blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Kamis, 05 Januari 2017

Jokowi Sebut Penundaan Kerja Sama Militer RI-Australia Masalah Prinsip

http://sumbar.antaranews.com/image/2015/12/ori/20151215Jokowi5.jpgPresiden Joko Widodo

Presiden Joko Widodo mengaku sudah mendapat laporan dari Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Panglima TNI Gatot Nurmantyo terkait penundaan kerja sama militer TNI dan Australia Defence Force (ADF).

Jokowi menyetujui putusan tersebut sampai masalah yang ada bisa diselesaikan secara tuntas oleh kedua belah pihak.

"Ini masalahnya biar diclearkan dulu. Karena juga masalah, itu meskipun di tingkat operasional, tapi ini masalah prinsip," kata Jokowi di Jakarta, Kamis (5/11/2017).

Sebelumnya, Menhan mengakui penundaan kerja sama karena adanya oknum militer di Australia yang mengina dan melecehkan Indonesia dan Pancasila. Menhan menyebut oknum tersebut sudah diberi sanksi oleh ADF.

"Saat ini masalah itu, saya sudah perintahkan untuk ditangani oleh Menhan dan Panglima TNI. Saya kira hubungan kita dengan Australia masih dalam kondisi yang baik-baik saja. Hanya mungkin di tingkat operasional ini masih perlu disampaikan agar situasinya tidak panas," tambah Jokowi.

Yang pasti, lanjut Jokowi, Indonesia dan Australia sudah sepakat untuk saling menghormati, saling menghargai dan tidak campur tangan urusan dalam negeri masing-masing.

Menteri Pertahanan Australia Marise Payne menegaskan akan menangani secara serius temuan materi pelajaran pada fasilitas pelatihan bahasa Angkatan Darat Australia, yang diduga menghina TNI.

Kepala Angkatan Pertahanan Australia, Air Chief Marshal Mark Binskin, telah melayangkan surat kepada mitranya dari Indonesia, Jenderal Gatot Nurmantyo, bahwa persoalan ini akan ditangani secara serius dan kami akan menginvestigasi masalah yang mengemuka,” kata Payne dalam pernyataan resmi yang diunggah pada laman Kementerian Pertahanan Australia, www.minister.defence.gov.au, Rabu (4/1/2017).

 Oknum Militer Australia yang Hina Pancasila Sudah Diberi Sanksi 

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengakui, ada oknum anggota Australian Defence Force (ADF) yang menghina lambang negara Indonesia, Pancasila.

Hal ini diketahui berdasarkan laporan pelatih dari Korps Pasukan Khusus (Kopassus) yang mengajar di Sekolah Pasukan Khusus Australia.

Menhan mengatakan, oknum tersebut sudah diberi sanksi oleh ADF.

"Itu kan yang letnan saja, kemudian sudah ditegur, sudah dihukum itu," kata Ryamizard di Istana Bogor, Rabu (4/1/2017).

Ryamizard meyakini, militer atau Pemerintah Australia sama sekali tidak berniat untuk menghina atau melecehkan Indonesia.

Ia menegaskan, Australia dan Indonesia selama ini selalu menjaga hubungan baik.

"Jangan gara-gara 'curut-curut' enggak jelas itu hubungan negara enggak bagus, enggak baik juga," kata dia.

Menhan mengakui dengan adanya peristiwa ini, kerja sama militer antara TNI dan ADF ditunda.

Ia mengatakan, dalam waktu dekat, dirinya akan segera menemui Menteri Pertahanan Australia untuk membahas kelanjutan kerja sama militer ini.

"Nanti saya ngomong dengan Menhan-nya dulu ya. Memang, seharusnya saya kemarin ke sana. Belum karena Menhan-nya lagi di rumah sakit, mungkin akhir bulan ini saya ke sana," ujar Ryamizard.

Dari informasi yang ditelusuri Kompas, TNI sebelumnya mengirimkan surat kepada ADF pada 9 Desember 2016 tentang penghentian kegiatan kerja sama militer di antara kedua belah pihak.

Hal itu dipicu dengan pengalaman pelatih dari Kopassus yang mengajar di sekolah pasukan khusus Australia tersebut.

Saat mengajar, pelatih tersebut mengetahui adanya pelajaran-pelajaran yang isinya menjelek-jelekkan TNI di akademi tersebut.

Saat menghadap kepala sekolah di akademi tersebut untuk mengajukan keberatan, sang pelatih Kopassus tersebut menemukan tulisan lainnya yang isinya justru menghina lambang negara Indonesia, Pancasila.

"Ada kertas tulisan yang di-laminating," demikian sebagaimana dituturkan sumber tersebut.

 Surati Panglima TNI, Militer Australia Minta Maaf 

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengaku sudah menerima surat permohonan maaf dari Militer Australia, yang dikirim Kepala Angkatan Udara Australia Marsekal Mark Binskin.

Surat permohonan maaf itu terkait dugaan adanya penghinaan terhadap TNI dan Pancasila di pendidikan militer Australia.

"Saya dengan Marsekal AU Mark Binskin bersahabat. Akhirnya beliau mengirim surat kepada saya, permohonan maaf," kata Gatot di Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (5/1/2017).

Selain permohonan maaf, lanjut Gatot, militer Australia menyatakan tengah melakukan investigasi soal dugaan adanya kurikulum yang menghina TNI dan Pancasila.

Militer Australia juga berjanji akan memperbaiki kurikulum mereka.

Selain itu, disebutkan juga bahwa Kepala Staf Angkatan Australia akan dikirim ke Indonesia untuk koordinasi lebih lanjut.

"Karena beliau sahabat saya, saya juga mengirimkan surat. Terima kasih atas permintaan maaf dan kita hentikan dulu program tersebut, dan akan dilanjutkan pembicaraan setelah hasil investigasi," ucap Gatot.

Gatot menambahkan, keberadaan kurikulum itu diketahui dari laporan seorang perwira TNI AD yang dikirim untuk mengajar di sana.

"Pada saat mengajar di sana, ditemukan hal tidak etis sebagai negara sahabat yang mendiskreditkan TNI dan bangsa Indonesia, bahkan ideologi bangsa Indonesia," kata Gatot di Jakarta, Kamis (5/1/2017).

"Terlalu menyakitkan sehingga tidak perlu dijelaskan. Tentang tentara yang dulu, Timor Leste, Papua juga harus merdeka dan tentang Pancasila yang diplesetkan jadi Pancagila" ujarnya.

Akibat adanya permasalahan ini, TNI pun menunda semua kerja sama militer dengan Australia.

