blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Sabtu, 28 Juli 2012

IPB Perkenalkan Budidaya Jenuh Air Kedelai

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR - Dosen dan juga peneliti Institut Pertanian Bogor Prof Dr Ir Munif Ghulamahdi, MS memperkenalkan budidaya jenuh air untuk peningkatan produksi kedelai di lahan petani pasang surut.

"Budidaya jenuh air sangat baik dikembangkan di lahan petani pasang surut seperti di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua," katanya saat ditemui di Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor, Jumat (27/7).

Ia mengatakan, dari budidaya jenuh air di lahan pasang surut mampu memproduksi 2 ton kecambah kedelai per hektarnya. Dijelaskannya, produksi nasional kedelai rendah yakni 0,9 juta ton. Kondisi ini yang menyebabkan pemerintah harus impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Rendahnya produksi kendelai lokal disebabkan beberapa hal diantaranya perluasan areal ke lahan sawah banyak terkendala karena konversi lahan (110.000 hektar/tahun) dan persiangan komoditas lainnya. "Oleh karena itu perlu pengembangan lahan sub optimal seperti lahan pasang surut," katanya.

Dijelaskannya, lahan rawa pasang surut di Indonesia sebesar 20,1 juta hektar dan 9,53 juta hektare cocok untuk usaha pertanian. Dari jumlah tersebut 2 juta hektar sesuai untuk kedelai.

Salah satu kawasan rawa pasang surut yang ada di Sumatera Selatan luasnya mencapai 1,3 juta hektare dan 0,33 juta hektare sudah dipergunakan untuk pertanian rapuh atau fragile.

Ia mengatakan, keutamaan dari budidaya jenuh air di lahan pasang surut selain dapat menghasilkan kedelai dalam jumlah banyak juga dapat mengatasi masalah pirit.

"Teknologi udidaya jenuh air menggunakan pola tanam di lahan rawa dimana kedelai ditanam di areal seluas 2 hektare lalu. Kedelai ditanam di bidang lahan seluas 2 meter dimana jarak antara masing-masing bidang dibatasi dengan air," katanya.

eknologi budidaya jenuh air, lanjut Prof Munif telah ia kembangkan di lahan petani di Desa Banyu Urip, Kecamatan Tanjung Lagos, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Dalam penelitiannya tersebut ia mampu menghasilkan 400 kecambah kedelai dalam satu tanaman kedelai.

Pada penelitiannya tersebut ia juga mengukur pengaruh tinggi muka air dan varietas terhadap produktivitas kedelai seperti para kedalaman muka air 10 cm, dapat menghasilkan 0,85 ton perhektar kedelai dari varietas tunggamus, 0,16 ton/ha varietas slamet, 0,30 ton/ha varietas wilis dan 0,09 ton/ha varietas anjasmoro.

Dari pengukuran pengaruh muka air tersebut diketahui semakin dalam muka air semakin tinggi produktivitas kedelai. Ia juga melakukan pengukuran pengaruh muka air dan lebar bedengan terharap produktivitas kedelai. Misalnya tinggi muka air 10 cm dengan lebar bedengan (petakan) 2 m, 4m, 6m dan 8 m.

Hasil penelitian ini juga mengukur pengaruh sistem budidaya dan varietas pada musim tanam I dan II terhadap produktivitas kedelai (tong/ha). "Hasil penelitian budidaya jenuh air ini sudah saya persentasinya dihadapan Kemenristek. Saya optimisi bila ini budidaya ini dilakukan melalui gerakan massal produksi kendelai lokal kita akan meningkat," katanya.

Prof Munif menambahkan, kualitas kedelai lokal Indonesia jauh lebih bagus dari kedelai impor. Kedelai lokal memiliki jenis 'nonstragenick' atau masih alami karena hanya sekali persilangan.

Untuk membuktikan keakuratan hasil penelitiannya, Prof Munif berencana akan kembali menguji coba budidaya jenuh air di lahan yang lebih luas di wilayah Sumatera Selatan. "Tahap awal masih dilahan 2 hektar kedepan akan dicoba di lahan hingga 10 hektar," katanya.

