkiye lainnya yakni Aselsan untuk mengeksplorasi potensi kolaborasi dalam program keberlanjutan (sustainability program) pesawat CN235.

Kolaborasi ini mencakup berbagai aspek strategis, antara lain dukungan sistem, peluang peningkatan kapabilitas, logistic solutions, hingga kerja sama teknis, yang diharapkan dapat memperkuat keandalan dan umur operasional pesawat CN235. (RBS)

  🤝 Airspace Review  

PT PAL Perkuat Sistem Senjata Kapal Perang TNI AL

   Gandeng Perusahaan Turkiye PAL Indonesia kerjasama dengan Roketsan perkuat alutsista TNI AL (PAL Indonesia)

PT PAL Indonesia menjalin kerja sama dengan perusahaan pertahanan asal Turkiye, Roketsan Sanayi ve Ticaret A.S. Kerja sama ini mencakup pengadaan sistem senjata untuk kapal Frigate Merah Putih melalui skema Fitted For But Not With (FFBNW) dan untuk proyek refurbishment kapal perang TNI AL (R-41).

Kerja sama ini mempertegas posisi PT PAL sebagai lead integrator Alutsista matra laut di Indonesia, baik dalam platform dan sistem senjata/sewaco.

Penandatanganan kontrak dilakukan langsung oleh CEO PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, dan CEO Roketsan, Murat Ikinci, dalam ajang International Defence Industry Fair (IDEF) 2025 yang digelar di Istanbul, Turkiye, Kamis (24/7/2025).

Melalui kerja sama ini, PT PAL memperkuat perannya sebagai lead integrator alutsista matra laut, mencakup integrasi platform, sistem senjata, dan sistem komunikasi tempur (sewaco).

Salah satu fokus kerja sama ini adalah pengadaan sistem Midlas Vertical Launch System (VLS) untuk kapal Frigate Merah Putih. VLS akan diintegrasikan menggunakan skema Fitted For But Not With (FFBNW), yaitu desain kapal yang telah disiapkan untuk pemasangan sistem senjata lanjutan di masa depan.

Namun, menurut Kaharuddin, skema FFBNW bukan sekadar menyediakan ruang kosong di kapal. Implementasinya adalah proses rekayasa kompleks. Dibutuhkan pemahaman mendalam dalam mengintegrasikan sistem kendali kapal, mulai dari navigasi, sensor, hingga peluncur rudal.

Kemampuan ini menjadi aset strategis yang sangat vital. Di situlah letak kekuatan dalam merancang bangun kapal perang secara menyeluruh,” kata Kaharuddin Djenod dalam keterangan tertulis, Jumat (25/7/2025).

  Rudal Atmaca untuk Proyek R-41 
Rudal Atmaca perkuat AL Turki (AA)
Selain sistem VLS, kerja sama juga mencakup pengadaan sistem rudal Surface-to-Surface Missile (SSM) Atmaca yang akan digunakan dalam program refurbishment kapal perang TNI AL, khususnya untuk kapal kelas Fatahillah, Fast Patrol Boat (FPB), dan Parchim Pattimura Class.

Kaharuddin menekankan bahwa kerja sama ini bukan sekadar bagian dari proyek strategis nasional, tapi juga upaya nyata untuk memperkuat kapabilitas industri pertahanan nasional melalui transfer teknologi dan pengetahuan antara Indonesia dan Turkiye.

"Kami yakin kerja sama ini akan memperkuat interoperabilitas dan hubungan industri pertahanan kedua negara. Terlebih, dukungan Menteri Pertahanan sangat besar untuk mewujudkan kemandirian pertahanan nasional," ujar Kaharuddin.

Pemerintah juga membuka peluang lebih luas dalam diplomasi teknologi, yang dapat mendorong PT PAL memperluas jaringan global dan memperkuat posisinya sebagai mitra strategis internasional di sektor pertahanan.

  👷 
Kompas  

Sabtu, 26 Juli 2025

TAI Menandatangani Kesepakatan Ekspor Jet Tempur KAAN ke Indonesia

Perjanjian termasuk produksi, rekayasa dan ToT https://image.hurimg.com/i/hurriyet/75/750x422/68824225c25059b6e3093a19.jpgKesepakatan ToT ditandatangani di Istambul, Turkiye (TAI)

Turkish Aerospace Industries menandatangani perjanjian dengan PT Republik Aero Dirgantara dan PT Dirgantara Indonesia untuk mengekspor 48 unit KAAN selama Pameran Industri Pertahanan Internasional 2025.

Turkish Aerospace Industries (TAI) pada hari Kamis mengumumkan kesepakatan dengan dua perusahaan pertahanan Indonesia, PT Republik Aero Dirgantara dan PT Dirgantara Indonesia, untuk mengekspor jet tempur KAAN.