  Kompas  

3 Menteri Kunjungi Industri Pertahanan di Malang

https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2017/01/05/797354/670x335/3-menteri-jokowi-kunjungi-industri-pertahanan-di-malang.jpgTiga Menteri Presiden Jokowi kunjungi industri senjata di Malang. [©2017 Merdeka.com/darmadi]

Tiga menteri Joko Widodo mengunjungi perusahaan industri pertahanan dan keamanan di Malang, Jawa Timur. Ketiga menteri mengunjungi PT Sari Bahari, industri persenjataan yang dikelola swasta.

Ketiga menteri adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Ekuin) Darmin Nasution, Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Rudiantara serta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (MenPU dan Pera) Basoeki Hadimoeljono.

Selama kunjungan para menteri menyaksikan berbagai produk PT Sari Bahari. Mereka mendapatkan penjelasan aneka produk pertahanan yang meliputi roket dan bahan peledak. Ketiganya serius menerima penjelasan produk demi produk.

Sementara itu, saat melihat proses produksi berlangsung tertutup. Para wartawan tidak diperkenankan ikut memasuki lokasi produksi.

"Ini baik sekali, sebuah potensi besar yang harus didukung. Masak impor terus. Patut didukung," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution di PT Sari Bahari Malang, Kamis (5/1).

Darmin mengungkapkan, adanya kemungkinan untuk pasar luar negeri. Jika pangsa pasar sangat mendukung perlu dibicarakan untuk tindak lanjutnya. Karena memang aturan masih belum memungkinkan.

PT Sari Bahari merupakan industri persenjataan yang dikelola swasta. Perusahaan tersebut sebagai pembuat selongsong dan roket, sementara pengisian bahan peledak dilakukan PT Dahana (BUMN).

Rombongan selanjutnya menuju ke Universitas Brawijaya. Ketiga menteri akan memberikan kuliah umum. [cob]

  Merdeka  

Pengadaan Alutsista Belum Transparan

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjgn9CFDeY_UHMORZur27xX99J2PI4t1XDiqkPctQ2sGDgl8RPX40rmgGNtE0iUSUASBJCiGyfo2TT15b0kvr986BeTxSTWOxEEQz6ROziflb4NPTIpw5U9P8Y68FNoOhbCKwIJIs2Il98/s1600/C0DRw6vXAAAAgIC.jpgHelikopter AW 101 pesanan TNI AU tengah menjalani tes awal penerbangan di divisi helikopter Leonardo-Finmecanicca di Yeovil, Inggris, pekan lalu. Terlihat helikopter tersebut telah dicat dengan warna loreng TNI dan diberi lambang TNI. [ROTORBLUR.CO.UK/Rich Pittman]

Pengadaan alat utama sistem persenjataan di TNI dinilai belum transparan. Ketidaktransparanan ini dipicu belum adanya strategi besar yang mendasari pertahanan Indonesia. Publik tidak tahu, pembelian senjata selama ini untuk menangkal ancaman seperti apa.

"Kita tidak memiliki grand strategy, tidak dijelaskan ancaman militer seperti apa dan dengan apa kita hadapi. Jadinya tidak jelas apa yang kita butuhkan jangka panjang dan pendek," kata dosen Universitas Pertahanan, Yohanes Sulaiman, Minggu (1/1).

Yohanes mengatakan, dalam kasus pembelian helikopter Agusta Westland 101 oleh TNI AU, persoalan ini mengemuka. Pengadaan heli angkut berat sebenarnya memiliki varian yang luas. Masyarakat tidak pernah mendapat penjelasan, helikopter tersebut dibeli untuk menghadapi ancaman apa. "Kalau kriterianya jelas, kita jadi mengerti kenapa TNI AU memilih helikopter AW 101 selain heli-heli yang lain," kata Yohanes.

Ia mengatakan, walau dalam buku putih pertahanan dan postur pertahanan dijelaskan tentang ancaman, hal itu masih kurang didiskusikan secara komprehensif. Misalnya, seperti apa ancaman militer dan nonmiliter yang akan dihadapai bangsa ke depan. "Misalnya bagaimana kita melihat ancaman di Laut Tiongkok Selatan dan bagaimana posisi kita," katanya.

Sebelumnya, Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna menjelaskan, AW 101 diperuntukkan mengangkut pasukan, SAR tempur, dan evakuasi medis. TNI AU ingin punya helikopter untuk berbagai fungsi. Dengan demikian, postur TNI AU bisa dibangun sesuai dengan doktrin TNI AU, Swa Bhuana Paksa.

Yohanes mengatakan, transparansi juga mencakup faktor lain seperti harga. Misalnya, untuk mencapai fungsi yang diinginkan AW 101, perlengkapan apa saja yang dibeli. Dengan demikian, jelas bahwa pengadaan tersebut berdasarkan kebutuhan.

 Sisa India 

Dari penelusuran Kompas, heli AW 101 adalah bagian dari sembilan helikopter yang batal dibeli AU India karena kasus suap. India membeli heli AW 101 tahun 2010 sebanyak 12 buah dengan harga masing-masing 45 juta dollar AS. Mulai tahun 2012, tiga buah helikopter selesai dari pabrik dan dikirimkan ke India. Ketika kasus penyuapan ini mencuat di Italia, Pemerintah India membatalkan kontrak dan menguangkan kembali 199 juta euro dari total kontrak 250 juta euro.

Dengan merujuk foto yang diambil fotografer Rich Pittman, helikopter AW 101 yang telah dicat warna loreng TNI dan diberi lambang TNI AU memiliki nomor konstruksi C/N 50248 dan nomor seri ZR 343. Pittman adalah fotografer pengelola situs www.rotorblur.co.uk.

ZR adalah nomor seri helikopter yang diproduksi di Inggris. Lewat website ukserials.com, terlihat bahwa heli yang diproduksi tahun 2012 tersebut dibatalkan oleh AU India dan dibeli oleh TNI AU. Terlihat bahwa helikopter AW 101 dengan nomor konstruksi 50242 sampai 50256 dan ZR 338 sampai ZR 349 sedianya sudah dibeli India, tetapi dibatalkan.

Pada pameran Indo Defense November 2016, Manajer Hubungan Media Leonardo-Finmecanicca, produsen AW 101, Alessandro Capocaccia, membantah bahwa heli yang akan dibeli TNI AU adalah bagian dari yang telah dibatalkan India.

Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna juga membantah bahwa heli yang dibeli TNI AU adalah helikopter yang batal dibeli India. Ia mengatakan, kebijakannya sebagai KSAU adalah membeli alutsista yang baru dan lengkap serta satu tingkat dari yang ada. Versi TNI AU ini berbeda jauh dengan yang dibeli India karena versi TNI AU ini multifungsi dan jauh lebih lengkap. "Heli ini saya pesan dari awal, tetapi dikerjakan tiga sif dengan pengawasan TNI AU sejak awal," kata Agus tentang heli berharga 55 juta dollar AS itu.

Menurut pengamat militer dan pertahanan, Connie Rahakundini Bakri, TNI AU membutuhkan heli baru untuk Skadron 6 yang bertugas angkut dan evakuasi. Atas dasar itu, TNI AU melakukan penilaian dan analisis sehingga dipilih heli AW 101. "Setelah pemerintah menolak pemesanan heli AW 101 untuk VVIP, anggaran itu kembali ke matra udara. Alhasil, KSAU mengalokasi ulang budget yang berasal dari DIPA (Daftar Isian Pelaksana Anggaran) 2015 itu untuk membeli heli angkut Skuadron 6," ujar Connie.

Connie juga tak percaya heli pesanan TNI AU merupakan bekas pesanan India. Produsen AW 101, yaitu Leonardo-Finmecanicca, menurut dia, selalu menyesuaikan kebutuhan negara pemesan.

"Pertanyaannya, memang spesifikasi India sama dengan TNI AU? Ya tidak! Karena TNI AU untuk heli angkut dan evakuasi. Dalam pemesanan itu, spesifikasi total dan delivery time TNI AU juga berbeda dengan India," katanya. (EDN/SAN)

  Kompas  

Rabu, 04 Januari 2017

Marak Hoax, Jokowi Bentuk Badan Siber Nasional

Tugasnya menekan penyebaran hoaxIlustrasi/Kabar hoax (PeopleOnline)

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto mengatakan, Presiden Joko Widodo telah memerintahkan percepatan pembentukan Badan Siber Nasional, atau BSN yang akan memproteksi kegiatan siber secara nasional.

"Presiden sudah memerintahkan harus segera dibentuk Badan Siber Nasional, yang nanti tugasnya memproteksi kegiatan siber nasional. Kalau perlu, bulan ini sudah harus selesai," kata Wiranto di kantornya, Jakarta, Selasa 3 Januari 2016.

Purnawirawan jenderal TNI menjelaskan, BSN akan memayungi seluruh kegiatan siber nasional untuk menekan maraknya penyebaran berita hoax, meningkatkan pertahanan keamanan, dan menertibkan perdagangan elektronik.

Di mana, beberapa lembaga sebelum telah memiliki lembaga sejenis seperti cyber deffence milik Kementerian Pertahanan. Cyber intelligence yang dimiliki Badan Intelijen Negara (BIN) dan cyber security milik Polri.

"Badan Siber Nasional ini, nantinya akan memayungi lembaga siber yang sudah ada. Mengoordinasikan itu semua. Sehingga, penapisan (penyaringan) berita, entah berita bohong dan palsu bisa dibedakan," ungkapnya.

Dengan adanya BSN, menurut mantan Ketua Umum Partai Hanura ini masyarakat tidak akan bingung dengan informasi yang beredar.

"Karena kalau tidak diatur dan diawasi, dan tidak ada landasan hukumnya, negara ini mau jadi apa. Belantara hoax, jadi tidak jelas. Akan mengganggu proses pembangunan nasional," katanya. (asp)

   VIVAnews  

NC212 Pesud Patroli Andalan TNI AL

🛫 P851 [Fida Perkasa]

Pesawat patroli merupakan salah satu pesawat yang sangat diperlukan untuk mengkaji berbagai unsur strategis dan pendukung operasi militer. TNI-AL sebagai unsur yang bertanggungjawab mengawasi wilayah perairan Indonesia juga diperkuat oleh pesawat udara (pesud) yang bertugas khusus melakukan patroli maritim.

Saat ini ada dua jenis pesawat patroli yang digunakan oleh TNI-AL, CN-235 MPA dan NC212 MPA. Keduanya diproduksi di PT Dirgantara Indonesia. Kedua pesud patroli maritim ini berada di bawah komando Skadron Udara 800 Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal) Surabaya dengan menyandang kode kode ‘P’ yang berarti Patroli.

Pesud NC212 MPA masuk jajaran TNI-AL pada tahun 2007, sedangkan CN-235 MPA menyusul tahun 2014. NC212 MPA dilengkapi dengan teknologi FLIR (Forwad Looking Infra Red) dan juga Ocean Master Surveillance Radar.

Pesawat intai maritim ini juga telah dijejali oleh Thales AMASCOS (Airborne Maritime Situation and Control System) untuk mendukung sistem Ocean Master Surveillance Radar sehingga kemampuan penjejakannya bisa melambung hingga 180 km. Pada NC212 seri 200, FLIR disematkan pada bagian bawah moncong pesawat, sehingga nampak seperti moncong bebek yang gepeng.

Pesawat sejenis juga digunakan oleh beberapa negara, seperti Meksiko, Swedia, Spanyol, Sudan, Venezuela, dan Vietnam. NC212 juga dilengkapi oleh salah satu varian FLIR terbaru, yaitu SAFIER III yang tentu mempunyai kemampuan lebih baik.

NC212 MPA awalnya hadir untuk menggantikan saudara tuanya yang mulai sakit-sakitan, N-22 Nomad. Dengan adanya armada pendukung ini tentunya keamanan wilayah perairan kita dapat lebih terpantau dan terjaga dengan baik.

 Spesifikasi NC-212 MPA 

🛬 Panjang: 15,2 m
🛬 Lebar (bentang sayap): 19 m
🛬 Tinggi: 6,3 m
🛬 Mesin: 2 Garret TPE-331-10R-512C Turboprop
🛬 Propeller: empat bilah baling-baling Dowty Rotol dengan diameter 2,75 meter
🛬 Kecepatan Max: 370 km/jam
🛬 Kecepatan Jelajah: 300 km/jam
🛬 Ketinggian Terbang: 7.925 m
🛬 Kecepatan Menanjak: 8,3 m/detik
🛬 Kapasitas Bahan Bakar: 1.600 kg
🛬 Berat Max: 2.820 kg

Author: Fida Perkasa & Remigius Septian</span>

   Angkasa  

Selasa, 03 Januari 2017

Sri Mulyani Putus Hubungan dengan JPMorgan

✈ Imfografis

Per tanggal 1 Januari 2017, JPMorgan Chase Bank tidak lagi menjadi mitra kerja Kementerian Keuangan untuk segala aspek.

