blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Senin, 01 November 2010

Perang Telkomsel Versus Indovision Mereda

Keduanya membuat pernyataan sikap bersama soal tudingan perampasan frekuensi 2.5 GHz.

VIVAnews - Jumat silam, Indovision merasa terancam dengan langkah operator telekomunikasi Telkomsel yang diduga berniat menggusur posisi lembaga penyiaran ini di frekuensi 2.5 GHz.

Dalam keterangan pers yang diterima VIVAnews hari itu, anak usaha PT MNC Sky Vision itu merasa terancam karena sudah lama tayang di frekuensi 2,5 GHz, serta menanamkan investasi besar untuk infrastruktur di frekuensi itu.

Sedangkan, Indovision mencermati para operator selular tengah menghembuskan isu pengembangan LTE (Long Term Evolution) yang secara terang-terangan berniat menggusur pemanfaatan frekuensi tersebut.

Terkait pemberitaan di VIVAnews dan sejumlah media massa lain mengenai alokasi frekuensi teknologi LTE tersebut, Telkomsel dan Indovison pun akhirnya buka mulut dan membuat pernyataan bersama.

Telkomsel mengklaim sebagai pelopor dalam ujicoba LTE di Indonesia. Dan, selama proses ujicoba tersebut, anak usaha Telkom Group itu menggunakan frekuensi milik sendiri.

"Kami juga menyerahkan kebijakan tentang alokasi frekuensi teknologi LTE sepenuhnya di tangan pemerintah. Sehingga sama sekali tak ada niat untuk menggunakan frekuensi yang saat ini dipakai oleh Indovision," kata Aulia Ersyah Marinto, Deputy Vice President Corporate Secretary Telkomsel dalam keterangannya, Senin 1 November 2010.

Sementara Indovision baru saja meluncurkan satelit terbarunya tahun lalu, yakni Indostar II. Saat ini, dijelaskan Arya Mahendra Sinulingga, Head of Corporate Secretary PT MNC Sky Vision, pihaknya tengah mengembangkan teknologi terbaru baik MPEG4 dan HD di bidang penyiaran.

"Indostar II merupakan satu-satunya satelit yang dimiliki oleh pengelola satelit Indonesia yang dimanfaatkan untuk penyiaran. Dan seperti diketahui bersama bahwa umur satelit ini minimal 15 tahun," ujarnya.


VIVAnews

Konten Media Lokal Jadi Andalan

Model menunjukkan produk tablet Android dari Samsung, yaitu Samsung Galaxy Tab di Atrium Plaza Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (30/10/2010). Produk berlayar tujuh inci ini menawarkan kemudahan dalam akses internet, konten permainan interaktif hingga fasilitas Readers Hub untuk membaca berita, seperti Kompas ePaper.

JAKARTA, KOMPAS.com - Seperti perangkat tablet lainnya, e-reader atau aplikasi untuk membaca buku atau majalah digital menjadi andalan Samsng Galaxy Tab yang baru saja diluncurkan di Indonesia, Sabtu (30/10/2010). Namun, bukan sekadar e-reader yang membuat Samsung Galaxy Tab diminati sehingga calon pembeli memadati tempat penyelenggaraan launchingnya di Atrium Plaza Senayan, Jakarta.

Masing-masing pembeli yang antre punya orientasi sendiri. Ada yang membeli hanya untuk lifestyle, ada pula yang membeli untuk mendapatkan beberapa aplikasi seperti internet dan video. Konten e-reader hanya salah satu dari sekian banyak aplikasi yang ditawarkan perangkat ini. Namun, bedanya e-reader Samsung menyediakan konten media lokal berbahasa Indonesia, baik buku, koran, maupun majalah.

Aplikasi e-reader memungkinkan pengguna untuk mengakses koran, majalah dan buku secara digital, tanpa kertas. Max, salah satu pengunjung yang juga membeli produk mengatakan, "Saya terus terang lebih tertarik pada konten e-readernya. Bisa buat baca-baca. Dengan ukuran Samsung Tab yang kecil, semuanya jadi praktis.

Pendapat yang sama juga diungkapkan pengunjung lain. "Saya sih ngejar konten e-readernya. Bisa download buku dan majalah di sini, selain itu juga mendukung pekerjaan saya," ungkap Steffen, pengungjung dan pembeli yang bekerja sebagai marketing.

