N 250 IPTN
Prototype pesawat pertama angkut penumpang dengan sistem fly by wire produksi IPTN, Bandung - Indonesia Teknologi
Star 50
Kapal kargo 190 m dengan bobot 50.000 dwt merupakan kapal angkut terbesar pertama buatan Indonesia, produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi
LPD KRI Banda Aceh
Kapal perang serba guna produksi PT PAL, Surabaya, merupakan kapal dengan panjang 125 m hasil desain anak bangsa dengan lisensi Korea - Indonesia Teknologi
SSV Filipina
Strategic Sealift Vessel produk ekspor kapal perang pertama PAL Indonesia - Indonesia Teknologi
KRI I Gusti Ngurah Rai 332
PKR 10514 class, Kapal frigat produksi bersama PT PAL indonesia - Indonesia Teknologi
KCR 60 KRI Tombak 629
Kapal Cepat Rudal-60 produksi PT. PAL, Indonesia. Merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi
BC 60002
Kapal Patroli Bea dan Cukai produksi PT Dumas Tanjung Perak Shipyards. - Indonesia Teknologi
FPB 57 KRI Layang
Kapal patroli cepat berpeluru kendali atau torpedo 57 m rancangan Lurssen, Jerman produksi PT PAL, Surabaya - Indonesia Teknologi
KCR 40 KRI Clurit
Kapal Cepat Rudal-40 produksi PT. Palindo Marine, Batam. Senilai kurang lebih 75 Milyar Rupiah, merupakan kapal pemukul reaksi cepat produksi Indonesia. - Indonesia Teknologi
PC 40 KRI Torani 860
Kapal patroli 40 m produksi beberapa galangan kapal di Indonesia, telah diproduksi diatas 10 unit - Indonesia Teknologi
PC 40 KRI Tarihu
Kapal patroli 40 m berbahan plastik fiberglass produksi Fasharkan TNI AL Mentigi Tanjung Uban, Riau - Indonesia Teknologi
Hovercraft Kartika
Hovercraft utility karya anak bangsa hasil kerjasama PT. Kabindo dengan TNI-AD dengan kecepatan maksimum 40 knot dan mampu mengangkut hingga 20 ton - Indonesia Teknologi
Hovercraft Indonesia
Hovercraft Lumba-lumba dengan kecepatan maksimum 33 knot dan mampu mengangkut 20 pasukan tempur produksi PT Hoverindo - Indonesia Teknologi
X18 Tank Boat Antasena
Tank Boat Antasena produk kerjasama PT Lundin dengan Pindad - Indonesia Teknologi
Sentry Gun UGCV
Kendaraan khusus tanpa awak dengan sistem robotik yang dirancang PT Ansa Solusitama Indonesia - Indonesia Teknologi
Badak FSV 90mm
Kendaraan tempur dengan kanon 90 mm cockeril produksi PT Pindad - Indonesia Teknologi
APC PAL AFV
Kendaraan angkut pasukan amfibi hasil modifikasi dari BTR-50 PM produksi PT PAL, Surabaya sehingga meninggkatkan keamanan dan daya jelajahnya - Indonesia Teknologi
MLRS Rhan 122B
Kendaraan militer multilaras sistem roket Rhan 122B produksi PT Delima Jaya - Indonesia Teknologi
MCCV
Mobile Command Control Vehicle (MCCV) kerjasama dengan PT PT Bhinneka Dwi Persada - Indonesia Teknologi
Turangga APC 4x4
Kendaraan militer taktis produksi PT Tugas Anda dengan chassis kendaraan Ford 550 - Indonesia Teknologi
ILSV
Kendaraan taktis Indonesia Light Strike Vehicle (ILSV) produksi PT Jala Berikat Nusantara Perkasa - Indonesia Teknologi
P1 Pakci
Kendaraan taktis angkut pasukan P1 Pakci produksi PT Surya Sentra Ekajaya (SSE), berbodi monokok dengan mesin diesel 3000 cc milik Toyota Land Cruiser - Indonesia Teknologi
P2 APC Cougar
Kendaraan taktis angkut pasukan produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) dengan mesin diesel turbo bertenaga 145 hp - Indonesia Teknologi
P3 APC Ransus Cheetah
Kendaraan khusus produksi PT. Surya Sentra Ekajaya (SSE) - Indonesia Teknologi
DMV30T
Kendaraan taktis Dirgantara Military Vehicle (DMV-30T) menggunakan mesin diesel 3000 cc Ford Ranger produksi PT DI, Bandung - Indonesia Teknologi
Mobil Nasional Esemka Digdaya
Mobil hasil karya anak SMK Solo dengan rancangan dari China - Indonesia Teknologi
Teknik Sosrobahu
Struktur pondasi jalan layang yang dapat digerakan 90° sehingga tidak memakan banyak tempat dan merupakan desain anak bangsa - Indonesia Teknologi
Kamis, 16 Mei 2019
Rabu, 08 Mei 2019
Rabu, 03 April 2019
Sabtu, 30 Maret 2019
BATAN Bikin Cat Antideteksi Radar
BATAN uji coba inovasi cat antideteksi radar ☆ Badan Tenaga Nuklir Nasional atau BATAN berhasil mengembangkan teknologi siluman atau teknologi antideteksi radar berbasis smart magnet, dengan memanfaatkan material logam tanah jarang atau LTJ.
