blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Senin, 26 Januari 2026

Republikorp dan ASELSAN Perkuat Kerja Sama Pertahanan lewat Perjanjian Alih Teknologi

  Untuk sistem komunikasi aman HYBRA DMR Kesepakatan alih teknologi alat komunikasi (Republikorps)

PT Republik Technetronic Nusantara (RTN), anak perusahaan Republikorp, secara resmi meresmikan Technology Cooperation Agreement terkait Alih Teknologi (Transfer of Technology/ToT) untuk HYBRA Digital Mobile Radio (DMR) dari ASELSAN.

Penandatanganan ini berlangsung pada ajang Doha International Maritime Defence Exhibition and Conference (DIMDEX) 2026, menandai langkah operasional penting bagi joint venture Republikorp–ASELSAN yang baru dibentuk.

Perjanjian ini memulai kerangka komprehensif untuk alih teknologi bertahap, technical knowledge sharing, serta advanced training. Langkah-langkah tersebut dirancang untuk mendukung produksi lokal tactical communication systems di Indonesia yang memenuhi standar kualitas internasional yang ketat.

Norman Joesoef, Founder Republikorp, menyoroti dua arti strategis utama dari perjanjian ini, yaitu memperkuat hubungan diplomatik industri serta meningkatkan kapabilitas intelijen nasional (termasuk kebutuhan secure communications dan enkripsi).

Kolaborasi dengan ASELSAN ini merupakan kelanjutan dari kerja sama teknologi Indonesia yang telah terjalin lama dengan Türkiye, namun sekaligus menandai era baru dengan tingkat lokalisasi yang lebih tinggi dan alih teknologi yang lebih substansial,” ujar Norman Joesoef.

Ilustrasi Alkom Aselsan (Aselsan)
Kami secara khusus memprioritaskan HYBRA DMR karena tantangan modern membutuhkan solusi modern. Sebagai sistem highly portable dan secure communications, HYBRA DMR akan membekali komunitas intelijen militer kami dengan kelincahan operasional serta enkripsi krusial agar dapat beroperasi efektif di lingkungan yang kompleks.

Kerja sama ini merupakan tindak lanjut langsung dari peluncuran PT Republik-Aselsan Indonesia, sebuah perusahaan patungan yang diumumkan pada 9 September 2025 di DSEI, London.

Perjanjian pendirian ditandatangani oleh Norman Joesoef dan Ahmet Akyol, President & CEO ASELSAN, yang menjadi landasan untuk integrasi industri yang lebih mendalam.

Kemitraan ini mendukung peta jalan strategis Indonesia menuju kemandirian industri pertahanan, memastikan infrastruktur pertahanan kritikal berlabel “Made in Indonesia.”

Secara bersamaan, kemitraan ini juga memberikan ASELSAN akses strategis jangka panjang ke pasar pertahanan Asia Tenggara.

PT Republik Aselsan Indonesia diproyeksikan menjadi regional hub untuk advanced defense communication systems, memproduksi solusi high-tech yang melayani kebutuhan keamanan nasional Indonesia dan kawasan ASEAN secara lebih luas.

  🤝 
Republikorp  

Minggu, 25 Januari 2026

Industri Pertahanan Dalam Negeri Jadi Solusi Atasi Potensi Embargo Alutsista di Tengah Dinamika Geopolitik

Ranpur Harimau, hasil kerjasama Pindad - FNSS (Pindad)

Kondisi geopolitk belakangan ini terus memanas. Perseteruan antar negara itu perlu diantisipasi dengan terus memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista). Untuk mencegah potensi embargo alutsista di tengah-tengah situasi saat ini, industri pertahanan (inhan) dalam negeri bisa menjadi solusi.

Menurut Direktur Teknik PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (NKRI) Zaenal, kemandirian inhan dalam negeri bisa mengurangi ketergantungan impor alutsista dari luar negeri. Hal itu menjadi sangat penting untuk memastikan supply chain pertahanan tetap stabil di tengah dinamika geopolitik dan potensi embargo.

Zaenal mengingatkan kembali, pada 1995-2005 Indonesia sudah pernah merasakan embargo senjata yang diberlakukan oleh Amerika Serikat (AS).

Akibatnya pemerintah mau tidak mau harus mencari alternatif untuk memenuhi kebutuhan alutsista dan suku cadangnya. Dia tidak ingin hal serupa terulang.

Kemandirian industri pertahanan karenanya menjadi prasyarat sistem pertahanan yang kuat dan maju. Keuntungan lainnya adalah dampak positif bagi perekonomian dan penguasaan teknologi dalam negeri,” ungkap dia dalam keterangan resmi pada Rabu (21/1).

Presiden Prabowo Subianto, kata Zaenal, pernah menekankan pentingnya kemandirian inhan dalam negeri. Hal itu disampaikan secara terbuka oleh Prabowo saat masih bertugas sebagai menteri pertahanan (menhan). Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan alutsista, melainkan juga demi pergerakan ekonomi.

Anggaran pertahanan yang dialokasikan untuk produk dalam negeri akan berputar kembali di ekonomi nasional dan mendorong inovasi teknologi lokal,” ujarnya.