Diantara banyak pilihan konten e-reader yang ada, konten milik Kompas Gramedia menjadi salah satu yang diminati. Max yang merupakan karyawan di United Chemical mengungkapkan, "Dengan e-reader ini baca koran kayak Kompas, bisa lebih enak." Sementara itu, Steffen mengatakan, "Baca koran kayak Kompas dengan lebih enak adalah salah satu tujuan beli Samsung Galaxy Tab ini."

Head of Marketing HHP Division Samsung Samsung Electronics, Eka Anwar, mengungkapkan, "Memang sekarang keunggulannya ada pada e-reader. Sudah lumayan lengkap kontennya. Untuk koran dan majalah, sudah ada koran milik kelompok Kompas Gramedia dan majalah milik MRA," ungkapnya. Dengan mengakses e-reader, kegiatan membaca jadi lebih praktis dan murah. Untuk berlangganan majalah misalnya, pengguna hanya diharuskan membayar setengah harga cetaknya saja.

Kompas Gramedia juga menyediakan ratusan judul buku dalam bentuk digital dalam layanan tersebut. Ini merupakan layanan digital pertama yang digarap KG dengan kerja sama khusus bersama Samsung. Tertarik? saat ini, konten e-reader sudah memuat Harian Umum Kompas. Selain itu, juga tersedia beberapa tabloid seperti Nova dan Otomotif.


KOMPAS

Permasalahan BBG Transjakarta belum Teratasi

MI/Rommy Pujianto/rj

JAKARTA--MICOM: Permasalahan bus TransJakarta berupa proses pengisian bahan bakar gas (BBG) tampaknya belum dapat diatasi. Kondisi tersebut seiring dengan belum dibukanya kembali Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Kampung Rambutan setelah seminggu lebih menghentikan operasionalnya.

"Kami dapat info dari pengelola SPBG Kampung Rambutan, Pak Buyung, bahwa SPBG itu belum dapat kembali melayani pengisian pada 1 November 2010 ini," ujar Manajer Operasional Susilo Dewanto melalui pesan singkat kepada Media Indonesia di Jakarta, Sabtu (30/10).

Menurut informasi yang diperolehnya, SPBG belum dapat dibuka dikarenakan belum disepakatinya kuota yang diperoleh oleh SPBG Kampung Rambutan dengan tagihan yang harus dibayar kepada Perusahaan Gas Negara (PGN) sebagai pemasok BBG. Selama dua bulan belakangan, SPBG Kampung Rambutan dikenakan penalti tagihan kuota BBG.

"Sehubungan dengan belum adanya kecocokan ukuran liter setara premium (LSP) yang bisa SPBG jual ke busway dengan tagihan meter kubik yang mereka bayar ke PGN. Bulan September SPBG bayar lebih sampai 350 ribu meter kubik dan bulan Oktober sekitar 90 ribu meter kubik. Padahal, bulan Oktober mereka hanya melayani selama 21 hari," jelasnya. (*/OL-8)


MediaIndonesia

BPLS Tidak Bisa Atasi Semburan Lumpur

Semburan Lumpur---ANTARA/Eric Ireng/ip

SIDOARJO--MICOM: Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) ternyata tidak bisa menangani semburan lumpur. BPLS hanya bisa membangun tanggul baru untuk menampung luberan lumpur yang terus bertambah.

Luas areal peta berdampak sesuai Perpres Nomor 14 tahun 2007 seluas 240 hektare, kini sudah menjadi kolam penampungan lumpur yang kondisinya sudah overload. Masing-masing sembilan desa di Kecamatan Porong, dan Tanggulangin. Warga di desa-desa tersebut menjadi tanggung jawab PT PT Minarak Lapindo Jaya (MLJ) untuk memberikan ganti rugi.

Sementara pada tahun 2008, luas areal peta berdampak bertambah tiga desa lagi di Kecamatan Jabon. Hanya saja wilayah baru yang menyusul dimasukkan peta berdampak itu menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memberikan ganti rugi.

