blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Jumat, 02 Januari 2026

PT Pindad Berpeluang Masuk Pasar Alutsista Amerika Latin

Anoa 3 Pindad

PT Pindad berpotensi menjadi pemasok alutsista alternatif bagi negara-negara di kawasan Amerika Latin. Pandangan tersebut muncul sebagai respons atas kebutuhan negara-negara di wilayah tersebut.

Terutama untuk memperkuat kemampuan pertahanan territorial,tanpa terjebak dalam persaingan geopolitik antara Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia.

Di tengah meningkatnya kebutuhan keamanan akibat maraknya aktivitas kartel dan kelompok kriminal bersenjata, pilihan untuk mengimpor alutsista dari negara yang tidak terafiliasi dengan blok politik global tertentu menjadi semakin penting.

Dalam konteks ini, produk pertahanan Indonesia dinilai memiliki posisi strategis sekaligus peluang besar untuk menembus pasar Amerika Latin.

Pengamat Hubungan Internasional UMY Rafyoga Irsadana mengungkapkan hal itu, dalam peluncuran buku Ambisi Global BUMN di UMY belum lama ini.

Rafyoga menegaskan, salah satu kekuatan utama Indonesia dalam industri alutsista global adalah politik luar negeri bebas aktif. Hal ini membuat produk pertahanan Indonesia relatif bebas dari risiko geopolitik.

Ketika sebuah negara membeli persenjataan dari Amerika atau Tiongkok, mereka bisa otomatis diasosiasikan dengan blok tertentu. Indonesia menawarkan risiko geopolitik yang rendah karena posisi strategis kita independen,” katanya.

Menurut Rafyoga, negara-negara di Amerika Latin akan merasa lebih fleksibel dan tidak terbebani secara politik, ketika membeli alutsista dari Indonesia. Dibandingkan jika mereka memberi dari pemasok besar yang membawa dampak diplomatik tertentu.

  ♔
RRI  

Kamis, 01 Januari 2026

Kaleidoskop 2025 PAL Indonesia

🎥 👷 ⚓ Peluncuran FMP pertama KRI Balaputradewa 322 (BPD) di akhir bulan Desember 2025 (PAL)

2025 adalah tahun pencapaian. Milestone strategis berhasil dilalui, tidak sekedar imajinasi, inovasi diwujudkan, dan produk unggulan dihadirkan sebagai kontribusi nyata PT PAL Indonesia bagi maritim dan pertahanan negeri.

Terima kasih atas kepercayaan dan dukungan semua pihak yang telah berjalan bersama kami. Mari kita lanjutkan tahun 2026 dengan semangat merah putih yang kian menyala.

  📹 Video diposkan PAL Indonesia : 


  🎥  Youtube   

Rabu, 31 Desember 2025

Bintang 2025: PT PAL dan Kaharuddin Djenot

Fregat Merah Putih dan KSOT (kapal selam otonom tempur) (FMI fb)

Berita terbaik sepanjang tahun 2025 adalah ini: PT PAL dengan dirutnya, Kaharuddin Djenot. Itulah ''Bintang 2025''. Anda bisa punya bintang sendiri. Silakan pilih.

Perusahaan pembuat kapal perang itu berubah drastis: bukan hanya kinerja perusahaannya, juga artinya bagi Indonesia.

Lokasi perusahaan itu di dekat pangkalan TNI-AL, Ujung, Perak, Surabaya. Saat Kaharuddin menerima amanah sebagai dirut baru, PT PAL dalam kondisi Kol 5 (kolektibilitas 5). Artinya: macet. Sudah waktunya dinyatakan pailit, dilelang, dan dilikuidasi. PT PAL sudah lama tidak bisa memenuhi kewajibannya kepada bank dan pihak ketiga lainnya.

Hanya dalam tiga tahun keuangan PT PAL bisa kembali sehat. Bukan saja sembuh tapi sudah bisa lari cepat.

Dibanding zaman paling sehatnya dulu pun sudah lebih baik 10 kali lipatnya. PT PAL pernah sehat, lalu sakit kronis yang amat akut –saya pun tidak mampu menyehatkannya.

Baru-baru ini saya meninjau PT PAL –sebelum Natalan ke Sidikalang, Sumut. Saya bertemu Dirut Kaharuddin Djenot. Saya ingin tahu apakah yang dikatakan Kaharuddin empat tahun lalu berhasil diwujudkan. Waktu itu saya ajak Kaharuddin podcast. Ia mengungkapkan begitu banyak rencana kerja. Sangat muluk. Ambisius.

