blog-indonesia.com

N 250 IPTN

Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi

CN 235 MPA

Pesawat patroli maritim CN-235 produksi PT DI - Indonesia Teknologi

NC 212 MPA

Pesawat patroli maritim NC-212 produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

N 219

Pesawat karya anak bangsa, kerjasama BUMNIS diproduksi PT DI - Indonesia Teknologi

Drone LEN

Drone Bersenjata karya LEN - Indonesia Teknologi

Star 50

Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

LPD KRI Banda Aceh

Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi

SSV Filipina

Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi

KN Tanjung Datu 1101

KN Tanjung Datu 1101 Bakamla, kapal patroli 110m produksi PT Palindo

KRI I Gusti Ngurah Rai 332

PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi

KN 321 Pulau Nipah

KN Pulau Nipah 321 Bakamla, kapal 80 m produksi PT Citra Shipyard, Batam

KRI Bung Karno 369

KRI Bung Karno 369 produksi PT Karimun Anugrah Sejati

KCR 60 KRI Tombak 629

Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

BC 60002

Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi

FPB 57 KRI Layang

Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi

KCR 40 KRI Clurit

Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Torani 860

Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi

PC 40 KRI Tarihu

Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi

KRI Klewang

Merupakan Kapal Pertama Trimaran, produksi PT Lundin - Indonesia Teknologi

Hovercraft Kartika

Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi

Hovercraft Indonesia

Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi

X18 Tank Boat Antasena

Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi

Sentry Gun UGCV

Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi

MT Harimau 105mm

Medium tank dengan kanon 105 mm produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Badak FSV 90mm

Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi

Panser Anoa APC

Kendaraan angkut militer produksi PT Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Tank SBS Pindad

Kendaraan militer prototype Pindad - Indonesia Teknologi

APC PAL AFV

Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi

MLRS Rhan 122B

Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi

PT44 Maesa

Kendaraan angkut militer produksi Indonesia - Indonesia Teknologi

MCCV

Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi

Ganilla 2.0

Kendaraan khusus dapur lapangan produksi PT Merpati Wahana Raya - Indonesia Teknologi

Komodo 4x4

Kendaraan militer taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Maung 4x4

Kendaraan taktis produksi Pindad, Bandung - Indonesia Teknologi

Turangga APC 4x4

Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi

GARDA 4x4

Kendaraan militer taktis hasil karya anak bangsa - Indonesia Teknologi

ILSV

Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi

P1 Pakci

Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi

P2 APC Cougar

Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi

P3 APC Ransus Cheetah

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

P6 ATAV

Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi

DMV30T

Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi

Mobil Hybrid LIPI

Prototipe mobil tenaga hybrid produksi LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Listrik MARLIP (Marmut LIPI)

Prototipe mobil Listrik karya LIPI - Indonesia Teknologi

Mobil Nasional Esemka Digdaya

Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi

Teknik Sosrobahu

Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi

Minggu, 15 Maret 2026

Mengapa Pilihan Indonesia Jatuh pada Rudal BrahMos?

Penampakan Rudal Brahmos versi land based, Indonesia akan mendanai pembelian rudal BrahMos dengan pinjaman luar negeri senilai $ 100 juta. (AMR)

KEPUTUSAN Indonesia mengakuisisi sistem rudal jelajah supersonik BrahMos dari India menandai pergeseran perlahan doktrin pertahanan maritim nasional dalam tiga dekade terakhir.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Jakarta nampaknya tidak lagi sekadar bermain di zona nyaman alias diplomasi pasif, tapi mulai membangun taring kinetik.

Tentu akuisisi kali ini adalah hasil kalkulasi geostrategis yang cukup matang oleh para punggawa pertahanan nasional di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan raksasa di Indo-Pasifik.

Pilihan pada BrahMos menunjukkan bahwa pemerintah sedang mengejar kemampuan Anti-Access/Area Denial (A2/AD) untuk mengimbangi asimetri kekuatan militer di kawasan.

Dengan kecepatan yang mencapai Mach3, rudal ini secara teknis berada di kelas tersendiri, melampaui kemampuan rudal subsonik yang selama ini menjadi tulang punggung banyak angkatan laut di Asia Tenggara.

Bagi para perencana pertahanan di Jakarta, nampaknya BrahMos adalah jawaban yang tepat untuk memenuhi kebutuhan "payung supersonik" yang mampu menjangkau titik-titik sempit strategis dari Selat Malaka hingga perairan Natuna.

Secara formal, kesepakatan ini telah dikonfirmasi pada Maret 2026, setelah negosiasi intensif di mana puncaknya terjadi pada kunjungan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ke New Delhi pada November 2025.

Indonesia menyusul jejak Filipina sebagai pelanggan ekspor kedua bagi mahakarya hasil kerja sama India dan Rusia ini.

Namun, di balik kecanggihan misil ini, juga terdapat struktur kontrak dan konsekuensi ekonominya, mulai dari skema pembiayaan perbankan hingga kemungkinan terjadinya barter otomotif yang sempat memicu perdebatan di ruang publik Indonesia belum lama ini.

Kendati demikian, dari kacamata geostrategis, memang sangat penting untuk memahami bahwa pembelian Brahmos dilakukan saat dunia sedang membicarakan bagaimana senjata supersonik bisa mengubah peta kekuatan kawasan.