KRI BPD 322, hasil kerjasama Babcock - PAL. (Deni)
Tidak hanya itu, kemampuan memproduksi alutsista sendiri bisa menciptakan deterrent effect bagi negara lain. Negara dengan inhan yang maju dinilai lebih tangguh karena mampu memasok kebutuhan militernya sendiri tanpa khawatir terhadap akses alutsista dari luar negeri.

Itu meningkatkan posisi tawar Indonesia secara diplomatis. Pemerintah Indonesia telah menempatkan kemandirian pertahanan sebagai visi strategis jangka panjang,” kata dia.

Lebih lanjut, Zaenal menyampaikan bahwa Undang-Undang (UU) Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan menjadi payung utama yang mengatur pengelolaan inhan nasional. UU tersebut mengamanatkan kewajiban pelibatan produksi dalam negeri dalam setiap pengadaan alutsista.

Bahkan pada 2020, pemerintah membuka kesempatan lebih luas kepada pihak swasta untuk berpartisipasi dalam unhan lewat UU Cipta Kerja. Melalui regulasi tersebut, perusahaan swasta nasional bisa memperoleh perizinan sebagai industri pertahanan dan memproduksi alutsista dan komponennya.

Sehingga inhan BUMN dan inhan swasta bisa berkolaborasi. Sebab, kapasitas inhan BUMN belum memadai untuk memenuhi kebutuhan. Karena itu, kerja sama antara inhan pelat merah dengan inhan swasta terus berjalan. Sehingga pemenuhan kebutuhan inhan ditopang oleh BUMN dan swasta.

Dengan dukungan kerangka hukum yang kuat itu, ekosistem industri pertahanan nasional memiliki dasar untuk tumbuh, mulai dari tahap penelitian dan pengembangan hingga produksi dan pemasaran alutsista,” jelasnya.

Saat ini, masih kata Zaenal, PT Pindad (Persero) sebagai BUMN strategis telah menghasilkan berbagai varian pistol seperti G2 Combat, MAGNUM. Mereka juga memproduksi senapan serbu seri SS yang terdiri atas SS1, SS2, sampai SS3 yang kini digunakan oleh TNI maupun Polri.

SS series, produksi Pindad (Pindad)
Selain senjata dan amunisi, produksi suku cadang lokal untuk kebutuhan perawatan alutsista juga menunjukkan sudah menunjukkan kemajuan. Berbagai komponen senjata, kendaraan tempur, kapal, dan pesawat mulai dibuat di dalam negeri melalui sinergi BUMN dan swasta.

Contohnya, PT NKRI sebagai perusahaan swasta nasional yang sudah memperoleh lisensi dari Kementerian Pertahanan (Kemhan) untuk memproduksi komponen senjata dan amunisi, suku cadang presisi untuk pesawat, kapal, dan kendaraan taktis atau rantis.

Dia menyebutkan bahwa pabrik PT NKRI di Bandung, Jawa Barat (Jabar) saat ini menjadi pemasok selongsong peluru, proyektil, hingga parts mekanik bagi kebutuhan industri pertahanan nasional. Selain itu ada, PT Republik Defensindo (Republik Defence) yang memproduksi kendaraan khusus militer.

Kehadiran perusahaan-perusahaan swasta itu menambah kapasitas produksi dalam negeri, terutama di lini komponen dan suku cadang yang mendukung kemandirian pemeliharaan alutsista,” pungkasnya.

Semengtara, Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi mengatakan, melalui kebijakan industri pertahanan dan koordinasi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah berupaya menyelaraskan kebutuhan TNI dengan kemampuan industri dalam negeri. Ini dilakukan agar pengadaan tidak hanya memenuhi kebutuhan jangka pendek, tetapi juga memperkuat kapasitas produksi nasional.

"Pada saat yang sama, pemerintah mendorong agar industri pertahanan, baik BUMN maupun swasta tidak berhenti pada fungsi perakitan. Arah kebijakannya adalah mendorong penguasaan teknologi, peningkatan kualitas SDM dan penguatan rantai pasok dalam negeri secara bertahap dan berkelanjutan," ujar Khairul.

Tantangan utama industri pertahanan Indonesia saat ini adalah memastikan bahwa kemandirian tidak berhenti pada tingkat perakitan. UU Industri Pertahanan secara eksplisit mengamanatkan penguasaan teknologi, penguatan rantai pasok dalam negeri serta peningkatan kualitas SDM sebagai tujuan jangka panjang.

  👷 
Jawa Pos  

Sabtu, 24 Januari 2026

Indonesia Memperoleh Dua Kapal Frigat Arrowhead 140 Tambahan

  Memperluas Pakta Kekuatan Maritim Inggris-Indonesia  
Fregat Merah Putih KRI BPD 322 (FMI fb)

Perjanjian lisensi baru antara Babcock International dan Indonesia memperkuat modernisasi angkatan laut Jakarta dalam strategi maritim Indo-Pasifik senilai £4 miliar yang berpusat pada proyeksi kekuatan perairan biru, kedaulatan industri pertahanan, dan diversifikasi aliansi jangka panjang.