Ternyata semua yang ia katakan terlaksana. Bahkan jauh lebih maju. Ia seperti menyulap rongsokan PT PAL menjadi emas. Itu karena ia bukan dirut biasa. Ia dirut perusahaan kapal yang punya keahlian mendesain kapal. Kapal apa saja. Termasuk kapal perang. Bahkan mahkotanya kapal perang: kapal selam.

Ibarat petani ia bisa mencangkul, membajak, menyemai benih, menanam, memanen, menggilingnya jadi beras, memasaknya jadi nasi, sekaligus mampu menjual nasi itu.

  30 kapal selam tanpa awak  
KSOT nomor 003 (IKMI)
Kalau yang ia buat kapal selam konvensional mungkin tidak tercipta sejarah baru. Yang ia buat di PT PAL adalah kapal selam era baru: kapal selam tanpa awak atau kapal selam autonomous (KSOT). Biaya produksinya pun menjadi sangat murah. Biaya membuat satu kapal selam konvensional bisa untuk memproduksi 30 kapal selam tanpa awak made in Kaharuddin.

Tahun depan, dimulai lusa, PT PAL akan memproduksi 30 kapal selam tanpa awak. Produk pertamanya sudah selesai diuji coba Oktober lalu. Sukses. Termasuk ketika meluncurkan senjata torpedo ke sasaran tembak di bawah permukaan air.

Bayangkan: tiba-tiba saja Indonesia punya 30 kapal selam. Siapa yang mengira. Negara konsumen ini bisa menjadi produsen.

Dengan 30 kapal selam praktis semua ''pintu masuk'' perairan Indonesia bisa dijaga oleh kapal selam bertorpedo.

Di produk pertama yang saya lihat itu, satu kapal selam membawa empat torpedo. Dua di kanan, dua di kiri. Di produksi selanjutnya, satu kapal selam bisa membawa delapan torpedo. Torpedonya pun buatan PAL sendiri.

Kapal selam tanpa awak itu bisa diparkir di bawah laut berbulan-bulan. Tanpa perlu mengapung. Tidak perlu takut kehabisan oksigen. Atau kehabisan bahan pangan. Tidak ada manusia di dalamnya. Mata dan telinga di kapal itu semuanya artificial intelligence.

Tenaga di kapal itu mengandalkan baterai. Tidak perlu takut low bat. Kalau isi baterainya berkurang bisa di-charging di bawah laut. Charging terjadi otomatis setiap saat diperlukan.

Di bagian bawah kapal selam dilengkapi turbin. Penggerak turbinnya alami: arus bawah laut. Arus air laut itulah yang memutar turbin. Turbin yang memutar membuat generator memutar: menghasilkan listrik –dipakai charging baterai kapal selam tanpa awak.

Tiba-tiba saja Indonesia menjadi negara produsen kapal selam. Secara masif pula. Tiba-tiba saja kapal selam model lama tidak begitu relevan lagi. Negara-negara yang tidak kaya pun akan bisa membeli kapal selam. Indonesia langsung bisa menjadi eksporter kapal selam.

  100 blok kapal perbulan  
Fregat Merah Putih KRI Balaputradewa 322 (FMI)
Kini seluruh galangan kapal yang ada di PT PAL sedang diperbarui. Kapasitasnya dinaikkan. Kalau dulu sebulan hanya bisa membuat 15 blok, kini sudah bisa 40 blok. Tahun 2027 meningkat menjadi 100 blok/bulan.

Kalau itu terwujud, kata Kaharuddin, PT PAL sudah setara dengan galangan kapal terbesar milik Jepang –tempat Kaharuddin memperoleh gelar S-1, S2, dan S-3 di bidang perkapalan.

Anda sudah tahu: pembuatan kapal itu dilakukan per blok. Dikerjakannya di atas tanah. Setelah semua blok selesai dibuat, barulah disambung-sambung menjadi satu kapal. Satu kapal kecil terdiri dari 20 blok. Kapal besar, kelas Panamax (bisa melewati terusan Panama), terdiri dari sekitar 110 blok.

Rencana PAL selanjutnya: seluruh galangan kapal milik BUMN digabung ke dalam PT PAL. Bahkan PAL berencana menggandeng seluruh galangan kapal swasta di Indonesia. Mereka akan menjadi satu koordinasi: Indonesia Maritime Incorporated.

Pasar kapal Indonesia sangat besar. Selama ini lebih banyak impor. Kalau semua kapal yang diperlukan Indonesia buatan Indonesia maka industri maritim akan hidup –BUMN maupun swastanya.

