Senin, 26 Maret 2012

Mobil Listrik Semar-T

Awal pekan ini, dalam sebuah jumpa pers, Presiden mengungkapkan keinginan agar Indonesia memiliki rencana strategis pembuatan mobil/motor listrik. Hal itu diharapkan meminimalkan konsumsi bahan bakar minyak. Mobil semacam itu sebenarnya telah dikembangkan universitas. Salah satunya, Universitas Sebelas Maret Solo.

Mobil listrik menggunakan motor yang digerakkan tenaga listrik yang disimpan dalam baterai atau tempat penyimpan lain. Karena itu, selain menekan konsumsi bahan bakar minyak, mobil listrik tidak menghasilkan gas sisa pembakaran yang merusak lingkungan.

Mobil listrik yang dikembangkan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (FT UNS) Solo itu diberi nama Semar-T (Sebelas Maret Teknologi). Riset mobil ini bertujuan agar tercipta mobil hemat energi dan ramah lingkungan.

Mobil itu menggunakan baterai 36 volt 100 ampere, yang menghasilkan tenaga 3 HP (horse power). Badan mobil didesain menggunakan material komposit. Pembuatan badan mobil dikerjakan secara manual. Bobot total mobil diperkirakan hanya 300 kilogram. Pertimbangannya, makin berat bobot kendaraan, konsumsi energi makin besar.

”Tahun 2009 kami membuat desain mobil dan badannya. Tahun 2010 membuat prototipe dan 2011 menyempurnakan. Baru tahun ini kami memunculkan ke publik,” kata Program Leader Semar-T Prof Muh Nizam di sela-sela Pameran Industri Kreatif yang digelar UNS Solo, Senin (12/3), di Solo.

Ketika mesin dinyalakan, mobil langsung bisa digerakkan maju atau mundur dengan menginjak pedal gas. Hanya ada pedal gas dan rem karena transmisi yang digunakan otomatis.

Gunakan aki

Baterai yang digunakan berupa aki yang diletakkan di bawah lantai di belakang kursi depan. Adapun charger diletakkan di bawah kap depan mobil.

Untuk mengisi kembali baterai, tinggal menghubungkan charger dengan stop kontak listrik. Kecepatan mobil maksimal 30 kilometer-40 kilometer per jam. Mobil dirancang sebagai mobil perkotaan (city car). Mobil ini cocok untuk jalan datar atau jalan dengan tanjakan ringan.

”Jika kondisi baterai bagus dan normal, mobil dapat digunakan selama 1,5 jam-2 jam. Untuk mengisi baterai, dibutuhkan 3 jam-4 jam,” kata Nizam.

Pihaknya sedang mendesain sistem penyimpanan energi yang tahan lama. Mobil Semar-T saat ini masih menggunakan aki yang dijual di pasaran. Tempat penyimpanan ini dapat mengalami penurunan yang mengurangi daya tahan baterai.

”Baterai yang bagus dari material litium ion. Ada yang sudah dijual di pasaran, tetapi harga baterai itu untuk satu mobil masih mahal, Rp 20 juta. Hal semacam ini yang tengah kami kembangkan,” kata Nizam.

Koordinator Program Semar-T Muh Dimyadi mengatakan, pihaknya saat ini tengah menyempurnakan bagian control unit (kendali logika fuzzy) yang menggunakan sistem mikrokontroler. Kendali ini mengatur penggunaan energi. Penggunaan energi diharapkan bisa semakin irit tanpa mengurangi daya mobil.

Menurut Dimyadi, mobil Semar-T melengkapi inovasi mobil Semar-G (Sebelas Maret Green) yang berbahan bakar bioetanol.

Sebelumnya, Prof Kuncoro Diharjo, Guru Besar Jurusan Teknik Mesin FT UNS, bekerja sama dengan PT INKA membuat badan kereta api dari material komposit. Pembuatan badan kendaraan dari komposit lantas diterapkan untuk pembuatan badan mobil yang kemudian diberi nama Semar-G karena berbahan bakar bioetanol.

Pembuatan badan mobil dikerjakan oleh mahasiswa D-3 dan dikembangkan untuk pembuatan mobil bertenaga listrik. Program ini akhirnya melibatkan semua elemen, mulai dari mahasiswa D-3, S-1, dan S-2, hingga Guru Besar Jurusan Teknik Mesin FT UNS. (Kompas, 22 Maret 2012/ humasristek)


Ristek

0 komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More