Kapal dibuat di Gresik, melibatkan insinyur ITS
Ilustrasi
Saudi Aramco kembali memesan kapal penunjang kegiatan hulu minyak dan gas bumi (migas) buatan Indonesia untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan energi asal Arab Saudi tersebut.
Pesanan itu dilakukan di sela ajang International Conference & Exhibition Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) pekan ini.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan bahwa pemesanan tambahan tersebut dilakukan setelah Saudi Aramco sebelumnya menggunakan dua kapal dengan jenis serupa.
Perusahaan itu kini memesan dua kapal tambahan karena dinilai mampu menekan konsumsi bahan bakar hingga 50%.
“Di Paviliun Indonesia juga ditandatangani beberapa kesepakatan, yang sangat membanggakan adalah kesempatan penambahan penjualan kapal penunjang kegiatan hulu migas yang dipesan oleh Saudi Aramco,” kata Djoko dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).
Djoko menjelaskan, kapal tersebut merupakan produk dalam negeri yang dirancang dan diproduksi dengan melibatkan tenaga kerja serta insinyur Indonesia. Kapal dibuat di Gresik, Jawa Timur, dengan desain yang dikembangkan oleh para insinyur dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
“Dua Kapal jenis ini sebelumnya sudah digunakan oleh Saudi Aramco dan memesan dua kapal lagi untuk kegiatan operasionalnya karena kapal ini dapat menghemat bahan bakar sampai dengan 50%,” ujarnya.
Menurutnya, kapal tersebut melibatkan pekerja Indonesia dan memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 70%.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah komponen yang didatangkan dari luar negeri, yakni mesin kapal dan bahan baku badan kapal berupa aluminium yang diimpor dari Yunani.
Djoko berharap, kebutuhan aluminium untuk produksi kapal tersebut ke depan dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri, termasuk melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum.
Dia menambahkan, kapal jenis tersebut telah diproduksi sebanyak 10 unit. Produksi juga direncanakan bertambah dua unit pada tahun depan seiring dengan adanya pesanan tambahan.
“Kapal jenis ini sudah diproduksi sebanyak 10 kapal dan tahun depan tambah dua lagi, Alhamdulilah,” tuturnya.
Kolaborasi Industri Hulu Migas
Pemesanan kapal oleh Saudi Aramco menjadi salah satu kesepakatan yang diumumkan dalam Paviliun Indonesia pada ajang ADIPEC.
Djoko mengatakan, kehadiran Indonesia dalam pameran internasional tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas kerja sama dan peluang investasi di sektor hulu migas.
Dia menyebutkan, ADIPEC dihadiri oleh sekitar 30 pejabat setingkat menteri, duta besar, CEO perusahaan hulu migas dunia, serta pimpinan perusahaan penunjang. Sebanyak 40 negara turut membuka paviliun, dengan ribuan stan dari perusahaan minyak dan penyedia jasa penunjang industri migas.
Dalam pembukaan acara, kata Djoko, Menteri Energi UEA Suhail Mohamed Al Mazrouei menekankan pentingnya kolaborasi antar negara dan pemangku kepentingan di sepanjang rantai bisnis energi, mulai dari hulu, tengah, hingga hilir.
“Pada acara pembukaan yang disampaikan oleh Menteri UEA disampaikan bahwa kolaborasi antar negara, antar pemangku kepentingan dari upstream, midstream dan downstream sangat dibutuhkan dalam penyediaan energi oleh produsen sampai dengan konsumen yang berkelanjutan,” kata Djoko.
Selain itu, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai akan meningkatkan kebutuhan energi global.
Namun, teknologi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mempercepat penyediaan energi dan meningkatkan efisiensi.
Djoko mengatakan, Paviliun Indonesia juga menjadi tempat penjajakan kerja sama investasi di sektor hulu migas, mulai dari eksplorasi, pembangunan infrastruktur, hingga penyediaan barang dan jasa.
Salah satunya, penandatanganan kerja sama pembangunan fasilitas pencampuran atau blending bahan kimia untuk kebutuhan enhanced oil recovery (EOR) di Abu Dhabi antara PT Tara Abu Dhabi dan PT Luas Birus Utama.
Dalam kerja sama tersebut, bahan baku kimia untuk kebutuhan EOR akan berasal dari Indonesia.
Di sela-sela kegiatan ADIPEC, Djoko juga melakukan sejumlah pertemuan dengan pimpinan perusahaan migas internasional untuk membahas perkembangan proyek hulu migas di Indonesia. Pertemuan dengan CEO Inpex Mr. Ueda dan manajemen perusahaan membahas perkembangan proyek pengembangan Lapangan Masela.
Sementara itu, pertemuan dengan CEO Mubadala membahas progres pengembangan Lapangan Andaman. Adapun pertemuan dengan CEO Searah dan ENI membahas perkembangan proyek Geng North, Gendalo Gehem, dan Geliga.
Dalam sesi diskusi panel, sejumlah isu yang mengemuka mencakup kebijakan pasokan dan permintaan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG), baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.
Pembahasan juga mencakup produksi LNG, pembangunan infrastruktur, harga, hingga kebutuhan kontrak LNG yang lebih fleksibel.