Diam-diam saya bersyukur Kaharuddin Djenot batal jadi pimpinan Danantara. Ia sudah pernah di-SK-kan menjadi CEO Danantara. Tapi batal sebelum dilantik.

"Bolehkah saya bersyukur seperti itu –meskipun Anda sendiri mungkin sempat kecewa?"

"Boleh," katanya lantas tersenyum. Saya sulit memaknai senyumannya itu. (Dahlan Iskan)

  ⚓️ 
Disway  

Selasa, 30 Desember 2025

Dubes Achmad Rizal Purnama Jajaki Kerja Sama Industri Pertahanan

Dubes Achmad Rizal Purnama (kiri) dan Corporate Marketing Leader dari Turkish Aerospace Industries Murat Zace di Kedutaan Besar RI (KBRI) Ankara, Turki pada 24 Desember 2025. (Foto X @AchmadRPurnama)

DUTA Besar Republik Indonesia (Dubes RI) untuk Turki Achmad Rizal Purnama menerima kunjungan Murat Zace, Corporate Marketing Leader dari Turkish Aerospace Industries (TUSAS). Pertemuan tersebut berlangsung di Kedutaan Besar RI (KBRI) Ankara, Turki pada 24 Desember 2025.

Pertemuan dengan pemimpin TUSAS tersebut membahas penguatan kerja sama Indonesia–Turki di bidang industri pertahanan. Khususnya pada pengembangan dan potensi kolaborasi teknologi pertahanan udara.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak mendiskusikan sejumlah platform strategis. Antara lain pesawat tempur Kaan, wahana udara nirawak Anka, serta berbagai platform helikopter.

Diskusi ini merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk memperkuat kemampuan pertahanan nasional sekaligus memperluas kemitraan strategis dengan mitra internasional,” ungkap Dubes Rizal dalam pernyataannya.

Rizal menegaskan, Turki merupakan salah satu mitra penting Indonesia dalam pengembangan industri pertahanan. Utamanya, yang berbasis alih teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta peluang produksi bersama di masa depan.

Kaan adalah pesawat tempur generasi kelima yang dikembangkan Turkish Aerospace Industries. Pesawat ini dirancang dengan teknologi siluman (stealth), kemampuan avionik canggih, serta integrasi sistem persenjataan modern.

Kaan diproyeksikan menjadi tulang punggung pertahanan udara Turki di masa depan. Pesawat ini menarik minat sejumlah negara mitra, termasuk Indonesia, untuk kerja sama pengembangan teknologi dan industri pendukungnya.

Sedangkan Anka merupakan pesawat tanpa awak kelas menengah hingga berat yang mampu melakukan misi pengintaian, pengawasan, serta serangan. Drone ini memiliki daya jelajah panjang dan dapat membawa berbagai sensor serta persenjataan presisi.

Selain pesawat tempur dan drone, pembahasan juga mencakup platform helikopter produksi Turki yang dirancang untuk berbagai misi. Seperti transportasi militer, pencarian dan penyelamatan (Search And Rescue/SAR), hingga operasi taktis.

Helikopter-helikopter ini dikembangkan dengan fokus pada keandalan, fleksibilitas misi, serta kemampuan beroperasi di berbagai medan. Hal ini sejalan dengan kebutuhan geografis Indonesia.

  🛩
RM  

Senin, 29 Desember 2025

[Video] Sosok di Balik Kapal Selam Tanpa Awak dan Kapal Perang Merah Putih Buatan PT PAL

  🎥 Liputan DI's Way 

PT
PAL sempat mengalami krisis yang berkepanjangan. Berkat tangan dingin Dirut Kaharuddin Djenod, PT PAL kini menjadi perhatian dunia setelah mampu memproduksi kapal selam tanpa awak (KSOT 008) dan kapal fregrat Merah Putih yang merupakan kapal perang besar nan canggih bernama KRI Balaputradewa-322.

Founder ‪@hariandisway‬ Dahlan Iskan penasaran dengan sukses besar yang bisa diraih PT PAL ini.

Dahlan pun berkunjung ke PT PAL dan menemui Kaharuddin untuk bisa melihat dari dekat perkembangan pesat ini.

  Berikut video dari Youtube :  



   📹
  Youtube  


Minggu, 28 Desember 2025

Prabowo Resmikan Pabrik Baterai EV Rp 96 Triliun

  Terbesar di Asia! (CNBC)

Presiden RI Prabowo Subianto pada akhir Juni 2025 lalu meresmikan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) terbesar di Asia, di Karawang, Jawa Barat. Total investasi keseluruhan proyek hulu-hilir tersebut mencapai US$ 5,9 miliar setara Rp 96,04 triliun (asumsi kurs Rp 16.278 per US$).