Sumber : Republika

Kopaja Pun Dilengkapi dengan WiFi Gratis

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/07/27/1428042p.png
Photo: Kompas TV
KOMPAS.com — Kamis (26/7/2012) kemarin di Ragunan, Koperasi Angkutan Jakarta atau Kopaja meluncurkan armada bus baru yang dilengkapi dengan fasilitas sambungan jaringan nirkabel (WiFi) gratis. Alhasil, penumpangnya bisa mengusir bosan ketika macet dengan memanfaatkan koneksi internet.

Berbeda dengan bus umum lainnya, armada bus modern dari Kopaja tersebut menggunakan sistem pembayaran berbasis smartcard yang bisa diisi ulang.

Jurusan bus WiFi yang disediakan Kopaja meliputi P-19 dan P-20. P-19 melayani rute Ampera-Arteri-Cideng, sedangkan P-20 melayani rute Bungur-Gunung Sahari-Rasuna Said.

Dishub DKI Jakarta mengutamakan kenyamanan penumpang dalam bus baru dari Kopaja ini. Di dalamnya ada sistem pengaman yang mencegah orang yang tak memiliki smartcard naik ke dalam bus. Jumlah penumpang juga dibatasi.

Sumber : Kompas

Jumat, 27 Juli 2012

DPR Minta Bantuan Kapal Perang Untuk Selamatkan Paus

Komisi IV DPR yang membidangi pertanian, perikanan, kelautan, dan lingkungan hidup meminta kapal batubara dan kapal perang dikerahkan untuk menarik Paus ke samudera.

"Saya juga memantau. Memang posisinya agak sulit karena berada dalam kedalaman yang tidak memungkinkan kapal besar bisa digunakan. Seperti halnya yang sering terjadi terdamparnya ikan paus, sebaiknya arah kepalanya diarahkan ke laut dan menunggu pasang di tarik ke laut. Saya menyarankan agar kapal perang kita dapat menariknya, tentu dengan tali yang agak panjang karena kapal tersebut tidak bisa merapat lebih dekat,"kata Wakil Ketua Komisi IV DPR, Herman Khaeron, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (27/7).

Saran Herman tersebut didasari alasan karena biasanya kapal besar memiliki tenaga kuat. Apalagi di sekitar Karawang banyak kapal pensuplai batu bara ke PLTU Indramayu dan Cirebon. Dengan adanya kapal-kapa tersebut mungkin bisa membantu untuk menariknya.

Selain itu, politisi Partai Demokrat ini melihat, pernggunaan kapal batu bara dan kapal perang bisa untuk kepentingan lingkungan, dan untuk itu dirinya akan mengontak KKP untuk menyelamatkan paus tersebut, apalagi KKP juga ada kapal yang cukup kuat untuk menarik paus.

Diberitakan sebelumnya, seekor paus berbobot dua ton terdampar di perairan dangkal di Pakis Jaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Paus ini terdampar di perairan ini sejak Rabu (25/7) kemarin.

Enam kapal telah dikerahkan untuk menarik paus tersebut agar bisa kembali ke laut lepas. Namun percobaan evakuasi paus ini menemukan kegagalan.

Kementerian Perhubungan melalui Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Ditjen Perhubungan Laut turut membantu evakuasi paus tersebut. Demikian juga Pelindo.

Pertamina pun tak tinggal diam, perusahaan minyak negara ini juga telah mengirimkan kapal-kapal security untuk evakuasi paus. Namun kapal ini kesulitan menarik paus itu. Rencananya Pertamina akan mengirimkan kapal yang lebih besar untuk membantu evakuasi.*

Sumber : itoday

Apa Kabar Industri Pesawat Terbang Indonesia?

Dalam kesempatan kunjungan resmi ke Korea Selatan sebagai kepala staf Angkatan Udara Republik Indonesia,salah satu acara formal adalah mengunjungi lokasi strategis Angkatan Udara Korea di luar Kota Seoul.

Perjalanan ke tempat tersebut dilakukan menggunakan pesawat helikopter yang berpangkalan di salah satu pangkalan udara yang berdampingan dengan Air Force Base, unit dari Angkatan Udara Amerika Serikat. Selesai acara resmi, rombongan kami saat itu tertunda lebih kurang satu jam dalam jadwal perjalanan kembali ke Seoul karena cuaca yang berubah buruk. Seorang kolonel menghadap saya menjelaskan bahwa perjalanan kembali ke Seoul tidak dapat dilaksanakan menggunakan helikopter atau pesawat rotary wing yang tadi.