Dan nampaknya Indonesia tidak lagi ingin menjadi penonton dalam perlombaan teknologi di halaman rumah sendiri.

Dengan kata lain, langkah ini dipandang sebagai investasi untuk memastikan kedaulatan Indonesia tidak "diremehkan", apalagi diganggu, karena lemahnya sistem pertahanan.

  Siasat Pembiayaan  
Jika ditelisik lebih dalam, Indonesia tidak hanya membeli barang jadi. Salah satu pilar utama dari kesepakatan ini adalah komitmen transfer teknologi (Transfer of Technology/ToT).

Klausul ToT ini sangat krusial karena mandat Undang-Undang Industri Pertahanan mewajibkan adanya keterlibatan lokal dalam setiap pengadaan alutsista asing.

Dalam konteks BrahMos, entitas strategis seperti PT PAL dan PT Pindad diproyeksikan akan mendapatkan peran dalam integrasi sistem serta manufaktur komponen tertentu secara lokal.

Tentu ini perlu diapreaisi karena menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa dalam jangka panjang, Indonesia memiliki kemandirian dalam merawat dan mengembangkan sistem pemukul jarak jauh secara mandiri.

Nilai kesepakatan final untuk pengadaan tahap awal ini dilaporkan mencapai 450 juta dollar AS (sekitar Rp 7 triliun). Angka tersebut mencakup pengadaan tiga baterai rudal varian pesisir (shore-based anti-ship missile system) dengan jadwal pengiriman selama 36 bulan ke depan.

Struktur pembiayaannya nampaknya dirancang dengan sangat hati-hati untuk menjaga stabilitas fiskal.

Alih-alih bergantung sepenuhnya pada pinjaman luar negeri yang sering kali memiliki persyaratan politik mengikat, Indonesia menggunakan mekanisme kredit ekspor melalui lembaga keuangan India seperti Exim Bank, yang dikoordinasikan dengan bank domestik nasional.

Pilihan menggunakan perbankan domestik juga cukup bisa dipahami karena menunjukkan kedewasaan manajemen ekonomi pertahanan Indonesia saat ini.

Dengan skema ini, ketergantungan pada mata uang asing tertentu dapat dimitigasi, sementara hubungan perbankan antara Jakarta dan New Delhi akan semakin erat ke depannya.

Harga per unit rudal yang berada di kisaran 4,75 juta dollar AS memang tergolong mahal jika dibandingkan dengan rudal subsonik tradisional. Namun, efektivitasnya dalam menembus sistem pertahanan udara kapal perang modern dipastikan akan menjadikannya investasi yang cukup pantas.

Setidaknya dalam kalkulasi militer, pengorbanan beberapa juta dolar untuk melumpuhkan kapal perusak seharga miliaran dolar akan dianggap sebagai bentuk efisiensi operasional yang layak diterima.

Dan karena itu, pemerintah tentu harus menjelaskan semua ini kepada rakyat melalui DPR, agar pembelian ini bisa semakin legitimate secara politik.

Selain pengadaan unit misil, kontrak juga mencakup paket pelatihan intensif bagi operator dari TNI AL dan pembangunan infrastruktur pendukung di titik-titik pangkalan.

New Delhi bahkan mengusulkan pembentukan komite kerja sama industri pertahanan bersama untuk memfasilitasi penelitian dan pengembangan di masa depan.

Artinya, hal ini menegaskan bahwa India tidak hanya melihat Indonesia sebagai pembeli, tapi juga sebagai mitra strategis jangka panjang dalam rantai pasok pertahanan global.

  Track Record Superioritas Supersonik  
Penampakan 1 baterai sistem rudal BrahMos Filiphina, Indonesia dikabarkan akan membeli 1 baterai untuk pertahanan pantai senilai $ 100 juta. (RTVM)
Pertanyaan kritis yang sering muncul belakangan adalah mengapa pilihan jatuh pada BrahMos, bukan rudal lain?

Keunggulan utama BrahMos terletak pada kombinasi antara kecepatan ekstrem dan profil terbang rendah yang sangat sulit dideteksi radar.

Sebagai rudal “dua tahap” dengan mesin “liquid ramjet”, BrahMos mampu mempertahankan kecepatan konstan Mach 3 di sepanjang lintasannya.

Sebagai perbandingan, rudal Harpoon buatan Amerika Serikat bersifat subsonik, yang berarti jauh lebih mudah diintersepsi oleh sistem pertahanan jarak dekat kapal perang modern.

Kecepatan Mach3 memberikan energi kinetik terminal yang luar biasa besar. Secara saintifik, dampak fisik dari hantaman objek yang bergerak secepat satu kilometer per detik mampu melumpuhkan kapal perang besar hanya melalui kekuatan benturan, bahkan jika hulu ledaknya gagal meledak.

Selain itu, kemampuan “sea-skimming” BrahMos (terbang hanya setinggi 3 hingga 10 meter di atas permukaan laut) membuatnya mampu bersembunyi di balik kurvatur bumi dan gangguan radar permukaan hingga jarak yang sangat dekat dengan target.

Apalagi, keandalan BrahMos juga telah teruji dalam kondisi konflik riil, sebuah faktor yang nampaknya juga sangat dipertimbangkan oleh militer Indonesia.