Proyek tersebut dioperasikan oleh PT Aneka Tambang (Antam), PT Indonesia Battery Corporation (IBC), dan perusahaan asal China yakni Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co. Ltd. (CBL) yang merupakan perusahaan patungan dari CATL, Brunp dan Lygend.

Peletakan batu pertama proyek investasi jumbo itu masuk dalam runtutan "Big Stories 2025" CNBC Indonesia. Dimulainya pembangunan proyek tersebut menjadi salah satu topik yang paling banyak dibaca pada tahun 2025 ini. Simak penjabaran lengkapnya berikut ini.

Berlokasi di Artha Industrial Hill (AIH) & Karawang New Industry City (KNIC), Karawang, Jawa Barat, Prabowo secara simbolis meresmikan groundbreaking pembangunan proyek hulu-hilir baterai tersebut.

Pada peresmiannya, Prabowo juga didampingi oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, COO Danantara Dony Oskaria, CIO Danantara Pandu Patria Sjahrir, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Pemilik Grup Artha Graha Tomy Winata, hingga pihak lainnya.

Pembangunan ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi merupakan langkah nyata dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.

"Cita-cita hilirisasi sudah sangat lama dari sebenarnya Presiden Republik Indonesia yang pertama dari Bung Karno sudah bercita-cita hilirisasi. Dan Presiden-Presiden kita selanjutnya juga bercita-cita dan melaksanakan hilirisasi," ucap Prabowo, Minggu (29/6/2025).

  RI Bisa Ketiban Durian Runtuh Rp 481,55 Triliun 
Prabowo memperhitungkan, tambah ekonomi dari proyek ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi di Indonesia bisa meningkat delapan kali lipat. Nilainya bahkan sampai US$ 48 miliar setara Rp 481,55 triliun.

"Jadi memang tadi saya katakan proyek ini adalah proyek terobosan dan sebagaimana tadi dilaporkan dengan investasi US$ 5,9-6 miliar akan menghasilkan nilai diperkirakan US$ 48 miliar, jadi 8 kali nilai tambahnya," ujarnya.

Dia menegaskan, nilai tambah tersebut bisa dinikmati pula oleh daerah khususnya Maluku Utara, lokasi sebagian besar ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi yang diklaim terbesar di Asia tersebut.

"Dengan nilai tambah yang sekian tidak hanya Maluku Utara yang akan kita percepat pembangunannya tapi provinsi-provinsi lain akan menikmatinya. Seluruh bangsa akan menikmatinya," tegasnya.

  RI Bisa Hemat Impor BBM 300 Ribu KL 
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa Indonesia bisa menghemat impor 300 ribu kilo liter bahan bakar minyak (BBM). Hal ini jika pabrik tersebut mulai beroperasi dengan kapasitas maksimal yakni 15 GWh/tahun.

"Ini bisa menghemat impor BBM sekitar 300.000 kiloliter per tahun kalau hanya 15 GWh," jelasnya dalam acara peresmian Groundbreaking Ekosistem Baterai Terbesar di Asia, di Karawang Jawa Barat, Minggu (29/6/2025).

  Jepang-AS Minat Beli 
Direktur Utama PT Indonesia Battery Corporation (IBC) yang menjabat saat itu yakni Toto Nugroho mengatakan produk sel baterai yang dihasilkan melalui pabrik tersebut sebagiannya akan diekspor ke beberapa negara seperti Jepang, India, China, bahkan Amerika Serikat (AS).

"Ada. Jadi sudah ada beberapa off-taker langsung. Banyak yang ada di Indonesia. Ada juga yang pasar untuk ekspor," ujarnya di Karawang, Jawa Barat, Minggu (29/6/2025). "Negaranya ada Jepang, ada India. Ada juga US," tambahnya.

Meski akan mengirimkan produk sel baterai ke beberapa negara, Toto belum bisa memastikan perusahaan mana yang akan dipasok oleh pihaknya.

Namun, pihaknya memperhitungkan porsi ekspor yang akan dilakukan oleh pihaknya mencapai 30% dari total produksi sel baterai perusahaan. Sisanya, kata Toto, akan dipasok untuk kebutuhan domestik.

"Nanti kita lihat. Kalau kita lihat dengan kondisi yang sekarang, diekspor sekitar 30-an%. Tapi nanti pasti berubah-ubah tahun ke tahun," bebernya.