Disebutkan alasannya adalah pesawat tersebut tidak bisa terbang tinggi berhubung dengan perkembangan keadaan cuaca yang memburuk. Markas Besar di Seoul memerintahkan untuk mengirim sebuah pesawat fixed wing VIP menjemput saya dan rombongan. Setelah pesawat siap, kami pun segera bergegas menuju tempat parkir pesawat. Agak sedikit kaget karena ternyata pesawat fixed wing VIP yang disiapkan tersebut ternyata dari jenis CN-235.

Selesai melaksanakan penghormatan berjajar sesuai dengan prosedur pemberangkatan VIP,sang Captain Pilot dengan tersenyum lebar mendekat ke saya dengan mengatakan penuh bangga bahwa saya akan diantar kembali ke Seoul dengan pesawat fixed wing terbaik yang tersedia di Korea Selatan dan itu adalah pesawat terbang “asli” buatan negara anda! Terharu dalam hati, saya tersenyum sejenak dan mulai meneliti interior CN-235 yang sama sekali belum pernah saya saksikan sebelumnya.

Tidak bisa saya sembunyikan kekaguman terhadap desain interior CN-235 VIP Angkatan Udara Korea Selatan ini.Konon,belakangan setelah itu, saya memperoleh informasi bahwa desain dan perlengkapan VIP interior CN-235 tersebut adalah produk dari pesanan khusus Pemerintah Korea Selatan kepada pihak PTDI.

Terus terang, sangat mewah untuk ukuran Indonesia dan yang istimewa adalah sangat bersih,termasuk lantainya. Yang sangat mengharukan saya adalah melihat bagaimana para awak pesawat bertugas di pesawat itu dengan penuh kebanggaan. Bertugas menerbangkan VIP dengan pesawat khusus buatan Bandung!

Di pertengahan masa jabatan saya lainnya, Panglima Tentara Udara Diraja Malaysia (TUDM) berkunjung tidak resmi ke Surabaya dengan transit semalam di Jakarta. Saya datang menemuinya di salah satu hotel di Jakarta Pusat.Ada rasa ingin tahu,apa gerangan yang menjadi acara penting Panglima ke Surabaya. Ternyata,Panglima TUDM beserta satu set kru lainnya hendak berlatih simulator CN-235 di Surabaya.

Saya bertanya kepada Panglima, Jenderal Dato’ Suleiman, jam berapa tiba dan menggunakan apa? Surprise sekali saya memperoleh jawaban ternyata Panglima mengemudikan sendiri pesawat CN-235 TUDM VIP dengan menyertakan dua co-pilot yang akan berlatih simulator di Surabaya. Jenderal Dato’ Suleiman menceritakan kepada saya betapa dia sangat menikmati terbang dengan CN-235. Saya tidak punya rating/ kemampuan menerbangkan CN-235 karena sebagian besar perjalanan terbang saya adalah menerbangkan C-130 Hercules.

Secara kebetulan, Jenderal Dato’ Suleiman juga mempunyai rating pesawat Hercules. Dengan demikian saya dapat mendiskusikannya agak lebih teknis apa yang dimaksudkannya “nikmat” menerbangkan CN-235 dengan membandingkannya dengan Hercules. Diskusi berakhir dengan pernyataan Panglima TUDM yang sangat saya percaya jauh dari basa-basi bahwa secara teknis, menerbangkan CN-235 tidaklah kalah menyenangkan dari menerbangkan Hercules.

Dia menutup dengan hal yang sangat mengharukan hati saya bahwa seluruh warga TUDM sangat berbangga hati memiliki dan mengoperasikan pesawat CN-235 produksi dari bangsa serumpun! Dari dua uraian ilustrasi tadi, kiranya telah lebih dari cukup untuk mewakili refleksi dari beberapa negara lainnya di kawasan Asia Pasifik yang juga menggunakan pesawat buatan anak bangsa CN-235.

Pesawat tersebut telah membuktikan dirinya, betapa kelas dari hasil jerih payah putra sang Ibu Pertiwi sudah memperoleh pengakuan de facto di panggung global. Sangat disayangkan, kini justru di negeri sendiri kita mulai sulit untuk dapat menyaksikan CN-235 membelah angkasa Nusantara, menjaga persada. Sangat berbeda kehadiran CN- 235 bila dibandingkan dengan pesawat Casa-212 yang juga keluar dari kandungan PTDI.