BATAN menguji coba Teknologi anti deteksi radar itu pada kapal Patkamla Sadarin TNI Angkatan Laut di Pantai Mutiara, Jakarta, Jumat 29 Maret 2019.
Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM BATAN), Wisnu Ari Adi mengatakan, penelitian cat antideteksi radar ini merupakan pengembangan dari kemampuan BATAN dalam mengolah pasir monasit menjadi LTJ.
Penelitian ini dimulai pada 2015, dua tahun kemudian, BATAN berhasil membuat purwarupa skala pilot, berupa cat antideteksi radar yang diaplikasikan pada potongan plat kapal logam dari alumunium dan besi yang tidak dapat dideteksi oleh radar pada frekuensi X-band (8-12 GHz).
Wisnu menuturkan, teknologi ini merupakan teknologi terkini dan hanya dimiliki oleh negara-negara maju.
“Ini merupakan teknologi melenial yang mampu menyerap gelombang radar pada frekuensi tertentu. Teknologi ini hanya dimiliki oleh negara-negara maju dan tidak bersifat komersial, karena merupakan bahan yang sangat strategis untuk pertahanan nasional suatu negara,” ujar Wisnu.
Menurut Wisnu, teknologi siluman ini adalah salah satu hasil penelitian BATAN yang berupa bahan smart magnet untuk cat antideteksi radar. Bahan ini merupakan bahan maju buatan yang memiliki sifat seperti gelombang elektromagnetik yang tersusun dari kombinasi unsur LTJ dan unsur logam transisi yang struktur magnetiknya hanya bisa diuji dengan menggunakan teknologi nuklir.
“Di kawasan Asia Tenggara, hanya BATAN yang mampu melakukan pengujian bahan dengan menggunakan teknologi berkas neutron. Teknik pengujian ini mampu menjelaskan berbagai interaksi magnetik dan elektrik yang terjadi di dalam bahan,” katanya.
Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Jumain Appe mengatakan, penelitian ini memberi dampak sangat luas dalam mendorong tumbuhnya industri logam tanah jarang.
“Penelitian ini mendorong terbangunnya industri logam tanah jarang di Indonesia, juga melalui pengembangan penelitian cat anti deteksi radar berbasis bahan smart magnet ini dapat meningkatkan kemampuan alutista TNI Angkatan Laut dalam rangka mendukung pertahanan nasional,” ujarnya.
Jumain mengatakan, kegiatan riset tidak hanya terfokus kepada riset saja, namun juga mendorong hasil riset tersebut hingga mampu menggulirkan roda inovasi yang memiliki dampak luas kepada masyarakat dan negara. Banyak hasil riset saat ini hanya berujung pada skala laboratorium saja dan tidak dilirik oleh industri atau tidak mampu bersaing di pasar.
Jumain menuturkan, pengembangan teknologi siluman ini kerja sama antara BATAN dengan perusahaan cat PT. Sigma Utama Paint, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan TNI Angkatan Laut. Kegiatan ini mendapat pendanaan dari Program Inovasi Industri Kemenristekdikti, yang selama dua tahun ini telah menunjukkan kemampuan membuat produk bernilai strategis yaitu cat antideteksi radar yang bisa dimanfaatkan dalam mendukung pertahanan nasional.
Ia menghargai peneliti dan pelaku industri yang telah membantu hilirisasi hasil penelitian. Termasuk, soal inovasi cat antideteksi radar.
“Untuk itu, pemerintah akan terus mendorong kerja sama seperti ini dengan menciptakan lingkungan yang kondusif melalui berbagai program dan regulasi, seperti pendanaan inovasi, kemudahan dalam pertanggungjawaban riset dan pengembangan,” kata dia. (asp)
Jumat, 08 Maret 2019
Indonesia Ternyata Masuk 5 Besar Eksportir LNG Dunia
Rupanya Indonesia termasuk dalam peringkat lima besar negara eksportir gas alam cair (LNG) di dunia, dengan lima teratas konsumen LNG Indonesia berdasarkan pangsa adalah Jepang, Korea, Taiwan, Cina, AS.Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) saat dijumpai di Jakarta, Selasa (5/3/2019).
Lebih lanjut, ia mengatakan, Asia Pasifik memiliki 9,4% dari cadangan gas dunia, yang mana Cina memiliki 2,9%, dan Indonesia memiliki 1,53% dari cadangan gas dunia.
"Dalam mengelola cadangan gas, kami melakukan upaya yang terbaik untuk menemukan lebih banyak sumber daya gas dan mengubahnya menjadi cadangan terbukti," tutur Dwi.