Alasannya, JPMorgan melalui hasil risetnya dianggap telah mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional. Berikut selengkapnya disajikan dalam infografis, Selasa (3/1/2017).

 Alasan Putus Kontrak JPMorgan 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memutuskan seluruh hubungan kemitraan antara Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dengan JP Morgan Chase Bank. Ini menyusul hasil riset JP Morgan yang memangkas peringkat surat utang atau obligasi Indonesia dari overweight menjadi underweight atau turun dua peringkat.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa hasil riset tersebut telah dipelajari dengan sangat rinci dalam sebuah rapat internal. Sehingga mendapatkan keputusan untuk mengakhiri kerja sama dengan JP Morgan.

"Kami melakukan evaluasi, Kemenkeu terus menerus akan melakukan hubungan kerja sama dengan seluruh stakeholder, berdasarkan prinsip profesionallisme, akuntabilitas, bertanggung jawab termasuk terhadap kualitas hasil kerjanya," ungkapnya dalam konferensi pers di Gedung Djuanda, Kemenkeu, Jakarta, Selasa (3/1/2016).

Lembaga riset sangat penting peranannya dalam mendorong perekonomian sebuah negara. Hasil yang dikeluarkan dapat mempengaruhi kondisi pihak-pihak terkait, yang dalam hal ini adalah investor. Sri Mulyani melihat riset yang dikeluarkan oleh JP Morgan tidak berlandaskan indikator yang tepat.

"Pemerintah akan melakukan perbaikan di dalam seluruh kebijakan fundamental internal kita. Kalau memang masih kurang kami akan terus perbaiki," ujarnya.

"Namun daklam hal ini partner kami yang bekerja sama dengan pemerintah, apalagi mereka mendapatkan privilage yang sangat penting, mereka punya tanggung jawab yang luar biasa penting," tegas Sri Mulyani.

Berdasarkan dokumen yang diterima detikFinance, Selasa (3/1/2017), JPMorgan mengeluarkan riset berjudul 'Trump Forces Tactical Changes' pada 13 November 2016. Riset ini ditujukan kepada para investor JPMorgan.

Riset tersebut kemudian direspons oleh Sri Mulyani lewat surat Menteri Keuangan Nomor S-1006/MK.08/2016 tanggal 17 November 2016. Dalam surat itu, Sri Mulyani menyatakan, riset berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional. (mkl/ang)

 Riset JPMorgan Rusak Psikologis Investor 

Hasil riset JP Morgan Chase Bank yang berjudul 'Trump Forces Tactical Changes' pada 13 November 2016 lalu menjadi biang keladi kemarahan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati. Kontrak kemitraan JP Morgan dan Kementerian Keuangan pun akhirnya harus diputus.

Sri Mulyani menjelaskan, kondisi ekonomi suatu negara dipengaruhi dua hal penting. Pertama adalah dari sisi fundamental dan kedua yaitu psikologis investor. Riset JP Morgan menyentuh sisi psikologis tersebut.

"Faktor psikologis sangat penting bagi seluruh lembaga yang menjadi partner pemerintah, untuk juga memiliki tanggung jawab yang sama pentingnya," ujarnya dalam konferensi pers di Gedung Djuanda, Kemenkeu, Jakarta, Selasa (3/1/2016).

Apalagi menurut Sri Mulyani, JPMorgan memiliki nama besar di dunia keuangan internasional. Sehingga seharusnya lebih berhati-hati dalam mengeluarkan riset, karena mempengaruhi keputusan investor saat mengeluarkan modalnya.

"Lembaga-lembaga yang memiliki nama besar memiliki tanggung jawab penting juga untuk menciptakan psikologi yang positif. Bukannya melakukan apa yang disebut missleading dalam hal ini," tegas Sri Mulyani.

Sri Mulyani menghargai segala jenis riset yang dihasilkan oleh lembaga mana pun. Akan tetapi bila itu berdasarkan indikator yang tidak tepat, maka kredibilitas hasil riset juga akan menjadi pernyataan besar. Lembaga riset juga seharusnya dapat mempertanggungjawabkan hasil yang dikeluarkan.

"Kami menghormati seluruh produk-produk oleh siapa pun saja lembaga riset. (Tapi perhatikan) dari sisi tingkat akurasi, kredibililitas, metodologi, dan assesment-nya. Semakin besar maka mereka memiliki tanggung jawab lebih besar, dari sisi kualitas dan kemampuan untuk menciptakan confident," paparnya.

 Ada Upaya Menggoyang Perekonomian 

Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP Hipmi), Bahlil Lahadalia, mendukung Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, memutuskan hubungan kerja sama dengan JPMorgan Chase Bank.

Bahlil menilai, JPMorgan berbahaya sebab berusaha menciptakan opini destruktif untuk menggoyang perekonomian beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Dia (JP Morgan) ini berbahaya. Dia mau ciptakan opini negatif di luar tentang Indonesia agar stabilitas keuangan kita terganggu, ujung-ujungnya dia dan kawan-kawan mau ambil untung dan menggoyang perekonomian nasional," ujar Bahlil di Denpasar, Bali, seperti dikutip dari siaran pers, Selasa (3/1/2016).

Bahlil mengaku mendukung Kementerian Keuangan yang telah memutuskan hubungan kerja sama dengan JPMorgan.

Surat keputusan Kemenkeu itu diterbitkan berlandaskan Surat Menteri Keuangan Nomor S-1006/MK.08/2016 yang diterbitkan pada 17 November 2016. Artinya, saat ini JPMorgan pun tak lagi menjadi salah satu bank persepsi yang dapat menampung aliran dana tax amnesty.

Bahlil mengatakan, kasus JPMorgan menunjukkan agresifnya pihak luar melemahkan stabilitas keuangan dan mengambil untung dari situasi tersebut.

Dia mengatakan, sejak awal semestinya JPMorgan tidak perlu dilibatkan dalam program tax amnesty sebagai bank persepsi. Sebab, bank ini secara sistematis telah berupaya melemahkan Indonesia.

"Misalnya pada Agustus 2016 lalu dia minta investor asing mengurangi kepemilikan obligasi Indonesia. Dia juga menciptakan opini bahwa prospek perekonomian di Asia negatif sebab ada kekhawatiran kenaikan suku bunga di Amerika Serikat (AS). Dolar akan kembali ke AS, termasuk Indonesia," pungkas Bahlil.

Selain itu, opini negatif itu dibayangi oleh devaluasi yuan China untuk memperburuk prospek mata uang Asia dan rencana kenaikan pinjaman utang pemerintah. Lucunya, ujar Bahlil, JP Morgan mensejajarkan situasi Indonesia sejajar dengan kondisi pasar di Brasil.