CN-235 dari sejak awal memang telah lahir dari kerja keras dan olah pikir anak-anak kebanggaan kita.Lahir dari pemikiran orisinal sejak desain dasar pesawatnya, bukan sekadar kerja yang mencampur “asem dengan beling” alias assembling alias “jahit obras” belaka. Tidak berlebihan kiranya bila banyak pihak yang masih saja menginginkan produk kebanggaan seperti ini dapat diteruskan.

Diteruskan yang memang pasti membutuhkan tekad kuat yang harus dilandasi dengan rasa bangga atas karya sendiri. Yang memang diperlukan adalah spirit dan daya juang untuk bertempur dalam kancah persaingan internasional dibandingkan dengan hanya mencari kemudahan melalui kerja ringan memoles saja karya negara lain untuk diluncurkan melalui jalur assembly-line aircraft manufacturer yang bernama PTDI.

Mudah-mudahan kita ini semua tidak mudah untuk selalu tergoda dengan “jalan pintas” yang selalu saja merangsang alias “menggiurkan” itu. Marilah kita semua mempertebal iman di dalam bulan Ramadan yang suci ini. Selamat menjalankan ibadah puasa!
● CHAPPY HAKIM

Sumber : SINDO

Batam dilanda suhu panas akibat badai Vicenta

http://img.antaranews.com/new/2011/10/thumb/20111004068.jpgBatam (ANTARA News) - Batam dan kabupaten atau kota lainnya di Provinsi Kepulauan Riau dilanda panas dengan suhu hingga 34 derajat celcius, akibat badai Vicenta yang terjadi di Vietnam.

"Panas ini disebabkan Badai Vicenta yang terjadi di Vietnam," kata Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Hang Nadim, Batam, Tri Agus, Jumat.

Ia menjelaskan, badai Vicenta menyedot angin yang ada di sekitar Kepulauan Riau, sehingga kelembaban udara rendah dan menyebabkan cuaca panas yang menyengat.  "Angin tersedot semua ke sana," kata Tri.

Sementara itu, tim perkiraan cuaca BMKG Hang Nadim, Sri Pratiwi mengatakan, kondisi udara yang labil mendukung proses pertumbuhan awan di Kepri.

Namun, kelembaban udara yang relatif rendah mengakibatkan awan yang terbentuk menjadi lebih sedikit. "Sehingga cuaca dierkirakan cerah berawan hingga berawan," kata Sri.

Menurut dia, kondisi cuaca ini masih kondusif untuk aktivitas transportasi darat dan udara.

"Sedangkan untuk aktivitas kelautan diimbau hati-hati terhadap arus laut yang kuat terutama di wilayah perairan Bintan dan Natuna," ujarnya.

Ia memperkiraan, cuaca Kota Batam pada Jumat pagi berawan, cerah berawan pada siang hari, dan pada malam kembali berawan disertai hujan ringan. Kecepatan angin diperkirakan antara 5 sampai 30 kilometer per jam arah selatan.

Sementara suhu udara di Batam diperkirakan antara 24 sampai 32 derajat celcius dengan kelembapan 59 sampai 69 persen. Suhu udara Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan antara 24 sampai 32 derajat celcius dengan kelembapan 59 sampai 94 persen.

Suhu udara di Karimun antara 25 sampai 33 derajat celcius dengan kelembapan 60 sampai 94 persen. Sedangkan suhu udara di Lingga antara 24 sampai 31 derajat celcius dengan kelembapan 69 sampai 91 persen.

Kemudian, suhu udara di Natuna antara 25 sampai 32 derajat celcius dengan kelembapan 60 sampai 88 persen. Suhu udara di Anambas antara 26 sampai 34 derajat celcius dengan kelembapan 55 sampai 77 persen.(Y011)

Sumber : Antara

Ternyata, Kedelai Lokal Batan Lebih Enak Ketimbang Impor

http://static.republika.co.id/uploads/images/square/petani_panen_100407155936.jpgREPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Peneliti Indonesia sudah banyak menghasilkan varietas kedelai unggul untuk mendukung pencapaian target swasembada kedelai nasional.

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) misalnya, sudah menghasilkan sejumlah varietas kedelai unggul seperti Mitani, Rajabasa dan Mutiara I, kata pemulia kedelai dari Batan, Harry Is Mulyani, di Jakarta, Kamis.