(DEFENCE SECURITY ASIA) — Babcock International telah mengumumkan perjanjian baru yang memberikan lisensi kepada Indonesia untuk dua kapal frigat Arrowhead 140 tambahan, sebuah perkembangan yang menandai titik balik penting dalam keseimbangan kekuatan maritim Asia Tenggara yang berkembang dan secara tegas menanamkan dorongan modernisasi angkatan laut Jakarta dalam kontes geostrategis Indo-Pasifik yang lebih luas yang semakin ditentukan oleh proyeksi kekuatan perairan terbuka, kedaulatan industri pertahanan, dan diversifikasi aliansi yang terencana.

Perjanjian ini merupakan tonggak pelaksanaan nyata pertama di bawah Program Kemitraan Maritim senilai £ 4 miliar yang ambisius, yang bernilai sekitar US$ 5,08 miliar, yang secara resmi ditandatangani antara Inggris dan Indonesia pada November 2025, menerjemahkan niat strategis menjadi hasil industri dan angkatan laut yang konkret dengan implikasi regional jangka panjang.

Bobot strategis dari perkembangan ini digarisbawahi oleh pernyataan CEO Babcock, David Lockwood, bahwa, “Pesanan kerja pertama ini, dalam kerangka kerja penting ini, menandakan pentingnya kecepatan dan kemajuan yang dibutuhkan untuk mewujudkan transformasi maritim Presiden Prabowo Subianto dan mendukung keberhasilan yang semakin meningkat dari desain ekspor Arrowhead 140 kami,” sebuah pernyataan yang menempatkan tempo operasional dan niat politik di pusat kalibrasi ulang angkatan laut Indonesia.

Sama pentingnya adalah kerangka institusional Babcock tentang kesepakatan tersebut sebagai kesepakatan yang “dibangun di atas dua lisensi Arrowhead 140 yang diekspor pada tahun 2021 dan mengikuti peluncuran fregat kelas Merah Putih pertama di Indonesia baru-baru ini, yang mendukung momentum yang semakin meningkat dalam fregat kami.” menyoroti keberlanjutan daripada pengadaan episodik sebagai ciri khas program tersebut.

Penekanan Presiden Prabowo Subianto yang sudah lama pada kedaulatan maritim, yang berakar pada kewajiban Indonesia untuk mengamankan Zona Ekonomi Eksklusif yang melebihi enam juta kilometer persegi, mengubah fregat-fregat ini dari sekadar tambahan armada menjadi instrumen proyeksi kekuatan nasional, perlindungan sumber daya, dan kredibilitas pencegahan di koridor maritim yang diperebutkan.

Saya bertemu dengan CEO Babcock. Kami senang untuk melanjutkan kemitraan maritim ini. Saya pikir ini sangat penting dan strategis bagi Indonesia. Ini adalah bagian penting dari pembangunan ekonomi maritim kita.

Pemilihan Arrowhead 140 mencerminkan konvergensi yang diperhitungkan antara keterjangkauan, modularitas, dan skalabilitas tempur, memungkinkan Indonesia untuk mengejar ambisi angkatan laut tanpa mengorbankan otonomi industri, disiplin fiskal, atau jalur peningkatan di masa depan dalam era doktrin peperangan angkatan laut yang berkembang pesat.

Dengan memusatkan konstruksi di PT PAL dengan ketentuan transfer teknologi yang ekstensif, program ini secara bersamaan memajukan doktrin Kekuatan Esensial Minimum Indonesia sekaligus membentuk kembali ekosistem industri pertahanan domestik menjadi perusahaan yang lebih tangguh, mampu mengekspor, dan otonom secara strategis.

Secara keseluruhan, perjanjian ini menandakan bahwa modernisasi angkatan laut Indonesia bukan lagi sekadar aspirasi atau bertahap, tetapi secara struktural tertanam dalam strategi transformasi maritim jangka panjang yang dirancang untuk memposisikan kembali negara kepulauan ini sebagai aktor angkatan laut Indo-Pasifik yang menentukan.

Dua fregat Arrowhead 140 saat ini sedang dibangun di galangan kapal milik negara PT PAL Indonesia di bawah program Merah Putih Angkatan Laut Indonesia.

Pada 18 Desember 2025, lambung pertama secara resmi diberi nama dan diluncurkan, menandai tonggak penting dalam program tersebut.

Kapal ini adalah kapal utama dari kelas dua fregat yang sedang dibangun oleh PT PAL Indonesia berdasarkan desain Arrowhead 140 yang dikembangkan oleh Babcock.

Pembangunan KRI Balaputradewa dimulai dengan upacara pemotongan baja pada Desember 2022, diikuti dengan peletakan lunas pada Agustus 2023.

  Dari Konsep Ekspor menjadi Jangkar Industri Strategis 
Perjalanan Arrowhead 140 di Indonesia dimulai pada September 2021 ketika Babcock mendapatkan kontrak desain ekspor pertamanya, menetapkan preseden yang mengubah platform dari konsep fregat serbaguna Eropa menjadi arsitektur angkatan laut yang kompetitif secara global yang disesuaikan untuk kekuatan maritim yang sedang berkembang.