JP Morgan menurunkan Brasil dari Overweight ke Netral, tapi menurunkan Indonesia dari overweight ke underweight, dan Turki dari Netral ke underweight.

"Dia juga tidak menjelaskan secara jelas alasan penurunan Indonesia itu," ucap Bahlil.

Bahlil menduga ada upaya pihak luar menciptakan instablitas di sektor keuangan dan perekonomian dikaitkan dengan meningkatnya tekanan politik Pilkada dan kasus penistaan agama.

Bahlil mengatakan, riak-riak politik nasional saat ini sudah berada dalam sistem dan mekanisme berdemokrasi, sehingga upaya pihak luar menggoyang perekonomian menggunakan isu politik dan sosial domestik tidak relevan lagi. (ang/dnl)

  detik  

[Foto] Tim Gabungan Lakukan Pencarian Korban Kebakaran Kapal Zahro Express

Petugas dari Badan SAR Nasional (Basarnas) melakukan pencarian korban kebakaran kapal penumpang Zahro Express menggunakan perahu karet di perairan Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, Senin (02/01/2017). Tim gabungan dari Basarnas, Polri dan TNI AL terus melakukan pencarian terhadap 17 orang penumpang kapal Zahro Express yang terbakar pada Minggu (01/01) kemarin. (rat)

Tim Gabungan Lakukan Pencarian Korban Kebakaran Kapal Zahro Express-0

Petugas dari Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) melakukan pencarian korban kebakaran kapal penumpang Zahro Express menggunakan perahu karet di perairan Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara, Senin (02/01/2017).
Tim Gabungan Lakukan Pencarian Korban Kebakaran Kapal Zahro Express-1

Petugas gabungan melakukan pencarian korban kebakaran kapal Zahro Express di perairan Pulau Untung Jawa.
Tim Gabungan Lakukan Pencarian Korban Kebakaran Kapal Zahro Express-2

Petugas gabungan melakukan pencarian korban kebakaran kapal Zahro Express di perairan Pulau Untung Jawa.
Tim Gabungan Lakukan Pencarian Korban Kebakaran Kapal Zahro Express-3

Petugas gabungan melakukan pencarian korban kebakaran kapal Zahro Express di perairan Pulau Untung Jawa.
Tim Gabungan Lakukan Pencarian Korban Kebakaran Kapal Zahro Express-4

Basarnas mengerahkan kapal SAR dalam proses pencarian korban kebakaran kapal Zahro Express di perairan Pulau Untung Jawa.
   SINDOnews  

Senin, 02 Januari 2017

Kehebohan Helikopter AgustaWestland AW 101

“order is an order !” Helikopter AW-101 [Rich Pittman]

Harian Kompas, pada hari Selasa (27/12/2016), mengangkat headline tentang pembelian helikopter oleh TNI AU. Disebutkan, bahwa TNI AU tetap membeli helikopter AgustaWestland AW101 meskipun pernah mendapat penolakan dari Presiden Joko Widodo, Desember 2015.

Beberapa tulisan yang beredar kemudian bahkan sampai menyebut bahwa Kasau telah melakukan “in-subordinasi” dalam masalah ini.

Agak sulit untuk dapat mempercayai tentang hal “in-subordinaasi” itu, mengingat sangat tidak mungkin seorang Kepala Staf dapat melakukan sebuah proses pengadaan atau pembelian dari sebuah alat utama sistem senjata seorang diri.

Namun bila merujuk kepada berita yang beredar belakangan ini, maka tidak dapat dibantah bahwa memang telah terjadi sesuatu “yang mengundang pertanyaan” dalam proses pengadaan Helikopter AgustaWestland AW101 tersebut.

Bagaimana semua hal itu sampai bisa terjadi? Sangat sulit untuk dapat membuat sebuah analisis tentang hal ini karena keterbatasan data yang dapat diperoleh untuk mendalaminya.

Berikut akan dicoba saja untuk melihat dari persepektif “man on the street” terhadap apa yang kemungkinan terjadi di kancah gejolak sebuah proses pengadaan persenjataan menyangkut pembelian helikopter AgustaWestland AW101.

Sebenarnya proses pengadaan dari sebuah alat utama sistem senjata adalah merupakan bagian yang utuh dari kebijakan negara dalam sistem pertahanan keamanan nasionalnya.

Peran sebagai pelaksana operasional dari kebijakan sistem pertahanan keamanan negara pada umumnya memang selalu akan didelegasikan dan atau dilaksanakan sehari-hari oleh Kementerian Pertahanan dan jajaran angkatan perangnya.

Pada proses dan mekanisme pengadaan persenjataan (pembelian helikopter AgustaWestland) inilah yang mungkin, dengan perkembangan jaman sudah waktunya untuk dilihat ulang apakah harus memerlukan perhitungan dan atau prosedur yang lebih cermat lagi. Prosedur yang mungkin harus dirubah, disempurnakan, dan atau disesuaikan dengan perkembangan keadaan.

 Penggunaan produk Industri Pertahanan Strategis Dalam Negeri 

Menggunakan produk dalam negeri, yang bermakna lebih mengutamakan menggunakan barang-barang yang memang sudah mampu dihasilkan oleh produsen di dalam negeri adalah bagian dari kebanggaan dan harga diri sebagai bangsa.

Hal ini menjadi “harga-mati” yang selalu akan berhubungan dengan “nasionalisme” dan “patriotisme” serta harga diri sebagai bangsa.

Yang sangat disayangkan adalah pemahaman yang sangat patriotik tersebut selama ini “seolah-olah” hanya diberlakukan kepada pihak “pembeli” atau “pengguna” semata.

Siapa saja yang ingin membeli atau menggunakan sebuah barang yang jenisnya sudah dapat atau mampu dikerjakan di dalam negeri, maka mereka otomatis terbelenggu oleh pagar yang kokoh dari sebuah pemahaman “patriotisme” yaitu harus menggunakan produk dalam negeri.

Pada titik ini maka perdebatan tentang kualitas dan spesifikasi teknis menjadi sesuatu yang tidak mudah dicerna dan apalagi dikompromikan. Sebenarnya, posisi para pembeli dan pengguna adalah berada di posisi garis kedua dari proses pembangunan sikap patriotisme dalam hal penggunaan barang produksi dalam negeri.