"Secara teknologi kita mampu membuat kedelai unggul," katanya. Ia menjelaskan, varietas kedelai lokal yang dihasilkan para peneliti Batan dengan teknik iradiasi lebih unggul dari kedelai impor dalam hal rasa dan rendemen.

Menurut dia, rasa kedelai lokal Batan lebih enak daripada kedelai impor karena memiliki kadar lemak dan protein lebih tinggi. "Sedangkan dari rendemen, jika satu kilogram kedelai kita bisa menjadi tahu empat kilogram, satu kilogram kedelai impor hanya bisa jadi tahu tiga kilogram," katanya.

Ia juga membantah anggapan bahwa biji kedelai lokal lebih kecil dibanding kedelai impor sehingga tidak bagus untuk produksi tempe.

Menurut dia, biji kedelai varietas Mutiara I berukuran 23 gram per 100 butir, tak kalah dengan yang impor.

Produktivitas tanaman kedelai varietas itu juga tinggi yakni rata-rata 2,3 ton per hektare dan bisa sampai empat ton per hektare. Mutiara I yang berumur genjah (umur dari tanam sampai panen) 82 hari itu juga tahan penyakit penggerek pucuk dan karat daun.

Batan baru memperkenalkan Mutiara I pada 2012 dengan menyebarkan 500 kilogram benih ke berbagai daerah seperti Jember, Blitar hingga Tabanan.

"Jadi Mutiara I baru ditanam di luas lahan ratusan ha saja, itupun kebanyakan baru ditanam sebagai benih, ujarnya.

Menurut Harry, masalah pemenuhan kebutuhan kedelai dalam negeri lebih terjadi karena pemerintah tidak memberikan perlindungan atau insentif kepada petani kedelai, membuat mereka tidak bisa mendapat keuntungan layak dari menanam kedelai. 

"Mengapa tak bisa memenuhi kebutuhan nasional, karena petani kedelai tak dilindungi pemerintah misalnya dengan menetapkan Harga Patokan Pemerintah atau HPP," kata dia.

Tanpa HPP, kata dia, petani yang sudah berjuang menghasilkan kedelai hanya bisa pasrah menjual hasil pertanian mereka dengan harga yang dipermainkan tengkulak.

Dia mencontohkan, petani kedelai hanya bisa menjual kedelai seharga Rp4.000 per kilogram sementara tengkulak bisa menjual ke pasar dengan harga Rp6.500 per kilogram. "Ini membuat petani makin tak berminat menanam kedelai," katanya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2011 produksi kedelai lokal hanya 851.286 ton atau 29 persen dari total kebutuhan sehingga Indonesia harus mengimpor 2.087.986 ton kedelai untuk memenuhi 71 persen kebutuhan kedelai dalam negeri.

Tahun 2012, total kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,2 juta ton dan 83,7 persen diantaranya untuk memenuhi kebutuhan pangan, termasuk untuk pengrajin tahu-tempe. Kebutuhan industri Kecap, Tauco, dan lainnya hanya 14,7 persen dan benih 1,2 persen.

Sumber : Republika

Kemenperin Kawal Perpajakan Mobil Listrik

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/05/29/1518402p.jpgMenteri Perindustrian MS Hidayat (Foto: KOMPAS.IMAGES/RODERICK A MOZES)

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perindustrian MS Hidayat mengatakan, Kementerian Perindustrian mendapat tugas untuk mengawal hal perpajakan mobil listrik. "Kami disini ditugasin ngawal tax fiscal-nya," sebut Hidayat, di sela-sela Sidang Kabinet Terbatas, di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat (27/7/2012).

Dia mengatakan, mobil listrik sekarang ini masih berada dalam tahap awal.  Kementerian Perindustrian, kata dia, juga akan mengawal pembuatan mobil ini bila sudah masuk dalam skala industri. "Jadi masih diproses awal. Itu masih mengalami beberapa proses lagi," sambung Hidayat.

"Tahun 2014 menurut saya kalau mau di -ass product-nya," tandasnya.

Pemerintah akan mengembangkan mobil listrik menjadi mobil nasional. Tahun 2014 direncanakan sebanyak 10.000 unit akan diproduksi. "Kita akan jadikan mobil nasional. Kalau kita bicara mobil nasional ya diproduksi nasional, otaknya nasional, ototnya nasional," sebut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, di Jakarta, Senin (23/7/2012).