Perjanjian lisensi yang ditandatangani dengan PT PAL di pameran Defence and Security Equipment International memungkinkan Indonesia tidak hanya untuk memperoleh lambung kapal, tetapi juga untuk menginternalisasi kompetensi konstruksi fregat canggih yang sebelumnya terkonsentrasi dalam ekosistem pembuatan kapal Eropa.

Deklarasi CEO Babcock, David Lockwood, pada saat itu bahwa, “Hari ini adalah momen yang sangat menggembirakan bagi Babcock dan fregat kami."

Program ekspor yang berkelanjutan, seiring dengan penandatanganan lisensi desain dengan PAL untuk dua fregat baru bagi Angkatan Laut Indonesia,” mencerminkan signifikansi ganda komersial dan strategis dari transfer kemampuan pembuatan kapal yang berdaulat daripada mengekspor kapal perang jadi.

Berasal dari kelas Iver Huitfeldt Denmark dan disempurnakan sebagai dasar untuk kelas Type 31 Inspiration Angkatan Laut Kerajaan Inggris, Arrowhead 140 mengintegrasikan kemampuan bertahan hidup, kapasitas muatan, dan keterjangkauan siklus hidup ke dalam satu platform yang dioptimalkan untuk interoperabilitas koalisi dan kustomisasi nasional.

Penetapan desain oleh Indonesia sebagai kelas Merah Putih mengangkat fregat-fregat tersebut menjadi simbol identitas nasional, memperkuat narasi politik bahwa modernisasi angkatan laut dan kemandirian industri merupakan komponen yang tak terpisahkan dari kedaulatan negara.

Peluncuran KRI Balaputradewa (322) pada 18 Desember 2025 menandai masuknya Indonesia ke dalam kelompok terbatas negara-negara yang mampu membangun fregat multi-peran besar secara domestik, sebuah tonggak sejarah dengan signifikansi strategis dan industri yang abadi.

Penekanan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada “kedaulatan maritim dan kemandirian industri” selama upacara peluncuran mengartikulasikan peran program tersebut sebagai pilar fundamental postur pertahanan jangka panjang Indonesia, bukan sebagai inisiatif pengadaan yang terpisah.

Dengan menanamkan target kandungan lokal yang tinggi yang konsisten dengan doktrin Kekuatan Esensial Minimum, program ini mengoperasionalkan ambisi Indonesia untuk mengubah pengeluaran pertahanan menjadi kemampuan industri yang berkelanjutan, bukan ketergantungan asing yang berulang.

  Perjanjian Baru & Arsitektur Program Kemitraan Maritim 
Peluncuran FMP KRI BPD 322 (PAL)
Perjanjian yang diumumkan pada 21 Januari 2026 meresmikan penjualan dua lisensi desain Arrowhead 140 tambahan, memperluas kekuatan fregat masa depan Indonesia dari sepasang kapal awal menjadi kemampuan tingkat skuadron yang koheren yang dirancang untuk kehadiran maritim yang berkelanjutan.

Ekspansi ini berada dalam Program Kemitraan Maritim yang lebih luas, kerangka kerja senilai £ 4 miliar yang bernilai sekitar US$ 5,08 miliar, yang mencakup konstruksi angkatan laut, infrastruktur maritim, perikanan. dukungan, dan kerja sama industri jangka panjang.

Surat Pernyataan Niat yang ditandatangani antara Babcock dan perwakilan pemerintahan Presiden Prabowo menandakan keselarasan politik di tingkat tertinggi, memastikan keberlanjutan program di luar siklus pemilihan dan inersia birokrasi.

Dengan berkomitmen pada pembangunan lokal di PT PAL, perjanjian tersebut mengkonsolidasikan transfer teknologi, pengembangan tenaga kerja, dan lokalisasi rantai pasokan sebagai pilar yang tidak dapat dinegosiasikan dari strategi angkatan laut Indonesia.

Integrasi sistem rudal, sensor, dan manajemen tempur Turki mencerminkan strategi diversifikasi Indonesia yang disengaja, mengurangi paparan terhadap persyaratan politik sambil memaksimalkan efektivitas biaya dan fleksibilitas peningkatan.

Arsitektur multi-vendor ini mencerminkan tren pengadaan pertahanan Asia yang lebih luas, di mana integrasi modular menggantikan ketergantungan pemasok monolitik sebagai model manajemen risiko yang lebih disukai.

Dari perspektif Babcock, kesepakatan tersebut mempertahankan pekerjaan desain dan rekayasa bernilai tinggi di Rosyth, melestarikan lapangan kerja terampil sambil memperkuat status Arrowhead 140 sebagai ekspor pertahanan unggulan Inggris.

Secara finansial, analis menilai bahwa dua fregat tambahan tersebut Nilai total program dapat melebihi US$ 1 miliar, setelah integrasi sistem, pelatihan, dan dukungan siklus hidup sepenuhnya diperhitungkan.

  Arsitektur Tempur & Jangkauan Operasional Kapal 
Dengan bobot sekitar 6.000 ton dan panjang 140 meter, Arrowhead 140 memberi Indonesia bentuk lambung yang dioptimalkan untuk daya tahan, kemampuan berlayar, dan fleksibilitas multi-misi di lingkungan pesisir dan perairan lepas.