Justru yang berada dalam garis pertama pada kerangka mengembangkan sikap nasionalisme dan kebanggaan serta harga diri bangsa adalah pihak produsen. Pihak produsenlah yang harus memulai sedemikian rupa sehingga produknya adalah sebuah produk yang berkualitas sehingga dapat dijadikan andalan bagi para calon pengguna barang produksinya.

Itu sebabnya, maka sebuah industri pertahanan strategis sebuah negara, dipastikan akan membutuhkan subsidi yang besar dari pemerintah dan juga sekaligus harus memperoleh proteksi atau perlindungan terutama dalam pemasaran produksinya.

Industri pertahanan, dimanapun dan dalam bentuk apapun, tetap harus dan memerlukan aspek kerahasiaan sekaligus juga aspek kehandalan dari kualitas produk yang dihasilkannya. Industri pertahanan strategis dalam negeri harus digunakan terlebih dahulu oleh pengguna di dalam negeri, baik sipil maupun atau terutama militer.

Khusus untuk produk yang berteknologi tinggi, seperti pabrik pesawat terbang, maka pabrikan harus memiliki produk unggulan yang dapat diandalkan sebagai “prime mover” dari industri pertahanaan strategis tersebut.

Dengan demikian maka subsidi dari pemerintah dapat secara berangsur dikurangi. Dalam target yang seperti itulah maka pihak pengguna dapat berperan serta bahkan peran utama sebagai “laboratorium lapangan” bagi penyempurnaan produk dalam mencapai kriteria “war-proven” (terbukti canggih) untuk sampai pada tingkat yang “marketable” (laku dijual) di kancah global.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhZnM3V5N9xuKNIEQoejlEuMU6VCj_z5YXsT1mhSs4xISA3YJj57JocTdHWl7Jt4j1L-VHchYA3h-EZVWoaY5jY64_gMtymlG_QtODMs_IQZPghHpffW_F9hYsh2gwmua_HQdnKN7uKCB5n/s1600/13724697_New+CN-235+MPA+TNI-AU.+Credit+to+Marchel..jpgPada posisi ini, maka sebenarnya, semua hal tersebut sudah pernah berjalan cukup baik pada produk PTDI yang bernama CN-235. Sebuah produk dengan kualitas “layak-pakai” yang kemudian digunakan sebanyak 1 skadron di Angkatan Udara untuk versi militer dan sejumlah CN-235 versi sipil yang digunakan oleh MNA, Merpati Nusantara Airlines, bagi beberapa rute domestiknya.

Berikutnya yang kemudian terjadi adalah CN-235 digunakan juga dibanyak negara untuk berbagai misi operasi sipil dan militer. CN-235 sudah berhasil mencapai taraf “war-proven” sekaligus “marketable”.

Itu semua adalah hasil anak bangsa yang pemakaiannya dipelopori oleh pengguna dalam negeri terlebih dahulu (AU dan MNA) hingga dapat merangsang negara-negara lain untuk juga mengikutinya. Sebuah kebanggaan yang tiada tara tentunya bagi kita sebagai bangsa.

Sayangnya, kini realita yang dihadapi adalah lenyapnya (nyaris tanpa bekas) skadron CN-235 di Angkatan Udara dan juga menghilangnya pesawat terbang CN-235 yang digunakan MNA yang bahkan MNA sendiri punah dari permukaan kancah sistem angkutan udara nasional.

Masalah ini adalah merupakan sinyal kuat bahwa telah terjadi sesuatu yang memerlukan koreksi fundamental dalam pengelolaan PTDI sebagai salah satu cabang utama industri pertahanan strategis yang seharusnya dapat diandalkan.

Tidak memerlukan analisis berkepanjangan dalam hal ini, karena kenyataan telah menunjukkan bahwa PTDI memang memerlukan semacam langkah “re-structuring” agar dapat mengembalikan reputasinya sebagai penghasil pesawat terbang yang berkualitas “layak-pakai” dan handal sekelas CN-235.

Pertanyaan sederhana yang harus dijawab terlebih dahulu adalah mengapa kesuksesan CN-235 sebagai sebuah produk unggulan tidak mampu berlanjut. Sejatinya, maka CN-235 adalah benar-benar murni produk dalam negeri yang sukses meraih pasar dunia.

Sementara untuk pesawat helikopter, industri pertahanan dalam negeri baru berada dalam peringkat sebagai “perakit” yang belum cukup handal untuk dapat naik peringkat yang dapat disamakan sebagai produsen setingkat produk CN-235.

Menjadi tanggung jawab kita semua, untuk dapat memberikan dukungan penuh agar Industri pertahanan strategis dalam negeri, dalam hal ini PTDI dapat menjadi produsen dari alutsista bagi keperluan Angkatan Perang Negara Kepulauan Indonesia.

Kita harus, dan sebenarnya sudah memiliki potensi untuk menempatkan PTDI sebagai jajaran terdepan industri pertahanan strategis di Indonesia.

Di luar semua itu, menyangkut proses pengadaan dalam negeri bagi persenjataan angkatan perang, seharusnya dapat dengan mudah dilakukan apabila telah dapat disusun perencanaan jangka panjang strategis yang di dalamnya tercantum proses perencanaan (pengadaan senjata) terpadu dari sistem senjata AD, AL, dan AU sebagai sebuah kesatuan dari unit angkatan perang yang merupakan sub sistem dari sistem pertahanan keamanan negara atau sistem pertahanan keamanan nasional.

Sekali lagi yang harus tertuang dalam sebuah perencanaan strategis jangka panjang dan berkelanjutan. Pada perencanaan strategis ditingkat nasional itulah seharusnya dikoordinasikan tugas-tugas industri pertahanan strategis dalam pola dukungan untuk dapat menghasilkan produk sistem senjata yang dibutuhkan oleh Angkatan Perangnya.

Semua hal tersebut, biasanya digarap dalam satu wadah yang dikenal sebagai “national security council” atau sejenis dewan pertahanan keamanan nasional. Di sanalah duduk seluruh stakeholder, pemangku kepentingan pemerintah yang bertugas di bidang pertahanan keamanan negara (baik sipil maupun militer) dalam menentukan arah kebijakan strategis nasional yang termasuk di dalamnya atau terutama tentang pengadaan senjata.

Dengan demikian tidak akan ada lagi Panglima dan atau Kepala Staf yang berbeda pendapat soal pengadaan senjata yang kemudian menembus dinding-dinding kantor atau markas besarnya urusan pertahanan keamanan negara sekelas “Pentagon” di Cilangkap.

Dalam konteks ini, mungkin sudah saatnya pula untuk mempertimbangkan ulang, sesuai dengan kajian mutakhir tentang realita yang dihadapi belakangan ini berkait dengan keberadaan sebuah institusi Mabes TNI, yang berada di tengah-tengah antara jajaran Angkatan Perang dengan Kementerian Pertahanan.