Hatta pun sudah mendapatkan laporan bahwa riset sejumlah universitas telah melakukan perkembangan yang berarti terkait dengan mobil listrik. Ia pun menyebutkan, mobil listrik yang dibuat oleh alumnus ITB Dasep Ahmadi sudah masuk ke level 7 dalam technology readyness level. Mobil tersebut pun siap masuk ke level 9.

"LIPI sudah produksi kendaraan listrik bus juga berbagai macam kendaraan-kendaraan city car model-modelnya yang sudah masuk kategori kalau dalam istilah Menristek itu skala 9, sempurna itu 9, kita berada di skala 7 sekarang untuk city car," papar Hatta.

Karena keyakinan itu maka Pemerintah pun memutuskan untuk segera membentuk Pusat Pengembangan Teknologi dan Industri Otomotif. Pusat ini akan melibatkan Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, dan BUMN. Lalu, Pemerintah akan menyelesaikan semua Peraturan Pemerintah yang terkait dengan insentif dan disinsentif.

Tahun 2014, ia pun optimistis mobil listrik akan diproduksi sebanyak 10.000 unit. Ia yakin akan ada investor dan BUMN yang akan memberikan dukungan dalam memproduksi mobil ini secara massal. "Kalau itu (swasta) sih banyak begitu kita kasih kemudahan dan insentif," tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Bambang Brodjonegoro, mengatakan, insentif kepada mobil listrik adalah bebas bea masuk dan PPn BM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah) untuk, diantaranya mesin dan batere. "Pokoknya komponen utama maupun komponen penunjangnya," sebut Bambang.

Sumber : Kompas

PT. DI Jual 7 Pesawat Usang

BANDUNG, TRIBUN - Di lingkungan PT Dirgantara Indonesia (DI) sejauh ini terdapat sejumlah pesawat usang yang tidak lagi terpakai. Di lingkungan lembaga BUMN yang dahulu bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) itu ada beragam jenis pesawat.

"Ada beberapa pesawat usang, antara lain jenisnya DAS 10 yang merupakan produksi 1986," kata Kepala Tim Komunikasi PT DI, Sonny Saleh Ibrahim, Selasa (24/7).

Sonny menuturkan, tujuh unit pesawat usang itu antara lain empat unit DAS 10 dan sisanya, Boeing 737. Ketujuh pesawat itu tidak lagi terpakai karena maskapai penerbangannya mengganti DAS 10 dengan jenis Boeing 737. "Jadi, kami berencana menjual ke-4 pesawat usang yang tidak terpakai itu secara kiloan," ungkap Sonny.

Sedangkan rencana penjualan 3 unit pesawat bermesin jet, Boeing 737 karena ketiga pesawat itu milik dua maskapai yang tidak lagi beroperasi, yaitu Adam Air dan Bouraq. Dijelaskan, awal keberadaan ke-3 Boeing 737 itu di PT DI yaitu untuk menjalani perawatan rutin.

Akan tetapi, pada kenyataannya, Adam Air dan Bouraq tidak lagi beroperasi. Akibatnya, terjadi penunggakan karena biaya perawatan meninggi. "Nilainya sekitar 50-100 ribu dolar AS," kata Sonny.

Meski penjualannya secara kiloan, Sonny menyatakan, pelaksanaannya melalui mekanisme dan prosedur yang berlaku. Artinya penjualan itu melalui proses tender. (*)

Sumber : jabar.tribunnews

Panser Produksi Indonesia Perkuat Pasukan UNIFIL


http://assets.kompas.com/data/photo/2012/07/23/2044407620X310.JPGLEBANON, Kompas.com - Suatu kehormatan bagi Satgas Indo FPC TNI Konga XXVI-D2/UNIFIL untuk menggunakan kendaraan tempur (ranpur) Anoa yang merupakan sebuah kendaraan tempur militer lapis baja, dan merupakan salah satu hasil karya terbaik anak bangsa yang diproduksi secara langsung oleh PT Pindad-Indonesia.

Salah satu kelebihan yang ada pada Anoa adalah sistem perlindungan yang diberikan oleh lapisan baja dan rangka, yaitu memiliki tingkat STANAG 3 level 3. Ini berarti, ranpur tersebut bisa menahan peluru kinetis hingga 7,62x51 mm Armor Piercing standar NATO dari jarak 30 meter dengan kecepatan 930 m/s, serta bisa menahan ledakan ranjau hingga massa 8 Kg di bagian roda gardan dan di tengah-tengah badan.