Dalam "Operasi Sindoor" pada Mei 2025, militer India mengerahkan BrahMos secara ekstensif untuk menghancurkan infrastruktur strategis Pakistan dengan presisi yang cukup tinggi.

BrahMos terbukti mampu menembus sistem pertahanan udara buatan China (seperti HQ-9) yang dimiliki Pakistan. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi supersonik memang memiliki peluang tembus yang sangat tinggi.

Bahkan, insiden peluncuran tidak sengaja ke wilayah Pakistan pada tahun 2022 membuktikan bahwa rudal Brahmos mampu terbang sejauh 124 kilometer ke dalam wilayah Pakistan tanpa bisa dideteksi oleh radar.

Jika dibandingkan dengan pesaing dari China seperti CM-302, BrahMos memiliki keunggulan akurasi yang jauh lebih tinggi dengan Circular Error Probable (CEP) hanya satu meter, sementara sistem China dilaporkan berada di kisaran 5 hingga 7 meter.

Apalagi menggunakan teknologi buatan China untuk mempertahankan wilayah dari klaim agresi China di Natuna juga dipandang sangat berisiko secara politik dan teknis karena potensi adanya "pintu belakang" (backdoor) pada sistem tersebut.

Sementara itu, rudal Naval Strike Missile (NSM) dari Norwegia memang memiliki fitur siluman. Namun kecepatan subsoniknya tidak memberikan efek intimidasi kinetik sehebat BrahMos dalam doktrin pertahanan Indonesia.

  Antara Perisai Laut dan Armada Pikap?  
Di balik kecanggihan teknologi supersonik, terdapat sisi ekonomi yang memicu polemik domestik yang cukup hangat.

Entah masuk ke dalam paket kerja sama atau tidak, setidaknya akuisisi ini sempat diduga kuat memiliki keterkaitan dengan skema imbal dagang otomotif.

Indonesia setuju untuk mengimpor sekitar 105.000 unit kendaraan pikap dari dua raksasa otomotif India, Mahindra & Mahindra serta Tata Motors, dengan nilai total mencapai Rp 40 triliun.

Kendaraan-kendaraan ini direncanakan untuk memperkuat logistik pedesaan melalui program Koperasi Desa Merah-Putih.

Kebijakan impor massal ini memicu penolakan keras dari asosiasi industri otomotif dalam negeri (seperti Gaikindo) serta organisasi pengusaha seperti Apindo dan Kadin.

Mereka menilai langkah ini kontradiktif dengan semangat hilirisasi dan perlindungan industri manufaktur nasional.

Kekhawatiran utama adalah potensi hilangnya penyerapan tenaga kerja lokal dan pelemahan ekosistem otomotif domestik yang sebenarnya memiliki kapasitas produksi hingga satu juta unit per tahun.

Ada ancaman nyata bahwa ratusan ribu pekerja di sektor otomotif bisa terdampak jika pasar tiba-tiba dibanjiri produk impor dalam jumlah sebesar itu.

Kabar terbaru, rencana tersebut ditunda karena desakan dari berbagai pihak, terutama DPR. Namun jika dilihat dari perspektif pemerintah, langkah ini dianggap sebagai bagian dari "transaksi besar" demi mendapatkan akses ke teknologi militer paling sensitif dari India.

Apalagi, kendaraan India seperti Mahindra Scorpio dipilih karena memiliki spesifikasi 4x4 yang dianggap lebih tangguh dan harga yang lebih murah (selisih sekitar Rp 50 juta per unit) dibandingkan produk rakitan lokal untuk medan berat di pedesaan.

Sebagai bagian dari kewajiban offset, Mahindra dan Tata Motors juga berkomitmen untuk membangun pabrik perakitan atau pusat suku cadang di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Dinamika ini sebenarnya menggambarkan betapa rumitnya manajemen pertahanan di era modern. Kedaulatan wilayah di laut sering kali harus dibayar dengan konsesi ekonomi di sektor lain.

Meskipun memicu friksi internal, barter ini dipandang sebagai jalan tengah untuk memperkuat daya pukul TNI sekaligus melakukan modernisasi infrastruktur pedesaan secara cepat.

Secara geopolitik, kepemilikan BrahMos tentu akan menempatkan Indonesia pada posisi tawar yang jauh lebih kuat di Asia Tenggara.

Bersama Filipina, Indonesia kini menjadi bagian dari "benteng maritim" supersonik di tepi selatan Laut China Selatan.

Penempatan baterai BrahMos di Natuna secara otomatis akan menciptakan zona penolakan akses (A2/AD) yang sangat berbahaya bagi kapal perang asing.

Dengan jangkauan 290 kilometer, setiap kapal yang melakukan intrusi ke ZEE Indonesia akan berada dalam jangkauan misil yang hampir mustahil untuk diintersepsi.

Langkah ini, meskipun tak diakui secara eksplisit oleh Jakarta, nampaknya adalah respons langsung atas taktik "zona abu-abu" China di Laut Natuna Utara.

Selama ini, kapal-kapal penjaga pantai China sering mengawal nelayan mereka masuk ke wilayah kedaulatan Indonesia dengan asumsi bahwa Jakarta tidak akan mengambil tindakan militer secara terbuka.