Sebuah format yang telah membuat alur kendali birokrasi yang lebih panjang. Proses birokrasi yang panjang rentang kendalinya, terutama dalam aspek proses dan mekanisme pengadaan, bisa memberikan dampak positif dan sekaligus juga, bahkan mungkin lebih sering memberi dampak yang negatif.

Tinggal dilihat dan dikaji ulang saja dari pengalaman yang dilalui setelah sekian puluh tahun apakah rentang kendali yang panjang itu memberikan dampak positif atau negatif. Terutama dalam hal pengadaan alutsista yang diperlukan oleh sebuah Angkatan Perang.

Sebagai catatan, di beberapa negara maju antara lain di Australia dan Inggris, proses pengadaan senjata berada pada jalur otorisasi yang sangat tegas dan jelas di dalam Kementerian Pertahanan. Inggris mengenal RAAE (Royal Aircraft and Armament Establishment) yang berada langsung di bawah kendali Ministry of Defence.

Akhirul kalam, apabila model dan pola yang sangat mendasar ini tidak segera diubah, dibangun, dan diperbaiki, maka kejadian serupa dengan pengadaan helikopter AgustaWestland AW 101, akan terus saja terjadi di masa mendatang. Perubahan ternyata memang harus senantiasa dilakukan.

Change your thoughts and you change your world.
(Norman Vincent Peale)

Sebagai penutup, kiranya walau apapun dan bagaimanapun, maka pegangan sebagai prajurit sejati adalah: “order is an order !”, senantiasa patuh dan taat kepada atasan tanpa membantah perintah atau putusan!

Tanah Papua, 30 Desember 2016.
Chappy Hakim

  🛫 Kompas  

Minggu, 01 Januari 2017

Jokowi pemimpin terbaik Asia-Australia 2016

http://assets.kompas.com/data/photo/2016/12/31/2213232-1x-1780x390.jpgRapor Presiden Jokowi versi Bloomberg

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencatatkan rapor sebagai pemimpin terbaik atau paling unggul di antara para pemimpin Asia-Australia pada tahun 2016.

Berdasarkan data dari Bloomberg yang diterima Antara di Jakarta, Sabtu, Presiden Joko Widodo merupakan satu-satunya pemimpin negara yang memiliki performa positif dalam seluruh aspek yang dinilai, yaitu menaikkan kekuatan nilai tukar (2,41 persen), menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif (5,02 persen skala tahun ke tahun) dan memiliki tingkat penerimaan publik yang tinggi (69 persen).

Data tersebut juga menunjukkan bahwa bila dibandingkan dengan pemimpin negara lainnya yang memiliki ukuran ekonomi setara atau lebih besar, prestasi Presiden Jokowi masih menonjol daripada lainnya. Malaysia dan Filipina sama-sama tercatat memiliki nilai tukar negatif sebesar 4,26 persen dan 5,29 persen.

Sementara itu, Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye memiliki catatan merah untuk semua aspek. Fakta tersebut didukung dari data bahwa, nilai tukar Won menurun sebesar 2 persen dan pertumbuhan ekonomi yang hanya di angka 2,87 persen, Geun Hye juga memiliki reputasi tingkat penerimaan publik atas dirinya hanya sebesar 4 persen yang menyebabkan dirinya dipaksa untuk mengundurkan diri.

https://www.indobaca.com/wp-content/uploads/2017/01/15780751_1871028099850914_7864474914526635352_n.jpgPresiden Jokowi telah menekankan otoritasnya kepada lembaga-lembaga politik selama 2016, dengan menggabungkan kepemimpinan dan kepiawaian politiknya, dengan data bahwa ia mengendalikan dua per tiga kursi di parleme. Program keberhasilan "amnesti pajak" juga mampu membiayai program pembangunan infrastrukturnya.

Dari keseluruhan pemimpin yang dinilai oleh Bloomberg yaitu delapan pemimpin negara, Jokowi satu-satunya pemimpin dunia yang memiliki semua indikator positif untuk tiga kategori yaitu fluktuasi kurs, pertumbuhan ekonomi dan rating penerimaan publik.

Sementara itu, penerimaan publik paling tinggi dimiliki oleh Presiden Filipina Rodrigo Duterte dengan rating 83 persen, ia juga mendapatkan nilai 7,1 persen dalam upaya menjaga pertumbuhan ekonomi, namun dalam nilai tukar mata uang Peso menurun drastis 5, 29 persen atau mendapat rapor merah.

Pertukaran nilai mata uang paling rendah dimiliki oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping yang menurut data telah turun sebesar minus 6,63 persen, paling rendah diantara yang lain.

Kedelapan pemimpin tersebut yang didata oleh Bloomberg adalah Presiden Tiongkok Xi Jinping, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Perdana Menteri India Narendra Modi, Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye, Presiden Indonesia Joko Widodo, Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull (disebutkan tanpa berurutan peringkat).

  antara  

Selama Tahun 2016, Bakamla Tangkap 84 Kapal

Kilas BalikDalam kurun waktu satu tahun sepanjang tahun 2016, patroli keamanan dan keselamatan diwilayah perairan dan yurisdiksi Indonesia yang dilaksanakan oleh Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) melalui Operasi Nusantara (OpsNus) I – IX berhasil melakukan penangkapan terhadap 84 kapal.

Dengan dugaan pelanggaran berupa illegal fishing, ketidaklengkapan dokumen, keimigrasian, penyelundupan dan BBM illegal
”. Hal tersebut dikatakan Deputi Operasi dan Latihan Bakamla RI Laksda TNI Andi Achdar di Jakarta, Jumat (30/12/2016).

Selain itu, dalam menjalankan fungsi penjagaan, pengawasan, pencegahan dan penindakan pelanggaran hukum di wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia, di implementasikan pula melalui penjagaan ekosistem perairan, salah satunya yaitu Operasi Penanggulangan Pencemaran Laut yang pernah digelar di wilayah perairan perbatasan Batam-Singapura September lalu.

Patroli perairan yang dilaksanakan oleh KN Bintang Laut 4802 bekerja sama dengan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Badan Lingkungan Hidup Batam Prov. Kepulauan Riau tersebut dilatarbelakangi adanya laporan resmi dari Pemerintah Kota Batam kepada Menko Maritim mengenai kekhawatiran akan maraknya kegiatan pencemaran lingkungan di wilayah perairan Batam. Penjagaan ekosistem laut juga dilakukan melalui pembersihan dan pengangkatan rumpon-rumpon, yang telah dilaksanakan dalam dua kali operasi di Laut Sulawesi dan berhasil mengangkat 34 rumpon.