Kini, pusat semburan lumpur Lapindo belum menunjukkan tanda berhenti. Wilayah desa lain juga sudah lama mulai "merengek" minta dimasukkan peta berdampak. Misalnya desa Siring Barat, Mindi dan Jatirejo Kecamatan Porong serta Desa Ketapang Kecamatan Tanggulangin. Tuntutan warga di desa ini bisa dimaklumi, karena di areal wilayah mereka banyak bermunculan semburan gas liar yang disertai ancaman kebakaran, bau menyengat dan kualitas air sumur yang menjadi buruk.

Tidak itu saja, di wilayah ini juga terkena dampak patahan tanah terbukti dengan banyaknya bangunan rumah warga yang retak bahkan roboh.

Sebenarnya, ada tawaran penghentian semburan lumpur Lapindo dengan menggunakan teori Bernoulli yang ditawarkan alumnus Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya bernama Djaja Laksana. Namun pengajuan teori ini belum mendapatkan tanggapan BPLS atau pemerintah untuk disetujui. Walaupun, teori ini sudah pernah dicoba untuk menangani semburan lumpur di sekitar pusat semburan utama. BPLS berasalan, teori tersebut masih meragukan apakah bisa menghentikan semburan utama.

Teori Bernoulli adalah teori yang berusaha menyeimbangkan tekanan air semburan dengan gaya gravitasi bumi. Prinsip teori ini adalah menghentikan semburan lumpur dengan memanfaatkan kekuatan semburan lumpur itu sendiri. Sehingga sebanyak berapapun lumpur yang keluar, tidak akan meluber ke mana-mana karena kembali ke perut bumi.

Bendungan bernoulli yang ditawarkan Djaja Laksana ini diperkirakan memakan anggaran Rp4 triliun. Dengan teori ini, rencananya akan dibangun bendungan Bernoulli dengan menanam pipa sedalam 150 meter dan radius 200 meter. Sementara tinggi pipa di permukaan tanah mencapai 50 meter. Apabila tinggi semburan mencapai 28 meter maka masih ada sisa pipa setinggi 22 meter. (HS/X-11)


MediaIndonesia

Gempa Mentawai Tak Picu Aktivitas Vulkanik

Seorang petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi di Kaliurang Sleman memperlihatkan alat seismograf yang menunjukkan peningkatan gempa vulkanik yang terus terasa dalam beberapa hari terakhir. TEMPO/ Arif Wibowo

TEMPO Interaktif, Jakarta -Setiap gunung api memiliki sistemnya sendiri dan tidak saling terhubung. Pernyataan ini dikemukakan oleh Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, R. Sukhyar, kemarin. "Jadi, tidak ada hubungan gempa Mentawai dengan aktivitas gunung lainnya, termasuk Gunung Merapi."


Penegasan Sukhyar diiyakan Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Aktivitas gunung-gunung ini, kata Surono kemarin, tidak saling terkait dan punya karakteristik berbeda-beda, apalagi letaknya juga berbeda.

Kedua pakar itu menanggapi rentetan kejadian yang hampir bersamaan. Gempa di Mentawai, Sumatera Barat, yang berkekuatan 7,2 pada skala Richter, terjadi pada 25 Oktober. Sehari kemudian, Gunung Merapi di Yogyakarta meletus. Empat hari berselang, Gunung Anak Krakatau mengeluarkan letusan sebanyak 117 kali. Namun kemarin status gunung yang terletak di Selat Sunda ini diubah dari siaga menjadi waspada.

Rentetan peristiwa geologis ini memunculkan pernyataan dari Sahala Hutabarat, guru besar ilmu kelautan Universitas Diponegoro. Menurut Sahala, bencana itu saling terkait. "Cenderung ada hubungannya karena, dalam sejarah, gunung berapi selalu terletak di (area) gempa bumi," katanya kemarin.

Menurut Sukhyar, naiknya status 19 gunung menjadi waspada terjadi sebelum ada gempa di Mentawai. Kepala Sub-Bidang Pengamatan Gunung Api, Agus Budianto, mengatakan, di antara 68 gunung aktif di Indonesia, ada 22 gunung yang berstatus di atas normal. Selain itu, 19 gunung berstatus waspada, dan 2 gunung siaga, yaitu Gunung Ibu di Halmahera dan Gunung Karangetang di Sulawesi Utara. Sedangkan Gunung Merapi, yang telah meletus, berada dalam status awas.