Dirjen Migas Kementerian ESDM Djoko Siswanto dalam kesempatan yang sama menambahkan, sejak 1977, Indonesia menjadi pemain besar dalam bisnis gas.
"Ekspor LNG Indonesia sebesar 28,37% sedangkan sisanya digunakan untuk berbagai sektor. Penggunaan gas untuk pembangkit listrik sebesar 12,78%, industri 36,19%, hingga diekspor menggunakan pipa 11,33%," ujar Djoko.
Ia juga menyebutkan, mulai tahun depan, Indonesia akan mengekspor 16 kargo per tahun gas alam cair atau LNG ke Singapura. Pasokan LNG akan berasal dari Train-3 Kilang LNG Tangguh milik BP Berau.
"Jadi itu kan hasil lelang BP. Jumat kemarin (1/3/2019) sudah mendapat persetujuan pemerintah, karena harganya bagus, kalau tidak salah 12,33% dari JCC (Japan Crude Cocktail)," kata Djoko.
"Total 84 cargo selama lima tahun, mulai tahun depan empat kargo, selanjutnya tiap tahun 16 cargo sampai 2025," tambahnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan, jika pada Jumat kemarin tidak ditandatangani persetujuannya, maka hasil lelang batal dan harus dilelang kembali.
"Kalau Jumat kemarin tidak ditandatangani, batal itu, dilelang lagi, padahal harga sudah oke kan," tuturnya.
Selain itu, RI juga berencana untuk menjual gas alam cair (LNG) di pasar spot. Total ada 10 kargo yang akan dijual di pasar spot tersebut.
Djoko menuturkan, LNG untuk pasar spot tersebut berasal dari LNG Bontang sebanyak satu kargo, yang mulai dijual pada April 2019, lalu dua kargo pada Mei 2019.
"Selanjutnya juga ada LNG dari Tangguh sebanyak empat kargo pada Juni 2019, dan tiga kargo dari Donggi Senoro pada Maret, Mei, dan Juni 2019," sebut Djoko.
Ia mengatakan, Indonesia juga memiliki kontrak eksisting untuk menjual LNG di 2019 ini. Djoko menyebutkan, ada 27 kargo LNG dari blok Mahakam, 36 kargo dari Eni dan Pertamina, lalu sebanyak 33 kargo dari Eni SpA, lalu ada dari IDD Bangka dan Pertamina sebanyak empat kargo.
"Ada 18 kargo juga untuk kontrak LNG blok Mahakam untuk penjualan domestik," pungkasnya.
Jadi Eksportir Raksasa Dunia
Foto: Infografis/Ekspor LNG Indonesia/Edward RicardoLalu, dari mana saja sumber dari LNG di Indonesia?
Berdasarkan data Kementerian ESDM yang dikutip dari buku Neraca Gas Indonesia 2018-2027, sejak 2015 dengan dilakukannya perubahan pada kilang Arun dari yang sebelumnya digunakan untuk memproduksikan LNG menjadi untuk proses regasifikasi, maka kilang LNG yang beroperasi di Indonesia hanya sebanyak tiga kilang saja, yaitu Kilang LNG Badak, Kilang LNG Tangguh, serta kilang LNG Donggi-Senoro. Diharapkan dengan beroperasinya kilang LNG Masela, pasokan LNG akan mampu memenuhi kebutuhan energi Indonesia.
Pasokan LNG Indonesia saat ini diprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan LNG Domestik sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 06 tahun 2016. Kedepannya pasokan LNG untuk pembeli domestik dapat terus meningkat seiring dengan beroperasinya pembangkit-pembangkit listrik PLN pada proyek 35 GW.
Adapun, sumber pasokan LNG di Indonesia berasal dari lapangan-lapangan wilayah kerja blok-blok migas dalam negeri, yakni:
1. Wilayah Aceh dan Sumatra Bagian Utara (Region I)
Gas bumi dari Aceh dan Sumatra Bagian Utara telah lama diproduksi. Lapangan Arun di Aceh telah berproduksi sejak tahun 1970-an untuk memenuhi kebutuhan pabrik Pupuk Iskandar Muda, pembangkit listrik, serta ekspor LNG ke Jepang dan Korea. Pada saat itu, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang beroperasi adalah ExxonMobil Oil Indonesia yang saat ini sudah beralih ke PHE NSO-NSB. KKKS lain yang beroperasi di Aceh saat ini adalah Medco E&P Malaka, Triangle Pase Inc. dan ENI Krueng Mane Ltd, sedangkan di Sumatra Bagian Utara KKKS yang beroperasi adalah Pertamina EP Asset 1 dan EMP Gebang.
Per Januari 2017, cadangan gas bumi Region I sebesar 6,60 TSCF yang berupa cadangan terbukti (proven reserves) sebesar 1,33 TSCF dan cadangan potensial (probable & possible reserves) sebesar 5,27 TSCF. PT Medco E&P Malaka mendominasi kepemilikan cadangan sebesar 3,68 TSCF disusul PHE NSO-NSB sebesar 1,11 TSCF, Pertamina EP Asset 1 sebesar 0.83 TSCF dan sisanya sebesar 0,98 TSCF dari tiga Wilayah Kerja lainnya yaitu Gebang, Krueng Mane dan Pase.