Arsitektur propulsi CODAD, yang digerakkan oleh empat mesin diesel MTU, memberikan kecepatan mendekati 28 knot dan jangkauan 9.000 mil laut pada kecepatan jelajah, memungkinkan patroli berkelanjutan di seluruh geografi kepulauan Indonesia yang tersebar.

Daya tahan tersebut secara langsung menjawab realitas operasional dalam menjaga lebih dari 17.000 pulau, jalur komunikasi laut yang penting, dan infrastruktur energi lepas pantai yang tersebar di jarak maritim yang luas.

Arsitektur senjata modular kelas Merah Putih memungkinkan konfigurasi persenjataan yang disesuaikan, termasuk Meriam utama 76 mm, sistem peluncuran vertikal untuk rudal permukaan-ke-udara, dan opsi rudal anti-kapal canggih seperti Atmaca atau Exocet.

Kemampuan perang anti-kapal selam diperkuat melalui sonar yang terpasang di lambung kapal, helikopter yang ditempatkan di kapal seperti AS565 Panther atau Seahawk, dan sistem torpedo yang dirancang untuk melawan ancaman bawah laut yang semakin canggih.

Sensor canggih, termasuk radar AESA modern dan sistem manajemen tempur berbasis jaringan, menempatkan fregat sebagai pusat kesadaran domain maritim yang mampu berintegrasi dengan gugus tugas gabungan dan koalisi.

Dibandingkan dengan fregat kelas Sigma Indonesia yang sudah ada, Arrowhead 140 menawarkan margin muatan yang lebih unggul, kapasitas pembangkit listrik, dan potensi pertumbuhan di masa depan.

Kemampuan adaptasi ini memastikan relevansi terhadap ancaman yang terus berkembang, termasuk sistem tak berawak, rudal hipersonik, dan operasi maritim terdistribusi yang mendefinisikan peperangan laut kontemporer.

  Signifikansi Geostrategis 
Frigat Merah Putih KRI BPD 322 (Deni)
Keputusan Indonesia untuk memperluas armada Arrowhead 140 terjadi di tengah persaingan strategis yang semakin intensif di Laut Cina Selatan, di mana klaim yang tumpang tindih dan paksaan di zona abu-abu semakin menguji stabilitas regional.

Peningkatan kemampuan fregat memperkuat kemampuan Indonesia untuk melakukan operasi kehadiran berkelanjutan, menegakkan hak kedaulatan, dan memberikan kontribusi yang berarti bagi arsitektur keamanan maritim regional.

Program ini meningkatkan interoperabilitas dengan mitra seperti Australia, Jepang, dan Amerika Serikat, memperkuat otonomi strategis Indonesia sekaligus memperdalam kerja sama pertahanan.

Bagi Inggris Raya, kesepakatan ini merupakan contoh diplomasi pertahanan pasca-Brexit, yang memanfaatkan ekspor angkatan laut untuk mempertahankan pengaruh di seluruh Indo-Pasifik tanpa penempatan pasukan permanen.

Keberhasilan ekspor Arrowhead 140 juga mengimbangi penetrasi pasar pertahanan Tiongkok yang semakin meningkat, khususnya di mana Beijing mempromosikan platform seperti Tipe 054A sebagai alternatif yang hemat biaya.

Pendekatan pengadaan seimbang Indonesia memungkinkan negara ini untuk melakukan modernisasi tanpa berpihak secara eksklusif pada satu blok kekuatan tertentu.

Program ini juga memperkuat pengaruh Jakarta di forum multilateral, di mana kemampuan angkatan laut yang kredibel diterjemahkan menjadi bobot diplomatik.

Secara kolektif, dinamika ini memposisikan kembali Indonesia sebagai kekuatan maritim yang stabil, bukan sebagai negara pantai pinggiran.

 Risiko Industri, Keberlanjutan Fiskal & Jalan ke Depan 
Terlepas dari janjinya, program Arrowhead 140 menghadapi tantangan struktural, termasuk volatilitas rantai pasokan global, kendala tenaga kerja terampil, dan integrasi sistem yang kompleks di berbagai vendor internasional.

Anggaran pertahanan Indonesia, yang berada di kisaran 0,8 persen dari PDB, harus menyelaraskan ekspansi angkatan laut dengan prioritas modernisasi angkatan udara dan darat yang saling bersaing.

Pinjaman luar negeri awal sebesar US$ 1,1 miliar, menggarisbawahi intensitas keuangan pengadaan angkatan laut canggih.

Kemampuan PT PAL untuk meningkatkan produksi sambil mempertahankan kualitas akan menentukan apakah Indonesia muncul sebagai pusat pembuatan kapal regional atau menghadapi hambatan pengiriman.

Keberlanjutan lingkungan dan efisiensi siklus hidup juga menjadi pertimbangan yang muncul karena angkatan laut menghadapi tuntutan operasional yang didorong oleh iklim.

Ekspansi di masa depan menjadi enam atau delapan fregat di bawah fase Minimum Essential Force selanjutnya akan memperkuat transisi Indonesia menuju armada laut lepas yang seimbang.

Kolaborasi trilateral yang melibatkan Inggris, Indonesia, dan Turki dapat lebih mempercepat inovasi dalam sistem peperangan angkatan laut jaringan dan hibrida.