Sehingga dengan BrahMos, kalkulasi risiko bagi China tentu akan berubah drastis. Risiko kehilangan kapal perang atau kapal penjaga pantai akibat serangan supersonik yang datang secara tiba-tiba dari pesisir akan menjadi deteren psikologis yang sangat kuat.

Hubungan antara Indonesia dan India pun diproyeksikan akan bertransformasi dari sekadar mitra dagang menjadi aliansi strategis yang akan saling mengunci.

India kini mulai muncul sebagai penyedia keamanan alternatif di kawasan, memecah ketergantungan negara-negara ASEAN pada teknologi Amerika Serikat atau China.

Bagi Indonesia, India akan menjadi mitra "selatan-selatan" yang memiliki kepentingan serupa dalam menjaga tatanan kawasan yang berbasis hukum internasional.

Kemitraan ini diprediksi akan terus berkembang ke arah penelitian bersama untuk varian rudal masa depan seperti BrahMos-NG.

Namun di sisi lain, tanggapan dari China diprediksi akan tetap bersifat “meragukan” secara publik, walaupun secara internal Beijing dipastikan akan cukup cemas juga.

Fakta bahwa senjata canggih India kini menjaga jalur energi dan perdagangan vital China di Selat Malaka dan Natuna, diakui atau tidak, akan menjadi pukulan strategis bagi Beijing.

Sementara itu, Amerika Serikat kemungkinan besar akan bersikap pragmatis. Meskipun BrahMos mengandung komponen Rusia, Washington nampaknya cenderung akan memberikan pengecualian sanksi CAATSA (Countering America's Adversaries Through Sanctions Act) bagi Indonesia karena akuisisi ini masih akan dianggap selaras dengan kepentingan AS untuk membendung ekspansi maritim China di Indo-Pasifik.

  🚀 
Kompas  

Sabtu, 14 Maret 2026

BRIN Ungkap Indonesia Berpotensi Jadi Produsen Satelit

Ilustrasi sateli LAPAN A1 telah mengudara lebih 18 tahun terus beroperasi. (ist)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa Indonesia dinilai perlu mengubah paradigma dalam industri antariksa, dari sekadar pembeli teknologi menjadi produsen satelit. Hal ini dianggap penting untuk memperkuat kemandirian teknologi sekaligus meningkatkan posisi Indonesia dalam ekosistem industri antariksa global.

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) di BRIN, Robertus Heru Triharjanto, mengatakan selama ini Indonesia masih lebih banyak berperan sebagai pengguna atau pembeli teknologi satelit dari negara lain.

"Indonesia masih lebih banyak berperan sebagai pembeli teknologi satelit, sementara nilai strategis terbesar justru berada pada negara produsen satelit dan penyedia layanan peluncuran," kata Heru dikutip dari pernyataan tertulisnya, Jumat (13/3/2026).

Menurutnya, para peneliti kini mulai membangun kemampuan nasional secara bertahap. Pada tahap awal, sebagian besar komponen satelit memang masih diperoleh dari luar negeri. Namun secara perlahan, pengembangan komponen satelit mulai dilakukan di dalam negeri.

Beberapa teknologi yang sudah mulai dikembangkan peneliti antara lain reaction wheel, star sensor, serta sistem kamera satelit. Komponen tersebut merupakan bagian penting dalam sistem navigasi dan pengamatan satelit di orbit.

Heru menilai, kemampuan memproduksi satelit sendiri akan memberikan dampak strategis bagi Indonesia. Selain memperkuat kemandirian teknologi, hal tersebut juga dapat mendorong terbentuknya pusat keahlian, memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri, hingga membuka peluang lahirnya industri satelit nasional.

"Program ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi peneliti muda dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi melalui keterlibatan dalam proses perancangan, integrasi, hingga pengujian satelit," ujarnya.

Pengembangan teknologi satelit di Indonesia sendiri telah memiliki fondasi sejak pengoperasian satelit LAPAN-A1. Satelit tersebut mulai dikembangkan pada 2003 melalui kerja sama dengan Technical University Berlin.

Satelit tersebut kemudian diluncurkan pada 10 Januari 2007 menggunakan roket PSLV-C7 milik Indian Space Research Organisation dari Satish Dhawan Space Centre di Sriharikota, India.

Keberhasilan pengoperasian LAPAN-A1 menandai salah satu tonggak penting dalam pengembangan teknologi antariksa nasional. Menurut Heru, kemajuan teknologi satelit tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada visi, kepemimpinan, serta kerja sama tim yang kuat.

Dengan penguatan riset dan kolaborasi yang berkelanjutan, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi satelit, tetapi juga mampu tampil sebagai produsen dalam industri antariksa global. (agt/afr)

  🤝 
detik  

LEN Pamerkan CMS Mandhala Mk2 & TDL Link ID

 👷 Dengan TKDN yang tinggi PT Len Industri memamerkan teknologi Combat Management System (CMS) Mandhala Mk2 di hadapan Kementerian Pertahanan di Jakarta, Rabu (11/3/2026). (ANTARA/HO PT Len)

PT Len Industri memamerkan teknologi Combat Management System (CMS) Mandhala Mk2, sebuah sistem cerdas yang bertindak sebagai "otak" pengendali sistem tempur kapal perang TNI Angkatan Laut pada Kementerian Pertahanan.

