blog-indonesia.com

Sabtu, 16 Januari 2021

Inovasi GeNose C19

Jadi Implementasi Triple HelixiGeNose 19 [republika]

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang Brodjonegoro mengatakan inovasi alat screening virus corona (Covid-19) 'GeNose C19' merupakan pengimplementasian konsep triple helix yang dinilai cukup baik.

Konsep triple helix melibatkan sinergi antara pemerintah dengan akademisi dan pebisnis.

GeNose C19 ini lahir dari pengembangan yang dilakukan tim pengembang dari Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Konsorsium Inovasi Covid-19 yang berada di bawah koordinasi Kemenristek/BRIN.

Inovasi ini pun akan diproduksi massal melalui beberapa perusahaan yang telah bekerja sama dengan UGM.

"Inovasi ini kami sambut baik, karena selain bagian dari Konsorsium Inovasi Covid-19, juga merupakan implementasi dari triple helix yang berjalan cukup mulus," ujar Bambang, dalam Webinar GeNose C19 bertajuk 'Inovasi Teknologi Kemandirian Alat Kesehatan Anak Bangsa', Jumat (15/1/2021) sore.

Dalam konsep triple helix, pemerintah mengambil peranan tidak hanya melalui Kemenristek/BRIN, namun juga Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Hal itu karena Kemenkes yang memberikan izin edar bagi inovasi tersebut pada 24 Desember 2020.

"Pemerintah yang terlibat ini tentunya selain kami Kemenristek/BRIN yang memberikan dukungan penganggaran kepada tim, juga berasal dari Kementerian Kesehatan yang tanggal 24 Desember (2020) kemarin memberikan izin edar kepada GeNose," jelas Bambang.

Menurut Bambang, sebelum mengeluarkan izin edar, ada sejumlah prosedur yang telah dilakukan.

Dua diantaranya pengujian pada 1.000 sampel dan review yang dilakukan oleh para ahli. "Dan izin edar itu sepengetahuan saya sudah melalui tahapan yang sangat detail, misalkan dengan uji sampel yang sampai 1.000 sampel. Demikian juga panel ahli yang melakukan review terhadap GeNose tersebut," kata Bambang.

Sebelumnya, Bambang menyebut ada 5 perusahaan yang akan memproduksi massal alat screening virus corona (Covid-19) yang disebut GeNose.

GeNose merupakan alat screening Covid-19 yang dikembangkan oleh pars peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan telah memperoleh izin edar dari Kementerian Kesehatan pada 24 Desember 2020. "GeNose ini sudah mendapat izin edar 24 Desember kemarin, dan rencananya dengan konsorsium yang terdiri dari 5 perusahaan, mereka akan melakukan produksi massal," ujar Bambang, dalam konferensi pers virtual, Kamis (7/1/2021) siang.

Ia menambahkan, untuk produksi massal tahap awal ini ditargetkan menghasilkan 5.000 unit pada Februari mendatang.

"Targetnya bulan Februari sudah 5.000 dan nantinya juga akan bisa menjadi lebih besar," jelas Bambang.

Selain 5 perusahaan yang siap memproduksi massal alat screening ini, kata Bambang, kementeriannya juga akan membantu mencari mitra industri lainnya agar produksi GeNose bisa terus ditingkatkan jumlahnya.

"Kami dari Kemenristek/BRIN juga akan membantu GeNose UGM untuk bisa menemukan atau mencari mitra industri yang bisa memproduksi dengan jumlah lebih banyak lagi, dengan standard tentunya yang terjaga," tegas Bambang.

Bambang menyampaikan bahwa hingga saat ini, sudah banyak pihak yang melakukan pemesanan terhadap produk karya anak bangsa ini.

Ia pun berharap mitra industri yang telah digandeng, bisa menyelesaikan produksi sesuai dengan target waktu yang ditentukan.

"Saat ini yang kami ketahui, pesanan sudah sangat banyak dan mudah-mudahan segera bisa dipenuhi denggan schedule dari industri tersebut," kata Bambang.

Sebelumnya, Bambang juga mengatakan GeNose sudah bisa diproduksi massal, karena inovasi ini telah mengantongi izin edar dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 24 Desember 2020, dengan nomor AKD 20401022883.

"Artinya, mulai saat ini GeNose sudah bisa diproduksi massal dan didistribusikan atau dipakai untuk kepentingan masyarakat, terutama tentunya untuk screening Covid-19," ujar Bambang, dalam konferensi pers virtual 'GeNose UGM dan CePAD UnPAD', Senin (28/12/2020) sore.

Menurutnya, GeNose bisa menjadi alat screening yang menjangkau seluruh masyarakat karena harganya yang terjangkau.

"Alat ini bisa dianggap sebagai alat yang akurat, cepat, aman dan terjangkau. Dengan teknologi dan desain lokal, serta yang masih impor adalah komponen elektroniknya," jelas Bambang.

Pendeteksian keberadaan Covid-19 dalam tubuh seseorang menggunakan alat ini, kata dia, dapat dilihat dari hembusan nafas.

"Untuk GeNose, dilakukan dengan melihat hembusan nafas. Di mana dalam hembusan nafas ada senyawa yang akan bisa mendeteksi apakah orang bersangkutan yang menghembuskan nafas tersebut terinfeksi Covid-19 atau tidak," kata Bambang.

Terkait tingkat sensitivitas alat screening Covid-19 ini mencapai angka 92 persen, sedangkan tingkat spesivitasnya mencapai 95 persen.

GeNose pun disebut mulai mendapatkan 'pesanan' dari luar negeri.

Inovasi satu ini memang telah mengantongi izin edar, sehingga sudah bisa diproduksi massal dan didistribusikan kepada masyarakat.

Salah satu anggota Tim Pengembang GeNose, Dian Kesumapramudya Nurputra mengatakan bahwa setelah mendapatkan izin edar, banyak yang mulai memesan alat screening ini.

"Kalau untuk pemesanan saat ini sudah bisa dan sudah ada yang memesan," ujar Dian, dalam konferensi pers virtual 'GeNose UGM dan CePAD UnPAD', Senin (28/12/2020) sore.

Bahkan ada pula pemesan dari perusahaan yang memiliki basis di Singapura.

"Secara spesifik sudah ada, dari Singapura, dari salah satu perusahaan besar yang basisnya di Singapura," kata Dian.

Namun ia menekankan, saat ini target pendistribusian GeNose masih berfokus pada kebutuhan nasional.

"Hanya memang kita masih memprioritaskan permintaan dalam negeri dulu, karena memang kapasitas kita masih terbatas," jelas Dian.

Pihaknya pun masih mengupayakan peningkatan kapasitas produksi alat screening ini.

Karena saat ini, kapasitas produksi masih berada pada angka 100 unit.
 

  😷 Tribunnews  

0 komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More