Deputi Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian, Hery Harjono, menjelaskan bahwa secara historis ada kaitan antara gempa dan letusan gunung berapi. Dia mencontohkan gempa Liwa di Lampung Barat pada 1932, yang diikuti meningkatnya aktivitas vulkanik di dataran Suoh. Peristiwa ini terulang pada gempa Liwa tahun 1994, yang disertai naiknya aktivitas vulkanik di Suoh. Lalu gempa Nias pada 2005, yang berlanjut pada peningkatan aktivitas Gunung Talang di Sumatera Barat.


TEMPOInteraktif

BMKG: Gelombang Merak - Bakauheni Berkisar 1,5 - 3,0 Meter

Seorang petugas BMKG memantau cuaca melalui monitor di Badan Meteorologi, klimatologi dan Geofisika (BMKG), Jakarta. (ANTARA/Jefri Aries)

Bandarlampung (ANTARA News) - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan adanya gelombang tinggi di Perairan Merak-Bakauheni, berkisar 1,5-3,0 meter pada Senin.

Selain itu, cuaca di Selat Sunda bagian Utara tersebut berpeluang hujan, dan angin bertiup dari Barat Laut ke Timur Laut dengan kecepatan 15-20 knot.

Di Selat Sunda bagian Selatan, tinggi gelombang berpeluang 3,0-4,5 meter, cuaca hujan dan angin bertiup dari Barat Laut ke Utara dengan kecepatan 20-25 knot.

Gelombang 1,5-2,5 meter, berpeluang di Selat Bangka bagian Utara, cuaca berawan banyak hingga hujan, dan angin bertiup dari Timur ke Selatan dengan kecepatan 05-15 knot.

Di Selat Bangka bagian Selatan dan Selat Gelasa, tinggi gelombang berkisar 1,2-2,0 meter, cuaca berawan banyak/hujan dan angin bertiup dari Timur ke Selatan dengan kecepatan 05-10 knot.

Kemudian, di Selat Bali bagian Utara ( Ketapang - Gilimanuk ) tinggi gelombang berkisar 0,3-0,5 meter, cuaca berpeluang hujan dan angin dari Timur ke Tenggara dengan kecepatan 03-23 knot.

Di Selat Bali bagian Selatan dan Selat Badung, tinggi gelombang berkisar 0,3-1,5 meter, cuaca berpeluang hujan dan angin dari Timur ke Tenggara dengan kecepatan 03-23 knot.

Selanjutnya di Selat Lombok Bagian Utara (Padang Bai - Lembar ) dan Selat Lombok bagian Selatan, tinggi gelombang berpeluang 0,3-1,5 meter, cuaca berpeluang hujan dan angin dari Timur ke Tenggara dengan kecepatan 03-21 knot.

BMKG juga menginformasikan, gelombang 2,0-3,0 meter berpeluang di Perairan utara Aceh, Perairan Barat Aceh hingga Sumatera Utara, Perairan Sumatera Barat, Perairan selatan Jawa Barat - Jawa Timur.

Kemudian, di Perairan P. Bintan, Laut Natuna, Perairan Kep. Anambas, Perairan Kep. Natuna, Perairan Yos Sudarso, Laut Arafuru, Perairan Merauke.

Gelombang 3,0-4,0 meter berpeluang di Perairan barat Kep. Nias, Perairan Kep. Mentawai, Perairan Bengkulu hingga barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan , Perairan selatan Banten.

Dan Gelombang4,0-5,0 meter berpeluang di Perairan selatan Kep. Mentawai, Samudera Hindia barat daya Bengkulu, serta Laut China Selatan.(T013/K004)


ANTARAnews

Mimpi Warga Bunaken Akan Listrik Segera Terwujud

Manado (ANTARA News) - Yohana Bangselang (53), warga pulau Bunaken, merupakan salah satu dari sebagian besar warga Bunaken yang mengaku senang dengan akan beroperasinya aliran listrik selama 24 jam di wilayahnya.

Ia patut bersyukur dan merasa senang karena aliran listrik itu merupakan impian warga Bunaken sejak lama.

Saat itu, Yohana, ibu rumah tangga tersebut bersama sejumlah warga lainnya baru selesai mengikuti acara peletakan batu pertama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di pulau tersebut pada, Rabu (27/10).