Selain pasokan gas bumi dari lapangan yang ada di Region I, saat ini gas bumi juga didatangkan dari Tangguh melalui Terminal Regasifikasi Arun. Fasilitas ini merupakan fasilitas ex LNG Plant yang dikonversi menjadi fasilitas regasi kasi. Gas bumi tersebut kemudian dialirkan ke Belawan melalui pipa transmisi Arun-Belawan berdiameter 24 inci dengan kapasitas terpasang 200 MMSCFD untuk memenuhi kebutuhan PLN dan industri di Medan dan sekitarnya.
2. Sumatra Bagian Tengah, Sumatra Bagian Selatan, Kepulauan Riau dan Jawa Bagian Barat (Region II)
Jika ditinjau berdasarkan pasokan gas bumi, Region II merupakan region dengan pasokan gas bumi terbesar yang berasal dari wilayah sendiri dan pasokan dari region lain. Region II membentang dari Wilayah Kepulauan Riau, Sumatera Bagian Tengah dan Selatan serta Jawa Bagian Barat.
Per Januari 2017, cadangan gas bumi Region II sebesar 74,83 TSCF. Wilayah Natuna mendominasi kepemilikan cadangan sebesar 49,60 TSCF, dengan Exxon Mobil Oil (EMOI- Pertamina) sebesar 46,00 TSCF disusul Medco E&P Natuna 1,76 TSCF dan Permier Oil sebesar 1,66 TSCF, lainnya dari Star Energy sebesar 0,18 TSCF.
Untuk Wilayah Sumatra didominasi kepemilikan cadangan ConocoPhillips (Grissik) sebesar 5,42 TSCF dan ConocoPhillips (Jambi) 3,90 TSCF kemudian Pertamina EP Asset II sebesar 2,8 TSCF, sedangkan untuk Jawa Barat didominasi oleh Pertamina EP Asset III sebesar 3,6 TSCF dan PHE ONWJ sebesar 1,89 TSCF. Sisanya sebesar 7,62 TSCF tersebar dalam beberapa lapangan lainnya di Sumatra Bagian Tenggara dan Selatan serta Jawa Bagian Barat.
Untuk LNG, kontrak NR dengan produsen LNG (Bontang - Tangguh) akan berakhir di 2022, namun untuk menjaga kelangsungan pembangkit listrik di Jawa Barat maka akan memanfaatkan fasilitas eksisting. Sehingga, sampai dengan 2027 terdapat pasokan LNG, dan wilayah Jawa Bagian Barat terpasok 578,21 MMSCFD di 2018 naik menjadi 592,86 MMSCFD di 2020 disebabkan adanya tambahan dari pasokan LNG kemudian mengalami penurunan laju produksi sampai dengan 2027 mencapai 297,16 MSSCFD.
3. Wilayah Kalimantan Pasokan Gas Bumi (Region V)
Pasokan gas bumi Region V berasal dari produksi gas bumi KKKS Pertamina Hulu Mahakam (PHM), yang sebelumnya dikelola oleh Total E&P Indonesie, Chevron Indonesia Company, Vico Indonesia, ENI Muara Bakau BV, Mubadala Petroleum, Medco E&P Indonesia, Perusda Benuo Taka, JOB PHE-Medco Simenggaris, Ophir Energy serta Pertamina EP Asset 5.
Produksi gas bumi dari Kalimantan sebagian besar diolah menjadi LNG yang didistribusikan untuk memenuhi komitmen LNG Domestik dan Ekspor, sisanya untuk industri pupuk dan petrokimia di Bontang, Kilang RU V Balikpapan, Kelistrikan dan jaringan gas kota.
Per Januari 2017, cadangan gas bumi Region V sebesar 15,35 TSCF yang berupa cadangan terbukti (proven reserves) sebesar 7,48 TSCF dan cadangan potensial (probable & possible reserves) sebesar 7,87 TSCF. Didominasi oleh kepemilikan cadangan PHM sebesar 3,53 TSCF, IDD Ganal Rapak sebesar 3,96 TSCF, Muara Bakau 2,47 TSCF, Pertamina EP sebesar 2,44 TSCF dan Sanga-Sanga sebesar 1,58 TSCF. Sisanya sebesar 1,37 TSCF tersebar dalam beberapa lapangan seperti Attaka, Bangkanai, Simenggaris, Tarakan dan East Kalimantan.
Terdapat komitmen LNG dari Region V untuk memenuhi kebutuhan Kelistrikan di Jawa-Bali dan Industri melalui PT Pertamina (Persero) dengan pasokan dari Chevron dan ENI Muara Bakau serta untuk memenuhi kemitmen kontrak LNG ekspor. Total komitmen LNG sebesar 987 MMSCFD di 2018 kemudian akan mengalami penurunan sampai dengan 20 MMSCFD di 2027.
4. Wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua (Region VI)
Pasokan gas bumi (supply) ke Region VI pada 2018 diperkirakan mencapai 1.613,49 MMSCFD dengan rincian Existing Supply sebesar 1.545,59 MMSCFD dan Project Supply sebesar 67,90 MMSCFD.
Produksi BP Berau dari Project Supply diperkirakan akan masuk pada 2020 sebesar 154,61 MMSCFD kemudian meningkat sampai dengan 1.169,18 MMSCFD pada 2027. Pasokan gas Inpex Corporation dari Lapangan Abadi Masela direncanakan akan masuk pada 2027 dengan perkiraan volume 433,22 MMSCFD. Pasokan dari Genting akan masuk di tahun 2021 dengan perkiraan produksi sebesar 42.85 MMSCFD kemudian ramp-up sampai dengan 170 MMSCFD.
Terdapat komitmen LNG dari Region VI untuk memenuhi kebutuhan Kelistrikan di Sumatra, kebutuhan FSRU Nusantara Regas di Region II dan kontrak eksisting LNG ekspor. Total komitmen LNG sebesar 1.306,20 MMSCFD di 2018 kemudian 1.686,50 MMSCFD di 2027. (gus)
Selasa, 26 Februari 2019
Menhan Serah Terima KRI Teluk Lada-521
Ilustrasi KRI Bintuni [TNI AL] ☆Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyaksikan acara serah-terima KRI Teluk Lada-521 dari PT Daya Radar Utama (DRU) kepada Pusat Pengadaan Badan Sarana Pertahanan (Kapusada Baranahan) Kementerian Pertahanan di Dermaga PT DRU, Panjang, Bandar Lampung. Kapal Angkut Tank (AT-4) KRI Teluk Lada-521 itu akan memperkuat alutsista di jajaran TNI Angkatan Laut.
Serah-terima KRI Teluk Lada-521 ini ditandai penandatanganan berita acara serah-terima dan pemberian replika KRI Teluk Lada-521 oleh Dirut PT DRU Amir Gunawan kepada Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.
Ryamizard menyatakan penyerahan kapal angkut tank ini merupakan bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan alutsista TNI untuk memperkuat pertahanan negara. Selain itu, dikatakan Ryamizard, KRI Teluk Lada-521 merupakan alutsista dengan teknologi canggih.
"Penyerahan kapal angkut tank ini merupakan bagian integral dari upaya pemenuhan kebutuhan alutsista TNI guna memperkuat pertahanan negara. Kapal ini juga merupakan alutsista modern berteknologi canggih, sehingga dapat memperkuat jajaran kemampuan TNI AL," ujar Ryamizrad kepada wartawan.
Ryamizrad menambahkan, KRI Teluk Lada-521 merupakan Kapal Angkut Tank (AT-4) kedua yang dibangun oleh anak bangsa yaitu PT. Daya Radar Utama (DRU). Sebelumnya telah dibangun KRI Bintuni pada 2017.
"KRI Teluk Lada-521 merupakan kapal angkut tank yang kedua yang dibangun di galangan PT Daya Radar Utama, di mana sebelumnya telah dibangun KRI Bintuni yang mampu mengangkut Tank Leopard yang telah diserahkan pada tahun 2017," kata dia.
Seusai penandatanganan berita acara serah-terima, acara dilanjutkan dengan upacara peresmian dan pengukuhan Komandan Pertama KRI Teluk Lada. Komandan KRI Teluk Lada dikukuhkan kepada Letkol Laut (P) Gunawan Hutahuruk oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana TNI Siwi Sukma Adji.
Acara dilanjutkan pemotongan pita oleh Ny Nora Ryamizard Ryacudu didampingi Ny Manik Siwi Sukma Adji sebagai simbolis resmi masuknya KRI Teluk Lada-521 di jajaran TNI AL. Kemudian acara dilanjutkan dengan tinjauan ke atas KRI Teluk Lada-521.
Ryamizard juga berpesan kepada komandan dan prajurit KRI Teluk Lada-521 untuk meningkatkan profesionalisme serta menjamin keamanan dan kedaulatan laut Indonesia. Selain itu, ia meminta staf TNI AL merawat dan menjaga KRI Teluk Pala dengan baik.
"Laksanakan tugas kalian di laut dengan sebaik-baiknya agar kehadiran kalian di laut mampu menjaga kedaulatan dan keamanan bangsa serta menjamin rasa aman dan nyaman bagi seluruh kapal yang berlayar di perairan Indonesia, baik kapal berbendera Indonesia maupun berbendera negara lain," lanjutnya.
"Tidak lupa saya juga minta kepada Kepala Staf TNI AL beserta staf dan seluruh prajurit untuk merawat dan memelihara alutsista ini dengan sebaik-baiknya agar Kapal ini memiliki usia pakai yang optimal. Hal ini juga sebagai bentuk pertanggungjawaban kita kepada rakyat yang telah menghadiahkan kita Alutsista Modern yang berkemampuan dan berteknologi canggih ini," kata Ryamizard.