Pada akhirnya, program Arrowhead 140 bukan hanya tentang jumlah kapal, tetapi lebih tentang transformasi kelembagaan.

Seperti yang diamati David Lockwood, perjanjian tersebut mencerminkan “laju dan kemajuan yang dibutuhkan” untuk mewujudkan transformasi maritim, menempatkan Indonesia di garis depan tatanan angkatan laut Asia Tenggara yang terus berkembang. (DSA)

  🤝  DSA  

Jumat, 23 Januari 2026

Indonesia Percepat Kemandirian Pertahanan

  Impor senjata ringan minta dihentikan Alutsista produk Pindad, SS series (Pindad)

Kolaborasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) dinilai mampu menciptakan kemandirian industri pertahanan di Indonesia, yang meliputi senjata ringan seperti senapan serbu dan pistol. Apalagi, industri pertahanan Indonesia telah mumpuni dalam melakukan produksi, sehingga tak perlu lagi melakukan impor.

Salah satu tonggak kemandiriannya, yakni PT Pindad (Persero) sebagai BUMN industri pertahanan utama telah mengembangkan dan memproduksi berbagai pistol dan senapan serbu yang memenuhi kebutuhan TNI/Polri.

Eks Wakil Menteri Pertahanan, M. Herindra, mengusulkan impor peluru kaliber kecil, pistol, dan senapan buatan luar negeri dihentikan karena industri pertahanan dalam negeri mampu menyuplai kebutuhan tersebut. PT Pindad sudah mampu memproduksi peluru-peluru kaliber kecil misalnya yang berukuran 5,56 mm dan 7,62 mm.

Setop kalau perlu, saya sampaikan end user (pengguna akhir/pembeli) saya lihat izin impor lagi, kaliber 5,56 mm, 7,62 mm, masa sih kita tidak bisa (membeli dari dalam negeri)? Kalau untuk pasukan khusus boleh lah,” kata Herindra dilansir pada Selasa, 20 Januari 2026.

Menurut dia, perlu dikembangkan pembelian produk pertahanan, seperti peluru dan pistol buatan dalam negeri. Hal ini sebagai upaya membangun kemandirian industri pertahanan.

Kita berharap pistol G2 (buatan Pindad) mau dipakai Filipina, (itu dapat terwujud) kalau kita pakai, nanti (mereka) baru pakai SS1 dan SS2, anggota kita sudah banyak yang pakai dan beberapa kali memenangkan turnamen, sehingga mendapatkan kredit poin,” kata Herindra.

Upaya kemandirian di bidang pemeliharaan juga ditunjukkan melalui peningkatan kapasitas fasilitas perawatan TNI dan BUMN industri pertahanan, seperti PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memperkuat layanan maintenance, repair, overhaul (MRO) untuk pesawat angkut dan helikopter TNI, sehingga perawatan berkala dapat dilakukan domestik.

PT PAL Indonesia juga telah mendapatkan transfer teknologi untuk perawatan kapal perang, termasuk kapal selam hasil kerja sama, agar docking dan overhaul bisa ditangani di galangan dalam negeri.

  Kerjasama BUMN dan BUMS  
Pemerintah mendorong kolaborasi antara BUMN dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) pertahanan dalam upaya memastikan siklus hidup alutsista dari pengadaan, operasional, hingga perawatan bisa ditangani industri dan SDM nasional.

Kehadiran pihak swasta menjadi bagian dari rantai pasokan lokal bagi BUMN pertahanan, seperti Pindad. Sebagai contoh, PT Nanggala Kencana Rekatama Indonesia (NKRI) menjalin Letter of Intent (LoI) dengan PT Pindad untuk pengadaan 100 pucuk pistol produksi Pindad.

Hal ini menunjukkan kolaborasi antar industri dalam negeri untuk saling mendukung kemandirian alutsista dan komponen pendukungnya.

"Kami telah mengantongi lisensi dari Kementerian Pertahanan untuk memproduksi komponen senjata, selongsong dan proyektil amunisi, serta komponen presisi untuk pesawat terbang, kapal, dan kendaraan tempur," jelas Direktur Operasi PT NKRI, Agus Prihanto.

Agus menuturkan kedua pihak berperan sebagai produsen komponen dan sub-assembly pertahanan dalam negeri. Kemudian, fokus memproduksi komponen senjata dan amunisi serta bagian-bagian presisi untuk berbagai platform (darat, laut, udara).

"Kami juga membantu memenuhi kebutuhan suku cadang lokal untuk Pindad, PT DI, PT PAL, dan perusahaan pertahanan lain tanpa harus mengimpor. Dengan modal dan tenaga ahli dalam negeri," kata dia.

Kolaborasi semacam ini mempercepat inovasi alutsista lokal dan memperluas kapasitas industri secara menyeluruh.