TAI menandatangani perjanjian ekspor 48 unit KAAN selama Pameran Industri Pertahanan Internasional (IDEF) 2025.

Perjanjian tersebut membahas produksi, rekayasa, dan pembagian teknologi.

https://idsb.tmgrup.com.tr/ly/uploads/images/2025/06/11/386388.jpgPresiden Recep Tayyip Erdogan mengumumkan ekspor KAAN pada pertengahan Juni.

TAI akan mengirimkan unit KAAN dalam 120 bulan, dengan mesin yang diproduksi di dalam negeri di Turki.

Edisi ke-17 pameran pertahanan IDEF yang berlangsung selama enam hari, dimulai pada hari Selasa, diselenggarakan secara serentak di Istanbul Fair Center, Bandara Atatürk, Hotel Wow, dan Marina Atakoy.

Acara yang diselenggarakan oleh KFA Fairs dengan dukungan dari Sekretariat Industri Pertahanan Turki (SSB) dan Yayasan Angkatan Bersenjata Turki ini, menggandeng Anadolu sebagai mitra komunikasi globalnya.

  👷 AA 

Jumat, 25 Juli 2025

Menyibak Kendali Tempur Rahasia TNI

Kemhan diketahui sedang berkolaborasi dengan Turki untuk mengadopsi radar seperti yang digunakan pesawat AEW&C jenis E-7A Wedgetail untuk platform pesawat yang belum ditentukan (@Macaskeel)

Diam-diam, TNI mengembangkan kendali tempur untuk memadukan persenjataan buatan beragam negara. Cara sejenis dipakai Pakistan menghadapi India.

Operasi TNI 2021 dan perang udara India-Pakistan 2025 menunjukkan, integrasi persenjataan jadi kunci keunggulan tempur. Bagi negara dengan pemasok senjata beragam seperti Indonesia, integrasi menjadi tantangan dan kebutuhan.

Marsekal (Purn) Hadi Tjahjanto dan Marsekal Madya (Purn) Eris Herryanto menekankan pentingnya integrasi itu. Pada masa tugas Hadi sebagai panglima, TNI beberapa kali mempratikkan Pertempuran Bertumpu Jaringan atau Network Centric Warfare (NCW). Setiap NCW mengandalkan integrasi sistem persenjataan secara terpadu dan seketika, serta pengambilan dan eksekusi keputusan cepat dan tepat.

Bagi Indonesia, menurut Hadi dan Eris, integrasi itu tidak mudah. Untuk pesawat tempur saja, Indonesia membeli dari Amerika Serikat, Rusia, Korea Selatan, dan Brasil. ”Sebentar lagi kita punya Rafale buatan Perancis,” kata Eris yang pernah menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan RI (2010-2013) itu, Selasa (3/6/2025), di Jakarta.

Hadi mengatakan, produsen pesawat tempur seperti AS-Rusia tidak akan mau membuka tautan data (data link) produk mereka. Sebab, tautan itu rahasia dan kunci keunggulan teknologi produsen. Di sisi lain, tautan itu menjadi kunci integrasi kendali tempur.

Indonesia pernah membuktikan itu di masa tugas Hadi sebagai panglima. India dan Pakistan dalam pertempuran udara Kashmir 2025 juga membuktikan hal itu. Data yang ditautkan antara lain yang dikumpulkan dari prajurit di darat, jet tempur atau helikopter serbu, pesawat intai, hingga satelit dan radar.

Pakistan melakukan itu dengan menggabungkan pengintaian dari pesawat buatan Swedia, Saab Erieye, dan radar-satelit China. Data pengintaian itu memandu rudal PL-15E buatan China dari jet tempur J-10C yang juga dibuat China menyasar jet buatan Perancis, Rafale.

Pakistan, kata Eris, bisa unggul karena bisa mengintegrasikan data lintas produsen itu. Rudal ditembakkan lebih dari 100 kilometer dari sasaran. Dalam teknologi perang udara, dikenal istilah beyond visual range (BVR) atau jauh dari jangkauan penglihatan untuk serangan seperti itu.

 Kembangkan sendiri 
CN295 A-2910 pesawat special mission TNI AU (Fahmun)
Eris juga menekankan kecilnya peluang negara produsen membuka tautan data produk pertahanan mereka. Dalam kasus RI, salah satu alasan tidak dibuka data adalah pembelian yang kecil.

Cara yang bisa dilakukan adalah pembelian dengan sistem offset di mana sebagian atau seluruh perakitan alutsista dilakukan di negara pembeli yang disertai alih teknologi. Ada cara lain lagi, yakni dengan upgrade alutsista secara mandiri. Jika berhasil melakukan upgrade, kemampuan suatu negara akan semakin diperhitungkan,” kata Eris yang merupakan penerbang generasi pertama jet tempur F-16 TNI AU.