KRI Teluk Lada-521 memiliki spesifikasi teknis dengan ukuran panjang 117 meter, lebar 16,40 meter, dan tinggi 7,8 meter. Kapal ini mampu melaju dengan kecepatan maksimal hingga 16 knots dan kecepatan jelajah 13 knot, radius pelayaran 6.240 mil laut (range 13 knot) dan mampu mengangkut pasukan serta ABK sebanyak 478 personel. Kapal ini juga dirancang untuk mampu mengangkut sampai dengan 15 unit Tank BMP 3F serta 1 unit helikopter.
Dengan telah diserahterimakannya KRI Teluk Lada-521 itu, secara resmi hal itu akan menambah kekuatan alutsista di jajaran TNI AL, khususnya di bawah Komando Armada III yang beroperasi di perairan wilayah timur Republik Indonesia. (rvk/asp)
Senin, 25 Februari 2019
Kemhan Pesan Kapal Cepat Rudal 5 & 6 ke PT PAL
Ilustrasi KCR 60M PT PAL [@defence.pk] ☆Kementerian pertahanan (Kemhan) dan PT PAL Indonesia menandatangani kontrak kerja kapal cepat rudal (KCR) 60 meter yang ke-5 dan 6. Kapal canggih ini akan langsung dibangun lengkap dengan persenjataannya.
Sekretaris Jenderal Kemenhan, Laksamana Muda TNI Agus Setiadji di Surabaya, Senin, mengatakan kontrak pembangunan KCR ke-5 dan 6 ini dilakukan secara komplet, atau langsung dilengkapi dengan persenjataan canggih, salah satunya rudal.
"Selama ini ada dikotomi bahwa kontrak kerja KCR dengan PAL Indonesia dilakukan secara bertahap, tidak komplet. Seperti pembuatan terdahulu, kemudian menyusul persenjataannya," kata Agus, ditemui di Kantor PT PAL Surabaya.
Namun, kata Agus, pada pembuatan ke 5 dan 6 dilakukan secara fungsi asasi, yakni berfungsi langsung sebagai kapal perang dengan peralatan persenjataan komplet dan keberadaan sistem Sensor, Weapon, and Command (Sewaco) yang menyertainya.
"Untuk nilai kontrak satu kapal sekitar Rp 1,66 triliun, atau lebih murah dibandingkan dengan memesan kapal serupa di Eropa dan Korea Selatan. Namun demikian, tetap mempunyai kualitas bagus sesuai dengan kondisi iklim tropis Indonesia," katanya.
Direktur PT PAL Indonesia, Budiman Saleh mengatakan pembuatan KCR pesanan Kemenhan ke 5 dan 6 ini sepenuhnya memanfaatkan industri lokal yang telah terdaftar sebagai industri pertahanan di Tanah Air, yakni sebanyak 62 BUMS.
Selain itu, kata dia, juga didukung empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam proses pengerjaannya, seperti PT Pindad, PT Barata Indonesia, Krakatau Steel, dan PT Len Industri.
Terkait dengan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), Budiman mengatakan KCR ke 5 dan 6 ini lebih tinggi dibanding sebelumnya, yakni sejalan dengan pemenuhan Kekuatan Pokok Minimum (Minimum Essential Force/MEF) Kementerian Pertahanan pada Tahun Anggaran 2015-2019 sebesar 19,56 persen.
KCR 60 meter ini merupakan hasil inovasi yang dikembangkan dari produk sebelumnya yaitu Kapal Patroli Cepat 57 Meter.
Desain pembangunan KCR 60 meter disempurnakan mereferensi dari masukan dan arahan Satuan Tugas (Satgas) serta pengguna produk.
Pangadaan Kapal Kombatan ini dalam rangka pemenuhan MEF sebagai tindak lanjut implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012.
Pembangunan KCR 5 dan 6 juga turut melibatkan 3 pemasok persenjataan kelas dunia (Bofors-Swedia, MBDA-Perancis, Terma-Denmark) yang sesuai dengan kebutuhan operasional TNI AL.
Selasa, 19 Februari 2019
PAL Garap Kapal Rudal KCR 60 M Pesanan kelima dan Keenam
Arsip
Pekerja menggarap pembangunan kapal cepat rudal di PT PAL, Surabaya,
Jawa Timur, Kamis (25/1/2018). (ANTARA
FOTO/Zabur Karuru) ⭐ PT PAL Indonesia kembali menggarap proyek pembangunan kapal Kapal Cepat Rudal (KCR 60) 60 meter pesanan kelima dan keenam. Untuk itu, PAL membangun platform Sensor, Weapon, Control (Sewaco) bersama dengan sejumlah BUMN lainnya.