  👷 
Metro TV  

Kamis, 22 Januari 2026

Kerja Sama Pertahanan RI–Qatar

  Bernilai Rp 37,95 Triliun Penandatanganan kerja sama strategis Barzan Holdings dan Republikorp di DIMDEX 2026, Doha. (DOK. REPUBLIKORP)

Kerja sama industri pertahanan antara Indonesia dan Qatar kembali menguat setelah Barzan Holdings meneken perjanjian strategis dengan Republikorp senilai 2,3 miliar dollar AS atau setara Rp 37,95 triliun Kesepakatan ini menjadi bagian dari upaya modernisasi sistem pertahanan Indonesia dengan dukungan pembiayaan dan teknologi dari Qatar.

Perjanjian tersebut ditandatangani dalam ajang Doha International Maritime Defence Exhibition & Conference (DIMDEX) 2026 di Doha, Qatar, pada 20 Januari 2026. Salah satu poin utama kerja sama ini adalah pembentukan perusahaan patungan atau joint venture yang akan memimpin operasional di Indonesia.

Penandatanganan dilakukan oleh Group CEO Barzan Holdings Eng. Mohamed Al Sadah dan Founder Republikorp Norman Joesoef, serta disaksikan Menteri Pertahanan Qatar Sheikh Saud Al Thani. Kerangka kerja sama ini mencakup pembaruan dan peningkatan sistem pertahanan pada ranah kemaritiman dan darat.

Joint venture yang dibentuk diarahkan untuk mendorong program modernisasi terintegrasi berskala besar guna meningkatkan kesiapan operasional dan interoperabilitas sistem Tentara Nasional Indonesia (TNI), dengan dukungan langsung dari Pemerintah Qatar.

  Fokus Modernisasi Maritim dan Darat 
Pada sektor kemaritiman, kerja sama ini mencakup integrasi sistem misi tingkat lanjut serta penerapan solusi digital generasi berikutnya. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat keandalan dan kesiapan armada maritim Indonesia dalam jangka panjang.

Sementara di ranah darat, kemitraan ini difokuskan pada integrasi dan peningkatan berbagai subsistem penting, mulai dari sistem persenjataan presisi hingga munisi dan platform pendukung lainnya. Upaya ini diharapkan memperkuat kapasitas pertahanan darat nasional secara menyeluruh.

Norman Joesoef menilai kerja sama tersebut tidak sekadar bernilai komersial, tetapi juga strategis bagi hubungan bilateral kedua negara.

Signifikansi kemitraan ini jauh melampaui akuisisi perangkat keras; ini merupakan bukti menguatnya hubungan bilateral antara Indonesia dan Qatar,” ujar Norman dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/1/2026).

Ia menambahkan, dukungan pembiayaan dan suplai teknologi dari Barzan menjadi faktor penting dalam mempercepat peta jalan teknologi industri pertahanan nasional, sekaligus meningkatkan keunggulan teknologi TNI.

  Peran Industri Pertahanan Nasional 
Frigat İstif Class, 2 kapal frigat yang dibayarkan Barzan untuk Indonesia. (Oguy Eroguy)

Selama Indo Defence Expo pada Juni 2025, Barzan Holdings mengumumkan bahwa mereka telah menandatangani kontrak dan perjanjian untuk memasok senjata dan amunisi kepada Tentara Nasional Indonesia senilai QAR 5 miliar (USD 1,37 miliar).

Sebagai informasi, Republikorp selama ini berperan sebagai mitra strategis Pemerintah Indonesia dalam mendorong kemandirian industri pertahanan

Melalui skema perusahaan patungan, perusahaan ini melibatkan produsen dan pemilik teknologi internasional untuk membangun kapabilitas produksi di dalam negeri.

Adapun Barzan Holdings merupakan perusahaan pertahanan asal Qatar yang bertugas menjaga dan mengembangkan kapabilitas pertahanan negaranya, sekaligus membuka peluang kolaborasi riset, alih pengetahuan, dan pengembangan teknologi pertahanan.

Kerja sama dengan Indonesia ini dinilai menjadi salah satu proyek strategis Barzan di kawasan Asia Tenggara.

  🤝 
Kompas  

Rabu, 21 Januari 2026

Babcock Menandatangani Perjanjian Awal Program Kemitraan Maritim Indonesia

   Untuk Dua Tambahan Kapal Fregat Arrowhead 140  
Fregat Merah Putih KRI BPD 322 (Deni)

Kami telah mengamankan kesepakatan pertama kami di bawah Program Kemitraan Maritim/Maritime Partnership Programme (MPP) senilai £ 4 miliar dengan Indonesia, untuk penjualan dua lisensi frigat Arrowhead 140, yang akan dikirimkan dalam beberapa bulan mendatang.

Surat Pernyataan Niat yang menguraikan tujuan pengadaan Indonesia untuk MPP telah ditandatangani, bersamaan dengan perjanjian awal untuk dua lisensi tersebut, yang akan dikirimkan dalam beberapa bulan mendatang. Ini merupakan kelanjutan dari ekspor awal kami berupa dua lisensi Arrowhead 140 pada tahun 2021. Pengumuman ini menegaskan momentum pertumbuhan ekspor frigat kami dan datang hanya beberapa minggu setelah kapal pertama, dalam program kelas Frigat Merah Putih, melakukan peluncuran perdananya di Indonesia.