Berdasarkan amanat UU 32 tahun 2014 tentang Kelautan pasal 59 bahwa dalam rangka penegakan hukum di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi, khususnya dalam melaksanakan patroli keamanan dan keselamatan di wilayah perairan dan wilayah yurisdiksi Indonesia, dibentuk Badan Keamanan Laut. Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Bakamla RI dituntut untuk mempunyai kemampuan patroli, pengawasan berupa sistem peringatan dini, dan sinergi.

Sepanjang tahun 2016 telah dilaksanakan OpsNus I hingga IX serta Penguatan OpsNus VIII dan IX. Dalam pelaksanaannya, patroli OpsNus dilakukan secara terintegrasi dengan dukungan data dari Pusat Informasi Maritim (PIM) Bakamla RI serta data dan informasi dari kegiatan operasi udara yang disebut Operasi Bhuana Nusantara I – IX. Selama tahun 2016 operasi udara ini telah dilaksanakan 9 kali meliputi wilayah barat, tengah dan timur.

Patroli Bakamla RI secara bersinergi dilaksanakan dengan melibatkan unsur kapal patroli bersama instansi lain terkait. Selain enam unit kapal Bakamla RI berukuran 48 meter, kapal Catamaran dan Rigid Inflatable Boat (RIB), operasi tersebut juga mengikutsertakan 54 unsur kapal patroli dari instansi lain yaitu 20 kapal TNI AL, 10 kapal Polri, 3 kapal Ditjen Hubla, 5 kapal Ditjen Bea Cukai, 3 kapal PSDKP-KKP, dan 3 kapal Pemkab Sambas.

Tidak hanya operasi patroli bersama stakeholder di dalam negeri, pada tahun 2016 Bakamla RI juga melaksanakan patroli terkoordinasi dengan luar negeri, yaitu patroli terkoordinasi Indonesia – Australia disebut Operasi Shearwater yang berlangsung pada Mei 2016 dan patroli terkoordinasi Indonesia-Malaysia disebut Patkor Optima Malindo pada Juni 2016.

Dari OpsNus 2016 yang dilaksanakan di perairan Zona Maritim Barat, Tengah dan Timur tersebut dilakukan penangkapan terhadap 84 kapal dengan jenis dugaan pelanggaran 41 kasus illegal fishing dimana 35 diantaranya dilakukan oleh Kapal Ikan Asing (KIA), 24 kasus dokumen tidak lengkap, 7 kasus keimigrasian, 8 kasus penyelundupan dan 4 kasus BBM illegal. Kapal-kapal yang diperiksa dan ditahan dalam operasi Bakamla RI tersebut selanjutnya dilakukan penanganan perkara melalui penyidikan oleh stakeholder dengan melibatkan personel penyidik dari beberapa instansi antara lain TNI AL, Polri, PSDKP, Bea Cukai, BNP2TKI, KSOP, dan Karantina Pertanian.

Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan personel Bakamla RI dilaksanakan latihan-latihan manuver baik didalam maupun luar negri. Sedangkan untuk lebih meningkatkan kinerja dan performansi setiap unsur kapal patroli, Bakamla RI memberikan penghargaan kepada kapal berprestasi tahun 2016 yang diumumkan pada Upacara HUT ke-2/44 Bakamla RI 15 Desember lalu. Perhargaan ini dinobatkan kepada :

1. Kapal Angkatan Laut (KAL) Viper yang telah ikut serta dalam OpsNus I, V dan VII, telah melakukan 149 kali pemeriksaan dan 10 diantaranya dilakukan penahanan karena dugaan pelanggaran illegal fishing, pelanggaran fishing ground, pelanggaran dokumen pelayaran dan pelanggaran dokumen ketenagakerjaan.

2. Kapal Pengawas (KP) Hiu Macan 01 yang ikut serta dalam OpsNus VIII, Penguatan OpsNus VIII dan Penguatan OpsNus IX, melakukan 24 pemeriksaan dan 19 diantaranya dilakukan penahanan karena dugaan pelanggaran illegal fishing yaitu 12 KIA Vietnam dan 7 KIA Malaysia.

3. KP Prenjak yang ikut serta dalam OpsNus VIII dan Penguatan OpsNus VIII, melakukan 25 pemeriksaan dan dilakukan penangkapan pada 3 diantaranya karena dugaan pelanggaran muatan BBM illegal dan dokumen pelayaran.

4. BC 8006 yang ikut serta dalam OpsNus VIII, melakukan 30 pemeriksaan dan dilakukan penahanan pada 1 kapal karena dugaan pelanggaran penyelundupan bawang merah dan bawang campuran.

5. KN Belut Laut 4806 yang ikut serta dalam OpsNus I, IV, V, VI, VII, Penguatan OpsNus IX, Ops Malindo 25A dan Ops Malindo 25B, melakukan pemeriksaan atas 119 kapal dan penangkapan atas 5 kapal karena dugaan pelanggaran dokumen pelayaran, keimigrasian (TKI Illegal), dan dugaan pelanggaran illegal minning berupa pasir timah.

Dalam melaksanakan tugas patroli keamanan dan keselamatan perairan, Bakamla RI menyelenggarakan fungsi, salah satunya yaitu sistem peringatan dini keamanan dan keselamatan diwilayah perairan Indonesia dan yurisdiksi Indonesia, dengan kewenangan mengintegrasikan system informasi keamanan dan keselamatan perairan Indonesia secara terpadu. Untuk itu Bakamla RI telah dilengkapi sarana prasarana system monitoring dan surveillance yang didukung teknologi informasi dan komunikasi pada stasiun pemantauan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke dan terpusat di Pusat Informasi Maritim Bakamla RI di Jakarta.

Dalam hal ini Bakamla RI telah mengupayakan satu teknologi informasi yang bersinergi dengan instansi lain terkait dalam bentuk Bakamla Integrated Information System (BIIS), yaitu aplikasi monitoring dan surveillance yang dilengkapi dengan fungsi sharing informasi. BIIS beranggota lebih dari 100 user antara lain dari Mabes TNI, TNI AL, TNI AU, KKP, Hubla, Basarnas, Bea Cukai,,Polair, BIN, Lapan, Bapeten, Kemenko Polhukam, Kemenko Kemaritiman, dan lain lain.

Kasubbag Humas Bakamla RI
Kapten Mar Mardiono

  ★ Poskota  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More