"Jadi kita tidak hanya ke satu negara saja, tapi ke berbagai negara juga. Bagusnya untuk baterai EV ini, perkembangan utama itu di Cina, Amerika, sama Eropa. Timur Tengah juga mulai berkembang. Yang ada nikel ya Alhamdulillah Indonesia. Jadi itu yang tugas negara kita untuk bisa meningkatkan," tandasnya.

  Lithiumnya Impor 
Untuk mengembangkan ekosistem itu, dibutuhkan pelengkap komponen-komponen bahan baku. Indonesia sendiri, menjadi salah satu negara penghasil nikel terbesar di Dunia. Namun satu komoditas itu tak cukup untuk membentuk ekosistem baterai EV, dibutuhkan produksi pertambangan strategis seperti lithium.

Toto mengungkapkan Indonesia sendiri sejatinya sudah memiliki keseluruhan bahan pembuat sel baterai, namun hanya lithium yang belum tersedia. Meski begitu, pihaknya akan memenuhi kebutuhan tersebut melalui pasokan dari negara tetangga Indonesia seperti Australia.

Walaupun memang, lanjut Toto, jumlah lithium yang dibutuhkan tidak terlalu besar, hanya 7% dari keseluruhan komponen sel baterai. "Jadi kalau lithium itu, sekarang kan yang ada itu banyak dari Australia, sama dari Amerika Selatan. Tapi lithium itu cuma 7% dari si baterainya secara benar-benar," katanya.

Indonesia sendiri, lanjut Toto, sebenarnya memiliki peluang untuk bisa memproduksi lithium dalam negeri yakni berasal dari air dari sumber panas bumi (brine geothermal). Namun belum tereksplorasi lebih lanjut.

"Tapi itu satu hal yang menurut saya untuk sementara kan tidak semua negara memiliki mineral yang cukup untuk baterai. Jadi Allah itu maha adil. Seluruh mineral itu disebar di seluruh dunia. Jadi kita saling melengkapi sebenarnya," tambahnya.

  Proyek Ekosistem Baterai Terintegrasi 
Proyek tersebut terdiri dari total enam usaha patungan (Joint Venture/JV) mulai dari proyek hulu hingga hilir. Detailnya, JV satu hingga tiga merupakan ekosistem baterai di sisi hulu. Sedangkan, JV empat hingga enam merupakan ekosistem baterai di sisi hilir.

  Hulu: 
JV 1: Proyek pertambangan nikel PT Sumberdaya Arindo (SDA) kapasitas produksi nikel saprolite 7,8 juta wet metric ton (wmt) dan limonite 6 juta wmt, total 13,8 juta wmt dengan porsi kepemilikan saham PT Antam sebesar 51% dan CBL sebesar 49%. Proyek ini sudah mulai berproduksi sejak tahun 2023 lalu.

JV 2: Proyek fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter nikel) jenis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) PT Feni Haltim (FHT) kapasitas 88 ribu ton refined nickel alloy per tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 60% dan PT Antam sebesar 40%. Proyek ini ditargetkan berproduksi pada tahun 2027 mendatang.

JV 3: Proyek fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter nikel) jenis High Pressure Acid Leaching (HPAL) PT Nickel Cobalt Halmahera (HPAL JVCO) kapasitas 55 ribu ton MHP per tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT Antam sebesar 30%. Proyek ini ditargetkan berproduksi pada tahun 2028 mendatang.

  Hilir: 
JV 4: Proyek material baterai yang akan memproduksi bahan katoda, kobalt sulfat, dan prekursor terner kapasitas 30 ribu ton Li-hydroxide berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara dengan porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT IBC sebesar 30%. Proyek ini ditargetkan berproduksi pada tahun 2028 mendatang.

JV 5: Proyek sel baterai PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) berlokasi di Artha Industrial Hill (AIH) & Karawang New Industry City (KNIC). Proyek ini terbagi menjadi fase 1 dengan kapasitas 6,9 GWh/tahun dan fase 2 kapasitas 8,1 GWh/tahun, total kapasitas 15 GWh/tahun. Adapun, porsi kepemilikan saham CBL 70% dan PT IBC sebesar 30%. Proyek ini ditargetkan mulai berproduksi pada tahun 2026 mendatang untuk fase 1, dan pada tahun 2028 mendatang untuk fase 2.