Peragaan teknologi inti ini, langsung dilihat oleh Kepala Badan Logistik Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Marsdya TNI Yusuf Jauhari di Jakarta, sebagai bagian dari upaya modernisasi alutsista berbasis inovasi anak bangsa.

"Pengembangan teknologi CMS, NDDU (Navigation Data Distribution Unit), dan TDL (Tactical Data Link) ini merupakan bagian dari komitmen Len untuk mendukung modernisasi alutsista sekaligus memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional," kata Direktur Utama Len Joga Dharma Setiawan dalam keterangan di Bandung, Rabu.

CMS Mandhala Mk2 berfungsi mengintegrasikan seluruh instrumen mulai dari sensor, radar, sistem komunikasi, navigasi, hingga persenjataan ke dalam satu platform terpadu. Sistem ini memungkinkan pengambilan keputusan taktis dilakukan secara real time di tengah palagan operasi tempur.

Kepala Badan Logistik Pertahanan Kemenhan RI Marsdya TNI Yusuf Jauhari menilai demonstrasi ini menjadi bukti nyata kemajuan teknologi pertahanan yang dikelola oleh engineer lokal.

"Forum seperti ini sangat penting karena memberikan ruang bagi industri pertahanan nasional untuk menunjukkan kemajuan teknologi yang telah dicapai. Kami juga mengapresiasi industri, termasuk Len, yang telah membuka ruang bagi para engineer Indonesia untuk berkarya dan berinovasi," kata Yusuf.

Selain "otak" kapal, Len juga memperkenalkan Tactical Data Link (TDL) LINK ID. Teknologi ini menjadi jembatan komunikasi data taktis antarplatform militer, mulai dari kapal perang, pesawat, hingga kendaraan tempur, guna mendukung operasi gabungan lintas matra yang lebih aman dan efektif.

Untuk urusan akurasi posisi, raksasa pertahanan ini menyiagakan Navigation Data Distribution Unit (NDDU) CENTRINAV. Alat ini berfungsi memastikan seluruh sistem di kapal, termasuk persenjataan dan radar surveilans, beroperasi secara sinkron dengan tingkat akurasi data navigasi yang tinggi.

Joga menambahkan bahwa seluruh produk ini dirancang dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi serta jaminan layanan purna jual domestik.

"Kami terus mengembangkan teknologi yang mampu mengintegrasikan sensor, komunikasi, navigasi, hingga sistem persenjataan dalam satu sistem terpadu, sehingga dapat meningkatkan efektivitas operasi militer," tutur Joga.

  👷 
antara  

Jumat, 13 Maret 2026

Industri Galangan Kapal Nasional Dinilai Belum Maksimal

Ilustrasi Industri kapal lokal (Kompas)

Industri galangan kapal masih terbuka lebar di Indonesia, karena sampai saat ini masih ada 10 persen dari jumalh pelabuhan secara nasional. Padahal Indonesia merupakan negara maritim, yang terdiri dari pulau pulau.

Anggota Komisi VII DPR RI yang membidangi perindustrian, Bambang Haryo Soekartono, Rabu 11 Maret 2026 menjelaskan, industri galangan kapal domestik, terbuka lebar. Dari ratusan pelabuhan, kurang dari separuhnya memiliki galangan kapal.

Jadi ini yang harus didorong, industri ini menjadi lebih masif ya, tentu untuk pelayanan terhadap pelayaran yang ada di Indonesia tentunya,” jelasnya.

Bambang Haryo menyayangkan, tidak sedikit pelabuhan yang belum memiliki industri galangan. Ia menilai, seharusnya industri galangan ini merupakan satu pelengkap bagi industri kepelabuanan. Karena fungsi galangan kapal tidak hanya sebagai tempat untuk perbaikan kapal.

Tapi juga tempat untuk mendapatkan sertifikasi, kelaiakan. Jadi ini yang harus ada di semua pelabuhan, pelabuhan komersial yang ada di Indonesia,” tegasnya.

Selain itu, pelayaran Indonesia dilewati oleh poros maritim dunia. Namun peran daripada galangan kapal dalam negeri belum maksimal. Yang mengambil peran adalah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.

Makanya apa? Dengan adanya kemarin pemerintah sangat respon ya apa yang diminta oleh Iperindo, insentif-insentif dan sebagainya untuk kemajuan daripada industri galangan ini, tentunya kita harapkan ada realisasi cepat agar industri galangan ini tidak terpuruk,” tegasnya.

Dengan kebijakan Pemerintah yang berpihak kepada industri galangan kapan nasional, maka bisa mengakomodir jumlah kapal yang kurang lebih jumlahnya 80 ribu. Sehingga tidak hanya menangkap peluang nasional, tapi juga internasional.

Kita bisa menangkap peluang-peluang yang begitu banyak kapal yang lewat di perairan Indonesia. Jadi ini yang harus didorong industri galangan supaya lebih berkembang cepat. Karena kita yang punya laut,” tandasnya.

  👷 
RRI  

PT PAL Perkuat Produksi Kapal Perang Nasional

 ⚓️ Berencana bangun kapal Destroyer KRI BPD 322, Frigate pertama produksi PT PAL (FMI fb)

PT PAL Indonesia terus memperkuat kapasitas industri pertahanan maritim nasional melalui pembangunan berbagai jenis kapal perang. Senior Executive Vice President Transformasi Manajemen PT PAL Indonesia, Agus Santoso, menjelaskan pembangunan kapal perang menjadi fokus utama perusahaan dalam mendukung kekuatan armada laut Indonesia.