Selain itu, Anoa dibekali sistem navigasi terbaru dan alat komunikasi anti jamming. Kendaraan tempur tersebut bisa digunakan untuk bermacam fungsi, mulai dari sebagai pembawa pasukan, kendaraan komando, hingga rumah sakit berjalan, di medan tempur.

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/07/23/2045154620X310.JPGPersenjataan yang terpasang adalah senapan mesin 7,62 mm dan 12,7 mm untuk varian infanteri dan Automatic Grenade Launcher (AGL) 40 mm untuk varian kavaleri. Untuk pertahanan diri, Anoa dilengkapi dengan pelontar tabir asap 2x3 66 mm.

Saat melakukan test drive Anoa beberapa waktu lalu, ranpur ini mampu dipacu hingga 100 km/jam. Anoa juga mampu melompati parit selebar 1 meter dan melahap tanjakan dengan kemiringan 45 derajat. Seluruh bodi Anoa dilapisi baja tahan peluru. Apabila diberondong senapan AK-47 atau M-16 sih dijamin tidak bakal tembus.

Pengiriman 7 unit Ranpur Anoa ke Satgas Indo FPC TNI Konga XXVI-D2/UNIFIL ini merupakan program pemerintah Indonesia, dalam hal ini Mabes TNI, dalam rangka menggantikan APC VAB - NG buatan Perancis yang sudah sejak 2006 telah menjadi bagian yang sangat penting dalam pelaksanaan misi PBB di UNIFIL.

http://assets.kompas.com/data/photo/2012/07/23/2046099620X310.JPG
Kedatangan 7 unit Anoa pada Sabtu (21/7/2012) di Markas UNIFIL-Naqoura, yang juga merupakan tempat Satgas Indo FPC berada, disambut langsung oleh Dansatgas Indo FPC TNI Konga XXVI-D2/UNIFIL Mayor Inf Wimoko dan didampingi oleh Kapten Kav I Nyoman Artawan selaku Perwira Kavaleri merangkap Pasilog Satgas.

Penggunaan Ranpur Anoa oleh Satgas Indo FPC adalah untuk menunjang tugas pokok Satgas, antara lain dalam pelaksanaan patroli keamanan wilayah Markas UNIFIL (Green Hill) dan sekitarnya, pengawalan UNIFIL HoM dan Force Commander dalam rangka Tripartite Meeting antara LAF (Lebanes Armed Force), IDF (Israel Defence Force) dan UNIFIL, serta latihan – latihan gabungan dengan Pasukan dari Negara Asing yang tergabung dalam UNIFIL. (*)

Sumber : Kompas

Menguasai Teknologi, Memperkuat Pertahanan

KCR 40 TNIAL Produksi Palindo

Penguasaan teknologi menjamin adanya persenjataan yang tangguh. Salah satu aspek penting pengembangan teknologi adalah untuk mendukung kemampuan pertahanan negara.

Dalam sejarah peperangan yang pernah terjadi, kemampuan suatu negara dalam menguasai teknologi sangat berpengaruh pada kemenangan. Sebab, penguasaan teknologi menjamin adanya persenjataan yang tangguh. Di Indonesia, pembangunan industri pertahanan telah dimulai sejak diterbitkannya Keputusan Presiden No 59/1983. Keppres itu membidani lahirnya sejumlah industri pertahanan seperti PT IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia/ PT DI) untuk bidang kedirgantaraan, PT PAL (untuk maritim), PT PINDAD (persenjataan dan amunisi), PT DAHANA (bahan peledak), PT LEN (elektronika dan komunikasi).

Industri-industri itu mulai tenggalam setelah dihantam badai krisis pada 1998. Sekarang, pengembangan kemampuan teknologi dalam mendukung pertahanan kembali digencarkan. Guna mendukung langkah ini, dibentuklah Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang dipimpin Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan beranggotakan sejumlah menteri, termasuk Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta,Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, dan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo.