JV 6: Proyek daur ulang baterai berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara kapasitas 20 ribu ton logam/tahun dengan porsi kepemilikan saham CBL 60% dan PT IBC sebesar 40%. Proyek ini ditargetkan tahun 2031 mendatang. (pgr/pgr)

  🎇 
CNBC  

Sabtu, 27 Desember 2025

Peneliti IPB Kembangkan Rompi Anti Peluru dari Limbah Sawit

Peneliti IPB menguji coba rompi anti peluru dari bahan limbah sawit di Laboratorium Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Darat, Batujajar, Bandung, Jumat (19/12/2025).(Dok.IPB)

Peneliti IPB University mengembangkan rompi anti peluru berbahan baku tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Peneliti Pusat Studi Sawit sekaligus Dosen Departemen Fisika IPB Universi, Siti Nikmatin menjelaskan limbah sawit digunakan sebagai alternatif material kevlar, bahan utama pembuatan rompi anti peluru.

"Aslinya (rompi anti peluru) adalah 100 persen dari kevlar, lalu kami modifikasi 50 pesennya dari kelapa sawit. Jadi 50 persennya kelapa sawit, dan 50 persennya masih menggunakan kevlar, setidaknya ada substitusi 50 persen dari serat kevlar," ungkap Siti saat dihubungi, Jumat (26/12/2025).

Dia berpandangan, substitusi ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada kevlar yang berbahan sintetis berbasis kimia dan relatif mahal. Sedangkan TKKS adalah limbah industri sawit yang saat ini mudah ditemukan, serta belum dimanfaatkan secara optimal.

Keungulannya, kata Siti, serat sawit lebih ringan dibandingkan kevlar. Sehingga, dapat menekan bobot rompi yang digunakan anggota TNI.

"(Pihak) TNI juga bertanya apakah bisa 100 persen dari sawit, ini bisa namun tebal. 100 persen (bahan) dari sawit bisa, tetapi tidak memenuhi standar TNI," tutur Siti.

Adapun standar rompi anti peluru TNI mensyaratkan berat maksimal 2 kilogram, ketebalan tidak lebih dari 2 sentimeter, dengan ukuran 30 x 30 sentimeter. Karena itu, komposisi serat sawit saat ini baru bisa mencapai sekitar 50 persen.

"Tetapi, kalau dipaksa apakah 100 persen dari sawit bisa cuma tebalnya pasti 4 cm, beratnya 3-4 kg," imbuh dia.

Siti mengakui teknologi pembuatan rompi masih bersifat semi manual. Sebagian proses produksinya masih dilakukan secara manual, khususnya pada tahap pembuatan benang dan kain serat sawit.

Untuk pengolahan sawit menjadi serat panjang sudah menggunakan mesin, begitu juga proses pembuatan kompositnya. Yang masih manual itu proses benang dan kainnya,” ujarnya.

Siti menyebut, dibutuhkan waktu satu hari untuk memproduksi rompi anti peluru dari limbah sawit. Di sisi lain, dia memastikan ketersediaan tandan kosong kelapa sawit tidak menjadi kendala. Limbah tersebut dapat diperoleh secara gratis dari pabrik kelapa sawit.

Para peneliti hanya mengeluarkan biaya untuk jasa angkut limbah sawit saja.

   Tersertifikasi  
Adapun inovasi rompi anti peluru berbahan tandan kosong kelapa sawit hasil riset tim IPB University dinyatakan lolos uji balistik dan tersertifikasi setelah diuji di Laboratorium Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Darat, Batujajar, Bandung, Jumat (19/12/2025).

Pengujian menggunakan amunisi kaliber 9×19 milimeter dari jarak tembak 5 meter, mencakup kondisi tembak kering dan basah, serta uji ketahanan terhadap tusukan dan bacokan senjata tajam.

Berdasarkan penilaian, rompi dinyatakan lulus karena mampu menahan proyektil tanpa tembus dengan tingkat deformasi atau lekukan belakang di bawah 44 mm. Performa ini dinilai sangat kompetitif dengan rentang harga pasaran rompi antipeluru level IIIA yang ada saat ini.

Menurut Siti, proyek tersebut didanai Program Dana Padanan (Kedaireka) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun anggaran 2024–2025. Dia berharap, rompi anti peluru bisa diproduksi massal.

"Kalau saya pribadi sebagai dosen tugasnya ya sudah sampai penelitian terbukti, tersertifikasi oleh lembaga yang terkompeten, bisa digunakan ya sudah. tetpi kan kalau untuk produksi banyak itu bukan tugas dosen, harapannya ada mitra yang bisa men-scale up ini," tutur dia.