Perusahaan galangan kapal milik negara tersebut memproduksi kapal perang yang terbagi dalam dua kategori utama, yakni kapal permukaan dan kapal selam. Selain kapal permukaan, PT PAL juga mengembangkan kapal selam sebagai bagian dari strategi penguatan pertahanan laut.

Kapal perang itu ada dua jenis, yakni kapal permukaan dan kapal selam atau submarine,” ujar Agus Santoso, Selasa, 10 Maret 2026. Untuk kapal permukaan, PT PAL telah mengembangkan kapal fregat Merah Putih yang menjadi salah satu proyek strategis nasional.

Jumlah kapal tersebut direncanakan tidak hanya satu atau dua unit, tetapi dapat bertambah hingga empat unit dalam beberapa tahun mendatang. “Kapal fregat Merah Putih ini nantinya tidak hanya satu atau dua, tapi bisa sampai empat unit,” katanya.

Selain fregat, PT PAL juga menyiapkan pengembangan kapal perang jenis lain. Ke depan, perusahaan berencana membangun kapal kelas destroyer serta kapal kelas korvet sebagai bagian dari penguatan armada laut nasional.

Ke depan kita juga akan membangun kapal destroyer, begitu juga kelas korvet dan seterusnya,” ujarnya. Rencana pengembangan tersebut menjadi bagian dari program jangka panjang industri pertahanan nasional.

Sejumlah kapal perang produksi PT PAL Indonesia telah memperkuat armada TNI Angkatan Laut. Di antaranya KRI Raden Eddy Martadinata (331), KRI Semarang (594), dan KRI Halasan (630).

  👷 
RRI  

Kamis, 12 Maret 2026

BRIN dan Bappenas Bahas Riset Teknologi Penerbangan dan Roket untuk Perencanaan Pembangunan

(BRIN)

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memaparkan berbagai hasil riset teknologi penerbangan dan roket yang tengah dikembangkan kepada delegasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas di Pusat Riset BRIN Rumpin, Bogor, Kamis (6/3).

Pemaparan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemanfaatan hasil penelitian dalam mendukung perencanaan pembangunan nasional di sektor kedirgantaraan dan keantariksaan.

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN, Robertus Heru Triharjanto, menjelaskan bahwa tim Bappenas ingin memperoleh gambaran menyeluruh mengenai arah pengembangan riset kedirgantaraan di BRIN. Delegasi tersebut berasal dari Kedeputian Infrastruktur Bappenas yang kini memiliki direktorat dengan nomenklatur baru di bidang kedirgantaraan dan keantariksaan.

Dalam pertemuan tersebut, ORPA memaparkan berbagai riset strategis yang sedang berlangsung di Pusat Riset Teknologi Penerbangan dan Pusat Riset Teknologi Roket. Penelitian tersebut mencakup pengembangan teknologi sistem penerbangan, desain dan uji komponen pesawat, hingga teknologi roket untuk mendukung penguasaan teknologi antariksa nasional.

Selain hasil penelitian, BRIN juga menyampaikan kondisi sumber daya manusia peneliti, fasilitas dan infrastruktur riset, serta jaringan kolaborasi dengan industri kedirgantaraan dan antariksa di Indonesia. Informasi tersebut menjadi bagian dari pemetaan kapasitas riset nasional yang dapat mendukung pengembangan industri berbasis teknologi tinggi.

Pemaparan tersebut bertujuan untuk menunjukkan posisi dan kontribusi pusat-pusat riset BRIN dalam ekosistem industri kedirgantaraan dan antariksa nasional. Melalui riset yang berkelanjutan, BRIN berupaya memperkuat kemandirian teknologi sekaligus menyediakan basis ilmiah bagi perumusan kebijakan pembangunan,” ujar Heru.

Sementara itu, Direktur Transmisi, Ketenagalistrikan, Kedirgantaraan, dan Antariksa Bappenas, Yusuf Suryanto, menegaskan bahwa hasil riset memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan nasional.

Perencanaan pembangunan nasional membutuhkan hasil riset agar kebijakan yang dihasilkan lebih berkualitas, komprehensif, dan berdampak nyata. Tantangannya adalah bagaimana hasil riset tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat pembangunan,” ujarnya.

Yusuf menambahkan bahwa sinergi antara lembaga perencanaan dan lembaga riset menjadi kunci untuk mendorong pemanfaatan hasil penelitian secara lebih luas, termasuk dalam penyusunan program pembangunan dan kebijakan strategis di sektor kedirgantaraan dan keantariksaan.

Melalui kunjungan tersebut, Bappenas juga menghimpun berbagai masukan teknis dan strategis dari para peneliti BRIN. Masukan tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pembangunan yang berbasis riset dan inovasi.

Kolaborasi antara BRIN dan Bappenas diharapkan dapat memperkuat ekosistem riset kedirgantaraan dan antariksa di Indonesia, sekaligus mendorong pemanfaatan hasil penelitian untuk mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan.