Peletakan batu pertama pembangunan PLTS itu dilakukan sejumlah pejabat di antaranya Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Sinyo Sarundajang dan Direktur Energi Primer PT PLN, Nur Pamudji, bertepatan dengan peringatan Hari Listrik Nasional ke-65.

Yohana Bangselang mengatakan, selama ini listrik di pulau tersebut hanya menyala atau dapat digunakan dari pukul 18.00- 06.00 wita.

"Listrik hanya menyala pada malam hari, itupun kalau tidak ada gangguan," katanya.

Sementara pada siang hari, kata Yohana, masyarakat tidak bisa menikmati pelayanan listrik dari PLN.

Untuk menggunakan listrik siang hari, masyarakat harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit guna membeli mesin genset.

Langkah ini dilakukan, supaya alat-alat listrik yang dimiliki dapat digunakan.

"Saya harus membeli genset yang berkapasitas 3.000 watt, guna memenuhi kebutuhan akan listrik tersebut," katanya.

Kondisi tersebut membuat bertambahnya biaya pengeluaran keuangan rumah tangga.

"Setiap tiga hari harus membeli bahan bakar bensin sekitar 20 liter supaya genset tersebut dapat beroperasi," katanya.

Yohana mengatakan dengan pembangunan PLTS tersebut, akan menjawab "mimpi" warga Bunaken selama ini.

Karena, warga sejak lama telah memimpikan atau merindukan supaya listrik di wilayah itu dapat menyala satu kali 24 jam.

"Berharap supaya PLTS tersebut cepat selesai, sehingga sudah dapat beroperasi, dan warga dapat menikmatinya " katanya sambil tersenyum.

Menurut dia, kehadiran PLTS itu akan mendorong perekonomian masyarakat di daerah wisata tersebut.

Sebab warga akan terbantu ketika menjalankan usaha dengan menggunakan alat listrik pada siang hari.

"Warga yang berprofesi tukang kayu atau pembuat perabot rumah tangga bisa menggunakan mesin listrik, begitu pula bergerak pada usaha jahit menjahit," katanya.

Masyarakat juga, kata Yohana, sudah dapat menonton televisi pada siang hari dan akan berimbas terhadap peningkatan wawasan dan pengetahuan.


Rp18,521 Miliar

General Manager PT PLN Wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo (Sulutenggo), Wirabumi Kaluti mengatakan, selama ini listrik di pulau Bunaken dilayani Pembangkit Listrik Tenaga Disel (PLTD) berkapasitas 400 kilowatt dengan beban puncaknya 140 KW.

Pembangkit tersebut melayani sekitar 700 pelanggan atau konsumen yang ada di pulau itu.

Omzet diperoleh dari pelanggan di Bunaken tersebut rata-rata setiap bulannya sekitar Rp18 juta.

"Penggunaan bahan bakar untuk pembangkit tersebut setiap bulannya sekitar 14.000 liter atau sekitar Rp90 juta," kata Kaluti.

Wirabumi Kaluti mengatakan, untuk pembangunan PLTS di Bunaken tersebut akan menelan anggaran sekitar Rp18,521 miliar.

Sesuai rencana PLTS yang berkapasitas sekitar 335 Kilowatt Pick (KwP) tersebut akan selesai dan beroperasi pada Desember 2010.

"Mudah-mudahan sebelum Hari Natal masyarakat sudah dapat menikmati penerangan listrik dari PLTS ini," katanya.

Pembangunan PLTS tersebut juga, kata Kaluti, untuk mengatasi tingginya penggunaan BBM.

Menurut Wirabumi Kaluti, pihaknya telah melakukan ujicoba dengan membangun PLTS berkapasitas 5 KW di Bunaken.

"Untuk sementara, PLTS tersebut hanya melayani kebutuhan listrik di sekolah, puskesmas dan kantor PLN Bunaken," katanya.

Direktur Energi Primer PT PLN, Nur Pamudji mengatakan, manajemen PLN sudah bertekad untuk membangun PLTS di pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia.

Pembangunan PLTS di Bunaken merupakan yang pertama, dan selanjutnya akan diakukan pada beberapa pulau di di Sulut seperti di Kabupaten Sitaro.