Direktur Utama PAL Indonesia, Budiman Saleh mengatakan kapal KCR pesanan Kementerian Pertahanan tersebut akan digarap bersama BUMN lain seperti PT Pindad, PT Barata Indonesia, PT Len Industri dan PT Krakatau Steel.
"Kami melibatkan 3 supplier persenjataan kelas dunia (Bofors-Swedia, MBDA-Perancis, Terma-Denmark) yang sesuai dengan kebutuhan TNI AL serta menggunakan komponen lokal yang berasal dari 4 BUMN dan 62 swasta," katanya dalam rilis, Senin (25/2/2019).
Dia menjelaskan untuk KCR ke-3 dengan nama KRI Halasan 630 dan KCR ke-4 dengan nama KRI Kerambit 627 tersebut akan dilengkapi Sewaco, termasuk pada pembangunan KCR ke 5 dan 6. Hal ini didasarkan kontrak yang telah ditandatangani pada 28 Desember 2018 lalu di Jakarta.
"Pemenuhan KCR ini merupakan bagian dari peran PAL sebagai Lead Integrator Matra Laut untuk kapal kombatan sesuai dengan amanah UU Nomor 16 Tahun 2012 sejalan dengan pemenuhan kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force/MEF) Kemenhan tahun anggaran 2015-2019 dengan kandungan lokal 19,56%," jelasnya.
Adapun nilai kontrak pembangunan KCR 60 meter ini sebesar Rp 1,66 trilun/kapal. Proyek pembangunan kapal KCR kelima dan keenam itu ditargetkan rampung dalam waktu 24 bulan.
Dia menambahkan, KCR 60 meter ini merupakan hasil inovasi yang dikembangkan dari produk sebelumnya yaitu Kapal Patroli Cepat 57 Meter.
Desain pembangunan KCR 60 meter ini terus disempurnakan mereferensi dari masukan dan arahan Satuan Tugas (Satgas) serta pengguna produk.
"Diharapkan kontrak pembangunan dan pemasangan Sistem Senjata KCR 60 meter dapat mendukung kemajuan industri pertahanan dalam negeri," imbuhnya.
★ Bisnis
Senin, 21 Januari 2019
PT PAL Serahkan Kapal Perang Rumah Sakit kepada TNI AL
KRI Semarang 594 [Masyhudi] ☆PT PAL Indonesia menyerahkan Kapal perang Rumah Sakit jenis Landing Platform Dock (LPD) 124 dengan nama KRI Semarang pesanan TNI AL. Penyerahan dilakukan di Dermaga Divisi Kapal Niaga, PT PAL Indonesia, Kawasan Ujung Tanjung Perak, Surabaya, Senin (21/1).
Direktur Utama PT PAL Indonesia, Budiman Saleh mengatakan, kapal yang diproduksi insan PAL Indonesia ini telah melalui tahap pengecekan dan serangkaian pengetesan yang ketat. Diyakininya, kapal tersebut akan mampu melengkapi armada militer multi tugas yang mampu mendukung tugas nonmiliter TNI AL.
"Setelah melalui tahapan 'sea trial' yang dilaksanakan tiga hari, kemudian dilanjutkan dengan Commodorre Inspection, kapal ini telah teruji kualifikasinya," kata Budiman.
Budiman mengatakan, kapal perang rumah sakit ini proses pengerjaannya dilakukan selama 23 bulan dengan fasilitas dua kapal pengangkut kecil atau "Landing Craft Utility" (LCU) dan total daya angkut 700 penumpang. Kapal dengan nomor pembangunan W000298 ini dibangun atas kontak jual beli NO KTR/03/02-49/I/2017/Disadal memiliki kecepatan sebesar 16 Knot dengan mesin pendorong sebesar 2 x 2920 KW.
"Kapal ini mampu bertahan selama 30 hari di laut serta bisa mengangkut tiga helikopter, dan dua kapal LCVP, serta beberapa kendaraan tempur," ujar Budiman.
Dengan adanya tambahan satu kapal perang rumah sakit, melengkapi armada TNI AL yang sebelumnya hanya memiliki satu kapal perang rumah sakit, yakni KRI dr Soeharso (990).
Rabu, 19 Desember 2018
Uji Tembak Rudal Merapi Anti Pesawat Terbang Buatan Anak Bangsa
Uji Tembak Embrio Rudal Merapi Buatan Anak Bangsa [UAD] ★Kerja sama pembuatan peluru kendali (rudal) kaliber 70 yang diberi nama Rudal MERAPI antara Dislitbang TNI AD dan Pusat Riset CIRNOV Universitas Ahmad Dahlan (UAD) telah memasuki serangkaian uji-uji dinamis. Pada 22 November 2018 bertempat di lapangan tembak laboratorium milik Dislitbang TNI AD di Buluspesantren, Kebumen, Jawa Tengah, dilakukan uji tembak rudal untuk mengetahui performansi rudal yang dibuat untuk tahun anggaran 2018.