  🤝 
BRIN  

Rabu, 11 Maret 2026

RI Jalin Kerja Sama dengan India Gunakan Rudal Brahmos untuk Pertahanan Pantai

Penampakan 1 baterai sistem rudal BrahMos Filiphina, Indonesia dikabarkan akan membeli 1 baterai untuk pertahanan pantai senilai $ 100 juta. (RTVM)

Kementerian Pertahanan (Kemhan) Indonesia menjalin kerja sama dengan India dalam penguatan teknologi dan industri pertahanan. Salah satu bentuk kerja sama tersebut adalah pembelian sistem rudal BrahMos untuk memperkuat pertahanan pantai Indonesia.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Sirait, mengatakan kerja sama itu merupakan bagian dari modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Indonesia memang menjalin kerja sama dengan India dalam penguatan teknologi dan industri pertahanan, termasuk terkait sistem rudal BrahMos untuk mendukung kemampuan coastal defence sebagai bagian dari modernisasi alat utama sistem persenjataan,” kata Rico dalam keterangannya, Rabu (11/3).

Rico belum merinci jumlah rudal yang akan dibeli maupun nilai kontraknya. Ia menyebut informasi tersebut tidak dapat disampaikan ke publik.

Untuk jumlah yang dipesan maupun rincian kontrak tidak dapat kami sampaikan karena merupakan informasi kontraktual,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa jadwal kedatangan sistem rudal tersebut belum bisa diumumkan saat ini.

Sementara untuk jadwal kedatangannya, nanti akan kami informasikan lebih lanjut pada waktunya. Terima kasih,” ucap dia.

Rudal BrahMos merupakan rudal jelajah supersonik hasil pengembangan bersama India dan Rusia melalui perusahaan BrahMos Aerospace. Rudal ini dirancang untuk menyerang target di laut maupun di darat dengan kecepatan hingga sekitar Mach 2,8 atau hampir tiga kali kecepatan suara.

Sistem BrahMos memiliki jangkauan sekitar 290 hingga mencapai 500 kilometer, tergantung variannya. Rudal ini dapat diluncurkan dari berbagai platform, seperti kapal perang, kendaraan peluncur darat, kapal selam, hingga pesawat tempur, dan dikenal memiliki tingkat presisi tinggi dalam menyerang target.

  🚀 
Kumparan  

Selasa, 10 Maret 2026

Jejak Turki Di Kapal Perang Fregat Merah Putih (FMP) Indonesia

KRI BPD 322 frigate pertama PAL (PAL)

Indonesia telah membeli berbagai sensor dan sistem senjata dari Turki untuk program kapal perang dalam negerinya.

Lembaga Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) telah menerbitkan laporan “Tren Transfer Senjata Internasional 2025” dan memperbarui basis data transfer senjata globalnya.

Menurut basis data tersebut, Indonesia telah memperoleh berbagai sensor dan sistem senjata dari Turki untuk program Fregat Merah Putih (FMP). Menurut SIPRI, Indonesia memesan sistem-sistem berikut:

1. Sistem Peluncuran Vertikal MİDLAS (2 unit)
2. Sonar FERSAH-100-N DSH (2 unit)
3. Radar Pengendalian Tembakan AKREP-200-N (4 unit)
4. Radar CENK 400-N (2 unit)
5. Rudal pertahanan udara SİPER Blok-1
6. Radar CENK 350-N (2 unit)

SIPRI juga mencatat bahwa rudal jelajah ÇAKIR dan rudal anti-kapal ATMACA diperkirakan akan dipesan sebagai bagian dari program tersebut.

  📝  Defence Turk  

Senin, 09 Maret 2026

PT Pindad Perkenalkan SS3-M1

  Senjata Taktis Modern dengan Performa Unggul Senjata taktis Pindad SS3-M1 (Pindad)

Direktur Utama PT Pindad, Sigit P. Santosa memperkenalkan secara resmi varian senapan serbu terbaru, SS3-M1 dalam kegiatan Press Tour DEFEND ID pada Rabu, 26 Februari 2025, di Lapangan Divisi Kendaraan Khusus PT Pindad, Bandung. Press Tour merupakan inisiatif komunikasi strategis Kementerian Pertahanan yang dipimpin oleh Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Frega Ferdinand Wenas Inkriwang untuk memperkuat corporate branding PT Pindad di seluruh platform media.

SS3-M1 (Senapan Serbu Generasi 3 – Modular versi 1) merupakan produk senjata dengan penamaan sesuai arahan Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Penamaan senjata ini disesuaikan dengan produk senjata sebelumnya dan mengedepankan aspek familiarisasi untuk pengguna. Senjata ini merupakan pengembangan dari produk SS1 & SS2 PT Pindad dengan berbagai masukan positif dari pengguna. Dengan kaliber 5.56 x 45 mm NATO dan panjang laras 14,5 inci, senapan ini dilengkapi dengan popor teleskopik yang dapat disesuaikan.

Secara dimensi, SS3-M1 memiliki panjang total 871 mm dalam kondisi terentang penuh dan 797 mm dalam kondisi normal. Memiliki bobot 3,25 kg, senjata ini tergolong ringan sehingga memudahkkan pengguna dalam mobilisasi dan pengoperasian. Dari segi desain, SS3-M1 dilengkapi dengan sistem picatinny rail & m-lok pada hand guard untuk pemasangan aksesori dan alat optik tambahan. Selain itu, terdapat pegangan vertikal yang meningkatkan stabilitas serta kenyamanan pengguna dalam mengoperasikan senjata.