Keberhasilan meningkatkan kemampuan perangkat tempur akan membuat militer Indonesia semakin diperhitungkan. Sebab, TNI teruji bisa mengembangkan kemampuan secara mandiri.

Indonesia tidak diberi akses tautan data. ”Kita siasati dengan mengembangkan perangkat lunak sendiri secara diam-diam yang bisa menghubungkan komunikasi dan data real time antar berbagai alutsista kita. Ketika itu, Pusat Kendali TNI, pesawat intai TNI AU (dilengkapi kamera intai seperti yang digunakan pesawat intai P-8 Poseidon), helikopter serbu yang membawa roket, dan pasukan TNI AD di daratan beroperasi serempak dan terintegrasi,” kata Hadi.

Ia menyinggung operasi 2021 di Nduga, Papua. Pasukan TNI AD berkoordinasi dengan pesawat intai TNI AU yang dibuat Boeing, produsen AS. Koordinasi juga dilakukan dengan awak helikopter serbu dari Pusat Penerbangan TNI AD (Puspenerbad).

Pasukan TNI AD mengoperasikan pesawat nirawak sekaligus pemukul di darat. Sementara heli Puspenerbad menjadi penyerang udara. Adapun pesawat intai TNI AU menjadi sarana pemantau dan peringatan dini. Semua data itu masuk ke Pusat Komando dan Pengendalian (Puskodal) Markas Besar TNI. Hadi memantau operasi itu dari Puskodal.

Pasukan di darat memberikan koordinat sasaran ke pesawat intai dan heli serbu. ”Ketika itu data belum ditampilkan di layar radar, tetapi dalam saluran informasi dan data kordinat bisa dimunculkan dengan membentuk data link sendiri antar berbagai persenjataan yang dibuat pabrikan berbeda itu,” kata Hadi.

Sebelum operasi 2021, Hadi menginstruksikan uji coba dalam latihan di Situbondo, Jawa Timur, pada 2021. Puskodal di Mabes TNI memantau latihan serbu oleh pesawat nirawak CH4 yang terbang dari Pangkalan Udara TNI AL (Lanudal) Juanda, Sidoarjo. Sementara di Situbondo ada kapal TNI AL, tank TNI AD, dan unit-unit lain TNI.

Dalam latihan itu TNI menggunakan tautan data sendiri. Selain lebih sesuai dengan kebutuhan internal, tautan data buatan sendiri mengurangi celah penyadapan oleh pihak lain.

Setelah masa jabatan Hadi selesai, TNI melakukan sejumlah operasi lain yang sejenis. Hadi optimistis, TNI semakin terasah menerapkan NCW dan siap dengan perkembangan zaman.

 Tantangan serius 
Link ID, LEN sukses kembangkan Link ID hubungkan dua KRI berbeda CMS (LEN)
Atase Pertahanan Kedutaan Rusia di Jakarta Kolonel Senior Maxim Lukianov, yang ditemui dalam muhibah Angkatan Laut Rusia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (3/6/2025), mengatakan, menggabungkan operasionalisasi alutsista dari berbagai pabrikan berbeda negara menjadi tantangan serius dalam operasi militer saat ini.

Dia menceritakan, berbagai negara eks Pakta Warsawa yang kemudian bergabung dengan NATO telah menggabungkan ”Semisal jet tempur Sukhoi milik mereka kini bisa diperlengkapi rudal dan bom buatan NATO,” kata Lukianov.

Ahli senjata ledak dari pabrikan Perancis, La Croix, Sergei Gehin, mengatakan, integrasi tautan data antar senjata sangat penting dan mendasar. Sistem senjata antirudal Sylena Mark 1 dan Sylena Mark 2 yang lebih maju dari penggunaan alat chaff yang selama ini digunakan kapal perang jenis korvet, fregat, hingga kapal perusak.

Dia mengatakan, sistemnya belum terintegrasi dengan alutsista negara yang dianggap berseberangan seperti buatan Rusia dan China. Akan tetapi, negara ketiga yang menggunakan sistem buatan La Croix bisa mengembangkan sendiri koneksi data link senjata yang berasal dari Blok NATO dengan misalnya buatan China atau Rusia.

Gehin baru saja memasang salah satu sistem Sylena ke LPD milik TNI AL yang sedang dibangun di galangan kapal PT PAL, Surabaya. Kini dengan banyaknya alutsista modern di TNI AD, TNI AL, dan TNI AU dari berbagai negara berbeda, kemampuan mengintegrasikan operasionalisasi persenjataan tersebut dalam NCW menjadi kunci agar TNI diperhitungkan di Asia Tenggara yang menjadi ajang pertarungan geopolitik negara-negara besar.