Uji tembak dihadiri oleh Kepala Dislitbang TNI AD Brigjen Mulyo Aji, M.A., Kasubdisiptek Kolonel Burlian Sjafei, Komandan Poltekad Kolonel Bagus Antonov, tamu undangan dari Pussenarhanud, Pussenif, segenap staf di lingkungan Dislitbang TNI AD, Poltekad, serta Tim Konsultan dari UAD dan Pustekbang LAPAN.
Selama terbang melesat, rudal dilengkapi dengan alat telematri yang mampu memberikan data mengenai manuver rudal untuk tiap-tiap komponen yang ada. Alat telemetri yang dipasang telah berfungsi baik dengan memberikan informasi gerakan rolling (berputar), yawing (menggeleng), dan pitching (mengangguk), juga ketinggian, kecepatan dan lain-lain, dapat diperoleh meskipun dalam kondisi hentakan yang cukup besar (melebihi 14 G). Keberhasilan pembuatan dan pemasangan alat ini merupakan reputasi tersendiri mengingat untuk uji-uji rudal dengan kecepatan tinggi, biasanya alat telemetri gagal berfungsi sehingga tidak diperoleh informasi yang akurat tentang kondisi sebenarnya yang dialami rudal.
Keberhasilan penembakan serta pembuatan alat ini menjadi dasar diperolehnya data riil rudal selama terbang sehingga karakteristik rudal dapat diketahui dengan lebih baik dan akurat. Terlebih lagi gerakan rudal sangat cepat, mengalami tekanan angin yang sangat kuat, perubahan suhu, kelembaban udara, dan mengalami pengurangan berat seiring dengan terbakarnya bahan roket pendorong.
Rudal MERAPI merupakan rudal kaliber 70 buatan anak bangsa yang pertama dapat menunjukkan performansinya sebagai roket/peluru yang dikendalikan menggunakan roket pendorong dengan kecepatan awalan penembakan >650 km/jam yang selanjutnya akan mampu melesat melebihi kecepatan suara. Pendorong roket ini dibuat oleh Poltekad melalui uji-uji yang intensif selama bertahun-tahun. Kecepatan rudal mampu untuk merontokkan pesawat baik pesawat tempur, helikoper militer, serta sasaran udara lainnya seperti drone, juga pesawat sipil. Untuk keperluan uji fungsi rudal, pada tahap awal digunakan sasaran di udara berupa flare yang menghasilkan radiasi sinar infra merah yang dibawa terbang oleh drone. Selama uji, sistem pencari/seeker rudal telah dapat bekerja aktif serta mengirimkan sinyal secara sangat cepat ke sistem kendali rudal yang diikuti dengan gerakan manuver canard (sirip kendali) dan rudal melakukan pengejaran target.
Teknologi seeker sebagai bagian pencari target sangat lazim digunakan untuk rudal dalam meningkatkan akurasi mengejar dan mengunci sasaran seperti pesawat, juga helikopter yang menghasilkan radiasi sinar infra merah melalui panas mesin yang ada. Proses pembuatan rudal dilakukan dengan urut-urutan uji statis terukur yang dilakukan sebelumnya untuk subsistem seeker, kendali, canard, pendorong roket, serta rudal utuh di dalam terowongan angin. Penguasaan teknologi rudal yang sangat kompleks oleh Dislitbang TNI AD ini juga diharapkan mampu menangani rudal-rudal TNI yang sudah expire dan juga modifikasi yang sesuai dengan kebutuhan alat perang kita.
Pembuatan rudal anti pesawat ini menggunakan teknik Fire and Forget yaitu rudal ditembakkan ke sasaran kemudian secara otomatis rudal akan mengunci dan mengejar sasaran tanpa dipandu operator. Dengan teknik ini akan sangat aman dan praktis bagi penembak untuk dapat melakukan manuver gerakan personal selanjutnya dalam peperangan. Teknologi seeker yang ada tidak memungkinkan rudal dikacau/dimatikan oleh musuh seperti halnya jika menggunakan panduan radar atau satelit (GPS). Kandungan lokal pembuatan rudal MERAPI sangat tinggi yaitu >70% sehingga relatif aman jika diancam embargo oleh negara lain. Pengoperasional juga relatif sederhana, sesuai karakter TNI serta harga produksi yang diestimasi nantinya jauh lebih rendah dibanding pembelian rudal impor yang biasanya dibarengi dengan persyaratan tertentu.
Seperti yang disampaikan oleh Kepala Dislitbang TNI AD, bahwa ke depan rudal yang sudah dikuasai pembuatannya ini akan disempurnakan sehingga mampu memenuhi syarat-syarat tipe dan kelaikan suatu produk rudal yang sesuai dengan postur dan dapat digunakan oleh TNI dalam meningkatkan kekuatan daya gempur untuk menjaga kedaulatan negara serta mampu merubah peta kekuatan efek diteren untuk kehormatan bangsa Indonesia di kancah internasional.
♖ UAD













