Saat ini, SS3-M1 dirancang sebagai senjata standar bagi berbagai satuan terutama untuk satuan dengan tingkat operasional tinggi. Senapan ini memiliki performa kemampuan yang setara dengan senjata basis serupa yang beredar di dunia seperti Colt M4, HK 416, dan Caracal CAR816.

Dalam keterangannya, Direktur Utama PT Pindad menyatakan bahwa SS3-M1 merupakan hasil inovasi industri pertahanan dalam negeri yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan operasional modern.

Terima kasih untuk seluruh media yang telah memberitakan pencapaian positif PT Pindad. Kami juga berharap sinergi dan hubungan baik antara PT Pindad dengan Media dapat terus terjaga ke depan. Kami juga berterima kasih atas dukungan Kementerian Pertahanan terhadap PT Pindad dan kami berkomitmen untuk mendukung pertahanan RI. Salah satu wujud komitmen kami adalah inovasi dalam produk senjata SS3-M1. Penamaan ini merupakan arahan dari Menteri Pertahanan, sehingga pengguna dapat lebih familiar dan seragam dengan penamaan berbagai varian produk PT Pindad. Secara singkat, SS3-M1 adalah senapan serbu 5.56 x 45 mm yang merupakan pengembangan SS1 & SS2. Kami mendengarkan berbagai masukan dari pengguna dan mengembangkan produk sesuai dengan kebutuhan operasi modern.” Jelas Direktur Utama PT Pindad, Sigit P. Santosa.

Inovasi senapan SS3-M1 merupakan komitmen PT Pindad dalam mendukung pertahanan, keamanan dan kedaulatan NKRI. PT Pindad akan terus berinovasi serta meningkatkan kapasitas dan kapabilitas dalam memproduksi alat peralatan pertahanan dan keamanan (Alpalhankam).

  Berikut video dari Youtube : 


  ⚙  Pindad  

Minggu, 08 Maret 2026

Pengamat Nilai Indonesia Tidak Perlu Kembangkan Rudal ICBM

Rudal Seijil Iran, Pihak Barat ingin menghancurkan kemajuan teknologi rudal Iran. (Ist)

Pengamat pertahanan dan keamanan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSES) Khairul Fahmi menilai Indonesia tidak membutuhkan pengembangan rudal balistik antarbenua atau ICBM di tengah eskalasi konflik global saat ini.

Menurut Fahmi, TNI AU saat ini sangat mendesak untuk memiliki skadron pesawat peringatan dini udara atau airborne early warning and control (AEW&C).

"Pesawat ini ibarat radar terbang yang mampu mendeteksi pergerakan pesawat siluman, rudal jelajah, dan kapal musuh dari jarak yang tidak bisa dijangkau oleh radar darat (GCI) kita, memberikan situational awareness dan waktu reaksi yang krusial bagi satuan tempur," katanya kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

Khairul merespons pernyataan Presiden Ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) perihal pentingnya memperkuat pertahanan udara untuk menjaga wilayah Indonesia dari serangan negara asing.

ICBM, tutur dia, tidak cocok dengan doktrin militerisme di Indonesia yang mengutamakan pertahanan aktif atau defensif yang tidak mempunyai ambisi ekspansionis ke benua lain.

"ICBM, dengan jangkauan ribuan kilometer, pada hakikatnya adalah senjata proyeksi kekuatan (power projection) ofensif yang biasanya didesain untuk membawa hulu ledak nuklir dengan tujuan strategic deterrence berskala global. Pengembangan ICBM sangat bertentangan dengan doktrin pertahanan aktif-defensif Indonesia yang tidak memiliki ambisi ekspansionis ke benua lain," ucapnya.

  Rudal Supersonik 
Rudal hipersonik Fattah milik Iran. sulit dideteksi Iron Dome, rudal hipersonik Iran punya kecepatan 16.000 Km per Jam! (Al Mayadeen)
Alih-alih membuang anggaran riset yang masif untuk ICBM, ujar dia, Indonesia jauh lebih membutuhkan pengembangan dan akuisisi rudal jelajah antikapal atau antiship cruise missiles (ASCM) berkecepatan supersonik serta rudal balistik jarak pendek hingga menengah (SRBM/MRBM) yang sangat presisi.

Fahmi menegaskan TNI AU juga perlu menguatkan kapasitasnya pada kepemilikan pesawat peringatan dini udara yang sangat diperlukan sesuai kebutuhan menghadapi kondisi geopolitik.

Penguatan TNI AU tidak bisa direduksi sekadar pada kuantitas pembelian jet tempur generasi terbaru. Pesawat tempur secanggih apa pun akan buta dan tuli tanpa ekosistem pendukung yang terintegrasi. Fokus utama yang perlu dikejar saat ini adalah membangun arsitektur Network-Centric Warfare (NCW) dan kapabilitas Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (C4ISR) yang mumpuni,” ucapnya.

Selain itu, Fahmi menyebutkan sistem pertahanan Indonesia dapat diperkuat dengan memperbanyak sistem pertahanan udara berbasis darat (Arhanud), yakni baterai rudal surface-to-air missile (SAM) jarak menengah, dan ditempatkan pada titik-titik objek vital nasional secara berlapis.

  🚀 
antara  

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More