IlustrasiSaudi Aramco kembali memesan kapal penunjang kegiatan hulu minyak dan gas bumi (migas) buatan Indonesia untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan energi asal Arab Saudi tersebut.
Pesanan itu dilakukan di sela ajang International Conference & Exhibition Abu Dhabi International Petroleum Exhibition and Conference (ADIPEC) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) pekan ini.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan bahwa pemesanan tambahan tersebut dilakukan setelah Saudi Aramco sebelumnya menggunakan dua kapal dengan jenis serupa.
Perusahaan itu kini memesan dua kapal tambahan karena dinilai mampu menekan konsumsi bahan bakar hingga 50%.
“Di Paviliun Indonesia juga ditandatangani beberapa kesepakatan, yang sangat membanggakan adalah kesempatan penambahan penjualan kapal penunjang kegiatan hulu migas yang dipesan oleh Saudi Aramco,” kata Djoko dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).
Djoko menjelaskan, kapal tersebut merupakan produk dalam negeri yang dirancang dan diproduksi dengan melibatkan tenaga kerja serta insinyur Indonesia. Kapal dibuat di Gresik, Jawa Timur, dengan desain yang dikembangkan oleh para insinyur dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
“Dua Kapal jenis ini sebelumnya sudah digunakan oleh Saudi Aramco dan memesan dua kapal lagi untuk kegiatan operasionalnya karena kapal ini dapat menghemat bahan bakar sampai dengan 50%,” ujarnya.
Menurutnya, kapal tersebut melibatkan pekerja Indonesia dan memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 70%.
Meski demikian, masih terdapat sejumlah komponen yang didatangkan dari luar negeri, yakni mesin kapal dan bahan baku badan kapal berupa aluminium yang diimpor dari Yunani.
Djoko berharap, kebutuhan aluminium untuk produksi kapal tersebut ke depan dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri, termasuk melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum.
Dia menambahkan, kapal jenis tersebut telah diproduksi sebanyak 10 unit. Produksi juga direncanakan bertambah dua unit pada tahun depan seiring dengan adanya pesanan tambahan.
“Kapal jenis ini sudah diproduksi sebanyak 10 kapal dan tahun depan tambah dua lagi, Alhamdulilah,” tuturnya.
Kolaborasi Industri Hulu Migas
Pemesanan kapal oleh Saudi Aramco menjadi salah satu kesepakatan yang diumumkan dalam Paviliun Indonesia pada ajang ADIPEC.
Djoko mengatakan, kehadiran Indonesia dalam pameran internasional tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas kerja sama dan peluang investasi di sektor hulu migas.
Dia menyebutkan, ADIPEC dihadiri oleh sekitar 30 pejabat setingkat menteri, duta besar, CEO perusahaan hulu migas dunia, serta pimpinan perusahaan penunjang. Sebanyak 40 negara turut membuka paviliun, dengan ribuan stan dari perusahaan minyak dan penyedia jasa penunjang industri migas.
Dalam pembukaan acara, kata Djoko, Menteri Energi UEA Suhail Mohamed Al Mazrouei menekankan pentingnya kolaborasi antar negara dan pemangku kepentingan di sepanjang rantai bisnis energi, mulai dari hulu, tengah, hingga hilir.
“Pada acara pembukaan yang disampaikan oleh Menteri UEA disampaikan bahwa kolaborasi antar negara, antar pemangku kepentingan dari upstream, midstream dan downstream sangat dibutuhkan dalam penyediaan energi oleh produsen sampai dengan konsumen yang berkelanjutan,” kata Djoko.
Selain itu, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai akan meningkatkan kebutuhan energi global.
Namun, teknologi tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk mempercepat penyediaan energi dan meningkatkan efisiensi.
Djoko mengatakan, Paviliun Indonesia juga menjadi tempat penjajakan kerja sama investasi di sektor hulu migas, mulai dari eksplorasi, pembangunan infrastruktur, hingga penyediaan barang dan jasa.
Salah satunya, penandatanganan kerja sama pembangunan fasilitas pencampuran atau blending bahan kimia untuk kebutuhan enhanced oil recovery (EOR) di Abu Dhabi antara PT Tara Abu Dhabi dan PT Luas Birus Utama.
Dalam kerja sama tersebut, bahan baku kimia untuk kebutuhan EOR akan berasal dari Indonesia.
Di sela-sela kegiatan ADIPEC, Djoko juga melakukan sejumlah pertemuan dengan pimpinan perusahaan migas internasional untuk membahas perkembangan proyek hulu migas di Indonesia. Pertemuan dengan CEO Inpex Mr. Ueda dan manajemen perusahaan membahas perkembangan proyek pengembangan Lapangan Masela.
Sementara itu, pertemuan dengan CEO Mubadala membahas progres pengembangan Lapangan Andaman. Adapun pertemuan dengan CEO Searah dan ENI membahas perkembangan proyek Geng North, Gendalo Gehem, dan Geliga.
Dalam sesi diskusi panel, sejumlah isu yang mengemuka mencakup kebijakan pasokan dan permintaan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG), baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.
Pembahasan juga mencakup produksi LNG, pembangunan infrastruktur, harga, hingga kebutuhan kontrak LNG yang lebih fleksibel.
👷 Bisnis
0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.