"Kehadiran dari PLTS ini akan menjadikan rakyat di Bunaken dan pulau-pulau lain sejahtera," katanya

Dengan kehadiran PLTS tersebut, pelayanan listrik ke konsumen di Bunaken yang sebelumnya enam jam per hari, akan menjadi satu kali 24 jam.

Sementara Gubernur Sulut, Sinyo Sarundajang mengatakan, pemerintah dan PLN merasakan kebutuhan masyarakat akan listrik sehingga membangun PLTS di Bunaken.

Jika sebelumnya pelayanan listrik hanya enam jam sehari, dengan kehadiran PLTS tersebut menjadi satu kali 24 jam.

"Dengan akan terlayaninya 24 jam tersebut semua usaha dan upaya masyarakat yang memanfaatkan energi listrik sudah dapat menggunakannya," kata Sarundajang

Sarundajang berharap agar masyarakat dapat menjaga PLTS tersebut dengan baik, karena pembangkit tersebut akan digunakan selamanya.

"Jika pembangunan itu sudah selesai, saya mohon rakyat Bunaken menjaga baik-baik tempat ini, karena pada PLTS itu akan dibangun panel berukuran besar guna menyerap energi matahari menjadi energi listrik," katanya.

Harapan gubernur tersebut juga menjadi harapan masyarakat, supaya PLTS itu nantinya dapat terus beroperasi guna memenuhi kebutuhan listrik di pulau yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara maupun domestik karena terkenal dengan keindahan taman lautnya. (J009/K004)


ANTARAnews

Petani Lampung Selatan Gunakan Pupuk Organik, Hasilnya Signifikan

Kalianda, Lampung Selatan (ANTARA News) - Sejumlah petani di Kabupaten Lampung Selatan menggunakan pupuk organik untuk meningkatkan produksi padi pada musim tanam tahun ini.

Petani di Desa Tamanbaru, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Mursidi, Senin mengatakan, dengan menggunakan pupuk organik cair panen meningkat signifikan dibandingkan dengan sebelumnya.

Menurutnya, dengan menggunakan pupuk organik cair membutuhkan masa tanam hingga panen lebih cepat selama 75 hari sedangkan sebelumnya selama 85 sampai 100 hari secara serentak.

"Petani yang menggunakan pupuk organik cair panen lebih awal dibandingkan dengan petani lain," kata dia.

Penggunaan pupuk ini, kata dia hanya menyemprotkan ke bagian batang tanaman dan dapat juga berfungsi sebagai pupuk daun.

Hal senada juga di katakan oleh petani setempat Sukarman, penggunaan pupuk organik cair tersebut telah menjadi andalan petani dalam meningkatkan produksi padi.

"Harga pupuk organik cair lebih murah dibandingkan dengan pupuk kimia yang terkadang sulit didapatkan petani," kata dia.

Pupuk tersebut, kata dia, membuat pertumbuhan rumpun padi lebih banyak, batang lebih besar dan bulir padi lebih meningkat dibandingkan dengan sebelumnya.

Dia mengatakan, produksi padi dari enam ton menjadi delapan ton per hektare dalam bentuk gabah kering panen (GKP).

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kabupaten Lampung Selatan, Muverdi CH, mengatakan, stok gabah di Kabupaten Lampung Selatan bertambah sehubungan panen raya padi tengah berlangsung di daerah tersebut.

Ia menyebutkan panen raya padi tengah berlangsung di sejumlah kecamatan sentra penghasil padi, seperti Kecamatan Kalianda, Rajabasa, Ketapang, Penengahan, Palas, Bakauheni dan Sragi.

Menurutnya, daerah itu merupakan daerah paling subur dan andalan produksi padi menjadi andalan karena tidak pernah kekurangan pasokan air yang berasal dari kawasan pegunungan Rajabasa.

"Lahan pertanian kecamatan tersebut tidak pernah mengenal panen gadu (kering) atau panen rendeng (basah), karena pasokan air selalu mencukupi dan hanya tinggal membangun sistem irigasi yang memadai untuk petani," ujar dia. (ANT-048/K004)



ANTARAnews

Jerman Ribut Gara-gara Alarm Tsunami Mentawai

Pelampung peringatan tsunami (der speigel)

Jakarta (ANTARA News) - Pekan kemarin Jerman gaduh oleh kritik tidak berfungsinya sistem peringatan dini tsunami buatan negeri itu yang dipasang di Indonesia, khususnya Mentawai.