Surat Pernyataan Niat, yang membuka jalan bagi perjanjian lebih lanjut, baru-baru ini ditandatangani atas nama Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan CEO Babcock, David Lockwood, dan mengikuti Perjanjian Kemitraan Maritim (MPP) penting yang diumumkan pada November 2025 antara Babcock dan Pemerintah Indonesia untuk bersama-sama mengembangkan kemampuan maritim bagi Angkatan Laut Indonesia (TNI AL), industri perikanan, dan pada gilirannya, ketahanan pangan. Dalam periode singkat ini, kemajuan signifikan telah dicapai antara Babcock dan Kementerian Pertahanan Indonesia.

Perdana Menteri Keir Starmer mengatakan: “Di mana pun saya berada, memberikan yang terbaik bagi pekerja di dalam negeri selalu ada dalam pikiran saya. Fase selanjutnya dari kemitraan kita dengan Indonesia hari ini merupakan wujud kepercayaan yang kuat kepada Inggris, mengamankan ratusan pekerjaan berketerampilan tinggi di Rosyth dan memperkuat masa depan pembangunan kapal kelas dunia kita.

Presiden Prabowo Subianto mengatakan: “Saya bertemu dengan CEO Babcock. Kami senang untuk melanjutkan kemitraan maritim ini. Saya pikir ini sangat penting dan strategis bagi Indonesia. Ini adalah bagian penting dari pembangunan ekonomi maritim kita.

David Lockwood, CEO Babcock, mengatakan: “Program Kemitraan Maritim antara Babcock dan Indonesia berfokus pada peningkatan kemampuan pertahanan dan maritim Indonesia, infrastruktur dan rantai pasokan, sekaligus menciptakan lapangan kerja dan kemakmuran bagi masyarakat setempat.

Kami terus memainkan peran kunci dalam memperkuat kemitraan pertahanan internasional, sambil memberikan dan mendorong manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat di seluruh Inggris. Perjanjian baru ini mengakui peran strategis kami dalam mewujudkan rencana maritim dan kemakmuran penting Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, yang akan mencakup investasi besar dalam pembuatan kapal di Indonesia untuk mendukung modernisasi lebih lanjut, merevitalisasi komunitas nelayan, meningkatkan pertahanan dan keamanan maritim negara, dan meningkatkan ketahanan pangan.

Sebagai mitra industri utama dalam program ini, kami menciptakan aliansi yang kuat dan langgeng yang tidak hanya akan mendukung tujuan maritim Indonesia tetapi juga akan mempertahankan dan mengembangkan lapangan kerja di kedua negara. Pesanan kerja pertama ini, dalam kerangka kerja penting ini, menandakan pentingnya kecepatan dan kemajuan yang dibutuhkan untuk mewujudkan transformasi maritim Presiden Prabowo Subianto dan mendukung keberhasilan desain ekspor Arrowhead 140 kami yang terus berkembang.

  🤝  Babcock  

Selasa, 20 Januari 2026

Kerja Sama Militer Indonesia-Inggris

  Momentum Akselerasi Teknologi Alutsista 
Fregat Merah Putih KRI BPD 322 (FMI fb)

Pengamat pertahanan dan keamanan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi menilai langkah strategis Indonesia menjalin Kerja sama militer dengan Inggris merupakan momentum krusial untuk memajukan teknologi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) dalam negeri.

Fahmi menegaskan bahwa Inggris dipilih bukan sekadar faktor simbolik, melainkan karena keunggulan historis dan kapabilitasnya dalam pengembangan sistem, standar, serta integrasi teknologi pertahanan yang telah teruji secara global.

"Dalam konteks pertahanan, Inggris dipilih karena kemampuannya berperan sebagai mitra yang kuat dalam pengembangan sistem, standar, dan integrasi teknologi pertahanan," kata Khairul Fahmi dalam keterangan tertulisnya yang diterima pada Selasa, 20 Januari 2026 di Jakarta.

Fahmi menekankan bahwa akses terhadap kemajuan teknologi pertahanan bernilai tinggi milik Inggris—seperti sistem radar, sensor, electronic warfare, hingga sistem manajemen pertempuran—sangat penting bagi kedaulatan Indonesia.

Menurutnya, adopsi teknologi ini akan secara signifikan meningkatkan kesadaran situasional dan kemampuan deteksi dini TNI, terutama dalam menjaga wilayah laut dan udara Indonesia yang sangat luas.

"Inggris memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan doktrin, sistem komando dan kendali, serta integrasi teknologi lintas platform dan lintas negara. Hal inilah yang berpotensi diadopsi oleh TNI," ujarnya.

Lebih lanjut, Fahmi menyoroti proyek pembuatan Fregat Merah Putih (Arrowhead 140) sebagai bukti nyata manfaat strategis bagi industri pertahanan nasional. Dalam proyek ini, PT PAL tidak hanya bertindak sebagai perakit, tetapi juga menyerap pengetahuan vital terkait integrasi sistem tempur yang kompleks.

Ke depan, Fahmi meyakini penguasaan teknologi ini akan menjadi fondasi kokoh bagi kemandirian industri maritim dan pertahanan Indonesia di masa depan.

"Kerja sama ini menjadi langkah nyata dalam menciptakan kemandirian industri pertahanan".

  🤝  Kosadata  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More