  🖥 
Kompas  

Prancis Akan Latih 400 Insinyur Indonesia Bangun Kapal Selam

⚓️ 👷 Kontrak pembangunan kapal selam Scorpene aktif Naval Group mengumumkan kontrak pembangunan kapal selam Scorpene di Surabaya aktif. (Naval Group)

Perusahaan pertahanan asal Prancis, Naval Group mengungkapkan pengadaan dua unit kapal selam Scorpene Evolved oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk TNI AL, resmi aktif.

Naval dalam pernyataannya di akun X @navalgroup, Rabu (23/7) mengungkapkan dua kapal selam Scorpene Evolved akan dibangun di Indonesia, yakni galangan PT PAL yang berada di Surabaya, Jawa Timur.

Kontrak untuk pengiriman dua kapal selam Scorpene Evolved yang akan dibangun di Indonesia, di galangan kapal PT PAL melalui transfer teknologi dari Naval Group,” tulis Naval.

Sejak menandatangani kontrak pengadaan dua unit Scorpene Evolved dengan Kemhan, pada Maret 2024, Naval Group mengaku telah mengantisipasi implementasi pembangunan kapal selam modern tersebut bersama PT PAL.

Konsorsium Naval Group dan PT PAL telah mengantisipasi implementasinya dengan melakukan kegiatan rancang bangun, pembelian barang dalam waktu lama, dan kegiatan proses planifikasi,” ungkap Naval.

Kemudian, sebagai rangkaian pembangunan dua unit Scorpene Evolved, PT PAL akan memberangkatkan para juru las (welder) ke Prancis untuk mengikuti pelatihan khusus.

Dalam beberapa minggu ke depan, para pengelas PT PAL akan tiba di Perancis untuk mengikuti pelatihan khusus di tempat kerja,” lanjut keterangan tersebur.

Nantinya, Prancis juga akan mengirimkan sekitar 50 orang tenaga ahli ke Indonesia untuk melatih 400 insinyr Indonesia dalam bidang konstruksi kapal selam.

Sebelumnya, Kepala Biro Informasi Kemhan Brigjen Frega Wenas Inkiriwang menyampaikan alih teknologi dari kontrak pengadaan Scorpene Evolved dapat diwujudkan guna mendorong kemandirian industri pertahanan dalam negeri.

PT PAL, kara Frega, tengah mempersiapkan fasilitas modern untuk mempercepat pembangunan kapal selam tersebut.

Scorpene tentunya ini bagian dari kebutuhan strategis Indonesia dengan Prancis, yang kita berharap bisa ada proses transfer teknologi yang tentunya juga membantu kita membangun kemandirian industri pertahanan Indonesia,” kata Frega, Jakarta, Selasa (22/7).

Progres-progres yang dicapai oleh PT PAL salah satunya adalah bagaimana nanti untuk menyiapkan untuk proyek Scorpene ini,” sambungnya.

Saat ini, TNI AL baru memiliki empat kapal selam aktif untuk operasional, yaitu KRI Cakra-401, KRI Nagapasa-403, KRI Ardadeli-404, dan KRI Alugoro-405. Melalui pembelian dua unit Scorpene Evolved ini akan memenuhi kebutuhan postur kekuatan TNI AL 2025-2044 dengan target 12 unit untuk mengawal perairan Indonesia dari Sabang hingga Merauke. (at)

  👷  IDM  

Kamis, 24 Juli 2025

Link ID Sukses Hubungkan Dua KRI Berbeda CMS

  Karya PT Len Industri Link ID, jawaban interoperabilitas TNI AL (LEN)
Dalam momen krusial Integrated Harbour Acceptance Test (HAT) KRI Belati-622, teknologi Tactical Data Link - Link ID karya anak bangsa dari Len sukses melakukan pertukaran data taktis secara real-time dengan KRI Halasan-630. Kedua kapal menggunakan Combat Management System (CMS) dari pabrikan berbeda, Turki dan Denmark namun dengan Link ID, kedua KRI tetap mampu berkomunikasi taktis secara lancar dan efisien.

Keberhasilan ini menandai terobosan interoperabilitas antar platform tempur TNI AL, memperkuat situasional awareness, command and control, serta koordinasi taktis di medan operasi.

Dengan Link ID, TNI AL kini semakin siap membangun jaringan tempur terpadu yang adaptif dan responsif terhadap ancaman multidimensi.

Uji coba ini membuktikan bahwa teknologi lokal mampu menjawab tantangan integrasi sistem tempur modern, sebuah langkah strategis menuju kemandirian pertahanan nasional”, pungkas PT Len.

  🖥 
LEN  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More