"Senin, ratusan orang Indonesia tewas oleh gelombang tsunami karena peringatan dini tidak sampai ke warga," lapor der Spiegel (29/10).

Media Jerman itu melanjutkan, menyusul tsunami tersebut, muncul pertanyaan di Indonesia mengenai keampuhan sistem peringatan dini yang sepenuhnya dirancang para insinyur Jerman.

Ratusan nyawa melayang gara-gara tsunami yang tinggi gelombangnya bisa sampai delapan meter, sedangkan 25 ribu rumah hancur.

"Kini pada para ilmuwan lokal (Indonesia) mempertanyakan sistem alarm tsunami yang dibangun Jerman di kawasan itu," kupas der Spiegel.

Berlin membenamkan dana 62,2 juta dolar AS (Rp553 miliar) untuk membangun sistem peringatan dini tsunami segera setelah gelombang dahsyat tsunami menewaskan 210 orang di Asia Tenggara pada 2004.

Namun Senin pekan lalu, pelampung-pelampung peringatan dini yang memberi isyarat bakal ada gelombang mendekat itu tetap tidak bereaksi, demikian seorang pakar oseanografi Indonesia seperti dikutip BBC.

Alat bernilai 300 ribu euro itu dilaporkan tak berfungsi, sementara warga Mentawai menyebut sirene peringatan tsunami tak berbunyi, dan gelombang tsunami datang amat mengejutkan.

Kritik itu mungkin keliru, setidaknya sejumlah dokumen pihak otoritas Indonesia menunjukkan justru manusialah yang menjadi penyebabnya, lapor Spiegel Online.

Menurut data itu, sistem peringatan dini tsunami berfungsi baik. Pada 9.47 malam, hanya lima menit setelah alat pencatat gempa menyebutkan ada gempa, sistem peringatan dini yang berbasis di Jakarta itu mengirimkan peringatan bahaya tsunami.

Masalahnya, peringatan itu keluar 39 menit setelah gempa, atau hanya beberapa saat setelah gelombang tsunami menghantam Kepulauan Mentawai.

"Gelombang itu hanya setinggi 23 centimeter di dekat kota Padang," kata Jorn Latuerjung dari Pusat Penelitian Geosains Jerman (GFZ) di Postdam, dekat Berlin.

Sensor gempa dan sistem peringatan dini dipasang selama lima tahun terakhir di Indonesia di bawah tanggung jawab ilmuwan Jerman ini.

Sistem peringatan ini tidak begitu efektif karena episentrum gempa terlalu dekat ke pantai. Tsunami menerjang Mentawai hanya beberapa menit setelah menyentuh pelampung peringatan dini.

"Peringatan tidak bisa dikomunikasikan secepat itu," kata Peter Koltermann, staf pada divisi tsunami di kantor UNESCO.

Tapi, mengapa sirene tanda bahaya semalaman itu tidak berbunyi?

Penduduk setempat yang menggantungkan diri pada peringatan dini itu --biasa disebut "kilometer terakhir" -- menilai alat itu ditempatkan di titik lemah.

Para teknisi Jerman telah berupaya keras memitigasi masalah-masalah kilometer terakhir ini di sepanjang tiga wilayah pantai. Mereka mengeluhkan ada kesenjangan standard pemasangan alat antara teknisi Indonesia dengan teknisi Jerman.

Misalnya, kabel-kabel malah direntangkan diantara pohon-pohon kelapa, bukan ditanam di tanah seperti diinstruksikan buka manualnya.

Harald Spahn dari GTZ, mengungkapkan dibutuhkan waktu tahunan untuk membuat sistem peringatan dini ini berfungsi lagi di seluruh daerah.

Tetap saja para ahli dinilai gagal karena tsunami datang begitu mengejutkan warga, apalagi gempa sudah terlebih dahulu mengguncang pantai di mana mereka tinggal.

"Mungkin pelatihan tsunami lebih maju diperlukan untuk membuat warga tahu sekali bahaya (tsunami)," kata Koltermann.