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta menyebut, ada tiga klaster dalam produksi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Yakni, yang bersifat untuk meningkatkan produksi, pelayanan,dan perlindungan. “Jadi, kita harus terus mengembangkan iptek untuk mendukung pertahanan,” katanya di kantor Bapeten,belum lama ini. Di antara yang sedang dikembangkan untuk pertahanan adalah pembuatan roket yang dinamai RHAN. Roket ini sudah beberapa kali diujicoba dan berhasil. Namun,daya jangkau masih belum memenuhi ekspektasi. “Kita ingin di atas tiga digit,”ujar Gusti.

Di Indonesia, ada banyak Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS) dan Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan (BUMNIP), serta badan usaha milik swasta yang aktivitas usahanya berkaitan erat dengan bidang pertahanan. Di deretan pelat merah ada nama-nama seperti PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT PAL Indonesia. Dikalangan swasta ada beberapa industri galangan kapal seperti PT Palindo.

Kemampuan PT DI dalam memproduksi pesawat tidak perlu diragukan lagi. Direktur Teknik dan Pengembangan PT DI Dita Ardoni Safri menyebutkan, beberapa pesawat yang sudah berhasil dibuat adalah CN-235, dan NC-212-200. Untuk pesawat CN-235 sekarang ini di antaranya dipakai oleh TNI Angkatan Udara sebagai pesawat angkut ringan, juga oleh TNI Angkatan Laut. Beberapa negara asing juga tertarik menggunakan pesawat ini,seperti Korea Selatan. Selain pesawat, PT DI juga berhasil membuat roket FFAR (Fin Folding Aerial Rocket) yang dipakai untuk jet tempur TNI. Roket ini sebagian besar komponennya berasal dari dalam negeri. PT DI mampu memproduksi roket ini hingga ribuan unit per tahun. Roket jenis FFAR memiliki tiga tipe berdasarkan diameter serta jarak luncur. Yakni, tipe MK 60 dengan diameter 100 mm, tipe MK4 dan MK40 berdiameter 67 mm.

Roket ini pertama kali diproduksi dengan lisensi produsen roket Force de Zeeburg, Belgia. PT DI juga membuat torpedo berdiameter 122 milimeter yang memiliki jangkauan area hingga 40 km. Di luar teknologi yang sudah dikuasai, PT DI juga terlibat dalam berbagai pembuatan pesawat terbang selaku penyuplai komponen. Diantaranya bekerja sama dengan Airbus Military dan Boeing. Produk-produk Pindad juga sudah menembus pasar ekspor.

Bahkan untuk amunisi,jumlah permintaan melebihi kemampuan produksi. Sehingga manajemen berupaya untuk meningkatkan kapasitas dengan mendatangkan mesin baru. PT Pindad juga berhasil menciptakan kendaraan tempur angkut personel Panser Anoa 6x6. Penciptaan kendaraan ini dimulai ketika operasi militer di Aceh. Kala itu, banyak pasukan yang cedera karena menaiki kendaraan yang tidak memadai untuk operasi. Sehingga, Pindad dipesan untuk membuat kendaraan tempur angkut personel yang lebih aman dan lahirlah Anoa 6x6.

Kendaraan ini juga digunakan prajurit TNI yang bertugas dalam misi perdamaian dunia di bawah kendali PBB. Bahkan, spesisifikasi Anoa 6x6 sudah memenuhi kualifikasi PBB. Beberapa negara asing pun berminat untuk membeli, seperti Malaysia. Saat ini,PT Pindad membuat prototipe kedua kendaraan perintis ( Rantis) 4x4 bekerja sama dengan TNI dan industri lain.PT Pindad sebagai leading sector industri termasuk pelaksana integrator desain,pengerjaan break system, steering system, serta senjata.

Sedangkan penyedia baja oleh PT Krakatau Steel dan penyedia power train, power pack, electrical AC, engine, winch, driver set, dan pengecatan body assembling oleh PT Autocar Industri Komponen. Dalam bidang maritim,Indonesia juga sudah bisa membuat kapal perang oleh PT PAL maupun PT Palindo. Di antara kapal perang yang sudah diproduksi adalah landing platform dock (LPD) yang diproduksi setelah proses alih teknologi dalam pembelian LPD dari Korea Selatan.

Selain itu juga berhasil diproduksi kapal kawal cepat rudal (KCR) berbagai ukuran 40 meter dan 60 meter. “Ada roadmap pembangunan kapal perang. Ada tahapan-tahapannya,” kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Sumber: SINDO

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More