  💥 
Kompas  

Jumat, 26 Desember 2025

BRIN Uji Terbang Empat Pesawat Tanpa Awak

🛩  Pengembangan teknologi pernebangan nasional Drone LSU 02 VTOL (BRIN)

Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Penerbangan melakukan uji terbang empat pesawat tanpa awak sebagai bagian dari pengembangan teknologi penerbangan nasional. Uji terbang tersebut dilaksanakan di Lanud Rumpin, Kabupaten Bogor, pada Rabu s.d. Jumat (17-19/12).

Kegiatan ini bertujuan untuk menguji performa terbang serta keandalan sistem pada masing-masing wahana.

Salah satu pesawat yang diuji adalah LSU 02 VTOL, pesawat tanpa awak yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal tanpa memerlukan landasan panjang.

Dalam pengujian ini, LSU 02 VTOL terbang pada ketinggian sekitar 300 kaki dengan kecepatan 53 knot selama kurang lebih delapan menit.

Hasil uji terbang menunjukkan bahwa performa terbang dan sistem VTOL pesawat berfungsi sesuai harapan. Pesawat ini dirancang untuk mendukung misi pengawasan wilayah dan pemetaan area,” ungkap Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Penerbangan BRIN, Danartomo Kusumoaji.

Drone Alap-alap (BRIN)
Pesawat tanpa awak lainnya, Alap-Alap, menjalani uji terbang dengan misi optimalisasi sistem autopilot. Pesawat tersebut terbang pada ketinggian 800 kaki dengan kecepatan 50 knot selama 30 menit. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem autopilot berfungsi dengan baik.

Sementara itu, pesawat Kresna diuji untuk mengevaluasi sistem telemetri, yaitu sistem pengiriman data penerbangan secara real time ke stasiun kendali di darat. Berdasarkan hasil pengujian, Kresna terbang selama 10 menit pada ketinggian 300 kaki dengan kecepatan sekitar 50 knot.

BRIN juga melakukan uji terbang pesawat Skywalker untuk mengenali karakteristik aerodinamika pesawat, seperti kestabilan dan respons saat terbang. Data yang diperoleh dari pengujian ini akan digunakan sebagai dasar penyempurnaan desain dan peningkatan performa pesawat ke depan.

Lebih lanjut, Danartomo menjelaskan bahwa pesawat tanpa awak LSU-02 VTOL dan Alap-alap merupakan murni semuanya dikembangkan oleh para periset BRIN dari design dan juga teknologi Flight Control Computer (FCC). Sementara itu, untuk pesawat tanpa awak Skywalker dan Krishna, memakai desain pesawat yang sudah ada, sedangkan terkait perkembangan risetnya itu dilakukan oleh para periset di Pusat Riset Teknologi Penerbangan.

Nah jadi ceritanya memang untuk yang Krishna itu memang kita mencontoh dari pesawat Cessna ya, yang sebenarnya desainnya juga sudah ada. Memang pesawatnya bukan didesain sendiri oleh teman-teman PRTP. Karena memang untuk menguji FCC, jadi harus dengan pesawat yang memang sudah benar-benar bagus. Sedangkan untuk Skywalker ini kan kita mau melihat identifikasi parameter aerodinamikanya. Nah itu juga memakai pesawat yang sudah ada,” terangnya.

Danartomo menyampaikan bahwa uji terbang ini merupakan tahapan penting dalam pengembangan pesawat tanpa awak nasional. Hasil pengujian diharapkan dapat memperkuat pengembangan teknologi drone dalam negeri untuk mendukung berbagai kebutuhan, seperti pemetaan dan pengawasan wilayah. “Melalui uji terbang ini, kami dapat mengevaluasi performa pesawat sekaligus memastikan seluruh sistem bekerja secara aman dan stabil,” pungkasnya.

  🛩
BRIN  

Kamis, 25 Desember 2025

BRIN Dorong N219 Jadi Solusi Konektivitas Wilayah Terpencil

  🛩 👷 Integrasi riset yang tidak hanya berhenti di laboratorium(PTDI)

PT Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat ekosistem kedirgantaraan nasional melalui kolaborasi riset yang lebih erat dengan industri.

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala BRIN, Prof Arif Satria, saat melakukan kunjungan kerja ke fasilitas produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) di Bandung, Rabu (24/12/2025).

Arif menekankan pentingnya integrasi riset yang tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi mampu menjawab kebutuhan nyata industri (industry-led research).