Warga Mentawai mengaku tidak menyadari ada gempa karena saat itu hujan lebat turun. Namun saat gelombang tsunami pertama tiba, banyak orang yang berhasil mencapai tempat lebih tinggi.

Seorang pakar dari PBB menegaskan bahwa setidaknya ada satu pelampung peringatan dekat situs bencana yang rusak, tapi itu sudah diketahui lama.

Kebanyakan pelampung peringatan tsunami di Samudera Hindia sudah tidak laik pakai. Salah satu pelampung buatan Jerman rusak karena ditumbuhi ganggang laut, sedangkan yang lainnya pecah dilabrak kapal penangkap ikan.

Suatu waktu, lima dari enam pelampung peringatan tsunami ini hilang dicuri perampok. Mereka mempereteli alat ini sebelum kemudian dijual ke pasar.

Sebenarnya pelampung peringatan tsunami ini tidak begitu penting, karena hanya untuk mencek cuaca bawah laut setelah terjadi gempa yang dapat memicu tsunami.

Tapi setelah guncangan gempa dahsyat seperti terjadi Senin pekan lalu, alarm otomatis selalu berbunyi. "Dalam kasus seperti ini, Anda tak perlu data pelampung," kata Koltermann.

Yang menjadi soal, warga perlu tahu bahwa ada gempa kuat di dasar samudera, dan tetap tak bisa dijelaskan mengapa warga Mentawai tak memperoleh data ini Senin itu.

Para pakar gempa memperingatkan bahaya tsunami berikutnya.

Penelitian-penelitian yang ditempuh pakar gempa Kerry Sieh pada Obervatorium Bumi di Singapura menunjukkan bahwa gempa di tepi barat pulau Sumatera itu menciptakan efek domino (reaksi berantai).

Satu gempa akan memicu gempa lainnya. Sieh mengatakan gempa yang lebih kuat dari gempa Senin lalu akan terjadi lagi segera.

Para ilmuwan yakin bahwa wilayah dekat Pulau Siberut, Sumatera, terancam terkena gempa besar berkekuatan 8,8 Skala Richter, yang akan memicu tsunami amat dahsyat. demikian der Spiegel. (*)



ANTARAnews

Broadband Learning Center Dibangun di Kalbar

Pusat pendidikan berbasis Internet ini dibangun di Entikong, perbatasan RI-Malaysia.

Salah satu ruangan di Samsung IT Learning Center (VIVAnews/Muhammad Chandrataruna)

VIVAnews - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) bersama dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) baru-baru ini menyelesaikan pembangunan Broadband Learning Center (BLC) di Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Pendirian BLC di wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu merupakan salah satu inisiatif perusahaan untuk meningkatkan fasilitas telekomunikasi di perbatasan Indonesia-Malaysia.

Menurut Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia, kebijakan program Corporate Social Responsibility (CSR) di sektor pendidikan diarahkan untuk mengambil peran dan bagian dari upaya membangun masyarakat yang cerdas dan kreatif.

"Untuk itu, perusahaan fokus pada domainnya sebagai BUMN yang bergerak di bidang ICT yang kini sedang bertransformasi ke bidang Telecommunication, Information, Multimedia, dan Edutainment, atau dikenal dengan istilah TIME," kata Eddy Kurnia.

Di dalam BLC, Telkom mengembangkan sejumlah program di bidang pendidikan yang berkelanjutan, seperti Internet Goes to School, e-Learning, Smart Campus, dan Bagimu Guru Kupersembahkan.

Pembangunan BLC termasuk di pulau-pulau terluar seperti Pulau Sebatik, Santri indigo, Kreasi Konten dan Aplikasi, Program Cooperative Education (COOP), dan beberapa lainnya.

Pendirian TELKOM Broadband Learning Center di perbatasan Indonesia-Malaysia ini menurut General Manager Telkom wilayah Kalimantan Binuri tak hanya sangat terkait dengan aktivitas CSR perusahaan, tetapi juga memiliki aspek strategis.

"Selain aspek pertahanan dan keamanan pada batas teritori negara, aspek sosio-ekonomi juga tak kalah penting," tandasnya. Entikong merupakan pintu gerbang antarnegara, menjadikan wilayah ini juga sebagai pintu perekonomian bagi masyarakat di sekitarnya.



VIVAnews

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More