Kita harus memastikan bahwa setiap riset di bidang kedirgantaraan memiliki dampak ekonomi dan nilai tambah nyata bagi industri nasional,” ujar Arif dalam keterangan tertulisnya.

Menurut Arif, PTDI merupakan pusat gravitasi inovasi teknologi tinggi di Indonesia. Oleh karena itu, BRIN akan mendukung penuh melalui skema pendanaan riset, penggunaan fasilitas laboratorium bersama, hingga penguatan sumber daya manusia (SDM) periset.

  Fokus pada Pesawat N219
Salah satu agenda utama dalam kunjungan tersebut adalah meninjau perkembangan pesawat N219 Nurtanio, hasil kolaborasi antara BRIN dan PTDI. Pesawat bermesin ganda ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan transportasi di wilayah terpencil di Indonesia.

Arif menyebutkan bahwa N219 memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi di kelasnya, terutama kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL).

"N219 mampu beroperasi di landasan pacu yang pendek, kurang dari 800 meter, bahkan yang tidak beraspal sekalipun. Ini solusi kunci untuk wilayah seperti pegunungan Papua atau daerah 3T lainnya," ujarnya.

Selain itu, pesawat ini memiliki volume kabin terbesar di kelasnya dengan kapasitas 19 penumpang. Berkat sistem quick change, konfigurasi kabin dapat diubah dengan cepat untuk misi angkut kargo, evakuasi medis (medevac), hingga patroli maritim.

  Sinergi Riset dan Industri
Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, menyambut baik dukungan dari BRIN. Ia menyatakan bahwa kolaborasi ini sangat penting untuk meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada produk-produk dirgantara Indonesia.

"Dengan dukungan riset dari BRIN, kami optimistis dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kedirgantaraan," kata Gita.

PTDI merupakan satu-satunya industri dirgantara di Asia Tenggara yang memiliki kemampuan lengkap mulai dari desain, manufaktur, hingga perawatan pesawat. Selain N219, PTDI juga telah sukses memasarkan produk unggulan lain seperti CN235 dan NC212i ke pasar internasional.
 

  🛩 
Republika  

Rabu, 24 Desember 2025

PT DI Menerima Kunjungan Kepala dan Wakil Kepala BRIN

  🛩 👷 🤝(PTDI)

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menerima kunjungan kerja Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, bersama Wakil Kepala BRIN Amarulla Octavian, disambut langsung oleh Direktur Utama PTDI Gita Amperiawan beserta jajaran Direksi dan manajemen PTDI di hanggar Final Assembly Line (FAL) PTDI, Bandung.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan BRIN meninjau sejumlah produk dan program strategis PTDI, antara lain pesawat CN235, N219, program MALE UCAV serta UAS Wulung, sekaligus mendengarkan paparan mengenai perkembangan dan timeline program N219 Amphibious dan MALE UCAV sebagai bagian dari program strategis nasional.

Pengembangan N219 Amphibious dilakukan melalui kerja sama PTDI dengan Momentum (USA) dalam penyediaan float kit.

Sementara itu, pada program MALE UCAV, PTDI akan mengeksplorasi potensi kerja sama dengan ALIT (China) dalam pengintegrasian sistem persenjataan (weapon integration), serta dengan Milkor (Afrika Selatan) dalam pengembangan prototipe airframe berbahan komposit penuh (full composite airframe prototyping) beserta subsistem yang telah teruji.

Melalui kunjungan ini, PTDI berharap memperoleh dukungan BRIN dalam bentuk pemanfaatan fasilitas pengujian dan kepakaran (expertise), pelaksanaan design review untuk subsistem dan teknologi kunci, pengembangan teknologi strategis, penyediaan fasilitas kualifikasi komponen dalam negeri, serta dukungan anggaran guna mempercepat pengembangan program MALE UCAV.

Kami berharap pengembangan pesawat N219 tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan pemerintah, tetapi juga dapat menembus pasar komersial. Dengan meningkatnya keterlibatan pasar swasta, skala ekonomi dapat tercapai sehingga harga menjadi lebih kompetitif. Setelah pasar domestik terpenuhi, pengembangan dapat diperluas ke kawasan Asia Tenggara hingga Afrika yang memiliki banyak wilayah terpencil. BRIN siap mendukung PTDI melalui kolaborasi riset, pemanfaatan fasilitas pengujian, serta penugasan peneliti agar pengembangan dapat berjalan lebih efektif dan produktif, sebagai langkah menuju era baru PTDI di pasar domestik dan global,” ujar Kepala BRIN, Arif Satria..
 

  🛩 
PTDI  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More